Hikayat Messi

messi

Raut wajah Lionel Messi setelah kekalahan di final Piala Dunia 2014 melawan Jerman, Sumber: independent.ie

Bencana terus menimpa Jerman. Mereka adalah juara bertahan. Namun, penampilan di Piala Eropa 2000 adalah sebuah kesia-siaan. Sebelumnya, mereka imbang 1-1 dengan Rumania dan kalah 0-1 dari Inggris. Di laga pamungkas, tak jua datang perbaikan. Hattrick Sergio Conceicao bagi Portugal semakin menenggelamkan Jerman. Alhasil, hanya satu gol dan satu poin yang bisa mereka raih dari tiga laga Grup A. Kisah Jerman di Belgia-Belanda singkat saja.

Nama-nama besar seperti Oliver Kahn, Oliver Bierhoff dan Lothar Matthaus nyatanya tak banyak memberi arti kala itu. Mereka semua adalah prajurit tua, pilar-pilar masa lalu yang sudah senja usia dan penampilannya. Federasi sepak bola Jerman, Deutscher Fussball-Bund (DFB), tak berdiam diri begitu saja. Sudah saatnya sepak bola mengesampingkan urusan politik dan berbenah dengan serius.

Kala itu, mereka mengucurkan dana jutaan Euro untuk pengembangan akademi sepak bola di berbagai penjuru negeri. Klub-klub yang memiliki sistem akademinya sendiri juga wajib berjalan sesuai arahan DFB. Para pelatih dan pencari bakat gencar mencari talenta terbaik untuk membela panji-panji tim nasional junior Jerman. Dengan begitu, seluruh pemain muda tersebut diharapkan dapat berkembang secara kontinyu melalui seluruh tahapan usia, dari U-15 hingga U-21. Pemantauan dan pembinaan juga bisa dilakukan secara intensif.

DFB bergerak dengan cepat agar penyakit yang ada tak terlanjur kronis. Sepak bola adalah identitas dan kebanggaan warga. Di sanalah Jerman lekat dengan kata ‘juara’, bukan ‘nyaris’ apalagi sekadar ‘fase grup’.

***

Pada tahun yang sama, pemain muda Argentina berusia 13 tahun resmi jadi pemain Barcelona. Namanya Lionel Messi. Ia direkrut dari tim kampung halamannya sendiri, Newell’s Old Boys. Messi penuh talenta, tapi penyakit hormon jadi kendala pertumbuhannya. Tingginya kala itu hanya 127 cm.

“Ketika saya berusia 11 tahun, mereka menyatakan bahwa saya mengalami penyakit kekurangan pertumbuhan hormon dan saya harus mulai menjalani perawatan untuk membantu saya tetap tumbuh. Setiap malam saya harus menancapkan jarum ke kaki saya, dari malam ke malam, setiap hari dalam seminggu, dan ini berlangsung terus selama tiga tahun,” kata Messi.

“Saya sangat kecil. Mereka semua bilang seperti itu, ketika saya pergi ke lapangan, ke sekolah, saya selalu jadi yang terkecil dari semuanya. Terus seperti itu hingga saya menyelesaikan perawatan dan mulai tumbuh secara normal.”

Sebelumnya, hampir saja ia bergabung dengan River Plate, tapi klub itu tak bersedia membayar biaya pengobatan Messi yang bisa mencapai $900 per bulannya. Untunglah Messi memiliki kerabat jauh yang tinggal di Lleida, bagian barat wilayah Katalunya. Dari sana, Messi mencoba peruntungan dengan melakoni sesi uji coba bersama Barcelona. Sekretaris bagian teknis Barcelona kala itu, Carles Rexach, mengendus bakat Messi.

“Saya hanya butuh waktu kurang dari 10 menit untuk yakin bahwa dia memang seorang bintang masa depan. Sepanjang karier saya selama 40 tahun, tak pernah saya melihat seorang pemain yang benar-benar bertalenta. Seseorang dengan pengetahuan sepak bola minim pun akan bisa menyadari kemampuan hebatnya,” kata Rexach kala itu.

Pada 14 Desember 2000, Rexach segera menemui ayah Messi, Jorge Horacio, untuk bernegosiasi. Tak lama, kesepakatan pun terjadi. Barcelona bersedia membayar segala biaya pengobatan yang dibutuhkan. Tak ingin buang banyak waktu, Rexach mengambil serbet terdekat dan membuat kontrak di atasnya. Messi pun memulai petualangannya di akademi Barcelona.

messi-napkin

Kontrak pertama Lionel Messi bersama Barcelona di atas sebuah serbet, Sumber: sports.yahoo.com

***

Pada 2002, Jerman seakan memupus semua kekecewaan dua tahun sebelumnya dengan mencapai babak final Piala Dunia. Sayang, mereka takluk dari Brasil 0-2 lewat sepasang gol Ronaldo.

Namun, sesungguhnya penampilan Jerman sepanjang ajang tersebut tidaklah spektakuler. Di fase grup, Jerman harus berhadapan dengan Irlandia, Kamerun dan Arab Saudi. Setelah lolos sebagai juara grup, mereka menang tipis 1-0 di tiga laga fase gugur secara beruntun; melawan Paraguay, Amerika Serikat dan Korea Selatan. Barulah mereka benar-benar bertemu dengan tim bernama besar dan memiliki tradisi juara di babak final melawan Brasil.

Ini terlihat ketika Jerman kembali jeblok performanya pada Piala Eropa 2004. Satu grup dengan Belanda, Republik Ceska dan Latvia, Jerman hanya bisa meraih dua poin dan gagal lolos ke perempat final.

Secara umum, penampilan mereka miskin kreasi. Hanya bertumpu pada Michael Ballack di lini tengah, Jerman bahkan tak bisa membuka gembok lini pertahanan Latvia dan hanya mampu imbang 0-0. Striker utama mereka kala itu, Kevin Kuranyi, kalah kelas dibanding Ruud van Nistelrooy di Belanda atau bahkan Milan Baros di Republik Ceska.

Namun, secercah harapan timbul melihat kehadiran nama-nama seperti Bastian Schweinsteiger, Philipp Lahm dan Lukas Podolski yang melakoni debutnya di turnamen besar internasional kala itu. Schweinsteiger bahkan sempat memberi assist bagi gol Ballack saat Jerman kalah 1-2 dari Republik Ceska. Lahm selalu jadi starter dan bermain konsisten di tiga laga, sementara Podolski masuk sekali sebagai pengganti.

Para pemain muda didikan akademi perlahan mulai menunjukkan tajinya.

***

Karena bakat besarnya, Messi bisa dengan cepat melalui berbagai jenjang tingkatan di akademi Barcelona. Pada 16 Oktober 2004, pelatih Frank Rijkaard bahkan memberinya kesempatan menjalani debut pertandingan kompetitif kala melawan Espanyol di La Liga. Usianya baru 17 tahun dan 114 hari, menjadikan Messi sebagai pemain termuda yang bermain di liga sepanjang sejarah tim kala itu.

Pada 17 Agustus 2005, Messi menjalani debutnya bersama tim nasional Argentina pada laga melawan Hungaria. Masuk ke lapangan pada menit ke-63, debut Messi ternyata berujung pada bencana. Wasit asal Jerman, Markus Merk, memberinya kartu merah langsung karena dianggap menyikut Vilmos Vanczak pada menit ke-65. Messi keluar lapangan dan hanya bisa menangis di ruang ganti.

“Itu tak berlangsung seperti yang saya impikan,” kata Messi usai pertandingan. “Saya sangat kecewa karena masih banyak menit yang bisa saya mainkan, tapi semuanya telah terjadi.”

Namun, kejadian itu hanyalah setitik debu dalam karier Messi setelahnya. Perlahan, Messi mulai bermain secara reguler bagi Barcelona. Ketajamannya semakin meningkat tiap musimnya dan gelar demi gelar pun terus berdatangan.

Selama 10 musim membela Barcelona, ia telah mencetak 354 gol di semua ajang dan berhasil meraih setumpuk gelar, dari enam gelar La Liga, dua Copa del Rey dan tiga trofi Liga Champion. Permainan Messi dan Barcelona terlalu cemerlang, sampai kadang membosankan melihat mereka menang dari waktu ke waktu.

Gelandang Manchester United, Paul Scholes, bahkan pernah berujar, “Saya biasanya selalu siap menonton pertandingan Barcelona tiap Sabtu malam. Namun, tiap minggunya sama saja. Mereka membantai siapa saja dengan enam atau tujuh gol, Messi mencetak hattrick setiap minggu. Saya bosan. Mereka sebagus itu, saya bosan.”

soc_messi_22

Lima pemain Real Madrid menjaga Lionel Messi, Sumber: ESPN

Namun, Messi di Barcelona berbeda dengan di Argentina. Messi kerap bermain bagus bagi Tim Tango, tapi tidak spektakuler. Pada Piala Dunia 2006, Messi memang bukan pilihan utama pelatih Jose Pekerman. Saat Argentina tersingkir dari Jerman di babak perempat final pun Messi sama sekali tidak dimainkan.

Setelahnya, barulah ia jadi pemain inti. Walau begitu, magisnya kerap menguap di berbagai pertandingan krusial. Misalnya kala Argentina kalah 0-3 dari Brasil di final Copa America 2007. Ia pun tak bisa berbuat banyak kala timnya dihajar (lagi) oleh Jerman 0-4 pada perempat final Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Padahal, dari fase grup hingga babak 16 besar sebelumnya, Messi gemilang dengan sejumlah assistnya. Pelatih Diego Maradona kala itu memang menempatkan Messi lebih ke belakang sebagai pengatur serangan. Ini berbeda dengan perannya sebagai penyerang sayap saat bermain untuk Barcelona. Kekecewaan mendalam harus Messi terima kala itu.

“Saya punya kenangan soal Afrika Selatan,” kata Maradona. “Saya masih bisa mendengar, dan saya yakin akan selalu bisa mendengarnya, suara Leo menangis ketika kami disingkirkan oleh Jerman.”

“Ini akan jadi ujian karakter Leo, untuk mengeluarkan seluruh rasa sakit di hatinya. Brasil 2014 bisa menjadi pembalasan yang luar biasa.”

hi-res-1a375e14bcca702c830bce722e3adf66_crop_north

Pelatih Diego Maradona menghibur Lionel Messi usai tersingkir dari Jerman di babak perempat final Piala Dunia 2010, Sumber: bleacherreport.com

Setelahnya, semua berjalan hampir sesuai ramalan Maradona. Argentina lolos ke partai puncak Piala Dunia 2014 untuk sekali lagi berhadapan dengan sang musuh bebuyutan: Jerman. Sehari sebelum laga berlangsung, Messi sempat menyampaikan beberapa patah kata pada penggemar melalui akun Facebook-nya.

“Besok, kami akan memainkan pertandingan terpenting dalam hidup bagi negara kami. Impian dan harapan saya bisa terus terwujud hingga saat ini melalui kerja keras dan pengorbanan tim yang telah memberikan segalanya sejak laga pertama. Kami tahu bahwa kami bisa melakukannya. Orang-orang kami, para rakyat Argentina, mereka telah mendorong kami ke sini. Tapi, mimpi ini belum berakhir, besok kami ingin menang, dan kami siap!”

***

Jerman merasa sungguh siap. Segala yang mereka tanam dan rawat sejak bencana Piala Eropa 2000 silam telah membuahkan hasil. Schweinsteiger, Lahm dan Podolski kini adalah pemain senior dalam tubuh tim. Generasi baru pemain Jerman pun penuh talenta. Piala Dunia 2010 telah melambungkan nama Thomas Mueller, Mesut Oezil, Sami Khedira dan Manuel Neuer. Sementara kini, giliran Toni Kroos, Mario Goetze dan Andre Schurrle yang kebagian jatah unjuk gigi.

“Tim ini telah selangkah lebih maju,” ujar Schweinsteiger membandingkan dengan tim Jerman pada 2010 lalu. “Setiap pemain telah berkembang lebih jauh di klubnya masing-masing dan sejumlah pemain bagus juga telah mengalami peningkatan.”

Momentum juga ada di tangan mereka setelah sukses menghajar Brasil 7-1 di babak semi final. Bahkan para pemain Jerman tampak tak percaya dengan kemenangan ini.

“Ini sangat tidak bisa diprediksi. Jujur saya tidak tahu harus berkata apa. Saya masih tidak bisa percaya tentang hal ini. Ini sesuatu yang benar-benar gila,” kata Mueller. “Bagi kami, rencana tim pada hari ini telah berjalan dengan lancar. Sekarang kami harus bisa melalukan hal yang sama sekali lagi dan kami harus berjuang untuk mendapatkan hal tersebut.”

Memang, tugas Jerman belum tuntas. Tinggal satu laga lagi dan mereka bertekad untuk bertarung habis-habisan selama 90 menit. Bila perlu, hingga babak perpanjangan waktu.

***

Menit ke-121. Jerman masih unggul 1-0 berkat gol Goetze di menit ke-113. Kini, kesempatan terakhir bagi Argentina untuk menyamakan kedudukan datang lewat tendangan bebas beberapa meter dari kotak penalti Jerman. Messi bersiap menjadi eksekutor.

Tendangan bebas memang bukan hal baru bagi Messi. Ia adalah salah satu penendang utama di Barcelona, selain Xavi tentunya. Untuk Argentina, Messi bahkan baru saja mencetak gol lewat cara yang sama kala bertanding melawan Nigeria di fase grup sebelumnya. Kiper Nigeria, Vincent Enyeama, tak bisa berbuat banyak kala itu menghadapi tendangan melengkung Messi yang meluncur deras ke sudut kanan atas gawang.

Namun, kali ini kondisinya berbeda. Messi wajib menjuarai Piala Dunia untuk menyejajarkan diri dengan nama-nama besar seperti Maradona, Pele ataupun Zinedine Zidane. Semua harapan warga Argentina bergantung padanya bahkan jauh sebelum Piala Dunia 2014 berlangsung. Bila Messi berhasil jadi pahlawan, sepak bola Argentina tak lagi menganut monoteisme, atau kepercayaan hanya pada satu yang tunggal: Maradona.

Setelah sendirian membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, orang-orang bersama-sama mengkultuskan Maradona. Gereja Maradona bahkan didirikan pada 30 Oktober 1998 lalu di Rosario untuk memuja mantan pemain Barcelona itu.

“Saya punya agama rasional, yaitu pada Gereja Katolik, dan saya punya agama yang merasuki hati dan gairah saya, itulah Diego Maradona,” kata Alejandro Veron, salah satu pendiri gereja tersebut.

Sebesar itulah keyakinan rakyat Argentina pada Maradona. Di satu sisi, sesungguhnya Messi adalah antitesis dari Maradona. Ia memang bermain dengan postur dan gaya serupa. Kaki kidalnya juga maut tak tertandingi. Namun, Messi jauh dari minuman keras, obat terlarang atau wanita malam. Ia bukan pemberontak dan cenderung penurut saat bermain di bawah arahan sejumlah pelatih berbeda. Ia juga selama ini setia membela satu klub saja dalam kariernya. Satu lagi, ia belum pernah menjuarai Piala Dunia.

Maka, ketika tendangan bebas Messi jauh melambung melewati gawang Jerman, sang kapten hanya bisa tersenyum kecut sesaat. Begitu juga kala peluit akhir pertandingan berbunyi kencang dan seluruh pemain Jerman larut dalam euforia. Angel Di Maria dan Sergio Aguero menangis tak tertahankan, tapi Messi cuma bisa terdiam. Matanya sempat berkaca-kaca, tapi ia tak mau terlalu lama larut dalam emosi.

soccer-fifa-world-cup-2014-final-germany-v-argentina-maracana-4-630x449

Reaksi Lionel Messi setelah Mario Goetze mencetak gol kemenangan Jerman di final Piala Dunia 2014, Sumber: thescore.ie

Messi pernah disuntik kakinya setiap hari selama tiga tahun di kala remaja. Ia pernah dikartu merah saat melakoni debut pertandingan internasional. Ia juga pernah dicadangkan dan kalah telak dalam laga melawan Jerman di dua edisi Piala Dunia. Namun, Messi selalu bangkit. Ia sudah bosan larut dalam tangis. Lihatlah, kini tingginya sudah 173 cm, sesuatu yang jauh melebihi ekspektasinya saat pertama divonis mengidap penyakit cacat hormon.

Maka, kekalahan tak akan membuat Messi berhenti melangkah. Kejatuhan, hanyalah lecutan bagi lompatan Messi yang lebih tinggi.

 

NB: Tulisan ini juga dimuat di media online Geotimes.co.id pada Selasa, 15 Juli 2014.

Advertisements

Balada Pendidikan di Papua

IMG_2837

Seorang guru relawan, Ahmad Nasihin, mengajar di Kampung Sangke, Keerom, Papua/Felix Jody Kinarwan

Andri Hidayat bingung bukan kepalang. Biasanya anak-anak telah datang di sekolah, tapi kali ini seluruh kelas di SD YPPK Kenandega, Distrik Waris, Kabupaten Keerom, Papua, kosong melompong. Entah murid-murid itu di mana.

Setelah bertanya kepada penduduk sekitar, semuanya jelas. Anak-anak diajak orang tua ke luar kampung, turun ke kota berbelanja beramai-ramai.

“Besoknya terlihat mereka memakai baju, tas, sepatu baru atau bermain dengan sepeda baru,” kata Andri, guru relawan dari Pulau Jawa yang tiba di Waris sejak November 2013.

Budaya konsumtif memang masih lekat dengan gaya hidup masyarakat Papua. Padahal, Papua merupakan daerah termiskin di Indonesia. Pada Agustus 2012 Menteri Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional Armida Alisjahbana mengungkapkan hal itu.

“Tingkat kemiskinan di daerah Papua 31,11 persen. Tingkat kemiskinan nasional saat ini 11,96 persen,” kata Armida. “Di Papua, daerah yang makmur yang lebih dekat ke laut atau pesisir pantai. Di daerah pegunungan, tingkat kemiskinan masih tinggi. Kesejahteraan di sana perlu diratakan dan itulah yang pemerintah upayakan.”

Distrik Waris terletak di daerah pegunungan. Dari wilayah perkotaan di Distrik Arso, harus menempuh jarak lebih dari 100 kilometer untuk mencapai Waris. Ada enam kampung kecil yang berdekatan dalam wilayah Waris, yaitu Ampas, Yuwainda, Kalimo, Kalifam, Banda, dan Pund. SD YPPK Kenandega di Kalifam.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk turun ke kota tidak murah. Menurut Andri, biasanya warga menyewa mobil atau naik taksi (sebutan untuk angkot di Papua) dengan biaya lebih dari Rp 100 ribu per kepala.

Inilah yang jadi kendala. Sesungguhnya, berbagai dana bantuan untuk sekolah dan masyarakat rutin turun dari pemerintah. Pada Februari 2014 Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Papua Elias Wonda mengatakan, Papua mendapat alokasi dana Bantuan Operasional Sekolah dari pemerintah pusat Rp 345 miliar.

“Dana tersebut akan dibagikan kepada seluruh sekolah yang tersebar di seluruh Papua,” kata Elias pada media lokal Tabloid Jubi. “Dananya sudah lama dikirim dari pusat. Tetapi masih ada administrasi yang harus diselesaikan oleh Gubernur, sebelum ditransfer ke kabupaten/kota.”

Pada Juli 2013 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh datang ke Kabupaten Lanny Jaya untuk menyerahkan Bantuan Siswa Miskin Rp 108 miliar untuk SD, SMP, SMA, dan SMK di Papua.

Khusus untuk Kabupaten Keerom, ada lagi dana tambahan melalui program Bantuan Keuangan Kepada Kampung yang telah berjalan sejak Maret 2011. Melalui program ini, setiap kampung mendapat dana Rp 1 milliar per tahun dengan sasaran 30 persen untuk gaji aparatur dan non-aparatur kampung, serta 70 persen untuk pembangunan.

Namun, seluruh dana itu tak menjamin keberhasilan pembangunan infrastruktur serta pendidikan di kampung, khususnya daerah pedalaman. Di antaranya karena masalah penyelewengan dana serta para guru kontrak dari pemerintah yang kerap lalai menjalankan tugas.

“Guru-guru itu bisa malas karena keuangan sekolah tidak transparan. Ada kepala sekolah yang kerap nakal menyelewengkan dana Bantuan Operasional Sekolah ataupun Bantuan Siswa Miskin. Jadi, guru-guru berpikir, golongan sama tapi kepala sekolah tidak pernah mengajar, enak-enak dapat uang. Buat apa guru capek-capek mengajar kalau begitu?” kata Mohamad Rowi, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom.

IMG_4696

Mohamad Rowi, Sekretaris Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Keerom/Felix Jody Kinarwan

Ketika tak ada transparansi dana dari pihak sekolah, warga pun sulit memantau langsung. Hal ini terjadi di SD YPPK Kenandega, Waris. Pada 2007 Sergius Fatem, warga asli Waris, diangkat sebagai kepala sekolah. Sejak itu sekolah dikelola dengan sangat tertutup, terutama soal arus keluar-masuk dana.

“Ada beberapa sumber pemasukan dana untuk sekolah, tapi yang rutin adalah BOS dan dana gratis untuk siswa miskin yang tak mampu bayar uang sekolah,” kata Krispinus Bidi, pastor paroki yang menjabat sebagai kepala sekolah sejak 2014. “Dana BOS saja bisa sampai 53 juta per semester. Itulah yang membuat orang bertanya-tanya, dana begitu besar tapi kenapa tak ada perubahan apa-apa di sekolah.”

Pada 2011 Sergius mundur dan menyerahkan jabatan kepala sekolah kepada istrinya, Yustina May. Kondisi tak berbeda. Selama dua periode, Kepala Sekolah SD YPPK Kenandega diduga kuat menyedot dana pendidikan untuk kantong pribadi.

Fasilitas sekolah pun terbengkalai. Kantor guru bahkan berubah jadi gudang. Suasana pun tak kondusif hingga banyak guru keluar. Bila menentang keputusan kepala sekolah, mereka segera didepak dengan berbagai cara.

Kegiatan belajar-mengajar juga berlangsung seadanya. Sekolah berjalan selama tiga hari saja, dari Senin hingga Rabu. Alasannya, anak-anak dianggap malas. Padahal, tiap Kamis Sergius dan Yustina turun ke kota untuk menjalankan usaha lain di sana. Maka, sekolah libur dari Kamis hingga Minggu.

IMG_4055

SD YPPK Kenandega, Distrik Waris, Keerom, Papua (6/6/14)/Felix Jody Kinarwan

Pada Agustus 2011 tarekat Katolik Ende (Flores) mengirimkan Krispinus untuk mengabdi di Waris selama empat tahun. Tujuannya membina sekolah yayasan yang ada di Waris. Namun, karena sulit melakukan pendekatan pada Sergius, Krispinus mencoba berbicara pada para orang tua dan tokoh masyarakat.

“Saya bilang, kalau memang kita peduli pada sekolah, kita mau hak-hak anak dipenuhi dan sekolah berjalan dengan baik, maka ada sikap yang harus diambil oleh orang tua,” kata Krispinus kala itu.

Seiring berjalannya waktu, tak juga datang perubahan signifikan. Puncaknya terjadi pada Oktober 2013. Kala itu warga merasa muak. Kekesalan yang menumpuk selama ini mendorong mereka bergerak memboikot sekolah.

“Saat itu masyarakat menutup sekolah. Semua dipalang. Kayu-kayu dipakukan ke pintu,” ujar Krispinus. “Mereka mau menyampaikan aspirasi dan menuntut agar dinas, yayasan, serta pihak-pihak di kecamatan duduk bersama dengan orang tua murid. Kepala sekolah dan guru-guru juga dipanggil semua untuk ditanyai, kenapa sekolah dari tahun ke tahun kondisinya semakin parah.”

Pertemuan pun terjadi di gereja setempat antara seluruh pihak terkait. Kondisinya panas. Warga mengeluarkan seluruh unek-unek yang tersimpan selama beberapa tahun terakhir. Tak ada jalan lain, kepala sekolah dituntut segera mundur dari jabatan. Setelah itu barulah SD YPPK Kenandega kembali bernyawa.

Selain itu, menurut Rowi, guru yang bermasalah kerap dipindahkan ke daerah lain tanpa diberikan penataran soal perbaikan kualitas mengajar. Jadi, pemerintah kerap memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya.

Orang tua murid juga jarang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama bagi anak-anaknya. Siswa kerap bolos sekolah karena diajak oleh orang tua berburu ke hutan atau mencari nafkah di negeri seberang, Papua Nugini. Beberapa kampung memang terletak di daerah perbatasan sehingga warga bisa dengan mudah keluar-masuk Papua Nugini.

Misalnya Kibay, kampung paling ujung timur wilayah Indonesia yang masuk dalam Distrik Arso Timur, Keerom. Dari sana, berjalan kaki masuk hutan beberapa jam warga bisa mencapai perbatasan Papua Nugini. Pernikahan silang antara warga Papua dan Papua Nugini biasa terjadi di Kibay.

Hal yang sama terjadi di Kampung Sangke, Arso Timur. Kepala Sekolah SD YPK Sion Sangke, Onesmus Suebu, berujar, “Semua tergantung pada faktor ekonomi. Kalau warga sedang hidup berkecukupan, mereka akan lama menetap di kampungnya. Bila tidak, mereka akan mencari nafkah di PNG.”

Masalah lain, daya tangkap siswa untuk menyerap materi pelajaran secara umum tidak sekuat anak-anak di Pulau Jawa. Hal ini dikui Nanang Kristanto dan Haryati, dua guru relawan di SD Kecil Inpres Kibay yang bertugas pada Oktober 2013 hingga Juni 2014.

Untuk sekadar membaca, materi yang sama harus diulang selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Lalu selewat libur panjang seperti Natal dan Tahun Baru, apa yang sudah dipelajari dengan mudah terlupa begitu saja. Menurut Nanang, hal itu terjadi karena anak-anak jarang sarapan sebelum ke sekolah sehingga mudah mengantuk ketika belajar di kelas.

“Sebuah materi harus diulang-ulang terus sampai mereka mengerti, bukan menghafal. Karena rata-rata memang anak-anak di sini menghafal cara belajarnya,” kata Haryati. “Contohnya, mereka tahu angka 1 sampai 10. Tapi ketika kita menunjukkan sebuah angka dan bertanya itu angka berapa, mereka tidak tahu.”

IMG_3322

Nanang dan Haryati bersama murid-murid SD Kecil Inpres Kibay (3/6/14)/Andrey Gromico

Karena itu, Rowi merasa sulit bagi sekolah-sekolah di pedalaman untuk mengikuti sistem pendidikan sesuai kurikulum dari pemerintah pusat. “Sudahlah, tidak usah bicara kurikulum. Pokoknya pikirkan bagaimana caranya agar anak-anak SD bisa membaca, menulis, dan berhitung. Itu saja, sudah,” kata Rowi.

Kondisinya serba salah. Uang ada, tapi warga belum pandai mengelolanya. Sekolah ada, tapi orang tua belum bisa mempercayakan anak sepenuhnya pada lembaga sekolah.

Menurut Rowi, salah satu solusi yang tepat adalah membuat asrama di sekolah-sekolah sehingga siswa bisa belajar secara intensif sehari-sehari. Sesungguhnya, konsep ini telah berlangsung di Waris sejak akhir 2013.

Semua berawal dari ide Krispinus untuk membuat asrama dadakan bagi para siswa kelas VI SD di pastoran seberang gereja. Anak-anak ke sekolah pagi hari, lalu langsung pulang kembali ke asrama. Sorenya mereka belajar lagi hingga malam. Kegiatan ini berlangsung dari November 2013 hingga Mei 2014. Para siswa boleh kembali ke rumah seminggu sekali di akhir pekan.

Seluruh kerja keras itu tidak sia-sia. Saat hasil try out Ujian Nasional keluar, siswa kelas VI SD YPPK Kenandega berhasil mendapat nilai tertinggi di antara seluruh sekolah di wilayah Waris. Bahkan setelah Ujian Nasional, murid perempuan Yuditsara Amo meraih nilai 85 untuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

Seperti kata fisikawan Yohanes Surya, “Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar.”

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 14 Juli 2014.