Messi dan Ronaldo, antara Bakat dan Kerja Keras

two-tiger-ronaldo-vs-messi-pics

Sumber: The Footy Blog

Sudah dua dari total lima panggung El Clasico kita saksikan, dan sejauh ini hasilnya masih memihak pada Barcelona. Tapi untuk tiga pertandingan sisanya, hasilnya bisa berbeda. Selain karena cup competition adalah spesialisasi Jose Mourinho selama ini, keberhasilan menahan Barca pada pertemuan terakhir dan bangkit dari ketinggalan hanya dengan 10 pemain tentu berhasil meningkatkan mental anak-anak Los Blancos. Bila sudah begini, kinerja individu bisa lebih menonjol dibanding secara kolektif. Kebetulan, dua pemain yang banyak disebut sebagai terbaik di planet ini bermain di masing-masing klub tersebut, yaitu Ronaldo dan Messi.

Sudah banyak perbandingan yang dikemukakan antara Ronaldo dan Messi, dari masalah skill, sifat, hingga paras. Pembicaraan mengenai hal ini seakan terus terlontar dan tidak ada habisnya. Kedua individu itu pun memiliki fans fanatik sendiri yang akan terus berargumen mengenai kelebihan masing-masing pujaannya. Tapi dari sekian banyak perdebatan yang ada, tidak banyak yang sadar bahwa mereka berdua adalah wujud nyata perbandingan antara kerja keras dan bakat.

Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro lahir di Funchal, Madeira, Portugal, pada 5 Februari 1985. Andorinha menjadi klub pertamanya di Funchal saat berusia delapan tahun. Di sana, ia sering kali menangis bila salah mengumpan atau menyelesaikan sebuah umpan matang. Dari situ lah awal terbentuknya etos kerja serta determinasi tinggi Ronaldo saat ini. Dari kecil ia sudah menunjukkan diri sebagai sosok perfeksionis yang hanya menginginkan hasil terbaik bagi dirinya dan klub.

Selewat dua musim di Andorinha, Ronaldo hijrah ke CD Nacional. Tak lama di sana, ia sukses memenangkan sebuah trofi junior yang berujung pada ketertarikan tim raksasa Portugal, Sporting Lisbon, kepadanya. Setelah pindah ke Sporting, ia semakin mengukuhkan diri sebagai salah satu bakat terbaik Portugal di eranya.

Setelah sukses mengasah dan mengorbitkan Luis Figo, Luis Boa Morte, Simao, dan Ricardo Quaresma, Sporting sekali lagi berhasil memoles berlian kasar temuannya, yaitu Cristiano Ronaldo. Performa Ronaldo dalam sebuah pertandingan persahabatan melawan Manchester United, berhasil menarik hati para pemain tim ‘Setan Merah’ tersebut. Di perjalanan pulang, mereka segera membujuk Sir Alex Ferguson untuk merekrutnya. Tidak butuh waktu lama sebelum uang sebesar 12,24 juta Poundsterling berpindah tangan dari MU ke Sporting sebagai pertanda jadi transfer Ronaldo.

Laga kandang melawan Bolton Wanderers menjadi panggung bagi Ronaldo untuk membuka mata dunia mengenai kehadirannya di MU dan sepakbola Inggris. Sprint dan step overnya mengiris pertahanan Bolton secara konstan tanpa ampun. Penampilan cemerlang dalam debut membuat banyak orang menyebut Ronaldo sebagai ‘The Next George Best’.

Tidak hanya pujian, tapi kritikan juga banyak mampir untuk Ronaldo. Di awal kariernya di MU, ia dianggap sebagai pemain egois yang sering ‘berakting’ untuk mendapatkan hadiah tendangan bebas atau penalti. Sosoknya banyak dibenci, baik oleh pemain, pelatih, atau pun fans klub lain. Tekniknya yang luar biasa dianggap sebagai bentuk hinaan atau tindakan yang meremehkan para pemain belakang lawan.

Seluruh kritikan itu ternyata tidak menjatuhkan Ronaldo, tapi malah membentuknya menjadi lebih baik lagi. Sir Alex pun selalu melindungi dan menjadi sosok ayah yang menemaninya saat senang atau pun susah. Ronaldo belajar, cara terbaik untuk menjawab kritik dan hujatan adalah dengan menampilkan yang terbaik di atas lapangan. Agar tidak mudah jatuh saat didorong atau ditekel lawan, ia membentuk tubuhnya dengan baik di gym. Alhasil, pada musim ketiganya di MU ia berhasil mendapatkan keseimbangan fisik terbaik di antara para pemain-pemain MU lainnya.

Ia juga dikenal sebagai pemain yang paling pertama hadir dan terakhir pulang dari tempat latihan. Setiap saat ia mencoba melatih seluruh aspek dalam permainan sepakbolanya, dari tendangan bebas, penalti, jarak jauh, sundulan, dan sebagainya. Hal itu karena ia tidak pernah mengandalkan satu cara saja untuk mencetak gol. Ia mencoba dan melatih segala kemungkinan yang ada sehingga bisa menjadi salah satu pemain dengan kemampuan terlengkap di dunia.

Etos kerja dan determinasi Ronaldo akhirnya membawanya ke puncak dunia. Musim 2007/2008, ia mencetak total 42 gol dan bisa dibilang membawa MU sendirian menjuarai Liga Inggris dan Liga Champion Eropa. Dari open play, ia mencetak 15 gol dari kaki kanan, enam gol dari kaki kiri, sembilan gol dari sundulan, serta satu gol dari bagian tubuh lainnya. Sementara itu ia juga mencetak lima gol dari tendangan bebas dan enam gol dari penalti. Sebuah statistik yang luar biasa bagi seorang pemain sayap.

“Ketika masih kanan-kanak dia adalah pemain depan untuk Sporting Lisbon dan orang-orang kami di Portugal mengatakan bahwa anak ini merupakan pencetak gol paling hebat. Ketika pertama kali dia datang, kami belum melihat itu. Namun tiba-tiba dia melesat dan musim lalu dia telah mencetak 42 gol. Itu adalah tekad seorang muda yang ingin menjadi baik, memperbaiki diri dengan keterbatasan dan ambisinya untuk terus berlatih setiap saat,” puji Fergie suatu hari.

Penampilan luar biasa Ronaldo akhirnya diganjar dengan predikat pemain terbaik dunia FIFA serta pemain terbaik Eropa versi Ballon d’Or tahun 2008. Setahun berselang, ia berhasil membantu MU mempertahankan gelar Liga Inggris, menjuarai Piala Dunia Antar Klub, Piala Carling, serta kembali menjadi finalis Liga Champion Eropa.

Ronaldo, tidak pernah puas dan selalu mencari target yang lebih tinggi dari sebelumnya. Setelah mendapatkan segalanya di MU, ia mencoba mengulanginya lagi di klub dan liga yang berbeda. Rekor transfer dunia sebesar 80 juta Poundsterling akhirnya menjadi jalan bagi Ronaldo untuk pindah ke Real Madrid. Ia sukses mencetak 37 gol di musim pertamanya, dan 41 gol di musim keduanya sejauh ini.

Kita banyak mengangkat soal etos kerja saat membicarakan Ronaldo, tapi bukan berarti ia tidak memiliki bakat. Dalam kasusnya, Ronaldo berhasil mengembangkan bakat dan potensinya secara maksimal dengan menonjolkan determinasi dan kerja keras tiada henti. Berbeda halnya dengan Messi yang memang memiliki bakat alami sejak kecil dan berusaha terus menjaga dan memaksimalkannya hingga kini.

Lionel Andrés Messi lahir di Rosario, pada 24 Juni 1987. Pada umur lima tahun Messi bermain di Grandoli, klub lokal yang dilatih oleh ayahnya sendiri, Jorge Messi. Tiga tahun berselang, ia hijrah ke Newell’s Old Boys. Pada umur 11, ia didiagnosis mengidap cacat pertumbuhan hormon yang membuatnya harus mengikuti terapi dengan biaya 500 Poundsterling per bulannya. Walau bakatnya begitu besar, klub tidak memiliki dana untuk membiayai pengobatan Messi saat itu. Hampir saja kariernya sebagai pemain sepakbola selesai sebelum bahkan benar-benar ia mulai. Hal itu urung terjadi setelah perwakilan Barcelona datang dan terkesima melihat bakat luar biasa yang dimiliki Messi.

“Saya hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk yakin bahwa dia memang seorang bintang masa depan. Sepanjang karier saya selama 40 tahun, tak pernah saya melihat seorang pemain yang benar-benar bertalenta. Seseorang dengan pengetahuan sepak bola minim pun akan bisa menyadari kemampuan hebatnya,” ucap pelatih Barcelona B kala itu, Carles Rexach.

Akhirnya, Barcelona bersedia membiayai seluruh pengobatan Messi bila ia bersedia untuk pindah ke Spanyol. Messi dan keluarga menyetujui hal itu dan segera pindah ke Eropa. Di Barca, sejak dini ia telah mempelajari filosofi permainan menyerang indah ala total football yang didasari permainan operan tiki-taka. Kebetulan, ia berada di angkatan yang sama dengan para calon bintang dunia lainnya seperti Francesc Fabregas dan Gerard Piqué.

Setelah beberapa tahun bermain di tim junior Barca, Messi dipercaya untuk melakukan debutnya melawan Espanyol pada 16 Oktober 2004. Hal itu membawanya menjadi pemain termuda Barca yang bermain di Liga Spanyol (umur 17 tahun 114 hari), sebelum rekor itu dipecahkan oleh rekan setimnya sendiri, Bojan Krkic. Di musim debutnya itu, ia juga berhasil mencetak satu gol ke gawang Albacete, yang menjadikannya sebagai pemain termuda Barca yang membuat gol di Liga Spanyol (umur 17 tahun 10 bulan tujuh hari).

Bakat Messi di Barca terus terasah berkat bimbingan dan kepercayaan dari pelatihnya saat itu Frank Rijkaard. Taktik 4-3-3 kegemaran pelatih asal Belanda tersebut menempatkan Messi di posisi penyerang sayap kanan, sebuah posisi yang sebenarnya kontradiktif dengan kaki kiri favoritnya. Di posisi tersebut Messi terbiasa untuk menggiring bola ke dalam untuk menembak atau mengoper dengan gerakan satu-dua. Pergerakannya juga sering memancing pemain belakang lawan datang sehingga terbuka celah untuk dieksploitasi para penyerang lainnya. Dribble pendek dengan kecepatan lari dan akurasi tendangan yang tinggi memungkinkan Messi untuk melakukan hal itu.

Permainan Messi pun dapat berkembang dengan pesat berkat arahan Ronaldinho, tandemnya di lini depan Barca yang berpredikat pemain terbaik dunia saat itu. Bisa dibilang, bakat Messi bisa terus melesat karena terjaga oleh lingkungan yang sangat mendukung. Ia tumbuh di La Masia, salah satu akademi sepakbola terbaik di dunia. Ia bermain dengan para juara setiap harinya, seperti Ronaldinho, Samuel Eto’o, Xavi, dan Iniesta. Ia dibimbing oleh pelatih yang tahu dan mengerti mana posisi dan cara bermain terbaik untuknya. Tidak lupa, ia tumbuh besar di Barcelona FC, klub yang selalu siap mendukungnya secara moral dan material dari kecil hingga dewasa. Messi, saya tegaskan lagi, adalah bakat yang terjaga dengan baik sehingga dapat tumbuh secara maksimal.

Puncak dari semua itu adalah saat Messi berhasil mencetak 38 gol dan membawa Barca meraih Treble Winner pada musim 2008/2009 lalu. Di awal musim 2009 pun ia sukses merengkuh Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antar Klub. Barca sukses menjadi satu-satunya klub yang bisa menyapu bersih seluruh gelar yang ada dalam satu tahun penuh. Luar biasa.

Pada musim 2009/2010, Messi sukses mencetak 47 gol dan menyamai rekor jumlah gol terbanyak dalam satu musim yang dipegang oleh Ronaldo Luís Nazário de Lima sebelumnya. Lalu yang lebih dahsyat lagi adalah saat ini ia telah mencetak 49 gol sekaligus melewati rekor yang ada bahkan sebelum musim ini berakhir.

Saat ini Messi memang selangkah lebih maju dibanding Cristiano Ronaldo. Ia telah dibaptis dua kali secara berturut-turut menjadi pemain terbaik dunia, sementara Ronaldo baru sekali. Akan tetapi secara proses perkembangan diri, saya bisa katakan bahwa Ronaldo telah melewati beberapa tantangan yang lebih sulit dibandingkan dengan Messi. Bakat luar biasa Messi terus terasah berkat lingkungannya yang juga luar biasa. Sementara itu Ronaldo telah sukses melewati berbagai proses adaptasi dengan lingkungan dan klub yang berbeda. Saat remaja, ia berhasil mengatasi tekanan luar biasa dari fans, publik, serta media di Inggris yang terkenal akan ‘kesaktiannya’. Setelah mencapai puncak performa dan pindah ke Real Madrid, terbukti pula bahwa tidak sulit baginya untuk beradaptasi dan tetap tampil menawan.

Membicarakan Ronaldo dan Messi, sama kompleks dan pusingnya seperti membicarakan Pele dan Maradona. Dahulu Pele dapat menggapai dunia hanya dengan bermain di Liga Brazil sepanjang kariernya. Ia juga dikelilingi pemain hebat di klub dan timnas yang selalu siap mendukungnya untuk menjadi juara. Berbeda halnya dengan Maradona yang telah membuktikan diri bisa menjadi ‘dewa’ di mana pun ia berada. Boca Juniors, Napoli dan timnas Argentina tentunya pernah melihat dan merasakan performa luar biasa Maradona yang hampir selalu bisa mengangkat tim sendirian. Ironisnya, Messi yang disebut-sebut sebagai titisan Maradona justru memiliki jejak karier yang mirip dengan Pele. Maradona yang rajin berpindah klub dan tetap sukses, malah bernasib kurang lebih sama dengan Ronaldo.

Meskipun Ronaldo dan Messi begitu berbeda, kita dapat temukan satu kesamaan unik pada diri mereka. Performa cemerlang yang hampir selalu ditampilkan untuk klub, justru tidak pernah bisa mereka bawa saat bermain membela timnas masing-masing. Penampilan mereka seakan melempem dan tidak lagi istimewa, terutama di event-event besar seperti Piala Dunia, Piala Eropa, atau pun Copa America.

Gerard Houllier pernah mengatakan bahwa ada tiga level yang bisa dicapai oleh seorang pemain sepakbola. “Saya selalu berpikir bahwa ada tiga kelas. Ada level Liga Primer, level internasional, dan level dunia,” kata mantan pelatih Liverpool itu.

Di sini kita dapat sadari bahwa level bermain Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sebenarnya baru sebatas level internasional di mata Houllier. Mereka berdua dapat bermain baik ketika sedang membawa panji negara, tapi tidak seistimewa dan seluarbiasa saat sedang bermain membela klub. Berbeda dengan Pele dan Maradona yang pernah membawa pulang trofi Piala Dunia ke negaranya masing-masing. Jadi, rasanya jalan masih panjang bagi Ronaldo dan Messi untuk benar-benar ditasbihkan menjadi pemain terbaik di planet ini.

 

NB: Tulisan ini pertama dibuat pada 19 April 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s