Melela, Mereka Ingin Diakui

140606-gay-marriage-flag-jsw-430p_0d16f2c44b9fcf7f91c8188822900053

Ilustrasi pernikahan gay/secularpolicyinstitute.net

Riuh. Suara house music mendominasi, mendebarkan dada. Malam belum mencapai puncaknya. Baru pukul 10. Dua panggung, salah satunya tertutup tirai masih lenggang tapi pengunjung semakin banyak berdatangan. Sebagian terlihat mengelilingi bar berbentuk elips. Sebagian bercengkerama di beberapa sudut.

Semakin malam, semakin banyak pengunjung yang datang. Sebagian besar datang dengan pasangan masing-masing: sesama laki-laki. Itulah suasana Apollo Club, klub malam khusus untuk kaum gay di Jakarta. Dandanan mereka aneka rupa.

Ada yang mengenakan high heels dengan lagak gemulai, ada yang mengenakan celana pendek selutut. Seorang remaja kurus terlihat berkemeja loreng dengan kacamata besar di wajahnya. Ada pria paruh baya berkemeja putih, mengenakan newsboy cap di jidatnya.

Mereka semua larut dengan alunan house music. Seorang laki-laki yang wajahnya tampak sudah tidak muda lagi, terlihat berkeliling ruangan. Dia menyapa banyak pengunjung. Pada satu kesempatan, dia bahkan terlihat mesra dengan seseorang pria: berpelukan dan berciuman.

Suasana mulai panas, ketika tirai di salah satu panggung mulai dibuka. Seorang pria dengan dress pendek berwarna merah muncul dari balik tirai. Dia mengenakan sepatu berhak tinggi. Pengunjung semakin bersorak sewaktu pria itu menyanyikan lagu “Girl on Fire” dari Alicia Keys; tentu saja secara lip sync. Sambil terus “bernyanyi”, dia melangkah dari panggung bertirai ke panggung di depannya; dan tampaknya agar bisa dilihat dari dekat oleh pengunjung.

Bergiliran pria-pria lain tampil di panggung sesudahnya. Mereka juga bernyanyi secara lip sync. Dua orang pria yang mengenakan baju sporty bernuansa merah menirukan lagu Pink yang berjudul “Perfect”. Ketika lagu selesai diputar, dua laki-laki itu menarik dua pengunjung ke atas panggung. Masing-masing pengunjung itu dipeluk, lalu mereka pun berciuman di atas panggung. Lewat tengah malam, muncul pria berkepala plontos dan brewok yang mengenakan dress hitam.

Ketika dia “bernyanyi” lagu Beyonce “If I Were a Boy”, suara pengunjung semakin riuh termasuk Yoga. Laki-laki berusia 19 tahun itu, baru dua kali berkunjung ke Apollo. Dia datang bersama pasangannya. Tak seperti pasangan lain yang berdansa, Yoga dan pasangannya hanya duduk dan minum bir. “Seru ngumpul sama teman-teman di sini,” katanya.

Di Apollo, bukan hanya pasangan gay lokal seperti Yoga yang datang. Di beberapa sudut terlihat beberapa bule termasuk Craig Howard. Umurnya 47 tahun. Dia mengaku berasal dari California, Amerika Serikat dan sudah beberapa kali datang ke Jakarta untuk urusan bisnis. Setiap kali ke Jakarta, dia menyempatkan diri datang ke Apollo. “Saya hanya menikmati suasana,” katanya.

Di tengah lautan pasangan gay yang berkerumun dan berdansa, Craig yang duduk sendirian memang terlihat aneh. “Saya baru putus dengan pacar saya enam bulan lalu. Ke sini, saya mencoba mencari pasangan baru,” kata laki-laki dengan jambang tipis itu.

Bagi orang semacam Craig, Yoga dan pasangan gay lain; Apollo Club yang terletak di Bellagio Mall, Mega Kuningan, Jakarta tentulah semacam oase. Mungkin juga tempat pelarian. Di sana, mereka bisa melepaskan ekspresi tanpa harus takut dimaki dan dihujat oleh arus besar masyarakat yang sejauh ini cenderung menganggap mereka sebagai kaum pembawa petaka dan perlaya, dan karena itu harus dijauhi dan dilaknat.

Faktanya menjadi gay atau lesbian di banyak tempat termasuk di Indonesia memang tak mudah, bahkan sulit. Bukan saja tak bisa mengekspresikan perasaan mereka di tempat umum seperti halnya pasangan pria-wanita, tapi kehadiran mereka seringkali juga ditolak secara sosial.

Tahun lalu, Dede Oetomo, dosen Universitas Airlangga, Surabaya ditolak sebagai komisioner Komnas HAM hanya karena dia seorang gay. Dia pendiri GAYa Nusantara, organisasi gay di Surabaya; yang selama ini terang-terangan mengaku sebagai gay. Bagi dia, tidak ada yang salah untuk bangga dengan sesuatu yang berbeda, termasuk menjadi gay itu. Dede beberapa kali berusaha melawan arus, antara lain bergabung dengan beberapa organisasi, misalnya Majelis Amanat Rakyat yang dibentuk Amien Rais di awal reformasi, dan mendaftarkan diri sebagai komisioner Komnas HAM.

Perlawanan paling menyolok yang pernah dilakukan pasangan gay atau lesbian di Indonesia terjadi pada pertengahan April 1981. Media waktu itu ramai memberitakan perkawinan pasangan lesbian di sebuah klub di Blok M, Jakarta. Di buku The Gay Archipelago, Sexuality and Nation in Indonesia, pengamat kaum homoseksual Tom Boellstorff memuji pasangan lesbian yang menikah itu, dan menobatkannya sebagai pejuang hak-hak lesbian.

Cara lain ditempuh oleh Rio Damar, eks wartawan. Dia membuat situs melela.org. Itu situs untuk berbagi pengalaman bagi kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender atau yang biasa disingkat menjadi LGBT. Situs itu dibuat Rio setelah ia mewawancarai banyak gay, lesbian dan sebagainya; dan mendengarkan kisah mereka.

“Saya membentuk melela.org bukan sebagai media perjuangan kaum LGBT karena ketika berbicara soal perjuangan, berarti ada yang harus dilawan dan akan ada yang menang atau kalah. Situs ini hanya bukti bahwa di Indonesia ada kok orang-orang yang berpikiran terbuka dan bisa menerima keberagaman,” kata Rio.

Nama “melela” diambil dari buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Bukan Pasar Malam. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, “melela” berarti memperagakan diri. Menurut pandangan Rio, “melela” adalah menunjukkan diri secara elok. “Saya berharap orang-orang seperti saya tidak dianggap sebagai orang sakit atau harus disembuhkan,” ujar Rio.

Sebagai gay, Rio mengaku memiliki pacar dan dia bersyukur karena teman-teman dan keluarganya bisa menerima dirinya apa adanya. Bahkan yang memberikan semangat untuk membuat melela.org, menurut Rio adalah teman-temannya di luar LGBT.

Sejak dibuat pada September tahun lalu, situs yang memuat kisah-kisah pengakuan – atau biasa disebut coming out – para LGBT itu mendapat banyak tanggapan beragam dari khalayak. Awal Desember 2013, melela.org bahkan sempat crash karena terlalu banyak pengunjung yang membukanya.

“Bagi saya, keberadaan melela.org penting sekali buat komunitas (LGBT), karena Rio fokus pada coming out. Itu titik kritis kehidupan seorang homoseksual, karena dia mengakui pada diri sendiri dan orang lain soal orientasi seksualnya,” kata Rizal Iwan, salah satu sumber yang ceritanya muncul di melela.org.

Rio mengibaratkan coming out mirip dengan orang yang menabung untuk suatu keperluan. Dalam konteks coming out, tabungan itu adalah keberanian. Bila itu terjadi, kata dia, semua akan melegakan, terlebih bila teman-teman atau keluarga kemudian juga bisa menerima.

Dia berharap, setiap orang yang membaca artikel di melela.org bisa tersentuh untuk menerima keberagaman. Setidaknya agar orang-orang LGBT tak lagi dilaknat dan dikutuk, lalu hanya berkumpul di suatu tempat seperti di Apollo Club itu.

***

Selain Rizal, ada pula Paramita Mohamad, salah satu sumber cerita di melela.org. Ia bahkan mengatakan, halangan terbesar bagi seorang LGBT di Indonesia adalah orangtua yang berprasangka.

“Setiap orang bertanggung jawab atas kebahagiaannya sendiri. Artinya orangtua juga bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka. Anak tidak perlu mengambil alih tanggung jawab itu dengan cara hidup dalam kepura-puraan atau ketidakjujuran, mengorbankan kesehatan mentalnya sendiri,” tutur perempuan yang akrab disapa Mita tersebut.

Mita merasa akan lebih baik bagi insan LGBT untuk bersikap secara independen, dan jangan sampai hal tersebut disalahartikan sebagai bentuk durhaka pada orangtua.

“Apakah ini artinya durhaka? Menurut saya, tragis sekali kalau durhaka diterjemahkan menjadi ‘tidak bersedia hidup atau bertingkah laku sesuai harapan orang tua’. Sudah waktunya kita bicara lebih rasional tentang apa makna durhaka,” ujar Mita.

Lebih lanjut, Mita pun mengakui bahwa coming out kerap kental dengan aroma politis.

“Buat saya, coming out adalah urusan pragmatis. Pertama, buat urusan logistik dan kedua demi kesehatan mental. Saya juga paham dengan pandangan yang mengatakan bahwa coming out adalah isu politis. Yang pasti, bahwa saya jadi sering diwawancara media semata-mata karena saya sudah come-out sebetulnya mengenaskan,” kata Mita yang saat ini bergelut di bidang periklanan.

Namun, ia juga sadar bahwa coming out tidak mudah untuk dilakukan. Bahkan, banyak insan LGBT yang belum berani terbuka dengan keluarga atau kerabat terdekatnya sendiri hingga saat ini.

“Untuk mereka yang masih takut durhaka, atau dibuang oleh orangtua, ambil nafas panjang. Saat ini jalan kelihatannya gelap dan berliku, tapi percayalah, kamu tidak sendirian. Saya tidak akan bilang bahwa semuanya akan jadi mudah, tapi kamu tidak sendirian. Ada banyak orang, straight atau bukan, yang akan bersamamu, membantu kamu. Kejujuran ini akan sepadan. Semuanya akan jadi lebih baik,” tegas Mita.

“Untuk mereka yang sudah dewasa tapi takut reputasinya ternoda dan rejekinya terputus (karena coming out): Anda bercanda ya?”

Lebih jauh, Mita merasa bahwa kehidupan LGBT di Indonesia akan jauh lebih terbantu bila muncul berbagai organisasi yang berkaitan.

“Saya rasa kaum LGBT akan terbantu jika di Indonesia ada organisasi kuat semacam PFLAG (Parents and Friends of Lesbian and Gay) atau aliansi straight-LGBT lainnya. Orangtua, keluarga, dan teman baik mungkin bisa belajar dari orangtua dan teman lain bahwa punya anak atau teman LGBT itu bukan malapetaka, LGBT bukan penyakit apalagi menular, dan sebagainya,” jelas Mita.

Namun, kemunculan organisasi-organisasi tersebut harus dibarengi dengan koordinasi yang memadai sehingga dapat menyentuh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat.

“Untuk urusan publik, resepnya di mana-mana sama. Organisasi minoritas akhirnya akan bisa mengalahkan perlawanan dari mayoritas dengan berserikat. Kalau sudah berserikat, kegiatannya harus diorganisasikan dengan baik. Selain itu, kita belajar dari Amerika Serikat bahwa jika kita bisa membingkai kesetaraan LGBT sebagai mempertahankan nilai-nilai keluarga (family values), maka tujuan lebih mudah diraih,” kata Mita.

 

NB: Liputan ini dilakukan untuk majalah Geo Times pada Januari 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s