Militansi dan Kebanggaan Jadi Wartawan

September 2012

Hotel Mulia masih lengang siang itu. Jumpa pers belum dimulai. Saya memang datang terlalu cepat karena takut terjebak laknatnya macet ibukota. Alhasil, saya memutuskan untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu sebelum mencari cara menghabiskan waktu.

Usai menuliskan nama dan media asal, seorang perempuan memberikan secarik press release dan sebuah kotak persegi berwarna putih. Saya pun masuk ke dalam ruang perhelatan. Suasananya segera berubah drastis. Udara dingin melabrak pori-pori yang sebelumnya terlalu lama kena sengat matahari.

Wartawan lain juga belum banyak yang datang. Ruangan tersebut terlihat begitu lapang, dan beberapa panitia masih sibuk berlalu lalang. Syahdan, saya mencari bangku untuk sejenak melepas lelah. Saya tambatkan tas berisi laptop dan kamera di kursi sebelah, lalu mulai membaca paragraf demi paragraf yang tertera pada kertas rilis di tangan.

Tak lama, saya teringat dengan kotak putih yang didapat dari meja registrasi tadi. Awalnya saya kira kotak itu berisi camilan. Namun, berat dan bunyinya berbeda. Benar saja, ternyata isinya adalah sebuah jam tangan berwarna perak mengkilap.

Sesaat saya terkesiap. Saya memandangi selama beberapa detik, kemudian kembali menutup kotak putih tersebut. Bahkan, tak terpikirkan saat itu untuk sekadar melihat merek atau menerka harganya. Saya bawa dan kembalikan jam tersebut pada perempuan penjaga meja registrasi.

“Kenapa dikembalikan, Mas?”

“Kebijakan kantor, Mba, hehehe.”

Setelahnya, saya putuskan untuk membakar sebatang rokok di lobi depan hotel. Kebetulan, ada beberapa wartawan yang sedang menyesap asap pula di sana.

Saat saya hampiri, dua di antaranya ternyata sedang mencoba sebuah jam baru di tangan. Terlihat kotak putih persegi dengan tutup terbuka di sebelahnya.

November 2013

“Kalau kamu masuk, kamu mau gaji berapa, Tito?”

“Ya, saya setara UMR lebih sedikit saja juga enggak apa-apa, Mas.”

“Heh, kamu kira kita buruh? Kita ini wartawan, ya memang buruh juga, tapi kamu harus berani perjuangkan gaji kamu setinggi mungkin dong!”

Kami semua terpingkal mendengar cerita Tito kala diwawancara sebelum masuk Sinar Harapan Weekly – yang kini telah berganti nama menjadi The Geo Times. Tito pun ikut tergelak sembari mengingat detail pertemuan perdananya dengan Mas Rusdi Mathari, sang redaktur pelaksana kala itu.

“Waktu itu gue bingung, baru kali ini gue minta gaji sedikit malah dimarahin,” katanya sambil menahan tawa.

September 2012

Mas Heru Andriyanto mendengarkan dengan seksama. Saya kisahkan semua yang saya lihat. Soal jam tangan pemberian dan para wartawan yang dengan bangga mengenakannya.

Mas Heru memang telah membimbing saya semenjak mulai bekerja magang di The Jakarta Globe dua bulan lalu. Ia banyak memberikan nasihat serta masukan yang membangun bagi diri saya pribadi.

Setelah cerita saya rampung, saya ingat betul apa yang terlontar dari mulutnya kala itu.

“Sebagai wartawan, kita harus punya harga diri. Dengan harga diri, kita bisa berada sejajar dengan mereka, para narasumber. Jangan sampai kita ada di bawah mereka. Dengan harga diri, kita punya posisi tawar untuk berhadapan dengan mereka.”

Februari 2014

“Pesanku sama kamu cuma satu, Vir, jangan terima jale.”

Itulah yang diucapkan Mas Didit Sidarta pada saya di depan kantor Nefos News, Jakarta. Kala itu kami berdua sedang menunggu waktu untuk bertemu Erros Djarot, seniman serba bisa sekaligus Pemimpin Umum Nefos News. Saya memang diminta membuat tulisan soal 40 tahun Erros Djarot berkarya sehingga bermaksud melakukan wawancara ekslusif dengannya di sana.

Sesungguhnya, saya telah mengenal Mas Didit semenjak masih bekerja magang di The Jakarta Globe. Kala itu, ia adalah salah satu redaktur Berita Satu, media online yang masih satu grup dengan koran berbahasa Inggris tersebut. Saat magang di sana, saya memang otomatis bekerja untuk dua media. Sehari-harinya, tulisan bahasa Indonesia saya akan terbit di Berita Satu, sementara beberapa tulisan pilihan akan naik cetak dalam bahasa Inggris untuk The Jakarta Globe.

Sempat beberapa kali bertemu di kantor, saya mendapat kesan bahwa Mas Didit adalah orang yang pendiam. Setiap kali lewat meja kerjanya, ia pun selalu asyik berkutat dengan tumpukan berita yang menunggu untuk diedit. Saya baru mendapat kesempatan mengenalnya lebih jauh justru setelah bertemu lagi di ruang redaksi The Geo Times.

Kini, Mas Didit adalah orang paling riang di kantor. Selalu saja tingkahnya memancing tawa para reporter atau karyawan non-redaksi di sana. Celetukannya selalu jadi bahan canda ulangan di banyak obrolan dan tongkrongan.

Pernah suatu kali sebuah berita yang ditulis oleh Fandy terbit atas nama Mas Didit. Saat Fandy protes, Mas Didit hanya menjawab, “Ya saya kan juga malu tulisan jelek begitu kok pakai nama saya.”

Semua tertawa mendengar jawaban tersebut.

Namun, tak hanya itu. Ia juga kerap memberi petuah positif yang hingga kini kerap terngiang di otak saya.

“Kamu itu suka kasih penjelasan tambahan dengan tanda kurung di sebuah kutipan ya, Vir. Menurut saya, itu kegenitan yang tak perlu.”

“Kamu kadang masih suka memasukkan semua data dan fakta yang ada ke sebuah tulisan. Enggak bisa begitu, Vir. Sebagai wartawan kita harus bisa memilih.”

“Pesanku sama kamu cuma satu, Vir, jangan terima jale. Saat kamu menulis nama kamu di buku absen jale, catatan nama para wartawan itu bisa dengan cepat tersebar ke mana-mana. Orang-orang jadi tahu bahwa kamu adalah wartawan yang bisa disuap. Buat apa mengorbankan nama kamu untuk uang yang paling hanya 200 atau 300 ribu.”

Desember 2013

Paling hanya 200 atau 300 kata untuk satu artikelnya. Saat itu saya sedang mengerjakan beberapa artikel pendek soal band dan musisi Indonesia yang gemar melakukan kegiatan amal. Total, ada empat tulisan yang saya kerjakan. Saya ingin segera menyelesaikannya agar tak ada lagi beban saat sampai di rumah nanti. Karena itulah saya urung pulang dari kantor sebelum semuanya rampung.

Kantor sedang sepi malam itu. Seingat saya, hanya ada Mas Rusdi yang menemani di ruang belakang. Matanya menatap layar laptop dengan tajam, sementara tangannya tak henti mengetik dengan bunyi nan konstan. Bunyi ketikannya hanya bersaing dengan gemericik air kolam renang yang berada tak jauh dari meja besar tempatnya bekerja.

Saat pekerjaan usai dan saya bersiap pulang, Mas Rusdi tak lupa sedikit menyapa. “Rumah kamu di mana, Viriya? Terima kasih ya, sudah sampai malam begini,” ujarnya.

Entah kenapa, kata-kata itu terasa begitu hangat, menyeruak masuk telinga, membuncah di dada.

Saya memang menaruh hormat besar pada Mas Rusdi. Sejak awal perkenalan, ia selalu blak-blakan. Ketika suasana hatinya bagus, Mas Rusdi akan bercanda tanpa henti. Apapun bisa ia ceritakan, dari yang inspiratif sampai yang bikin sakit perut karena terlalu banyak tertawa. Namun, tak ada yang berani menyenggolnya, bahkan cuma dengan kata-kata, bila ia sedang murung.

Pernah suatu waktu saya dimarahinya karena reportase saya dalam liputan tentang kaum LGBT dianggap kering tak berisi. Dengan tegas ia berujar, “Kalau saya marah, berarti saya masih sayang sama kamu. Cara saya ngomong memang begini, ya enggak bisa diubah. Tapi kalau saya sudah diam, itu berarti saya sudah enggak peduli.”

Salah satu cerita Mas Rusdi yang paling menarik adalah soal pertemuannya dengan Mochtar Lubis di awal karier sebagai wartawan dahulu. Kala itu Mas Rusdi mendapat tugas untuk mewawancara wartawan legendaris tersebut secara eksklusif. Di tengah perbincangan, Mochtar sempat memberikan pesan pada Mas Rusdi yang begitu diingat hingga kini.

“Rusdi, kalau suatu hari nanti ada yang kasih kamu amplop, lempar balik amplop itu ke mukanya. Kalau ada yang kasih kamu mobil, rusak mobil itu. Kalau ada yang kasih kamu rumah, bakar rumah itu. Mengerti kamu?”

“Gila juga Mochtar Lubis itu,” ujar Mas Rusdi yang saya sambut dengan tawa keras sembari geleng-geleng kepala.

Memang, pelajaran hidup tak selalu kita dapat di kelas sekolah atau ruang rapat formal. Yang tak terlupakan justru kerap hinggap dari perbincangan lantur dengan kepulan asap rokok mengiringi. Saya merasa begitu beruntung pernah mengenal para senior yang tak henti mengingatkan soal harga diri dan militansi sebagai wartawan. Soal cara menjalani hidup dengan bangga walau banyak cemooh menanti di ujung jalan.

Prinsip sama juga saya temui dalam diri Mas Farid Gaban, Pemimpin Redaksi The Geo Times tempat saya melabuhkan diri saat ini. Suatu malam di tengah impitan deadline, Mas Farid pernah berujar pada saya.

“Buat saya, kaya itu adalah saat kita bebas untuk memilih. Saat kita bisa menentukan pilihan sendiri ke mana kita harus melangkah. Banyak orang yang punya harta berlimpah, tapi tak punya banyak pilihan dalam hidupnya. Saya tak mau seperti itu.”

Sesaat setelah mendengar hal ini, saya merasa arah saya berjalan semakin jelas. Karena saya tahu, puncak seperti apa yang ingin saya raih suatu hari nanti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s