Kalau Tes Keperjakaan Ada, Pak?

20130915_demo-tolak-tes-keperawanan_3724

Demo tolak tes keperawanan di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Sumber: Tribunnews.com

“Tapi, Pak. Bukannya salah wanita itu juga bila dia memakai baju seksi yang mengundang pria-pria mengisenginya?”

“Itu cara pikir yang sangat patriarkal.”

Dua tahun telah berlalu, dan kasus pemerkosaan seorang wanita di angkot masih saja terngiang di benak saat ini. Percakapan di atas – saya ingat betul – terjadi dalam kelas Penulisan Tajuk Rencana dan Opini yang saya ikuti ketika kasus tersebut marak dibicarakan media massa. Sebuah pembuktian nyata yang menunjukkan bahwa kita, orang-orang timur ini telah terlalu lama terjebak dalam perspektif dangkal patriarkal dan menjadikannya tameng untuk sesuatu yang kita anggap sebagai norma kesantunan.

Memang, apa kesantunan itu sebenarnya?

Berbincang akrab dengan tulus pada seseorang yang baru kita kenal mungkin santun, tapi menuntut kepuasan sepihak pada wanita yang baru pertama kali Anda lihat wajahnya di kaca spion mobil tentu tidak.

Mengenakan pakaian yang menutupi seluruh bagian tubuh yang disebut aurat itu mungkin santun, tapi itu pilihan, bukan satu-satunya jalan. Saya kenal seorang wanita yang kerap berbaju minim dengan pikiran jauh lebih santun daripada liyan yang bahkan tak berani memperlihatkan sebagian kulit dengkulnya.

Hal ini lucu sesungguhnya. Kita kerap menyalahkan daun yang berserakan di halaman walau menyadari penuh bahwa angin yang menggugurkannya. Syahdan, wanitalah yang harus menanggung malu atas pria yang kehilangan kontrol kemaluannya.

Dan, oleh karenanya, tak ada yang lebih menggelikan daripada wacana untuk melakukan tes keperawanan bagi para wanita di Prabumulih, Sumatera Selatan.

Banyak hal yang bisa membuat seorang wanita tidak lagi masuk dalam kategori perawan selain karena hubungan seksual, bahkan ada yang lahir tanpa balutan selaput dara di dalam selangkangannya.

Namun, bukan itu persoalannya.

Mereka bilang keperawanan adalah soal kesucian, soal mahkota yang harus dijaga. Tapi, untuk siapa mahkota itu pada akhirnya? Pria. Dan bila terlambat atau bahkan tak pernah sempat diberikan pada siapapun, mahkota itu dianggap lapuk, hina, menyedihkan.

Lantas, tiba-tiba saya teringat Juno. Perempuan yang terlanjur hamil di usia 16 tahun dan dengan berani mengurungkan niat untuk menggugurkan kandungannya. Ia lebih memilih bertahan, dan berniat memberikan sang anak nantinya pada seseorang yang sudah lebih siap untuk mengadopsi.

Juno sendiri adalah sosok yang independen, ada kejujuran dan kenaifan yang tak terpurakan dalam setiap perilakunya. Ia tidak peduli teman-teman sekolah mencemoohnya di belakang melihat perut besarnya. Ia tidak peduli soal bagaimana harus berdandan dan berkata di berbagai kesempatan. Ia tidak peduli bahwa ayah dari anak yang dikandungnya, Paul, tidak banyak membantunya melewati masa-masa kehamilan yang sulit. Namun, ia peduli pada bayi yang dikandungnya.

Begitupun ayah dan ibunya. Reaksi pertama ayah Juno saat mendengar langsung soal kehamilan tersebut dan mengetahui bahwa Paul merupakan penanam benihnya adalah, “Ayah tidak menyangka dia ‘sanggup’.” Syahdan, hal selanjutnya yang ditanyakan sang ayah adalah soal opsi adopsi untuk sang bayi yang mana telah Juno pikirkan dan menjadi pilihannya saat itu.

Tak jauh berbeda dengan sang ibu tiri. Saat mengetahui Juno menolak melakukan aborsi, ia langsung memuji keberanian Juno dan memikirkan soal vitamin apa yang harus dikonsumsi agar anaknya tetap sehat dan berusaha segera membuat janji untuk pemeriksaan ke dokter kandungan.

Kedua orangtua Juno jelas kaget dan tak mengharapkan kabar kehamilan tersebut datang dari mulut anaknya. Namun, mereka tidak marah berlebihan, tidak mencari kambing hitam dan tidak memilih langkah gegabah untuk menyelesaikan masalah yang ada di depan mata. Solutif, mungkin kata yang tepat.

Tak terbayangkan rasanya apa yang akan terjadi pada Juno bila ia tinggal di Prabumulih pada waktu sekarang ini. Pilihan paling realistis bila ia tidak melakukan aborsi: stres menerima cemoohan dan hukuman sosial tiada habisnya dari lingkungan sekitar, atau mati ditembak FPI.

Namun, saya rasa apapun risikonya Juno tidak akan takut. Ia terlampau tidak peduli pada serapah yang berlomba masuk ke dalam telinganya, dan ia terlampau keras kepala untuk melakukan apa yang menurutnya terbaik bagi dirinya sendiri. Dan karena saat semuanya sudah terlanjur terjadi, tak ada yang lebih tak berguna selain mengutuk kenangan dan memeluk ‘jika’. Lebih baik menyalakan lilin, dibanding memaki kegelapan.

Sayangnya, kita, orang-orang timur yang santun ini kerap terlampau malas mencari lilin saat gelap sedang menyapa. Untuk mencegah perbuatan zinah, suruh wanita tutupi auratnya, jangan tegur pikiran kotor sang pria. Untuk meminimalisasi praktik prostitusi remaja, tes saja keperawanannya bila mau masuk sekolah, bukan perbaiki edukasinya.

Lalu, kalau begitu bagaimana cara untuk mencegah seorang suami berselingkuh dalam sebuah dinamika pernikahan?

Potong saja kemaluannya, jangan bina kesetiaannya.

 

NB: Tulisan ini dibuat pada 25 Agustus 2013.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s