Jokowi, JKT48 dan Marxisme

10297715_10152296442032144_1666004763032952404_n

Konser 2 Jari: Menuju Kemenangan Bersama Jokowi-Kalla/Jay Subiakto

Jokowi adalah sebuah konsensus. Sebuah kesepakatan perihal sosok pemimpin ideal di mata masyarakat saat ini. Anda boleh tidak setuju, tapi diimbau untuk diam saja bila berpikiran sebaliknya.

Ahmad Husein Alaydrus, anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Demokrat, merasakan langsung ‘amukan’ warga ketika ia mencoba mengkritik kinerja Jokowi sebagai gubernur pada akhir 2012 lalu. Saat itu ia diundang tampil secara live oleh stasiun Jak TV bersama dengan ahli tata kota Nirwono Joga untuk berbincang soal polemik pembangunan MRT.

Husein kala itu mempertanyakan sosok Jokowi yang dianggapnya seperti orang bingung dalam menyikapi pembangunan MRT tersebut. Baru beberapa saat ia berargumen, tiba-tiba penelepon interaktif telah mengantre untuk mengkritiknya secara pedas.

“Saya kira apa yang disampaikan Pak DPRD ini wajar saya, ya beliau ini kan dari kelompok yang tidak mendukung Jokowi.”

“Pakai otak dong jadi wakil rakyat!”

“Kenapa Bapak kaya benci banget sama Pak Jokowi, sedangkan Pak Jokowi itu selalu memikirkan rakyat loh.”

“Saya sarankan kalau ngundang anggota DPR yang smart dong, Pak, yang menguasai masalah.”

“Itu wakil rakyat atau tikus rakyat itu?”

Itulah konsekuensi yang diterima Husein saat mencoba melawan sebuah kehendak kerumunan bernama Jokowi. Jokowi sendiri sesungguhnya baru dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 15 Oktober 2012. Sementara, video bully masyarakat pada Husein tersebut diunggah ke Youtube pertama kali pada 22 Desember 2012. Hal ini berarti, masyarakat umum telah rela pasang badan begitu cepat untuk Jokowi hanya sekitar dua bulan setelah ia resmi menjabat.

Dari mana sesungguhnya loyalitas masyarakat itu berasal?

Mungkin semua itu berasal dari kerinduan. Kerinduan besar akan sosok pemimpin yang dekat dengan rakyat. Maka, kehadiran Jokowi bagai air segar untuk dahaga warga akan pemimpin yang sungguh (terlihat) tulus untuk membawa sejahtera.

November 2013 lalu, Kepala Pusat Data Bersatu Didik J. Rachbini ikut mengamini hal tersebut. Menurutnya, salah satu alasan popularitas tinggi Jokowi di mata masyarakat adalah karena, “Dia tulus dan tak berjarak ya dengan masyarakat.”

Oleh karena itu, walau berbagai masalah kronis ibukota seperti macet dan banjir tak kunjung terselesaikan hingga kini, sosok Jokowi tetap dapat mudah mengambil hati rakyat.

“Yang menjadi kontroversi, walaupun masyarakat tidak puas terhadap masalah utama seperti kemacetan dan angkutan umum, sosok Jokowi tetap disukai seperti yang terlihat dalam berbagai survei,” ujar Didik kembali.

Kedekatan rakyat dengan Jokowi memang tak bisa dimungkiri. Namun tak hanya itu. Menarik untuk melihat gaya kepemimpinan sang gubernur dari kacamata tangan kanannya selama delapan tahun terakhir, Devid Agus Yunanto.

Devid adalah ajudan yang telah mengikuti Jokowi semenjak masih bekerja di pemkot Solo. Bisa dikatakan, ia telah mengikuti Jokowi blusukan sejak berusia 23 tahun hingga kini telah menginjak usia kepala tiga.

Saya sendiri beruntung sempat bertukar obrolan cukup panjang dengan Devid ketika berkesempatan mengikuti keseharian Jokowi pada 23 Desember 2013 lalu. Saat itu, Devid berujar bahwa ia pernah mendapat cerita dari beberapa staf lama Balaikota soal gaya kepemimpinan gubernur-gubernur yang menjabat sebelum Jokowi.

Salah satu kisah yang menarik adalah gaya feodal Sutiyoso saat memimpin Jakarta selama dua periode (1997-2007). Saat sedang beraktivitas, ternyata Sutiyoso kerap begitu dimanja oleh para ajudannya. Bahkan, untuk menggunakan baju sendiri pun ia seakan tidak sanggup.

“Saya dulu sempat tidak percaya. Namun akhirnya saya melihat sendiri waktu Pak Sutiyoso baru selesai main tenis. Sehabis olahraga, ajudan-ajudannya yang memakaikan kemeja dinas, celana dan sepatunya. Pak Sutiyoso tinggal diam saja sampai semua terpasang rapi,” ujar Devid.

Beda halnya dengan Fauzi Bowo atau Foke yang cenderung lebih galak dan arogan dalam bertutur kata. Devid mengatakan bahwa Foke akan sangat marah bila voorijder yang memimpin rombongannya salah jalan sehingga banyak waktu yang terbuang.

“Kalau sampai salah jalan, Pak Foke akan turun sendiri dari mobil dan menempeleng langsung voorijder itu,” tutur Devid lagi.

Setelah mendengar cerita-cerita tersebut, maka wajar rasanya bila Jokowi begitu digandrungi. Jokowi hadir di saat yang tepat untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan pemimpin yang tak berjarak. Loyalitas yang muncul setelahnya pun menjadi lumrah.

Fenomena ini sesungguhnya tak jauh beda dengan apa yang dirasakan para wota – sebutan bagi para penggemar grup JKT48. Secara etimologis, “wota” sendiri berasal dari kata “otaku” yang dalam bahasa Jepang merupakan sebutan bagi seseorang yang benar-benar menekuni sebuah hobi.

JKT48 pun adalah grup saudari yang mengadopsi konsep dari AKB48 yang sebelumnya telah mencuat lebih dahulu di negeri sakura. Fanatisme yang terbentuk di kalangan wota, entah pada AKB48 atau JKT48, begitu luar biasa.

Contoh mudahnya adalah JKT48 yang memiliki pertunjukan rutin teater di lantai 4 Mal FX, Sudirman, Jakarta. Tak jarang kita temukan seorang wota yang rela menonton pentas tersebut setidaknya seminggu sekali atau dua kali. Kocek sebesar 100 ribu rupiah untuk tiket tidak pernah jadi masalah besar buat mereka.

Usai pentas pun selalu ada sesi high touch saat para penonton bisa menepuk tangan para personel sembari mencari kesempatan untuk mengobrol singkat selama beberapa detik dengan mereka. Selain itu, para wota juga masih bisa menyaksikan JKT48 di berbagai konser dan acara sampingan seperti handshake event.

“Untuk dapat ikut serta dalam handshake event, kita harus membeli CD JKT48 terlebih dahulu seharga Rp40.000,-. Satu CD itu sekaligus memberi kita tiket untuk berjabat tangan dengan oshi selama 10 detik. Karena itulah banyak orang bisa membeli lebih dari 1 CD agar bisa berjabat tangan lebih lama. Saya sendiri pernah melihat orang yang membeli CD hingga satu tas penuh!” ujar Dionisius Evan, wota sekaligus mahasiswa tingkat akhir Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Lebih lanjut, para wota juga bisa masuk dalam keanggotaan Official Fan Club (OFC). Dengan menjadi anggota, mereka bisa punya kesempatan lebih besar saat mengirimkan e-mail permintaan membeli tiket pertunjukkan teater seharga Rp100.000,- karena pengirim sendiri dipilih secara acak oleh sistem yang ada. Selain itu, mereka bisa mendapatkan e-magazine dan kesempatan untuk ikut serta dalam futsal event atau basket event dengan membayar seharga Rp150.000,-.

Selain Evan, saya pun sempat berbincang dengan beberapa wota lainnya dan mereka sepakat bahwa terkadang tingkat fanatisme yang ada telah mencapai tahap delusional. Walau sadar bahwa ada batasan antara penggemar dan sang idola sendiri, tapi selalu ada dorongan untuk datang ke setiap pertunjukkan JKT48 atau membeli segala macam pernak-pernik yang berhubungan dengan oshi – personel idola masing-masing wota.

Bila kita telisik lebih jauh, segmen pasar AKB48 saat pertama kali dibentuk pada Juli 2005 adalah para pria kesepian yang butuh penerimaan dan hiburan. Mereka mencakup para mahasiswa atau karyawan muda kantoran yang terjebak pada rutinitas sehari-hari sehingga butuh pelarian dari segala kepenatannya tersebut. Oleh karena itulah Yasushi Akimoto, sang produser, membuat sebuah konsep idola yang bisa ditemui setiap hari.

Konsep JKT48 di Indonesia pun masih sejalan dengan apa yang dirintis para pendahulunya tersebut. Sementara teater, menjadi arena kencan bagi para wota untuk memenuhi kebetuhan mereka bertemu sang idola.

Karena penasaran, saya dan beberapa teman yang sama-sama belum pernah menyaksikan penampilan langsung JKT48 memutuskan untuk datang melihat pertunjukan mereka pada 14 Februari 2014 lalu. Kebetulan, saat itu kami kebagian menonton pentas Tim K – tim generasi kedua JKT48 di Indonesia.

Tak dinyana, suasana yang ada begitu riuh dan liar. Di awal acara, tiba-tiba muncul encore, “Are you ready? JKT48!”

Kemudian, satu teater yang berisi ratusan penonton meneriakkan serempak chant yang ada, “Tiger! Fire! Cyber! Fiber! Diver! Viber! Jya! Jya!”

Syahdan, saya merasa terkepung oleh ombak suara yang memenuhi panggung. Para penonton berlomba meneriakkan nama oshi mereka masing-masing dan saya hanya bisa terpana, terjebak antara rasa kagum dan ngeri.

Para penonton yang ada seakan melebur berkelindan bersama dalam euforia. Mereka terus berteriak hingga serak, dan selalu siap menerjang udara dengan light stick di tangan sembari menyanyikan belasan lagu yang sudah mereka hafal di luar kepala.

Di sini, bisa kita lihat bahwa persona Jokowi dan para member JKT48 sama-sama sukses menghipnotis para pengikutnya dengan cara yang begitu sederhana, pun mematikan. Mereka berhasil menciptakan citra idola yang bisa ditemui setiap hari. Mereka hadir untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai sebuah pegangan dan sandaran yang bisa diandalkan.

Hal ini sesungguhnya sama dengan konsep pemikiran dan kritik Karl Marx pada agama, yang disebutnya merupakan tanda keterasingan manusia. Agama dianggap Marx sebagai bentuk pelarian karena realitas memaksa manusia untuk lari dan mencari sebuah pegangan bagi dirinya sendiri.

Marx sendiri banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Friedrich Hegel dan Ludwig Feuerbach. Menurut Hegel, dalam kesadaran manusialah Allah mengungkapkan dirinya. Roh semesta yang menjadi dalang atas segala tindakan dan kehendak kita. Namun, Feuerbach justru berpikiran sebaliknya. Menurutnya, agama hanyalah ada di angan-angan dan proyeksi pikiran manusia. Manusia kemudian lupa bahwa itu adalah proyeksi ideal ciptaannya sendiri dan kemudian mengkultuskannya begitu rupa.

Konsepsi ini yang kemudian menjadi dasar kritik masyarakat Marx. Agama dianggapnya sebagai ungkapan penderitaan yang sungguh-sungguh, keluhan masyarakat yang tertekan. Lalu pada akhirnya, agama menjadi candu masyarakat. Masalah utama yang perlu dikritik menurutnya bukanlah agama, tapi apa yang melahirkan agama itu sendiri: masyarakat.

Maka, saat melihat Jokowi, seharusnya kita tahu bahwa ia tercipta justru karena kondisi masyarakat yang ada kini. Korupsi yang mengakar, pemimpin yang feodal dan kesejahteraan yang menipis. Semua itu menjadi dasar kerinduan akan sesosok ideal pemimpin dalam raga Jokowi. Kita sendirilah yang menciptakan proyeksi bahwa yang ideal adalah yang seperti Jokowi.

Hal itu adalah bukti tanda keterasingan kita selama ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s