Sehari Bersama Jokowi

Wawancara Jokowi (4)

Joko Widodo mengobrol santai dalam perjalanan blusukan keliling Jakarta (23/12/13)/Andrey Gromico

23 Desember 2013

Joko Widodo bangun terlalu cepat hari ini. Saat lelap masih menjaga mayoritas masyarakat Jakarta dari sadar, ia justru telah membuka mata pada pukul 3 dini hari. Bergegas dari ranjang, ia menyibukkan diri dengan menonton TV dan sekadar membaca berita-berita online terkini.

Jam kerja Gubernur DKI Jakarta ini memang anomali. Sebelumnya, pria berusia 52 tahun yang akrab disapa Jokowi tersebut baru saja menyelesaikan rapat dengan para stafnya hanya setengah jam usai lewat tengah malam. Usai tidur selama kurang lebih dua jam saja, ia memutuskan untuk kembali ke rutinitasnya sebagai orang nomor satu di ibukota.

“Biasanya saya bangun jam 5, tapi kemarin saya banyak tidur di tengah jalan keliling Jakarta. Akhirnya bangunnya kepagian,” ujar pria kelahiran Surakarta tersebut.

Setelah itu, Jokowi punya kebiasaan untuk meminum campuran air kacang hijau, temulawak dan madu di pagi hari. “Sudah 16-17 tahun terakhir saya minum ini pagi-pagi,” ujarnya sembari berbagai resep tetap segar menjalani hari.

Jokowi memang jarang sekali sarapan di pagi hari. Setelah mandi, ia pun lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca koran-koran atau kliping berita yang terkait dengan aktivitas pemerintah ibukota yang telah disiapkan oleh salah satu ajudan kepercayaannya, Devid Agus Yunanto (31).

“Tiap pagi, saya biasanya selalu menyiapkan baju, sepatu, tas dan kliping media untuk dibaca Bapak. Kliping media itu disusun oleh Diskominfo, saya cuma meneruskannya pada Bapak,” tutur Devid yang telah mengikuti Jokowi selama delapan tahun terakhir.

Kemudian, tepat pada 07.30, tiga mobil berwarna hitam telah menunggu Jokowi di depan pintu utama rumah dinas sang Gubernur di Jalan Taman Suropati no. 7, Jakarta Pusat. Jokowi pun masuk ke dalam Kijang Innova ditemani Devid di kursi depan kiri dan Bejo Santoso (48), sang supir yang telah mengabdi selama dua tahun terakhir. Dengan dipimpin oleh sebuah voorijder berwarna putih, mobil yang ditumpangi Jokowi melaju diikuti dua mobil lainnya: Nissan X-Trail dan Toyota Avanza, yang berisi para ajudan dan staf lainnya.

Hari ini, Jokowi memutuskan untuk mengenakan kemeja lengan panjang putih, celana bahan hitam dan sepatu kets berwarna abu-abu gelap. “Ini lupa saya, sepatu ini dikasih istri atau saya beli sendiri di Fatahillah,” kata Jokowi sembari mengikat tali sepatunya di dalam mobil.

Sembari blusukan sana-sini, Jokowi memang kerap berbelanja keperluan sehari-hari. Misalkan, ia pernah membeli sepatu seharga Rp140.000,- di Pasar Ular, Jakarta Utara, serta beberapa pasang lainnya di Fatahillah dengan harga di kisaran Rp90.000,-.

“Saya bisa beli dua atau tiga pasang kalau ke sana. Biasanya setelah dua atau tiga bulan sudah agak rusak, tapi ya engga apa-apa. Saya orangnya memang suka bosan, jadi suka ganti-ganti,” ujarnya sambil berseloroh.

Pada pukul 08.43, sang Gubernur pun tiba di Monas untuk sekadar melihat perkembangan perbaikan taman yang sedang dalam proses pengerjaan. “Puluhan tahun taman di sini engga pernah diperbaiki, sekarang kita rombak biar lanskapnya bagus,” tutur Jokowi kembali.

Sembari membuka kaca mobil di bagian tengah sebelah kiri, Jokowi memang memperhatikan dengan seksama kondisi taman dan pelataran Monas yang pertama kali dibuka untuk umum pada 1975 lampau tersebut. Saat itulah warga yang sedang berolahraga atau sekadar berjalan-jalan pagi di sana sontak menjadi begitu antusias melihat kedatangan sang Gubernur.

Ada yang sekadar menjulurkan tangan untuk bersalaman, mengejar mobil untuk melihat lebih dekat atau menghormat dari jauh ketika mobil sedang melaju perlahan. “Wah, ada Pak Jokowi, rejeki nomplok ini,” kata salah seorang warga.

Jokowi memang dikenal gemar bersentuhan langsung dengan masyarakat dari berbagai kelas di Jakarta. Hal itu dilakukannya untuk mengetahui langsung permasalahan yang ada, bahkan hingga ke tingkat akar rumput sekalipun.

“Ya kita harus datang setiap hari ke mereka, jangan datang kalau ada maunya saja. Selain itu, kita harus bisa menyamakan pikiran atau frekuensi dengan mereka sehingga kita bisa punya mata batin yang sama. Jadi, kita bisa segera merespon atau mencari solusi dengan segera bila menemukan masalah saat sedang bersentuhan langsung dengan mereka,” tegas Jokowi.

Dari Monas, Jokowi segera melaju ke Balaikota Jakarta dan tiba di sana pada pukul 08.00. Sesaat setelah turun dari mobil, ia segera dikerubungi wartawan yang menodongnya dengan rentetan pertanyaan.

Saat sedang meladeni pertanyaan wartawan, tiba-tiba muncul seorang perempuan separuh baya yang mengenakan baju terusan berwarna merah dan hijau. Dengan mata kiri diperban, ia masuk ke kerumunan wartawan sembari dituntun seorang wanita yang berumur lebih muda. Perempuan tersebut terus meneriakkan nama Jokowi dan meminta tolong untuk bisa berbicara langsung dengannya.

Syahdan, Devid segera membawa masuk perempuan itu masuk ke dalam Balaikota mengikuti sang Gubernur. Karena Jokowi harus mengikuti rapat terlebih dahulu, perempuan pengidap glaukoma tersebut akhirnya menunggu di ruang tamu bersama sang tetangga yang sama-sama tinggal di daerah Tubagus Angke.

Sebelumnya, memang banyak orang yang mencoba untuk menemui langsung Jokowi dengan berbagai cara. Pernah ada seorang paranormal yang mengaku bisa menghentikan hujan selama enam bulan lamanya, tergantung permintaan Jokowi jika dibutuhkan. Pernah pula ada seorang pria yang datang untuk memberikan cincin dan keris ‘berisi’ pada sang Gubernur. Tak kalah uniknya, seorang pria bahkan sempat datang dan berpura-pura bisu saat dicegat pihak keamanan Balaikota, tapi justru berbicara lancar ketika telah berhasil menemui Jokowi.

“Bapak menekankan sekali pada saya bahwa rakyat kecil harus ditemui, jangan orang-orang besar saja. Kata Bapak, orang besar justru belum tentu penting buat dia,” ujar Devid.

Setelah melakukan rapat dengan perwakilan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama kurang lebih setengah jam, Jokowi pun berbincang selama kurang lebih satu jam lamanya dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Basuki sendiri, atau yang akrab disapa Ahok, datang ke ruang kerja Jokowi pada 08.30

Kemudian Jokowi harus mengikuti rapat pimpinan (rapim) yang dimulai pada 09.30 dan berakhir kurang lebih pada 11.00. Kemudian, pria beranak tiga tersebut akhirnya memiliki waktu kosong untuk menemui langsung dua warga Tubagus Angke di ruang kerjanya.

Selama kira-kira 10 menit, Jokowi mendengarkan sembari mencatat segala keluhan perempuan tersebut. Perempuan itu pun tak kuasa menahan tangis ketika melaporkan sengketa kepemilikan hak rumah yang membuatnya diusir dari rumahnya sendiri oleh keluarga.

“Sudah, sekarang Ibu ikut Pak Heru (B. Hartono, Kepala Biro). Nanti akan dibantu sama dia untuk penyelesaian masalahnya ya,” ucap Jokowi mencoba menenangkan.

Tak lama, Jokowi pun sibuk membubuhkan tanda tangan di berkas-berkas yang disodorkan para stafnya dan segera bergegas meninggalkan Balaikota pada 11.38 menuju Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Di sana, ia harus menjadi pembicara dalam acara Diskusi Media bertemakan “Pelayanan Publik yang Profesional dan Antikorupsi”.

Pukul 12.07, Jokowi telah tiba di Kantor Kemenkumham, Kuningan, Jakarta Selatan. Lalu ia segera naik ke lantai 7 dan masuk ke ruangan Menkumham Amir Syamsuddin untuk berbincang dan beramah-tamah singkat. Tepat pada 13.00, Jokowi dan para pembicara lainnya turun ke lantai dasar dan masuk ke tempat berlangsungnya acara, Graha Pengayoman.

Jokowi sendiri baru mendapat kesempatan bicara pada 13.35 setelah Amir dan Wamenkumham Denny Indrayana memberikan pembabarannya. Saat gilirannya tiba, ia menekankan pentingnya bersentuhan langsung dengan masyarakat untuk mengetahui masalah-masalah yang terjadi di sana.

Ia pun bercerita soal pengalamannya melakukan inspeksi mendadak ke sebuah Suku Dinas Koperasi dan UKM. Di sana, ia menanyakan pada beberapa warga yang hendak membuat Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) soal waktu yang dibutuhkan untuk proses pengerjaan.

“Ada yang bilang butuh waktu satu minggu, dua minggu, bahkan tiga minggu. Ya engga usah saya jelaskan itu tergantung apa, kalian sudah pada mengerti. Padahal proses pengerjaannya seharusnya cuma tiga hari,” tutur Jokowi.

Setelah menegur staf setempat, Jokowi pun menyempatkan diri untuk kembali lagi ke sana selewat satu setengah bulan lamanya. Ternyata, sistem pelayanan yang ada tidak mengalami sedikitpun perubahan.

“Ternyata masalahnya itu adalah di pemberian tanda tangan, dan yang berwenang untuk itu ada di lantai 3. Setelah saya ke atas, ternyata cuma ada tujuh orang di sana, padahal seharusnya ada 30 orang. Di antara tujuh orang itu, engga ada yang punya otoritas untuk tanda tangan. Mau sekadar lihat data di komputer saja engga ada yang tahu PIN untuk membukanya,” keluh Jokowi.

“Akhirnya karena kesal saya banting saja form pendaftaran SIUP yang ada di tangan saya. Itu pertama kalinya saya marah selama berada di Jakarta. Ya, manusia juga kan ada batasnya.”

Selama ini, Jokowi sendiri memang dikenal sebagai pria yang sabar dan murah senyum. Hal ini yang membedakannya dengan Ahok, sang wakil yang dianggap lebih temperamental.

“Saya dan Pak Ahok itu beda. Pak Ahok kalau melihat ada yang engga beres, dia marahin dulu orangnya tiga jam, baru dicopot (jabatannya). Kalau saya engga marah, diam saja tapi besok tahu-tahu saya copot (jabatan dia),” seloroh Jokowi yang disambut gelak tawa seluruh peserta Diskusi Media tersebut.

Pada 14.05, Jokowi telah selesai berbicara dan para peserta diberikan kesempatan untuk melontarkan pertanyaan. Lalu, seorang peserta tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang melenceng dari topik diskusi yang ada.

“Apakah benar kalau Pak Jokowi mau nyapres? Dulu kan jadi walikota belum selesai, lalu pindah ke sini. Sekarang jadi gubernur belum selesai mau jadi presiden. Kesannya engga menjejak, maruk begitu, Pak,” tanya seorang peserta bernama Sulastri.

Mendengar pertanyaan ini, Jokowi hanya bisa menjawab,” Ini kan soal pelayanan publik, kok jadi nyapres?”

Selanjutnya, usai menjawab pertanyaan lain dari perempuan tersebut, Jokowi berangkat dari Kemenkumham pada 14.25 menuju Jatinegara. Di dalam mobil, ia tertawa sembari berkata, “Saya tahulah itu pertanyaan titipan, pertanyaan politis itu. Saya juga kan orang politik, ngerti-lah saya.”

Jokowi memang sudah terbiasa menghadapi taktik-taktik politik yang dikeluarkan berbagai pihak terhadap dirinya. Misalnya saja, ia mengakui bahwa ada beberapa orang yang mendatangi Balaikota Solo dan masyarakat di sana untuk mencari tahu hal-hal buruk yang pernah dilakukan Jokowi saat masih menjabat sebagai Walikota Solo.

“Orang kayak kita ini ususnya harus panjang. Ada saja kritikan muncul di mana-mana, entah di Twitter, Blog, dan lain-lain. Semua orang kan bebas berkomentar, ya jadi masukan saja buat saya. Ada juga yang omongannya benar, tapi banyak juga yang salah,” tuturnya sambil tertawa kecil.

Setelahnya, Jokowi pun tiba di Jatinegara pada 14.35 untuk menghadiri acara Groundbreaking normalisasi Kali Ciliwung dan pembangunan sudetan (terowongan bawah tanah) menuju Kanal Banjir Timur. Sesaat setelah keluar dari mobil, warga yang ada di sana segera bersorak dan berlomba untuk menjabat tangan Jokowi.

Ketika meninggalkan tempat acara pada 15.00, hal yang sama kembali terulang dan Jokowi meladeni dengan sabar permintaan salaman para warga dari berbagai kalangan usia tersebut. Ia pun menggunakan kesempatan itu untuk membagikan puluhan buku tulis pada warga setempat.

Jokowi memang senang bersosialisasi dengan rakyat. Bahkan, ia memilih untuk mengenakan kemeja lengan panjang putih karena merasa lebih tidak berjarak dengan rakyat dibanding harus memakai baju dinas Gubernur DKI Jakarta. Kemeja model tersebut biasa ia beli di Pasar Blok G Tanah Abang dengan harga berkisar antara Rp50.000,- hingga Rp60.000,-.

Namun, walau dekat dengan rakyat, Jokowi juga bisa bersikap tegas saat menghadapi perilaku orang-orang yang berlaku ‘membandel’ keluar batas.

“Banyak tanah milik pemerintah yang ditempati oleh warga liar. Kita selalu coba bicara baik-baik dahulu dengan mereka. Kalau tetap engga ngerti juga, ya kita bersihkan mereka dengan paksa. Kalau engga begitu ya masalah engga kelar-kelar,” tegas Jokowi.

Lebih lanjut, di tengah perjalanan Jokowi tanpa sengaja melihat banyak bendera partai yang terpasang di pinggir sebuah fly over menuju daerah Senen. Sontak, ia berkata, “Itu bendera-bendera dipasang di situ bikin engga enak dilihat saja. Memangnya ngaruh ya orang melihat itu jadi lebih suka dengan partainya? Saya bingung orang masih saja memasarkan sebuah brand dengan cara yang salah. Sekarang itu zamannya kita harus melakukan pendekatan pribadi.”

Tak lama, Jokowi tiba di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko) pada 15.38 untuk menjemput Hatta Rajasa. Kemudian, Jokowi dan Hatta akan berangkat bersama menuju Pelabuhan Tanjung Priok untuk meninjau kiriman bus-bus baru Transjakarta yang dipesan dari Tiongkok, Malang dan sebagainya.

“Sudah delapan tahun ada Transjakarta, tapi busnya cuma ada 490. Makanya kita pesan 400 bus ukuran sedang dan 400 bus ukuran besar untuk koridor-koridor yang padat seperti Lebak Bulus atau Harmoni. Lalu tahun 2014, rencananya kita akan pesan total 4.000 bus lagi, 3.000 ukuran sedang dan 1.000 ukuran besar,” jelas Jokowi.

Hari ini, ada 12 bus di Pelabuhan Tanjung Priok yang baru datang, dan 86 bus yang sudah ada di pul Transjakarta. Rencananya akan ada 211 bus yang datang di akhir Desember 2013, dan 310 bus pada Januari 2014. Segera setelah dilakukan pengecekan dan perbaikan tahap akhir serta usai mendapat plat nomor, seluruh armada bus tersebut akan berjalan mengelilingi padatnya ibukota.

Pada 15.43 Jokowi dan Hatta melaju bersama di dalam mobil dinas Toyota Crown Royal Saloon sang Menteri Koordinator bidang Perekonomian (Menko). Dengan bantuan para petugas tambahan dari Dinas Perhubungan untuk membuka jalan, laju Jokowi dan Hatta ke Pelabuhan Tanjung Priok menjadi lebih lancar. Hal yang sesungguhnya tidak begitu disukai oleh Jokowi sendiri.

“Bapak sebenarnya engga suka kalau macet dibuka jalan dan ngebut begini. Soalnya semuanya juga kan maunya cepat. Jadi, biasanya kalau memang macet dan engga sempat menghadiri sebuah acara, Bapak lebih memilih untuk engga datang. ‘Bilang ke panitianya engga usah nungguin kita,’” tutur Devid.

Karena jalan yang begitu padat, akhirnya rombongan Jokowi, Hatta, para staf dan awak media turun di Halte Transjakarta Sunter Kelapa Gading pada 16.15. Setelahnya, bersama-sama mereka menaiki Transjakarta dan turun di Halte Permai Koja pada 16.30. Di sana Jokowi kembali mendapat sambutan meriah dari warga yang berlomba untuk mengamil foto dan menyalaminya.

Tak bisa berlama-lama, rombongan yang ada segera masuk ke dalam dua bus operasional yang telah menunggu di depan halte tersebut. Jokowi dan Hatta pun duduk bersebelahan di belakang supir bus dan perjalanan kembali berlanjut pada 16.35.

Pada 17.03, rombongan memasuki pelabuhan. Namun, karena jalanan penuh dengan truk besar, mereka baru bisa menjejak Tanjung Priok Car Terminal (TPT) pada 17.18. Terminal tersebut memang khusus melayani ekspor-impor mobil serta alat-alat berat lainnya.

Di sana, Jokowi dan Hatta dengan sabar meladeni segala pertanyaan dan permintaan foto dari rombongan wartawan yang ada. “Dari dulu Bapak memang selalu welcome dengan wartawan, karena acara-acara seperti ini (peninjauan armada Transjakarta baru di pelabuhan) kan perlu disosialisasikan pada rakyat. Kita butuh media untuk melakukan hal itu,” tutur Devid yang setia menemani Jokowi tujuh hari dalam seminggu.

Usai meladeni pertanyaan wartawan di sana, Jokowi dan Hatta kembali masuk ke dalam mobil dinas untuk bersama-sama kembali ke kantor Kemenko pada 17.30. Pada 18.08, mereka tiba di sana dan Jokowi pun berpisah jalan untuk pulang ke rumah dinasnya.

Pada 18.20, Jokowi tiba di rumah untuk mengisitirahatkan dan membersihkan diri sejenak. Setelahnya, ia bermaksud pergi bersama istri dan anak-anaknya, bukan untuk ke tempat mewah sembari rekreasi keluarga, tapi berkeliling Jakarta sembari blusukan meninjau tempat-tempat dan fasilitas ibukota di malam hari.

Waktu istirahat memang begitu terbatas untuk Jokowi. Bahkan, terkadang ia masih harus menghadiri acara resmi, menerima tamu atau melakukan rapat dengan staf di malam hari. Oleh karena itulah sang istri, Iriana, kerap sudah terlelap tiap kali ia tiba di rumah.

Iriana memang sedari awal tidak setuju dengan keputusan Jokowi mencalonkan diri menjadi Walikota Solo. Namun, hingga saat ini ia selalu menemani sang suami dengan setia dan menjadi tempat bersandar di kala beban pikiran sang Gubernur sedang menggunung.

“Ya dengan begitu banyak masalah yang kita hadapi, kita butuhlah untuk curhat sama istri,” aku Jokowi.

Jokowi memang tidak mudah menyerah untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya di Jakarta. Di sela-sela kesibukkannya yang bertumpuk, ia selalu menyempatkan diri untuk berbagi filantropi pada rakyat dan tentu, istrinya sendiri. Kesigapannya untuk merespon perubahan dan persoalan yang datang tak kenal waktu membuatnya cepat populer di kalangan masyarakat.

“Saya kalau dengar ada masalah, secepatnya coba saya selesaikan. Kalau bisa selesai saat itu juga ya harus saat itu juga, kalau harus menunggu satu minggu atau satu tahun ya sudah. Yang penting keputusan sudah dibuat. Karena kalau engga cepat diputuskan, kita akan semakin tertinggal dan masalah terus bertumpuk,” tutur Jokowi.

 

NB: Liputan ini dilakukan dalam kapasitas sebagai wartawan Geo Times pada 23 Desember 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s