Karena Kita Menolak Lupa

20 September 2012

Pukul 2 siang. Suasananya masih lengang. Keramaian hanya datang dari panggung di sebelah pohon rindang. Di backdrop panggung, terlihat tulisan besar “Nonton Bareng Penghitungan Suara Pilkada DKI” dengan logo Partai Gerindra di ujung kanan atas. Di bawah tulisan, terlihat tiga sosok mengacungkan tinggi kedua tangan masing-masing sembari mengenakan baju kotak-kotak merah dan biru. Ada Joko Widodo (Jokowi) di kiri dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di kanan. Sementara Prabowo Subianto di tengah menggenggam erat tangan Jokowi dan Ahok.

Lagu dangdut menghentak keras dari panggung itu. Para penonton hanyut dalam keceriaan. Mereka semua bernyanyi dan berjoget bersama. Orang-orang berbadan tegap, berbaju loreng dan bertopi baret merah juga tak segan ikut serta. Ada yang berjoget di atas panggung, ada yang menonton dari bawah dengan ponsel di tangan mengambil gambar penyanyi dangdut di depannya.

Suasana berubah kala Ahok tiba. Kira-kira pukul setengah 3, eks Bupati Belitung Timur itu sampai di kantor DPP Gerindra, Ragunan. Semua serentak bergegas ke pintu depan. Para tentara membentuk barisan, para wartawan bersiap dengan kamera dan alat perekam. Tak disangka, Ahok tak langsung masuk ke bangunan kantor. Ia lapar dan berjalan ke kiri panggung tempat penjaja makanan berkumpul membagikan makanannya cuma-cuma. Ahok segera memesan satu mangkok bakso sebagai santap siang. Wartawan berkerumun di sekelilingnya, mengambil gambar dan melontarkan pertanyaan.

IMG_0007

Ahok makan bakso sembari meladeni pertanyaan wartawan/Viriya Paramita

“Menurut Bapak, hasil quick count bisa dipercaya enggak?”

“Kami ada relawan yang nonton langsung quick count-nya. Sudah ada 5.000 lebih TPS yang masuk ke quick count. Jadi itu real, bukan sekadar quick count,” tegas Ahok. “Saya yakin menang.”

Pukul setengah 4, Prabowo tiba. Berbeda dengan Ahok, pengawalan ketat dilakukan untuk mengiringi Prabowo masuk ke bangunan kantor. Di lobi, sesi tanya jawab sempat berlangsung singkat dengannya. Setelahnya, semua larut dalam arus masuk ke kantor.

IMG_0017

Prabowo berusaha masuk ke kantor DPP Gerindra (20/9/12)/Viriya Paramita

Semua merasa punya kepentingan untuk ikut masuk ke dalam. Para wartawan juga berdesakan. Beberapa diminta menunjukkan tanda pengenal, yang lainnya bisa lolos begitu saja.

Di hall lantai atas, suasana kembali tenang. Prabowo duduk di tengah bersama Ahok dan orang-orang berpakaian kemeja kotak-kotak. Suhu ruangan dingin, berbanding terbalik dengan panasnya kondisi di luar. Panitia segera bersiap melaporkan hasil hitung cepat Pilkada DKI Jakarta 2012. Kala itu, Cyrus Network telah mengumpulkan data sebanyak 81,13%. Sebanyak 54,49% warga memilih Jokowi-Ahok, sementara sisanya ada di tangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

“Yang paling menyedihkan saya sebagai mantan prajurit, ada usaha dari pihak-pihak yang ingin merobek pancasila. Untuk mengejar kekuasaan, mereka menggunakan isu agama dan ras yang menimbulkan fitnah dan perpecahan. Tapi rakyat Indonesia, khususnya Jakarta, tidak bisa dibohongi,” kata Prabowo.

“Hari ini suara rakyat berhasil. Keinginan untuk mendapat pemimpin bersih berhasil. Kita bersyukur dan berdoa agar Jokowi dan Basuki bisa menjadi pemimpin yang amanah, bersih dan tidak korup. Ini adalah kemenangan kalian, kemenangan rakyat.”

Prabowo memang mendukung penuh pencalonan Jokowi dan Ahok sebagai pemimpin baru rakyat Jakarta. Ia bahkan berjanji memimpin langsung demonstrasi bila mereka tertangkap tangan melakukan korupsi.

“Saya kira mereka sudah tahu bahwa mereka sudah berkomitmen untuk tidak korupsi. Kalau hal itu mereka langgar, saya akan pimpin sendiri demonstrasi untuk menurunkan mereka,” ujar Prabowo.

IMG_0032

Prabowo dan Ahok duduk bersama di kantor DPP Gerindra (20/9/12)/Viriya Paramita

Di akhir acara, Prabowo maju ke depan untuk melakoni doa bersama yang dipimpin bergantian oleh setidaknya tiga pemuka agama berbeda. Sosok Hercules terlihat berdiri sedikit di belakangnya. Isi doanya semua sama. Mendoakan agar Prabowo bisa lancar jalannya memenangi pemilihan umum presiden (Pilpres) pada pertengahan 2014. Dengan khusyuk, Prabowo memejamkan mata.

Perjuangannya untuk menjadi Presiden Indonesia telah dimulai sejak mengikuti konvensi Partai Golkar 2004 silam. Setelah satu dekade, Prabowo sempat mendirikan Partai Gerindra dan kalah dalam Pilpres 2009. Saat itu, ia menjadi calon wakil presiden mendampingi Megawati Soekarnoputri dari PDI-P.

Kini, prinsipnya adalah lakukan, atau tidak sama sekali.

IMG_0041 IMG_0046 IMG_0048

Prabowo berdoa dipimpin tiga pemuka agama berbeda(20/9/12)/Viriya Paramita

 

Wartawan pun sempat iseng menanyakan kemungkinan Jokowi mendampingi Prabowo sebagai calon wakil presiden pada 2014. Prabowo berujar, segalanya bisa terjadi.

“Saya kira komitmen mereka adalah mengabdi untuk Jakarta terlebih dahulu. Tapi, mukjizat bisa saja terjadi,” katanya.

***

9 Juli 2014

Hampir dua tahun berlalu sejak itu dan segalanya benar-benar terjadi, bahkan mungkin di luar ekspektasi Prabowo sendiri. Jokowi justru diusung sebagai calon presiden oleh PDI-P dengan Jusuf Kalla sebagai pendamping. Sementara Prabowo maju bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa. Suara rakyat terpecah belah. Di saat-saat akhir Aburizal Bakrie dan Golkar memutuskan mendukung Prabowo. Nasional Demokrat dan Hanura merapat ke Jokowi, walau Hary Tanoesoedibjo akhirnya membelot ke kubu Prabowo.

Sejak dimulainya era reformasi, mungkin inilah persaingan paling ketat dan frontal yang pernah terjadi dalam ajang Pilpres. Media-media berubah bias dan buas dengan mendukung calon presiden sesuai kepentingannya masing-masing. Metro TV dan TV One jadi yang terdepan dalam perang pembentukan opini antara dua kubu calon presiden.

Pada 9 Juli 2014, pemilu pun dimulai. Hasil hitung cepat beredar di mana-mana, menunjukkan kemenangan bagi masing-masing kelompok. Tak ayal, Prabowo sampai naik pitam pada para wartawan dari media pro-Jokowi di rumahnya sendiri, Puncak Bukit Pemburu, Desa Bojongkoneng, Bogor, Jawa Barat.

Wartawan Wartakotalive.com, Theo Yonathan Simon Laturiuw, melaporkan hal ini dengan gamblang. Siang itu, Prabowo bermaksud meladeni permintaan wawancara berbagai media secara bergantian, dari ANTV, Berita Satu, Jakarta Globe, Kompas TV, Metro TV hingga CNN.

Walau menyentil gaya reportase Berita Satu, Jakarta Globe dan Kompas TV, Prabowo masih bersedia untuk melakoni sesi tanya jawab. Namun, hal berbeda terjadi kala Metro TV mendapat giliran. Berikut tulisan Theo soal kejadian Prabowo ngamuk ke media milik Surya Paloh itu, sang Ketua Umum Partai Nasional Demokrat.

Saat itu seharusnya sehabis Kompas TV giliran Metro TV mewawancarai Prabowo. Kru Metro TV sudah mengambil tempat persis disamping Kompas TV yang tengah mewawancarai Prabowo. Tapi begitu selesai wawancara, Prabowo langsung pergi dan melewati giliran Metro TV. Dia langsung pergi ke tempat CNN akan mewawancarai dia di dalam pendopo rumahnya.

Kru Metro TV pun terbengong-bengong. Sementara Prabowo sudah duduk di kursi yang disetting kru CNN di dalam pendopo. Kejadian selanjutnya inilah yang bikin Prabowo naik pitam. Wartawati Metro TV yang bertubuh tinggi langsung memotong sesaat sebelum Prabowo mulai wawancara dengan CNN. Sebenarnya wartawati itu hanya menyampaikan bahwa Metro TV ingin mewawancarai Prabowo.

“Metro TV itu jahat. Apa dosa saya sama Surya Paloh sampai kalian begitu jahat dengan saya. Tak berimbang pemberitaan kalian. Kalau tidak mau disakiti, jangan menyakiti orang lain. Itu ajaran semua agama. What have I done to Surya Paloh? Saya tidak pernah merasa berbuat apa-apa dengan dia. Kamu mau tidak tanyakan itu kepada Surya Paloh?” kata Prabowo kepada wartawati.

Di sini semua wartawan yang mengelilingi diam. Membisu. Wartawati Metro TV menjawab akan menyampaikannya ke Surya Paloh. Tapi Prabowo cepat memotong.

“Kamu tak akan berani,” kata Prabowo. “Saya ini punya banyak pendukung. Bagaimana kalau saya bilang ke pendukung saya tak perlu nonton Metro TV, habis kalian. Kompas juga termasuk, Berita Satu juga. Begitu juga Tempo. Apa yang saya pernah buat dengan Goenawan Mohamad, dengan Megawati. Nanti akan saya datangi orang-orang itu satu per satu. Pasti. Sebab saya tak pernah menyakiti mereka. Sekarang yang sudah mewawancarai saya boleh keluar. Ini rumah saya. Ayo kita wawancara dengan CNN. Go Ahead,” kata Prabowo.

Anak buah Prabowo pun bergerak cepat. Semua wartawan yang sudah selesai mewawancarai Prabowo cepat-cepat disuruh keluar. Sementara wartawati Metro TV dan para kru masih bengong. “Kita tunggu saja coba,” kata wartawati itu ke beberapa krunya.

***

Di sini, Prabowo seakan sedang lupa akan banyak hal. Ia lupa bahwa media-media pendukungnya seperti TV One dan MNC pun telah kehilangan independensi saat mengawal proses berlangsungnya Pilpres 2014. Ia lupa bahwa pers adalah pilar keempat demokrasi yang akan segera melahap habis kata-katanya itu untuk menjadi serangan balik mematikan penggerak massa – walau mungkin tidak bagi media pendukung Prabowo sendiri.

Mungkin, Prabowo merasa sudah aman karena pemungutan suara telah usai dan masuk ke proses perhitungan. Namun, ia lupa bahwa bila menang, ia akan jadi pemimpin utama bangsa ini. Rakyat sontak bisa kehilangan simpatinya dengan kejadian tersebut.

Mungkin, Prabowo juga terkejut dengan duel ketatnya melawan Jokowi, yang ia dukung penuh pencalonannya sebagai Gubernur DKI Jakarta dua tahun lalu. Namun, ia lupa dengan kata-katanya sendiri kala itu saat kemenangan Jokowi-Ahok telah merebak di hasil hitung cepat berbagai lembaga.

“Rakyat Indonesia, khususnya Jakarta, tidak bisa dibohongi.”

Entah di mana, mungkin Allan Nairn sedang tersenyum lega melihat drama Pilpres Indonesia ini.

Advertisements

Militansi dan Kebanggaan Jadi Wartawan

September 2012

Hotel Mulia masih lengang siang itu. Jumpa pers belum dimulai. Saya memang datang terlalu cepat karena takut terjebak laknatnya macet ibukota. Alhasil, saya memutuskan untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu sebelum mencari cara menghabiskan waktu.

Usai menuliskan nama dan media asal, seorang perempuan memberikan secarik press release dan sebuah kotak persegi berwarna putih. Saya pun masuk ke dalam ruang perhelatan. Suasananya segera berubah drastis. Udara dingin melabrak pori-pori yang sebelumnya terlalu lama kena sengat matahari.

Wartawan lain juga belum banyak yang datang. Ruangan tersebut terlihat begitu lapang, dan beberapa panitia masih sibuk berlalu lalang. Syahdan, saya mencari bangku untuk sejenak melepas lelah. Saya tambatkan tas berisi laptop dan kamera di kursi sebelah, lalu mulai membaca paragraf demi paragraf yang tertera pada kertas rilis di tangan.

Tak lama, saya teringat dengan kotak putih yang didapat dari meja registrasi tadi. Awalnya saya kira kotak itu berisi camilan. Namun, berat dan bunyinya berbeda. Benar saja, ternyata isinya adalah sebuah jam tangan berwarna perak mengkilap.

Sesaat saya terkesiap. Saya memandangi selama beberapa detik, kemudian kembali menutup kotak putih tersebut. Bahkan, tak terpikirkan saat itu untuk sekadar melihat merek atau menerka harganya. Saya bawa dan kembalikan jam tersebut pada perempuan penjaga meja registrasi.

“Kenapa dikembalikan, Mas?”

“Kebijakan kantor, Mba, hehehe.”

Setelahnya, saya putuskan untuk membakar sebatang rokok di lobi depan hotel. Kebetulan, ada beberapa wartawan yang sedang menyesap asap pula di sana.

Saat saya hampiri, dua di antaranya ternyata sedang mencoba sebuah jam baru di tangan. Terlihat kotak putih persegi dengan tutup terbuka di sebelahnya.

November 2013

“Kalau kamu masuk, kamu mau gaji berapa, Tito?”

“Ya, saya setara UMR lebih sedikit saja juga enggak apa-apa, Mas.”

“Heh, kamu kira kita buruh? Kita ini wartawan, ya memang buruh juga, tapi kamu harus berani perjuangkan gaji kamu setinggi mungkin dong!”

Kami semua terpingkal mendengar cerita Tito kala diwawancara sebelum masuk Sinar Harapan Weekly – yang kini telah berganti nama menjadi The Geo Times. Tito pun ikut tergelak sembari mengingat detail pertemuan perdananya dengan Mas Rusdi Mathari, sang redaktur pelaksana kala itu.

“Waktu itu gue bingung, baru kali ini gue minta gaji sedikit malah dimarahin,” katanya sambil menahan tawa.

September 2012

Mas Heru Andriyanto mendengarkan dengan seksama. Saya kisahkan semua yang saya lihat. Soal jam tangan pemberian dan para wartawan yang dengan bangga mengenakannya.

Mas Heru memang telah membimbing saya semenjak mulai bekerja magang di The Jakarta Globe dua bulan lalu. Ia banyak memberikan nasihat serta masukan yang membangun bagi diri saya pribadi.

Setelah cerita saya rampung, saya ingat betul apa yang terlontar dari mulutnya kala itu.

“Sebagai wartawan, kita harus punya harga diri. Dengan harga diri, kita bisa berada sejajar dengan mereka, para narasumber. Jangan sampai kita ada di bawah mereka. Dengan harga diri, kita punya posisi tawar untuk berhadapan dengan mereka.”

Februari 2014

“Pesanku sama kamu cuma satu, Vir, jangan terima jale.”

Itulah yang diucapkan Mas Didit Sidarta pada saya di depan kantor Nefos News, Jakarta. Kala itu kami berdua sedang menunggu waktu untuk bertemu Erros Djarot, seniman serba bisa sekaligus Pemimpin Umum Nefos News. Saya memang diminta membuat tulisan soal 40 tahun Erros Djarot berkarya sehingga bermaksud melakukan wawancara ekslusif dengannya di sana.

Sesungguhnya, saya telah mengenal Mas Didit semenjak masih bekerja magang di The Jakarta Globe. Kala itu, ia adalah salah satu redaktur Berita Satu, media online yang masih satu grup dengan koran berbahasa Inggris tersebut. Saat magang di sana, saya memang otomatis bekerja untuk dua media. Sehari-harinya, tulisan bahasa Indonesia saya akan terbit di Berita Satu, sementara beberapa tulisan pilihan akan naik cetak dalam bahasa Inggris untuk The Jakarta Globe.

Sempat beberapa kali bertemu di kantor, saya mendapat kesan bahwa Mas Didit adalah orang yang pendiam. Setiap kali lewat meja kerjanya, ia pun selalu asyik berkutat dengan tumpukan berita yang menunggu untuk diedit. Saya baru mendapat kesempatan mengenalnya lebih jauh justru setelah bertemu lagi di ruang redaksi The Geo Times.

Kini, Mas Didit adalah orang paling riang di kantor. Selalu saja tingkahnya memancing tawa para reporter atau karyawan non-redaksi di sana. Celetukannya selalu jadi bahan canda ulangan di banyak obrolan dan tongkrongan.

Pernah suatu kali sebuah berita yang ditulis oleh Fandy terbit atas nama Mas Didit. Saat Fandy protes, Mas Didit hanya menjawab, “Ya saya kan juga malu tulisan jelek begitu kok pakai nama saya.”

Semua tertawa mendengar jawaban tersebut.

Namun, tak hanya itu. Ia juga kerap memberi petuah positif yang hingga kini kerap terngiang di otak saya.

“Kamu itu suka kasih penjelasan tambahan dengan tanda kurung di sebuah kutipan ya, Vir. Menurut saya, itu kegenitan yang tak perlu.”

“Kamu kadang masih suka memasukkan semua data dan fakta yang ada ke sebuah tulisan. Enggak bisa begitu, Vir. Sebagai wartawan kita harus bisa memilih.”

“Pesanku sama kamu cuma satu, Vir, jangan terima jale. Saat kamu menulis nama kamu di buku absen jale, catatan nama para wartawan itu bisa dengan cepat tersebar ke mana-mana. Orang-orang jadi tahu bahwa kamu adalah wartawan yang bisa disuap. Buat apa mengorbankan nama kamu untuk uang yang paling hanya 200 atau 300 ribu.”

Desember 2013

Paling hanya 200 atau 300 kata untuk satu artikelnya. Saat itu saya sedang mengerjakan beberapa artikel pendek soal band dan musisi Indonesia yang gemar melakukan kegiatan amal. Total, ada empat tulisan yang saya kerjakan. Saya ingin segera menyelesaikannya agar tak ada lagi beban saat sampai di rumah nanti. Karena itulah saya urung pulang dari kantor sebelum semuanya rampung.

Kantor sedang sepi malam itu. Seingat saya, hanya ada Mas Rusdi yang menemani di ruang belakang. Matanya menatap layar laptop dengan tajam, sementara tangannya tak henti mengetik dengan bunyi nan konstan. Bunyi ketikannya hanya bersaing dengan gemericik air kolam renang yang berada tak jauh dari meja besar tempatnya bekerja.

Saat pekerjaan usai dan saya bersiap pulang, Mas Rusdi tak lupa sedikit menyapa. “Rumah kamu di mana, Viriya? Terima kasih ya, sudah sampai malam begini,” ujarnya.

Entah kenapa, kata-kata itu terasa begitu hangat, menyeruak masuk telinga, membuncah di dada.

Saya memang menaruh hormat besar pada Mas Rusdi. Sejak awal perkenalan, ia selalu blak-blakan. Ketika suasana hatinya bagus, Mas Rusdi akan bercanda tanpa henti. Apapun bisa ia ceritakan, dari yang inspiratif sampai yang bikin sakit perut karena terlalu banyak tertawa. Namun, tak ada yang berani menyenggolnya, bahkan cuma dengan kata-kata, bila ia sedang murung.

Pernah suatu waktu saya dimarahinya karena reportase saya dalam liputan tentang kaum LGBT dianggap kering tak berisi. Dengan tegas ia berujar, “Kalau saya marah, berarti saya masih sayang sama kamu. Cara saya ngomong memang begini, ya enggak bisa diubah. Tapi kalau saya sudah diam, itu berarti saya sudah enggak peduli.”

Salah satu cerita Mas Rusdi yang paling menarik adalah soal pertemuannya dengan Mochtar Lubis di awal karier sebagai wartawan dahulu. Kala itu Mas Rusdi mendapat tugas untuk mewawancara wartawan legendaris tersebut secara eksklusif. Di tengah perbincangan, Mochtar sempat memberikan pesan pada Mas Rusdi yang begitu diingat hingga kini.

“Rusdi, kalau suatu hari nanti ada yang kasih kamu amplop, lempar balik amplop itu ke mukanya. Kalau ada yang kasih kamu mobil, rusak mobil itu. Kalau ada yang kasih kamu rumah, bakar rumah itu. Mengerti kamu?”

“Gila juga Mochtar Lubis itu,” ujar Mas Rusdi yang saya sambut dengan tawa keras sembari geleng-geleng kepala.

Memang, pelajaran hidup tak selalu kita dapat di kelas sekolah atau ruang rapat formal. Yang tak terlupakan justru kerap hinggap dari perbincangan lantur dengan kepulan asap rokok mengiringi. Saya merasa begitu beruntung pernah mengenal para senior yang tak henti mengingatkan soal harga diri dan militansi sebagai wartawan. Soal cara menjalani hidup dengan bangga walau banyak cemooh menanti di ujung jalan.

Prinsip sama juga saya temui dalam diri Mas Farid Gaban, Pemimpin Redaksi The Geo Times tempat saya melabuhkan diri saat ini. Suatu malam di tengah impitan deadline, Mas Farid pernah berujar pada saya.

“Buat saya, kaya itu adalah saat kita bebas untuk memilih. Saat kita bisa menentukan pilihan sendiri ke mana kita harus melangkah. Banyak orang yang punya harta berlimpah, tapi tak punya banyak pilihan dalam hidupnya. Saya tak mau seperti itu.”

Sesaat setelah mendengar hal ini, saya merasa arah saya berjalan semakin jelas. Karena saya tahu, puncak seperti apa yang ingin saya raih suatu hari nanti.

Jokowi, JKT48 dan Marxisme

10297715_10152296442032144_1666004763032952404_n

Konser 2 Jari: Menuju Kemenangan Bersama Jokowi-Kalla/Jay Subiakto

Jokowi adalah sebuah konsensus. Sebuah kesepakatan perihal sosok pemimpin ideal di mata masyarakat saat ini. Anda boleh tidak setuju, tapi diimbau untuk diam saja bila berpikiran sebaliknya.

Ahmad Husein Alaydrus, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Demokrat, merasakan langsung ‘amukan’ warga ketika ia mencoba mengkritik kinerja Jokowi sebagai gubernur pada akhir 2012 lalu. Saat itu ia diundang tampil secara live oleh stasiun Jak TV bersama dengan ahli tata kota Nirwono Joga untuk berbincang soal polemik pembangunan MRT.

Husein kala itu mempertanyakan sosok Jokowi yang dianggapnya seperti orang bingung dalam menyikapi pembangunan MRT tersebut. Baru beberapa saat ia berargumen, tiba-tiba penelepon interaktif telah mengantre untuk mengkritiknya secara pedas.

“Saya kira apa yang disampaikan Pak DPRD ini wajar saya, ya beliau ini kan dari kelompok yang tidak mendukung Jokowi.”

“Pakai otak dong jadi wakil rakyat!”

“Kenapa Bapak kaya benci banget sama Pak Jokowi, sedangkan Pak Jokowi itu selalu memikirkan rakyat loh.”

“Saya sarankan kalau ngundang anggota DPR yang smart dong, Pak, yang menguasai masalah.”

“Itu wakil rakyat atau tikus rakyat itu?”

Itulah konsekuensi yang diterima Husein saat mencoba melawan sebuah kehendak kerumunan bernama Jokowi. Jokowi sendiri sesungguhnya baru dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 15 Oktober 2012. Sementara, video bully masyarakat pada Husein tersebut diunggah ke Youtube pertama kali pada 22 Desember 2012. Hal ini berarti, masyarakat umum telah rela pasang badan begitu cepat untuk Jokowi hanya sekitar dua bulan setelah ia resmi menjabat.

Dari mana sesungguhnya loyalitas masyarakat itu berasal?

Mungkin semua itu berasal dari kerinduan. Kerinduan besar akan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat. Maka, kehadiran Jokowi bagai air segar untuk dahaga warga akan pemimpin yang sungguh (terlihat) tulus untuk membawa sejahtera.

November 2013 lalu, Kepala Pusat Data Bersatu Didik J. Rachbini ikut mengamini hal tersebut. Menurutnya, salah satu alasan popularitas tinggi Jokowi di mata masyarakat adalah karena, “Dia tulus dan tak berjarak ya dengan masyarakat.”

Oleh karena itu, walau berbagai masalah kronis ibukota seperti macet dan banjir tak kunjung terselesaikan hingga kini, sosok Jokowi tetap dapat mudah mengambil hati rakyat.

“Yang menjadi kontroversi, walaupun masyarakat tidak puas terhadap masalah utama seperti kemacetan dan angkutan umum, sosok Jokowi tetap disukai seperti yang terlihat dalam berbagai survei,” ujar Didik kembali.

Kedekatan rakyat dengan Jokowi memang tak bisa dimungkiri. Namun tak hanya itu. Menarik untuk melihat gaya kepemimpinan sang gubernur dari kacamata tangan kanannya selama delapan tahun terakhir, Devid Agus Yunanto.

Devid adalah ajudan yang telah mengikuti Jokowi semenjak masih bekerja di pemkot Solo. Bisa dikatakan, ia telah mengikuti Jokowi blusukan sejak berusia 23 tahun hingga kini telah menginjak usia kepala tiga.

Saya sendiri beruntung sempat bertukar obrolan cukup panjang dengan Devid ketika berkesempatan mengikuti keseharian Jokowi pada 23 Desember 2013 lalu. Saat itu, Devid berujar bahwa ia pernah mendapat cerita dari beberapa staf lama Balaikota soal gaya kepemimpinan gubernur-gubernur yang menjabat sebelum Jokowi.

Salah satu kisah yang menarik adalah gaya feodal Sutiyoso saat memimpin Jakarta selama dua periode (1997-2007). Saat sedang beraktivitas, ternyata Sutiyoso kerap begitu dimanja oleh para ajudannya. Bahkan, untuk menggunakan baju sendiri pun ia seakan tidak sanggup.

“Saya dulu sempat tidak percaya. Namun akhirnya saya melihat sendiri waktu Pak Sutiyoso baru selesai main tenis. Sehabis olahraga, ajudan-ajudannya yang memakaikan kemeja dinas, celana dan sepatunya. Pak Sutiyoso tinggal diam saja sampai semua terpasang rapi,” ujar Devid.

Beda halnya dengan Fauzi Bowo atau Foke yang cenderung lebih galak dan arogan dalam bertutur kata. Devid mengatakan bahwa Foke akan sangat marah bila voorijder yang memimpin rombongannya salah jalan sehingga banyak waktu yang terbuang.

“Kalau sampai salah jalan, Pak Foke akan turun sendiri dari mobil dan menempeleng langsung voorijder itu,” tutur Devid lagi.

Setelah mendengar cerita-cerita tersebut, maka wajar rasanya bila Jokowi begitu digandrungi. Jokowi hadir di saat yang tepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pemimpin yang tak berjarak. Loyalitas yang muncul setelahnya pun menjadi lumrah.

Fenomena ini sesungguhnya tak jauh beda dengan apa yang dirasakan para wota – sebutan bagi para penggemar grup JKT48. Secara etimologis, “wota” sendiri berasal dari kata “otaku” yang dalam bahasa Jepang merupakan sebutan bagi seseorang yang benar-benar menekuni sebuah hobi.

JKT48 pun adalah grup saudari yang mengadopsi konsep dari AKB48 yang sebelumnya telah mencuat lebih dahulu di negeri sakura. Fanatisme yang terbentuk di kalangan wota, entah pada AKB48 atau JKT48, begitu luar biasa.

Contoh mudahnya adalah JKT48 yang memiliki pertunjukan rutin teater di lantai 4 Mal FX, Sudirman, Jakarta. Tak jarang kita temukan seorang wota yang rela menonton pentas tersebut setidaknya seminggu sekali atau dua kali. Kocek sebesar 100 ribu rupiah untuk tiket tidak pernah jadi masalah besar buat mereka.

Usai pentas pun selalu ada sesi high touch saat para penonton bisa menepuk tangan para personel sembari mencari kesempatan untuk mengobrol singkat selama beberapa detik dengan mereka. Selain itu, para wota juga masih bisa menyaksikan JKT48 di berbagai konser dan acara sampingan seperti handshake event.

“Untuk dapat ikut serta dalam handshake event, kita harus membeli CD JKT48 terlebih dahulu seharga Rp40.000,-. Satu CD itu sekaligus memberi kita tiket untuk berjabat tangan dengan oshi selama 10 detik. Karena itulah banyak orang bisa membeli lebih dari 1 CD agar bisa berjabat tangan lebih lama. Saya sendiri pernah melihat orang yang membeli CD hingga satu tas penuh!” ujar Dionisius Evan, wota sekaligus mahasiswa tingkat akhir Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Lebih lanjut, para wota juga bisa masuk dalam keanggotaan Official Fan Club (OFC). Dengan menjadi anggota, mereka bisa punya kesempatan lebih besar saat mengirimkan e-mail permintaan membeli tiket pertunjukkan teater seharga Rp100.000,- karena pengirim sendiri dipilih secara acak oleh sistem yang ada. Selain itu, mereka bisa mendapatkan e-magazine dan kesempatan untuk ikut serta dalam futsal event atau basket event dengan membayar seharga Rp150.000,-.

Selain Evan, saya pun sempat berbincang dengan beberapa wota lainnya dan mereka sepakat bahwa terkadang tingkat fanatisme yang ada telah mencapai tahap delusional. Walau sadar bahwa ada batasan antara penggemar dan sang idola sendiri, tapi selalu ada dorongan untuk datang ke setiap pertunjukkan JKT48 atau membeli segala macam pernak-pernik yang berhubungan dengan oshi – personel idola masing-masing wota.

Bila kita telisik lebih jauh, segmen pasar AKB48 saat pertama kali dibentuk pada Juli 2005 adalah para pria kesepian yang butuh penerimaan dan hiburan. Mereka mencakup para mahasiswa atau karyawan muda kantoran yang terjebak pada rutinitas sehari-hari sehingga butuh pelarian dari segala kepenatannya tersebut. Oleh karena itulah Yasushi Akimoto, sang produser, membuat sebuah konsep idola yang bisa ditemui setiap hari.

Konsep JKT48 di Indonesia pun masih sejalan dengan apa yang dirintis para pendahulunya tersebut. Sementara teater, menjadi arena kencan bagi para wota untuk memenuhi kebetuhan mereka bertemu sang idola.

Karena penasaran, saya dan beberapa teman yang sama-sama belum pernah menyaksikan penampilan langsung JKT48 memutuskan untuk datang melihat pertunjukan mereka pada 14 Februari 2014 lalu. Kebetulan, saat itu kami kebagian menonton pentas Tim K – tim generasi kedua JKT48 di Indonesia.

Tak dinyana, suasana yang ada begitu riuh dan liar. Di awal acara, tiba-tiba muncul encore, “Are you ready? JKT48!”

Kemudian, satu teater yang berisi ratusan penonton meneriakkan serempak chant yang ada, “Tiger! Fire! Cyber! Fiber! Diver! Viber! Jya! Jya!”

Syahdan, saya merasa terkepung oleh ombak suara yang memenuhi panggung. Para penonton berlomba meneriakkan nama oshi mereka masing-masing dan saya hanya bisa terpana, terjebak antara rasa kagum dan ngeri.

Para penonton yang ada seakan melebur berkelindan bersama dalam euforia. Mereka terus berteriak hingga serak, dan selalu siap menerjang udara dengan light stick di tangan sembari menyanyikan belasan lagu yang sudah mereka hafal di luar kepala.

Di sini, bisa kita lihat bahwa persona Jokowi dan para member JKT48 sama-sama sukses menghipnotis para pengikutnya dengan cara yang begitu sederhana, pun mematikan. Mereka berhasil menciptakan citra idola yang bisa ditemui setiap hari. Mereka hadir untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai sebuah pegangan dan sandaran yang bisa diandalkan.

Hal ini sesungguhnya sama dengan konsep pemikiran dan kritik Karl Marx pada agama, yang disebutnya merupakan tanda keterasingan manusia. Agama dianggap Marx sebagai bentuk pelarian karena realitas memaksa manusia untuk lari dan mencari sebuah pegangan bagi dirinya sendiri.

Marx sendiri banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Friedrich Hegel dan Ludwig Feuerbach. Menurut Hegel, dalam kesadaran manusialah Allah mengungkapkan dirinya. Roh semesta yang menjadi dalang atas segala tindakan dan kehendak kita. Namun, Feuerbach justru berpikiran sebaliknya. Menurutnya, agama hanyalah ada di angan-angan dan proyeksi pikiran manusia. Manusia kemudian lupa bahwa itu adalah proyeksi ideal ciptaannya sendiri dan kemudian mengkultuskannya begitu rupa.

Konsepsi ini yang kemudian menjadi dasar kritik masyarakat Marx. Agama dianggapnya sebagai ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh, keluhan masyarakat yang tertekan. Lalu pada akhirnya, agama menjadi candu masyarakat. Masalah utama yang perlu dikritik menurutnya bukanlah agama, tapi apa yang melahirkan agama itu sendiri: masyarakat.

Maka, saat melihat Jokowi, seharusnya kita tahu bahwa ia tercipta justru karena kondisi masyarakat yang ada kini. Korupsi yang mengakar, pemimpin yang feodal dan kesejahteraan yang menipis. Semua itu menjadi dasar kerinduan akan sesosok ideal pemimpin dalam raga Jokowi. Kita sendirilah yang menciptakan proyeksi bahwa yang ideal adalah yang seperti Jokowi.

Hal itu adalah bukti tanda keterasingan kita selama ini.

Rivalitas dan Yang Laten di Baliknya

Saya suka aroma persaingan. Kerap meresahkan, tentu, tapi setiap gesekan yang timbul karenanya justru menajamkan satu sama lain.

Salah seorang teman yang paling kompetitif dan kerap membuat saya resah berada di zona nyaman adalah Silvanus Alvin. Sejak awal hingga lulus kuliah, saya hampir selalu sekelas dengannya. Kami berdua tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing, dan entah kenapa, hingga saat ini kami selalu berusaha mengasah satu sama lain dengan punggung saling membelakangi.

Mulanya, Alvin tak tertarik untuk mengambil konsentrasi jurnalistik. Sedari awal ia memang tak pernah gemar menulis dan impiannya pun bukan untuk menjadi seorang jurnalis. Namun karena mayoritas lingkup pergaulannya ada di sana, akhirnya ia pun terbawa.

Saya ingat betul, di awal masa kuliah Alvin sempat membuat sebuah blog berjudul “Alvin dan Diari Cupuku.” Teman-teman pun sontak tertawa ketika tahu ada dua subjek dalam penamaan blog tersebut: Alvin dan Aku. Di lain hari, ia juga sempat frustrasi kala tulisannya menjadi contoh terburuk di dua mata kuliah sekaligus, yaitu Bahasa Jurnalistik dan Creative Writing. Sementara saya selama ini merasa aman-aman saja dalam proses kuliah yang ada, tidak terpuruk pun bukan yang terutama.

Namun, mereka yang mengenal cukup lama akan tahu bahwa Alvin punya harga diri terlalu tinggi untuk diremehkan atau sekadar mengaku kalah sebelum berkompetisi. Perlahan-lahan, Alvin mulai banyak membaca dan menulis. Dari koran hingga novel, entah hard news atau feature. Prosesnya pun terlihat, perlahan tapi tak lamban.

Syahdan, ada semacam persaingan laten yang muncul di antara kami berdua, terutama soal karya. Kami tak pernah benar-benar berkonfrontasi langsung, tapi secara tak sadar berkelindan dalam semangat untuk menjadi lebih baik dari yang lainnya. Hal itu terasa saat pengerjaan tugas kuliah, penuntasan liputan di satu atap redaksi majalah kampus, atau ketika menjalani kerja magang di pelabuhan media masing-masing.

Terus seperti itu, dan kami berproses dari tumpul hingga tajam bersama.

Nyatanya, persaingan di segala aspek kehidupan selalu mendorong kita untuk keluar dari zona nyaman dan melompat melewati batasan. Bahkan, terkadang persaingan yang destruktif sekalipun bisa membawa kita ke arah yang sama, walau dengan jalan yang penuh cela.

Kita bisa melihatnya pada sosok Roy Keane dan Patrick Vieira. Keane adalah eks-kapten tim Manchester United (MU) sementara Vieira berada di seberang sebagai eks-kapten tim Arsenal. Seluruh penggemar sepakbola tahu, pertemuan kedua pemain tersebut di atas lapangan bagai membakar rokok di tengah pom bensin. Ledakan dari berbagai skala, berpotensi terjadi di sana.

MU dan Arsenal adalah rival berat sejak akhir 1990-an hingga pertengahan 2000. Belum lagi gaya bermain Keane dan Vieira yang sama-sama keras dan tanpa kompromi. Keduanya pun bersumbu pendek, seakan satu hentakan saja bisa memulai perang di antara mereka. Adu mulut, saling sikut, tackle keras dan aksi dorong panas sudah jadi lumrah dan bumbu tak terelakkan di tiap perjumpaan.

Lantas, usai Vieira hijrah dari Arsenal ke Juventus pada Juli 2005 dan Keane berpisah jalan dengan MU empat bulan kemudian, penggemar urung bisa melihat atmosfer yang sama lagi di antara dua tim tersebut. Banyak yang merindukan rivalitas membara antara Keane dan Vieira.

Menariknya, Vieira sendiri mengakui bahwa rivalitasnya dengan Keane telah melecutnya untuk jadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ia mengungkapkan hal tersebut saat keduanya diwawancara dalam sebuah video dokumenter berjudul “Keane + Vieira, Best of Enemies”.

If one of us take the advantage of the other one, we may have more chance to win the game. I knew that before the game,” ujar Vieira kepada Keane saat itu.

Lalu ketika sang pewawancara bertanya, “Did he intimidate you?” Vieira membalas, “No, he excited me.”

Keduanya juga sepakat bahwa MU dan Arsenal saat ini telah jauh melembek dibanding dulu ketika mereka masih di situ. “They are almost too nice to each other, too much respect for each other, I think,” ujar Keane menyayangkan.

Terkadang, pertengkaran di antara Keane dan Vieira memang bisa menyulut kericuhan lebih besar di antara para pemain lainnya yang membela panji-panji MU dan Arsenal. Namun, di lain sisi hal tersebut mendorong masing-masing untuk melewati batas dirinya, terus berproses mencapai apa yang dulu hanya dirasa utopia.

Keane sendiri merupakan kapten yang membawa MU menjadi treble winner pada musim 1998/1999, dan Vieira juga berhasil memimpin “The Invincible Arsenal” menjadi juara Liga Inggris tanpa terkalahkan pada musim 2003/2004 lalu. Secara tak langsung, mereka terus bahu-membahu untuk membantu yang lain menjejakkan kaki di tempat lebih tinggi.

Lalu, apa kabar Alvin hari ini? Sekarang ia sibuk bekerja dari hari ke hari sebagai wartawan sebuah media online ternama dan terbiasa menulis belasan berita per harinya. Libur pun hanya seminggu sekali. Intensitas dan etos kerjanya tinggi.

Sementara saya di sini masih mengamati jejaknya dan terus terpacu untuk meraih lebih dan lebih lagi. Rasanya, ini patut disyukuri.

Menyoal Kegilaan Vincent van Gogh

Malam-malam di Arles pada sekitaran September 1888 begitu indah. Visualisasi warna-warna yang saling kontras dan pendaran cahaya di jenjang kafe di Du Forum terlihat begitu menggoda. Namun, tampaknya cuma Vincent yang begitu terobsesi untuk merekam apa yang dilihatnya, dan menuangkan apa yang dirasanya pada sebidang kanvas di tengah pelukan gelap dan senyapnya malam. Gila, kata orang-orang di sekitarnya.

Obsesi Vincent pada alam memang begitu besar, bahkan kadang berlebihan. Ia sempat kesulitan untuk mencampurkan warna di tengah kegelapan, tapi ia tak putus asa. Dengan segera, Vincent menyalakan lilin di seputaran pinggiran topinya dan juga di kayu-kayu penyangga lukisannya. Hal ini memicu konklusi umum masyarakat setempat bahwa Vincent tidak hanya eksentrik, tapi juga tidak sehat jiwanya. Toh Vincent tak pernah peduli.

Vincent, yang lahir pada 30 Maret 1853 dari pasangan Theodorus van Gogh dan Anna Cornelia Carbentus, adalah seseorang yang terlalu mudah untuk menaruh iba dan jatuh cinta, pun terlalu mudah untuk merasa dikecewakan dan sakit hati karenanya. Namun, sepanjang 37 tahun kisah hidupnya yang cukup singkat, cuma seni yang tak pernah gagal membuatnya jatuh hati. Dan seperti yang kita tahu, ketika Vincent sudah tergila-gila, ia bisa berbuat apa saja.

“Bahkan dalam kesengsaraan yang mendalam, aku merasakan energiku timbul kembali, dan aku bilang pada diriku sendiri, apapun yang terjadi aku akan bangkit lagi. Aku akan meraih pensil lukisku, yang aku tinggalkan dalam ketakberdayaanku, dan aku akan melaju terus dengan lukisan-lukisanku,” tuturnya suatu hari.

Ada sesuatu yang menenangkan dan melegakan yang Vincent temukan ketika ia sedang melukis, yang membuatnya bisa menyalurkan amarah dan kecamuk pikirannya menjadi sebuah mahakarya tak ternilai harganya. Namun, seperti para tokoh-tokoh bersejarah lainnya, Vincent adalah salah seorang yang lahir melampaui zamannya.

Ia mencipta karya yang sepi apresiasi di masa hidupnya, tapi kaya puja-puji selewat puluhan atau ratusan tahun kemudian. Seperti Galileo Galilei yang dikucilkan hingga akhir hidupnya karena meyakini bahwa matahari adalah pusat tata surya, seperti Isaac Newton yang dikira musyrik karena menemukan teori gravitasi.

Syahdan, hanya Theo, sang adik, yang bisa diterima dan menerima Vincent apa adanya. Theo adalah tempat Vincent mencurahkan segala pemikirannya, dan orang yang selalu mendukung secara rohani dan materi dalam setiap pilihan tindakan kakaknya tersebut. Theo memang gusar ketika Vincent bertengkar dan bertutur kasar soal sistem gereja hingga ia diusir dari rumah oleh sang ayah. Theo pun tidak setuju ketika Vincent menjalin hubungan dekat hingga menafkahi Sien, seorang pelacur sakit-sakitan beranak satu. Namun Theo selalu ada untuk Vincent.

Maka, tak heran ketika Vincent merengek padanya, tak ada yang Theo bisa lakukan selain mengabulkan. Seperti saat Theo setuju untuk mengatasi permasalahan finansial Paul Gaugin dan membujuknya untuk tinggal serumah dengan Vincent di Arles.

Gaugin adalah rekan pelukis yang Vincent hormati, sekaligus ia benci di saat bersamaan. Perdebatan mereka antara penggunaan garis dan warna selalu berlangsung panas dan intens, dan cenderung tak bertitik temu. Namun, Vincent membutuhkan Gaugin untuk bertukar pikiran soal karya dan pelecut yang tepat untuk membuatnya semangat berkarya secara inovatif.

Namun, penyatuan Vincent dan Gaugin dalam satu atap yang sama bagai menciptakan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Setiap perdebatan panas yang tercipta mungkin telah membuat Vincent berkali-kali membunuh Gaugin dalam pikirannya. Hingga suatu hari, ia sempat mengancam Gaugin dengan sebuah pisau cukur di tangan, tapi urung bertindak lebih dan akhirnya berlari menjauh. Ternyata, Vincent kembali ke rumah untuk memotong sendiri cuping telinganya, dan menghadiahkan potongan tersebut pada seorang pelacur bernama Rachel tak lama kemudian.

“Jagalah benda ini dengan hati-hati,” ujar Vincent pada Rachel.

Vincent adalah seseorang yang lebih memilih membuat anasir terlebih dahulu sebelum menambahkan outline pada lukisannya. Ia segan untuk memberi batas pada karyanya, dan kerap mengutamakan esensi lebih yang bisa dicapai pada penggunaan warna. Dan tak lupa, ada keterburuan dan intensitas tinggi untuk menuangkan sesuatu pada lukisan yang justru semakin hari terus menajamkan karyanya.

Hal ini menggambarkan betul kepribadian Vincent dalam kehidupannya sehari-hari. Vincent lebih suka melukis di alam terbuka daripada mengurung diri di studio dan mengandalkan catatan serta ingatan. Ia pun kerap terjun langsung dalam kehidupan masyarakat bawah dan memberikan bantuan tanpa pikir panjang kepada orang yang ia rasa membutuhkan. Mungkin itulah yang membuat Vincent menjadi pribadi yang jujur, spontan dan tak pernah puas untuk terus belajar.

Ada hal yang ingin ia temukan di setiap tempat baru yang ia singgahi, entah di Belanda, Belgia, Inggris maupun Perancis. Ia selalu mengabaikan kesehatan fisiknya untuk orang lain, dan karya. Ia seakan ingin memadatkan usia hidupnya untuk sebuah makna yang lebih mendalam daripada kehidupan panjang yang tak berarti apa-apa.

“Seorang lelaki yang penuh gairah, cenderung melakukan hal-hal yang kurang lebih dungu, dan lantas sedikit banyak menyesali tindakan-tindakan dungu yang telah dilakukannya tersebut,” ujar Vincent suatu hari.

Ada kesuraman dan kegetiran kehidupan miskin para penambang yang kita temukan dalam “The Potato Eaters”, pun ada keindahan tak berbatas pada “The Church at Auvers” di salah satu masa terbahagia dalam hidupnya. Lukisan Vincent, memang kerap lebih berbicara dibanding mulutnya sendiri.

Dan Vincent tak pernah berusaha untuk menjadi orang lain. Bahkan ia pun memutuskan sendiri kapan waktu kematiannya, usai ia menembakkan pistol ke badannya sendiri pada akhir Juli 1890.

“Siapapun yang telah menyaksikan pergulatan ini, perjuangan dan kehadiran yang nestapa ini, pasti akan merasa simpati pada seorang lelaki yang menuntut terlalu banyak pada dirinya sendiri, sampai-sampai menghancurkan raga dan jiwanya. Tapi barangkali, memang begitulah peri-kehidupan seorang seniman agung,” kata seorang rekan Vincent tentang dirinya, Anthon Ridder van Rappard.

Apa yang Vincent tinggalkan pasca hidupnya berakhir mungkin lebih banyak dibanding saat ia masih menghidu nafas keseharian. Ada inspirasi dalam tiap kejujuran tingkah lakunya, pun totalitas dalam setiap proses pembuatan karyanya. Dan biarpun ia telah terlampau sering terluka dan dikecewakan, Vincent adalah Vincent, seseorang yang mencintai seni, alam dan kaum proletar lebih dari hidupnya sendiri.

Maka, apalah yang lebih bisa kita syukuri selain dapat melihat secara langsung senyum Vincent van Gogh yang tersungging tulus di bibirnya, dan memeluknya erat di saat orang lain enggan dan pergi jauh secara perlahan. Dan Vincent tak akan mati, dia akan selalu ada dalam banyak jiwa yang terinspirasi karenanya.

Karena Vincent adalah berkah di pagi hari, dan senja yang mutlak bagi bulan yang sepi.

Kalau Tes Keperjakaan Ada, Pak?

20130915_demo-tolak-tes-keperawanan_3724

Demo tolak tes keperawanan di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sumber: Tribunnews.com

“Tapi, Pak. Bukannya salah wanita itu juga bila dia memakai baju seksi yang mengundang pria-pria mengisenginya?”

“Itu cara pikir yang sangat patriarkal.”

Dua tahun telah berlalu, dan kasus pemerkosaan seorang wanita di angkot masih saja terngiang di benak saat ini. Percakapan di atas – saya ingat betul – terjadi dalam kelas Penulisan Tajuk Rencana dan Opini yang saya ikuti ketika kasus tersebut marak dibicarakan media massa. Sebuah pembuktian nyata yang menunjukkan bahwa kita, orang-orang timur ini telah terlalu lama terjebak dalam perspektif dangkal patriarkal dan menjadikannya tameng untuk sesuatu yang kita anggap sebagai norma kesantunan.

Memang, apa kesantunan itu sebenarnya?

Berbincang akrab dengan tulus pada seseorang yang baru kita kenal mungkin santun, tapi menuntut kepuasan sepihak pada wanita yang baru pertama kali Anda lihat wajahnya di kaca spion mobil tentu tidak.

Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh bagian tubuh yang disebut aurat itu mungkin santun, tapi itu pilihan, bukan satu-satunya jalan. Saya kenal seorang wanita yang kerap berbaju minim dengan pikiran jauh lebih santun daripada liyan yang bahkan tak berani memperlihatkan sebagian kulit dengkulnya.

Hal ini lucu sesungguhnya. Kita kerap menyalahkan daun yang berserakan di halaman walau menyadari penuh bahwa angin yang menggugurkannya. Syahdan, wanitalah yang harus menanggung malu atas pria yang kehilangan kontrol kemaluannya.

Dan, oleh karenanya, tak ada yang lebih menggelikan daripada wacana untuk melakukan tes keperawanan bagi para wanita di Prabumulih, Sumatera Selatan.

Banyak hal yang bisa membuat seorang wanita tidak lagi masuk dalam kategori perawan selain karena hubungan seksual, bahkan ada yang lahir tanpa balutan selaput dara di dalam selangkangannya.

Namun, bukan itu persoalannya.

Mereka bilang keperawanan adalah soal kesucian, soal mahkota yang harus dijaga. Tapi, untuk siapa mahkota itu pada akhirnya? Pria. Dan bila terlambat atau bahkan tak pernah sempat diberikan pada siapapun, mahkota itu dianggap lapuk, hina, menyedihkan.

Lantas, tiba-tiba saya teringat Juno. Perempuan yang terlanjur hamil di usia 16 tahun dan dengan berani mengurungkan niat untuk menggugurkan kandungannya. Ia lebih memilih bertahan, dan berniat memberikan sang anak nantinya pada seseorang yang sudah lebih siap untuk mengadopsi.

Juno sendiri adalah sosok yang independen, ada kejujuran dan kenaifan yang tak terpurakan dalam setiap perilakunya. Ia tidak peduli teman-teman sekolah mencemoohnya di belakang melihat perut besarnya. Ia tidak peduli soal bagaimana harus berdandan dan berkata di berbagai kesempatan. Ia tidak peduli bahwa ayah dari anak yang dikandungnya, Paul, tidak banyak membantunya melewati masa-masa kehamilan yang sulit. Namun, ia peduli pada bayi yang dikandungnya.

Begitupun ayah dan ibunya. Reaksi pertama ayah Juno saat mendengar langsung soal kehamilan tersebut dan mengetahui bahwa Paul merupakan penanam benihnya adalah, “Ayah tidak menyangka dia ‘sanggup’.” Syahdan, hal selanjutnya yang ditanyakan sang ayah adalah soal opsi adopsi untuk sang bayi yang mana telah Juno pikirkan dan menjadi pilihannya saat itu.

Tak jauh berbeda dengan sang ibu tiri. Saat mengetahui Juno menolak melakukan aborsi, ia langsung memuji keberanian Juno dan memikirkan soal vitamin apa yang harus dikonsumsi agar anaknya tetap sehat dan berusaha segera membuat janji untuk pemeriksaan ke dokter kandungan.

Kedua orangtua Juno jelas kaget dan tak mengharapkan kabar kehamilan tersebut datang dari mulut anaknya. Namun, mereka tidak marah berlebihan, tidak mencari kambing hitam dan tidak memilih langkah gegabah untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Solutif, mungkin kata yang tepat.

Tak terbayangkan rasanya apa yang akan terjadi pada Juno bila ia tinggal di Prabumulih pada waktu sekarang ini. Pilihan paling realistis bila ia tidak melakukan aborsi: stres menerima cemoohan dan hukuman sosial tiada habisnya dari lingkungan sekitar, atau mati ditembak FPI.

Namun, saya rasa apapun risikonya Juno tidak akan takut. Ia terlampau tidak peduli pada serapah yang berlomba masuk ke dalam telinganya, dan ia terlampau keras kepala untuk melakukan apa yang menurutnya terbaik bagi dirinya sendiri. Dan karena saat semuanya sudah terlanjur terjadi, tak ada yang lebih tak berguna selain mengutuk kenangan dan memeluk ‘jika’. Lebih baik menyalakan lilin, dibanding memaki kegelapan.

Sayangnya, kita, orang-orang timur yang santun ini kerap terlampau malas mencari lilin saat gelap sedang menyapa. Untuk mencegah perbuatan zinah, suruh wanita tutupi auratnya, jangan tegur pikiran kotor sang pria. Untuk meminimalisasi praktik prostitusi remaja, tes saja keperawanannya bila mau masuk sekolah, bukan perbaiki edukasinya.

Lalu, kalau begitu bagaimana cara untuk mencegah seorang suami berselingkuh dalam sebuah dinamika pernikahan?

Potong saja kemaluannya, jangan bina kesetiaannya.

 

NB: Tulisan ini dibuat pada 25 Agustus 2013.