Fanatisme dan Delusi JKT48

JKT48_revisi_kaping_4JKT48_revisi_kaping_4

Para anggota JKT48/onehallyu.com

Awal 2012 lalu, Evanggala Rasuli Prasetya hanya sedang mengisi waktu senggang. Sejak lama ia memang senang dengan budaya Jepang. Sehingga, ketika mendapat kesempatan menyaksikan pentas teater JKT48 untuk pertama kalinya, ia datang tanpa perlu pikir panjang. Ia hanya tidak tahu, bahwa keputusannya itu akan menjadi salah satu titik balik terbesar yang melabrak hidupnya tanpa ragu.

Gala, begitu ia biasa dipanggil, awalnya tidak berekspektasi apa-apa. Mahasiswa London School of Public Relations itu justru bingung menyaksikan sekumpulan laki-laki remaja yang begitu antusias menunggu pementasan dimulai. Namun, ia sontak mengerti saat 16 personel JKT48 bersiap naik ke atas panggung. Euforia yang menyambut setelahnya, tak pernah terlupakan.

“Tiba-tiba muncul encore, ‘Are you ready? JKT48!’ Kemudian satu teater semuanya – kecuali saya – meneriakkan chant JKT48. Rasanya seperti menonton konser Linkin Park, apalagi ketika ada dinding suara besar di belakang mengelilingi kita. Mereka terlihat seakan begitu lapar menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kisah Gala dengan bersemangat.

Takut dan penasaran bercampur jadi satu di benak Gala saat itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa suasananya akan begitu riuh. Seluruh penonton yang ada – yang mayoritas adalah laki-laki – bagai tersihir dan terus berlomba meneriakkan nama oshi atau personel idolanya masing-masing.

Gala sendiri memiliki oshi bernama Diasta di atas panggung. Syahdan, ketika pertunjukkan dimulai pria jangkung tersebut segera melongok mencari sosok idolanya tersebut. Cukup sulit ia menemukannya, karena ternyata Diasta berada di pojok panggung yang kurang mendapat asupan cahaya.

“Saya ingat, ketika mereka sedang membawakan lagu berjudul Bersepeda Berdua, tiba-tiba Diasta menatap mata saya, lurus ke mata saya. Saya kaget! Saya gugup karena dia mungkin sadar saya melihat dia terus sedari tadi. Engga banyak yang mengidolakan Diasta, makanya mungkin karena itu dia ditaruh di pojok panggung. Namun, tiba-tiba lagi Diasta tersenyum sambil tetap menatap saya, dan terlihat semakin semangat menari. Kemudian, saya pun menangis,” cerita Gala kembali.

Sejak itu hingga saat ini berusia 23 tahun, Gala menjelma menjadi wota, sebutan bagi para penggemar JKT48. Banyak orang mengernyitkan dahi saat pertama kali mengetahui kesukaan Gala yang luar biasa akan grup idola satu ini, apalagi melihat penampilannya yang tinggi besar, bersuara berat dan bergaris muka tegas.

“Sekarang kalau ada orang yang mencela JKT48 dan mempertanyakan kenapa saya bisa suka sama mereka, saya cuma bilang, ‘Lihat teaternya daja dulu, entar juga ngerti.’ Banyak dari mereka yang sudah mencela duluan walau belum pernah menonton penampilan JKT48,” ujar pria berkacamata tersebut sembari mengisap sebatang rokok kretek di tangannya.

Secara etimologis, sebutan ‘wota berasal dari kata ‘otaku yang dalam bahasa Jepang merupakan sebutan bagi seseorang yang betul-betul menekuni sebuah hobi. Saat ini, bahkan Gala sedang dalam proses pengerjaan sebuah novel fiksi yang bercerita dan berdasar pada pengalamannya dan teman-teman sebagai seorang wota.

Bisa dikatakan, di situlah keunggulan JKT48. Mereka merupakan grup saudari yang mengadopsi konsep dari AKB48 yang sebelumnya telah mencuat lebih dahulu di Jepang. Mereka adalah sekumpulan idola yang bisa kita temui setiap hari, yang menjalin interaksi serta relasi kuat dengan para pengidolanya.

JKT48 sendiri memiliki pertunjukan rutin di Teater JKT48, lantai 4 Mal FX, Sudirman, Jakarta. Usai pentas pun selalu ada sesi high touch saat para penonton bisa menepuk tangan para personel sembari mencari kesempatan untuk mengobrol singkat selama beberapa detik dengan mereka. Selain itu, para wota juga masih bisa menyaksikan JKT48 di berbagai konser dan acara sampingan seperti handshake event.

“Untuk dapat ikut serta dalam handshake event, kita harus membeli CD JKT48 terlebih dahulu seharga Rp40.000,-. Satu CD itu sekaligus memberi kita tiket untuk berjabat tangan dengan oshi selama 10 detik. Karena itulah banyak orang bisa membeli lebih dari 1 CD agar bisa berjabat tangan lebih lama. Saya sendiri pernah melihat orang yang membeli CD hingga satu tas penuh!” ujar Dionisius Evan, wota sekaligus mahasiswa tingkat akhir Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Lebih lanjut, para wota juga bisa masuk dalam keanggotaan Official Fan Club (OFC). Dengan menjadi anggota, mereka bisa punya kesempatan lebih besar saat mengirimkan e-mail permintaan membeli tiket pertunjukkan teater seharga Rp100.000,- karena pengirim sendiri dipilih secara acak oleh sistem yang ada. Selain itu, mereka bisa mendapatkan e-magazine dan kesempatan untuk ikut serta dalam futsal event atau basket event dengan membayar seharga Rp150.000,-.

Walau harus merogoh kocek cukup dalam untuk bisa berinteraksi lebih dengan para personel JKT48, para penggemar seakan tidak peduli dan tetap berbondong-bondong ikut serta dalam berbagai kegiatan yang ada. Hal ini dimaklumi betul oleh Rangga Pranendra, seorang wota sekaligus mahasiswa tingkat akhir Unika Atma Jaya.

“Seiring berjalannya waktu, dari awal JKT48 muncul hingga saat ini, mereka bertumbuh kembang terus bersama fans. Kami, para fans, bisa melihat perkembangan mereka dari waktu ke waktu, bahwa mereka berkembang semakin jago, entah tariannya ataupun hal lain. Dedikasi mereka itu yang menurut saya luar biasa, jadi inspirasi buat saya sendiri,” tutur Rangga.

Pria dengan rambut berombak panjang sebahu itu memang baru menjadi wota sejak pertengahan 2013, tapi kecintaannya akan JKT48 tidak perlu dipertanyakan. Bahkan, teman-teman Rangga kerap mencerca Rangga karena hal tersebut.

“Kalau mereka sudah mulai ngeledek, saya akhirnya diam saja ketimbang membela diri karena mereka engga akan mau mendengar. Mereka akan terus meledek – walau sekadar mencibir dalam hati. Biarkan saja,” tutur pria brewok yang gemar bermain gitar ini.

Kedekatan relasi antara pengidola dan yang diidolakan itu kerap membentuk sebuah delusi yang cenderung tidak sehat. Banyak wota yang pada akhirnya bersikap agresif atau bahkan posesif.

“Mereka-mereka yang menggilai terlalu dalam ini pada akhirnya tidak hidup dalam realita. Mereka hidup dalam delusi mereka masing-masing, itu menurut saya. Walau sadar bahwa mereka mungkin engga bisa jadi pacar idolanya, tapi setidaknya ada dorongan untuk terus menemui mereka, datang ke setiap pertunjukkannya,” jelas Dion Arison, wota sekaligus mahasiswa UMN lainnya.

Namun, di lain sisi delusi yang timbul di benak wota pun kemudian membuat mereka berani unjuk kreativitas karena terinspirasi atau justru demi mengesankan para oshi-nya masing-masing.

“Sering banget ada penggemar yang membuat video ulang tahun untuk seorang idolanya, dan video itu sendiri bisa melibatkan puluhan orang dalam proses pembuatannya,” kata Rangga kembali.

Bahkan, Rangga sendiri pun sempat membuat sebuah lagu untuk oshi-nya, Melody Nurramdhani Laksani. Lagu tersebut dibalut dalam sebuah video berisi kumpulan cuplikan gambar Melody dari berbagai acara atau kegiatan. Sejak diunggah ke situs jejaring video Youtube pada 16 Agustus lalu hingga saat ini, video tersebut telah disaksikan lebih dari 17 ribu kali.

Selain itu, karena kecintaannya pada lagu-lagu JKT48, Rangga pernah mengadakan sebuah acara Tribute to JKT48 atas inisiatif sendiri pada 4 Oktober lalu di Garage Bar, Cipete, Jakarta. Saat itu, Rangga mengundang tujuh penampil untuk membawakan lagu-lagu JKT48 secara akustik.

Tidak hanya Rangga, duet mahasiswa tingkat akhir Dion dan Evan bahkan saat ini sedang dalam proses pengerjaan skripsi masing-masing dengan JKT48 sebagai kajian utamanya. Perbedaannya adalah, Dion mengambil topik tersebut dari sudut pandang social media, sementara Evan lebih mengarah pada strategi pengelolaan brand JKT48 itu sendiri.

Dosen sekaligus praktisi bidang Public Relations, Eduard Depari, melihat bahwa JKT48 bisa begitu diterima masyarakat karena merupakan sesuatu yang baru di industri musik tanah air. Kemudian, penggabungan antara daya tarik fisik dan psikologis di momentum yang tepat akhirnya berhasil menciptakan hubungan komunikasi yang efektif antara idola dan penggemarnya.

“Bila kita hanya mendengarkan musiknya, hubungannya hanya ke aspek psikologis. Tapi dengan menggabungkan kedekatan psikologis dan fisik – seperti bisa salaman dan foto bersama idola – alhasil ini jadi berimbas sangat dahsyat. Mereka (JKT48) pun bisa mendekatkan diri secara efektif dengan fans-nya,” jelas Eduard soal fanatisme tinggi para wota, yang kebanyakan adalah pria, kepada JKT48.

Lain lagi halnya dengan Rudi Hartono Manurung, Sekretaris Jurusan Sastra Jepang Universitas Bina Nusantara. Menurutnya, JKT48 telah berhasil melakukan infiltrasi budaya dan masuk ke pangsa pasar Indonesia dengan beberapa penyesuaian.

“Di Jepang sendiri, segmen pasar AKB48 adalah para pria kesepian yang butuh hiburan dan penerimaan. Oleh karena itulah muncul banyak kasus saat seorang pria menikah dengan sebuah tokoh virtual. Namun, setelah masuk dan diadaptasi di Indonesia, pangsa pasar JKT48 menjadi sedikit berbeda. Sejak lama banyak orang Indonesia yang telah menggemari kebudayaan Jepang, seperti anime, cosplay, dan sebagainya. Mereka akhirnya menyasar para otaku tersebut,” tutur Rudi.

Hal ini sejalan dengan pemikiran Dion yang sejak lama memang telah menggemari budaya Jepang. Ia pun memberi apresiasi besar pada karya-karya JKT48, tidak hanya mengidolakan karena penampilan fisik para personelnya yang menarik. Oleh karena itulah ia kerap geram bila ada seseorang yang mempertanyakan kekagumannya pada JKT48 yang dianggap berbanding terbalik dengan tampilannya yang relatif ‘gahar’. Dion sendiri memang berperawakan besar dengan tinggi sekitar 170 cm, badan gempal dan rambut keriting panjang hampir menyentuh pinggang.

“Banyak orang bilang saya engga cocok menonton JKT48 karena tampilan saya yang seram. Namun menurut saya, mereka yang bersikap seperti itu pikirannya sempit dan kurang teredukasi. Masing-masing orang punya kegemarannya sendiri dan bila mungkin mereka lebih senang dengan musik-musik barat, kenapa saya harus menjadi sama dengan mereka? Kita boleh punya kesenangan masing-masing akan sesuatu, tapi bukan berarti kita harus saling meledek kan?” tutur Dion dengan nada tinggi.

Faktor penerimaan sendiri memang menjadi salah satu kunci solidaritas fandome JKT48 di Indonesia. Para wota yang datang dari berbagai latar belakang sosial dan budaya bisa mendapatkan adiksi untuk datang lagi dan lagi dalam setiap pertunjukkan JKT48, menyaksikan idolanya, berbagi kabar dan cerita pada sesama wota, dan itu sudah lebih dari cukup.

“JKT48 punya banyak daya tarik bagi para penggemarnya. Mereka punya teater yang bisa kita kunjungi hampir setiap hari, kemudian lirik lagunya bagus dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Mereka pun diminta berinteraksi dengan para fans-nya, entah menatap mata saat konser, menjabat tangan atau sekadar menyapa kita,” ujar Gala kembali.

“Namun, ada satu hal lagi yang engga kalah pentingnya. JKT48 punya fandome yang datang dari berbagai latar belakang berbeda yang tidak akan men-judge Anda, siapapun Anda. Mereka hanya akan bertanya, siapa oshi Anda dan kenapa bisa menyukainya, dan kemudian kita akan merasa diterima.”

Banyak dari kita mungkin tidak akan pernah mengerti soal fanatisme tinggi para wota di balik kesuksesan JKT48 di Indonesia. Namun, Gala, Evan, Rangga, Dion dan para penggemar lain tak akan pernah peduli, karena kecintaan mereka akan JKT48 cuma menuntut kesederhanaan. Sesederhana senandung lagu Melody Terindah buatan Rangga yang tak sengaja terdengar dinyanyikan oleh salah seorang personel JKT48 ketika sedang berpapasan, sesederhana jabatan tangan Diasta pada Gala yang cuma bertahan selama 10 detik.

“Sampai sekarang, itu masih merupakan 10 detik terindah dalam hidup saya,” ujar Gala dengan mata berbinar.

 

NB: Tulisan ini dibuat pada Desember 2013.

Advertisements

One thought on “Fanatisme dan Delusi JKT48

  1. Pingback: 10 Gaya Busana Seragam JKT48 yang Imut Abis, Makin Gemesin Deh - Liput.ID

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s