Persinggahan Sementara Itu Bernama Arsenal

article-1298889830490-0d63fd1d000005dc-968839_636x376

Arsenal kalah dari Birmingham City di final Piala Liga dengan skor 1-2, Sumber: Metro.co.uk

Saga transfer itu akhirnya usai juga. Cesc Fabregas telah resmi mengakhiri “masa perantauannya” selama delapan tahun di Arsenal untuk kembali ke Barcelona. Puasa gelar Arsenal selama enam tahun terakhir diyakini menjadi salah satu faktor pendorong terwujudnya hal tersebut. Hal ini semakin menguatkan opini banyak pihak yang berujar bahwa Arsenal adalah akademi sepak bola sempurna bagi pemain remaja, tapi bukan tempat yang tepat untuk meraih gelar juara.

Musim 2010/2011 bisa dikatakan menjadi saat-saat terberat Arsene Wenger ketika menjabat sebagai manajer sekaligus pelatih utama “The Gunners”. Saat itu Arsenal memang berhasil mengawali musim dengan penampilan gemilang, tapi seperti biasa mereka memasuki grafik menurun ketika sampai di pertengahan atau menjelang akhir musim.

Misalnya saja, bisa kita lihat yang menjadi titik balik merosotnya performa Arsenal secara keseluruhan adalah kekalahan mereka dari Birmingham City di final Piala Liga dengan skor 1-2. Gol kemenangan Birmingham saat itu juga diwarnai kesalahan komunikasi di antara kiper Wojciech Szczesny dan bek anyar Laurent Koscielny. Sejak itu, mental para pemain muda Arsenal drop.

Pada Februari, mereka memang sempat menduduki posisi dua klasemen dengan selisih satu poin saja dari sang pemuncak, Manchester United. Akan tetapi setelah kekalahan menyakitkan dari Birmingham tersebut di akhir Februari, mereka hanya mampu meraih satu kemenangan di liga dalam dua bulan setelahnya, serta disingkirkan oleh Barcelona di babak 16 besar Liga Champions dengan skor agregat 3-4.

“Bagian terakhir (dari musim lalu) adalah yang terberat (dalam karierku). Secara emosional, hal itu sangat sulit karena kami ada di bawah. Anda bisa lihat bahwa tiga atau empat minggu terakhir sangatlah sulit,” ujar Wenger.

Sekali lagi terbukti bahwa para pemain Arsenal tak memiliki mental juara yang cukup untuk mengakhiri kompetisi sebagai sang juara. Kurangnya sosok pemain senior berpengalaman yang bisa menjadi tumpuan tim di saat goyah ditenggarai menjadi penyebab inkonsistensi permainan “The Gunners”. Para suporter benar-benar dibuat rindu oleh kepemimpinan solid dan tak kenal kompromi ala Patrick Vieira, serta gol kemenangan di saat-saat menentukan yang biasa dicetak Thierry Henry, dahulu.

Hampa gelar yang dilalui Arsenal selama enam musim berturut-turut akhirnya membuat kesabaran para suporter kian mencapai batasnya. Wenger dianggap kurang berani beraktivitas di bursa transfer. Dia jarang merekrut seorang pemain “jadi” dengan nama besar, apalagi yang berasal dari Inggris. “Sang Profesor” lebih senang mendatangkan berlian-berlian kasar yang akan dipolesnya hingga menjadi perhiasan mahal incaran para klub-klub berkantong tebal.

Di satu sisi, hal itu tentu baik untuk kesehatan kas dana Arsenal yang selama ini bersih dari utang. Tapi di sisi lain, Wenger juga kerap kesulitan menumbuhkan serta menjaga loyalitas para pemain mudanya yang tak sabar untuk segera mendapatkan gelar. Oleh karena itu, ketika mereka mulai tumbuh matang, keinginan untuk hengkang pun tak bisa ditentang. Sebut saja pemain-pemain seperti Aliaksandr Hleb, Emmanuel Adebayor, Gael Clichy serta Fabregas yang akhirnya hijrah setelah menunjukkan potensi maksimalnya di Arsenal.

Arsenal tak bisa menjaga komposisi tim dengan para tumpuannya di berbagai lini secara konsisten dari tahun ke tahun. Terlalu banyak pemain kunci yang datang dan pergi tanpa memberikan hasil berarti. Banyak dari pemain tersebut, hanya menganggap Arsenal sebagai tempat persinggahan sementara untuk mematangkan permainan sebelum menjajal diri di klub besar lainnya.

Perbedaan mendasar

Patokan kesuksesan sebuah tim adalah jumlah gelar juara yang berhasil ia raih dalam satu musimnya, bukan permainan indah tanpa cela yang mengawali proses terjadinya sebuah gol. Hal itu bisa kita lihat dari fenomena “The Special One” Jose Mourinho. Selama ini, tim yang dilatih Mourinho terkenal dengan permainan pragmatisnya, tapi hal itu dibarengi dengan hasil positif yang diraih secara konsisten.

Belasan gelar dari kompetisi lokal dan Eropa berhasil ia raih saat menukangi Porto, Chelsea, Inter Milan dan Real Madrid. Walau badai kritik seakan tak kunjung henti datang akibat permainan timnya yang dianggap “merusak sepak bola” serta komentarnya yang penuh dengan kontroversi, sejarah tetap mencatat Mourinho sebagai pelatih yang bergelimang gelar juara sepanjang kariernya. Sementara di sisi lain, sejarah hanya mencatat Wenger sebagai pelatih yang gemar menerapkan pola permainan atraktif, tapi gagal mengantarkan timnya ke podium juara selama enam tahun berturut-turut.

Memang, ada pula klub yang bisa memadukan permainan indah yang dominan serta senantiasa berujung pada kemenangan seperti Barcelona. Saat ini, “Blaugrana” dianggap memiliki tim terbaik di generasinya akibat sukses meraih empat trofi La Liga, tiga gelar Liga Champions, serta masing-masing satu Copa Del Rey, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub, dalam enam tahun terakhir.

Bila kita coba bandingkan dengan Arsenal, yang dianggap memiliki pola permainan serupa yang atraktif nan indah, maka akan timbul beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya. Pertama, Barcelona gemar memainkan pemain muda hasil didikan akademi mereka sendiri.

Arsenal pun sebenarnya tak kalah dalam urusan membina pemain muda, tapi kebanyakan para pemain tersebut adalah remaja-remaja berbakat yang dicomot dari klub lain untuk dikembangkan lebih lanjut oleh “The Gunners”. Misalnya saja Theo Walcott dan Alex Oxlade-Chamberlain yang datang dari Southampton, Fabregas dan Fran Merida dari akademi Barcelona, Kieran Gibbs dari Wimbledon serta Carlos Vela yang dilabuhkan dari Guadalajara.

Tidak banyak pemain asli didikan akademi Arsenal yang akhirnya bisa menembus tim utama seperti Jack Wilshere. Emmanuel Frimpong dan Sanchez Watt memang menjanjikan, tapi masih harus memberi pembuktian akan kepantasan diri mereka. Banyaknya pemain muda berbakat yang diambil ketika remaja memang dapat meningkatkan kompetisi serta persaingan sehat dalam tim, tapi dalam hal kerja sama, kekompakan serta loyalitas, mereka masih kalah dengan para pemain muda Barcelona.

Fabregas, Lionel Messi, Gerard Pique, Pedro Rodriguez dan banyak lainnya telah bermain bersama-sama sejak cilik di Barcelona. Mereka telah mengerti betul filosofi permainan tim serta pikiran masing-masing pemain sehingga tak kesulitan untuk menyatu saat turun ke lapangan.

Selain itu, yang unik adalah Arsenal seperti harus menelan buah karma yang mereka tanam sendiri. Dahulu, Arsenal sukses membujuk Fabregas yang baru berusia 16 tahun untuk menandatangani kontrak profesional pertamanya bersama tim asal London tersebut. Wenger saat itu menjanjikan jumlah penampilan lebih banyak yang akan Fabregas dapatkan dibanding bila bertahan bersama Barcelona. Fabregas yang dianggap sebagai salah satu bakat terbaik di Eropa saat itu, menyetejuinya.

Sementara itu, para petinggi Barcelona pun kebakaran jenggot. Mereka menganggap Arsenal telah “merampok” Fabregas dari Barcelona. Hal itu karena, Barcelona-lah yang berandil besar dalam mendidik dan membentuk Fabregas selama bertahun-tahun. Lalu tiba-tiba Arsenal datang dan merekrutnya begitu saja.

Delapan tahun kemudian, situasinya berbalik. Hati Fabregas yang terlanjur tertambat di Barcelona membuatnya tak nyaman untuk terus bertahan di Arsenal. Puasa gelar yang mereka rasakan selama enam tahun terakhir juga menguatkan keinginan Fabregas untuk pulang kampung ke Camp Nou. Wenger yang telah mencegah niatan sang kapten untuk hijrah selama tiga musim terakhir, akhirnya luluh juga pada musim panas kali ini.

“Sungguh menyenangkan melihatnya – setiap hari – bermain sepak bola, dan saya yakin Anda juga merasakan hal yang sama. Jadi itu adalah bagian dalam hidup. Mungkin dia akan kembali ke klub (Arsenal) suatu hari nanti, Anda tak pernah tahu,” ungkap Wenger setelah Fabregas hijrah.

Lalu alasan kedua adalah banyaknya pemain lokal yang menjadi tumpuan Barcelona selama ini. Hal itu jelas dapat mempertahankan identitas serta karakter permainan Barcelona sendiri. Filosofi permainan Barcelona bahkan akhirnya diadopsi tim nasional Spanyol yang para pemainnya banyak berasal dari tim asal Catalan tersebut, misalnya Pique, Carles Puyol, Sergio Busquets, Fabregas, Xavi, Andres Iniesta, David Villa dan Pedro.

“Barcelona beruntung punya generasi emas yang terdiri dari tujuh sampai delapan pemain hasil didikan akademi pemain muda. Tak banyak tim dengan generasi luar biasa seperti yang dimiliki Barcelona,” ujar legenda Real Madrid dan Perancis, Zinedine Zidane, suatu hari.

Sebaliknya, Arsenal adalah representasi terbaik dari sebuah tim multikultur yang para pemainnya berasal dari berbagai negara berbeda di seluruh dunia. Tercatat, hanya ada tujuh pemain asal Inggris dari total 32 pemain di tim utama mereka, yaitu Gibbs, Craig Eastmond, Frimpong, Henri Lansbury, Wilshere, Oxlade-Chamberlain dan Walcott. Dari tujuh pemain tersebut, yang menjadi langganan timnas Inggris hanyalah Wilshere dan Walcott.

Ketiga, terlalu seringnya Arsenal kehilangan seorang pemain kunci sekaligus ikon klub yang berpengaruh besar, serta kesulitan untuk menemukan penggantinya. Dahulu, Wenger sempat memiliki Sol Campbell, Vieira dan Henry yang menjadi tulang punggung tim selama bertahun-tahun lamanya.

Setelah Campbell hijrah, praktis belum ada pengganti pas yang bisa menjadi batu karang tangguh di lini pertahanan Arsenal hingga saat ini. William Gallas membawa atmosfer buruk dalam tim, Johan Djorou kerap tampil angin-anginan, Philippe Senderos tak setangguh yang diperkirakan sebelumnya, Thomas Vermaelen sering cedera, serta Sebastien Squillaci dan Koscielny kerap melakukan blunder.

Wenger juga belum bisa menemukan suksesor Vieira yang berjiwa kepemimpinan tinggi, tangguh dalam merebut bola dan dengan cepat memulai kembali serangan dengan umpan-umpan akuratnya. Lassana Diarra, Mathieu Flamini, Abou Diaby, Alex Song dan Denilson adalah serangkaian nama yang secara bergantian mencoba mengisi peran Vieira di lini tengah, tapi tak ada yang pernah benar-benar berhasil. Mencuatnya Wilshere dan Frimpong memunculkan harapan baru untuk kembali memperkuat lini tengah Arsenal musim depan.

“Anda hanya dapat menghormati apa yang telah diraih oleh Patrick. Kariernya sensasional. Dia pemain yang luar biasa untuk kami. Kami memiliki gelandang-gelandang yang berkelas sekarang tetapi Patrick adalah gelandang yang spesial. Dia pemain jangkung dengan teknik yang bagus. Kami sekarang memiliki pemain-pemain luar biasa di sektor tengah dengan karakter mereka masing-masing. Tetapi Arsenal akan selalu berterima kasih atas kontribusi Patrick,” ujar Wenger.

Hal yang sama juga terjadi di barisan depan Arsenal. Setelah Henry hengkang, belum ada lagi pemain depan yang bisa mencetak lebih dari 30 gol semusim untuk “The Gunners”. Robin van Persie sebenarnya bisa menjadi tumpuan tim di lini depan, tapi cedera kerap membatasi jumlah penampilannya bagi Arsenal. Eduardo sempat menjanjikan di awal, tapi cedera parah menghancurkan kariernya. Lalu Nicklas Bendtner pun sering mengecewakan karena hobi membuang peluang di depan gawang lawan dan Marouane Chamakh terlihat melempem musim lalu.

Lain halnya dengan Barcelona, karena tim asuhan Pep Guardiola itu memiliki pemain-pemain andal yang dapat mengangkat tim selama bertahun-tahun lamanya. Sebut saja Puyol dan Xavi yang telah mematri tempatnya di tim utama Barcelona sejak pertama kali dipromosikan pelatih Louis van Gaal pada 1999. Lalu, Messi yang sukses menjadi protagonis tim selama beberapa tahun terakhir bahkan baru berusia 24 tahun dan siap untuk mengakhiri kariernya sebagai pemain sepak bola di sana.

Saat ini pertanyaan utamanya adalah, sampai kapan Wenger akan kukuh mempertahankan filosofinya tersebut? Bila tak ingin para pemain hanya menganggap Arsenal sebagai tempat persinggahan sementara, mungkin lebih baik Wenger segera merogoh kantongnya untuk membeli pemain bintang yang tepat untuk mengangkat tim. Sekali-kali, belilah perhiasan mahal, bukan berlian kasar, Wenger.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Kompas.com pada Selasa, 16 Agustus 2011.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s