Neymar, The Next Ronaldo atau Denilson?

Neymar

Sumber: Mirror

Banyak orang mengatakan, hanya masalah waktu saja sebelum penyerang muda fenomenal Santos, Neymar, bisa menaklukan dunia dengan talentanya. Tapi nyatanya, Neymar tampil mengecewakan saat membela Brasil di Copa America 2011 lalu. Permainannya yang egois dan cenderung individualis, malah mengingatkan banyak orang pada sosok Denilson.

Pada tahun 1998, dunia dikejutkan dengan pemecahan rekor transfer termahal untuk seorang pemain yang dilakukan oleh klub asal Spanyol, Real Betis. Klub asal Andalusia itu berani mengeluarkan uang sebesar 21,5 juta poundsterling untuk merekrut pemain berusia 21 tahun yang disebut-sebut sebagai salah satu bakat terbaik Brasil di eranya, yaitu Denilson de Oliveira Araujo.

Bakat Denilson memang istimewa. Pemain kidal itu memiliki dribel dengan kecepatan dan teknik tinggi. Pergerakannya tak dapat ditebak dan selalu menjadi momok bagi barisan pertahanan lawan. Sekali beraksi, dua sampai tiga orang dengan mudah ia lewati. Bila mengambil istilah dari bola basket, ia bisa kita sebut sebagai seorang ankle-breaker. Kemampuannya untuk mengubah arah seketika saat sedang berlari dengan kecepatan tinggi, berpotensi membuat lawan terjungkal, atau bahkan mengalami cedera engkel bila tak hati-hati.

Bersama dengan Ronaldo, ia sukses bahu-membahu untuk membawa Brasil menjuarai Copa America 1997. Talentanya dihargai begitu tinggi, dan sama seperti Neymar saat ini, rasanya hanya masalah waktu saja sebelum ia ditasbihkan menjadi pemain terbaik dunia mengikuti jejak pendahulunya, Romario. Tapi tidak seperti kisah-kisah dalam dongeng yang berakhir indah, perjalanan karier Denilson berakhir antiklimaks.

Walau ia sukses membawa Brasil menjadi runner-up Piala Dunia 1998 pada musim panas sebelumnya, kiprahnya bersama Betis tak sesuai dengan ekspektasi banyak orang. Pada musim pertamanya bermain di Eropa, prestasi terbaik Denilson hanya lah membawa Betis ke posisi 11 di klasemen akhir kompetisi 1998/1999. Bencana malah tiba di musim kedua saat Betis harus terdegradasi ke Segunda Division karena hanya bisa mencapai posisi 18 di akhir musim. Denilson pun disebut-sebut sebagai pembelian terburuk yang pernah dilakukan sebuah tim asal Spanyol.

Setelah sempat dipinjamkan ke Flamengo pada musim 2000/2001 untuk mengurangi beban gajinya yang begitu besar, Betis memutuskan untuk menjualnya pada 2005 kepada klub Perancis, Bordeaux, dengan nilai yang tak disebutkan. Setelah bermain selama satu musim, Bordeaux tak berniat untuk memperpanjang kontraknya akibat permintaan gaji yang terlampau besar. Sejak itu, Denilson terus melanglang buana untuk bermain bagi klub-klub di seluruh penjuru dunia.

Ia sempat bermain sebanyak 15 kali bagi klub Arab Saudi, Al-Nasr, sebelum kembali pindah ke klub Amerika Serikat, FC Dallas. Di sana, Denilson kesulitan untuk beradaptasi dengan rekan-rekan barunya. Ia hanya bisa mencetak satu gol tanpa satupun produksi assist dalam delapan pertandingan bersama Dallas. Pada Februari 2008, ia memutuskan untuk pulang kampung dan bermain bagi klub Brasil, Palmeiras, dengan harapan untuk dapat mengembalikan performa terbaiknya.

Walau sering menghabiskan waktu di bangku cadangan, ia berhasil membawa Palmeiras menjuarai Sao Paolo State Championship 2008. Setelah itu, ia menandaskan ambisinya untuk bermain kembali di Eropa. Sayangnya, niat itu tak terwujud dan ia kembali menjadi kutu loncat dengan meneken kontrak selama tiga bulan bagi Itumbiara tanpa bermain sekalipun. Lalu ia pindah ke Xi Mang Hai Phong untuk menjadi pemain termahal sepanjang sejarah klub Vietnam. Di sana, ia hanya bertahan selama tiga minggu dan bermain dalam satu pertandingan dari bangku cadangan dengan mencetak satu gol saja.

Pada Januari 2010, Denilson bergabung dengan klub Yunani, AO Kavala, tapi kembali dilepas tiga bulan kemudian tanpa pernah bermain di lapangan. Saat ini, ia telah pensiun sebagai pesepakbola. Walau sempat tampil lima kali dari bangku cadangan pada Piala Dunia 2002 dan membantu Brasil menjuarai turnamen akbar tersebut, karier Denilson benar-benar dianggap sebagai sebuah kegagalan besar.

Denilson yang sempat disebut memiliki kaki kiri lebih mematikan dari legenda Argentina, Diego Maradona, tak bisa menanggung beban ekspektasi begitu besar yang disematkan padanya. Ia lebih sering bermain untuk dirinya sendiri dibanding bagi tim secara keseluruhan. Ia tak bisa menjalin kerja sama yang baik dengan rekan setim, cenderung egoistis saat mengolah bola, dan tak bermain baik dari segi taktik. Dengan teknik olah bola begitu tinggi, Denilson mungkin akan berhasil bila berkarier sebagai pesepakbola freestyle, tapi sebagai pesepakbola profesional, ia tak akan bisa sukses.

Karier Denilson berbeda dengan Ronaldo Luis Nazario de Lima. Sebelum masuk ke pintu klub besar Eropa, pemain berkepala plontos ini lebih dulu menempa ilmu di sepak bola Belanda bersama PSV Eindhoven. Saran untuk memulai karier di PSV ia dapatkan dari seniornya terdahulu, Romario, yang juga melakukan hal sama dan akhirnya menuai sukses di Eropa.

Belanda yang memang terkenal reputasinya sebagai “sekolah” pengembangan pemain muda terbaik di dunia, berhasil memoles dan mematangkan bakat Ronaldo. “Sang Fenomena” belajar banyak hal di sana, dari masalah taktik, gaya bermain, serta proses adaptasi dengan kehidupan dan kebudayaan baru. Di musim pertamanya bersama PSV, Ronaldo sukses mencetak 30 gol di seluruh kompetisi.

Setelah berhasil menjadi top skor Liga Belanda musim 1994/1995 dan menjuarai Piala Belanda 1995/1996, Ronaldo memutuskan untuk hijrah ke Barcelona. Pada musim pertamanya, ia berhasil mencetak 47 gol dari 49 pertandingan dan menjuarai Piala Super Spanyol, Copa Del Rey dan Piala Winner bersama “Blaugrana”. Musim selanjutnya, ia pindah ke Inter Milan dan langsung berhasil menjuarai Piala UEFA.

Cedera panjang sempat menghantam karier Ronaldo di Inter, tapi setelah pulih, ia sukses menjuarai Piala Dunia 2002 bersama Brasil sekaligus menjadi top skor dengan delapan golnya. Setelahnya, ia hijrah ke Real Madrid dan berhasil menjuarai Liga Spanyol dan Piala Interkontinental di musim pertamanya. Musim selanjutnya, ia sukses menjadi top skor liga dengan 24 gol serta memenangkan Piala Super Spanyol bersama “Los Blancos”.

Sayang, isu kelebihan berat badan dan serangkaian cedera membuat kariernya menurun. Ia sempat bermain bagi AC Milan dan Corinthians sebelum menutup kariernya yang luar biasa dan penuh kejayaan. Bersama Brasil, ia berhasil mencetak 62 gol dari 98 pertandingan dan dinobatkan sebagai top skor Piala Dunia sepanjang masa dengan 15 golnya dari empat kali keikutsertaan di turnamen tersebut (1994, 1998, 2002, 2006).

“Setiap orang memberitahuku bahwa kejuaraan di Italia adalah yang tertangguh di dunia, tapi aku tidak takut. Dalam karierku, aku akan selalu mencetak gol, di mana pun aku berada,” ucap Ronaldo suatu kali.

Saat ini, Neymar sedang mengikuti jejak yang sama dengan dua pendahulunya di atas, Denilson dan Ronaldo. Denilson berhasil menjuarai Copa Conmebol 1994 di awal kariernya bersama Sao Paolo. Ronaldo sendiri sukses memenangkan Copa do Brasil 1993 dan Campeonato Mineiro 1994 bersama Cruzeiro. Di Santos, Neymar lebih berjaya lagi dengan menjuarai Copa do Brasil 2010, Campeonato Paulista 2010 dan 2011 serta Copa Libertadores 2011. Berbagai penghargaan individu pun telah Neymar dapatkan di Brasil.

Prestasi mentereng itulah yang mendorong niat para klub raksasa Eropa untuk memboyongnya dengan harga selangit. Madrid dan Barcelona disebut-sebut menjadi peminat utama jasa penyerang berusia 19 tahun itu. Legenda Madrid dan juga Perancis, Zinedine Zidane, ikut melontarkan pujian bagi Neymar.

“Neymar mirip dengan Robinho, tapi dengan jumlah gol yang sedikit lebih banyak,” ucap Zidane mengakui ketajaman penyerang berambut mohawk tersebut.

Dengan semua pujian dan ekspektasi tinggi di pundaknya, Neymar maju ke turnamen internasional pertamanya, Copa America 2011. Akan tetapi, di sana ia gagal menampilkan yang terbaik dan harus tersingkir di babak perempat final akibat kalah adu penalti melawan Paraguay. Dari empat pertandingan, Neymar berhasil mencetak dua gol, tapi permainannya banyak dikritik para pengamat sepak bola dunia. Ia dianggap egois dan sering ingin menonjol sendirian di lapangan.

Karena tak mendapat pasokan bola cukup, Neymar sering mundur jauh ke tengah untuk mengambil dan mengolah sendiri si kulit bundar. Beberapa kali ia mencoba menerobos pertahanan lawan sendirian dengan dribelnya dan berakhir dengan kegagalan yang berujung pada serangan balik berbahaya. Penyerangan Brasil pun menjadi tak efektif karena bersifat sporadis, tidak disusun secara perlahan dari bawah.

Seusai turnamen, Neymar menegaskan bahwa ia tak akan pindah ke Eropa sampai setidaknya awal tahun depan. Hal itu karena ia ingin mewujudkan ambisinya untuk menjuarai Piala Dunia Antarklub bersama Santos terlebih dahulu. Santos jelas membutuhkan bintang-bintang terbaiknya untuk bersaing melawan klub-klub terbaik dunia di turnamen tersebut, salah satunya Barcelona. Bila akhirnya Neymar benar-benar pindah ke Madrid atau Barcelona pada bursa transfer musim dingin nanti, itu akan menjadi loncatan besar dalam kariernya yang baru seumur jagung.

Kisah Denilson sebelumnya telah mengajarkan bahwa bakat saja tidak cukup untuk meraih sukses di Eropa. Neymar, harus bisa beradaptasi dulu secara perlahan, salah satunya dengan menimba ilmu di Belanda seperti yang dilakukan Ronaldo dan Romario. Di sana, ia bisa belajar pentingnya arti sepak bola kolektif dan mengerti saat yang tepat untuk memamerkan tekniknya atau melakukan umpan satu-dua dengan rekan setim.

Pilihan ada di tangan Neymar. Sekarang, kita hanya bisa menunggu akhir kisah ini. Hanya waktu yang akan membuktikan, apakah Neymar akan menjadi the next Ronaldo, atau Denilson.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Kompas.com pada Sabtu, 30 Juli 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s