Hidup di Metropolitan: Tak Kenal, Tak Sayang

209624_macet-akibat-pedagang-kaki-lima-berjualan-di-jalan-kebon-jati--tanah-abang

Sumber: ntmc-korlantaspolri.blogspot.com

“Orang Batak itu kalau manggil orang lain memang keras dan galak, tapi saat orang yang dipanggil datang kita bisa pijati dia. Kalau orang Jawa manggil orang lain halus, tapi saat sudah datang kita malah bisa ditusuk sama mereka.”

Itulah guyonan yang telah didengar Ronal Gorba Timothy (24), IT programmer, sejak ia kecil. Stereotip akan suku Jawa di mata orang Batak memang cenderung negatif. Halus di depan, tapi bisa menusuk secara perlahan.

Seumur hidupnya, Ronal tinggal di Komplek Tangkas Permai, Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Lingkungan yang ada di sana memang kental dengan asupan budaya dan kultur suku Batak. Bahkan, orang-orang sekitar lebih akrab menyebut daerah tersebut sebagai Komplek Batak.

Di sana, Ronal sudah terbiasa melihat tetangganya memasak anjing sebagai panganan ataupun mendengar suara bapak-bapak bertukar obrolan seru hingga subuh dini hari sembari bermain billiar dan minum tuak. Saat sedang berkumpul seperti itulah guyonan akan orang dari suku lain terlontar berdasarkan stereotip yang melekat sejak lama.

“Kalau orang Manado beda lagi. Kita biasanya menganggap orang Manado itu kalau di depan suka banyak bergaya, pakai baju bagus, nampang sana-sini, tapi di rumahnya nasi saja enggak ada, mau makan juga enggak bisa,” ujar Ronal kembali.

Stereotip yang ada pun biasanya menjurus ke ranah profesi yang menjadi identik dengan satu suku tertentu. Misalkan saja suku Padang yang di mata Ronal identik dengan pedagang baju dan tekstil.

Rully Arianto (28), pedagang tekstil di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, mengamini hal tersebut. Menurutnya, garis profesi sebagai pedagang merupakan warisan dari nenek moyang yang akhirnya diterima secara turun temurun oleh dirinya dan keluarga yang aslinya memang berasal dari Padang.

“Awalnya orangtua saya berdagang tekstil dan gorden. Lalu kira-kira pada 1995 mereka banting setir ke arah pakaian jadi. Selepas 1998, kita coba lagi berjualan di bidang yang berbeda, seperti sprei atau bedcover,” ujar Rully yang kini juga berjualan baju koko dan batik di Blok F Tanah Abang.

Sementara itu, di mata Rully justru orang Batak identik dengan pekerjaan seperti tambal ban dan sopir. Rully sendiri banyak melihat orang Batak yang bekerja di dua ranah profesi tersebut di sekitar kawasan Senen.

“Di sana juga banyak orang Batak yang buka usaha makanan ya. Mungkin karena banyak orang Batak yang tinggal di sana,” kata pria berkacamata tersebut.

Stereotip orang Batak sebagai pekerja kasar di Jakarta tidak sepenuhnya salah. Bahkan Ronal mengakui bahwa di Komplek Batak tempatnya berdomisili, banyak tetangganya yang bekerja sebagai sopir.

“Kira-kira di perumahan ini ada 100 kepala keluarga. Ya kebanyakan memang di sini orang kerjanya jadi sopir, entah sopir angkot, sopir taksi, kenek atau sopir metromini,” kata Ronal kembali.

Sementara itu untuk kalangan menengah ke atas, suku Batak lebih identik dengan profesi sebagai pengacara.

“Makanya orang Batak itu dibilangnya pintar ngomong, karena banyak yang jadi pengacara. Bisa dibilang, orang Batak itu kebagi menjadi dua: ada pengacara, sama ada orang yang butuh pengacara (kriminal),” seloroh Ronal.

Di sisi lain, Ronal dan Rully sama-sama sepakat bahwa orang Cina adalah pedagang yang bergerak secara dominan di berbagai bidang, misalkan elektronik, tekstil dan bahan bangunan.

Cynthia Puspita Ningsih (20), mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) keturunan Cina-Pontianak, setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, banyak keluarga atau kerabatnya dari Pontianak yang bergerak di usaha bahan bangunan dan baju.

“Banyak Cina-Pontianak di Jakarta yang buka usaha makanan dan bahan bangunan. Yang jualan baju juga banyak. Kalau saudara saya ada yang buka toko baju di Tanah Abang, Cengkareng dan nanti mau buka toko baru di Bekasi,” ujar Cynthia.

Para perantau yang datang dari berbagai pelosok di Indonesia ke ibukota. Di sana, mereka mengadu nasib berlomba mendapat penghasilan dan penghidupan yang lebih baik. Untuk itu, sebagai modal awal biasanya mereka menumpang hidup dan bekerja di tempat saudara atau kerabat yang telah terlebih dahulu mencicipi sukses.

“Itu memang benar. Ada saudara saya yang sudah sukses di Jakarta, lalu mengajak saudara-saudara yang lain untuk datang ke sini dan kerja di tokonya,” kata Cynthia lagi.

Bahkan, Ronal pun mengakui bahwa Komplek Batak tempatnya tinggal awalnya tidak sebesar itu. Seiring berjalannya waktu, jumlah orang Batak di komplek tersebut semakin banyak karena banyak kerabat yang datang untuk mengadu nasib di Jakarta. Ada yang sukses, ada pula yang menyerah dan akhirnya kembali ke kampung halamannya di Medan.

Lebih lanjut, stereotip antarsuku lainnya yang ada di kota besar seperti Jakarta begitu beragam. Misalkan orang Sunda yang dianggap fasih menjalankan usaha kuliner, orang Madura yang banyak bergerak di bidang jual-beli rongsokan atau besi bekas dan orang Flores yang banyak bekerja sebagai bodyguard, debt collector atau satpam.

Selain itu, orang Jawa dengan populasi terbesar di tanah air kerap mengisi jabatan di birokrasi pemerintahan pusat. Lain halnya dengan orang Betawi yang identik sebagai tuan tanah di Jakarta karena dianggap sebagai orang asli di sana. Hal ini disepakati oleh Ronal, Rully dan juga Cynthia.

Menurut Nosa Normanda (28), dosen antropologi dan sosiologi Binus International, stereotip itu hadir semakin besar ketika kita berada dalam kehidupan multikultur di kota-kota besar, contohnya Jakarta.

“Hal itu muncul karena ada kecendrungan seseorang untuk berkumpul bersama kawanannya saja karena kita merasa aman di situ. Sementara kita cuma tahu sedikit soal kawanan lain dan akhirnya kita beri stereotip. Hal itu justru memancing etnosentrisme suku tumbuh semakin besar. Itu manusiawi sekali,” ujar Nosa.

Semakin kita tidak tahu, atau semakin sedikit referensi kita akan sebuah suku, akan semakin besar pula stereotip yang muncul. Masih menurut Nosa, hal itu terjadi karena manusia adalah makhluk sosial yang judgmental sehingga kerap mudah memberi asumsi.

Lalu, akhirnya akulturasi akan terjadi antara para pendatang minoritas dengan kebudayaan masyarakat dominan tempat ia tinggal dan berdomisili.

“Misalnya saja di Bogor, orang Sumatera yang kerja sebagai sopir angkot akhirnya fasih bicara bahasa Sunda karena kebudayaan dominan yang ada di sana adalah Sunda,” ujar Nosa lagi.

Namun, stereotip etnis tersebut berpotensi pula meminggirkan kaum minoritas dalam sebuah budaya multikultur. Nosa pun menjelaskan bahwa ketakutan atau prasangka buruk sebuah suku akhirnya membuat mereka enggan untuk mencari tahu perihal sebuah suku bersangkutan. Hal ini kemudian membuat stereotip yang ada semakin besar dan yang minoritas menjadi terus terkucilkan.

“Misalnya saja kaum gay, banyak orang tidak tahu banyak tentang gay dan akhirnya jadi homophobic terhadap mereka. Ketakutan yang ada pada gay membuat ia jadi tidak ingin tahu. Semakin tidak ingin tahu semakin besar pula stereotipnya. Karena, ketakutan itu seperti ruang kosong di kepala kita yang kita isi terus dengan asumsi dan imaji. Seakan kita tahu banyak, padahal kita tak tahu apa-apa,” ujar Nosa.

Lebih jauh, stereotip ini juga terbentuk semakin kuat karena peran media massa selama ini. Pemberitaan yang kental unsur stereotipnya dianggap Nosa mendorong masyarakat semakin terkotak dan eksklusif.

“Misalnya saja pemberitaan soal Kampung Ambon (di Cengkareng, Jakarta Barat). Pemberitaan soal mereka di media terus menekan masyarakat di sana dan menciptakan stereotip kuat bahwa penduduk di sana memang pengedar narkoba. Hal itu membuat warga yang KTP-nya berasal dari Kampung Ambon kesulitan untuk mendapat pekerjaan di tempat lain. Akhirnya mereka cuma bisa bekerja sebagai pengedar narkoba di sana,” ujar Nosa.

Penelitian soal stereotip etnis sendiri sesungguhnya telah dilakukan sejak puluhan tahun lamanya. Salah satunya adalah disertasi “Stereotip Etnik di Dalam Suatu Bangsa Multietnik” karya Suwarsih Warnaen asal Universitas Indonesia (UI) pada 1979 lalu.

Stereotip etnis di dalam penelitian tersebut didefinisikan sebagai kepercayaan yang dianut bersama oleh berbagai golongan etnis, termasuk golongan mereka sendiri. Di sana, stereotip termasuk golongan kepercayaan dan dianut bersama oleh suatu golongan etnis yang disebut sebagai konsensus.

Konsensus tentang kepercayaan itu sendiri mengandung realitas. Sehingga, stereotip etnis sebagai konsensus kepercayaan menjadi relevan dengan masalah sosial. Menurut Nosa, salah satu masalah sosial yang timbul adalah asumsi yang mengkotak-kotakkan bahwa satu suku telah menguasai satu bidang ekonomi tertentu.

“Masalah awalnya ya dari situ, satu etnis dominan yang membuat jaringan di sini (Jakarta). Namun, sekarang kenyataannya sudah tidak seperti itu. Tidak semua orang Padang bekerja sebagai pedagang, dan tidak semua orang Jawa tidak bisa dagang,” kata Nosa.

Oleh karena itu, stereotip harus kita lepaskan dengan menambah referensi dan kemauan untuk membuka diri pada suku lain. Stereotip, jangan sampai menutup mata dan mempersempit pergaulan kita dalam keseharian.

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 28 April 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s