Maut dan Yang Berisik Setelahnya

IMG_0043

Komplek pemakaman San Diego Hills/As Safa Prasodjo

Seharusnya siang itu cukup terik. Tengah hari dan matahari sedang pongah-pongahnya. Namun, rindangnya pohon dan hijaunya rerumputan di sekitar komplek pemakaman cukup meredam produksi peluh berlebih. Tiga dari empat prosesi pemakaman yang akan berlangsung hari itu telah selesai dikerjakan. Sembari menunggu panggilan terakhir pada pukul 1 siang, tim pemakaman San Diego Hills, Karawang Barat, bergegas mengisi perut selagi sempat.

Para awak berbaju biru segera berjalan menuju komplek pemakaman umat Islam bernama Charity, mendahului beberapa rekannya yang masih sibuk mengangkut tenda bekas para pelayat berteduh sebelumnya. Melewati sebuah parkiran mobil di ujung taman, mereka menuruni undakan di pinggir jalan menuju satu-satunya warung nasi yang terjangkau kantong dalam radius sekitar 500 hektar – luas komplek pemakaman tersebut.

Letak warung tersebut cukup tersembunyi. Sedikit celah di antara pepohonan tinggi membuka jalan menuju tempat tersebut. Jalan yang ada juga tak rata, penuh bebatuan, menurun dan licin akibat hujan yang mengguyur beberapa jam lalu. Bila tak memperhatikan secara saksama, kita urung bisa menyadari keberadaan tempat makan itu.

Namun, di sanalah pusat obrolan terjadi. Para pekerja makam singgah ke sana untuk sekadar melepas lelah, mengisap rokok ataupun bertukar kabar. Sesuatu yang jarang bisa mereka lakukan justru di tempat terbuka dalam komplek tersebut. Saat memasuki warung, bahasa Sunda begitu ramai berseliweran di udara.

Warung tersebut hanya seluas setengah ukuran lapangan futsal. Kayu menjadi fondasi utama bangunan dengan rangka bambu dan tripleks sebagai penutupnya. Meja-meja panjang berjejeran di sekeliling, berdiri langsung di atas tanah kering yang tak rata. Suasananya kontras dengan beberapa makam megah di luar yang berukuran sama. Tembok batu dan rumput hijau hanya ada bagi para jenazah, bukan para pekerja makam seperti mereka.

Entin, wanita paruh baya penjaga warung tersebut terlihat sibuk melayani para pelanggan. Ia membuat kopi, memberi kembalian uang dan mengambilkan rokok pesanan dengan sigap. Wajar, warungnya telah berdiri sejak awal dibukanya komplek pemakaman pada 2007 silam. Tempat tersebut pun juga berfungsi sebagai rumah untuknya. Maka ketika pihak San Diego Hills berencana untuk membeli tanah tempatnya berdagang tersebut, banyak pihak yang mengeluh.

“Pada bingung nanti mau makan di mana kalau warung saya enggak ada. Makanya saya rencananya mau tanya (pihak San Diego Hills), boleh enggak nyewa tempat di sini buat jualan makanan nanti,” ujar Entin.

Syahdan, sekitar pukul 12.30 masuklah Jaja Subagia (41) ke dalam warung. Bahunya yang tegap dan kulitnya yang gelap terbalut seragam biru sebagai penanda bahwa ia adalah pihak keamanan setempat. Masih ada waktu setengah jam baginya untuk makan dan mengisap sebatang rokok Marlboro Merah sebelum kembali berjaga mengawal prosesi pemakaman selanjutnya.

Sebelumnya, ia bekerja sebagai supir truk pengangkut barang dari pelabuhan Tanjung Priok. Namun, tautan nasib membawanya melanjutkan hidup sebagai satpam San Diego Hills selama lebih dari tiga tahun terakhir. Ribuan prosesi pemakaman telah ia saksikan dengan mata kepala sendiri, entah saat bekerja selama 12 jam di shift pagi ataupun malam.

“Paling banyak pernah ada 12 prosesi pemakaman yang berlangsung dalam satu hari. Paling sedikit, dalam sebulan paling hanya ada satu hari yang kosong (tanpa ada upacara pemakaman),” ujarnya.

Setelah malam tiba, komplek pemakaman yang ada begitu sepi cahaya. Namun, suasana kuburan yang hening dan pekat tidak membuatnya gentar. “Takutnya kalah sama kebutuhan. Kalau enggak saya mau kerja apa lagi?” ujar Jaja kembali.

Salah satu yang begitu mengenang dalam benak Jaja adalah prosesi pemakaman eks Menteri Kesehatan RI Endang Rahayu Sedyaningsih pada 3 Mei 2012 lalu. Endang yang meninggal karena kanker paru stadium lanjut merupakan salah satu menteri dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Maka wajar ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin sendiri upacara pemakaman yang ada kala itu.

“Waktu itu, pasukan dan staf presiden sudah ramai dari tengah malam sebelum hari pemakaman untuk mempersiapkan upacara. Saat dikuburpun mobil ramai memenuhi komplek. Hampir satu komplek penuh sama mobil, dari tempat pemakaman sampai pintu depan yang jaraknya bisa tiga hingga empat kilometer,” tutur Jaja.

Tak hanya itu, terdapat pula nama-nama besar lain yang dimakamkan di sana seperti artis Olivia Dewi yang meninggal karena kecelakaan mobil, Presiden Direktur Astra Michael Dharmawan yang meninggal akibat demam berdarah, pendiri Astra William Soeryadjaya dan juga Wakil Menteri ESDM Widjajono Partowidagdo yang berpulang saat mendaki Gunung Tambora.

San Diego Hills sendiri memiliki dua tim pemakaman yang masing-masing berisi 14 awak dan satu mandor untuk mengurus prosesi pemakaman sehari-hari.

Di sisi lain, San Diego Hills juga akrab dengan dunia hiburan dan pernikahan. Dokter Spesialis Mata Endang M. Johani sendiri sempat menikahkan anaknya di sana. Vokalis band rock Wonderbra, Teraya Paramehta, juga menggelar acara pernikahan di tempat sama pada pertengahan 2012 silam.

San Diego Hills memang bukan komplek pemakaman biasa. Selain memiliki taman pemakaman eksklusif, di sana juga terdapat danau seluas delapan hektar, kapel, mushola, restoran dan kolam renang. “Enggak sembarang orang bisa masuk sini. Kalau mobil sih pasti kita izinin masuk, tapi kalau motor belum tentu. Kalau tujuannya enggak jelas, enggak mau berenang atau ke restoran, biasanya kita enggak izinin masuk,” ujar Jaja.

IMG_0009

Komplek pemakaman San Diego Hills/As Safa Prasodjo

Karena memiliki lanskap yang indah dan bersifat eksklusif, San Diego Hills kerap menjadi tempat pengambilan gambar untuk iklan, film ataupun sesi pemotretan pre-wedding. Bahkan, pengambilan gambar untuk serial TV Cinta Cenat Cenut 2 yang dibintangi para personel band Smash sempat dilakukan selama kurang lebih sebulan lamanya pada akhir 2011 lalu.

“Karena ada Smash, banyak banget penggemar yang datang ingin ketemu mereka, tapi enggak boleh masuk. Ratusan orang datang, kasihan juga mereka katanya cuma ingin kasih bingkisan buat Morgan (salah satu personel Smash). Yang bawa mobil sih boleh masuk, cuma yang bawa motor enggak boleh masuk semua,” tutur Jaja lagi.

Selain itu, sinetron Putri Duyung yang dibintangi oleh artis Luna Maya juga sempat mengambil gambar di kolam renang San Diego Hills.

Tentu saja semua hal tersebut tak dilakukan dengan gratis. Menurut Jaja, satu hari sesi pemotretan pre-wedding bisa dikenakan biaya sebesar tiga juta rupiah. Kemudian untuk pengambilan gambar film, seharinya tim produksi harus merogoh kocek senilai tujuh hingga delapan juta rupiah.

Hal inilah yang kemudian memancing kontroversi. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) belum lama ini mengeluarkan sebuah fatwa haram untuk urusan jual beli lahan kuburan mewah bagi masyarakat muslim.

San Diego Hills sendiri mematok harga dengan kisaran 25-50 juta rupiah untuk makam jenis single burial dengan ukuran kira-kira 1,5 x 2,6 meter. Sementara itu untuk kelas semi private, harga berkisar antara 147-279 juta rupiah dengan ukuran bervariasi, dari 9,1 m2 hingga 21,4 m2. Lalu di kelas private tersedia kuburan seharga 404-955 juta rupiah dengan ukuran 42-62 m2. Terakhir, dan yang termahal, terdapat pula kuburan kelas peak estate seharga 328 juta hingga 4 milyar rupiah dengan ukuran 46-217 m2.

Konsep yang ditawarkan pun berbeda dengan Taman Pemakaman Umum lainnya. Biaya yang harus dikeluarkan hanya ada di awal sehingga pelanggan tak perlu membayar biaya perawatan kuburan bulanan maupun tahunan lagi.

Sesungguhnya, tak hanya San Diego Hills, terdapat pula beberapa usaha jual beli kuburan mewah lainnya di Karawang Barat seperti Lestari Memorial Park dan Taman Memorial Graha Sentosa. Beda lagi halnya dengan Firdaus Memorial Park di Bandung yang didirikan dengan konsep wakaf bagi umat muslim di tanah air.

Hal inilah yang dipermasalahkan MUI. Fatwa yang mereka keluarkan mengharamkan jual beli kuburan yang mengandung dua unsur: tabzir dan israf. Saat dihubungi via telepon, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat Asrorun Ni’am Sholeh menjelaskan perihal kedua konsep tersebut.

Menurutnya, tabzir adalah sebuah usaha pemubaziran atau sia-sia ketika kita mendistribusi, mengeluarkan atau mengelola sesuatu. Jadi, misalkan sebuah kuburan sesungguhnya hanya membutuhkan lahan sebesar 4m2, maka haram bagi seorang muslim untuk membangun dengan luas lahan berkali-kali lipat dari yang dibutuhkan.

Sementara itu israf maksudnya adalah hal yang dilakukan secara berlebihan hingga di luar batas. Patokan yang digunakan adalah kondisi sosial masyarakat setempat. Misalkan saja harga dua juta rupiah yang dianggap wajar untuk sebuah makam bagi orang kaya, niscaya dianggap membebani bagi keluarga tidak mampu.

“Intinya, dilarang mendesain kuburan dengan penuh kemewahan. Terminologi mewah kembali lagi ke kondisi kepatutan masyarakat. Misalnya di kuburan dibangun kafe, mal, kolam renang, dan lainnya yang tidak ada kaitan dengan jenazah sehingga harganya tinggi. Hal itu membuat tujuan kuburan sendiri menjadi bergeser dari sebelumnya untuk mengingatkan kematian jadi tempat rekreasi. Shooting dan pre-wedding di kuburan juga tidak diperbolehkan karena tidak sesuai dengan apa yang ditujukan dalam penetapan syariat kuburan,” ujar Asrorun.

Untuk membawa kebahagiaan pada ia yang telah meninggal, Asrorun menegaskan bahwa cara yang harus dilakukan bukanlah memberi kemewahan pada kuburan. Namun, pihak keluarga bisa mendermakan hartanya dengan melakukan amal jariah, membangun lembaga pendidikan dan lainnya yang didedikasikan untuk ia yang telah meninggal.

Di lain pihak, Direktur Wakafpro-Sinergi Foundation Asep Irawan yang menaungi komplek pemakaman Firdaus merasa bahwa timnya tidak melanggar fatwa haram MUI tersebut. Konsep wakaf menjadi pilihan mereka karena prihatin dengan kondisi ekonomi masyarakat menengah ke bawah di Indonesia yang kerap merasa terbebani dengan biaya pemakaman yang ada pada umumnya.

Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa seorang donatur berkesempatan memberikan wakaf senilai 10 juta rupiah kepada yayasannya. Dengan begitu, donatur tersebut akan mendapat dua kavling lahan kuburan seluas lima hektar dengan kapasitas maksimal enam jenazah. Selain itu, uang tersebut juga digunakan untuk menyumbang lahan dengan luas dan fasilitas sama bagi keluarga duafa atau tidak mampu.

Kemudian, sisa uang yang ada juga digunakan untuk pembangunan fasilitas ibadah dan pendidikan seperti masjid dan pesantren. Sebagian lagi akan disalurkan untuk program usaha seperti apotek, toko busana muslim di Surabaya, dan lainnya. Keuntungan dari usaha-usaha tersebut akhirnya akan menjadi dana operasional perawatan kuburan di komplek pemakaman Firdaus.

“Target lahan di komplek pemakaman ini sebesar 21 hektar, tapi yang baru terbebaskan baru lima hektar dari dana wakaf yang diterima. Kemudian, dari lima hektar itu sudah ada 1,5 hektar yang dimatangkan menjadi makam dengan rincian 400 kavling berkapasitas 1.200 jenazah. Satu kavling akan berisi tiga jenazah. Jadi, jenazah pertama akan dikubur di kedalaman dua meter, jenazah kedua pada kedalaman 1,6 meter dan yang ketiga pada 1,2 meter,” jelas Asep.

Syahdan, diharapkan pemakaman yang ada tidak akan bertambah luasnya karena setelah 10 tahun, jasad yang ada akan hancur menyatu dengan tanah sehingga jenazah baru bisa menempatinya lahan itu lagi. Asep mengatakan bahwa konsep tersebut juga digunakan pada beberapa komplek pemakaman muslim di luar negeri, seperti di Mekah dan Madinah.

Tidak bisa dimungkiri, Islam adalah agama terbesar di Indonesia. Menurut data Badan Pusat Statistik pada 2010 lalu, jumlah populasi umat Islam di tanah air telah menyentuh angka 207,18 juta jiwa. Jumlah tersebut setara dengan 13% dari total populasi umat Islam di dunia.

Ironisnya, bagian komplek pemakaman muslim juga merupakan yang terbesar di San Diego Hills. Dengan keluarnya fatwa MUI yang mengharamkan jual beli kuburan mewah pada awal 2014 ini, apakah itu berarti seluruh umat Islam dan keluarganya yang pernah berinvestasi di kuburan mewah semacam San Diego Hills telah masuk dalam ranah haram?

Di lain pihak, jumlah orang miskin di Indonesia pada Maret 2013 lalu – juga menurut BPS – menyentuh angka 28,07 juta jiwa atau 11,37% dari total penduduk Indonesia. Dengan begitu, saat ini kapasitas 1.200 jenazah yang dimiliki komplek pemakaman Firdaus jelas belum mencukupi kebutuhan pemakaman bagi rakyat tidak mampu beragama Islam di tanah air.

Asrorun mengatakan bahwa setiap jenazah memiliki empat hak yang sekaligus menjadi kewajiban bagi orang hidup: memandikan, mengafani, menyalatkan dan menguburkan. Namun, nyatanya banyak orang merasa juga memiliki hak untuk memilih sendiri tata cara pemenuhan empat kewajiban tersebut.

Dalam sebuah testimoni di laman resmi situs San Diego Hills, Endang M. Johani menyebut pilihannya memilih komplek tersebut sebagai tempat peristirahatan terakhir keluarganya sebagai sebuah persiapan yang matang. Menurutnya, hal itu terbukti saat pihak San Diego Hills membantu mengurus semua persiapan penguburan mendiang suaminya.

Apakah itu berarti Endang M. Johani telah mengambil sebuah pilihan haram dari sudut pandang agama?

Kenyamanan dan privasi memang menjadi alasan utama yang mendorong Mochtar Riyadi untuk mendirikan San Diego Hills. Hal ini bermula dari rasa tidak nyaman yang dirasakan Mochtar saat berziarah ke makam orangtuanya di Malang dahulu.

Eksklusivitas yang terbangun pun akhirnya menciptakan alienasi tersendiri bagi orang-orang seperti Jaja dan Entin. Jurang pemisah antara kematian dan hiruk pikuk kehidupan akhirnya menjadi kabur dengan sendirinya. Pernikahan bisa berlangsung di kuburan, bahkan makan malam mewah bisa terjadi di sebelah rumah kematian.

Di sini, MUI berusaha untuk menghapus tembok pemisah di tengah disparitas ekonomi antara si kaya dan si miskin, sekaligus menegaskan ulang batasan di antara ranah dua alam berbeda. MUI mengimbau dengan fatwa, tapi nyatanya pilihan tetap ada di tangan kita.

 

NB: Artikel yang sama pernah dimuat oleh majalah Geo Times edisi 24 Maret 2014.

Advertisements

One thought on “Maut dan Yang Berisik Setelahnya

  1. Pingback: Geo Times | Tambo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s