Karena Nobita adalah Kita

Ada sebuah penggambaran masa depan di tengah-tengah masa kecil saya, yang membuat ketidakmungkinan berubah menjadi kemungkinan itu sendiri. Ada angan yang tumbuh secara laten, pervasif dan progresif pada generasi kanak-kanak saya, dan bahkan beberapa generasi setelahnya.

Semua bermula saat kelas 5 SD. Bukan saya, tapi Motoo Abiko, tepatnya ketika ia pindah ke sebuah Sekolah Dasar di Kota Takaoka pada pertengahan 1940-an untuk menjalankan takdirnya bertemu sang karib hidup bernama Hiroshi Fujimoto.

Sejak bertemu di sana, mereka mulai tak terpisahkan. Ada cinta yang tumbuh mendalam di antara mereka, bukan layaknya sepasang kekasih, tapi lebih pada kekaguman atas kemampuan masing-masing menuangkan abstraksi di kepala menjadi sebuah coretan gambar bermakna.

Awalnya mereka takut. Begitu kerap mereka menggambar diam-diam, bersama tapi dalam kesendirian, hanya berdua karena takut diolok oleh teman-teman sekelasnya. Ironis, karena gambar mereka justru tidak takut. Gambar mereka bukanlah objek, terkadang ya, tapi lebih sering merupakan objek yang bertransformasi menjadi subjek yang bercerita sendiri kepada yang melihatnya.

Subjek yang tak takut menumbuhkan mimpi banyak generasi setelahnya.

Sejarah sendiri mencatat bahwa 1945 adalah tahun kemerdekaan Indonesia usai para pejuang berhasil memproklamirkannya di tengah masa pendudukan Jepang. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di sekitaran tahun yang sama, sebuah duet maut dari Jepang yang akan kembali menjajah Indonesia selama puluhan tahun lamanya telah tercipta. Duet itu adalah Abiko dan Fujimoto, atau yang kemudian lebih dikenal sebagai Fujiko F. Fujio.

Buat saya, dan mungkin banyak orang lainnya, Fujiko F. Fujio adalah ayah yang tak pernah hadir, tapi terus bercerita. Soal Doraemon dan Nobita, soal mimpi yang harus tetap terjaga.

Ada cerminan dan teguran halus yang diselipkan pada tiap tingkah Nobita, yang alergi dengan buku pelajaran tapi punya kenaifan mimpi yang ingin dilaksanakan. Ada rasa iri yang membuat kita selalu merasa sendiri ketika melihat Suneo memamerkan sebagian kecil dari keseluruhan kekayaan keluarganya. Ada kepongahan dan arogansi yang menyesakkan dada di sana. Dan tak lupa, ada kegeraman pada setiap bully yang dibawa Giant dalam pertemanannya. Ada persahabatan yang hadir karena ketakutan, ada hardikan yang membuat kita tidak bisa melawan.

Syahdan, saat kekecewaan dan kesedihan mendominasi, Sizuka datang menampakkan diri. Lewat kehalusan kata-katanya, lewat ketulusan tindakannya. Ada yang menyenangkan, dan menenangkan di saat bersamaan dalam diri Sizuka. Ada kebaikan hati yang membuat kita tak berani berpikir lebih jauh setiap kali tak sengaja melihatnya sedang mandi.

Tak lupa, selalu ada jarak antara kita dan Dekisugi. Ada kenyataan bahwa ia populer dan tidak populer di waktu yang sama. Ia selalu menjadi yang terpandai, teridam dan terideal, tapi ia tak teringat ketika saatnya melakukan petualangan musim panas. Ada kecemburuan akan fakta yang mungkin belum bisa diterima oleh kita dan juga Nobita saat itu.

Nobita memang cengeng, dan ia adalah seorang eskapis sejati. Ia kerap terlalu cepat lari sebelum benar-benar menghadapi. Tangisan adalah makanannya sehari-hari. Di satu titik, kita bisa saja muak dengan tingkah Nobita, tapi itu tak pernah terjadi selama Doraemon ada di sisinya.

Karena kita tahu, selalu ada celah iba bagi Doraemon untuk menolongnya. Karena kita tahu ketika Nobita telah menangis, tak ada yang akan bertindak secepat Doraemon untuk menyelesaikan permasalahan. Karena kita tahu bahwa tak ada yang tak mungkin bila kita telah berinteraksi dengan sesuatu yang berasal dari masa depan.

Doraemon adalah angan, dan rasa aman. Angan perihal sesuatu yang luar biasa akan datang menyambut kita di abad ke-22. Aman dari segala kecemasan bahwa hidup manusia akan berujung pada stagnansi, alias sekadar berjalan di tempat.

Namun, Doraemon bukan lambang kesempurnaan. Sebuah robot yang paling sempurna pun ternyata trauma dengan kehadiran tikus di sekitarnya. Sebuah robot yang membawa banyak inovasi dan alat-alat canggih pun ternyata gemetar pula sosoknya bila harus berhadapan dengan Giant, apalagi nyanyiannya yang memekakkan telinga. Dan sebuah robot dari masa depan pun ternyata lebih menyukai makanan berakar tradisional macam dorayaki yang harganya tak seberapa dibanding produk-produk kapitalisme barat yang secara tak sadar telah menjajah nafsu makan kita selama ini.

Seluruh kisah tentang Doraemon dan kawan-kawan itu sendiri tak pernah berujung akan kejelasan konklusi. Banyak pertanyaan yang kita abaikan ketika sedang melahap kisah-kisah singkatnya di buku bergambar di masa kanak-kanak. Siapa sesungguhnya penemu Doraemon? Akankah Giant menjadi preman di hari tuanya, dan bahkan mungkin terjerat narkoba? Mungkinkah Suneo menjadi politikus dan terpikat untuk melakukan korupsi di masa dewasanya? Secantik apakah Sizuka nanti, semolek apa tubuhnya bisa menjadi? Dan apa benar bahwa Nobita adalah seorang yang bodoh hingga akhir hayatnya?

Beberapa pertanyaan itu biar kita yang menjawabnya sendiri, karena sesuatu yang terlampau jelas justru tak memberi ruang bagi imajinasi dan interpretasi pribadi.

Namun, sebagian orang ternyata merasa perlu untuk memberi akhir bagi salah satu kisah paling legendaris ini.

 

Doraemon - Final Episode (1)

Doraemon - Final Episode (2)

Doraemon - Final Episode (3) Doraemon - Final Episode (4) Doraemon - Final Episode (5) Doraemon - Final Episode (6) Doraemon - Final Episode (7) Doraemon - Final Episode (8) Doraemon - Final Episode (9) Doraemon - Final Episode (10) Doraemon - Final Episode (11) Doraemon - Final Episode (12) Doraemon - Final Episode (13) Doraemon - Final Episode (14) Doraemon - Final Episode (15) Doraemon - Final Episode (16)

 

Banyak hal yang terjawab melalui cerita penutup ini. Namun, seperti yang telah saya tuturkan, tetap ada ruang interpretasi bagi kita untuk menerka sendiri.

Dan dari apa yang saya konstruksi, saya cukup puas dengan epilog di atas. Karena ternyata Doraemon bukan sekadar tempat pelarian instan bagi Nobita di masa kanaknya. Karena ternyata Doraemon adalah mimpi yang belum, dan harus selesai bagi Nobita.

Karena ternyata masa depan, ada di tangan kita sendiri untuk mewujudkannya.

Advertisements

Asa dan Kemiskinan

164029_kemiskinan-jakarta-menurun-berdasarkan-dara-bps_663_382

Sumber: Viva.co.id

Kamis, 24 Januari 2008

Sudah lebih dari dua jam sejak tengah hari. Siang itu, Samidi (80) hendak mengambil air sumur di belakang rumahnya yang terletak di Desa Bleber, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Naas, niatnya tersebut terhalang oleh sesuatu yang tak pernah ia sangka. Marwiyah, anak perempuannya yang berusia 45 tahun, ia temukan sedang mengambang kaku bersama sang cucu, Santi Novitasari, di atas permukaan air sumur yang berjarak sekitar 2,5 meter dari permukaan tanah.

Gangguan kejiwaan dan faktor ekonomi, diyakini sebagai alasan utama Marwiyah menceburkan diri ke dalam sumur bersama anaknya yang baru berusia tiga tahun. Sang bayi, yang merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, mungkin tidak dan belum bisa mengerti pilihan tindakan yang diambil ibunya tersebut. Yang pasti, sang ibu telah menangis dalam hati lebih banyak dari yang anaknya tersebut isakkan sejak lahir.

Senin, 14 Januari 2013

Manotar Simorangkir (32) terkejut luar biasa saat sejumlah polisi dan warga menjemputnya dari tempat kerja di sebuah perusahaan galangan di Tanjung Uncang, Batam, pada siang itu. Seketika ia dibawa pulang dan menemukan sang istri, Maritan Manulang (30), telah terbujur kaku akibat menenggak obat anti-serangga dan menggantung diri di ruang tengah rumahnya sendiri di perumahan Puteri Hijau, Sagulung, Batam. Sontak, Manotar pun pingsan. Bahkan, ia tak sempat membaca surat wasiat peninggalan sang istri.

Berikut isi surat Maritan, “Pak, maafkan aku atas langkah yang kuambil ini, aku tak sanggup lagi menanggung penderitaan yang aku buat sendiri tanpa sepengetahuanmu. Aku banyak buat utang. Sekali lagi aku mohon maaf, biarlah kesalahan yang aku lakukan ini kutanggung sendiri. Dan hari ini jatuh tempo pembayaran angsuran rumah, aku tak pegang apa-apa lagi. Kutitip Ika dan Putri, tolong jaga dan besarkan mereka dengan penuh kasih sayang, karena aku tak sanggup lagi menanggung malu ini.”

“Ika, jaga Putri buat mama yah, sayangi adikmu yah, maafkan mama, boru mama aku tak sanggup lagi. Papa, jangan sampai kau biarkan Ika sama Putri menderita sepeninggalku. Kalau kau tak sanggup mengasuh mereka, titipkan mereka sama orang yang kau percayai. Aku sangat sayang sama kalian, tapi aku tak mampu lagi.”

***

Lima tahun telah terlewati, dan nyatanya semua tetap sama. Lima tahun telah terlewati dan seorang ibu kembali ditemukan bunuh diri. Lima tahun telah terlewati, masyarakat Indonesia masih dihantui lingkaran setan bernama kemiskinan.

Angka lima, tidak akan berarti apa-apa bila kemiskinan berhasil dientaskan. Angka lima, tidak akan berarti apa-apa bila seorang ibu tidak sampai sakit jiwanya dan mengajak bayinya sendiri bersama ke liang lahat. Angka lima, tidak akan berarti apa-apa bila seorang ibu tidak putus asa hingga menggunakan dua cara berbeda untuk memastikan dirinya sendiri mati.

Menurut data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2 Januari 2013 lalu, perekonomian tanah air tumbuh hingga 6 persen, sementara kemiskinan hanya berkurang 0,13 persen. Hal ini berarti, pertumbuhan ekonomi yang ada tidak berjalan efektif karena tidak benar-benar dinikmati oleh golongan miskin yang hingga September 2012 lalu masih berjumlah 28,59 juta orang (11,6 persen). Bandingkan, di Cina 1 persen pertumbuhan ekonomi bisa menekan 0,92 persen masyarakat miskin. Sedangkan, 1 persen pertumbuhan di Malaysia bisa menekan 2,99 persen warga miskin dan di Thailand 1 persen pertumbuhan bisa mengentaskan 6,25 persen kemiskinan. Bahkan, masih menurut BPS, kecendrungan kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang dihitung lewat Rasio Gini justru melebar.

Goenawan Mohamad pernah mengatakan bahwa orang kecil, pada akhirnya, adalah orang yang terlalu sering kalah. Hal itu karena, orang kecil adalah mereka yang kerap kehabisan pilihan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Syahdan, apa yang kecil bagi orang lain bisa menjadi begitu besar dan berharga untuk mereka.

Lalu bila pemerintah terkesan tak bisa diandalkan, kepada siapa lagi kita harus meminta pertolongan? Jawabannya: diri sendiri. Seperti ujaran terkenal Bill Gates, “Jika Anda lahir miskin, itu bukan salah Anda, tapi jika Anda mati miskin, itu salah Anda.”

Maka, marilah kita bersyukur untuk segala yang kita miliki saat ini. Hargai apa yang dianggap kecil dan syukuri apa yang dirasa besar yang pernah kita miliki selama ini. Kesempatan untuk bersekolah dengan layak mungkin hal kecil untuk banyak orang di Indonesia, tapi merupakan hal besar untuk lebih banyak orang lainnya di berbagai penjuru tanah air. Kesempatan untuk hidup mungkin hal besar bagi banyak orang, tapi hal kecil bagi lebih banyak orang miskin lainnya di berbagai pelosok nusantara. Karena hidup ideal yang kerap dikeluhkan banyak orang, kerap begitu didambakan dan menjadi alasan kematian bagi lebih banyak orang kecil lainnya, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia.

Tabik, untuk mereka yang selalu bersyukur akan hidup yang dijalaninya saat ini. Salut, untuk mereka yang belajar menghadapi masalah, bukan kabur dari masalah.

 

NB: Tulisan ini dibuat pada 16 Januari 2013.

Pencari Suaka: Mengapa Mereka Hijrah

512875-asylum-seekers

Sebanyak 33 pencari suaka tiba di Christmas Island, Januari 2010, Sumber: http://www.heraldsun.com.au

Sudah banyak orang hilang di Balochistan, terlalu sering, bahkan hingga jadi tak mengejutkan lagi. Mayat-mayat dibuang begitu saja di daerah pegunungan terpencil atau bahkan jalanan kosong. Penuh memar, tak jarang badan sudah terbelah jadi beberapa bagian. Media bungkam. Polisi pun hanya berdiam.

Apapun bisa terjadi di Balochistan, provinsi terbesar di Pakistan yang tersohor karena kekayaan sumber daya mineralnya. Angkatan bersenjata Balochistan bisa membunuh penduduk tak bersalah, para profesor dan jurnalis hanya untuk menjalankan ‘misi balas dendam’ terhadap pemerintah.

Pemerintah juga seakan menutup akses publikasi pemberitaan tentang Balochistan. Seperti saat mereka memblokir situs media online berbahasa Inggris pertama di sana, The Baloch Hal, pada awal November 2010. Tak sampai di situ, beberapa jurnalis The Baloch Hal pun akhirnya terbunuh secara misterius.

Oleh karena itu, akhirnya banyak warga Balochistan yang melarikan diri jauh-jauh dari tempat kelahirannya. Mereka pergi karena bosan dengan berbagai macam konflik tiada henti. Hanya ketenangan yang mereka cari.

148608x325

Wanita Balochistan bertahan dalam kondisi perang, 2010, Sumber: http://www.dawn.com

Setidaknya, itulah alasan Musa (22) yang membawanya tiba di Indonesia pada awal 2014 ini.

“Saya berasal dari Pakistan, tepatnya di Balochistan. Di sana ada banyak kerusuhan. Anda bisa pergi ke pasar atau pusat perbelanjaan setiap harinya, lalu tiba-tiba muncul kerusuhan dan pembunuhan,” jelas Musa.

Oleh karena itu, keluarga Musa memutuskan untuk mengumpulkan uang semampu mereka untuk membawa Musa pergi dari Pakistan dan mencari suaka ke Australia. Dengan membayar jasa calo sebesar 10.000 US$, dia pergi dengan pesawat menuju Thailand dengan waktu perjalanan kurang lebih lima jam. Setelah transit sesaat, perjalanan kembali dilanjutkan ke Indonesia selama tiga jam.

“Tinggal bayar saja ke agen, dia yang mengurus segalanya, tiket, prosedur, dan lainnya. Saya tinggal berangkat saja. Kalau ingin lebih murah, Anda bisa membayar 6.000 US$ dan menggunakan perahu untuk pergi dari Pakistan,” ujar Musa kembali.

Namun, pergi menggunakan perahu memiliki risiko sendiri. Waktu perjalanan yang ada menjadi jauh lebih lama dan risiko perahu bermasalah atau tenggelam di tengah jalan selalui menghantui.

Walau begitu, hal tersebut tak mengurangi minat para pencari suaka untuk datang ke Indonesia. Indonesia memang tempat perhentian yang strategis sebelum menyeberang ke negeri kangguru. Banyak orang yang datang dari ‘negara bermasalah’ untuk mendapat perlindungan internasional sehingga bisa menetap di Australia dengan mengurusnya lewat Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) cabang Indonesia.

migration routes to Indonesia (sumber Human Rights Watch)

Rute migrasi para pencari suaka, Sumber: Human Rights Watch

Dalam keterangan di situs resmi UNHCR, dijelaskan perbedaan mendasar antara pencari suaka dan pengungsi. “Pencari suaka adalah seseorang yang mengakui bahwa dirinya adalah pengungsi, tapi belum dievaluasi secara definitif (sebagai pengungsi),” tulis UNHCR.

“Para pencari suaka yang ada di Indonesia akan didata oleh UNHCR, dan diberikan kartu identitas tanda pengungsi. Setiap beberapa bulan sekali kartu itu akan diperbaharui masa berlakunya. Namun, sebagai pengungsi saya tidak boleh mencari kerja sama sekali di sini. Makanya saya mengandalkan kiriman uang dari saudara di Pakistan dan di Australia untuk bertahan hidup sehari-hari,” tutur Musa yang kini tinggal di Jalan Hankam, Cisarua.

Proses yang dilalui Musa itu disebut sebagai penentuan status pengungsi. Setelah melakukan pendaftaran, para pencari suaka akan diwawancara oleh pihak UNHCR bersama dengan seorang penerjemah. Di sana, akan ditentukan status mereka sebagai pengungsi atau bukan, tergantung pada alasan atau kasus yang melatarbelakangi untuk mencari suaka.

Setelahnya, UNHCR akan memberikan perlindungan dan mencarikan solusi jangka panjang dalam bentuk penempatan di negara lain yang berpotensi menerima pengungsi.

“Paling cepat dapat izin untuk menetap di negara lain itu setahun. Hal itu karena jumlah pengungsi yang minta suaka itu banyak sekali, dan UNHCR juga kelihatannya kurang orang untuk menangani itu semua,” kata Musa.

Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendapat izin perlindungan dari UNHCR membuat para pengungsi kerap hidup dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun di Indonesia. Oleh karena itu, banyak yang memilih untuk menyeberang secara langsung dengan menggunakan perahu ke Australia.

Para ‘manusia perahu’ tersebut berharap bisa diterima secara mudah di Australia. Salah satunya karena Australia telah menandatangani dan meratifikasi Konvensi PPB Tahun 1951 tentang pengungsi. Di sana, disebutkan bahwa penanda tangan konvensi harus menerima pencari suaka yang datang tanpa visa sekalipun.

Lebih lanjut, seseorang tidak dapat mengajukan status pengungsi ketika ia masih berada di negara asalnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa ‘manusia perahu’ yang datang menyeberangi lautan tidak bisa dianggap ilegal. Oleh karena itulah, sejak lama Australia telah menjadi target incaran para pencari suaka yang berharap dapat memulai hidup baru di sana.

Masalahnya, para pencari suaka kerap ‘diusir paksa’ angkatan laut Australia ke Indonesia. Oleh karena itu, mau tidak mau Indonesia jadi pihak yang menanggung hidup mereka.

“Australia di bawah kepemimpinan Abbott itu sangat hostile. Para pencari suaka itu bisa langsung diusir oleh kapal-kapal perang Australia. Pernah juga terjadi, otoritas Australia mengontak Badan SAR Nasional untuk menyerahkan nelayan Indonesia yang membawa perahu pengangkut imigran. Setelah itu, mereka mendorong para imigran ini hingga masuk ke laut dan segera pergi begitu saja. Mau tidak mau, Badan SAR Nasional akan menyelamatkan mereka dan membawanya ke Indonesia,” jelas Hikmahanto Juwana, pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia.

art-Abbott_Parliament-620x349

Tony Abbott, Sumber: http://www.smh.com.au

Namun setelah sampai di Indonesia, nyatanya para pencari suaka ini juga kerap mendapat tindakan semena-mena. Hasil riset Human Rights Watch pada Juni 2013 lalu bahkan juga mengungkapkan berbagai tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh para petugas imigrasi Indonesia.

“Entah orang dewasa ataupun anak kecil (yang mencari suaka) menggambarkan bagaimana para penjaga menendang, memukul dan menampar mereka atau tahanan lainnya. Beberapa bahkan melaporkan bahwa penjaga mengikat atau menyumpal para tahanan, memukulnya dengan tongkat, membakar mereka dengan rokok dan menggunakan alat kejut listrik pada mereka,” tulis Human Rights Watch dalam situs resminya.

“Bahkan saat UNHCR telah mengidentifikasi mereka sebagai pengungsi, pihak Indonesia kerap menolak untuk melepas mereka dari tempat tahanan, dan mereka pun dianggap tak berhak sama sekali untuk berada di negara tersebut.”

Hal senada juga diungkapkan Ali (26), imigran asal Afghanistan yang selama setahun terakhir telah menetap di Cisarua. “Saya suka dengan orang-orang di Indonesia, mereka ramah. Tapi saya benci dengan polisi Indonesia,” ujar Ali.

“Saya sempat beberapa kali ditangkap polisi Indonesia saat sedang berjalan-jalan sendirian. Saya sudah menunjukkan kartu identitas pencari suaka dari UNHCR, tapi mereka tidak peduli. Saya dianggap sebagai imigran gelap yang tinggal secara ilegal. Saat ditangkap, mereka kerap mengambil uang yang saya punya,” kata Ali lagi.

Ironis, ketika para pencari suaka mencoba kabur dari negaranya yang penuh konflik, mereka justru ditolak dan disiksa di mana-mana tanpa kejelasan akan nasib dan status. Bagai keluar dari mulut buaya untuk masuk ke kandang singa.

Namun, tak semua pencari suaka menyadari hal ini. Mereka tetap menganggap bahwa damai akan menyerta setibanya di negara tujuan seperti Australia. Kalau sudah begini, kedamaian macam apa yang sesungguhnya dicari, bila para pencarinya saja tak mengerti apa yang terjadi.

 

Baca juga Cisarua: Surga Para Imigran

NB: Tulisan yang sama juga dimuat di majalah Geo Times edisi 12 Mei 2014.

Cisarua: Surga Para Imigran

IMG_0738

Cisarua pada tengah hari/Viriya Paramita

Mustofa bingung bukan kepalang. Suatu malam, pembantu sang pemilik kontrakan datang mengetuk kamarnya. Ia memaksa masuk dan bersikeras mengajak Mustofa untuk berhubungan badan. Pria asal Afghanistan tersebut menolak dengan keras. Namun si pembantu justru menyebarkan isu bahwa dirinya hamil karena peristiwa malam itu. Sebagai orang asing yang bahasa Indonesianya saja belum lancar, Mustofa habis akal.

Untung saja saat itu Deden Supriatna (43), adik dari sang pemilik kontrakan, mencoba melerai. Sejak kedatangan Mustofa dan ibunya pada 2000 ke Cisarua, Deden memang sering bertukar obrolan dengannya. Deden bahkan juga mengajarkan Mustofa soal tata krama dan memperlancar penguasaan bahasa Indonesianya. Maka, saat kasus tersebut mencuat, ia tergerak untuk membantu sang kawan.

“Kejadiannya sudah berlangsung tiga bulan sebelumnya, baru si pembantu itu melapor. Teman saya ini, si Mustofa, bilang kalau dia tidak melakukan apa di malam itu. Lalu bagaimana caranya dia bisa hamil?” kata Deden. “Lucunya, bukannya perempuan diperkosa laki-laki. Ini justru laki-laki diperkosa perempuan.”

Akhirnya, Deden mengusulkan agar si pembantu melakukan tes urin di bidan terdekat. Awalnya perempuan tersebut menolak, tapi setelah dipaksa akhirnya barulah terkuak bahwa ucapannya tidak benar. Hasil tesnya negatif dan ia hanya ingin dinikahi oleh sang pria Afghanistan.

Kehadiran para pencari suaka asal Timur Tengah memang kerap menimbulkan gegar budaya bagi masyarakat Cisarua, Bogor.

“Orang imigran ini kerap dianggap ganteng-ganteng oleh masyarakat setempat. Mereka tidak bisa membedakan itu dari Pakistan, Afghanistan atau dari mana. Penduduk lokal jadi suka sama mereka dan agresif. Dari kacamata orang lokal mereka kelihatan keren. Karena itu mereka jadi sangat mudah mendapat wanita lokal,” ujar Heddy Shri Ahimsa-Putra, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada.

Musa (22), salah satu pencari suaka lainnya asal Pakistan juga mengungkapkan hal senada. Walau baru menetap di Jalan Hankam, Cisarua, selama kira-kira tiga bulan, ia telah mendengar berbagai cerita negatif soal pendatang asing di sana, khususnya yang berasal dari Afghanistan.

“Saya mendengar kabar kalau para pengungsi di daerah Bogor mau diusir karena berbagai kelakuan negatif para pengungsi dari Afghanistan. Entah benar atau tidak. Namun saya dengar memang para pengungsi dari Afghanistan kerap kedapatan minum-minum minuman keras serta membawa wanita ke tempat tinggalnya – walau sesungguhnya tidak semua seperti itu,” kata Musa.

Lebih lanjut, kendala bahasa juga menjadi penyebab sulitnya adaptasi berlangsung antara para pendatang asing dan masyarakat setempat. Banyak pencari suaka yang hanya bisa berbicara dengan bahasa ibunya. Bahasa Inggris saja tersendat-sendat, apalagi bahasa Indonesia.

Hal inilah yang dirasakan Asadullah (18), pencari suaka asal Afghanistan yang kini menetap di sebuah kontrakan di Jalan Ciburial, Cisarua. Asadullah tinggal di sana bersama empat orang rekan senegaranya. Saat ditanya soal alasannya datang ke Indonesia, ia hanya menjawab, “The war.”

Namun, ketika ditanya lebih lanjut soal perang yang dimaksud, ia bergumam, “I don’t know.” Entah karena kebingungan menjelaskan panjang lebar dengan bahasa Inggris pas-pasan atau ia malas mengingat kembali memori buruk yang terjadi di masa lalu.

Hanya sedikit kata dalam bahasa Indonesia yang dipahaminya. Ia hanya menguasai kata-kata yang umum digunakan dalam keseharian seperti “terima kasih,” “apa kabar” dan “kiri” yang digunakannya saat ingin turun dari angkutan umum.

Hal inilah yang mendorong Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) untuk mengadakan kelas bahasa Inggris di Cisarua. JRS sendiri pertama kali masuk ke Indonesia pada 14 November 1980. Selama ini mereka bertugas mendampingi dan membela hak para pengungsi yang ada di kamp pengungsian, kawasan perkotaan maupun di rumah-rumah detensi imigrasi.

Lebih lanjut, pelayanan JRS berkembang menjadi pendampingan para pencari suaka di rumah detensi imigrasi Medan (2009) dan Surabaya (2012) serta para pencari suaka di Cisarua (2010). Kelas bahasa Inggris di Cisarua, tepatnya di Hotel Kenanga, Cibubutan, dibuka agar para pengungsi tersebut bisa berkomunikasi serta beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Pengajarnya pun berasal dari para pencari suaka itu sendiri. Hal ini dilakukan juga untuk mengisi waktu bagi para pencari suaka yang dilarang bekerja atau mencari nafkah di Indonesia.

IMG_9966

Para imigran pengajar di kelas bahasa Inggris Jesuit Refugee Service (JRS), Cisarua/Felix Jody Kinarwan

Salah satu pengajar di sana adalah Ali (26) pengungsi asal Afghanistan. Ali telah pergi mencari suaka bersama kedua orangtuanya sejak ia berusia 5 tahun. Sejak itu, ia sempat berkeliling ke belasan negara, seperti Iran, Turki, Yunani, Perancis dan Norwegia. Ia sempat dideportasi ke Afghanistan sebelum menyeberang ke negara tetangga: Pakistan. Di sana, ayahnya terbunuh dalam perang pada 2002. Enam tahun kemudian, giliran ibunya yang dijemput ajal karena memang sudah uzur usianya.

Sejak itu, Ali berkelana sendirian. Ia sempat pergi ke Thailand, Malaysia dan Indonesia untuk melanjutkan misi mencari suaka. Pada pertengahan 2013 lalu Ali juga sempat menjadi manusia perahu. Ia membayar jasa agen – pria asal Afghanistan – sebesar 4.000 dollar AS untuk naik perahu bersama 54 orang lainnya untuk masuk ke Australia. Namun, bukan sejahtera, justru petaka menyambangi.

“Ada 55 pengungsi yang berdesakan di perahu itu. Kami berlayar selama 30 jam. Lalu setelah ada badai dan masalah teknis di perahu, sang kapten asal Indonesia bilang dia akan pergi mencari bantuan. Dia naik perahu kecil dan pergi begitu saja. Namun dia tidak pernah kembali,” ujar Ali.

Akhirnya, Ali dan para penumpang lain terombang-ambing selama kurang lebih 12 jam di atas perairan yang tak mereka kenal, tanpa kapten kapal. Mereka pun berusaha untuk mencari bantuan dengan menelepon Tim SAR Indonesia dan Australia. Untung saja Tim SAR Indonesia datang menyelamatkan dan membawa mereka ke tempat penampungan di Merak, Banten.

“Di tempat tahanan itu kita bisa hidup kalau punya uang banyak. Dalam satu hari, satu orang cuma diberi makan nasi sebanyak satu gelas teh. Kalau kita mau nambah porsi satu gelas teh lagi, kita harus bayar 25 ribu rupiah. Saya sempat coba meminta penjaga untuk membelikan rokok, tapi saya diminta membayar 100 ribu rupiah,” ujar Ali lagi.

Setelah sembilan hari, Ali akhirnya nekat kabur dari tempat tersebut dengan melompat dari jendela setinggi 15 meter. Kemudian, ia pun menetap di Cisarua hingga saat ini. Cisarua memang merupakan salah satu tempat berkumpulnya para pencari suaka di Indonesia. Umumnya mereka datang ke sini sebagai tempat transit sebelum menyeberang ke negara tujuan sebenarnya: Australia.

Cisarua, menjadi tempat ideal untuk menetap karena lingkungannya yang dianggap mendukung. Ada banyak sesama imigran yang tinggal di sana, cuacanya sejuk, dan biaya hidupnya cenderung lebih murah dibandingkan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta.

“Biasanya saya beli bahan makanan mentah dan memasaknya sendiri di rumah. Selain lebih murah, saya juga kurang suka makanan yang dimasak dengan terlalu banyak gula,” kata Musa yang harus membayar Rp 200.000,- per bulan untuk tinggal di kosannya.

Selain itu, hal lain yang menyulitkan para pendatang tersebut adalah larangan untuk bekerja atau membuka tempat usaha dengan status pengungsi yang mereka sandang. Mereka memang wajib melapor pada Badan Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) untuk didata dan diwawancara soal alasannya mencari suaka.

Maka, mereka hanya bisa mengandalkan kiriman uang dari kerabat atau saudara di negara asalnya untuk bertahan hidup sehari-hari. Beda halnya dengan pengungsi di bawah umur 18 tahun yang mendapat dana tunjangan dari UNHCR. “Kalau tidak salah para pengungsi anak-anak itu mendapat tunjangan sebesar Rp 800.000,- per bulannya,” ujar Musa kembali.

Hal ini akhirnya memancing kejenuhan dalam diri para imigran tersebut. Mereka tak bisa bekerja, padahal izin untuk mendapat perlindungan internasional dari UNHCR bisa turun tanpa kejelasan waktu, dari paling cepat satu tahun hingga waktu yang tak terbatas.

Ida Ruwaida Noor, sosiolog asal Universitas Indonesia, mengatakan bahwa pertemuan berbagai kelompok dengan latar belakang etnis atau negara berbeda di Cisarua akan menstimuli terjadinya adaptasi sosial. Persoalannya, daya adaptasi sosial masing-masing kelompok dipengaruhi oleh persepsi atau cara pandang mereka atas kelompok lain yang juga akhirnya memengaruhi pola interaksi yang terbangun.

“Awalnya, interaksi mereka lebih bersifat fungsional atau utilitarian, yakni pencari suaka mencari rumah tinggal sementara. Di lain pihak, penduduk lokal lebih melihat pencari suaka sebagai pendatang yang membawa benefit ekonomi. Apa lagi sumber ekonomi lokal kini semakin terbatas,” tutur Ida.

Namun dalam perkembangannya setelah para pencari suaka tinggal selama bertahun-tahun, maka interaksi yang ada berkembang menjadi relasi yang juga inheren dengan dimensi sosial, budaya dan bahkan politik. Di sinilah potensi terjadinya gesekan sosial muncul.

“Menurut saya, gesekan ini dimungkinkan karena pencari suaka semakin lama cenderung jadi pihak yang lebih dominan, karena uangnya telah menjadi sumber daya yang mampu mendominasi penduduk lokal. Bahkan bisa menikahi beberapa perempuan lokal, meski hanya sebatas nikah siri,” ujar Ida kembali.

Lebih lanjut, Ida dan Heddy sama-sama sepakat bahwa pemerintah harus melakukan sesuatu untuk mencegah membludaknya imigran asing di Indonesia. Menurut Heddy, bila terus dibiarkan begitu saja, berbagai masalah akan muncul, dari skala lokal hingga internasional.

“Hal ini bisa menunjukan citra yang salah soal Indonesia di mata dunia internasional. Karena, jadinya seakan-akan pihak imigrasi kita mudah sekali kebobolan,” ujar Heddy.

 

Baca juga Pencari Suaka: Mengapa Mereka Hijrah

NB: Tulisan yang sama juga dimuat di majalah Geo Times edisi 12 Mei 2014.

Hidup di Metropolitan: Tak Kenal, Tak Sayang

209624_macet-akibat-pedagang-kaki-lima-berjualan-di-jalan-kebon-jati--tanah-abang

Sumber: ntmc-korlantaspolri.blogspot.com

“Orang Batak itu kalau manggil orang lain memang keras dan galak, tapi saat orang yang dipanggil datang kita bisa pijati dia. Kalau orang Jawa manggil orang lain halus, tapi saat sudah datang kita malah bisa ditusuk sama mereka.”

Itulah guyonan yang telah didengar Ronal Gorba Timothy (24), IT programmer, sejak ia kecil. Stereotip akan suku Jawa di mata orang Batak memang cenderung negatif. Halus di depan, tapi bisa menusuk secara perlahan.

Seumur hidupnya, Ronal tinggal di Komplek Tangkas Permai, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Lingkungan yang ada di sana memang kental dengan asupan budaya dan kultur suku Batak. Bahkan, orang-orang sekitar lebih akrab menyebut daerah tersebut sebagai Komplek Batak.

Di sana, Ronal sudah terbiasa melihat tetangganya memasak anjing sebagai panganan ataupun mendengar suara bapak-bapak bertukar obrolan seru hingga subuh dini hari sembari bermain billiar dan minum tuak. Saat sedang berkumpul seperti itulah guyonan akan orang dari suku lain terlontar berdasarkan stereotip yang melekat sejak lama.

“Kalau orang Manado beda lagi. Kita biasanya menganggap orang Manado itu kalau di depan suka banyak bergaya, pakai baju bagus, nampang sana-sini, tapi di rumahnya nasi saja enggak ada, mau makan juga enggak bisa,” ujar Ronal kembali.

Stereotip yang ada pun biasanya menjurus ke ranah profesi yang menjadi identik dengan satu suku tertentu. Misalkan saja suku Padang yang di mata Ronal identik dengan pedagang baju dan tekstil.

Rully Arianto (28), pedagang tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengamini hal tersebut. Menurutnya, garis profesi sebagai pedagang merupakan warisan dari nenek moyang yang akhirnya diterima secara turun temurun oleh dirinya dan keluarga yang aslinya memang berasal dari Padang.

“Awalnya orangtua saya berdagang tekstil dan gorden. Lalu kira-kira pada 1995 mereka banting setir ke arah pakaian jadi. Selepas 1998, kita coba lagi berjualan di bidang yang berbeda, seperti sprei atau bedcover,” ujar Rully yang kini juga berjualan baju koko dan batik di Blok F Tanah Abang.

Sementara itu, di mata Rully justru orang Batak identik dengan pekerjaan seperti tambal ban dan sopir. Rully sendiri banyak melihat orang Batak yang bekerja di dua ranah profesi tersebut di sekitar kawasan Senen.

“Di sana juga banyak orang Batak yang buka usaha makanan ya. Mungkin karena banyak orang Batak yang tinggal di sana,” kata pria berkacamata tersebut.

Stereotip orang Batak sebagai pekerja kasar di Jakarta tidak sepenuhnya salah. Bahkan Ronal mengakui bahwa di Komplek Batak tempatnya berdomisili, banyak tetangganya yang bekerja sebagai sopir.

“Kira-kira di perumahan ini ada 100 kepala keluarga. Ya kebanyakan memang di sini orang kerjanya jadi sopir, entah sopir angkot, sopir taksi, kenek atau sopir metromini,” kata Ronal kembali.

Sementara itu untuk kalangan menengah ke atas, suku Batak lebih identik dengan profesi sebagai pengacara.

“Makanya orang Batak itu dibilangnya pintar ngomong, karena banyak yang jadi pengacara. Bisa dibilang, orang Batak itu kebagi menjadi dua: ada pengacara, sama ada orang yang butuh pengacara (kriminal),” seloroh Ronal.

Di sisi lain, Ronal dan Rully sama-sama sepakat bahwa orang Cina adalah pedagang yang bergerak secara dominan di berbagai bidang, misalkan elektronik, tekstil dan bahan bangunan.

Cynthia Puspita Ningsih (20), mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) keturunan Cina-Pontianak, setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, banyak keluarga atau kerabatnya dari Pontianak yang bergerak di usaha bahan bangunan dan baju.

“Banyak Cina-Pontianak di Jakarta yang buka usaha makanan dan bahan bangunan. Yang jualan baju juga banyak. Kalau saudara saya ada yang buka toko baju di Tanah Abang, Cengkareng dan nanti mau buka toko baru di Bekasi,” ujar Cynthia.

Para perantau yang datang dari berbagai pelosok di Indonesia ke ibukota. Di sana, mereka mengadu nasib berlomba mendapat penghasilan dan penghidupan yang lebih baik. Untuk itu, sebagai modal awal biasanya mereka menumpang hidup dan bekerja di tempat saudara atau kerabat yang telah terlebih dahulu mencicipi sukses.

“Itu memang benar. Ada saudara saya yang sudah sukses di Jakarta, lalu mengajak saudara-saudara yang lain untuk datang ke sini dan kerja di tokonya,” kata Cynthia lagi.

Bahkan, Ronal pun mengakui bahwa Komplek Batak tempatnya tinggal awalnya tidak sebesar itu. Seiring berjalannya waktu, jumlah orang Batak di komplek tersebut semakin banyak karena banyak kerabat yang datang untuk mengadu nasib di Jakarta. Ada yang sukses, ada pula yang menyerah dan akhirnya kembali ke kampung halamannya di Medan.

Lebih lanjut, stereotip antarsuku lainnya yang ada di kota besar seperti Jakarta begitu beragam. Misalkan orang Sunda yang dianggap fasih menjalankan usaha kuliner, orang Madura yang banyak bergerak di bidang jual-beli rongsokan atau besi bekas dan orang Flores yang banyak bekerja sebagai bodyguard, debt collector atau satpam.

Selain itu, orang Jawa dengan populasi terbesar di tanah air kerap mengisi jabatan di birokrasi pemerintahan pusat. Lain halnya dengan orang Betawi yang identik sebagai tuan tanah di Jakarta karena dianggap sebagai orang asli di sana. Hal ini disepakati oleh Ronal, Rully dan juga Cynthia.

Menurut Nosa Normanda (28), dosen antropologi dan sosiologi Binus International, stereotip itu hadir semakin besar ketika kita berada dalam kehidupan multikultur di kota-kota besar, contohnya Jakarta.

“Hal itu muncul karena ada kecendrungan seseorang untuk berkumpul bersama kawanannya saja karena kita merasa aman di situ. Sementara kita cuma tahu sedikit soal kawanan lain dan akhirnya kita beri stereotip. Hal itu justru memancing etnosentrisme suku tumbuh semakin besar. Itu manusiawi sekali,” ujar Nosa.

Semakin kita tidak tahu, atau semakin sedikit referensi kita akan sebuah suku, akan semakin besar pula stereotip yang muncul. Masih menurut Nosa, hal itu terjadi karena manusia adalah makhluk sosial yang judgmental sehingga kerap mudah memberi asumsi.

Lalu, akhirnya akulturasi akan terjadi antara para pendatang minoritas dengan kebudayaan masyarakat dominan tempat ia tinggal dan berdomisili.

“Misalnya saja di Bogor, orang Sumatera yang kerja sebagai sopir angkot akhirnya fasih bicara bahasa Sunda karena kebudayaan dominan yang ada di sana adalah Sunda,” ujar Nosa lagi.

Namun, stereotip etnis tersebut berpotensi pula meminggirkan kaum minoritas dalam sebuah budaya multikultur. Nosa pun menjelaskan bahwa ketakutan atau prasangka buruk sebuah suku akhirnya membuat mereka enggan untuk mencari tahu perihal sebuah suku bersangkutan. Hal ini kemudian membuat stereotip yang ada semakin besar dan yang minoritas menjadi terus terkucilkan.

“Misalnya saja kaum gay, banyak orang tidak tahu banyak tentang gay dan akhirnya jadi homophobic terhadap mereka. Ketakutan yang ada pada gay membuat ia jadi tidak ingin tahu. Semakin tidak ingin tahu semakin besar pula stereotipnya. Karena, ketakutan itu seperti ruang kosong di kepala kita yang kita isi terus dengan asumsi dan imaji. Seakan kita tahu banyak, padahal kita tak tahu apa-apa,” ujar Nosa.

Lebih jauh, stereotip ini juga terbentuk semakin kuat karena peran media massa selama ini. Pemberitaan yang kental unsur stereotipnya dianggap Nosa mendorong masyarakat semakin terkotak dan eksklusif.

“Misalnya saja pemberitaan soal Kampung Ambon (di Cengkareng, Jakarta Barat). Pemberitaan soal mereka di media terus menekan masyarakat di sana dan menciptakan stereotip kuat bahwa penduduk di sana memang pengedar narkoba. Hal itu membuat warga yang KTP-nya berasal dari Kampung Ambon kesulitan untuk mendapat pekerjaan di tempat lain. Akhirnya mereka cuma bisa bekerja sebagai pengedar narkoba di sana,” ujar Nosa.

Penelitian soal stereotip etnis sendiri sesungguhnya telah dilakukan sejak puluhan tahun lamanya. Salah satunya adalah disertasi “Stereotip Etnik di Dalam Suatu Bangsa Multietnik” karya Suwarsih Warnaen asal Universitas Indonesia (UI) pada 1979 lalu.

Stereotip etnis di dalam penelitian tersebut didefinisikan sebagai kepercayaan yang dianut bersama oleh berbagai golongan etnis, termasuk golongan mereka sendiri. Di sana, stereotip termasuk golongan kepercayaan dan dianut bersama oleh suatu golongan etnis yang disebut sebagai konsensus.

Konsensus tentang kepercayaan itu sendiri mengandung realitas. Sehingga, stereotip etnis sebagai konsensus kepercayaan menjadi relevan dengan masalah sosial. Menurut Nosa, salah satu masalah sosial yang timbul adalah asumsi yang mengkotak-kotakkan bahwa satu suku telah menguasai satu bidang ekonomi tertentu.

“Masalah awalnya ya dari situ, satu etnis dominan yang membuat jaringan di sini (Jakarta). Namun, sekarang kenyataannya sudah tidak seperti itu. Tidak semua orang Padang bekerja sebagai pedagang, dan tidak semua orang Jawa tidak bisa dagang,” kata Nosa.

Oleh karena itu, stereotip harus kita lepaskan dengan menambah referensi dan kemauan untuk membuka diri pada suku lain. Stereotip, jangan sampai menutup mata dan mempersempit pergaulan kita dalam keseharian.

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 28 April 2014.

Erros Djarot: Karya, Identitas dan Tuhan

EVENT-ILLUSTRATION-ED-FUULL

Sumber: whateverworkshop.co

Erros Djarot sedang tak bisa diganggu. Usai membeli sekitar 80-90 kaset musik tanah air dari berbagai genre, ia mengunci diri di kamar selama dua bulan lamanya. Ia dengarkan setiap lagu yang ada sembari mencari wilayah yang belum tersentuh industri musik Indonesia kala itu. Untuk itu, ia harus bangun terlalu cepat dan tidur terlampau larut. Selalu seperti itu setiap harinya.

Setelah menemukan wilayah tersebut, Erros meletakkan fokus karyanya di sana. Setiap lagu yang ia buat dimaksimalkan dengan lirik dan balutan nada yang jarang atau bahkan tak pernah mengalun di telinga penikmat musik lokal di masa itu.

Alhasil, kerja kerasnya berbuah manis. Selama ‘pengasingan diri’, Erros sukses mencipta delapan lagu yang beberapa di antaranya dikerjakan bersama Debby Nasution. Lagu-lagu itu digunakan sebagai soundtrack film Badai Pasti Berlalu pada 1977, yang akhirnya laris di pasaran dan menjadi magnet pelbagai penghargaan.

Riset mendalam yang dilakukan Erros berhasil membuat namanya mencuat dengan lagu-lagu gubahannya. Tak pelak, jalannya di industri musik terbuka lebar sejak itu, ketika Erros baru menginjak usia 26 tahun. Namun, perkenalannya dengan dunia tarik suara terjadi karena desakan kondisi beberapa tahun sebelumnya.

Pada 1969, Erros berangkat ke Jerman untuk mengambil kuliah Teknik Industri di Universitas Fachhochschule, Köln. Karena desakan ekonomi, ia pun banyak mengambil kerja sampingan untuk mendapatkan uang tambahan. Hal itulah yang akhirnya mendorong Erros untuk manggung di berbagai kelab malam Jerman bersama rekan-rekan sesama mahasiswa.

“Saya nguli apa saja saat itu, dari kerja di restoran sampai mengeruk salju. Karena lapar saya jadi nekat, apa saja saya lakukan, asal enggak jadi maling. Akhirnya pada 1971, saya diajak teman-teman untuk bermusik. Waktu itu nama bandnya Kopfjaeger. Ternyata hasil sekali main bisa untuk menghidupi diri selama dua minggu,” tutur Erros sembari tertawa lebar.

Dengan aktor kawakan asal Amerika Serikat, Frank Latimore, sebagai produser, Kopfjaeger terus bermain dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan dengan koneksi Frank, mereka kerap mendapat panggilan tampil di camp tentara AS di Jerman. Erros sendiri kebagian peran bermain gitar dan bernyanyi, hal yang ia rasa nekat karena kala itu ia belum lancar berbahasa Inggris.

Bahkan, Erros sempat memiliki acara sendiri bertajuk Satu Jam Bersama Erros Djarot setiap Rabu malam di La Café, Neumarkt, Köln. “Modalnya nekat saja, suara saya padahal enggak jelas, tapi ya saya nyanyi saja. Tanya saja rekan-rekan yang sempat bersekolah di Jerman sekitar 1970-1975, pasti tahu siapa saya,” seloroh Erros.

Pada 1975, barulah Erros kembali ke Indonesia untuk menghabiskan waktu liburannya. Saat itu ia menciptakan Barong’s Band yang bergenre classic rock bersama dengan Debby Nasution, Darmadi Epot, Tri Anggono dan lainnya.

“Saat itu kita ingin menonjolkan bahasa Indonesia dengan medium lagu classic rock. Kita ingin menghapus anggapan bahwa anak-anak band itu suka mabuk dan menggunakan narkoba. Kita buktikan bahwa Barong’s Band tidak seperti itu dan ternyata bisa,” tegas Erros.

Kemudian, Erros kembali ke Jerman pada 1976 untuk melanjutkan studinya. Lalu ia mendapatkan beasiswa dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk bersekolah di London Film School, Inggris pada 1977-1980, sebelum akhirnya Erros pulang ke tanah air.

Di awal waktunya menetap di Inggris, Erros menyaksikan langsung revolusi punk-rock yang terjadi di sana. Ia pun melihat sendiri awal mencuatnya band-band legendaris seperti Sex Pistols, The Clash dan The Damned. Hal itu akhirnya membuka pandangan mata Erros lebih jauh soal musik.

Di Indonesia, pria kelahiran Rangkasbitung ini akhirnya lebih banyak dikenal sebagai spesialis pencipta soundtrack film. Karyanya muncul dalam film-film seperti Kawin Lari (1976), Badai Pasti Berlalu (1977), Usia 18 (1981), Ponirah Terpidana (1984) dan Secangkir Kopi Pahit (1986).

Film Badai Pasti Berlalu sendiri berhasil memenangkan Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 1978 untuk kategori editing suara dan musik. Pada perhelatan yang sama setahun berselang, film itu juga berhasil meraih Piala Antemas sebagai film terlaris 1978-1979. Erros berujar bahwa kunci suksesnya ketika itu adalah riset mendalam sebelum menelurkan sebuah karya.

“Musik kalau mau bagus harus menggunakan riset. Sekarang kan enggak, orang-orang tinggal dengar dan mencontek dari luar. Jadi, tidak ada proses pengendapan di situ,” kata Erros yang kini telah berusia 63 tahun.

“Ya waktu itu juga saya kan masih muda, 26 tahun, masih liar cintanya. Jadi lagu ‘Badai Pasti Berlalu’ itu terinspirasi oleh wanita-wanita cantik. Sok tahu saja saya waktu itu bikin lirik. Sekarang kalau saya tengok lagi ke belakang, nekat sekali saya itu dulu. Sok tahu banget.”

Selain musik, Erros juga pernah menelurkan karya-karya besar di dunia film. Ia melakoni debut sebagai sutradara pada 1988 dalam film Tjoet Nja’ Dhien yang berhasil meraih sembilan Piala Citra. Erros bahkan meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik di ajang yang sama.

Padahal, awalnya Erros enggan untuk memasuki ranah film sebelum mendapat restu langsung dari sang kakak, Slamet Rahardjo. “Saya enggak mau saingan sama kakak saya sendiri. Saya cinta film, tapi saya lebih cinta sama kakak saya,” ujar Erros lagi.

Namun, kesuksesan yang sama urung terulang saat Erros memproduksi film Lastri pada 2008 lampau. Produksi film tersebut terus mendapat cekalan dan harus berganti tempat shooting beberapa kali karenanya.

“Katanya film itu menyebarkan ajaran komunis, makanya dibubarkan oleh tentara. Saya sempat coba shooting di Jogja dan Sukabumi, tapi terus dihentikan tentara. Padahal itu bercerita soal percintaan anak GMNI dan tidak ada adegan kekerasan. Itu berarti masih ada orang-orang picik di Indonesia ini,” ujar Erros.

Menyikapi hal ini, Erros tidak merasa inferior karena ia selalu berserah diri pada Tuhan. Oleh karena itu, ia tidak pernah merasa sendiri dan percaya bahwa Tuhan selalu menunjukkan jalan baginya. Yang utama bagi Erros adalah selalu bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga dalam setiap pilihan tindakannya.

Setelah sekian lama berkarya di berbagai bidang – dari musik, film dan politik – berbagai pihak bekerja sama untuk memberi apresiasi lebih bagi perjalanan karir Erros selama ini. Konser bertajuk 40 Tahun Erros Djarot Berkarya digelar di Plenary Hall JCC, Senayan, Jakarta pada 14 Februari 2014. Angka 40 sendiri dihitung sejak 1974, ketika pertama kali Erros membuat konsep Barong’s Band.

Berbagai musisi lintas generasi hadir meramaikan konser tersebut seperti Erwin Gutawa sebagai arranger, Jay Subiakto sebagai art director dan Mira Lesmana sebagai script director. Di sana, The SIGIT pun akan membawakan salah satu lagu Barong’s Band. Iwan Fals juga ditampuk untuk membawakan dua lagu karya Erros yang belum pernah dipublikasi selama ini.

“Satu lagu yang dinyanyikan Iwan itu soal bencana, dan yang satu lagi soal pemilu. Selain itu, saya juga diminta untuk membuat satu lagu baru yang akan dibawakan di konser tersebut,” tutur Erros dua minggu sebelum konser berlangsung.

“Belum lama ini anak-anak The SIGIT datang ke saya untuk tanya soal lagu yang akan mereka bawakan tersebut. Saya bilang terserah mereka saja, mau diapakan juga silakan. Biar jadi kejutan buat saya.”

Namun, kini Erros merasa belum puas dan ingin terus berkarya. Ia bahkan telah mempersiapkan tiga skenario film untuk digarap. Pertama, soal keluarga-keluarga Cina di Indonesia dengan tujuh watak karakter berbeda. Kedua, tentang reformasi dan yang terakhir tentang ironi kisah perang.

Erros juga merasa rindu untuk bermusik kembali bersama kawan-kawan lamanya. Ia mengaku ingin memainkan musik rock lagi sembari bereuni. Di usianya yang sudah senja, Erros memang masih terus bersemangat dalam berkarya. Sayangnya, ruh dan rasa dalam karya yang mendorongnya selama ini tidak lagi bisa ia temukan di generasi muda bangsa.

“Musik Indonesia saat ini secara kuantitas bagus, skill-nya juga luar biasa. Tapi ruh dan sukmanya seakan sudah hilang. Semua bernyanyi mengikuti artis-artis dari Barat. Seakan, ada hambatan budaya dalam mendengar dan menerjemahkan sebuah karya karena akar lokal kita sudah dimatikan semua,” sesal Erros.

Untuk membawa perubahan ke arah positif, Erros berharap agar masyarakat bisa lebih mandiri memperjuangkan dirinya. Selain itu, etos kerja yang tinggi juga harus selalu tertanam sebagai fondasi.

“Saya mau ngapain saja yang penting lakukan yang terbaik, lalu sebarkan cinta terhadap Indonesia dan terhadap sesama manusia. Enggak usah terlalu ngoyo jadinya,” pesan Erros.

Erros juga berharap agar kita bisa menemukan kembali karakter dan identitas bangsa. “Karena orang yang enggak tahu siapa dirinya, enggak akan bisa mengembangkan dirinya.”

 

NB: Liputan ini dilakukan untuk majalah Geo Times pada Februari 2014.

Melela, Mereka Ingin Diakui

140606-gay-marriage-flag-jsw-430p_0d16f2c44b9fcf7f91c8188822900053

Ilustrasi pernikahan gay/secularpolicyinstitute.net

Riuh. Suara house music mendominasi, mendebarkan dada. Malam belum mencapai puncaknya. Baru pukul 10. Dua panggung, salah satunya tertutup tirai masih lenggang tapi pengunjung semakin banyak berdatangan. Sebagian terlihat mengelilingi bar berbentuk elips. Sebagian bercengkerama di beberapa sudut.

Semakin malam, semakin banyak pengunjung yang datang. Sebagian besar datang dengan pasangan masing-masing: sesama laki-laki. Itulah suasana Apollo Club, klub malam khusus untuk kaum gay di Jakarta. Dandanan mereka aneka rupa.

Ada yang mengenakan high heels dengan lagak gemulai, ada yang mengenakan celana pendek selutut. Seorang remaja kurus terlihat berkemeja loreng dengan kacamata besar di wajahnya. Ada pria paruh baya berkemeja putih, mengenakan newsboy cap di jidatnya.

Mereka semua larut dengan alunan house music. Seorang laki-laki yang wajahnya tampak sudah tidak muda lagi, terlihat berkeliling ruangan. Dia menyapa banyak pengunjung. Pada satu kesempatan, dia bahkan terlihat mesra dengan seseorang pria: berpelukan dan berciuman.

Suasana mulai panas, ketika tirai di salah satu panggung mulai dibuka. Seorang pria dengan dress pendek berwarna merah muncul dari balik tirai. Dia mengenakan sepatu berhak tinggi. Pengunjung semakin bersorak sewaktu pria itu menyanyikan lagu “Girl on Fire” dari Alicia Keys; tentu saja secara lip sync. Sambil terus “bernyanyi”, dia melangkah dari panggung bertirai ke panggung di depannya; dan tampaknya agar bisa dilihat dari dekat oleh pengunjung.

Bergiliran pria-pria lain tampil di panggung sesudahnya. Mereka juga bernyanyi secara lip sync. Dua orang pria yang mengenakan baju sporty bernuansa merah menirukan lagu Pink yang berjudul “Perfect”. Ketika lagu selesai diputar, dua laki-laki itu menarik dua pengunjung ke atas panggung. Masing-masing pengunjung itu dipeluk, lalu mereka pun berciuman di atas panggung. Lewat tengah malam, muncul pria berkepala plontos dan brewok yang mengenakan dress hitam.

Ketika dia “bernyanyi” lagu Beyonce “If I Were a Boy”, suara pengunjung semakin riuh termasuk Yoga. Laki-laki berusia 19 tahun itu, baru dua kali berkunjung ke Apollo. Dia datang bersama pasangannya. Tak seperti pasangan lain yang berdansa, Yoga dan pasangannya hanya duduk dan minum bir. “Seru ngumpul sama teman-teman di sini,” katanya.

Di Apollo, bukan hanya pasangan gay lokal seperti Yoga yang datang. Di beberapa sudut terlihat beberapa bule termasuk Craig Howard. Umurnya 47 tahun. Dia mengaku berasal dari California, Amerika Serikat dan sudah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis. Setiap kali ke Jakarta, dia menyempatkan diri datang ke Apollo. “Saya hanya menikmati suasana,” katanya.

Di tengah lautan pasangan gay yang berkerumun dan berdansa, Craig yang duduk sendirian memang terlihat aneh. “Saya baru putus dengan pacar saya enam bulan lalu. Ke sini, saya mencoba mencari pasangan baru,” kata laki-laki dengan jambang tipis itu.

Bagi orang semacam Craig, Yoga dan pasangan gay lain; Apollo Club yang terletak di Bellagio Mall, Mega Kuningan, Jakarta tentulah semacam oase. Mungkin juga tempat pelarian. Di sana, mereka bisa melepaskan ekspresi tanpa harus takut dimaki dan dihujat oleh arus besar masyarakat yang sejauh ini cenderung menganggap mereka sebagai kaum pembawa petaka dan perlaya, dan karena itu harus dijauhi dan dilaknat.

Faktanya menjadi gay atau lesbian di banyak tempat termasuk di Indonesia memang tak mudah, bahkan sulit. Bukan saja tak bisa mengekspresikan perasaan mereka di tempat umum seperti halnya pasangan pria-wanita, tapi kehadiran mereka seringkali juga ditolak secara sosial.

Tahun lalu, Dede Oetomo, dosen Universitas Airlangga, Surabaya ditolak sebagai komisioner Komnas HAM hanya karena dia seorang gay. Dia pendiri GAYa Nusantara, organisasi gay di Surabaya; yang selama ini terang-terangan mengaku sebagai gay. Bagi dia, tidak ada yang salah untuk bangga dengan sesuatu yang berbeda, termasuk menjadi gay itu. Dede beberapa kali berusaha melawan arus, antara lain bergabung dengan beberapa organisasi, misalnya Majelis Amanat Rakyat yang dibentuk Amien Rais di awal reformasi, dan mendaftarkan diri sebagai komisioner Komnas HAM.

Perlawanan paling menyolok yang pernah dilakukan pasangan gay atau lesbian di Indonesia terjadi pada pertengahan April 1981. Media waktu itu ramai memberitakan perkawinan pasangan lesbian di sebuah klub di Blok M, Jakarta. Di buku The Gay Archipelago, Sexuality and Nation in Indonesia, pengamat kaum homoseksual Tom Boellstorff memuji pasangan lesbian yang menikah itu, dan menobatkannya sebagai pejuang hak-hak lesbian.

Cara lain ditempuh oleh Rio Damar, eks wartawan. Dia membuat situs melela.org. Itu situs untuk berbagi pengalaman bagi kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender atau yang biasa disingkat menjadi LGBT. Situs itu dibuat Rio setelah ia mewawancarai banyak gay, lesbian dan sebagainya; dan mendengarkan kisah mereka.

“Saya membentuk melela.org bukan sebagai media perjuangan kaum LGBT karena ketika berbicara soal perjuangan, berarti ada yang harus dilawan dan akan ada yang menang atau kalah. Situs ini hanya bukti bahwa di Indonesia ada kok orang-orang yang berpikiran terbuka dan bisa menerima keberagaman,” kata Rio.

Nama “melela” diambil dari buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, “melela” berarti memperagakan diri. Menurut pandangan Rio, “melela” adalah menunjukkan diri secara elok. “Saya berharap orang-orang seperti saya tidak dianggap sebagai orang sakit atau harus disembuhkan,” ujar Rio.

Sebagai gay, Rio mengaku memiliki pacar dan dia bersyukur karena teman-teman dan keluarganya bisa menerima dirinya apa adanya. Bahkan yang memberikan semangat untuk membuat melela.org, menurut Rio adalah teman-temannya di luar LGBT.

Sejak dibuat pada September tahun lalu, situs yang memuat kisah-kisah pengakuan – atau biasa disebut coming out – para LGBT itu mendapat banyak tanggapan beragam dari khalayak. Awal Desember 2013, melela.org bahkan sempat crash karena terlalu banyak pengunjung yang membukanya.

“Bagi saya, keberadaan melela.org penting sekali buat komunitas (LGBT), karena Rio fokus pada coming out. Itu titik kritis kehidupan seorang homoseksual, karena dia mengakui pada diri sendiri dan orang lain soal orientasi seksualnya,” kata Rizal Iwan, salah satu sumber yang ceritanya muncul di melela.org.

Rio mengibaratkan coming out mirip dengan orang yang menabung untuk suatu keperluan. Dalam konteks coming out, tabungan itu adalah keberanian. Bila itu terjadi, kata dia, semua akan melegakan, terlebih bila teman-teman atau keluarga kemudian juga bisa menerima.

Dia berharap, setiap orang yang membaca artikel di melela.org bisa tersentuh untuk menerima keberagaman. Setidaknya agar orang-orang LGBT tak lagi dilaknat dan dikutuk, lalu hanya berkumpul di suatu tempat seperti di Apollo Club itu.

***

Selain Rizal, ada pula Paramita Mohamad, salah satu sumber cerita di melela.org. Ia bahkan mengatakan, halangan terbesar bagi seorang LGBT di Indonesia adalah orangtua yang berprasangka.

“Setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri. Artinya orangtua juga bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka. Anak tidak perlu mengambil alih tanggung jawab itu dengan cara hidup dalam kepura-puraan atau ketidakjujuran, mengorbankan kesehatan mentalnya sendiri,” tutur perempuan yang akrab disapa Mita tersebut.

Mita merasa akan lebih baik bagi insan LGBT untuk bersikap secara independen, dan jangan sampai hal tersebut disalahartikan sebagai bentuk durhaka pada orangtua.

“Apakah ini artinya durhaka? Menurut saya, tragis sekali kalau durhaka diterjemahkan menjadi ‘tidak bersedia hidup atau bertingkah laku sesuai harapan orang tua’. Sudah waktunya kita bicara lebih rasional tentang apa makna durhaka,” ujar Mita.

Lebih lanjut, Mita pun mengakui bahwa coming out kerap kental dengan aroma politis.

“Buat saya, coming out adalah urusan pragmatis. Pertama, buat urusan logistik dan kedua demi kesehatan mental. Saya juga paham dengan pandangan yang mengatakan bahwa coming out adalah isu politis. Yang pasti, bahwa saya jadi sering diwawancara media semata-mata karena saya sudah come-out sebetulnya mengenaskan,” kata Mita yang saat ini bergelut di bidang periklanan.

Namun, ia juga sadar bahwa coming out tidak mudah untuk dilakukan. Bahkan, banyak insan LGBT yang belum berani terbuka dengan keluarga atau kerabat terdekatnya sendiri hingga saat ini.

“Untuk mereka yang masih takut durhaka, atau dibuang oleh orangtua, ambil nafas panjang. Saat ini jalan kelihatannya gelap dan berliku, tapi percayalah, kamu tidak sendirian. Saya tidak akan bilang bahwa semuanya akan jadi mudah, tapi kamu tidak sendirian. Ada banyak orang, straight atau bukan, yang akan bersamamu, membantu kamu. Kejujuran ini akan sepadan. Semuanya akan jadi lebih baik,” tegas Mita.

“Untuk mereka yang sudah dewasa tapi takut reputasinya ternoda dan rejekinya terputus (karena coming out): Anda bercanda ya?”

Lebih jauh, Mita merasa bahwa kehidupan LGBT di Indonesia akan jauh lebih terbantu bila muncul berbagai organisasi yang berkaitan.

“Saya rasa kaum LGBT akan terbantu jika di Indonesia ada organisasi kuat semacam PFLAG (Parents and Friends of Lesbian and Gay) atau aliansi straight-LGBT lainnya. Orangtua, keluarga, dan teman baik mungkin bisa belajar dari orangtua dan teman lain bahwa punya anak atau teman LGBT itu bukan malapetaka, LGBT bukan penyakit apalagi menular, dan sebagainya,” jelas Mita.

Namun, kemunculan organisasi-organisasi tersebut harus dibarengi dengan koordinasi yang memadai sehingga dapat menyentuh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

“Untuk urusan publik, resepnya di mana-mana sama. Organisasi minoritas akhirnya akan bisa mengalahkan perlawanan dari mayoritas dengan berserikat. Kalau sudah berserikat, kegiatannya harus diorganisasikan dengan baik. Selain itu, kita belajar dari Amerika Serikat bahwa jika kita bisa membingkai kesetaraan LGBT sebagai mempertahankan nilai-nilai keluarga (family values), maka tujuan lebih mudah diraih,” kata Mita.

 

NB: Liputan ini dilakukan untuk majalah Geo Times pada Januari 2014.

Maut dan Yang Berisik Setelahnya

IMG_0043

Komplek pemakaman San Diego Hills/As Safa Prasodjo

Seharusnya siang itu cukup terik. Tengah hari dan matahari sedang pongah-pongahnya. Namun, rindangnya pohon dan hijaunya rerumputan di sekitar komplek pemakaman cukup meredam produksi peluh berlebih. Tiga dari empat prosesi pemakaman yang akan berlangsung hari itu telah selesai dikerjakan. Sembari menunggu panggilan terakhir pada pukul 1 siang, tim pemakaman San Diego Hills, Karawang Barat, bergegas mengisi perut selagi sempat.

Para awak berbaju biru segera berjalan menuju komplek pemakaman umat Islam bernama Charity, mendahului beberapa rekannya yang masih sibuk mengangkut tenda bekas para pelayat berteduh sebelumnya. Melewati sebuah parkiran mobil di ujung taman, mereka menuruni undakan di pinggir jalan menuju satu-satunya warung nasi yang terjangkau kantong dalam radius sekitar 500 hektar – luas komplek pemakaman tersebut.

Letak warung tersebut cukup tersembunyi. Sedikit celah di antara pepohonan tinggi membuka jalan menuju tempat tersebut. Jalan yang ada juga tak rata, penuh bebatuan, menurun dan licin akibat hujan yang mengguyur beberapa jam lalu. Bila tak memperhatikan secara saksama, kita urung bisa menyadari keberadaan tempat makan itu.

Namun, di sanalah pusat obrolan terjadi. Para pekerja makam singgah ke sana untuk sekadar melepas lelah, mengisap rokok ataupun bertukar kabar. Sesuatu yang jarang bisa mereka lakukan justru di tempat terbuka dalam komplek tersebut. Saat memasuki warung, bahasa Sunda begitu ramai berseliweran di udara.

Warung tersebut hanya seluas setengah ukuran lapangan futsal. Kayu menjadi fondasi utama bangunan dengan rangka bambu dan tripleks sebagai penutupnya. Meja-meja panjang berjejeran di sekeliling, berdiri langsung di atas tanah kering yang tak rata. Suasananya kontras dengan beberapa makam megah di luar yang berukuran sama. Tembok batu dan rumput hijau hanya ada bagi para jenazah, bukan para pekerja makam seperti mereka.

Entin, wanita paruh baya penjaga warung tersebut terlihat sibuk melayani para pelanggan. Ia membuat kopi, memberi kembalian uang dan mengambilkan rokok pesanan dengan sigap. Wajar, warungnya telah berdiri sejak awal dibukanya komplek pemakaman pada 2007 silam. Tempat tersebut pun juga berfungsi sebagai rumah untuknya. Maka ketika pihak San Diego Hills berencana untuk membeli tanah tempatnya berdagang tersebut, banyak pihak yang mengeluh.

“Pada bingung nanti mau makan di mana kalau warung saya enggak ada. Makanya saya rencananya mau tanya (pihak San Diego Hills), boleh enggak nyewa tempat di sini buat jualan makanan nanti,” ujar Entin.

Syahdan, sekitar pukul 12.30 masuklah Jaja Subagia (41) ke dalam warung. Bahunya yang tegap dan kulitnya yang gelap terbalut seragam biru sebagai penanda bahwa ia adalah pihak keamanan setempat. Masih ada waktu setengah jam baginya untuk makan dan mengisap sebatang rokok Marlboro Merah sebelum kembali berjaga mengawal prosesi pemakaman selanjutnya.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai supir truk pengangkut barang dari pelabuhan Tanjung Priok. Namun, tautan nasib membawanya melanjutkan hidup sebagai satpam San Diego Hills selama lebih dari tiga tahun terakhir. Ribuan prosesi pemakaman telah ia saksikan dengan mata kepala sendiri, entah saat bekerja selama 12 jam di shift pagi ataupun malam.

“Paling banyak pernah ada 12 prosesi pemakaman yang berlangsung dalam satu hari. Paling sedikit, dalam sebulan paling hanya ada satu hari yang kosong (tanpa ada upacara pemakaman),” ujarnya.

Setelah malam tiba, komplek pemakaman yang ada begitu sepi cahaya. Namun, suasana kuburan yang hening dan pekat tidak membuatnya gentar. “Takutnya kalah sama kebutuhan. Kalau enggak saya mau kerja apa lagi?” ujar Jaja kembali.

Salah satu yang begitu mengenang dalam benak Jaja adalah prosesi pemakaman eks Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu Sedyaningsih pada 3 Mei 2012 lalu. Endang yang meninggal karena kanker paru stadium lanjut merupakan salah satu menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Maka wajar ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin sendiri upacara pemakaman yang ada kala itu.

“Waktu itu, pasukan dan staf presiden sudah ramai dari tengah malam sebelum hari pemakaman untuk mempersiapkan upacara. Saat dikuburpun mobil ramai memenuhi komplek. Hampir satu komplek penuh sama mobil, dari tempat pemakaman sampai pintu depan yang jaraknya bisa tiga hingga empat kilometer,” tutur Jaja.

Tak hanya itu, terdapat pula nama-nama besar lain yang dimakamkan di sana seperti artis Olivia Dewi yang meninggal karena kecelakaan mobil, Presiden Direktur Astra Michael Dharmawan yang meninggal akibat demam berdarah, pendiri Astra William Soeryadjaya dan juga Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo yang berpulang saat mendaki Gunung Tambora.

San Diego Hills sendiri memiliki dua tim pemakaman yang masing-masing berisi 14 awak dan satu mandor untuk mengurus prosesi pemakaman sehari-hari.

Di sisi lain, San Diego Hills juga akrab dengan dunia hiburan dan pernikahan. Dokter Spesialis Mata Endang M. Johani sendiri sempat menikahkan anaknya di sana. Vokalis band rock Wonderbra, Teraya Paramehta, juga menggelar acara pernikahan di tempat sama pada pertengahan 2012 silam.

San Diego Hills memang bukan komplek pemakaman biasa. Selain memiliki taman pemakaman eksklusif, di sana juga terdapat danau seluas delapan hektar, kapel, mushola, restoran dan kolam renang. “Enggak sembarang orang bisa masuk sini. Kalau mobil sih pasti kita izinin masuk, tapi kalau motor belum tentu. Kalau tujuannya enggak jelas, enggak mau berenang atau ke restoran, biasanya kita enggak izinin masuk,” ujar Jaja.

IMG_0009

Komplek pemakaman San Diego Hills/As Safa Prasodjo

Karena memiliki lanskap yang indah dan bersifat eksklusif, San Diego Hills kerap menjadi tempat pengambilan gambar untuk iklan, film ataupun sesi pemotretan pre-wedding. Bahkan, pengambilan gambar untuk serial TV Cinta Cenat Cenut 2 yang dibintangi para personel band Smash sempat dilakukan selama kurang lebih sebulan lamanya pada akhir 2011 lalu.

“Karena ada Smash, banyak banget penggemar yang datang ingin ketemu mereka, tapi enggak boleh masuk. Ratusan orang datang, kasihan juga mereka katanya cuma ingin kasih bingkisan buat Morgan (salah satu personel Smash). Yang bawa mobil sih boleh masuk, cuma yang bawa motor enggak boleh masuk semua,” tutur Jaja lagi.

Selain itu, sinetron Putri Duyung yang dibintangi oleh artis Luna Maya juga sempat mengambil gambar di kolam renang San Diego Hills.

Tentu saja semua hal tersebut tak dilakukan dengan gratis. Menurut Jaja, satu hari sesi pemotretan pre-wedding bisa dikenakan biaya sebesar tiga juta rupiah. Kemudian untuk pengambilan gambar film, seharinya tim produksi harus merogoh kocek senilai tujuh hingga delapan juta rupiah.

Hal inilah yang kemudian memancing kontroversi. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum lama ini mengeluarkan sebuah fatwa haram untuk urusan jual beli lahan kuburan mewah bagi masyarakat muslim.

San Diego Hills sendiri mematok harga dengan kisaran 25-50 juta rupiah untuk makam jenis single burial dengan ukuran kira-kira 1,5 x 2,6 meter. Sementara itu untuk kelas semi private, harga berkisar antara 147-279 juta rupiah dengan ukuran bervariasi, dari 9,1 m2 hingga 21,4 m2. Lalu di kelas private tersedia kuburan seharga 404-955 juta rupiah dengan ukuran 42-62 m2. Terakhir, dan yang termahal, terdapat pula kuburan kelas peak estate seharga 328 juta hingga 4 milyar rupiah dengan ukuran 46-217 m2.

Konsep yang ditawarkan pun berbeda dengan Taman Pemakaman Umum lainnya. Biaya yang harus dikeluarkan hanya ada di awal sehingga pelanggan tak perlu membayar biaya perawatan kuburan bulanan maupun tahunan lagi.

Sesungguhnya, tak hanya San Diego Hills, terdapat pula beberapa usaha jual beli kuburan mewah lainnya di Karawang Barat seperti Lestari Memorial Park dan Taman Memorial Graha Sentosa. Beda lagi halnya dengan Firdaus Memorial Park di Bandung yang didirikan dengan konsep wakaf bagi umat muslim di tanah air.

Hal inilah yang dipermasalahkan MUI. Fatwa yang mereka keluarkan mengharamkan jual beli kuburan yang mengandung dua unsur: tabzir dan israf. Saat dihubungi via telepon, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan perihal kedua konsep tersebut.

Menurutnya, tabzir adalah sebuah usaha pemubaziran atau sia-sia ketika kita mendistribusi, mengeluarkan atau mengelola sesuatu. Jadi, misalkan sebuah kuburan sesungguhnya hanya membutuhkan lahan sebesar 4m2, maka haram bagi seorang muslim untuk membangun dengan luas lahan berkali-kali lipat dari yang dibutuhkan.

Sementara itu israf maksudnya adalah hal yang dilakukan secara berlebihan hingga di luar batas. Patokan yang digunakan adalah kondisi sosial masyarakat setempat. Misalkan saja harga dua juta rupiah yang dianggap wajar untuk sebuah makam bagi orang kaya, niscaya dianggap membebani bagi keluarga tidak mampu.

“Intinya, dilarang mendesain kuburan dengan penuh kemewahan. Terminologi mewah kembali lagi ke kondisi kepatutan masyarakat. Misalnya di kuburan dibangun kafe, mal, kolam renang, dan lainnya yang tidak ada kaitan dengan jenazah sehingga harganya tinggi. Hal itu membuat tujuan kuburan sendiri menjadi bergeser dari sebelumnya untuk mengingatkan kematian jadi tempat rekreasi. Shooting dan pre-wedding di kuburan juga tidak diperbolehkan karena tidak sesuai dengan apa yang ditujukan dalam penetapan syariat kuburan,” ujar Asrorun.

Untuk membawa kebahagiaan pada ia yang telah meninggal, Asrorun menegaskan bahwa cara yang harus dilakukan bukanlah memberi kemewahan pada kuburan. Namun, pihak keluarga bisa mendermakan hartanya dengan melakukan amal jariah, membangun lembaga pendidikan dan lainnya yang didedikasikan untuk ia yang telah meninggal.

Di lain pihak, Direktur Wakafpro-Sinergi Foundation Asep Irawan yang menaungi komplek pemakaman Firdaus merasa bahwa timnya tidak melanggar fatwa haram MUI tersebut. Konsep wakaf menjadi pilihan mereka karena prihatin dengan kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia yang kerap merasa terbebani dengan biaya pemakaman yang ada pada umumnya.

Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa seorang donatur berkesempatan memberikan wakaf senilai 10 juta rupiah kepada yayasannya. Dengan begitu, donatur tersebut akan mendapat dua kavling lahan kuburan seluas lima hektar dengan kapasitas maksimal enam jenazah. Selain itu, uang tersebut juga digunakan untuk menyumbang lahan dengan luas dan fasilitas sama bagi keluarga duafa atau tidak mampu.

Kemudian, sisa uang yang ada juga digunakan untuk pembangunan fasilitas ibadah dan pendidikan seperti masjid dan pesantren. Sebagian lagi akan disalurkan untuk program usaha seperti apotek, toko busana muslim di Surabaya, dan lainnya. Keuntungan dari usaha-usaha tersebut akhirnya akan menjadi dana operasional perawatan kuburan di komplek pemakaman Firdaus.

“Target lahan di komplek pemakaman ini sebesar 21 hektar, tapi yang baru terbebaskan baru lima hektar dari dana wakaf yang diterima. Kemudian, dari lima hektar itu sudah ada 1,5 hektar yang dimatangkan menjadi makam dengan rincian 400 kavling berkapasitas 1.200 jenazah. Satu kavling akan berisi tiga jenazah. Jadi, jenazah pertama akan dikubur di kedalaman dua meter, jenazah kedua pada kedalaman 1,6 meter dan yang ketiga pada 1,2 meter,” jelas Asep.

Syahdan, diharapkan pemakaman yang ada tidak akan bertambah luasnya karena setelah 10 tahun, jasad yang ada akan hancur menyatu dengan tanah sehingga jenazah baru bisa menempatinya lahan itu lagi. Asep mengatakan bahwa konsep tersebut juga digunakan pada beberapa komplek pemakaman muslim di luar negeri, seperti di Mekah dan Madinah.

Tidak bisa dimungkiri, Islam adalah agama terbesar di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2010 lalu, jumlah populasi umat Islam di tanah air telah menyentuh angka 207,18 juta jiwa. Jumlah tersebut setara dengan 13% dari total populasi umat Islam di dunia.

Ironisnya, bagian komplek pemakaman muslim juga merupakan yang terbesar di San Diego Hills. Dengan keluarnya fatwa MUI yang mengharamkan jual beli kuburan mewah pada awal 2014 ini, apakah itu berarti seluruh umat Islam dan keluarganya yang pernah berinvestasi di kuburan mewah semacam San Diego Hills telah masuk dalam ranah haram?

Di lain pihak, jumlah orang miskin di Indonesia pada Maret 2013 lalu – juga menurut BPS – menyentuh angka 28,07 juta jiwa atau 11,37% dari total penduduk Indonesia. Dengan begitu, saat ini kapasitas 1.200 jenazah yang dimiliki komplek pemakaman Firdaus jelas belum mencukupi kebutuhan pemakaman bagi rakyat tidak mampu beragama Islam di tanah air.

Asrorun mengatakan bahwa setiap jenazah memiliki empat hak yang sekaligus menjadi kewajiban bagi orang hidup: memandikan, mengafani, menyalatkan dan menguburkan. Namun, nyatanya banyak orang merasa juga memiliki hak untuk memilih sendiri tata cara pemenuhan empat kewajiban tersebut.

Dalam sebuah testimoni di laman resmi situs San Diego Hills, Endang M. Johani menyebut pilihannya memilih komplek tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhir keluarganya sebagai sebuah persiapan yang matang. Menurutnya, hal itu terbukti saat pihak San Diego Hills membantu mengurus semua persiapan penguburan mendiang suaminya.

Apakah itu berarti Endang M. Johani telah mengambil sebuah pilihan haram dari sudut pandang agama?

Kenyamanan dan privasi memang menjadi alasan utama yang mendorong Mochtar Riyadi untuk mendirikan San Diego Hills. Hal ini bermula dari rasa tidak nyaman yang dirasakan Mochtar saat berziarah ke makam orangtuanya di Malang dahulu.

Eksklusivitas yang terbangun pun akhirnya menciptakan alienasi tersendiri bagi orang-orang seperti Jaja dan Entin. Jurang pemisah antara kematian dan hiruk pikuk kehidupan akhirnya menjadi kabur dengan sendirinya. Pernikahan bisa berlangsung di kuburan, bahkan makan malam mewah bisa terjadi di sebelah rumah kematian.

Di sini, MUI berusaha untuk menghapus tembok pemisah di tengah disparitas ekonomi antara si kaya dan si miskin, sekaligus menegaskan ulang batasan di antara ranah dua alam berbeda. MUI mengimbau dengan fatwa, tapi nyatanya pilihan tetap ada di tangan kita.

 

NB: Artikel yang sama pernah dimuat oleh majalah Geo Times edisi 24 Maret 2014.