Pencari Suaka: Mengapa Mereka Hijrah

512875-asylum-seekers

Sebanyak 33 pencari suaka tiba di Christmas Island, Januari 2010, Sumber: http://www.heraldsun.com.au

Sudah banyak orang hilang di Balochistan, terlalu sering, bahkan hingga jadi tak mengejutkan lagi. Mayat-mayat dibuang begitu saja di daerah pegunungan terpencil atau bahkan jalanan kosong. Penuh memar, tak jarang badan sudah terbelah jadi beberapa bagian. Media bungkam. Polisi pun hanya berdiam.

Apapun bisa terjadi di Balochistan, provinsi terbesar di Pakistan yang tersohor karena kekayaan sumber daya mineralnya. Angkatan bersenjata Balochistan bisa membunuh penduduk tak bersalah, para profesor dan jurnalis hanya untuk menjalankan ‘misi balas dendam’ terhadap pemerintah.

Pemerintah juga seakan menutup akses publikasi pemberitaan tentang Balochistan. Seperti saat mereka memblokir situs media online berbahasa Inggris pertama di sana, The Baloch Hal, pada awal November 2010. Tak sampai di situ, beberapa jurnalis The Baloch Hal pun akhirnya terbunuh secara misterius.

Oleh karena itu, akhirnya banyak warga Balochistan yang melarikan diri jauh-jauh dari tempat kelahirannya. Mereka pergi karena bosan dengan berbagai macam konflik tiada henti. Hanya ketenangan yang mereka cari.

148608x325

Wanita Balochistan bertahan dalam kondisi perang, 2010, Sumber: http://www.dawn.com

Setidaknya, itulah alasan Musa (22) yang membawanya tiba di Indonesia pada awal 2014 ini.

“Saya berasal dari Pakistan, tepatnya di Balochistan. Di sana ada banyak kerusuhan. Anda bisa pergi ke pasar atau pusat perbelanjaan setiap harinya, lalu tiba-tiba muncul kerusuhan dan pembunuhan,” jelas Musa.

Oleh karena itu, keluarga Musa memutuskan untuk mengumpulkan uang semampu mereka untuk membawa Musa pergi dari Pakistan dan mencari suaka ke Australia. Dengan membayar jasa calo sebesar 10.000 US$, dia pergi dengan pesawat menuju Thailand dengan waktu perjalanan kurang lebih lima jam. Setelah transit sesaat, perjalanan kembali dilanjutkan ke Indonesia selama tiga jam.

“Tinggal bayar saja ke agen, dia yang mengurus segalanya, tiket, prosedur, dan lainnya. Saya tinggal berangkat saja. Kalau ingin lebih murah, Anda bisa membayar 6.000 US$ dan menggunakan perahu untuk pergi dari Pakistan,” ujar Musa kembali.

Namun, pergi menggunakan perahu memiliki risiko sendiri. Waktu perjalanan yang ada menjadi jauh lebih lama dan risiko perahu bermasalah atau tenggelam di tengah jalan selalui menghantui.

Walau begitu, hal tersebut tak mengurangi minat para pencari suaka untuk datang ke Indonesia. Indonesia memang tempat perhentian yang strategis sebelum menyeberang ke negeri kangguru. Banyak orang yang datang dari ‘negara bermasalah’ untuk mendapat perlindungan internasional sehingga bisa menetap di Australia dengan mengurusnya lewat Badan Urusan Pengungsi PBB (UNHCR) cabang Indonesia.

migration routes to Indonesia (sumber Human Rights Watch)

Rute migrasi para pencari suaka, Sumber: Human Rights Watch

Dalam keterangan di situs resmi UNHCR, dijelaskan perbedaan mendasar antara pencari suaka dan pengungsi. “Pencari suaka adalah seseorang yang mengakui bahwa dirinya adalah pengungsi, tapi belum dievaluasi secara definitif (sebagai pengungsi),” tulis UNHCR.

“Para pencari suaka yang ada di Indonesia akan didata oleh UNHCR, dan diberikan kartu identitas tanda pengungsi. Setiap beberapa bulan sekali kartu itu akan diperbaharui masa berlakunya. Namun, sebagai pengungsi saya tidak boleh mencari kerja sama sekali di sini. Makanya saya mengandalkan kiriman uang dari saudara di Pakistan dan di Australia untuk bertahan hidup sehari-hari,” tutur Musa yang kini tinggal di Jalan Hankam, Cisarua.

Proses yang dilalui Musa itu disebut sebagai penentuan status pengungsi. Setelah melakukan pendaftaran, para pencari suaka akan diwawancara oleh pihak UNHCR bersama dengan seorang penerjemah. Di sana, akan ditentukan status mereka sebagai pengungsi atau bukan, tergantung pada alasan atau kasus yang melatarbelakangi untuk mencari suaka.

Setelahnya, UNHCR akan memberikan perlindungan dan mencarikan solusi jangka panjang dalam bentuk penempatan di negara lain yang berpotensi menerima pengungsi.

“Paling cepat dapat izin untuk menetap di negara lain itu setahun. Hal itu karena jumlah pengungsi yang minta suaka itu banyak sekali, dan UNHCR juga kelihatannya kurang orang untuk menangani itu semua,” kata Musa.

Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mendapat izin perlindungan dari UNHCR membuat para pengungsi kerap hidup dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun di Indonesia. Oleh karena itu, banyak yang memilih untuk menyeberang secara langsung dengan menggunakan perahu ke Australia.

Para ‘manusia perahu’ tersebut berharap bisa diterima secara mudah di Australia. Salah satunya karena Australia telah menandatangani dan meratifikasi Konvensi PPB Tahun 1951 tentang pengungsi. Di sana, disebutkan bahwa penanda tangan konvensi harus menerima pencari suaka yang datang tanpa visa sekalipun.

Lebih lanjut, seseorang tidak dapat mengajukan status pengungsi ketika ia masih berada di negara asalnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa ‘manusia perahu’ yang datang menyeberangi lautan tidak bisa dianggap ilegal. Oleh karena itulah, sejak lama Australia telah menjadi target incaran para pencari suaka yang berharap dapat memulai hidup baru di sana.

Masalahnya, para pencari suaka kerap ‘diusir paksa’ angkatan laut Australia ke Indonesia. Oleh karena itu, mau tidak mau Indonesia jadi pihak yang menanggung hidup mereka.

“Australia di bawah kepemimpinan Abbott itu sangat hostile. Para pencari suaka itu bisa langsung diusir oleh kapal-kapal perang Australia. Pernah juga terjadi, otoritas Australia mengontak Badan SAR Nasional untuk menyerahkan nelayan Indonesia yang membawa perahu pengangkut imigran. Setelah itu, mereka mendorong para imigran ini hingga masuk ke laut dan segera pergi begitu saja. Mau tidak mau, Badan SAR Nasional akan menyelamatkan mereka dan membawanya ke Indonesia,” jelas Hikmahanto Juwana, pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia.

art-Abbott_Parliament-620x349

Tony Abbott, Sumber: http://www.smh.com.au

Namun setelah sampai di Indonesia, nyatanya para pencari suaka ini juga kerap mendapat tindakan semena-mena. Hasil riset Human Rights Watch pada Juni 2013 lalu bahkan juga mengungkapkan berbagai tindakan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh para petugas imigrasi Indonesia.

“Entah orang dewasa ataupun anak kecil (yang mencari suaka) menggambarkan bagaimana para penjaga menendang, memukul dan menampar mereka atau tahanan lainnya. Beberapa bahkan melaporkan bahwa penjaga mengikat atau menyumpal para tahanan, memukulnya dengan tongkat, membakar mereka dengan rokok dan menggunakan alat kejut listrik pada mereka,” tulis Human Rights Watch dalam situs resminya.

“Bahkan saat UNHCR telah mengidentifikasi mereka sebagai pengungsi, pihak Indonesia kerap menolak untuk melepas mereka dari tempat tahanan, dan mereka pun dianggap tak berhak sama sekali untuk berada di negara tersebut.”

Hal senada juga diungkapkan Ali (26), imigran asal Afghanistan yang selama setahun terakhir telah menetap di Cisarua. “Saya suka dengan orang-orang di Indonesia, mereka ramah. Tapi saya benci dengan polisi Indonesia,” ujar Ali.

“Saya sempat beberapa kali ditangkap polisi Indonesia saat sedang berjalan-jalan sendirian. Saya sudah menunjukkan kartu identitas pencari suaka dari UNHCR, tapi mereka tidak peduli. Saya dianggap sebagai imigran gelap yang tinggal secara ilegal. Saat ditangkap, mereka kerap mengambil uang yang saya punya,” kata Ali lagi.

Ironis, ketika para pencari suaka mencoba kabur dari negaranya yang penuh konflik, mereka justru ditolak dan disiksa di mana-mana tanpa kejelasan akan nasib dan status. Bagai keluar dari mulut buaya untuk masuk ke kandang singa.

Namun, tak semua pencari suaka menyadari hal ini. Mereka tetap menganggap bahwa damai akan menyerta setibanya di negara tujuan seperti Australia. Kalau sudah begini, kedamaian macam apa yang sesungguhnya dicari, bila para pencarinya saja tak mengerti apa yang terjadi.

 

Baca juga Cisarua: Surga Para Imigran

NB: Tulisan yang sama juga dimuat di majalah Geo Times edisi 12 Mei 2014.

Advertisements

4 thoughts on “Pencari Suaka: Mengapa Mereka Hijrah

  1. Pingback: Cisarua: Surga Para Imigran | Tambo

  2. Pingback: Geo Times | Tambo

    • Sy sedih banget mmbc ini,mereka itu manusia….ciotaan Tuhan seperti kita. Mereka sdh sulit lbh lgi dipersulit karena politik dan aturan hukum yg tak jelas dan karakter rakusnya segelintis manusia spt polisi dan oknum di imigrasi. Sy mengenal satu orang yg baik,dg tujuan baik,ingin menjadi org indonesia. Sdh berlaku baik,ikuti aturan yg berlaku. Sy berharap dpt kemudahan dr Tuhan. …melalui tangan2 bijak di ind terutama di makassar. Semoga…ibu berdoa untukmu nak…lov u

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s