Fanatisme dan Delusi JKT48

JKT48_revisi_kaping_4JKT48_revisi_kaping_4

Para anggota JKT48/onehallyu.com

Awal 2012 lalu, Evanggala Rasuli Prasetya hanya sedang mengisi waktu senggang. Sejak lama ia memang senang dengan budaya Jepang. Sehingga, ketika mendapat kesempatan menyaksikan pentas teater JKT48 untuk pertama kalinya, ia datang tanpa perlu pikir panjang. Ia hanya tidak tahu, bahwa keputusannya itu akan menjadi salah satu titik balik terbesar yang melabrak hidupnya tanpa ragu.

Gala, begitu ia biasa dipanggil, awalnya tidak berekspektasi apa-apa. Mahasiswa London School of Public Relations itu justru bingung menyaksikan sekumpulan laki-laki remaja yang begitu antusias menunggu pementasan dimulai. Namun, ia sontak mengerti saat 16 personel JKT48 bersiap naik ke atas panggung. Euforia yang menyambut setelahnya, tak pernah terlupakan.

“Tiba-tiba muncul encore, ‘Are you ready? JKT48!’ Kemudian satu teater semuanya – kecuali saya – meneriakkan chant JKT48. Rasanya seperti menonton konser Linkin Park, apalagi ketika ada dinding suara besar di belakang mengelilingi kita. Mereka terlihat seakan begitu lapar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kisah Gala dengan bersemangat.

Takut dan penasaran bercampur jadi satu di benak Gala saat itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa suasananya akan begitu riuh. Seluruh penonton yang ada – yang mayoritas adalah laki-laki – bagai tersihir dan terus berlomba meneriakkan nama oshi atau personel idolanya masing-masing.

Gala sendiri memiliki oshi bernama Diasta di atas panggung. Syahdan, ketika pertunjukkan dimulai pria jangkung tersebut segera melongok mencari sosok idolanya tersebut. Cukup sulit ia menemukannya, karena ternyata Diasta berada di pojok panggung yang kurang mendapat asupan cahaya.

“Saya ingat, ketika mereka sedang membawakan lagu berjudul Bersepeda Berdua, tiba-tiba Diasta menatap mata saya, lurus ke mata saya. Saya kaget! Saya gugup karena dia mungkin sadar saya melihat dia terus sedari tadi. Engga banyak yang mengidolakan Diasta, makanya mungkin karena itu dia ditaruh di pojok panggung. Namun, tiba-tiba lagi Diasta tersenyum sambil tetap menatap saya, dan terlihat semakin semangat menari. Kemudian, saya pun menangis,” cerita Gala kembali.

Sejak itu hingga saat ini berusia 23 tahun, Gala menjelma menjadi wota, sebutan bagi para penggemar JKT48. Banyak orang mengernyitkan dahi saat pertama kali mengetahui kesukaan Gala yang luar biasa akan grup idola satu ini, apalagi melihat penampilannya yang tinggi besar, bersuara berat dan bergaris muka tegas.

“Sekarang kalau ada orang yang mencela JKT48 dan mempertanyakan kenapa saya bisa suka sama mereka, saya cuma bilang, ‘Lihat teaternya daja dulu, entar juga ngerti.’ Banyak dari mereka yang sudah mencela duluan walau belum pernah menonton penampilan JKT48,” ujar pria berkacamata tersebut sembari mengisap sebatang rokok kretek di tangannya.

Secara etimologis, sebutan ‘wota berasal dari kata ‘otaku yang dalam bahasa Jepang merupakan sebutan bagi seseorang yang betul-betul menekuni sebuah hobi. Saat ini, bahkan Gala sedang dalam proses pengerjaan sebuah novel fiksi yang bercerita dan berdasar pada pengalamannya dan teman-teman sebagai seorang wota.

Bisa dikatakan, di situlah keunggulan JKT48. Mereka merupakan grup saudari yang mengadopsi konsep dari AKB48 yang sebelumnya telah mencuat lebih dahulu di Jepang. Mereka adalah sekumpulan idola yang bisa kita temui setiap hari, yang menjalin interaksi serta relasi kuat dengan para pengidolanya.

JKT48 sendiri memiliki pertunjukan rutin di Teater JKT48, lantai 4 Mal FX, Sudirman, Jakarta. Usai pentas pun selalu ada sesi high touch saat para penonton bisa menepuk tangan para personel sembari mencari kesempatan untuk mengobrol singkat selama beberapa detik dengan mereka. Selain itu, para wota juga masih bisa menyaksikan JKT48 di berbagai konser dan acara sampingan seperti handshake event.

“Untuk dapat ikut serta dalam handshake event, kita harus membeli CD JKT48 terlebih dahulu seharga Rp40.000,-. Satu CD itu sekaligus memberi kita tiket untuk berjabat tangan dengan oshi selama 10 detik. Karena itulah banyak orang bisa membeli lebih dari 1 CD agar bisa berjabat tangan lebih lama. Saya sendiri pernah melihat orang yang membeli CD hingga satu tas penuh!” ujar Dionisius Evan, wota sekaligus mahasiswa tingkat akhir Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Lebih lanjut, para wota juga bisa masuk dalam keanggotaan Official Fan Club (OFC). Dengan menjadi anggota, mereka bisa punya kesempatan lebih besar saat mengirimkan e-mail permintaan membeli tiket pertunjukkan teater seharga Rp100.000,- karena pengirim sendiri dipilih secara acak oleh sistem yang ada. Selain itu, mereka bisa mendapatkan e-magazine dan kesempatan untuk ikut serta dalam futsal event atau basket event dengan membayar seharga Rp150.000,-.

Walau harus merogoh kocek cukup dalam untuk bisa berinteraksi lebih dengan para personel JKT48, para penggemar seakan tidak peduli dan tetap berbondong-bondong ikut serta dalam berbagai kegiatan yang ada. Hal ini dimaklumi betul oleh Rangga Pranendra, seorang wota sekaligus mahasiswa tingkat akhir Unika Atma Jaya.

“Seiring berjalannya waktu, dari awal JKT48 muncul hingga saat ini, mereka bertumbuh kembang terus bersama fans. Kami, para fans, bisa melihat perkembangan mereka dari waktu ke waktu, bahwa mereka berkembang semakin jago, entah tariannya ataupun hal lain. Dedikasi mereka itu yang menurut saya luar biasa, jadi inspirasi buat saya sendiri,” tutur Rangga.

Pria dengan rambut berombak panjang sebahu itu memang baru menjadi wota sejak pertengahan 2013, tapi kecintaannya akan JKT48 tidak perlu dipertanyakan. Bahkan, teman-teman Rangga kerap mencerca Rangga karena hal tersebut.

“Kalau mereka sudah mulai ngeledek, saya akhirnya diam saja ketimbang membela diri karena mereka engga akan mau mendengar. Mereka akan terus meledek – walau sekadar mencibir dalam hati. Biarkan saja,” tutur pria brewok yang gemar bermain gitar ini.

Kedekatan relasi antara pengidola dan yang diidolakan itu kerap membentuk sebuah delusi yang cenderung tidak sehat. Banyak wota yang pada akhirnya bersikap agresif atau bahkan posesif.

“Mereka-mereka yang menggilai terlalu dalam ini pada akhirnya tidak hidup dalam realita. Mereka hidup dalam delusi mereka masing-masing, itu menurut saya. Walau sadar bahwa mereka mungkin engga bisa jadi pacar idolanya, tapi setidaknya ada dorongan untuk terus menemui mereka, datang ke setiap pertunjukkannya,” jelas Dion Arison, wota sekaligus mahasiswa UMN lainnya.

Namun, di lain sisi delusi yang timbul di benak wota pun kemudian membuat mereka berani unjuk kreativitas karena terinspirasi atau justru demi mengesankan para oshi-nya masing-masing.

“Sering banget ada penggemar yang membuat video ulang tahun untuk seorang idolanya, dan video itu sendiri bisa melibatkan puluhan orang dalam proses pembuatannya,” kata Rangga kembali.

Bahkan, Rangga sendiri pun sempat membuat sebuah lagu untuk oshi-nya, Melody Nurramdhani Laksani. Lagu tersebut dibalut dalam sebuah video berisi kumpulan cuplikan gambar Melody dari berbagai acara atau kegiatan. Sejak diunggah ke situs jejaring video Youtube pada 16 Agustus lalu hingga saat ini, video tersebut telah disaksikan lebih dari 17 ribu kali.

Selain itu, karena kecintaannya pada lagu-lagu JKT48, Rangga pernah mengadakan sebuah acara Tribute to JKT48 atas inisiatif sendiri pada 4 Oktober lalu di Garage Bar, Cipete, Jakarta. Saat itu, Rangga mengundang tujuh penampil untuk membawakan lagu-lagu JKT48 secara akustik.

Tidak hanya Rangga, duet mahasiswa tingkat akhir Dion dan Evan bahkan saat ini sedang dalam proses pengerjaan skripsi masing-masing dengan JKT48 sebagai kajian utamanya. Perbedaannya adalah, Dion mengambil topik tersebut dari sudut pandang social media, sementara Evan lebih mengarah pada strategi pengelolaan brand JKT48 itu sendiri.

Dosen sekaligus praktisi bidang Public Relations, Eduard Depari, melihat bahwa JKT48 bisa begitu diterima masyarakat karena merupakan sesuatu yang baru di industri musik tanah air. Kemudian, penggabungan antara daya tarik fisik dan psikologis di momentum yang tepat akhirnya berhasil menciptakan hubungan komunikasi yang efektif antara idola dan penggemarnya.

“Bila kita hanya mendengarkan musiknya, hubungannya hanya ke aspek psikologis. Tapi dengan menggabungkan kedekatan psikologis dan fisik – seperti bisa salaman dan foto bersama idola – alhasil ini jadi berimbas sangat dahsyat. Mereka (JKT48) pun bisa mendekatkan diri secara efektif dengan fans-nya,” jelas Eduard soal fanatisme tinggi para wota, yang kebanyakan adalah pria, kepada JKT48.

Lain lagi halnya dengan Rudi Hartono Manurung, Sekretaris Jurusan Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara. Menurutnya, JKT48 telah berhasil melakukan infiltrasi budaya dan masuk ke pangsa pasar Indonesia dengan beberapa penyesuaian.

“Di Jepang sendiri, segmen pasar AKB48 adalah para pria kesepian yang butuh hiburan dan penerimaan. Oleh karena itulah muncul banyak kasus saat seorang pria menikah dengan sebuah tokoh virtual. Namun, setelah masuk dan diadaptasi di Indonesia, pangsa pasar JKT48 menjadi sedikit berbeda. Sejak lama banyak orang Indonesia yang telah menggemari kebudayaan Jepang, seperti anime, cosplay, dan sebagainya. Mereka akhirnya menyasar para otaku tersebut,” tutur Rudi.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Dion yang sejak lama memang telah menggemari budaya Jepang. Ia pun memberi apresiasi besar pada karya-karya JKT48, tidak hanya mengidolakan karena penampilan fisik para personelnya yang menarik. Oleh karena itulah ia kerap geram bila ada seseorang yang mempertanyakan kekagumannya pada JKT48 yang dianggap berbanding terbalik dengan tampilannya yang relatif ‘gahar’. Dion sendiri memang berperawakan besar dengan tinggi sekitar 170 cm, badan gempal dan rambut keriting panjang hampir menyentuh pinggang.

“Banyak orang bilang saya engga cocok menonton JKT48 karena tampilan saya yang seram. Namun menurut saya, mereka yang bersikap seperti itu pikirannya sempit dan kurang teredukasi. Masing-masing orang punya kegemarannya sendiri dan bila mungkin mereka lebih senang dengan musik-musik barat, kenapa saya harus menjadi sama dengan mereka? Kita boleh punya kesenangan masing-masing akan sesuatu, tapi bukan berarti kita harus saling meledek kan?” tutur Dion dengan nada tinggi.

Faktor penerimaan sendiri memang menjadi salah satu kunci solidaritas fandome JKT48 di Indonesia. Para wota yang datang dari berbagai latar belakang sosial dan budaya bisa mendapatkan adiksi untuk datang lagi dan lagi dalam setiap pertunjukkan JKT48, menyaksikan idolanya, berbagi kabar dan cerita pada sesama wota, dan itu sudah lebih dari cukup.

“JKT48 punya banyak daya tarik bagi para penggemarnya. Mereka punya teater yang bisa kita kunjungi hampir setiap hari, kemudian lirik lagunya bagus dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Mereka pun diminta berinteraksi dengan para fans-nya, entah menatap mata saat konser, menjabat tangan atau sekadar menyapa kita,” ujar Gala kembali.

“Namun, ada satu hal lagi yang engga kalah pentingnya. JKT48 punya fandome yang datang dari berbagai latar belakang berbeda yang tidak akan men-judge Anda, siapapun Anda. Mereka hanya akan bertanya, siapa oshi Anda dan kenapa bisa menyukainya, dan kemudian kita akan merasa diterima.”

Banyak dari kita mungkin tidak akan pernah mengerti soal fanatisme tinggi para wota di balik kesuksesan JKT48 di Indonesia. Namun, Gala, Evan, Rangga, Dion dan para penggemar lain tak akan pernah peduli, karena kecintaan mereka akan JKT48 cuma menuntut kesederhanaan. Sesederhana senandung lagu Melody Terindah buatan Rangga yang tak sengaja terdengar dinyanyikan oleh salah seorang personel JKT48 ketika sedang berpapasan, sesederhana jabatan tangan Diasta pada Gala yang cuma bertahan selama 10 detik.

“Sampai sekarang, itu masih merupakan 10 detik terindah dalam hidup saya,” ujar Gala dengan mata berbinar.

 

NB: Tulisan ini dibuat pada Desember 2013.

Advertisements

Sehari Bersama Jokowi

Wawancara Jokowi (4)

Joko Widodo mengobrol santai dalam perjalanan blusukan keliling Jakarta (23/12/13)/Andrey Gromico

23 Desember 2013

Joko Widodo bangun terlalu cepat hari ini. Saat lelap masih menjaga mayoritas masyarakat Jakarta dari sadar, ia justru telah membuka mata pada pukul 3 dini hari. Bergegas dari ranjang, ia menyibukkan diri dengan menonton TV dan sekadar membaca berita-berita online terkini.

Jam kerja Gubernur DKI Jakarta ini memang anomali. Sebelumnya, pria berusia 52 tahun yang akrab disapa Jokowi tersebut baru saja menyelesaikan rapat dengan para stafnya hanya setengah jam usai lewat tengah malam. Usai tidur selama kurang lebih dua jam saja, ia memutuskan untuk kembali ke rutinitasnya sebagai orang nomor satu di ibukota.

“Biasanya saya bangun jam 5, tapi kemarin saya banyak tidur di tengah jalan keliling Jakarta. Akhirnya bangunnya kepagian,” ujar pria kelahiran Surakarta tersebut.

Setelah itu, Jokowi punya kebiasaan untuk meminum campuran air kacang hijau, temulawak dan madu di pagi hari. “Sudah 16-17 tahun terakhir saya minum ini pagi-pagi,” ujarnya sembari berbagai resep tetap segar menjalani hari.

Jokowi memang jarang sekali sarapan di pagi hari. Setelah mandi, ia pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca koran-koran atau kliping berita yang terkait dengan aktivitas pemerintah ibukota yang telah disiapkan oleh salah satu ajudan kepercayaannya, Devid Agus Yunanto (31).

“Tiap pagi, saya biasanya selalu menyiapkan baju, sepatu, tas dan kliping media untuk dibaca Bapak. Kliping media itu disusun oleh Diskominfo, saya cuma meneruskannya pada Bapak,” tutur Devid yang telah mengikuti Jokowi selama delapan tahun terakhir.

Kemudian, tepat pada 07.30, tiga mobil berwarna hitam telah menunggu Jokowi di depan pintu utama rumah dinas sang Gubernur di Jalan Taman Suropati no. 7, Jakarta Pusat. Jokowi pun masuk ke dalam Kijang Innova ditemani Devid di kursi depan kiri dan Bejo Santoso (48), sang supir yang telah mengabdi selama dua tahun terakhir. Dengan dipimpin oleh sebuah voorijder berwarna putih, mobil yang ditumpangi Jokowi melaju diikuti dua mobil lainnya: Nissan X-Trail dan Toyota Avanza, yang berisi para ajudan dan staf lainnya.

Hari ini, Jokowi memutuskan untuk mengenakan kemeja lengan panjang putih, celana bahan hitam dan sepatu kets berwarna abu-abu gelap. “Ini lupa saya, sepatu ini dikasih istri atau saya beli sendiri di Fatahillah,” kata Jokowi sembari mengikat tali sepatunya di dalam mobil.

Sembari blusukan sana-sini, Jokowi memang kerap berbelanja keperluan sehari-hari. Misalkan, ia pernah membeli sepatu seharga Rp140.000,- di Pasar Ular, Jakarta Utara, serta beberapa pasang lainnya di Fatahillah dengan harga di kisaran Rp90.000,-.

“Saya bisa beli dua atau tiga pasang kalau ke sana. Biasanya setelah dua atau tiga bulan sudah agak rusak, tapi ya engga apa-apa. Saya orangnya memang suka bosan, jadi suka ganti-ganti,” ujarnya sambil berseloroh.

Pada pukul 08.43, sang Gubernur pun tiba di Monas untuk sekadar melihat perkembangan perbaikan taman yang sedang dalam proses pengerjaan. “Puluhan tahun taman di sini engga pernah diperbaiki, sekarang kita rombak biar lanskapnya bagus,” tutur Jokowi kembali.

Sembari membuka kaca mobil di bagian tengah sebelah kiri, Jokowi memang memperhatikan dengan seksama kondisi taman dan pelataran Monas yang pertama kali dibuka untuk umum pada 1975 lampau tersebut. Saat itulah warga yang sedang berolahraga atau sekadar berjalan-jalan pagi di sana sontak menjadi begitu antusias melihat kedatangan sang Gubernur.

Ada yang sekadar menjulurkan tangan untuk bersalaman, mengejar mobil untuk melihat lebih dekat atau menghormat dari jauh ketika mobil sedang melaju perlahan. “Wah, ada Pak Jokowi, rejeki nomplok ini,” kata salah seorang warga.

Jokowi memang dikenal gemar bersentuhan langsung dengan masyarakat dari berbagai kelas di Jakarta. Hal itu dilakukannya untuk mengetahui langsung permasalahan yang ada, bahkan hingga ke tingkat akar rumput sekalipun.

“Ya kita harus datang setiap hari ke mereka, jangan datang kalau ada maunya saja. Selain itu, kita harus bisa menyamakan pikiran atau frekuensi dengan mereka sehingga kita bisa punya mata batin yang sama. Jadi, kita bisa segera merespon atau mencari solusi dengan segera bila menemukan masalah saat sedang bersentuhan langsung dengan mereka,” tegas Jokowi.

Dari Monas, Jokowi segera melaju ke Balaikota Jakarta dan tiba di sana pada pukul 08.00. Sesaat setelah turun dari mobil, ia segera dikerubungi wartawan yang menodongnya dengan rentetan pertanyaan.

Saat sedang meladeni pertanyaan wartawan, tiba-tiba muncul seorang perempuan separuh baya yang mengenakan baju terusan berwarna merah dan hijau. Dengan mata kiri diperban, ia masuk ke kerumunan wartawan sembari dituntun seorang wanita yang berumur lebih muda. Perempuan tersebut terus meneriakkan nama Jokowi dan meminta tolong untuk bisa berbicara langsung dengannya.

Syahdan, Devid segera membawa masuk perempuan itu masuk ke dalam Balaikota mengikuti sang Gubernur. Karena Jokowi harus mengikuti rapat terlebih dahulu, perempuan pengidap glaukoma tersebut akhirnya menunggu di ruang tamu bersama sang tetangga yang sama-sama tinggal di daerah Tubagus Angke.

Sebelumnya, memang banyak orang yang mencoba untuk menemui langsung Jokowi dengan berbagai cara. Pernah ada seorang paranormal yang mengaku bisa menghentikan hujan selama enam bulan lamanya, tergantung permintaan Jokowi jika dibutuhkan. Pernah pula ada seorang pria yang datang untuk memberikan cincin dan keris ‘berisi’ pada sang Gubernur. Tak kalah uniknya, seorang pria bahkan sempat datang dan berpura-pura bisu saat dicegat pihak keamanan Balaikota, tapi justru berbicara lancar ketika telah berhasil menemui Jokowi.

“Bapak menekankan sekali pada saya bahwa rakyat kecil harus ditemui, jangan orang-orang besar saja. Kata Bapak, orang besar justru belum tentu penting buat dia,” ujar Devid.

Setelah melakukan rapat dengan perwakilan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama kurang lebih setengah jam, Jokowi pun berbincang selama kurang lebih satu jam lamanya dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Basuki sendiri, atau yang akrab disapa Ahok, datang ke ruang kerja Jokowi pada 08.30

Kemudian Jokowi harus mengikuti rapat pimpinan (rapim) yang dimulai pada 09.30 dan berakhir kurang lebih pada 11.00. Kemudian, pria beranak tiga tersebut akhirnya memiliki waktu kosong untuk menemui langsung dua warga Tubagus Angke di ruang kerjanya.

Selama kira-kira 10 menit, Jokowi mendengarkan sembari mencatat segala keluhan perempuan tersebut. Perempuan itu pun tak kuasa menahan tangis ketika melaporkan sengketa kepemilikan hak rumah yang membuatnya diusir dari rumahnya sendiri oleh keluarga.

“Sudah, sekarang Ibu ikut Pak Heru (B. Hartono, Kepala Biro). Nanti akan dibantu sama dia untuk penyelesaian masalahnya ya,” ucap Jokowi mencoba menenangkan.

Tak lama, Jokowi pun sibuk membubuhkan tanda tangan di berkas-berkas yang disodorkan para stafnya dan segera bergegas meninggalkan Balaikota pada 11.38 menuju Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Di sana, ia harus menjadi pembicara dalam acara Diskusi Media bertemakan “Pelayanan Publik yang Profesional dan Antikorupsi”.

Pukul 12.07, Jokowi telah tiba di Kantor Kemenkumham, Kuningan, Jakarta Selatan. Lalu ia segera naik ke lantai 7 dan masuk ke ruangan Menkumham Amir Syamsuddin untuk berbincang dan beramah-tamah singkat. Tepat pada 13.00, Jokowi dan para pembicara lainnya turun ke lantai dasar dan masuk ke tempat berlangsungnya acara, Graha Pengayoman.

Jokowi sendiri baru mendapat kesempatan bicara pada 13.35 setelah Amir dan Wamenkumham Denny Indrayana memberikan pembabarannya. Saat gilirannya tiba, ia menekankan pentingnya bersentuhan langsung dengan masyarakat untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi di sana.

Ia pun bercerita soal pengalamannya melakukan inspeksi mendadak ke sebuah Suku Dinas Koperasi dan UKM. Di sana, ia menanyakan pada beberapa warga yang hendak membuat Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) soal waktu yang dibutuhkan untuk proses pengerjaan.

“Ada yang bilang butuh waktu satu minggu, dua minggu, bahkan tiga minggu. Ya engga usah saya jelaskan itu tergantung apa, kalian sudah pada mengerti. Padahal proses pengerjaannya seharusnya cuma tiga hari,” tutur Jokowi.

Setelah menegur staf setempat, Jokowi pun menyempatkan diri untuk kembali lagi ke sana selewat satu setengah bulan lamanya. Ternyata, sistem pelayanan yang ada tidak mengalami sedikitpun perubahan.

“Ternyata masalahnya itu adalah di pemberian tanda tangan, dan yang berwenang untuk itu ada di lantai 3. Setelah saya ke atas, ternyata cuma ada tujuh orang di sana, padahal seharusnya ada 30 orang. Di antara tujuh orang itu, engga ada yang punya otoritas untuk tanda tangan. Mau sekadar lihat data di komputer saja engga ada yang tahu PIN untuk membukanya,” keluh Jokowi.

“Akhirnya karena kesal saya banting saja form pendaftaran SIUP yang ada di tangan saya. Itu pertama kalinya saya marah selama berada di Jakarta. Ya, manusia juga kan ada batasnya.”

Selama ini, Jokowi sendiri memang dikenal sebagai pria yang sabar dan murah senyum. Hal ini yang membedakannya dengan Ahok, sang wakil yang dianggap lebih temperamental.

“Saya dan Pak Ahok itu beda. Pak Ahok kalau melihat ada yang engga beres, dia marahin dulu orangnya tiga jam, baru dicopot (jabatannya). Kalau saya engga marah, diam saja tapi besok tahu-tahu saya copot (jabatan dia),” seloroh Jokowi yang disambut gelak tawa seluruh peserta Diskusi Media tersebut.

Pada 14.05, Jokowi telah selesai berbicara dan para peserta diberikan kesempatan untuk melontarkan pertanyaan. Lalu, seorang peserta tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang melenceng dari topik diskusi yang ada.

“Apakah benar kalau Pak Jokowi mau nyapres? Dulu kan jadi walikota belum selesai, lalu pindah ke sini. Sekarang jadi gubernur belum selesai mau jadi presiden. Kesannya engga menjejak, maruk begitu, Pak,” tanya seorang peserta bernama Sulastri.

Mendengar pertanyaan ini, Jokowi hanya bisa menjawab,” Ini kan soal pelayanan publik, kok jadi nyapres?”

Selanjutnya, usai menjawab pertanyaan lain dari perempuan tersebut, Jokowi berangkat dari Kemenkumham pada 14.25 menuju Jatinegara. Di dalam mobil, ia tertawa sembari berkata, “Saya tahulah itu pertanyaan titipan, pertanyaan politis itu. Saya juga kan orang politik, ngerti-lah saya.”

Jokowi memang sudah terbiasa menghadapi taktik-taktik politik yang dikeluarkan berbagai pihak terhadap dirinya. Misalnya saja, ia mengakui bahwa ada beberapa orang yang mendatangi Balaikota Solo dan masyarakat di sana untuk mencari tahu hal-hal buruk yang pernah dilakukan Jokowi saat masih menjabat sebagai Walikota Solo.

“Orang kayak kita ini ususnya harus panjang. Ada saja kritikan muncul di mana-mana, entah di Twitter, Blog, dan lain-lain. Semua orang kan bebas berkomentar, ya jadi masukan saja buat saya. Ada juga yang omongannya benar, tapi banyak juga yang salah,” tuturnya sambil tertawa kecil.

Setelahnya, Jokowi pun tiba di Jatinegara pada 14.35 untuk menghadiri acara Groundbreaking normalisasi Kali Ciliwung dan pembangunan sudetan (terowongan bawah tanah) menuju Kanal Banjir Timur. Sesaat setelah keluar dari mobil, warga yang ada di sana segera bersorak dan berlomba untuk menjabat tangan Jokowi.

Ketika meninggalkan tempat acara pada 15.00, hal yang sama kembali terulang dan Jokowi meladeni dengan sabar permintaan salaman para warga dari berbagai kalangan usia tersebut. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk membagikan puluhan buku tulis pada warga setempat.

Jokowi memang senang bersosialisasi dengan rakyat. Bahkan, ia memilih untuk mengenakan kemeja lengan panjang putih karena merasa lebih tidak berjarak dengan rakyat dibanding harus memakai baju dinas Gubernur DKI Jakarta. Kemeja model tersebut biasa ia beli di Pasar Blok G Tanah Abang dengan harga berkisar antara Rp50.000,- hingga Rp60.000,-.

Namun, walau dekat dengan rakyat, Jokowi juga bisa bersikap tegas saat menghadapi perilaku orang-orang yang berlaku ‘membandel’ keluar batas.

“Banyak tanah milik pemerintah yang ditempati oleh warga liar. Kita selalu coba bicara baik-baik dahulu dengan mereka. Kalau tetap engga ngerti juga, ya kita bersihkan mereka dengan paksa. Kalau engga begitu ya masalah engga kelar-kelar,” tegas Jokowi.

Lebih lanjut, di tengah perjalanan Jokowi tanpa sengaja melihat banyak bendera partai yang terpasang di pinggir sebuah fly over menuju daerah Senen. Sontak, ia berkata, “Itu bendera-bendera dipasang di situ bikin engga enak dilihat saja. Memangnya ngaruh ya orang melihat itu jadi lebih suka dengan partainya? Saya bingung orang masih saja memasarkan sebuah brand dengan cara yang salah. Sekarang itu zamannya kita harus melakukan pendekatan pribadi.”

Tak lama, Jokowi tiba di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko) pada 15.38 untuk menjemput Hatta Rajasa. Kemudian, Jokowi dan Hatta akan berangkat bersama menuju Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau kiriman bus-bus baru Transjakarta yang dipesan dari Tiongkok, Malang dan sebagainya.

“Sudah delapan tahun ada Transjakarta, tapi busnya cuma ada 490. Makanya kita pesan 400 bus ukuran sedang dan 400 bus ukuran besar untuk koridor-koridor yang padat seperti Lebak Bulus atau Harmoni. Lalu tahun 2014, rencananya kita akan pesan total 4.000 bus lagi, 3.000 ukuran sedang dan 1.000 ukuran besar,” jelas Jokowi.

Hari ini, ada 12 bus di Pelabuhan Tanjung Priok yang baru datang, dan 86 bus yang sudah ada di pul Transjakarta. Rencananya akan ada 211 bus yang datang di akhir Desember 2013, dan 310 bus pada Januari 2014. Segera setelah dilakukan pengecekan dan perbaikan tahap akhir serta usai mendapat plat nomor, seluruh armada bus tersebut akan berjalan mengelilingi padatnya ibukota.

Pada 15.43 Jokowi dan Hatta melaju bersama di dalam mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon sang Menteri Koordinator bidang Perekonomian (Menko). Dengan bantuan para petugas tambahan dari Dinas Perhubungan untuk membuka jalan, laju Jokowi dan Hatta ke Pelabuhan Tanjung Priok menjadi lebih lancar. Hal yang sesungguhnya tidak begitu disukai oleh Jokowi sendiri.

“Bapak sebenarnya engga suka kalau macet dibuka jalan dan ngebut begini. Soalnya semuanya juga kan maunya cepat. Jadi, biasanya kalau memang macet dan engga sempat menghadiri sebuah acara, Bapak lebih memilih untuk engga datang. ‘Bilang ke panitianya engga usah nungguin kita,’” tutur Devid.

Karena jalan yang begitu padat, akhirnya rombongan Jokowi, Hatta, para staf dan awak media turun di Halte Transjakarta Sunter Kelapa Gading pada 16.15. Setelahnya, bersama-sama mereka menaiki Transjakarta dan turun di Halte Permai Koja pada 16.30. Di sana Jokowi kembali mendapat sambutan meriah dari warga yang berlomba untuk mengamil foto dan menyalaminya.

Tak bisa berlama-lama, rombongan yang ada segera masuk ke dalam dua bus operasional yang telah menunggu di depan halte tersebut. Jokowi dan Hatta pun duduk bersebelahan di belakang supir bus dan perjalanan kembali berlanjut pada 16.35.

Pada 17.03, rombongan memasuki pelabuhan. Namun, karena jalanan penuh dengan truk besar, mereka baru bisa menjejak Tanjung Priok Car Terminal (TPT) pada 17.18. Terminal tersebut memang khusus melayani ekspor-impor mobil serta alat-alat berat lainnya.

Di sana, Jokowi dan Hatta dengan sabar meladeni segala pertanyaan dan permintaan foto dari rombongan wartawan yang ada. “Dari dulu Bapak memang selalu welcome dengan wartawan, karena acara-acara seperti ini (peninjauan armada Transjakarta baru di pelabuhan) kan perlu disosialisasikan pada rakyat. Kita butuh media untuk melakukan hal itu,” tutur Devid yang setia menemani Jokowi tujuh hari dalam seminggu.

Usai meladeni pertanyaan wartawan di sana, Jokowi dan Hatta kembali masuk ke dalam mobil dinas untuk bersama-sama kembali ke kantor Kemenko pada 17.30. Pada 18.08, mereka tiba di sana dan Jokowi pun berpisah jalan untuk pulang ke rumah dinasnya.

Pada 18.20, Jokowi tiba di rumah untuk mengisitirahatkan dan membersihkan diri sejenak. Setelahnya, ia bermaksud pergi bersama istri dan anak-anaknya, bukan untuk ke tempat mewah sembari rekreasi keluarga, tapi berkeliling Jakarta sembari blusukan meninjau tempat-tempat dan fasilitas ibukota di malam hari.

Waktu istirahat memang begitu terbatas untuk Jokowi. Bahkan, terkadang ia masih harus menghadiri acara resmi, menerima tamu atau melakukan rapat dengan staf di malam hari. Oleh karena itulah sang istri, Iriana, kerap sudah terlelap tiap kali ia tiba di rumah.

Iriana memang sedari awal tidak setuju dengan keputusan Jokowi mencalonkan diri menjadi Walikota Solo. Namun, hingga saat ini ia selalu menemani sang suami dengan setia dan menjadi tempat bersandar di kala beban pikiran sang Gubernur sedang menggunung.

“Ya dengan begitu banyak masalah yang kita hadapi, kita butuhlah untuk curhat sama istri,” aku Jokowi.

Jokowi memang tidak mudah menyerah untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya di Jakarta. Di sela-sela kesibukkannya yang bertumpuk, ia selalu menyempatkan diri untuk berbagi filantropi pada rakyat dan tentu, istrinya sendiri. Kesigapannya untuk merespon perubahan dan persoalan yang datang tak kenal waktu membuatnya cepat populer di kalangan masyarakat.

“Saya kalau dengar ada masalah, secepatnya coba saya selesaikan. Kalau bisa selesai saat itu juga ya harus saat itu juga, kalau harus menunggu satu minggu atau satu tahun ya sudah. Yang penting keputusan sudah dibuat. Karena kalau engga cepat diputuskan, kita akan semakin tertinggal dan masalah terus bertumpuk,” tutur Jokowi.

 

NB: Liputan ini dilakukan dalam kapasitas sebagai wartawan Geo Times pada 23 Desember 2013.

Pesta Bola Penuh Ironi

neymar_2958273b

Sumber: Telegraph

Pada 19 Mei 2014 Roy Hodgson memimpin sesi latihan perdana Steven Gerrard dan kawan-kawan di Vale do Lobo, Algarve, Portugal. Waktu itu kurang dari sebulan Piala Dunia 2014 dimulai. Cuaca hangat Portugal diharap dapat membantu pemain beradaptasi dengan kondisi di Brasil nanti. Persiapan sebaik mungkin patut dilakukan karena Inggris tergabung dalam grup neraka bersama Italia, Kosta Rika, dan Uruguay.

Tak hanya itu, bahkan Inggris membawa psikolog untuk membantu para pemain mengatasi tekanan tampil di turnamen akbar Piala Dunia. Masih terbayang kala Inggris ditaklukkan Italia di perempat final Piala Eropa 2012, kalah oleh Portugal di perempat final Piala Dunia 2006 dan Piala Eropa 2004, serta oleh Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 1998.

Semua karena adu penalti. Mental pemain Inggris pun dipertanyakan. Sementara mereka hanya bisa mengutuk kinerja wasit dan beralasan kehilangan pemain kunci karena cedera atau larangan bermain.

Namun semua masih berjalan salah bagi Inggris. Wayne Rooney terus mencari-cari performa terbaik bagi tim nasional yang sepertinya tertinggal di Euro 2004. Gerrard melanjutkan performa buruknya di akhir musim 2013/2014 bersama Liverpool. Duet  bek medioker Gary Cahill dan Phil Jagielka berhasil membuktikan mereka memang belum berkelas internasional. Perjalanan mereka singkat saja di Brasil. Kalah 1-2 oleh Italia dan Uruguay, serta imbang dengan skor kacamata melawan Kosta Rika.

Bahkan di tengah semua keterpurukan mereka masih menghibur diri tidak kalah di tiga laga beruntun. “Kami gembira tak kalah dalam tiga pertandingan di fase grup. Melalui turnamen ini kami melihat ada beberapa pemain muda yang oke,” kata Jack Wilshere seusai pertandingan pamungkas melawan Kosta Rika.

Segala kesalahan ini bahkan bermula sejak mereka melakoni pemusatan latihan di Portugal. Situs Holiday-Weather menyebutkan suhu rata-rata di Algarve selama Juni lalu di kisaran 21 derajat Celcius. Bandingkan dengan suhu di Arena Amazonia, Manaus, tempat pertandingan antara Inggris dan Italia yang melebihi 30 derajat Celcius.

Namun, Inggris gugur cepat di Piala Dunia sudah biasa. Masih untung Inggris tidak bertemu lawan tangguh yang berpotensi mempermalukan mereka lebih jauh. Jerman misalnya, membantai mereka 4-1 di Piala Dunia 2010. Daya tarik utama justru Kosta Rika, sang “neraka” sesungguhnya dari Grup D. Tanpa diduga, mereka berhasil memuncaki klasemen akhir setelah menekuk Uruguay 3-1, mengalahkan Italia 1-0, dan imbang dengan Inggris.

Kosta Rika bahkan menorehkan sejarah setelah lolos ke perempat final Piala Dunia untuk kali pertama setelah menyingkirkan Yunani melalui adu penalti. “Kami telah melatih adu penalti dan kami juga mempelajari kebiasaan pemain lawan. Itulah mengapa seluruh penendang kami berhasil mencetak gol,” kata Jorge Luis Pinto, pelatih Kosta Rika.

Di sisi lain, Italia tak bisa bicara banyak. Inkonsistensi Mario Balotelli di depan gawang lawan justru membuat orang merindukan kehadiran penyerang oportunis semacam Filippo Inzaghi yang minim kontroversi dan bisa mencetak gol berkat satu sodoran peluang saja.

Satu-satunya yang membekas dari kehadiran Italia di Brasil adalah gigitan Luis Suarez di bahu Giorgio Chiellini. Hal ini terjadi setelah Liverpool membela habis-habisan Suarez setelah insiden gigitan tangan Branislav Ivanovic pada April 2013. Selewat setahun, terbukti Suarez masih “lapar”. Sebagai sanksi, FIFA melarangnya berinteraksi dengan sepak bola selama empat bulan.

Tanpa penyerang tonggos itu di lapangan, Uruguay takluk pada Kolombia 0-2 di babak 16 besar. Pertandingan itu melambungkan nama James Rodriguez yang sukses mencetak dua gol. Sebagai gelandang serang, James tampil tajam sepanjang turnamen dengan raihan total lima gol hingga kini.

Secara keseluruhan, banjir gol memang kerap terjadi di Piala Dunia 2014. Gol Sokratis Papastathopoulos untuk Yunani pada menit 90 pertandingan lawan Kosta Rika adalah gol ke-145 yang tercipta di ajang ini. Jumlah gol itu menyamai total gol yang tercipta di Piala Dunia 2010. Bukan tidak mungkin rekor 171 gol di Piala Dunia 1998 terpecahkan karena masih banyak laga tersisa.

Sejak awal, berbagai skor besar telah menghiasi ajang empat tahunan ini. Jerman sukses mencukur Portugal 4-0 di laga pembuka Grup G. Belanda berhasil membantai juara bertahan Spanyol dengan skor 5-1. Setelah itu Spanyol bahkan kembali kalah dengan skor 0-2 melawan Chile dan resmi terlempar lebih awal dari Piala Dunia.

Banyak orang percaya inilah saat yang tepat bagi Spanyol untuk turun tahta. Enam tahun sudah Spanyol merajai sepak bola dunia dengan meraih dua trofi Piala Eropa dan satu trofi Piala Dunia. Tak hanya lawan, pendukungnya saja terkadang bosan menunggu tiki-taka mereka menembus pertahanan musuh.

“Hal tersebut kerap terjadi di situasi semacam ini. Kami semua bertambah tua dan ada beberapa pemain muda yang muncul tapi tak mendapat kesempatan untuk unjuk gigi,” kata David Silva, gelandang tim Matador.

Sesungguhnya tim Spanyol telah berusaha melakukan inovasi dengan memasukkan striker blasteran Brasil, Diego Costa. Namun hal ini justru gagal total. Menjadi starterdi dua pertandingan awal, Costa melempem. Dari lima tembakan yang dilepaskannya, tak ada satu pun yang mengarah ke gawang. Ia hanya produktif menghasilkan siulan ejekan di lapangan dari orang-orang Brasil yang tak suka atas “pengkhianatannya”.

Di pertandingan terakhir melawan Australia, Costa tak dimainkan dan Spanyol menang 3-0 lewat gol David Villa, Fernando Torres, dan Juan Mata. Padahal, ia sempat jadi rebutan setelah sukses mencetak 36 gol bagi Atletico Madrid musim lalu. Brasil jelas membutuhkan kehadiran Costa di lini depan karena hanya ada Bernard, Fred, Hulk, dan Jo sebagai penyerang murni di sana. Nama-nama itu jelas kalah pamor dibandingkan Romario atau Ronaldo yang dahulu membawa Brasil juara dunia pada 1994 dan 2002.

Masih ada Neymar, tapi dia adalah penyerang sayap yang kerap menggiring bola ke dalam sembari mencari celah untuk melepas tembakan. Ketergantungan pada dirinya justru bisa jadi bumerang bagi Brasil. Saat lawan menahan Neymar dengan kasar, lumbung kreativitas utama tim pun serperti tergembok.

“Brasil tak punya sumber daya tim yang cukup dan malah terus menggantungkan sukses pada sedikit pemain andalan mereka,” kata Cesar Luis Menotti, legenda hidup sepak bola Argentina. “Salah satunya Neymar. Tapi dia tak punya kekuatan atau kemampuan bermain di tengah. Dia hanya punya aset terbaik dengan permainannya di sayap kiri. Saya tak melihat bagaimana dia bisa mengatur tempo permainan, seperti Pele atau Zico. Dia bukan pemain macam itu.”

Untungnya sejauh ini Neymar masih bisa membalas kritik dengan performa ciamik. Empat gol ia cetak dalam tiga pertandingan di fase grup. Walau begitu, bencana mampir kala Neymar dipastikan cedera paha usai laga melawan Chile di babak 16 besar. Kala itu ia bermain penuh hingga akhir masa perpanjangan waktu dan bahkan mencetak gol saat adu penalti. Brasil lolos ke perempat final dan Neymar masuk ruang perawatan, kombinasi yang tak ideal bagi seluruh pendukung tim Samba.

Di sisi lain, Argentina justru mematahkan mitos bahwa Lionel Messi cuma bisa bermain bagus di Barcelona. Kini terjadi sebaliknya. Tanpa Messi, Argentina tak bisa menang di fase grup Piala Dunia. Ia sukses mencetak empat dari total enam gol Argentina di tiga laga. Tanpa golnya, total raihan nilai Argentina mentok di angka tiga. Bisa jadi justru mereka gagal lolos ke babak 16 besar karena hal itu.

“Lionel Messi semakin baik pada setiap pertandingan. Wajahnya tidak terlihat seperti itu, tapi dia datang ke Brasil dengan menghasilkan skor yang meyakinkan,” kata Diego Armando Maradona, legenda Tim Tango, dua pekan lalu.

Namun, barisan pertahanan yang rapuh bisa jadi momok mematikan bagi Argentina. Sebanyak apa pun lini depan Argentina mencetak gol, mereka selalu berpotensi kebobolan dengan jumlah lebih banyak.

Walau begitu, nasib Messi masih lebih baik dibandingkan Cristiano Ronaldo. Brasil 2014 adalah antiklimaks dari penampilan cemerlang Ronaldo bersama Real Madrid musim lalu. Ia mencetak 51 gol di semua ajang dan berhasil mengantar Madrid menjuarai Copa del Rey dan Liga Champion. Dari tiga laga di fase grup, Ronaldo hanya mampu mencetak satu gol dengan tiga kali perubahan model rambut. Hal ini pun jadi lelucon besar di dunia maya melihat perbandingannya dengan Messi dan Neymar yang sukses tampil sangar, bukan necis di lapangan.

Portugal kalah dari Jerman, imbang dengan Amerika Serikat, dan baru menang tipis saat melawan Ghana. Di tiga laga itu tak pernah terlihat senyum Ronaldo.  Yang ada hanya wajah kecewa dan kesal berlebihan.

Situasinya memang serba salah. Jika Ronaldo banyak bermain di tengah, tak ada striker mumpuni yang mampu menyelesaikan peluang sebaik dirinya. Tengoklah stok striker Portugal seperti Hugo Almeida, Helder Postiga, dan Eder. Jumlah gol ketiganya bagi klub masing-masing pada musim lalu hanya 22 gol, tak sampai setengah dari rekening gol Ronaldo sendirian bagi Real Madrid.

Namun, bila Ronaldo maju ke depan, para gelandang juga tak mampu memberikan servis terbaik baginya sebagai penyerang utama. Di Real Madrid ada Xabi Alonso, Luka Modric, atau Angel Di Maria. Di tim nasional Portugal ada Joao Moutinho, Miguel Veloso, dan Nani yang sepanjang karier selama ini terus berusaha membuktikan bahwa mereka bukanlah pemain overrated. Alhasil, setelah kemenangan 2-1 atas Ghana yang sekaligus menasbihkan kegagalan Portugal lolos ke babak 16 besar, Ronaldo memuntahkan rasa frustrasinya pada media.

“Portugal memang tak pernah jadi favorit. Anda hanya perlu melihat fase kualifikasi untuk mengetahuinya,” katanya kepada Reuters. “Ini sudah sulit sejak awal. Kami harus rendah hati dan mengetahui kemampuan kami. Saat ini ada tim-tim nasional lain yang lebih baik daripada kami.”

Pernyataan ini memancing kecaman dari mantan pelatih Benfica dan Sporting Lisbon, Manuel Jose. “Portugal membawa pemain terbaik dunia seperti sebuah cincin berlian yang tak pernah kami miliki sebelumnya. Para pemain lain sudah diperlakukan seperti bawahan. Benar-benar seperti itu,” kata Jose.

Di Grup E, Prancis justru menemukan kembali kekompakan yang hilang setelah kepergian generasi emas Zinedine Zidane, Patrick Vieira, dan Thierry Henry. Mereka kini melangkah gagah dengan kehadiran pilar-pilar muda di tiap lini. Ada Raphael Varane di belakang, Paul Pogba di tengah, dan Karim Benzema di depan.

Absennya Franck Ribery dari Piala Dunia karena cedera punggung justru membawa berkah tersendiri. Tim jadi bermain lebih padu dan tidak melulu bertumpu pada Ribery seorang untuk membangun serangan dari sayap.

Dengan raihan akhir tujuh poin, Prancis lolos sebagai juara Grup E. Mereka pun berhasil melewati hadangan Nigeria di babak 16 besar. Sejauh ini Benzema telah mencetak tiga gol dan sedang menikmati waktu terbaik bersama tim. “Kami bermain sebagai tim, penuh kebersamaan dan tanpa rasa emosi,” kata Benzema usai kemenangan 5-2 atas Swiss. “Sangat senang rasanya memiliki tim seperti ini.”

Selain Prancis, Jerman dan Belanda juga sejauh ini tampil stabil. Mereka juara grup masing-masing dengan produktivitas gol tinggi. Di tim Belanda, ada Robin van Persie dan Arjen Robben yang sama-sama telah mencetak tiga gol. Di tim Jerman ada Thomas Mueller yang telah mengoleksi empat gol di fase grup saja.

Para peramu taktik di belakang permainan kedua tim tersebut memang gemar bereksperimen. Sesungguhnya Jerman hanya membawa satu penyerang murni, yakni Miroslav Klose. Sisanya adalah penyerang sayap seperti Lukas Podolski dan Andre Schuerrle. Juga gelandang serang semacam Mueller dan Mario Goetze yang kerap beralih peran menjadi striker bayangan dalam skema false nine Joachim Loew.

Louis van Gaal juga kerap mengutak-atik posisi pemain demi kebutuhan tim. Contoh paling mudah adalah kala Belanda menang 2-1 atas Meksiko di babak 16 besar. Kala itu striker gaek Dirk Kuyt sampai tiga kali berganti posisi di lapangan. Pertama menjadi bek kiri di awal laga. Setelah Giovani dos Santos mencetak gol di menit ke-48, Kuyt dimainkan sebagai bek kanan. Terakhir, setelah van Persie digantikan Klaas Jan Huntelaar, Kuyt baru maju ke depan sebagai penyerang sayap kanan.

“Dia (van Gaal) mungkin yang terbaik dalam memberikan taktik di dunia. Tak peduli dengan sistem apa yang kami mainkan, para pemain tahu secara pasti apa yang harus dilakukan,” kata Kuyt.

Kini Jerman dan Belanda tinggal membuktikan diri bisa tampil trengginas di laga besar hingga akhir kompetisi. Belanda tentu tak ingin sekadar jadi runner-up seperti di Piala Dunia 2010. Jerman pun pasti tak mau hanya mengulang raihan peringkat ketiga di Piala Dunia 2006 dan runner-up di Piala Eropa 2008. Klose pun sedang bernafsu mencetak gol untuk melampaui rekor 15 gol Ronaldo sepanjang sejarah ajang Piala Dunia.

Yang pasti, selama ini belum ada tim Eropa yang berhasil menjadi juara saat Piala Dunia berlangsung di wilayah Amerika Latin. Namun bila itu terjadi, Brasil yang harus gigit jari karena tak pernah bisa menjadi juara di rumah sendiri.

Piala Dunia 2014 memang penuh ironi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 7 Juli 2014.

Lelucon Tak Lucu Sepak Bola Indonesia

121206031055-diego-mendieta-wife-horizontal-gallery

Istri Diego Mendieta, Valeria Alverez, berduka atas kematian suaminya, Sumber: edition.cnn.com

Kita pernah menyaksikan momen-momen tragis yang menggugah sisi kemanusian di atas lapangan sepak bola. Cedera, merupakan salah satunya. Wajar, karena kontak fisik adalah bagian tak terpisahkan dalam permainan. Robek otot, patah kaki, gegar otak, hingga hilangnya nyawa pernah terjadi di sana. Penanganan medis yang tepat wajib hukumnya untuk menghindari situasi terburuk.

Alan Smith pernah dianggap begitu menjanjikan di masa mudanya, terutama kala membela Leeds United pada rentang 1998-2004. Hal itulah yang membuat Manchester United (MU) merekrutnya dari sana. Namun, cedera merusak segalanya.

Pada 18 Februari 2006, MU melakoni laga tandang ke Anfield untuk berhadapan dengan Liverpool di ajang Piala FA. Sundulan Peter Crouch berhasil membawa Liverpool unggul di menit 19. MU terus berusaha mencari celah untuk membalikkan keadaan, tapi urung menemui sasaran.

Memasuki menit 88, Liverpool mendapat tendangan bebas jauh di luar kotak penalti MU. John Arne Riise, pemain kidal asal Norwegia jadi eksekutornya. Mendapat operan pendek dari Dietmar Hamann, Riise langsung menendang keras bola tersebut ke arah gawang. Smith, jadi pemain pertama yang menyambutnya. Ia berlari kencang sembari menyampingkan badan dan menghalau bola dengan kakinya.

Nahas, ia salah jatuh dengan posisi kaki kiri menyilang. Kaki kirinya patah dan mengalami dislokasi engkel. Tim medis segera datang dan mengangkatnya dengan tandu ke mobil ambulans. Seharusnya mobil tersebut segera pergi meninggalkan stadion menuju rumah sakit terdekat. Tak disangka, mobil dihadang sekelompok pendukung garis keras Liverpool yang melempari dengan botol, gelas bir dan batu. Beberapa orang bahkan berusaha menggulingkan kendaraan tersebut.

Untungnya Smith tak terlambat tiba di rumah sakit. Penanganan segera dilakukan dan kariernya sebagai pesepak bola tidak mati. Namun, kecaman keras datang dari berbagai pihak. Manajer Stadion Anfield, Ged Poynton, bahkan mendapat sebuah surat bertuliskan, “Saya merasa ini adalah hal paling menjijikkan yang pernah saya saksikan selama 40 tahun menonton pertandingan sepak bola profesional.”

Peraturan FIFA sendiri menyebutkan bahwa atas perintah wasit, tim medis harus bisa segera memindahkan pemain yang cedera di atas lapangan dan menjamin keselamatannya.

“Setelah menanyakan keadaan pemain yang cedera, wasit menugaskan satu, atau paling banyak dua dokter, untuk memasuki lapangan, memastikan jenis cedera yang ada, dan mengatur keselamatan pemain serta memindahkannya dari lapangan permainan,” itulah yang tertulis lengkap dalam kitab peraturan FIFA.

Maka, keselamatan pemain harus jadi prioritas. Sesuatu yang kerap diabaikan dan dianggap remeh oleh ofisial pertandingan sepak bola Indonesia.

Mayoritas pemain sepak bola Indonesia punya kisah tragisnya masing-masing yang sesuai dengan dramaturgi serta plot sebuah sinetron. Gaji tak dibayar berbulan-bulan, hingga mati mengenaskan. Anehnya, kejadian yang sama atau mirip terus terulang dari tahun ke tahun. Ramai sesaat, menghilang secepat kilat. Tak terselesaikan dan terkesan diabaikan.

Masyarakat tanah air pernah begitu berduka saat mendengar berita kepergian Jumadi Abdi, gelandang PKT Bontang, pada Maret 2009 lalu. Saat berlaga melawan Persela Lamongan, Jumadi mengalami benturan keras dalam situasi perebutan bola dengan pemain lawan, Denny Tarkas.

Kala itu, Denny mengangkat kaki sepinggang dan bermaksud menerjang bola dengan telapak sepatunya. Tak disangka, sodoran kaki Denny justru mengenai perut Jumadi. Jumadi tersungkur kesakitan hingga tak bisa melanjutkan pertandingan. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.

Setelah kira-kira seminggu dirawat, Jumadi mengembuskan nafas terakhir. Terjadi kerusakan di sejumlah organ vital. Ususnya sobek, sehingga muncul kuman yang mendorong terjadinya infeksi berat di bagian dalam perutnya. Jumadi meninggal pada 15 Maret 2009, atau kira-kira tiga minggu sebelum rencana pernikahannya seharusnya berlangsung.

Lima tahun berselang sejak kejadian tersebut. Namun, rasanya kita tak banyak belajar dari apa yang terjadi. Pada 10 Mei 2014, insiden serupa terjadi pada Akli Fairuz, penyerang Persiraja Banda Aceh.

Kala itu Persiraja sedang berhadapan dengan PSAP Sigli. Dalam sebuah kemelut di kotak penalti PSAP, kiper Agus Rahman dan Akli saling adu cepat untuk merebut bola dengan situasi 50-50. Akli menang dalam perebutan bola, hanya sesaat sebelum kaki Agus menerjang perutnya dengan telak.

Akli meringis kesakitan. Ia mengalami luka dalam dan kandung kemihnya bocor. Hal ini tak diketahui sebelum ia dibawa ke rumah sakit. Masalahnya, sesaat setelah kejadian berlangsung, tim medis Persiraja tak langsung membawa Akli meninggalkan stadion. Akli hanya dibawa ke pinggir lapangan untuk menyaksikan laga hinggai usai.

Ia baru masuk rumah sakit usai matahari terbenam. Selama enam hari, Akli mendapat perawatan intensif di RSUD Zainoel Abidin. Di sana, ia bahkan sempat bercerita pada wartawan. “Keras sekali terkena sepatu di sini,” ujarnya sembari menunjuk daerah bawah perutnya sendiri.

Namun apa daya, Akli meninggal pada 16 Mei 2014 lalu. Masyarakat kembali berduka, baik lokal maupun internasional. Berita ini memang tersebar cepat ke berbagai penjuru dunia. Daily Mail dan Daily Star asal Inggris, The Sydney Morning Herald asal Australia, La Gazetta dello Sport asal Italia dan Marca asal Spanyol ramai-ramai memberitakan insiden ini.

Tak hanya sampai di situ, ternyata Persiraja juga masih menunggak gaji Akli selama tiga bulan terakhir. Ia sempat melakukan aksi protes belum lama ini, tapi urung mendapatkan hasil hingga kini.

Masalah menunggaknya gaji pemain sepak bola memang bukan hal baru di Indonesia. Pemain asal Paraguay, Diego Mendieta, meninggal pada Desember 2012 lalu karena tak mampu membayar perawatan penyakit tifus yang diidapnya kala itu. Hal ini terjadi karena hak gaji sebesar Rp100 juta masih ditunggak oleh Persis Solo yang dibelanya.

Kebiasaannya memang selalu seperti itu, yang bertanggung jawab berlomba mencuci tangan kala masalah besar muncul ke permukaan. Manajemen Persis Solo justru marah-marah ketika dihukum tak boleh berkompetisi lagi oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia.

“Saat (dirawat) di rumah sakit, Diego sudah tidak lagi bersatus sebagai pemain Persis karena tim sudah dibubarkan. Sehingga biaya perawatan Diego sudah tidak menjadi tanggung jawab manajemen, namun manaemen tetap membantu semampunya,” kata Totok Supriyanto, eks Manajer Persis Solo.

Di lain pihak, Ketua Umum Persiraja Jamal Muku, tiba-tiba mengundurkan diri dari jabatannya sehari setelah kematian Akli. Hal itu karena Jamal merasa yang seharusnya bertanggung jawab soal tunggakan gaji adalah para pengurus lama.

“Kami sudah mencari pengurus-pengurus lama sampai ke rumah tapi tak ada, jadi mereka harus mempertanggung jawabkan semua. Enggak mau, kalau beban mereka dibebankan ke kami,” kata Jamal.

Tak hanya soal oknum yang lari dari kewajiban. PSSI sebagai wadahnya pun seakan tidak melakukan tindakan tegas untuk mencegah hal sama terulang lagi. Oleh karena itu, tak ada efek jera bagi para pemain. Bahkan, dalam regulasi kompetisi Divisi Utama 2014 juga tak dijelaskan secara terperinci perihal prosedur penanganan medis bagi pemain yang cedera ketika berlaga.

Pasal 56 dan 57 dalam regulasi tersebut hanya mengatur soal kewajiban pengadaan fasilitas dan personel medis di stadion kala sebuah pertandingan berlangsung. Jadi, secara de jure walau para petugas medis telah bersiap dengan peralatan lengkap, mereka tidak wajib memberikan pertolongan pada pemain yang cedera.

Memang, terlalu banyak lubang dalam regulasi sepak bola Indonesia. Akibatnya kita kerap geram, sedih, dan tertawa mengamati apa yang tejadi di dalam ataupun luar lapangan. Selalu seperti itu, tanpa solusi memadai.

Beruntung betul Alan Smith. Bila insiden patah kaki ia alami di tengah pertandingan sepak bola Liga Indonesia, mungkin kini ia sudah diamputasi.

Surga Menit ke-93 dan Runtuhnya Mimpi Remaja Atletico

fac46a664b941d14550f6a706700b6f8-1024x696

Tandukan Sergio Ramos di menit ke-93, Sumber: The Epoch Times

Real Madrid frustrasi. Belasan tembakan telah mengarah ke gawang Atletico Madrid selama 90 menit waktu normal. Tak ada yang berhasil melabrak gawang Thibaut Courtois. Gaya main mereka pun jadi tak sabaran. Dalam 10 menit terakhir, lebih banyak umpan panjang yang langsung diarahkan ke kotak penalti Atletico. Semuanya sia-sia. Hanya dua menit berselang sebelum Atletico menjuarai Liga Champion untuk pertama kalinya.

Namun, surga bagi Real ada di menit ke-93. Kala itu, untuk kesekian kalinya Real mendapat sepak pojok. Angel Di Maria yang sebelumnya lebih sering menjadi eksekutor, kali ini digantikan tugasnya oleh Luka Modric. Saat Modric mengambil ancang-ancang, kamera sempat menyorot sosok Cristian Rodriguez, pemain sayap Atletico, di bangku cadangan.

Rodriguez terlihat menunduk dengan dua tangan di kepala. Ia tampak begitu gelisah. Kepalanya tak bisa diam, menengok kiri-kanan sembari kedua tangan terdekap erat. Ia tahu, kejayaan itu telah ada di depan mata.

Atletico pernah sekali menembus final Liga Champion pada 1974, tapi harus kalah telak 0-4 dari Bayern Munchen saat melakoni laga ulangan. Laga ulangan seharusnya tak perlu terjadi.

Pada pertandingan pertama, skor kacamata berlanjut hingga babak tambahan. Barulah Luis Aragones bisa memecah kebuntuan di menit ke-114 dengan golnya ke gawang Munchen. Sayangnya, kemenangan hilang di saat-saat akhir kala bek Hans-Georg Schwarzenbeck menyamakan kedudukan di menit ke-120, atau detik-detik akhir sebelum laga usai.

Setelah 40 tahun berlalu, situasinya berlangsung hampir serupa. Diego Godin mencetak gol di menit ke-36 dan selama hampir satu jam berselang, Atletico bertahan ketat untuk mempertahankan keunggulan. Real seperti mati kutu. Duet mahal Cristiano Ronaldo-Gareth Bale di kedua sayap Real tak bisa berbuat banyak malam itu. Bale bahkan menyia-nyiakan dua peluang emas di masing-masing babak.

Tinggal dua menit saja, dan Atletico akan keluar sebagai juara. Final Liga Champion adalah hal yang terlampau mewah untuk disinggahi Atletico berkali-kali. Baru dua kali mereka berhasil menjejakkan kaki di sana. Maka, prinsipnya cuma satu: lakukan atau tidak sama sekali.

Syahdan, Modric menembakkan umpan deras ke tengah kotak penalti Atletico. Sergio Ramos berlari menyambut umpan dengan gerakan zig-zag. Sesaat ia seakan melaju ke arah penyerang muda Alvaro Morata, tapi di saat akhir ia berubah arah. Godin, yang bertugas menjaga Ramos, kewalahan (mungkin juga kelelahan) mengikuti bek asal Spanyol tersebut. Godin justru terhambat sosok Morata di tengah jalan dan menabrak rekan setimnya sendiri.

Tanpa pengawalan, Ramos melompat tinggi dan menyundul bola sekuat tenaga ke sudut kiri bawah gawang Atletico. Gol.

Estadio da Luz meledak usai gol tersebut. Setengah isi stadion bergemuruh oleh sorak sorai pendukung Real. Rodriguez tertunduk lesu dengan dua tangan menutupi wajah. Miranda berjalan lunglai dengan tatapan kosong di matanya.

Godin berubah dari pahlawan jadi pemupus harapan. Satu sama, dan apapun bisa terjadi setelahnya.

Dahulu Manchester United pernah menjuarai Liga Champion 1999 setelah membalikkan ketertinggalan satu angka dari Munchen dengan dua gol di menit ke-91 dan 93. Atletico tidak sesial itu. Pertandingan memasuki perpanjangan waktu, tapi semua tak lagi sama.

Mental Atletico runtuh seketika. Pemain Real sudah begitu kelelahan tapi tetap ada di atas angin. Berkali-kali mereka melancarkan serangan untuk menyudahi permainan. Real tahu, satu gol berikutnya akan menjadi penutup laga di Lisbon tersebut.

Menit ke-110, Di Maria menyisir sisi kanan pertahanan Atletico. Tiga orang dilewatinya dengan akselerasi tinggi. Sayang, tembakannya berhasil ditepis oleh Courtois. Namun, bola muntahan justru mengarah ke Bale yang segera melompat dengan seluruh sisa tenaga terakhir. Bale, yang sebelumnya telah berkali-kali kehilangan bola dan salah umpan karena kelelahan. Bale, yang mencetak gol penentu kemenangan Real atas Barcelona di final Copa del Rey sebelumnya.

Dengan sedikit sentuhan, Bale menghentikan kekuatan bola dan melesakkannya ke sudut kanan atas gawang Atletico. Permainan, benar-benar selesai kemudian.

Dua gol tambahan berhasil diraih Real lewat kaki kiri Marcelo dan penalti Ronaldo. La Decima jadi kenyataan, dan skor 4-1 ada di tangan. Malam yang kelewat sempurna bagi Real.

Lagi-lagi, kita menyaksikan mimpi seorang remaja kandas di tengah jalan. Dahulu, ada remaja bernama Valencia. Juga asal Spanyol, juga menjuarai liga setelah menembus dominasi Real dan Barcelona. Mimpinya terus terbangun perlahan lewat senjata-senjata bernama Pablo Aimar atau Gaizka Mendieta.

Dua kali Valencia menembus final Liga Champion, pada 2000 dan 2001, dan keduanya berujung dengan kekalahan. Setelahnya, Valencia memang sempat menjuarai liga pada 2002 dan 2004, tapi mimpi untuk menjadi yang terbaik di Eropa tak pernah terwujud hingga kini. Para pemain terbaiknya harus dijual untuk menjaga kestabilan ekonomi klub, dan popularitas mereka hanya berlangsung sesaat.

Remaja Valencia berhasil melabrak dominasi, tapi urung membangun dinasti. Sesuatu yang kita takutkan kembali terjadi pada seorang remaja bernama Atletico.

Atletico adalah berkah dan harapan yang ditunggu-tunggu para penggila sepak bola Spanyol, dan bahkan dunia. Semua menunggu hadirnya liyan yang bisa meruntuhkan tembok tinggi bernama Real dan Barcelona. Bukan sekadar meruntuhkan, tapi juga membersihkan puing-puingnya.

Langkah itu dimulai dengan menjuarai Liga Europa pada 2010 dan 2012. Kemudian, sukses berlanjut dengan raihan Piala Super Eropa 2012, Copa del Rey 2013 serta La Liga 2014. Hanya butuh satu raihan lagi untuk mengukuhkan mimpi Atletico: Liga Champion.

Dengan trofi Liga Champion di tangan, akan lebih mudah bagi pelatih Diego Simeone untuk mempertahankan dan membeli pemain-pemain terbaik bagi Atletico. Ada kebanggan tersendiri kala bermain dalam seragam juara Eropa. Loyalitas terjaga, pemasukan meningkat. Semua akan berjalan begitu indah dan dinasti bisa saja terbangun secara perlahan.

Kini, ada potensi bagi Atletico hanya untuk menjadi gangguan sesaat, tetangga yang berisik kalau kata Sir Alex Ferguson. Siapa yang bisa menjamin top skor tim Diego Costa akan bertahan di musim-musim selanjutnya? Siapa yang berani berkata bahwa dalam dua atau tiga tahun ke depan Atletico akan tetap menjuarai liga?

Alhasil, yang besar akan semakin besar, dan jurang disparitas akan terus terbentuk karenanya. Skenarionya sudah hampir tertebak. Ronaldo kembali meraih Ballon d’Or tahun depan, Real kembali memecahkan rekor transfer, dan remaja Atletico akan semakin tersingkir kembali ke rumahnya selama ini: papan tengah klasemen.

Namun, tak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi ke depan. Mungkin saja seorang syekh asal Timur Tengah tiba-tiba membeli Atletico dan mewujudkan mimpi yang tertunda untuk menjadi juara Eropa.

Mungkin saja.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada Rabu, 28 Mei 2014.

Kutukan Gol Ramsey, Epilog Hidup Jardine & Vilanova

aaron-rambo-wanted

Sumber: OnTheFutbol.wordpress.com

Jika menyadari apa yang sedang terjadi, Aaron Ramsey tentunya tak habis pikir. Ia hanya bermaksud menjalankan tugas sebaik mungkin. Namun, tiap gol yang ia cetak untuk Arsenal entah bagaimana kerap jadi tanda petaka bagi para pesohor di berbagai belahan d unia.

Semua dimulai saat Ramsey membobol gawang Manchester United di Emirates Stadium pada 1 Mei 2011. Sehari berselang, Osama bin Laden dikabarkan tertembak mati oleh angkatan laut Amerika Serikat di kampnya di Pakistan.

Selanjutnya, pada 2 Oktober 2011 Ramsey sukses melesakkan bola ke gawang Tottenham Hotspur. Tiga hari kemudian, pendiri Apple Steve Jobs wafat di rumahnya di California, Amerika Serikat, karena kanker pankreas yang telah lama menggerogoti tubuhnya.

Masih di bulan yang sama, Ramsey mencetak gol kembali melawan Marseille di ajang Liga Champion pada 19 Oktober. Esoknya, Muammar Gaddafi tertangkap kamera amatir sedang diseret oleh komandan pasukan pemberontak dari sebuah pipa saluran drainase akibat cedera dan kemudian tertembak mati secara misterius.

Beberapa bulan kemudian, pria asal Wales ini kembali mencatatkan namanya di papan skor kala melawan Sunderland pada 11 Februari 2012. Syahdan, di hari yang sama penyanyi Whitney Houston ditemukan meninggal di Beverly Hilton, Los Angeles.

Kemudian, pada 30 November 2013, Ramsey juga sukses mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 Arsenal atas Cardiff City. Syahdan, di hari yang sama aktor Paul Walker pun meninggal akibat kecelakaan mobil di Santa Clarita, California.

Gol-gol yang hadir dari kaki Ramsey seakan jadi kutukan tak terelakkan. Setelah beberapa bulan berlalu usai kutukan terakhirnya ‘bekerja’, kini gol Ramsey kembali jadi malapetaka.

Pada 20 April 2014 lalu, Ramsey mencetak gol pembuka ke gawang Hull City di lanjutan kompetisi Liga Primer Inggris. Pertandingan sendiri usai dengan kemenangan 3-0 Arsenal lewat tambahan dua gol Lukas Podolski.

Awalnya, semua berjalan biasa saja. Namun, dunia sepakbola justru terguncang beberapa hari berselang. Sandy Jardine, legenda klub Skotlandia Glasgow Rangers, meninggal dunia di umur 65 tahun pada 24 April setelah kalah dalam perjuangan melawan kanker tenggorokan dan hati. Tak sampai di situ, sehari kemudian eks pelatih Barcelona Tito Vilanova juga dijemput ajal akibat kanker tenggorokan – atau tumor kelenjar parotis – yang telah dideritanya selama kira-kira dua tahun terakhir.

Jardine dan Vilanova bukanlah nama yang asing di telinga para penggemar sepakbola. Direkrut Rangers pada 1964, Jardine muda menghabiskan dua tahun pertamanya di tim cadangan. Baru pada 1966 ia berhasil menembus tim utama dan perlahan menjadi andalan di sektor kanan pertahanan.

Hingga akhir karirnya di Rangers pada 1981/1982, Jardine tercatat telah bermain sebanyak 451 kali bagi Rangers di segala ajang dan mencetak 77 gol. Ia juga masuk dalam tim yang membawa Rangers menjuarai Piala Winners pada musim 1971/1972.

Kepergian Jardine membawa duka mendalam, khususnya bagi keluarga besar Rangers. Ally McCoist, pelatih Rangers yang saat ini berusia 51 tahun bahkan berujar bahwa Jardine adalah idola masa kecilnya.

“Ada banyak nama besar yang diasosiasikan dengan 142 tahun sejarah klub sepakbola Rangers dan Sandy adalah legenda Rangers yang tak diragukan lagi. Kami semua remuk usai mendengar berita kepergiannya. Kami telah kehilangan seorang hebat hari ini,” ujar McCoist.

Tak kalah mengejutkan, kabar wafatnya Vilanova juga memancing simpati dari berbagai belahan dunia. Vilanova sendiri memulai karirnya di Barcelona B sebagai asisten pelatih Pep Guardiola pada 2007 silam. Setahun kemudian, barulah ia dan Guardiola naik pangkat membesut tim utama Barcelona.

Selama kurun waktu empat tahun, duet mau tersebut akhirnya berhasil menyumbangkan tiga gelar juara La Liga, dua trofi Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, dua trofi Liga Champion dan dua Piala Dunia Antarklub. Pantaslah bila duet tersebut disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik sepanjang sejarah Barca.

Bahkan ketika Guardiola memutuskan untuk rehat sejenak dari sepakbola, Vilanova yang melanjutkan suksesi sebagai pelatih kepala berhasil menyumbangkan kembali satu gelar La Liga pada musim 2012/2013. Namun, di akhir musim tersebut, Vilanova memutuskan untuk undur diri agar bisa fokus pada perawatan kankernya.

Sesungguhnya, banyak nama besar lainnya dalam sejarah panjang sepakbola dunia yang harus mengakhiri karir atau meregang nyawa akibat kanker. Sir Bobby Robson, mantan pelatih Barca dan Newcastle United, sempat mengidap kanker usus pada 1992. Tak hanya itu, ia pun didiagnosis terserang kanker melanoma ganas pada 1995, serta tumor di paru-paru kanan dan tumor otak pada 2006.

Tumor otak tersebut bahkan sempat membuatnya lumpuh akibat serangan stroke. Perjuangannya selama belasan tahun melawan kanker akhirnya mendorong Robson untuk mendirikan Sir Bobby Robson Foundation pada 2008. Lembaga amal itu bergerak di bidang riset kanker dan hingga Maret 2013 lalu berhasil mengumpulkan dana sebesar 5 juta poundsterling.

Jangan lupakan pula Glenn Roeder, eks pelatih West Ham United yang divonis mengidap tumor otak sejak April 2003 silam. Kala itu, ia baru saja memimpin timnya mengalahkan Middlesbrough.

Syahdan, ia baru merasakan ada yang salah dengan tubuhnya saat tiba di kantornya di Upton Park. Roeder sedang duduk di sofa bersebelahan dengan Ken Dyer, jurnalis London Standard sembari berbincang dengan Roger Cross dan Ludo Miklosko.

“Ia tiba-tiba terdiam dan dalam satu momen mengerikan, ia terjatuh ke samping sofa. Wajahnya tiba-tiba berwarna dan ia merosot jatuh ke lantai,” ujar Dyer mengingat kembali kejadian tersebut.

Akhirnya, peran Roeder digantikan sementara oleh Trevor Brooking untuk menjalani tiga pertandingan terakhir West Ham di musim 2002/2003. Nahas, tim tersebut harus terdegradasi karena hanya bisa mengumpulkan 42 poin di akhir klasemen. Pada Agustus 2003, Roeder pun dipecat klub karena performa tim yang tak kunjung membaik di awal musim 2003/2004.

Setelah rehat selama kurang lebih dua tahun dari sepakbola, Roeder akhirnya kembali melatih dengan menjadi suksesor Graeme Souness di Newcastle pada 2005.

Namun, sepakbola bisa jadi begitu kejam. Dalam sebuah pertandingan tandang di kandang West Ham pada 2006, Newcastle sukses meraih kemenangan 2-0. Celaan datang dari para pendukung garis keras West Ham yang masih menyimpan dendam pada Roeder karena membawa tim tersebut terdegradasi di masa lalu.

Berbagai teriakan kerap terdengar di tengah pertandingan tersebut, seperti “Bocah tumor” dan yang paling menyakitkan, “Kenapa kau tidak mati saja tiga tahun lalu?”

“Salah satu hal tersedih yang saya temui di pertandingan hari Minggu tersebut adalah saat saya melihat wajah orang-orang yang berteriak pada saya, mereka ternyata seumuran dengan saya,” kata Roeder. “Lelaki berusia 40-an dan 50-an, mereka berteriak soal tumor otak dan kematian. Para lelaki yang – siapa yang tahu – bisa pula merasakan apa yang saya rasakan suatu hari nanti.”

Namun, Roeder memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah yang ada. Ia tidak ingin kehidupannya dipengaruhi oleh sekelompok minoritas garis keras yang hanya ingin menyakiti hatinya. Syahdan, hingga kini Roeder tetap bertahan hidup.

Roeder mungkin lebih beruntung dari nama-nama lain yang dijemput ajal lebih dahulu walau berusia lebih muda darinya. Kini, ia telah berusia 58, atau 13 tahun lebih tua dibanding usia Vilanova saat memeluk maut.

Maut, memang kerap datang tanpa aba-aba. Namun sebelum waktunya tiba, jadi tugas kita untuk tetap menunjukkan yang terbaik dalam keseharian, dalam tiap langkah yang kita pilih untuk dijalankan.

Seperti ujaran Vilanova saat kembali bekerja usai operasi pertamanya, “Hargai apa yang Anda punya. Anda tak pernah tahu kapan waktu Anda habis.”

Selamat jalan, Sir Jardine dan Senor Vilanova. Terima kasih untuk setiap kenangan indahnya.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada Sabtu, 26 April 2014.

Belasan Tahun Ternyata Belum Cukup

49505_large

Sumber: Okezone

“Bapak memaksa aku bahwa Satria telah pergi, Satria telah mati.”

“Aku terima kalau Satria telah mati, tapi aku tidak terima kalau satria diculik, dianiaya, dibunuh.”

“Aku tidak mau percaya itu meski dalam hatiku sudah terlalu sering kuingkari diriku bahwa kemungkinan besar Satria sudah mati.”

Itulah sepenggal kutipan naskah puisi yang dibacakan Niniek L Karim, artis lawas sekaligus aktivis HAM dalam aksinya memperingati Hari Penghilangan Paksa Internasional, Kamis (30/8).

Berbagai untaian kata yang keluar dari mulutnya bagai mewakili perasaan puluhan keluarga korban kasus impunitas yang hadir saat itu. Ada kadar amarah, kecewa, dan pasrah yang kental menyelimuti.

“Sebagai seorang ibu, saya akan terus mempertanyakan sampai mati kepada pemerintah, kenapa kasus ini tidak kunjung menemukan penyelesaian? Saya membayangkan kalau saya sendiri yang kehilangan anak, pasti akan saya cari terus sampai saya mati,” tegas Niniek, 63.

Hari itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) memang mencoba menghadirkan kembali sosok orang-orang yang hilang, atau lebih tepatnya dihilangkan secara paksa oleh pemerintah belasan tahun silam.

Sebutlah nama Yani Afri, Sonny, Deddy Hamdun, Noval Alkatiri, Ismail, Widji Thukul, Suyat, Herman Hendrawan, Petrus Bima Anugerah, Ucok Munandar Siahaan, Yadin Muhidin, Hendra Hambali, dan Abdun Nasser. Mereka semua adalah aktivis yang hilang pada rentang waktu 1997-1998 dan hingga saat ini belum diketahui kejelasan nasibnya.

“Kalau mereka meninggal, di mana kuburannya? Kalau dia ditahan di mana tahanannya? Itu saja yang selalu ditanyakan oleh kami pada pemerintah, tapi sampai sekarang sudah 16 tahun lebih ternyata belum terjawab juga. Katanya negara ini sudah merdeka, tapi hukumnya belum berjalan juga,” tukas Guan Lee, 54, teman sepermainan para korban yang raib tanpa jejak di akhir era Orde Baru tersebut.

Sesungguhnya, memang bukan materi yang para keluarga cari. Jadi, ini semua bukan soal kompensasi. Bahkan, untuk mendendam saja para keluarga kerap tidak mampu. Bagaimana mau menaruh benci bila pelakunya saja tidak diketahui secara pasti?

“Kita tidak mau kompensasi, hanya mau kejelasan saja. Sekarang yang kita pikirkan hanya dia (anak saya) ada atau tidak. Mau mendendam juga ya dendam sama siapa? Orang pelakunya saja kita engga tahu,” ungkap Paian Siahaan, ayah dari Ucok, yang kehilangan saat sang anak baru berusia 21 tahun.

Para keluarga memang sudah kebal hatinya. Saat mereka terus mencoba mengais asa, pemerintah nyatanya seakan mati rasa. Bahkan, rekomendasi Komnas HAM dan DPR untuk membentuk pengadilan ad hoc dan memberikan rehabilitasi serta kompensasi bagi keluarga korban, hingga saat ini tak kunjung jadi kenyataan.

“Memang ada pembiaran terhadap kejahatan HAM di masa lalu, dan penyelesaiannya bukan sebuah prioritas untuk pemerintah kita. Usaha untuk mengungkapkan kebenaran pada bangsa ini jadinya tidak ada. Jadi bisa dikatakan, ini adalah surga impunitas bagi para pelanggar HAM,” ujar Suciwati, istri dari almarhum Munir yang hingga saat ini juga masih menunggu kejelasan penyelesaian kasus terbunuhnya sang suami.

Hingga saat ini, memang belum ada satu pun kasus penghilangan orang secara paksa yang telah benar-benar dituntaskan oleh pemerintah. Padahal, sesungguhnya Indonesia yang diwakili Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa telah menandatangani Konvensi Internasional untuk Perlindungan Semua Orang dari Penghilangan Paksa pada September 2012 lalu. Namun, hingga saat ini hal tersebut tak jua kunjung diratifikasi dalam bentuk UU.

“Kalau saat ini orang bertanya, ada atau tidak acuan penyelesaian kasus penghilangan orang paksa, jawabannya tidak ada. Padahal penting bagi kita untuk mendorong penyelesaian satu kasus saja terlebih dahulu untuk membangun sebuah pijakan awal, atau dalam bahasa HAM-nya kita membentu sebuah batas minimum,” tutur Koordinator KontraS Haris Azhar.

Kalau sudah begini, rakyat pun hanya bisa mengandalkan diri sendiri. Persis dengan teriakan-teriakan yang selalu dilontarkan para demonstran setiap akan memulai dan mengakhiri peringatan Kamisan di depan Istana Negara.

“Hidup korban!”

“Jangan diam!”

“Lawan!”

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Beritasatu.com pada Senin, 3 September 2012.

Sengketa Tanah Berujung Peristiwa Berdarah

IMG_1835

Kawasan Hutan Register 45 yang dikelola PT Silva Inhutani/Viriya Paramita

Masalah tanah lahirkan banyak duka bagi warga. Tidak hanya kehilangan tanah, mereka juga kehilangan seorang sahabat: Made Aste. Telah lama masyarakat menunggu, tapi pemerintah masih terpekur.

Sabtu, 6 November 2010, warga asli Dusun Pelita Jaya sedang menjalani harinya seperti biasa. Sudah lebih dari tiga bulan mereka tinggal dan membangun kembali pemukiman di tanah kelahirannya. Rumah-rumah telah terbangun dengan rapi, singkong dan padi pun telah ditanam oleh warga sendiri. Walau telah digusur berulang kali, warga tetap berkeras hati bahwa di sana adalah tanah tempat mereka berhak menempati.

Tak dinyana saat matahari sudah mulai bersembunyi, sekitar pukul enam sore hari, warga dikejutkan dengan kedatangan serombongan tim terpadu yang berusaha mengusir mereka tanpa banyak bicara. Tembakan peringatan pun dilepaskan ke udara. Warga lari kocar kacir berusaha berlindung. Di tengah suasana panas, Rohadelia tertangkap oleh aparat yang tak segan berlaku keras.

Melihat temannya tertangkap, Nyoman Sumerte akhirnya maju berusaha membantu.

“Jangan maju, nanti saya tembak!” Aparat berseru.

Sesaat kemudian, peluru sukses menembus kaki kanan pria keturunan Bali itu. Tak berdaya melawan, Nyoman pun pasrah dipukuli.

Tak tega menyaksikan Nyoman dihajar habis-habisan, giliran Made Aste yang maju berusaha membebaskan sang kawan. Belum sempat ia menolong, timah panas melesat menembus perut kirinya. Made terkapar sekarat. Syahdan, ajal pun datang menjemputnya meninggalkan dunia.

***

Awal terbentuknya Dusun Pelita Jaya dimulai pada 1977. Saat itu, beberapa rombongan perantau datang dari berbagai daerah, salah satunya Pulau Jawa, yang memutuskan untuk memulai penghidupan baru dan mendirikan pemukiman di dalam kawasan hutan Register 45, Dusun Umbul Parari, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Register 45 sendiri adalah nama pemberian pemerintah di zaman penjajahan Belanda untuk hutan produksi seluas 33.100 hektar yang terletak di sekitar daerah Sungai Buaya.

“Kenapa diberi nama Parari? Sebab dulu itu lingkungan sini dianggap sebagai tempat pelarian orang yang bersalah,” ujar Muhammad Fathi, salah satu perantau yang datang dari Pulau Jawa untuk bermukim di Dusun Umbul Parari sejak 1977.

Praktis, selama kurang lebih 10 tahun lamanya, semakin banyak warga lokal dan luar pulau yang datang dan menetap di Umbul Parari, di antarnya dari Pulau Bali dan Sulawesi. Rumah-rumah dan sarana umum telah terbangun dengan merata, ladang jua digarap dengan baik untuk memenuhi kebutuhan hidup warga. Pemerintah pun akhirnya mendirikan sebuah Sekolah Dasar Negeri (SDN) sebagai satu-satunya sarana pendidikan formal yang ada di sana. Lalu atas keputusan bersama antar perwakilan kabupaten, kecamatan, dan warga dusun setempat, akhirnya Umbul Parari berganti nama menjadi Pelita Jaya.

Setelah tinggal lama di Pelita Jaya, warga pun diakui secara resmi keberadaannya oleh pemerintah. Hal itu dibuktikan dengan diberikannya Surat Keterangan Tanah (SKT) pada masing-masing Kepala Keluarga (KK) setempat. Lalu pada 1986, lurah setempat meminta warga Pelita Jaya untuk melapor dan menyerahkan kembali SKT masing-masing. Alasannya, agar SKT bisa diganti menjadi sertifikat tanah secara resmi. Namun, hal itu tak pernah benar-benar terealisasi.

IMG_1820

Fotokopi KTP Warga Dusun Pelita Jaya sebelum digusur pada 1986/Viriya Paramita

Di tahun yang sama, warga terpaksa mengungsi karena kedatangan ratusan gajah liar yang menyerbu dan memorakporandakan ladang mereka.

“Sempat datang tentara yang menyuruh warga untuk pergi dari sini, tapi kami tidak memedulikan. Setelah empat sampai lima kali memberi peringatan, mereka mengancam akan membawa gajah untuk mengusir kami. Benar saja, datang beneran gajah-gajah itu,” ujar Fathi.

“Cuma (saya rasa) gajah-gajah itu sebenarnya tidak datang karena disuruh oleh pemerintah. Mereka datang karena memang lapar dan ingin mencari makan sehingga akhirnya padi kami yang sudah siap panen habis dimakannya. Cuma waktunya saja yang bertepatan dengan setelah tentara memberi peringatan,” tambahnya.

Akibat kejadian itu, warga pun lari mengungsi ke dusun-dusun di sekitarnya. Setelah menetap selama beberapa saat, mereka kembali ke Pelita Jaya. Tak disangka, di sana mereka mendapati seluruh bangunan yang ada telah hancur diratakan dengan tanah. Puing-puing yang tersisa pun banyak dibuang di pinggir sungai. Jelas ini adalah perbuatan manusia. Kali ini bukan gajah yang jadi sumber masalah.

Akhirnya, warga terpaksa pergi dari lahan hidupnya sehari-hari. Ada yang kembali ke Pulau Jawa, mengikuti program transmigrasi lokal, atau menumpang hidup pada warga di dusun sebelah sambil mencari kerja secara serabutan.

Pada 1991, Kabupaten Lampung Utara secara resmi mengalami pemekaran wilayah dengan didirikannya Kabupaten Lampung Barat berdasarkan UU RI Nomor 6 Tahun 1991. Hal itu menyebabkan wilayah Lampung Utara berkurang enam kecamatan, yaitu Sumber Jaya, Balik Bukit, Belalau, Pesisir Tengah, Pesisir Selatan, dan Pesisir Utara.

Setelah itu, pemekaran kedua terjadi pada 1997 dengan terbentuknya Kabupaten Tulang Bawang berdasarkan UU RI Nomor 2 Tahun 1997. Wilayah Lampung Utara kembali mengalami pengurangan sebanyak empat kecamatan, yaitu Menggala, Mesuji, Tulang bawang Tengah, dan Tulang Bawang Udik.

Tulang Bawang yang melepaskan diri dari Lampung Utara dan berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten akhirnya juga mengalami pemekaran. Dengan disahkannya UU RI Nomor 49 Tahun 2008, tentang pembentukan Kabupaten Mesuji di Provinsi Lampung, maka sebagian bekas kecamatan di Kabupaten Tulang Bawang menjadi bagian dari Kabupaten Mesuji, yaitu Mesuji, Mesuji Timur, Panca Jaya, Rawa Jitu Utara, Simpang Pematang, Tanjung Raya, dan Way Serdang.

Akhir kata, Dusun Umbul Parari yang awalnya berlokasi di Kabupaten Lampung Utara, saat ini telah berganti nama menjadi Dusun Pelita Jaya yang berada di bawah Desa Talang Batu, Kabupaten Mesuji, Kecamatan Mesuji Timur, Provinsi Lampung.

IMG_1824

Peta kawasan hutan Register 45 sebelum (kotak pink) dan sesudah pemekaran (kotak hijau)/Viriya Paramita

Setelah sekian tahun lamanya, warga Pelita Jaya yang telah tersebar dan menetap di berbagai daerah mencoba kembali mengumpulkan kekuatannya. Pada 2006, mereka memutuskan untuk mendirikan tenda-tenda dan bermukim kembali di tanah kelahirannya itu untuk menuntut kejelasan hak dari perusahaan dan pemerintah. Tidak butuh waktu lama sebelum pihak perusahaan segera mengusir mereka dari sana.

Penembakan Made

Pada 2010 bahkan warga Pelita Jaya harus digusur pihak perusahaan hingga dua kali karena mencoba membangun pemukiman kembali di tanahnya yang lama. Pertama pada pertengahan tahun, sementara yang kedua pada 6 November 2010. Pada kesempatan kedua itulah terjadi penembakan yang merenggut nyawa Made Aste.

Tim terpadu yang datang untuk menggusur warga terdiri dari gabungan Brimob, Satpol PP, polisi, TNI, dan Pam Swakarsa. Perusahaan beralasan bahwa penembakan terjadi karena usaha aparat untuk mempertahankan diri dari penyerangan yang dilakukan warga terlebih dulu sambil membawa senjata tajam berupa clurit.

“Mereka berkumpul dan tiba-tiba datang menyerang kita. Seorang wanita bernama Rohadelia-lah yang begitu bersemangat memprovokasi warga untuk menyerang tim terpadu. Setelah kami menangkapnya, seorang pria berusaha menyerang aparat dengan clurit. Terpaksa aparat menembak kakinya. Melihat temannya jatuh, seorang pria ikut menyerang juga dengan clurit. Akhirnya, aparat menembak pula orang itu,” jelas Estate Manager sekaligus bagian Humas PT SI Ahmad Safari.

Bandi, seorang warga asli Dusun Pelita Jaya memiliki kisah berbeda. Dia mengatakan, “Warga memang datang membawa clurit karena baru pulang dari ladang, termasuk saya. Namun, kami tidak menyerang aparat dengan itu. Kami hanya membawa atau meletakannya di pinggang.”

Reporter Render sempat mencoba menemui Rohadelia, yang dipermasalahkan oleh Safari, di tenda pemukiman sementara warga Pelita Jaya di dalam kawasan hutan Register 45. Di sana, dia tidak berani bicara atau bahkan keluar dari tendanya karena trauma. Kejadian penangkapan dan penembakan yang dilakukan warga di depan matanya langsung ternyata membekas begitu rupa dalam ingatannya.

Render juga berhasil mendapatkan foto yang mengabadikan sosok Nyoman Sumerte yang terluka karena ditembak kaki kanannya, serta almarhum Made Aste yang terkapar sekarat di atas tanah setelah timah panas menembus perut kirinya. Foto ini ditunjukan oleh warga Pelita Jaya yang mendapatkannya dari bagian dokumentasi tim terpadu saat sedang melakukan penggusuran.

“Wartawan yang foto itu kenalan kita. Dia diam-diam mengirimkan foto kejadian lewat bluetooth kepada warga sesaat setelah kejadian,” ujar Sumaini, salah seorang warga yang ikut menyaksikan proses penggusuran.

IMG_1683

Foto almarhum Made Aste (bawah) dan Nyoman Sumerte (kiri atas) sesaat setelah ditembak oleh tim terpadu yang menggusur warga Dusun Pelita Jaya (6/11/10)/Viriya Paramita

Silva Inhutani ingkar janji

PT Silva Inhutani (SI) sesungguhnya baru memiliki hak penuh mengelola kawasan Register 45 seluas 33.100 hektar sejak 1991. Namun, laporan Komnas HAM menunjukan bahwa PT SI telah mulai menggusur warga dan pemukimannya sejak 1986. Penggusuran itu pun tidak dibenahi dengan pemberian ganti rugi kepada warga.

“Saat ini kami hidup tanpa kejelasan dari pemerintah. Kami mohon pada pemerintah untuk memperjuangkan status dan nasib warga Pelita Jaya agar bisa menjadi warga negara Indonesia yang seutuhnya sehingga kami bisa hidup dengan layak dan lepas dari tangan oknum yang tidak bertanggung jawab,” harap Ngatno, salah seorang warga Dusun Pelita Jaya.

Sementara itu saat diverifikasi langsung oleh reporter Render, perwakilan dari PT SI justru berpikiran sebaliknya. Perusahaan menganggap warga tidak berhak lagi datang dan menempati tanah yang masih termasuk dalam kawasan hutan Register 45.

Safari juga mengatakan bahwa warga telah merusak daerah Register 45 dengan menebang ribuan hektar pohon akasia yang telah berusia sekitar tiga tahun. Hal itulah yang membuat perusahaan gerah dan menganggap warga Pelita Jaya sebagai pembawa masalah.

Johny Nelson Simanjuntak, anggota Komnas HAM bagian Subkomisi Pemantauan melihat bahwa hal itu terjadi karena situasi serba salah yang dihadapi warga.

“Tahun 1986 itu kan warga digusur. Sebagai petani, karena mereka butuh tanah untuk digarap dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Akhirnya, mereka bermain ‘petak umpet’ dengan pihak perusahaan dan mulai menanami lahan kosong yang ada dengan bibit-bibit palawija. Bahkan, terkadang mereka bekerja sama dengan Pam Swakarsa (penyalur jasa keamanan yang disewa perusahaan) untuk melakukan hal itu,” jelas Johny.

Padahal bila kita tilik lebih jauh, telah menjadi kewajiban bagi PT SI untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat yang bekerja di dalam atau sekitar area kerjanya. PT SI juga wajib memberikan ijin kepada masyarakat hukum adat / masyarakat tradisional dan anggota-anggotanya untuk berada di dalam area kerja untuk memungut, mengambil, mengumpulkan, dan mengangkut hasil hutan ikutan yang berguna untuk menunjang kehidupan sehari-hari mereka.

Walau begitu, janji itu tidak pernah benar-benar terlaksana hingga kini. Salah satunya karena nasib warga Dusun Pelita Jaya yang tidak mendapat status kependudukan yang jelas dan bahkan dilarang mencari nafkah di tanah kelahirannya sendiri.

Keadilan hukum dan solusi terbaik bagi semua pihak bisa diambil bila perusahaan mau mengulurkan tangannya dan pemerintah mau berlaku transparan dalam proses penyelesaiannya. Sayangnya, untuk saat ini PT SI sulit untuk melakukan kompromi karena tetap bersikukuh dengan pendiriannya.

“Kalau sekarang sudah tidak ada proses tawar-menawar lagi, karena mereka (warga Pelita Jaya) itu betul-betul perambah yang memasuki kawasan (Register 45) tanpa izin,” tegas Safari.

 

NB: Liputan ini dilakukan sebagai pemenuhan tugas akhir mata kuliah In-Depth Reporting dalam jurusan Jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara semester lima, Januari 2012 lalu. Tulisan lengkap dikumpulkan dalam bentuk majalah bernama Render.

Sepak Terjang Fernando Shevchenko

article-2019084-0D2D5B1500000578-57_634x413

Sumber: Daily Mail

Ingat Andriy Shevchenko? Pemain dengan puluhan rekor luar biasa yang bisa membuatnya menjadi legenda bahkan sebelum ia pensiun. Predikat itu lah yang ia sandang saat pindah dari AC Milan ke Chelsea dan memecahkan rekor transfer Inggris saat itu. Sekarang Anda ingat Fernando Torres, lalu sebutkan satu kata yang terlintas di kepala saat memikirkan keduanya. Saya yakin, kata itu adalah ‘gagal’.

Sheva adalah peringkat dua top scorer AC Milan sepanjang masa setelah Gunnar Nordahl. Total 173 gol yang dicetaknya dari 296 pertandingan telah membawa AC Milan menjuarai Serie A, Coppa Italia, Piala Super Italia, Liga Champion Eropa, serta Piala Super Eropa. Gol bisa Sheva cetak dengan berbagai cara, dari kaki kanan, kaki kiri, sundulan, penalti, juga tendangan bebas. Kehadirannya merupakan ancaman bagi seluruh kiper di dunia. Harga 30,8 juta Poundsterling yang menjadi rekor transfer di Inggris saat itu terasa begitu pantas untuk memboyongnya dari San Siro ke Stamford Bridge.

Dua tahun terlewati dan kesimpulannya adalah, Chelsea telah membeli mimpi yang tak terwujud. Ya, keinginan untuk melihat Sheva sebagai top scorer Liga Inggris atau bahkan Liga Champion Eropa terasa sangat fiksi, persis seperti mimpi. Cuma 22 gol ia sumbangkan dari 76 pertandingan bersama The Blues. Setelah itu, ia mencoba mengembalikan peruntungannya dengan kembali ke AC Milan dengan status pinjaman, tapi performanya tidak pernah kembali ke puncak. Ia benar-benar kehilangan magisnya.

Setelah kegagalan transfer Sheva, Roman Abramovich, bos besar Chelsea, terkesan berhati-hati dalam membelanjakan uangnya. Setiap musimnya hanya ada satu atau dua pemain berharga lumayan mahal yang berani ia datangkan, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dapat kita lihat pada diri Florent Malouda (13,5 juta Pounds – 2007/08), Nicolas Anelka (15 juta Pounds – musim dingin 2007/08), Jose Bosingwa (15,8 juta Pounds – 2008/09), dan Ramires (17 juta Pounds – 2010/11). Uang setara harga transfer Sheva atau lebih, hanya akan dikeluarkan untuk seseorang yang dirasa tepat dan pasti dapat membawa kejayaan bagi klub. Orang yang dirasa pantas dihargai setinggi langit tersebut ternyata adalah Torres.

Torres yang telah membangun reputasi sebagai salah satu striker terbaik Eropa di Liverpool, diboyong dengan harga 45 juta Pounds. Harga itu cukup untuk kembali memecahkan rekor transfer di dataran Inggris yang sebelumnya dipegang oleh Robinho. Mencetak 82 gol dari 214 penampilan liga bersama Atletico, serta 65 gol dari 102 laga bersama Liverpool, Torres dikenal sebagai pemain depan dengan kemampuan lengkap dan kecepatan lari tinggi. Gaya bermain tersebut dianggap lebih cocok di Inggris dibanding Spanyol. Celah yang banyak tercipta akibat permainan agresif klub-klub Liga Inggris dapat dengan mudah dieksploitasi Torres dengan kecepatannya untuk menjadi sebuah peluang terciptanya gol.

Torres juga merupakan andalan timnas Spanyol yang telah mempersembahkan trofi Piala Eropa dan Piala Dunia bagi negaranya. Gol yang ia cetak dan menjadi penentu kemenangan Spanyol di final Piala Eropa 2008 benar-benar merepresentasikan caranya bermain sepakbola. Setelah mengambil posisi dan mencari waktu yang tepat, ia berlari menyambut umpan terobosan Xavi. Dengan kecepatan tinggi, ia mengejar bola yang berada dalam posisi 50-50 di antara dirinya dan kiper Jerman, Jens Lehmann. Seperti yang telah dunia saksikan, kaki Torres lebih cepat sepersekian detik dari tangan Lehmann dan gol pun tercipta.

Ketika akhirnya ia pindah ke Chelsea, tidak ada yang menyangsikan kehebatan mantan kapten Atletico Madrid ini. Banyak orang menganggapnya dapat membawa permainan Chelsea ke tingkat lebih tinggi dan terus bersinar untuk tahun-tahun ke depan. Torres pun menganggap Chelsea sebagai tempat yang tepat untuk mengembangkan kariernya dan meraih kejayaan berupa trofi-trofi bergengsi. Sesuatu yang tidak pernah bisa ia dapatkan di Liverpool.

Sayang, fakta benar-benar berbicara sebaliknya. Sampai tulisan ini dimuat, telah 13 pertandingan atau 725 menit dilewati Torres tanpa gol dan assist bagi Chelsea. Sejak bermain untuk Chelsea, peforma Torres secara individu dan tim pun turun drastis. Hal itu dapat dilihat pada pertandingan leg kedua perempat final Liga Champion Eropa Chelsea melawan MU di Old Trafford. Saat itu kiper MU, Edwin van der Sar berlari sejauh 5.176 meter sepanjang pertandingan. Sementara itu Torres hanya berlari sejauh 5.112 meter. Selain itu, dalam lima pertandingan terakhir sebelum kedatangan Torres, Chelsea dapat mencetak 18 gol. Tapi sejak kedatangannya, Chelsea hanya dapat mencetak 16 gol dari 14 pertandingan terakhir. Chelsea seperti bermain dengan 10 orang saja setiap kali memainkannya. Kontribusinya, begitu minim.

Salah satu penyebab hilangnya taji Torres di depan gawang lawan adalah perbedaan karakter dan cara bermain Chelsea dengan mantan klubnya, Liverpool. Liverpool era Torres sering bermain dengan umpan langsung ke depan. Dengan begitu, Torres dapat memaksimalkan kecepatannya dan menaklukan pemain belakang atau kiper lawan untuk mencetak gol. Selain itu pada masa kepelatihan Rafael Benitez, Torres selalu mendapat info tentang kelemahan masing-masing pemain yang akan dihadapinya, sehingga dapat dengan mudah menaklukannya. Hal itu terbukti berhasil dengan total 33 gol yang ia cetak di musim pertamanya bersama The Reds. Produktivitasnya menurun di musim kedua akibat cedera yang datang silih berganti.

Permainan Chelsea jelas berbeda dengan Liverpool. Para pemain The Blues lebih sering memainkan bola dari kaki ke kaki. Permainan punggawa-punggawa Chelsea semodel Malouda, Lampard, Essien, dan Benayoun memungkinkan hal itu terjadi. Mereka adalah gelandang-gelandang elegan yang bisa menjaga dan mengolah bola untuk terus mengalir dengan baik. Torres pun harus bisa lebih terlibat dalam permainan dan lebih jarang mendapat peluang bersih untuk mencetak gol karena ia bukan satu-satunya targetman di depan gawang lawan. Drogba jelas lebih cocok bermain dalam skema ini. Fisik tangguh untuk menahan bola, serta tingkat penyelesaian peluang yang tinggi membuatnya dapat bermain lebih efektif.

Sekarang, Torres seperti memetik buah karma yang ia tanam sendiri. Dua kali sudah ia meninggalkan klub dengan suporter yang sangat mencintai dan mengharapkannya. Dua kali sudah ia mengecewakan para pelatih dan pengurus klub yang telah mempercayainya sepenuh hati. Di Chelsea, ia malah mengecewakan pihak klub yang mempercayai dan membanderolnya begitu tinggi. Fans yang biasanya begitu mencintainya pun malah mencacinya tanpa ampun. Hal itu sungguh bisa dimengerti karena mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan, orang-orang akan membicarakan Torres sebagai pembelian terburuk abad ini. Sesuatu yang akan membuat Roman kembali trauma mengeluarkan dompet dari sakunya.

Well, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Dennis Bergkamp butuh tujuh pertandingan untuk mencetak gol pertamanya bagi Arsenal, sementara itu Thierry Henry malah butuh sembilan pertandingan. Setelah itu, yang kita tahu adalah mereka berdua sukses menjadi legenda bagi para Thee Gooners. Selain mereka pun ada Diego Forlan yang butuh 27 pertandingan untuk mencetak gol pertamanya bagi Manchester United. Karena hal itu lah label ‘Diego For-Nothing’ sempat melekat di dirinya. Tapi setelah pindah dari MU, ia malah sukses di Villarreal. Sekarang semua tergantung pada Torres sendiri. Jalan mana kah yang akan ia pilih, jalan-Sheva atau jalan-Henry?

 

NB: Tulisan ini pertama dibuat pada 23 April 2011.

Messi dan Ronaldo, antara Bakat dan Kerja Keras

two-tiger-ronaldo-vs-messi-pics

Sumber: The Footy Blog

Sudah dua dari total lima panggung El Clasico kita saksikan, dan sejauh ini hasilnya masih memihak pada Barcelona. Tapi untuk tiga pertandingan sisanya, hasilnya bisa berbeda. Selain karena cup competition adalah spesialisasi Jose Mourinho selama ini, keberhasilan menahan Barca pada pertemuan terakhir dan bangkit dari ketinggalan hanya dengan 10 pemain tentu berhasil meningkatkan mental anak-anak Los Blancos. Bila sudah begini, kinerja individu bisa lebih menonjol dibanding secara kolektif. Kebetulan, dua pemain yang banyak disebut sebagai terbaik di planet ini bermain di masing-masing klub tersebut, yaitu Ronaldo dan Messi.

Sudah banyak perbandingan yang dikemukakan antara Ronaldo dan Messi, dari masalah skill, sifat, hingga paras. Pembicaraan mengenai hal ini seakan terus terlontar dan tidak ada habisnya. Kedua individu itu pun memiliki fans fanatik sendiri yang akan terus berargumen mengenai kelebihan masing-masing pujaannya. Tapi dari sekian banyak perdebatan yang ada, tidak banyak yang sadar bahwa mereka berdua adalah wujud nyata perbandingan antara kerja keras dan bakat.

Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro lahir di Funchal, Madeira, Portugal, pada 5 Februari 1985. Andorinha menjadi klub pertamanya di Funchal saat berusia delapan tahun. Di sana, ia sering kali menangis bila salah mengumpan atau menyelesaikan sebuah umpan matang. Dari situ lah awal terbentuknya etos kerja serta determinasi tinggi Ronaldo saat ini. Dari kecil ia sudah menunjukkan diri sebagai sosok perfeksionis yang hanya menginginkan hasil terbaik bagi dirinya dan klub.

Selewat dua musim di Andorinha, Ronaldo hijrah ke CD Nacional. Tak lama di sana, ia sukses memenangkan sebuah trofi junior yang berujung pada ketertarikan tim raksasa Portugal, Sporting Lisbon, kepadanya. Setelah pindah ke Sporting, ia semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu bakat terbaik Portugal di eranya.

Setelah sukses mengasah dan mengorbitkan Luis Figo, Luis Boa Morte, Simao, dan Ricardo Quaresma, Sporting sekali lagi berhasil memoles berlian kasar temuannya, yaitu Cristiano Ronaldo. Performa Ronaldo dalam sebuah pertandingan persahabatan melawan Manchester United, berhasil menarik hati para pemain tim ‘Setan Merah’ tersebut. Di perjalanan pulang, mereka segera membujuk Sir Alex Ferguson untuk merekrutnya. Tidak butuh waktu lama sebelum uang sebesar 12,24 juta Poundsterling berpindah tangan dari MU ke Sporting sebagai pertanda jadi transfer Ronaldo.

Laga kandang melawan Bolton Wanderers menjadi panggung bagi Ronaldo untuk membuka mata dunia mengenai kehadirannya di MU dan sepakbola Inggris. Sprint dan step overnya mengiris pertahanan Bolton secara konstan tanpa ampun. Penampilan cemerlang dalam debut membuat banyak orang menyebut Ronaldo sebagai ‘The Next George Best’.

Tidak hanya pujian, tapi kritikan juga banyak mampir untuk Ronaldo. Di awal kariernya di MU, ia dianggap sebagai pemain egois yang sering ‘berakting’ untuk mendapatkan hadiah tendangan bebas atau penalti. Sosoknya banyak dibenci, baik oleh pemain, pelatih, atau pun fans klub lain. Tekniknya yang luar biasa dianggap sebagai bentuk hinaan atau tindakan yang meremehkan para pemain belakang lawan.

Seluruh kritikan itu ternyata tidak menjatuhkan Ronaldo, tapi malah membentuknya menjadi lebih baik lagi. Sir Alex pun selalu melindungi dan menjadi sosok ayah yang menemaninya saat senang atau pun susah. Ronaldo belajar, cara terbaik untuk menjawab kritik dan hujatan adalah dengan menampilkan yang terbaik di atas lapangan. Agar tidak mudah jatuh saat didorong atau ditekel lawan, ia membentuk tubuhnya dengan baik di gym. Alhasil, pada musim ketiganya di MU ia berhasil mendapatkan keseimbangan fisik terbaik di antara para pemain-pemain MU lainnya.

Ia juga dikenal sebagai pemain yang paling pertama hadir dan terakhir pulang dari tempat latihan. Setiap saat ia mencoba melatih seluruh aspek dalam permainan sepakbolanya, dari tendangan bebas, penalti, jarak jauh, sundulan, dan sebagainya. Hal itu karena ia tidak pernah mengandalkan satu cara saja untuk mencetak gol. Ia mencoba dan melatih segala kemungkinan yang ada sehingga bisa menjadi salah satu pemain dengan kemampuan terlengkap di dunia.

Etos kerja dan determinasi Ronaldo akhirnya membawanya ke puncak dunia. Musim 2007/2008, ia mencetak total 42 gol dan bisa dibilang membawa MU sendirian menjuarai Liga Inggris dan Liga Champion Eropa. Dari open play, ia mencetak 15 gol dari kaki kanan, enam gol dari kaki kiri, sembilan gol dari sundulan, serta satu gol dari bagian tubuh lainnya. Sementara itu ia juga mencetak lima gol dari tendangan bebas dan enam gol dari penalti. Sebuah statistik yang luar biasa bagi seorang pemain sayap.

“Ketika masih kanan-kanak dia adalah pemain depan untuk Sporting Lisbon dan orang-orang kami di Portugal mengatakan bahwa anak ini merupakan pencetak gol paling hebat. Ketika pertama kali dia datang, kami belum melihat itu. Namun tiba-tiba dia melesat dan musim lalu dia telah mencetak 42 gol. Itu adalah tekad seorang muda yang ingin menjadi baik, memperbaiki diri dengan keterbatasan dan ambisinya untuk terus berlatih setiap saat,” puji Fergie suatu hari.

Penampilan luar biasa Ronaldo akhirnya diganjar dengan predikat pemain terbaik dunia FIFA serta pemain terbaik Eropa versi Ballon d’Or tahun 2008. Setahun berselang, ia berhasil membantu MU mempertahankan gelar Liga Inggris, menjuarai Piala Dunia Antar Klub, Piala Carling, serta kembali menjadi finalis Liga Champion Eropa.

Ronaldo, tidak pernah puas dan selalu mencari target yang lebih tinggi dari sebelumnya. Setelah mendapatkan segalanya di MU, ia mencoba mengulanginya lagi di klub dan liga yang berbeda. Rekor transfer dunia sebesar 80 juta Poundsterling akhirnya menjadi jalan bagi Ronaldo untuk pindah ke Real Madrid. Ia sukses mencetak 37 gol di musim pertamanya, dan 41 gol di musim keduanya sejauh ini.

Kita banyak mengangkat soal etos kerja saat membicarakan Ronaldo, tapi bukan berarti ia tidak memiliki bakat. Dalam kasusnya, Ronaldo berhasil mengembangkan bakat dan potensinya secara maksimal dengan menonjolkan determinasi dan kerja keras tiada henti. Berbeda halnya dengan Messi yang memang memiliki bakat alami sejak kecil dan berusaha terus menjaga dan memaksimalkannya hingga kini.

Lionel Andrés Messi lahir di Rosario, pada 24 Juni 1987. Pada umur lima tahun Messi bermain di Grandoli, klub lokal yang dilatih oleh ayahnya sendiri, Jorge Messi. Tiga tahun berselang, ia hijrah ke Newell’s Old Boys. Pada umur 11, ia didiagnosis mengidap cacat pertumbuhan hormon yang membuatnya harus mengikuti terapi dengan biaya 500 Poundsterling per bulannya. Walau bakatnya begitu besar, klub tidak memiliki dana untuk membiayai pengobatan Messi saat itu. Hampir saja kariernya sebagai pemain sepakbola selesai sebelum bahkan benar-benar ia mulai. Hal itu urung terjadi setelah perwakilan Barcelona datang dan terkesima melihat bakat luar biasa yang dimiliki Messi.

“Saya hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk yakin bahwa dia memang seorang bintang masa depan. Sepanjang karier saya selama 40 tahun, tak pernah saya melihat seorang pemain yang benar-benar bertalenta. Seseorang dengan pengetahuan sepak bola minim pun akan bisa menyadari kemampuan hebatnya,” ucap pelatih Barcelona B kala itu, Carles Rexach.

Akhirnya, Barcelona bersedia membiayai seluruh pengobatan Messi bila ia bersedia untuk pindah ke Spanyol. Messi dan keluarga menyetujui hal itu dan segera pindah ke Eropa. Di Barca, sejak dini ia telah mempelajari filosofi permainan menyerang indah ala total football yang didasari permainan operan tiki-taka. Kebetulan, ia berada di angkatan yang sama dengan para calon bintang dunia lainnya seperti Francesc Fabregas dan Gerard Piqué.

Setelah beberapa tahun bermain di tim junior Barca, Messi dipercaya untuk melakukan debutnya melawan Espanyol pada 16 Oktober 2004. Hal itu membawanya menjadi pemain termuda Barca yang bermain di Liga Spanyol (umur 17 tahun 114 hari), sebelum rekor itu dipecahkan oleh rekan setimnya sendiri, Bojan Krkic. Di musim debutnya itu, ia juga berhasil mencetak satu gol ke gawang Albacete, yang menjadikannya sebagai pemain termuda Barca yang membuat gol di Liga Spanyol (umur 17 tahun 10 bulan tujuh hari).

Bakat Messi di Barca terus terasah berkat bimbingan dan kepercayaan dari pelatihnya saat itu Frank Rijkaard. Taktik 4-3-3 kegemaran pelatih asal Belanda tersebut menempatkan Messi di posisi penyerang sayap kanan, sebuah posisi yang sebenarnya kontradiktif dengan kaki kiri favoritnya. Di posisi tersebut Messi terbiasa untuk menggiring bola ke dalam untuk menembak atau mengoper dengan gerakan satu-dua. Pergerakannya juga sering memancing pemain belakang lawan datang sehingga terbuka celah untuk dieksploitasi para penyerang lainnya. Dribble pendek dengan kecepatan lari dan akurasi tendangan yang tinggi memungkinkan Messi untuk melakukan hal itu.

Permainan Messi pun dapat berkembang dengan pesat berkat arahan Ronaldinho, tandemnya di lini depan Barca yang berpredikat pemain terbaik dunia saat itu. Bisa dibilang, bakat Messi bisa terus melesat karena terjaga oleh lingkungan yang sangat mendukung. Ia tumbuh di La Masia, salah satu akademi sepakbola terbaik di dunia. Ia bermain dengan para juara setiap harinya, seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o, Xavi, dan Iniesta. Ia dibimbing oleh pelatih yang tahu dan mengerti mana posisi dan cara bermain terbaik untuknya. Tidak lupa, ia tumbuh besar di Barcelona FC, klub yang selalu siap mendukungnya secara moral dan material dari kecil hingga dewasa. Messi, saya tegaskan lagi, adalah bakat yang terjaga dengan baik sehingga dapat tumbuh secara maksimal.

Puncak dari semua itu adalah saat Messi berhasil mencetak 38 gol dan membawa Barca meraih Treble Winner pada musim 2008/2009 lalu. Di awal musim 2009 pun ia sukses merengkuh Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antar Klub. Barca sukses menjadi satu-satunya klub yang bisa menyapu bersih seluruh gelar yang ada dalam satu tahun penuh. Luar biasa.

Pada musim 2009/2010, Messi sukses mencetak 47 gol dan menyamai rekor jumlah gol terbanyak dalam satu musim yang dipegang oleh Ronaldo Luís Nazário de Lima sebelumnya. Lalu yang lebih dahsyat lagi adalah saat ini ia telah mencetak 49 gol sekaligus melewati rekor yang ada bahkan sebelum musim ini berakhir.

Saat ini Messi memang selangkah lebih maju dibanding Cristiano Ronaldo. Ia telah dibaptis dua kali secara berturut-turut menjadi pemain terbaik dunia, sementara Ronaldo baru sekali. Akan tetapi secara proses perkembangan diri, saya bisa katakan bahwa Ronaldo telah melewati beberapa tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan Messi. Bakat luar biasa Messi terus terasah berkat lingkungannya yang juga luar biasa. Sementara itu Ronaldo telah sukses melewati berbagai proses adaptasi dengan lingkungan dan klub yang berbeda. Saat remaja, ia berhasil mengatasi tekanan luar biasa dari fans, publik, serta media di Inggris yang terkenal akan ‘kesaktiannya’. Setelah mencapai puncak performa dan pindah ke Real Madrid, terbukti pula bahwa tidak sulit baginya untuk beradaptasi dan tetap tampil menawan.

Membicarakan Ronaldo dan Messi, sama kompleks dan pusingnya seperti membicarakan Pele dan Maradona. Dahulu Pele dapat menggapai dunia hanya dengan bermain di Liga Brazil sepanjang kariernya. Ia juga dikelilingi pemain hebat di klub dan timnas yang selalu siap mendukungnya untuk menjadi juara. Berbeda halnya dengan Maradona yang telah membuktikan diri bisa menjadi ‘dewa’ di mana pun ia berada. Boca Juniors, Napoli dan timnas Argentina tentunya pernah melihat dan merasakan performa luar biasa Maradona yang hampir selalu bisa mengangkat tim sendirian. Ironisnya, Messi yang disebut-sebut sebagai titisan Maradona justru memiliki jejak karier yang mirip dengan Pele. Maradona yang rajin berpindah klub dan tetap sukses, malah bernasib kurang lebih sama dengan Ronaldo.

Meskipun Ronaldo dan Messi begitu berbeda, kita dapat temukan satu kesamaan unik pada diri mereka. Performa cemerlang yang hampir selalu ditampilkan untuk klub, justru tidak pernah bisa mereka bawa saat bermain membela timnas masing-masing. Penampilan mereka seakan melempem dan tidak lagi istimewa, terutama di event-event besar seperti Piala Dunia, Piala Eropa, atau pun Copa America.

Gerard Houllier pernah mengatakan bahwa ada tiga level yang bisa dicapai oleh seorang pemain sepakbola. “Saya selalu berpikir bahwa ada tiga kelas. Ada level Liga Primer, level internasional, dan level dunia,” kata mantan pelatih Liverpool itu.

Di sini kita dapat sadari bahwa level bermain Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sebenarnya baru sebatas level internasional di mata Houllier. Mereka berdua dapat bermain baik ketika sedang membawa panji negara, tapi tidak seistimewa dan seluarbiasa saat sedang bermain membela klub. Berbeda dengan Pele dan Maradona yang pernah membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya masing-masing. Jadi, rasanya jalan masih panjang bagi Ronaldo dan Messi untuk benar-benar ditasbihkan menjadi pemain terbaik di planet ini.

 

NB: Tulisan ini pertama dibuat pada 19 April 2011.