Cisarua: Surga Para Imigran

IMG_0738

Cisarua pada tengah hari/Viriya Paramita

Mustofa bingung bukan kepalang. Suatu malam, pembantu sang pemilik kontrakan datang mengetuk kamarnya. Ia memaksa masuk dan bersikeras mengajak Mustofa untuk berhubungan badan. Pria asal Afghanistan tersebut menolak dengan keras. Namun si pembantu justru menyebarkan isu bahwa dirinya hamil karena peristiwa malam itu. Sebagai orang asing yang bahasa Indonesianya saja belum lancar, Mustofa habis akal.

Untung saja saat itu Deden Supriatna (43), adik dari sang pemilik kontrakan, mencoba melerai. Sejak kedatangan Mustofa dan ibunya pada 2000 ke Cisarua, Deden memang sering bertukar obrolan dengannya. Deden bahkan juga mengajarkan Mustofa soal tata krama dan memperlancar penguasaan bahasa Indonesianya. Maka, saat kasus tersebut mencuat, ia tergerak untuk membantu sang kawan.

“Kejadiannya sudah berlangsung tiga bulan sebelumnya, baru si pembantu itu melapor. Teman saya ini, si Mustofa, bilang kalau dia tidak melakukan apa di malam itu. Lalu bagaimana caranya dia bisa hamil?” kata Deden. “Lucunya, bukannya perempuan diperkosa laki-laki. Ini justru laki-laki diperkosa perempuan.”

Akhirnya, Deden mengusulkan agar si pembantu melakukan tes urin di bidan terdekat. Awalnya perempuan tersebut menolak, tapi setelah dipaksa akhirnya barulah terkuak bahwa ucapannya tidak benar. Hasil tesnya negatif dan ia hanya ingin dinikahi oleh sang pria Afghanistan.

Kehadiran para pencari suaka asal Timur Tengah memang kerap menimbulkan gegar budaya bagi masyarakat Cisarua, Bogor.

“Orang imigran ini kerap dianggap ganteng-ganteng oleh masyarakat setempat. Mereka tidak bisa membedakan itu dari Pakistan, Afghanistan atau dari mana. Penduduk lokal jadi suka sama mereka dan agresif. Dari kacamata orang lokal mereka kelihatan keren. Karena itu mereka jadi sangat mudah mendapat wanita lokal,” ujar Heddy Shri Ahimsa-Putra, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada.

Musa (22), salah satu pencari suaka lainnya asal Pakistan juga mengungkapkan hal senada. Walau baru menetap di Jalan Hankam, Cisarua, selama kira-kira tiga bulan, ia telah mendengar berbagai cerita negatif soal pendatang asing di sana, khususnya yang berasal dari Afghanistan.

“Saya mendengar kabar kalau para pengungsi di daerah Bogor mau diusir karena berbagai kelakuan negatif para pengungsi dari Afghanistan. Entah benar atau tidak. Namun saya dengar memang para pengungsi dari Afghanistan kerap kedapatan minum-minum minuman keras serta membawa wanita ke tempat tinggalnya – walau sesungguhnya tidak semua seperti itu,” kata Musa.

Lebih lanjut, kendala bahasa juga menjadi penyebab sulitnya adaptasi berlangsung antara para pendatang asing dan masyarakat setempat. Banyak pencari suaka yang hanya bisa berbicara dengan bahasa ibunya. Bahasa Inggris saja tersendat-sendat, apalagi bahasa Indonesia.

Hal inilah yang dirasakan Asadullah (18), pencari suaka asal Afghanistan yang kini menetap di sebuah kontrakan di Jalan Ciburial, Cisarua. Asadullah tinggal di sana bersama empat orang rekan senegaranya. Saat ditanya soal alasannya datang ke Indonesia, ia hanya menjawab, “The war.”

Namun, ketika ditanya lebih lanjut soal perang yang dimaksud, ia bergumam, “I don’t know.” Entah karena kebingungan menjelaskan panjang lebar dengan bahasa Inggris pas-pasan atau ia malas mengingat kembali memori buruk yang terjadi di masa lalu.

Hanya sedikit kata dalam bahasa Indonesia yang dipahaminya. Ia hanya menguasai kata-kata yang umum digunakan dalam keseharian seperti “terima kasih,” “apa kabar” dan “kiri” yang digunakannya saat ingin turun dari angkutan umum.

Hal inilah yang mendorong Yayasan Jesuit Refugee Service (JRS) untuk mengadakan kelas bahasa Inggris di Cisarua. JRS sendiri pertama kali masuk ke Indonesia pada 14 November 1980. Selama ini mereka bertugas mendampingi dan membela hak para pengungsi yang ada di kamp pengungsian, kawasan perkotaan maupun di rumah-rumah detensi imigrasi.

Lebih lanjut, pelayanan JRS berkembang menjadi pendampingan para pencari suaka di rumah detensi imigrasi Medan (2009) dan Surabaya (2012) serta para pencari suaka di Cisarua (2010). Kelas bahasa Inggris di Cisarua, tepatnya di Hotel Kenanga, Cibubutan, dibuka agar para pengungsi tersebut bisa berkomunikasi serta beradaptasi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Pengajarnya pun berasal dari para pencari suaka itu sendiri. Hal ini dilakukan juga untuk mengisi waktu bagi para pencari suaka yang dilarang bekerja atau mencari nafkah di Indonesia.

IMG_9966

Para imigran pengajar di kelas bahasa Inggris Jesuit Refugee Service (JRS), Cisarua/Felix Jody Kinarwan

Salah satu pengajar di sana adalah Ali (26) pengungsi asal Afghanistan. Ali telah pergi mencari suaka bersama kedua orangtuanya sejak ia berusia 5 tahun. Sejak itu, ia sempat berkeliling ke belasan negara, seperti Iran, Turki, Yunani, Perancis dan Norwegia. Ia sempat dideportasi ke Afghanistan sebelum menyeberang ke negara tetangga: Pakistan. Di sana, ayahnya terbunuh dalam perang pada 2002. Enam tahun kemudian, giliran ibunya yang dijemput ajal karena memang sudah uzur usianya.

Sejak itu, Ali berkelana sendirian. Ia sempat pergi ke Thailand, Malaysia dan Indonesia untuk melanjutkan misi mencari suaka. Pada pertengahan 2013 lalu Ali juga sempat menjadi manusia perahu. Ia membayar jasa agen – pria asal Afghanistan – sebesar 4.000 dollar AS untuk naik perahu bersama 54 orang lainnya untuk masuk ke Australia. Namun, bukan sejahtera, justru petaka menyambangi.

“Ada 55 pengungsi yang berdesakan di perahu itu. Kami berlayar selama 30 jam. Lalu setelah ada badai dan masalah teknis di perahu, sang kapten asal Indonesia bilang dia akan pergi mencari bantuan. Dia naik perahu kecil dan pergi begitu saja. Namun dia tidak pernah kembali,” ujar Ali.

Akhirnya, Ali dan para penumpang lain terombang-ambing selama kurang lebih 12 jam di atas perairan yang tak mereka kenal, tanpa kapten kapal. Mereka pun berusaha untuk mencari bantuan dengan menelepon Tim SAR Indonesia dan Australia. Untung saja Tim SAR Indonesia datang menyelamatkan dan membawa mereka ke tempat penampungan di Merak, Banten.

“Di tempat tahanan itu kita bisa hidup kalau punya uang banyak. Dalam satu hari, satu orang cuma diberi makan nasi sebanyak satu gelas teh. Kalau kita mau nambah porsi satu gelas teh lagi, kita harus bayar 25 ribu rupiah. Saya sempat coba meminta penjaga untuk membelikan rokok, tapi saya diminta membayar 100 ribu rupiah,” ujar Ali lagi.

Setelah sembilan hari, Ali akhirnya nekat kabur dari tempat tersebut dengan melompat dari jendela setinggi 15 meter. Kemudian, ia pun menetap di Cisarua hingga saat ini. Cisarua memang merupakan salah satu tempat berkumpulnya para pencari suaka di Indonesia. Umumnya mereka datang ke sini sebagai tempat transit sebelum menyeberang ke negara tujuan sebenarnya: Australia.

Cisarua, menjadi tempat ideal untuk menetap karena lingkungannya yang dianggap mendukung. Ada banyak sesama imigran yang tinggal di sana, cuacanya sejuk, dan biaya hidupnya cenderung lebih murah dibandingkan kota-kota besar lainnya seperti Jakarta.

“Biasanya saya beli bahan makanan mentah dan memasaknya sendiri di rumah. Selain lebih murah, saya juga kurang suka makanan yang dimasak dengan terlalu banyak gula,” kata Musa yang harus membayar Rp 200.000,- per bulan untuk tinggal di kosannya.

Selain itu, hal lain yang menyulitkan para pendatang tersebut adalah larangan untuk bekerja atau membuka tempat usaha dengan status pengungsi yang mereka sandang. Mereka memang wajib melapor pada Badan Urusan Pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) untuk didata dan diwawancara soal alasannya mencari suaka.

Maka, mereka hanya bisa mengandalkan kiriman uang dari kerabat atau saudara di negara asalnya untuk bertahan hidup sehari-hari. Beda halnya dengan pengungsi di bawah umur 18 tahun yang mendapat dana tunjangan dari UNHCR. “Kalau tidak salah para pengungsi anak-anak itu mendapat tunjangan sebesar Rp 800.000,- per bulannya,” ujar Musa kembali.

Hal ini akhirnya memancing kejenuhan dalam diri para imigran tersebut. Mereka tak bisa bekerja, padahal izin untuk mendapat perlindungan internasional dari UNHCR bisa turun tanpa kejelasan waktu, dari paling cepat satu tahun hingga waktu yang tak terbatas.

Ida Ruwaida Noor, sosiolog asal Universitas Indonesia, mengatakan bahwa pertemuan berbagai kelompok dengan latar belakang etnis atau negara berbeda di Cisarua akan menstimuli terjadinya adaptasi sosial. Persoalannya, daya adaptasi sosial masing-masing kelompok dipengaruhi oleh persepsi atau cara pandang mereka atas kelompok lain yang juga akhirnya memengaruhi pola interaksi yang terbangun.

“Awalnya, interaksi mereka lebih bersifat fungsional atau utilitarian, yakni pencari suaka mencari rumah tinggal sementara. Di lain pihak, penduduk lokal lebih melihat pencari suaka sebagai pendatang yang membawa benefit ekonomi. Apa lagi sumber ekonomi lokal kini semakin terbatas,” tutur Ida.

Namun dalam perkembangannya setelah para pencari suaka tinggal selama bertahun-tahun, maka interaksi yang ada berkembang menjadi relasi yang juga inheren dengan dimensi sosial, budaya dan bahkan politik. Di sinilah potensi terjadinya gesekan sosial muncul.

“Menurut saya, gesekan ini dimungkinkan karena pencari suaka semakin lama cenderung jadi pihak yang lebih dominan, karena uangnya telah menjadi sumber daya yang mampu mendominasi penduduk lokal. Bahkan bisa menikahi beberapa perempuan lokal, meski hanya sebatas nikah siri,” ujar Ida kembali.

Lebih lanjut, Ida dan Heddy sama-sama sepakat bahwa pemerintah harus melakukan sesuatu untuk mencegah membludaknya imigran asing di Indonesia. Menurut Heddy, bila terus dibiarkan begitu saja, berbagai masalah akan muncul, dari skala lokal hingga internasional.

“Hal ini bisa menunjukan citra yang salah soal Indonesia di mata dunia internasional. Karena, jadinya seakan-akan pihak imigrasi kita mudah sekali kebobolan,” ujar Heddy.

 

Baca juga Pencari Suaka: Mengapa Mereka Hijrah

NB: Tulisan yang sama juga dimuat di majalah Geo Times edisi 12 Mei 2014.

Advertisements

One thought on “Cisarua: Surga Para Imigran

  1. Pingback: Pencari Suaka: Mengapa Mereka Hijrah | Tambo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s