Erros Djarot: Karya, Identitas dan Tuhan

EVENT-ILLUSTRATION-ED-FUULL

Sumber: whateverworkshop.co

Erros Djarot sedang tak bisa diganggu. Usai membeli sekitar 80-90 kaset musik tanah air dari berbagai genre, ia mengunci diri di kamar selama dua bulan lamanya. Ia dengarkan setiap lagu yang ada sembari mencari wilayah yang belum tersentuh industri musik Indonesia kala itu. Untuk itu, ia harus bangun terlalu cepat dan tidur terlampau larut. Selalu seperti itu setiap harinya.

Setelah menemukan wilayah tersebut, Erros meletakkan fokus karyanya di sana. Setiap lagu yang ia buat dimaksimalkan dengan lirik dan balutan nada yang jarang atau bahkan tak pernah mengalun di telinga penikmat musik lokal di masa itu.

Alhasil, kerja kerasnya berbuah manis. Selama ‘pengasingan diri’, Erros sukses mencipta delapan lagu yang beberapa di antaranya dikerjakan bersama Debby Nasution. Lagu-lagu itu digunakan sebagai soundtrack film Badai Pasti Berlalu pada 1977, yang akhirnya laris di pasaran dan menjadi magnet pelbagai penghargaan.

Riset mendalam yang dilakukan Erros berhasil membuat namanya mencuat dengan lagu-lagu gubahannya. Tak pelak, jalannya di industri musik terbuka lebar sejak itu, ketika Erros baru menginjak usia 26 tahun. Namun, perkenalannya dengan dunia tarik suara terjadi karena desakan kondisi beberapa tahun sebelumnya.

Pada 1969, Erros berangkat ke Jerman untuk mengambil kuliah Teknik Industri di Universitas Fachhochschule, Köln. Karena desakan ekonomi, ia pun banyak mengambil kerja sampingan untuk mendapatkan uang tambahan. Hal itulah yang akhirnya mendorong Erros untuk manggung di berbagai kelab malam Jerman bersama rekan-rekan sesama mahasiswa.

“Saya nguli apa saja saat itu, dari kerja di restoran sampai mengeruk salju. Karena lapar saya jadi nekat, apa saja saya lakukan, asal enggak jadi maling. Akhirnya pada 1971, saya diajak teman-teman untuk bermusik. Waktu itu nama bandnya Kopfjaeger. Ternyata hasil sekali main bisa untuk menghidupi diri selama dua minggu,” tutur Erros sembari tertawa lebar.

Dengan aktor kawakan asal Amerika Serikat, Frank Latimore, sebagai produser, Kopfjaeger terus bermain dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan dengan koneksi Frank, mereka kerap mendapat panggilan tampil di camp tentara AS di Jerman. Erros sendiri kebagian peran bermain gitar dan bernyanyi, hal yang ia rasa nekat karena kala itu ia belum lancar berbahasa Inggris.

Bahkan, Erros sempat memiliki acara sendiri bertajuk Satu Jam Bersama Erros Djarot setiap Rabu malam di La Café, Neumarkt, Köln. “Modalnya nekat saja, suara saya padahal enggak jelas, tapi ya saya nyanyi saja. Tanya saja rekan-rekan yang sempat bersekolah di Jerman sekitar 1970-1975, pasti tahu siapa saya,” seloroh Erros.

Pada 1975, barulah Erros kembali ke Indonesia untuk menghabiskan waktu liburannya. Saat itu ia menciptakan Barong’s Band yang bergenre classic rock bersama dengan Debby Nasution, Darmadi Epot, Tri Anggono dan lainnya.

“Saat itu kita ingin menonjolkan bahasa Indonesia dengan medium lagu classic rock. Kita ingin menghapus anggapan bahwa anak-anak band itu suka mabuk dan menggunakan narkoba. Kita buktikan bahwa Barong’s Band tidak seperti itu dan ternyata bisa,” tegas Erros.

Kemudian, Erros kembali ke Jerman pada 1976 untuk melanjutkan studinya. Lalu ia mendapatkan beasiswa dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk bersekolah di London Film School, Inggris pada 1977-1980, sebelum akhirnya Erros pulang ke tanah air.

Di awal waktunya menetap di Inggris, Erros menyaksikan langsung revolusi punk-rock yang terjadi di sana. Ia pun melihat sendiri awal mencuatnya band-band legendaris seperti Sex Pistols, The Clash dan The Damned. Hal itu akhirnya membuka pandangan mata Erros lebih jauh soal musik.

Di Indonesia, pria kelahiran Rangkasbitung ini akhirnya lebih banyak dikenal sebagai spesialis pencipta soundtrack film. Karyanya muncul dalam film-film seperti Kawin Lari (1976), Badai Pasti Berlalu (1977), Usia 18 (1981), Ponirah Terpidana (1984) dan Secangkir Kopi Pahit (1986).

Film Badai Pasti Berlalu sendiri berhasil memenangkan Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) 1978 untuk kategori editing suara dan musik. Pada perhelatan yang sama setahun berselang, film itu juga berhasil meraih Piala Antemas sebagai film terlaris 1978-1979. Erros berujar bahwa kunci suksesnya ketika itu adalah riset mendalam sebelum menelurkan sebuah karya.

“Musik kalau mau bagus harus menggunakan riset. Sekarang kan enggak, orang-orang tinggal dengar dan mencontek dari luar. Jadi, tidak ada proses pengendapan di situ,” kata Erros yang kini telah berusia 63 tahun.

“Ya waktu itu juga saya kan masih muda, 26 tahun, masih liar cintanya. Jadi lagu ‘Badai Pasti Berlalu’ itu terinspirasi oleh wanita-wanita cantik. Sok tahu saja saya waktu itu bikin lirik. Sekarang kalau saya tengok lagi ke belakang, nekat sekali saya itu dulu. Sok tahu banget.”

Selain musik, Erros juga pernah menelurkan karya-karya besar di dunia film. Ia melakoni debut sebagai sutradara pada 1988 dalam film Tjoet Nja’ Dhien yang berhasil meraih sembilan Piala Citra. Erros bahkan meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik di ajang yang sama.

Padahal, awalnya Erros enggan untuk memasuki ranah film sebelum mendapat restu langsung dari sang kakak, Slamet Rahardjo. “Saya enggak mau saingan sama kakak saya sendiri. Saya cinta film, tapi saya lebih cinta sama kakak saya,” ujar Erros lagi.

Namun, kesuksesan yang sama urung terulang saat Erros memproduksi film Lastri pada 2008 lampau. Produksi film tersebut terus mendapat cekalan dan harus berganti tempat shooting beberapa kali karenanya.

“Katanya film itu menyebarkan ajaran komunis, makanya dibubarkan oleh tentara. Saya sempat coba shooting di Jogja dan Sukabumi, tapi terus dihentikan tentara. Padahal itu bercerita soal percintaan anak GMNI dan tidak ada adegan kekerasan. Itu berarti masih ada orang-orang picik di Indonesia ini,” ujar Erros.

Menyikapi hal ini, Erros tidak merasa inferior karena ia selalu berserah diri pada Tuhan. Oleh karena itu, ia tidak pernah merasa sendiri dan percaya bahwa Tuhan selalu menunjukkan jalan baginya. Yang utama bagi Erros adalah selalu bekerja keras dan berusaha sekuat tenaga dalam setiap pilihan tindakannya.

Setelah sekian lama berkarya di berbagai bidang – dari musik, film dan politik – berbagai pihak bekerja sama untuk memberi apresiasi lebih bagi perjalanan karir Erros selama ini. Konser bertajuk 40 Tahun Erros Djarot Berkarya digelar di Plenary Hall JCC, Senayan, Jakarta pada 14 Februari 2014. Angka 40 sendiri dihitung sejak 1974, ketika pertama kali Erros membuat konsep Barong’s Band.

Berbagai musisi lintas generasi hadir meramaikan konser tersebut seperti Erwin Gutawa sebagai arranger, Jay Subiakto sebagai art director dan Mira Lesmana sebagai script director. Di sana, The SIGIT pun akan membawakan salah satu lagu Barong’s Band. Iwan Fals juga ditampuk untuk membawakan dua lagu karya Erros yang belum pernah dipublikasi selama ini.

“Satu lagu yang dinyanyikan Iwan itu soal bencana, dan yang satu lagi soal pemilu. Selain itu, saya juga diminta untuk membuat satu lagu baru yang akan dibawakan di konser tersebut,” tutur Erros dua minggu sebelum konser berlangsung.

“Belum lama ini anak-anak The SIGIT datang ke saya untuk tanya soal lagu yang akan mereka bawakan tersebut. Saya bilang terserah mereka saja, mau diapakan juga silakan. Biar jadi kejutan buat saya.”

Namun, kini Erros merasa belum puas dan ingin terus berkarya. Ia bahkan telah mempersiapkan tiga skenario film untuk digarap. Pertama, soal keluarga-keluarga Cina di Indonesia dengan tujuh watak karakter berbeda. Kedua, tentang reformasi dan yang terakhir tentang ironi kisah perang.

Erros juga merasa rindu untuk bermusik kembali bersama kawan-kawan lamanya. Ia mengaku ingin memainkan musik rock lagi sembari bereuni. Di usianya yang sudah senja, Erros memang masih terus bersemangat dalam berkarya. Sayangnya, ruh dan rasa dalam karya yang mendorongnya selama ini tidak lagi bisa ia temukan di generasi muda bangsa.

“Musik Indonesia saat ini secara kuantitas bagus, skill-nya juga luar biasa. Tapi ruh dan sukmanya seakan sudah hilang. Semua bernyanyi mengikuti artis-artis dari Barat. Seakan, ada hambatan budaya dalam mendengar dan menerjemahkan sebuah karya karena akar lokal kita sudah dimatikan semua,” sesal Erros.

Untuk membawa perubahan ke arah positif, Erros berharap agar masyarakat bisa lebih mandiri memperjuangkan dirinya. Selain itu, etos kerja yang tinggi juga harus selalu tertanam sebagai fondasi.

“Saya mau ngapain saja yang penting lakukan yang terbaik, lalu sebarkan cinta terhadap Indonesia dan terhadap sesama manusia. Enggak usah terlalu ngoyo jadinya,” pesan Erros.

Erros juga berharap agar kita bisa menemukan kembali karakter dan identitas bangsa. “Karena orang yang enggak tahu siapa dirinya, enggak akan bisa mengembangkan dirinya.”

 

NB: Liputan ini dilakukan untuk majalah Geo Times pada Februari 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s