Yohanes Surya dan Mimpi Memajukan Bangsa

Surya Institute

Pembangunan gedung Surya Institute (29/7/11)/Viriya Paramita

Yohanes Surya pilih kasih dengan ketiga anaknya. Anak pertama ia didik dan beri bimbingan soal matematika secara intensif. Sementara yang kedua hanya ia bantu jawab pertanyaan yang sulit bila si anak menanyakannya langsung. Namun anak ketiga, hampir tak ia pedulikan dalam pembelajaran angka tersebut.

Alhasil, anak pertamanya telah menguasai ilmu matematika setara tingkat perguruan tinggi saat baru menginjak kelas 5 SD. Anak kedua pun tidak jelek hasilnya. Ia berhasil mendapatkan perunggu saat mengikuti olimpiade matematika. Penguasaannya akan matematika setara dengan pelajaran tingkat SMA, juga saat ia baru kelas 5 SD.

Namun, anak ketiga tidak seberuntung itu. Saat kelas 5 SD, ilmu matematikanya bahkan kalah lihai saat diadu langsung dengan anak-anak seangkatan dari daerah pedalaman nusantara. Hal ini terjadi karena tak ada kepedulian dari Yohanes sendiri untuk mendidik dan memberi motivasi mendalam pada sang anak.

Itu semua benar-benar terjadi, dan sengaja dilakukan Yohanes untuk bereksperimen soal cara mendidik yang baik pada anak.

“Hal ini saya lakukan untuk menunjukkan bahwa kepintaran anak tidak ada hubungannya dengan faktor gen. Anak yang gen-nya bagus sekalipun kalau tidak dilatih dengan baik ya tidak akan jadi juga tanpa kehadiran guru yang baik serta metode yang benar. Anak saya yang ketiga itu awalnya parah, tapi sekarang sudah saya latih lagi secara intensif sehingga menjadi lebih baik,” ujar Yohanes.

Semua bermula pada 1993 saat Yohanes dan Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) pertama kali mengirimkan perwakilannya ke ajang olimpiade di Williamsburg, Virginia, Amerika Serikat. Pria berusia setengah abad itu berinisiatif membentuk TOFI bersama rekan-rekan seperti Agus Ananda, Roy Sambel dan Joko Saputro. Hal itu dilakukan sebagai bentuk keprihatinan karena tiadanya delegasi asal Indonesia sebelumnya di ajang tersebut.

Di kesempatan perdananya, perwakilan dari Indonesia berhasil meraih medali perunggu lewat Oki Gunawan. Setelahnya, TOFI pun secara konsisten membimbing dan mengirim perwakilan ke ajang olimpiade fisika internasional. Medali emas pertama akhirnya datang pada 1999 melalui Made Agus Wirawan.

Tidak sampai di situ, Yohanes terdorong pula untuk menggagas pelatihan khusus untuk para guru dan siswa di bidang matematika, fisika dan IPA. Maka, dibentuklah Yayasan Surya Institute pada 2006 lalu. Perjuangan untuk memajukan pendidikan di Indonesia didasarkan pada keyakinan Yohanes bahwa sesungguhnya tidak ada murid yang bodoh.

“Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan belajar dari guru yang baik dan metode yang benar,” ujar Yohanes.

301040_244725028910351_1269566767_n

Sumber: Akun Facebook Yohanes Surya

Oleh karena itulah, kala Bupati Tolikara di Papua, Jhon Tabo, meminta untuk memajukan pendidikan anak-anak di daerahnya pada 2009, Yohanes segera menyanggupi. Kemudian, sebanyak lima orang anak dari Tolikara dibawa Yohanes ke Surya Institute – yang kala itu masih terletak di Karawaci, Tangerang – untuk mengikuti program Prototype dan dilatih matematika secara intensif.

Hal ini segera diikuti oleh beberapa kabupaten lainnya di Papua. Mereka mengirimkan anak-anak yang dianggap memiliki kemampuan paling rendah untuk dilatih oleh Yohanes dan timnya. Akhirnya, dalam waktu kurang dari dua tahun, anak-anak ini berhasil menjuarai ajang olimpiade internasional di bidang matematika, sains dan robot.

Dalam mendidik anak-anak asuhannya, Yohanes menggunakan metode Gasing yang berarti gampang, asyik dan menyenangkan. Dengan metode tersebut, pelajaran matematika SD dalam enam tahun bisa dikuasai dalam tempo enam bulan saja. Sejak 2011, program Prototype diubah namanya menjadi Surya Intensive Program (SIP).

Lalu, langkah lebih jauh diambil Yohanes pada 2009 kala ia mendirikan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP). STKIP sendiri didirikan dengan tujuan memperbaiki wajah perekonomian Indonesia melalui tingkat pendidikan masyarakat yang lebih baik.

“Jadi waktu saya ke Papua pada 2008, saya bertemu dengan anak-anak Papua di pedalaman dan saya sedih sekali melihat mereka. Mereka sangat rendah kemampuan matematikanya. Maka, saya pikir harus ada terbososan, harus ada guru-guru yang baik untuk mereka. Guru-gurunya juga harus orang asli daerah sana,” jelas Yohanes.

“Tapi, orang sana mana mau jadi guru, untuk apa? Karena itu tunjukkan dulu kalau mereka mampu, latih dulu anak-anak kecilnya. Saat anak-anak itu berhasil jadi juara olimpiade, barulah rasa percaya diri mereka bangkit. Setelahnya, baru kita buat sekolah untuk mencetak guru. Kita cari anak-anak dari pedalaman, latih mereka untuk jadi guru. Itu ide awal saya membuat sekolah guru.”

Pada tahun ajaran 2012-2013 lalu, lebih dari 600 siswa lulusan SMA telah dikirimkan oleh 15 pemerintah daerah. Diharapkan, setelah lulus dari STKIP Surya, mereka akan kembali ke daerahnya masing-masing dan mengembangkan pendidikan di sana.

Namun, masalah tidak berhenti sampai di situ. Adaptasi kerap menjadi kendala bagi para siswa untuk mengikuti proses belajar mengajar di kota besar. Untuk itu, STKIP mewajibkan para siswanya mengikuti program matrikulasi selama setahun untuk mengejar ketertinggalan pendidikannya dan menyesuaikan gaya hidup dalam keseharian.

Walau begitu, poses adaptasi budaya dan gaya hidup ternyata tidak semudah yang diharapkan. Misalnya, Yohanes bercerita soal salah satu siswanya yang berasal dari Papua.

“Waktu itu ada yang naik taksi dari Tanjung Priok ke Serpong dan harus bayar 200 ribu. Padahal, dia cuma punya 75 ribu di dompetnya. Akhirnya mereka sempat bertengkar dan baru berhenti setelah dilerai salah satu pembina (dari sekolah) yang datang melunasi sisa pembayaran,” kata Yohanes.

“Hal itu terjadi karena berdasarkan budaya Papua, kalau seseorang telah menyerahkan semua yang dimilikinya saat itu ya berarti masalah selesai. Namun di sini kan tidak bisa seperti itu.”

Selain itu, para siswa kerap hanya mau berkumpul dengan rekan-rekan yang berasal dari daerah sama. Eksklusivitas yang terbentuk akhirnya membuat proses pembauran menjadi tersendat.

“(Proses pembauran) masih agak sulit dilakukan karena jumlah siswa dari Papua paling banyak. Kemarin sempat ada perkelahian antara anak dari daerah lain dan anak-anak Papua. Anak itu sikapnya arogan karena dia jago karate. Akhirnya dia dikeroyok sama anak-anak Papua, habislah dia. Masalah kelompok-kelompok ini sesungguhnya sensitif,” ujar Yohanes lagi.

Selain itu, paradigma siswa daerah terhadap masyarakat kota besar juga berpotensi menjadi kendala. Tommy Upetaya (23) siswa asal Papua jurusan matematika angkatan 2012 di STKIP Surya bahkan merasa harus berhati-hati saat sedang berjalan-jalan di kota besar seperti Jakarta.

“Banyak orang jahat di Jakarta, entah yang mencuri atau berbuat jahat lainnya. Tapi itu hanya menurut pandangan saya saja,” ujar Tommy.

Tommy sendiri merupakan salah satu perwakilan yang dikirim oleh pemerintah daerah Jayapura, Papua untuk menuntut ilmu di STKIP Surya. Ia bersama 14 orang rekan lainnya diharapkan nantinya akan kembali ke Jayapura untuk mengajar, entah di tingkat SD, SMP atau SMA. Lama waktu mengajar yang ada tergantung pada perjanjian siswa dengan masing-masing pemerintah daerahnya.

“Setelah selesai mengajar (di Jayapura), saya ingin melanjutkan pendidikan ke S2. Kalau kita bagus (berprestasi), nanti bisa diberikan beasiswa S2 lagi oleh pemda,” kata Tommy.

Lain lagi halnya dengan Stefanus Afi (20), siswa asal Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia bisa dikirim ke STKIP Surya setelah mendaftar dan mengikuti berbagai tes, dari matematika hingga uji kesehatan. Namun, perbedaan bahasa sempat menjadi kendala baginya dalam pergaulan sehari-hari di Pulau Jawa.

“Awalnya saya sulit mengikuti bahasa di sini. Namun setelah beberapa bulan sudah mulai terbiasa,” kata Stefanus.

Akulturasi budaya memang tak semudah itu dapat terjadi dalam waktu singkat. Sehari-harinya, para siswa dari Papua dan daerah lainnya kerap terlihat bermain sepakbola pada sore hari di tanah kosong sebelah kampus sementara STKIP Surya di Serpong, Tangerang Selatan. Mereka juga biasa duduk bersantai di bawah pohon rindang yang ada di sekitar kampus sembari melepas obrolan satu sama lain.

Mira Rosalina (27), dosen mata kuliah Biologi Dasar dan Kimia Dasar di STKIP Surya, menjelaskan beberapa cara yang dilakukan kampus untuk mempercepat proses pembauran para siswanya.

“Di sini kan kita punya tiga asrama. Di masing-masing asrama itu ada beberapa pembimbing yang bertugas membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan. Misalnya mereka suka diajak makan bersama dan lainnya. Selain itu, di kampus juga saat pemilihan kelompok untuk sebuah tugas, biasanya anak-anaknya dicampur dari berbagai daerah,” jelas Mira.

Selain itu, hal penting yang harus dilakukan seorang tenaga pengajar di sana adalah kelihaian menempatkan diri. Para dosen harus bisa memosisikan dirinya, entah sebagai pengajar atau sebagai sahabat di waktu yang tepat. Walau sulit, tapi Mira selalu berusaha untuk meminimalisasi pergesekan yang terjadi antara para siswanya.

Kemudian selain STKIP, Yayasan Surya Institute juga baru saja mendirikan Surya University pada 2013 lalu yang berfokus pada usaha pengembangan riset di tanah air. Oleh karena itulah Surya University mengumpulkan setidaknya 200 doktor sebagai tenaga pengajar dan memiliki 80 pusat riset sebagai fasilitatornya.

“Pada 2010, Indonesia cuma memiliki 15 paten internasional. Sedangkan, Cina punya 314.000. Kalau begini terus, Indonesia tidak akan maju. Kita harus membuat sebuah universitas yang mahasiswanya terus melakukan riset supaya menghasilkan banyak paten,” jelas Yohanes kembali.

Fakultas yang ada di Surya University pun berkutat pada berbagai variasi bidang teknologi, dari Fakultas Ekonomi Hijau dan Komunikasi Digital, Fakultas Energi Bersih dan Perubahan Iklim serta Fakultas Ilmu Kehidupan.

Dengan begitu, Yohanes berharap Indonesia dapat mencapai target Indonesia Jaya pada 2030 dan Indonesia Super Power pada 2045. Maksudnya, diharapkan Surya University dapat mencetak 30.000 Ph.D. di bidang riset dan teknologi pada 2030 sehingga bisa berkontribusi maksimal pada kemajuan bangsa.

Bila hal itu benar terjadi, anak ketiga Yohanes bisa berbesar hati karena telah menjadi bagian dari eksperimen untuk memajukan tanah airnya sendiri.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 14 April 2014.

Tentang Mundurnya Perdana Menteri Puyol

FC Barcelona v RCD Espanyol  - Liga BBVA

Sumber: foxsportsasia.com

Carles Puyol i Saforcada adalah sebuah kontradiksi, gabungan dari rasa santun dan keras kepala di saat bersamaan. Hal itu telah tercermin sejak masa remaja, saat kedua orangtuanya tak terlampau setuju dengan arah karier Puyol sebagai pesepak bola. Namun, Puyol selalu meletakkan kemudi masa depan di kakinya sendiri.

“Dahulu, orangtua saya merasa skeptis soal kemungkinan saya menjadi pesepak bola dan mendorong saya untuk lebih mendalami studi (akademis),” ujar pria yang gemar membaca buku ini.

Belum lagi posisinya di lapangan yang kerap berubah-ubah semenjak bergiat di akademi sepak bola lokal kampung halamannya, La Pobla de Segur, Catalunya pada 1993-1995. Awalnya ia bermain sebagai kiper, sebelum cedera bahu memaksanya berpindah haluan menjadi seorang striker.

Saat bergabung dengan akademi sepak bola Barcelona, La Masia, pada 1995 pun ia sempat menjajal posisi gelandang bertahan. Baru dua tahun kemudian, ketika Puyol naik tingkat ke tim B Barcelona, ia mendapat posisi baru sebagai bek kanan.

Usai dipromosikan oleh Louis van Gaal dan melakoni debut melawan Real Valladolid pada 2 Oktober 1999, Puyol pun kerap dimainkan sebagai bek tengah – yang akhirnya menjadi identik dengan dirinya hingga kini.

Sebagai palang pintu terakhir sebelum masuk ke kotak penalti Barca, Puyol sukses membangun reputasinya. Namun, sang ayah, Josep Puyol, tampak tetap tak terlalu antusias dengan hal tersebut. Bahkan, hingga ajal menjemputnya dalam sebuah kecelakaan di tempat kerja pada awal November 2006, ia belum pernah sekalipun menyaksikan pertandingan sang anak di Camp Nou.

Faktanya, satu-satunya pertandingan Puyol dalam balutan seragam Barca yang disaksikan langsung oleh sang ayah sepanjang hidupnya adalah final Liga Champion melawan Arsenal pada musim panas 2006.

Selain itu, Puyol sendiri identik dengan rambut keriting nan urakan sejak awal kariernya. Tampilannya lebih mengingatkan kita akan Steven Tyler, vokalis band hard rock asal Amerika Serikat, Aerosmith, dibandingkan pesepak bola pada umumnya. Hal ini bahkan sempat membuat jengah van Gaal.

“Apa masalahmu, apa kamu tidak punya uang untuk potong rambut?” tanya van Gaal di kantornya pada Puyol saat berusia 19 tahun. “Saya diam saja,” ujar Puyol mengingat peristiwa tersebut, “dan hingga hari ini tetap mempertahankan rambut saya tetap seperti itu.”

Puyol lebih memilih untuk diam, dan menunjukkan kapasitasnya di atas lapangan. Selama ini, Puyol memang pria yang relatif jauh dari kontroversi. Pada 2006 lalu, ia berujar lebih senang dengan “kehidupan yang sangat tenang. Saya juga tak pernah pergi ke klub malam di Barcelona dalam beberapa tahun terakhir. Kalau ingin pergi keluar, saya akan pergi ke restoran bersama teman-teman saya.”

Hal ini akhirnya terefleksi pada cara bermain Puyol di atas lapangan. Menurut data yang dilansir ESPN, sejak musim 2001/2002 hingga kini, Puyol telah menerima 106 kartu kuning dan tiga kartu merah saja saat membela Barca dan negaranya. Bandingkan dengan Sergio Ramos, juniornya di tim nasional Spanyol yang berposisi sama. Sejak musim 2003/2004 hingga kini, Ramos telah menerima 155 kartu kuning dan 17 kartu merah.

Puyol sendiri adalah seorang pekerja keras saat latihan maupun pertandingan. “Saya tidak memiliki teknik Romario, kecepatan (Marc) Overmars atau kekuatan (Patrick) Kluivert. Namun, saya bekerja lebih keras dari yang lainnya. Saya seperti murid yang tidak cukup pintar, tapi bekerja untuk memperbaiki hasil ujiannya dan akhirnya bisa menghasilkan nilai cukup baik,” ujar Puyol pada 2010 lalu.

Untuk memahami lebih jauh soal Puyol, kita harus mengerti terlebih dahulu soal lingkungan dan kehidupan sosial budaya di sekelilingnya saat ia tumbuh besar. Puyol lahir pada 13 April 1978, di tahun yang sama saat Konstitusi Spanyol yang menjadi salah satu jembatan transisi dari sistem pemerintahan otoriter ke demokrasi diaktifkan secara resmi.

Hal ini dipicu oleh wafatnya Francisco Franco pada 1975, jenderal yang memerintah Spanyol secara otoriter dengan dukungan penuh tentara selama lebih dari 37 tahun. Alhasil, tahun-tahun setelahnya diisi dengan gejolak penuh ketegangan dan ketidakpastian.

Sebagian besar tentara dan kelompok kanan yang ada pada saat itu ingin agar sistem otoriter Franco terus dilanjutkan, menepis tuntutan besar publik untuk melaksanakan sistem demokrasi. Namun, Pangeran Juan Carlos yang ditunjuk Franco sebagai suksesornya ternyata punya pemikiran berbeda. Demokrasi dipilih sebagai bentuk ideal ketika itu.

Tantangan yang ada untuk mewujudkannya tidaklah kecil. Di masa-masa awal, Spanyol dilabrak resesi berat dengan tingginya tingkat pengangguran (20%) dan inflasi (16%). Bahkan, pada 23 Februari 1981, terjadi percobaan kudeta oleh Letnan Kolonel Garda Sipil Antonio Tejero bersama 186 anak buahnya. Dengan senjata lengkap, mereka menyerbu parlemen yang sedang bersidang. Suasana mencekam dan penuh ketakutan di sana bertahan hingga 18 jam lamanya, sebelum Tejero menyerah dan selanjutnya dihukum penjara 30 tahun.

Puyol kecil mau tak mau melewati masa kecilnya di masa-masa penuh pergejolakan tersebut. Ia pun menjadi bagian dari rakyat yang ikut mengawal konsolidasi panjang sistem demokrasi Spanyol. Saat itu mungkin ia belum tahu banyak soal kisruh berkepanjangan negaranya sendiri, tapi rasa muak dan kebencian mendalam rakyat selama puluhan tahun lamanya pada sosok Jenderal Franco bisa jadi ikut menular pada dirinya.

Apalagi Puyol lahir di Catalunya, daerah yang memiliki dendam historis panjang terhadap Franco. Friksi beragam di tengah masyarakat Spanyol, baik soal politik, agama dan isu lainnya mendorong timbulnya perang saudara pada 1936 antara kelompok Republik dan Nasionalis (pemberontak).

Perang tersebut akhirnya memancing perseteruan tajam antara Real Madrid yang dianggap sebagai simbol wilayah Kastilia dan Barcelona sebagai simbol Catalunya. Belum lagi sejak Franco memimpin pada 1939, muncul larangan penggunaan bendera dan bahasa Catalunya di Spanyol. Pada 6 Agustus 1936, Presiden Barcelona FC kala itu – yang sekaligus merupakan perwakilan partai politik pro-kemerdekaan – Joseph Sunol, tewas dibunuh tentara afiliasi kelompok Nasionalis di bawah arahan Franco. Pada 1938 pun Barcelona menjadi target pemboman udara yang menyebabkan hancurnya kantor Barcelona FC.

Kemenangan Real Madrid 11-1 atas Barcelona di leg kedua Copa del Generalisimo pada 1943 juga terjadi usai kedatangan Franco ke ruang ganti Barca sesaat sebelum pertandingan dimulai. Hal itu dipicu oleh kekaguman Franco akan Real Madrid dan hasil pertemuan pertama saat tim tersebut kalah 0-3 dari Barca.

Berbagai kejadian tersebut akhirnya terakumulasi menjadi sebuah dendam laten dan pervasif masyarakat Catalunya yang diwakili oleh Barcelona, pada negara Spanyol tempatnya bernaung yang seakan-akan diwakili oleh Real Madrid. Maka wajar bila wacana Catalunya untuk melepaskan diri dari Spanyol kerap muncul dari waktu ke waktu.

Kini, pemerintahan Spanyol bersifat monarki-parlementer dengan raja sebagai kepala negara dan perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. Dengan begitu, kekuasaan eksekutif ada pada perdana menteri yang bertanggung jawab pada parlemen.

Dengan etos kerja dan komitmen tinggi pada klubnya, Carles Puyol telah menjelma menjadi perdana menteri Barcelona FC selama 19 tahun masa baktinya di sana. Sejak resmi menjabat sebagai kapten tim pada akhir musim 2003/2004 – menggantikan Luis Enrique yang pensiun di saat sama – kehadiran Puyol selalu memberi dampak positif di ruang ganti ataupun di atas lapangan.

Ada sembilan pelatih yang silih berganti melatih Barca selama karier Puyol di sana, dari Sir Bobby Robson ketika Puyol masih berada di Barcelona C, hingga Gerardo Martino kini. Mereka adalah raja yang menentukan taktik dan cara bermain Barca di atas lapangan. Namun kala di atas lapangan, Puyol adalah perdana menterinya.

Suatu hari saat Puyol baru kembali dari cedera panjang, duetnya di lini pertahanan, Gerard Pique, sempat berujar di tengah pertandingan, “Puyi, saya rindu bermain bersamamu.” Namun, Puyol justru menyuruhnya untuk diam dan berkonsentrasi pada pertandingan.

Di laga lain, Barca sedang unggul jauh dan tinggal beberapa menit waktu tersisa. Saat melihat Pique agak bersantai di tengah situasi tersebut, Puyol sontak membentaknya.

“Santai saja, kita unggul 4-0 dan tinggal tiga menit tersisa,” ujar Pique saat itu.

“Lalu kenapa? Fokus! Saya kenal sekali gayamu,” hardik Puyol.

Menjelang akhir musim 2013/2014, Puyol telah mengumumkan keputusannya untuk pensiun sebagai pesepak bola. Cedera berkepanjangan dan turunnya performa menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut. Banyak pelaku sepak bola terkejut dan melontarkan rasa sesalnya akan hal ini.

“Tidak semua orang punya keberanian untuk memutuskan kontrak saat masih ada dua musim lagi tersisa. Jika Anda berlatih bersama Puyol setiap hari, Anda akan melihat dia tak seperti berusia 36, dia seperti anak-anak berusia 18. Buat saya dia selalu menjadi kapten abadi,” tutur Cesc Fabregas.

Keputusan ini memang melambangkan karier Puyol selama ini. Ia memulai, dan mengakhiri kariernya atas kehendak sendiri. Tanpa pengaruh orang lain, ia mengenali batasan dan mengucap perpisahan.

“Anda tahu apa yang saya pikirkan soal Carles, dia adalah contoh buat semuanya. Seorang pemimpin di dalam dan di luar lapangan,” ujar Vicente Del Bosque.

Selanjutnya, Puyol akan bertugas sebagai asisten bagi Direktur Olahraga Barca, Andoni Zubizarreta. Pique pun harus bersiap kena bentak Puyol kembali bila malas-malasan di sesi latihan atau pertandingan.

Pelatih Muda dan Sukses di Eropa

Banyak nama besar pesepak bola dunia yang melanjutkan karir sebagai pelatih selepas pensiun sebagai pemain. Ada yang sukses, tak sedikit pula yang terpuruk karena racikan tim berjalan di luar ekspektasi.

Diego Armando Maradona boleh saja menaklukkan dunia dengan kaki kirinya saat Piala Dunia 1986 silam. Ia berhasil membawa Argentina memenangkan kompetisi sekaligus meraih predikat pemain terbaik kala itu. Namun performanya di atas lapangan berbanding terbalik saat ia banting setir sebagai pelatih. Tim nasional Argentina yang dipimpinnya pada Piala Dunia 2010 bahkan harus menelan kekalahan telak 0-4 dari Jerman di babak perempat final.

Walau begitu, beberapa eks-pemain ternama nyatanya berhasil menunjukkan taji sebagai peramu taktik ulung. Usia muda tak jadi kendala untuk membawa tim meraih trofi. Berikut adalah daftar eks-pemain yang berhasil meneruskan kesuksesan kala dipercaya sebagai pelatih utama dalam beberapa tahun terakhir di lima liga utama Eropa.

Mereka muda dan berbahaya.

 

1. Antonio Conte – Juventus

Antonio Conte (44) adalah legenda Juventus yang bermain di sana sebagai gelandang tengah pada periode 1991-2004. Ia adalah kapten tim era 1990-an sebelum Alessandro Del Piero melanjutkan suksesi kepemimpinan setelahnya.

Total, ia bermain sebanyak 419 pertandingan dan mencetak 44 gol di seluruh kompetisi bersama Juventus. Selama karirnya tersebut, Conte berhasil meraih setidaknya lima titel Serie A, satu Coppa Italia, satu Piala UEFA dan satu trofi Liga Champion.

Conte memulai langkah awalnya sebagai pelatih saat memimpin tim Serie B, Arezzo, pada Juli 2006. Namun setelah serangkaian hasil mengecewakan, ia dipecat usai hanya menjabat selama kurang lebih tiga bulan. Pada Maret 2007, ia kembali dipanggil untuk membesut Arezzo. Sempat meraih lima kemenangan beruntun, tim tersebut harus menemui kenyataan terdegradasi ke Serie C1 setelah hanya tertinggal satu poin dari Spezia di posisi terakhir zona aman.

Pria kelahiran 1969 tersebut akhirnya kembali menimba ilmu sebagai pelatih tim Serie B, Bari, pada Desember 2007. Di sana, Conte berhasil menyelamatkan Bari dari jurang degradasi, dan membawa tim tersebut promosi ke Serie A setahun berselang.

Setelah tak sukses memimpin Atalanta pada musim 2009/2010, ia memilih untuk melatih Siena pada 2010/2011. Di awal musim, ia mendapat target untuk menghindari posisi degradasi, tapi justru berhasil membawa Siena promosi ke Serie A. Baru setelahnya ia dipingit oleh Juventus untuk menjadi suksesor Luigi Delneri pada Mei 2011.

Di bawah asuhan Conte, Juventus berhasil membangun kembali dominasinya di Serie A. Pada musim 2011/2012, Juventus berhasil menjuarai Serie A tanpa terkalahkan sekalipun. Semusim selanjutnya, mereka mempertahankan titel tersebut, dengan keunggulan 9 poin dari Napoli di posisi kedua, dan 15 poin dari AC Milan di tempat ketiga. Gelar ketiga secara beruntun di Serie A juga telah dipastikan pada pekan 36 musim 2013/2014 usai AS Roma menelan kekalahan 1-4 dari Catania.

“Saya melatih, dan kapanpun saat saya sedang tak melatih, saya memikirkan soal apa yang bisa saya perbuat agar bisa jadi lebih baik dalam hal melatih,” ujar Conte suatu hari. “Saya tahu bahwa saya harus meminggirkan keluarga saya dengan bekerja seperti itu. Penyesalan yang ada begitu mendalam, tapi saya selalu mencoba menyisihkan waktu dalam hidup saya untuk wanita, dan juga untuk membaca. Apa yang saya baca? Biografi para juara dan buku psikologi.”

 

2. Diego Simeone – Atletico Madrid

359332_heroa

Sumber: Goal

Bermain pada periode 1987-2006, Diego Simeone (44) dikenal sebagai gelandang bertahan yang keras, pun elegan di sisi lain. Ia telah melanglang buana ke delapan klub di tiga negara berbeda dan berhasil meraih banyak sukses sebagai pemain.

Selama karirnya tersebut, ia telah bermain sebanyak total 513 kali dan mencetak 84 gol, bukan jumlah yang buruk bagi pemain yang berposisi mengawal pertahanan di depan empat bek. Simeone juga andalan bagi negaranya. Ia bermain di tiga edisi Piala Dunia, menjuarai dua Copa America, serta bermain sebanyak 106 kali dengan sumbangan 11 gol.

Di Serie A, Simeone berhasil meraih Piala UEFA bersama Inter Milan pada 1997/1998. Selain itu, sukses juga ia raih saat membela panji Lazio. Di sana, ia turut berkontribusi saat membawa tim menjuarai Serie A dan Coppa Italia pada 1999/2000.

Simeone memainkan laga terakhirnya sebagai pesepak bola untuk tim Argentina, Racing, pada Februari 2006. Syahdan, ia langsung beralih ke pinggir lapangan untuk melatih tim yang sama selama tiga bulan. Baru setelahnya ia mencoba peruntungan sebagai pelatih Estudiantes sejak 18 Mei. Di tahun itu, Simeone berhasil membawa Estudiantes menjuarai Liga Apertura Argentina untuk pertama kalinya dalam 23 tahun terakhir.

Selaras dengan perjalanannya sebagai pemain, pria kelahiran 1970 tersebut masih gemar menjadi ‘kutu loncat’ dengan terus berpindah klub. Ia sempat membawa River Plate menjuarai Liga Clausura 2008, membesut San Lorenzo selama setahun setelahnya, dan sejak Januari 2011 ia memimpin tim Italia, Catania, dan berhasil menghindari jurang degradasi Serie A di akhir musim.

Ia pun kembali ke Racing pada Juni 2011, sebelum akhirnya direkrut Atletico Madrid pada Desember tahun yang sama. Sejak itu, namanya pun mulai harum. Atletico dibawanya meraih Europa League 2011/2012, Piala Super Eropa 2012 dan Copa del Rey 2012/2013. Pada musim 2012/2013 pun Atletico finis di peringkat 3 klasemen akhir liga – posisi terbaik mereka sejak 1996.

Musim ini boleh jadi merupakan klimaks performa Atletico di bawah asuhan Simeone. Sudah 37 pertandingan terlewati dan mereka masih berada di puncak klasemen sementara. Mereka unggul 3 poin atas Barcelona di posisi 2, dan 5 poin dari Real Madrid di posisi 3.

Statistik mereka tidak menghebohkan, tapi efisien. Hingga pekan ke-37 mereka telah melesakkan 76 gol, ketiga terbaik di liga, dan kemasukkan 25 gol, terbaik di liga. Hal ini seakan merepresentasikan gaya permainan Simeone dahulu: kuat saat bertahan, tidak buruk saat menyerang.

Atletico juga berhasil menembus babak final Liga Champion setelah mengalahkan Chelsea di semi final. Di final nanti mereka akan melakoni derbi, berhadapan dengan tim sekotanya dan rival lama: Real Madrid.

Hal ini rasanya bisa terjadi karena mental juara yang disuntik Simeone dalam tim sejak pertama kali ia mendarat di Vicente Calderon. “Saya selalu berpikir mereka (direksi) akan memecat saya besok. Jadi saya hanya fokus pada kemenangan hari ini, karena ini adalah hari terakhir saya bersama klub. Saya selalu menanamkan filosofi ini kepada seluruh pemain,” ujar Simeone.

 

3. Frank de Boer – Ajax Amsterdam

Frank de Boer (43) adalah bagian dari generasi emas Ajax Amsterdam pada era 1990-an. Saat itu, ia dan rekan-rekan sesama lulusan akademi Ajax lainnya berhasil membawa tim mendominasi liga dan kompetisi Eropa. Saat itu, Frank bahu membahu bersama kembarannya, Ronald de Boer, Edgar Davids, Patrick Kluivert, Clarence Seedorf dan Edwin van der Sar.

Bersama mereka, Frank setidaknya berhasil meraih lima gelar Eredivisie, dua KNVB Cup, satu Piala UEFA, satu Liga Champion, satu Piala Super Eropa dan satu Piala Intercontinental bersama Ajax. Hingga akhir karirnya di sana, Frank telah tampil sebanyak 418 kali dengan sumbangan 44 gol.

Frank menjajal La Liga saat bergabung dengan Barcelona pada 1998/1999 hingga 2002/2003. Di musim perdananya, Barcelona berhasil diantar menjadi juara liga. Sebelum pensiun, Frank juga sempat hijrah ke Galatasaray (Turki), Glasgow Rangers (Skotlandia), Al-Rayyan dan Al-Shamal (Qatar).

Pada 6 Desember 2010, Frank ditunjuk sebagai manajer sementara di Ajax, menggantikan Martin Jol. Pertandingan pertamanya adalah melawan AC Milan di ajang Liga Champion. Saat itu, Ajax berhasil dibawanya menang 2-0 di San Siro. Di akhir musim 2010/2011 pun Ajax sukses menjuarai Eredivisie sekaligus mengakhiri puasa gelar mereka dalam tujuh tahun terakhir.

Syahdan, Ajax memutuskan untuk mengangkat Frank menjadi manajer tetap. Tak salah, karena Ajax berhasil dibawa Frank menjadi juara liga selama empat musim berturut hingga kini. Frank dianggap sukses mengembalikan identitas Ajax dengan racikan ofensif 4-3-3 yang menuntut penekanan sejak garis depan. Ia juga berhasil mengasah kemampuan para pemain muda yang ada seperti Stefano Denswil, Joel Veltman dan Davy Klaassen.

Memang, Frank belum bisa membuat Ajax bicara banyak di Eropa. Musim ini pun Ajax gagal lolos fase grup Liga Champion dan mentok di babak 32 besar Liga Europa. Namun, ia dianggap sebagai salah satu pelatih potensial yang punya masa depan cerah.

 

4. Laurent Blanc – Paris Saint-Germain

Sebagai pemain, Laurent Blanc (48) dikenal sebagai karang tangguh lini belakang tim nasional Perancis yang berhasil mengantar negaranya tersebut menjuarai Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Kala itu, ia berhasil membentuk tim impian bersama para legenda semacam Zinedine Zidane, Emmanuel Petit, Marcel Desailly dan Fabien Barthez.

Selain itu, di level klub Blanc adalah perantau yang telah bermain di sembilan klub di empat negara berbeda dalam 19 tahun karirnya. Ia sukses meraih gelar Liga Perancis bersama Auxerre pada 1995/1996, Piala Winners bersama Barcelona pada 1996/1997 dan Liga Primer Inggris bersama Manchester United pada 2002/2003.

Sebagai seorang bek tengah, Blanc juga dikenal sebagai eksekutor penalti yang handal. Maka wajar, di akhir karirnya ia berhasil mencetak 130 gol untuk klub dan 16 gol untuk tim nasional.

Langkah pertamanya sebagai pelatih dimulai pada Juni 2007 ketika ia direkrut untuk menangani Bordeaux. Di musim perdananya tersebut, Bordeaux berhasil dibawa menjadi runner-up dan Blanc pun mendapat predikat pelatih terbaik. Barulah pada musim keduanya Bordeaux keluar jadi juara dengan menyapu bersih 11 laga terakhir di liga dengan kemenangan.

Karena prestasinya tersebut, Blanc diangkat sebagai manajer tim nasional Perancis pada Mei 2010. Di bawah tangannya, Perancis berhasil menjuarai sesi kualifikasi Grup D Piala Eropa 2012. Namun, sayangnya perjalanan Perancis di Piala Eropa hanya sampai perempat final usai menelan kekalahan atas Spanyol 0-2.

Pada Juni 2013, Blanc menerima tawaran untuk menjadi suksesor Carlo Ancelotti di Paris Saint-Germain. Sejauh ini, ia sukses membawa PSG menjuarai Coupe de la Ligue dan Liga Perancis 2013/2014. Di Liga Champion, mereka terhenti di perempat final melawan Chelsea hanya karena kalah jumlah gol tandang.

Setelah Qatar Sports Investments menguasai saham klub pada 2011 lalu, PSG berhasil mendatangkan para pemain tersohor dengan harga selangit, seperti Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva dan Edinson Cavani. Maka, para pelatih PSG pun diharapkan untuk membawa sukses dalam tim dengan menampilkan permainan nan atraktif di atas lapangan. Hal ini pula yang dianggap sesuai dengan filosofi Blanc.

“Para staf dan saya akan melakukan segalanya yang kami bisa untuk meraih tujuan yang telah ditetapkan serta menyajikan tontonan yang indah. Seperti yang kalian tahu, saya suka sepak bola yang bagus,” ujar Blanc saat peresmian dirinya sebagai pelatih PSG.

 

5. Josep Guardiola – Bayern Muenchen

Josep ‘Pep’ Guardiola (43) adalah produk asli akademi Barcelona. Sebagai pemain, ia pun banyak menghabiskan waktu dan menuai sukses di tim tersebut. Bermain selama satu dekade di Barcelona sebagai gelandang tengah, Pep tampil di 366 pertandingan dan mencetak 12 gol.

Selain itu, ia pun sukses meraih enam gelar La Liga, dua Copa del Rey, satu Piala Eropa (sebutan terdahulu Liga Champion), satu Piala Winners dan dua Piala Super Eropa. Setelahnya, ia sempat menjajal Brescia dan AS Roma di Italia, Al-Ahli di Qatar dan Sinaloa di Meksiko.

Setelah bertugas memimpin Barcelona B pada musim 2007/2008, ia naik pangkat sebagai pelatih tim utama di musim selanjutnya. Kemudian, sejarah berbicara dengan sendirinya. Ia berhasil mengukuhkan dominasi Barcelona di Spanyol dan Eropa selama kurun waktu empat tahun menjabat. Gaya main timnya yang kerap disebut sebagai tiki-taka karena akrab dengan umpan pendek cepat nan terukur begitu disegani dan sukses menjadi magnet juara.

Total, Pep berhasil merengkuh tiga trofi La Liga, dua Copa del Rey, tiga Piala Super Spanyol, dua Liga Champion, dua Piala Super Eropa dan dua Piala Dunia Antarklub. Syahdan, ia pun didapuk sebagai pelatih tersukses dalam sejarah Barcelona.

Pada musim 2012/2013 Pep memutuskan untuk rehat sejenak dari sepak bola. Ia baru kembali pada musim 2013/2014 setelah ditunjuk menjadi suksesor Jupp Heynckes di Bayern Muenchen. Tak main-main, ia pun mempersiapkan diri dengan matang. Salah satunya dengan belajar bahasa Jerman secara intensif sebelum mulai memimpin tim tersebut.

Di sana, Pep berhasil menerapkan tiki-taka dengan gaya lebih direct. Hal ini dimungkinkan dengan banyaknya gelandang pengatur serangan di tubuh Muenchen, dari Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos, Mario Goetze, Thomas Muller, Franck Ribery hingga Arjen Robben.

Alhasil, Muenchen sukses menjadi juara bundesliga saat kompetisi masih menyisakan tujuh laga lagi. Ia juga berhasil mencatatkan rekor 28 kemenangan beruntun – terpanjang dalam sejarah klub. Intelejensianya dalam meramu taktik diakui dan disegani oleh berbagai pihak, salah satunya oleh Fabio Capello yang pernah melatihnya saat membela panji AS Roma.

“Dia adalah salah satu dari beberapa orang pandai yang saya hampiri di ruang ganti. Kepandaiannya terlihat dari caranya memikirkan banyak hal. Banyak hal tentang sepak bola, tentu saja, tapi selain itu juga soal sastra dan hal-hal budaya,” ujar Capello.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 19 Mei 2014.

 

Moyes, Repetisi Sejarah, dan Tumbal Transisi

alex-ferguson

Sir Alex Ferguson saat pidato pamitan di depan suporter MU/The Telegraph

“Saya ingin mengingatkan kalian semua. Saat kami melewati masa-masa buruk di klub, semua staf mendukung saya, semua pemain juga mendukung saya. Tugas Anda saat ini adalah mendukung manajer yang baru.”

Itulah pesan terakhir yang diucapkan Sir Alex Ferguson usai melakoni pertandingan kandang terakhirnya sebagai manajer Manchester United (MU) melawan Swansea pada 12 Mei 2013. Tak mudah memang, mengucapkan selamat tinggal pada orang yang membawa begitu banyak kesuksesan selama 27 tahun karirnya melatih tim Setan Merah.

Total ada 38 trofi dari berbagai ajang yang diraih MU selama rezim Ferguson. Pria yang akrab disapa Fergie ini bahkan berhasil mematahkan rekor juara Liga Inggris terbanyak yang sebelumnya dipegang Liverpool dengan raihan 18 gelarnya. Ada 13 trofi Liga Inggris, lima Piala FA dan dua Liga Champion yang berhasil ia rengkuh selama masa jabatannya tersebut.

Transisi jelas tak mudah untuk dijalani. Bahkan Fergie pun tak bisa langsung menuai sukses di awal karirnya bersama MU. Mungkin, hal ini pula yang membuatnya merasa perlu untuk mengingatkan pada para pendukung agar senantiasa menaruh kesabaran dan kepercayaan besar pada siapapun manajer selanjutnya yang memimpin tim.

Bila kita lihat, Fergie pertama kali menjejakkan kaki sebagai pelatih MU menggantikan Ron Atkinson pada pertengahan musim 1986/1987 dan kondisinya jauh dari kata ideal. Kala itu, Fergie menerima tanggung jawab membesut tim yang sedang duduk di posisi 21 klasemen Liga Inggris. Para pemainnya lebih asyik menenggak bir dibanding mencicipi kemenangan.

Fergie datang untuk mengubah itu semua. Selama beberapa tahun pertama, ia mencoba merombak budaya yang ada. Pria asal Skotlandia itu meletakkan disiplin sebagai prinsip utama para pemain dan membeli beberapa pemain yang kelak akan menjadi tulang punggung utama tim seperti Steve Bruce dan Paul Ince. Perbaikan terjadi, tapi tidak dengan instan.

Gelar pertamanya baru datang empat tahun kemudian dengan raihan Piala FA pada musim 1989/1990. “Tanpa kemenangan di Piala FA melawan Crystal Palace empat tahun setelah kedatangan saya itu, keraguan akan kemampuan saya pada pekerjaan ini akan semakin besar,” ujar Fergie.

Bila sampai Fergie dipecat karena empat tahun hampa gelar di awal masa kepemimpinannya, MU niscaya tak akan menjejak di langkah kesuksesan yang sama bertahun-tahun setelahnya. Rentetan gelar dimulai sejak itu, dari Piala Winners pada 1990/1991, Piala Liga pada 1991/1992 dan Liga Inggris pada 1992/1993.

Kesuksesan Fergie sendiri kerap dibandingkan dengan apa yang dilakukan Sir Matt Busby, manajer legendaris MU lainnya, pada masa lalu. Busby melatih MU selama 24 tahun sejak 1945 hingga 1969. Gelar pertama juga diraih melalui Piala FA, tiga tahun setelah ia memegang jabatan di Old Trafford.

Selama 12 tahun pertamanya melatih MU, Busby berhasil meraih tiga gelar Liga Inggris dan satu Piala FA. Saat itu, Busby tersohor karena kemampuannya meracik tim berisi para pemain muda berbakat seperti Bobby Charlton, Duncan Edwards dan Bill Foulkes. Karena kesuksesannya, tim tersebut akhirnya mendapat julukan Busby Babes.

Bahkan, saat tragedi Munich terjadi pada Februari 1958, Busby bisa membangun ulang MU dan menjuarai Piala Eropa (nama terdahulu dari Liga Champion) untuk pertama kalinya pada 1968.

“Saya tak pernah mau Manchester United jadi yang kedua di bawah tim manapun. Saya hanya ingin jadi yang terbaik,” ujar Busby suatu hari.

Tekad Busby inilah yang berhasil membawa MU bangkit setelah jatuh berkali-kali. Maka, tak mudah untuk menemukan sosok penggantinya. Saat Busby pensiun, ia menunjuk Wilf McGuinness, pelatih tim cadangan saat itu yang baru berusia 31 tahun.

Wilf dianggap sebagai sosok tepat yang dapat meneruskan kejayaan klub karena ia tahu betul seluk beluk MU yang juga dibelanya ketika masih aktif menjadi pemain. Usianya yang masih muda juga dianggap dapat membawa ide revolusioner untuk membawa klub maju ke depan.

“Sudah saatnya kita memberi jalan bagi orang yang lebih muda…seorang manajer yang berada di jalur yang tepat,” ujar Busby mengomentari penunjukan McGuinness. “United kini bukan hanya sebuah klub sepak bola. Ini adalah sebuah institusi. Saya rasa tuntutannya terlalu besar untuk seorang manusia biasa.”

Namun, ternyata Busby salah. Keputusannya membuka jalan bagi McGuinness terbukti tidak berhasil. Pria asli Manchester itu hanya meraih posisi 8 di musim pertamanya melatih pada 1969/1970. Syahdan, McGuinness segera didepak klub usai serangkaian hasil buruk yang diterima MU pada awal musim keduanya.

Kondisi yang ada saat itu memang serba sulit. Saat McGuinness resmi menjabat, para pemain pilar MU sudah melewati masa-masa keemasannya, termasuk Charlton yang kala itu sudah berusia 32 tahun. Dennis Law yang setahun sebelumnya berhasil mencetak 30 gol, tiba-tiba melempem dan hanya mampu mencetak tiga gol di musim tersebut.

Suasana ruang ganti juga tidak membantu sama sekali. George Best menolak bicara dengan Charlton. Bahkan Best pernah berujar bahwa ia enggan untuk mengoper bola pada Charlton saat bermain dalam laga resmi.

Kondisi ini terpaksa mendorong Busby untuk kembali menangani MU di pertengahan musim 1970/1971, menggantikan sang suksesor yang ia pilih sendiri di masa lalu. Setelah musim usai, posisinya digantikan kembali oleh Frank O’Farrell. Kemudian, manajer lain silih berganti datang, tapi tak ada yang benar-benar bisa mengembalikan kejayaan MU selayaknya rezim Busby dahulu.

Hingga akhirnya Fergie tiba di Old Trafford pada 1986, dan kini, lingkaran setan itupun seperti kembali terulang.

Fergie menunjuk sendiri penggantinya pada diri David Moyes, pelatih yang telah menangani Everton selama 11 tahun lamanya. Fergie adalah tipikal orang Skotlandia yang keras kepala. Ketika ia mengucapkan suatu hal, ia pasti akan berusaha sekeras tenaga untuk mewujudkannya, dengan caranya sendiri.

Pada September 2002 lalu, MU sedang berusaha keras mengejar ketertinggalan enam poin dari Arsenal di puncak klasemen sementara Liga Inggris. Komentator sepak bola Alan Hansen bahkan menyebut perjuangan MU saat itu sebagai tantangan terbesar dalam karir Fergie.

Dirundung emosi, Fergie sontak gusar saat ditanya wartawan mengenai komentar Hansen. Ia membalas, “Tantangan terbesarku adalah menjatuhkan Liverpool dari takhtanya!”

Benar saja, sembilan tahun berselang, tepatnya pada Mei 2011, tendangan penalti Wayne Rooney berhasil menyeimbangkan kedudukan menjadi 1-1 dengan Blackburn Rovers. Satu poin yang diraih pun sukses mengunci gelar juara ke-19 MU di Liga Inggris saat itu, melewati perolehan 18 gelar Liverpool yang selama ini begitu dibanggakan para pendukungnya.

Maka, ketika Fergie merekomendasikan sendiri suksesornya pada para petinggi MU, dan nama yang muncul adalah Moyes – pria yang tak pernah meraih satupun gelar selama masa baktinya di Everton – tak ada yang berani menolak.

“David adalah seorang pria berintegritas tinggi dengan etos kerja yang kuat. Saya telah mengagumi cara kerjanya sejak lama, bahkan sempat menawarkan posisi sebagai asisten manajer padanya di tahun 1998,” ujar Fergie. “Tak ada keraguan, dia memiliki seluruh kualitas yang diharapkan sebagai manajer di klub ini.”

Sanjungan setinggi langit untuk Moyes, yang nyatanya bernasib lebih buruk dari McGuinness di era paska-Busby. Bila McGuinness punya waktu 18 bulan untuk membuktikan diri, Moyes bahkan telah didepak saat masa baktinya baru menginjak angka 10 bulan.

Selama lebih dari satu dekade menangani Everton, belum pernah sekalipun ia bisa mengalahkan MU. Di bawah tangannya, MU harus mengakui keunggulan Everton dua kali di liga, kandang dan tandang. Mereka tercecer terlalu dini dari persaingan menuju gelar juara liga, dan hingga kini telah menelan total 11 kekalahan – pertama kalinya terjadi sejak musim 1989/1990.

Moyes dianggap kebingungan membawa ember yang lebih besar dari pada tangannya sendiri. Taktiknya dalam bermain pun medioker dan miskin variasi, hanya mengandalkan permainan sayap dan membombardir jantung pertahanan lawan dengan puluhan umpan silang dengan hasil nihil

Yang paling disayangkan adalah hilangnya mental juara para pemain setelah berada di bawah asuhan Moyes. Contoh paling mudah adalah komentar Moyes jelang laga melawan Liverpool di Old Trafford pada 16 Maret 2014 lalu.

“Mereka datang ke sini sebagai favorit. Posisi mereka di liga menjelaskan bahwa mereka ada di atas kami,” ujar Moyes.

Hal ini langsung ditanggapi pelatih Liverpool, Brendan Rodgers, dengan nada tak percaya. Ia berkata, “Saya terkejut bila sebelum pertandingan saya mendengar bahwa kami adalah favoritnya. Saya tidak akan mengatakan hal seperti itu di Liverpool, bahkan bila saya berada di dasar klasemen.”

Berkaca dari sejarah, lingkaran setan yang sama seakan kembali terulang. McGuinness kala itu membawa MU duduk di posisi 8 klasemen akhir dengan raihan total 45 poin saja, hasil 14 kali menang, 17 kali seri dan 11 kali kalah.

Kini, Moyes bisa meraih perolehan poin lebih baik dan duduk di posisi 7 klasemen sementara dengan kompetisi masih menyisakan empat pertandingan lagi bagi MU. Mereka telah meraih 17 kemenangan, enam kali seri dan 11 kali kalah.

McGuinness dan Moyes adalah dua pelatih dari dua generasi yang berbeda. Namun, mereka bernasib sama: menjadi tumbal di masa transisi dari akhir sebuah rezim panjang.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Geotimes.co.id pada Rabu, 23 April 2014.

Messi Butuh Tim, Bukan Tim Butuh Messi

Copa America Argentina Costa Rica

Lionel Messi di tengah pertandingan Argentina melawan Kosta Rika di Grup A Copa America 2011 (11/7/11)/fotosdemessi.com

Hampir semua pelatih tim sepak bola di dunia pasti menginginkan kehadiran Lionel Messi di barisan depan pasukannya. Pengakuan akan kedahsyatan Messi dapat dilihat dari dua gelar pemain terbaik dunia versi FIFA yang didapatnya dalam dua tahun terakhir. Semua sukses itu berhasil ia raih berkat serangkaian penampilan gemilang bersama Barcelona, bukan Argentina.

Ya, Messi bagai memiliki dua sisi karakter yang berbeda dalam dirinya, yaitu Messi-Barcelona dan Messi-Argentina. Messi versi Barcelona hampir selalu berhasil tampil luar biasa setiap kali dimainkan sehingga dapat mengangkat performa tim secara keseluruhan. Salah satu buktinya adalah dengan total 90 gol yang ia cetak hanya dalam dua musim terakhir bermain di lini serang Barcelona.

Kontrasnya, Messi versi Argentina justru acap kali tampil di bawah form sehingga sering memancing ejekan dan siulan dari para pendukungnya sendiri. Entah bagaimana, setiap tusukan, umpan, dan tembakan akurat yang biasa ia tunjukan saat berseragam Barcelona hilang begitu saja saat ia ganti berseragam Albiceleste. Messi versi Argentina terlihat begitu melempem.

Ini ironi karena ia disebut banyak orang sebagai titian legenda hidup Argentina, Diego Maradona. Maradona sendiri pun mengakui hal ini serta sering memberi pujian dan dukungan bagi Messi. Akan tetapi, kita bisa melihat beberapa perbedaan mendasar antara Messi dan Maradona.

Maradona terkenal sebagai pemain yang gemar berpindah klub dan selalu meraih sukses di mana pun ia menjejakkan kakinya. Pada awal kariernya, pemain bertubuh gempal ini sukses menjadi juara liga bersama Boca Juniors. Setelah Piala Dunia 1982, ia pindah ke Barcelona dan berhasil membawa timnya meraih Piala Raja serta Piala Super Spanyol. Cedera patah kaki sempat mengancam kariernya. Namun, ketangguhan fisik dan mental El Diego sukses membawanya kembali ke lapangan.

Pada 1984, Maradona merampungkan kepindahannya ke Napoli. Di sanalah ia sukses meraih puncak kejayaan sebagai pemain sepak bola. Setelah membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 1986, ia juga berhasil menjuarai Serie A dua kali bersama Napoli, masing-masing pada 1986/1987 dan 1989/1990. Tidak lupa, gelar Coppa Italia, Piala Super Italia, dan Piala UEFA berhasil ia bawa saat berkarier di Napoli.

Sayangnya, kasus Narkoba menghancurkan kariernya. Setelah menjalani 15 bulan hukuman larangan tampil, ia meninggalkan Napoli ke Sevilla, Newell’s Old Boys, dan kemudian Boca Juniors.

Bila melihat rekam jejak karier Maradona, kita dapat simpulkan bahwa ia selalu sukses beradaptasi dan membawa kejayaan di tim mana pun yang ia singgahi. Ia dapat mengangkat performa tim sendirian ke level tertinggi sehingga dapat meraih banyak trofi juara bergengsi. Dapat dikatakan, setiap tim butuh Maradona untuk mencapai potensi maksimalnya dalam permainan sepak bola.

Berbeda halnya dengan Messi, ia hanya bermain di satu klub saja sepanjang karier profesionalnya, yaitu Barcelona. Sejak kecil, ia direkrut Barca dengan imbalan biaya pengobatan penyakit cacat hormon yang dulu dideritanya. Ia tumbuh dan berkembang di La Masia, pusat pelatihan pemain muda didikan Barca. Di sanalah ia mengasah bakat istimewanya bersama sekumpulan pemain muda dengan talenta yang tidak kalah hebatnya, seperti Cesc Fabregas, Gerard Pique, dan Pedro Rodriguez.

Kesempatan memiliki banyak pemain muda potensial dalam satu generasi menjadi keuntungan tersendiri bagi Barcelona. Hal ini oleh diakui langsung oleh legenda Perancis, Zinedine Zidane, yang mengatakan, “Barcelona beruntung punya generasi emas yang terdiri dari tujuh sampai delapan pemain hasil didikan akademi pemain muda. Tak banyak tim dengan generasi luar biasa seperti yang dimiliki Barcelona.”

Setelah cukup matang, ia dipromosikan ke tim senior oleh pelatih saat itu, Frank Rijkaard. Di awal karier profesionalnya, ia banyak dibimbing bintang dunia macam Ronaldinho, Samuel Eto’o, dan Ludovic Giuly. Rijkaard juga mengerti dan menempatkan Messi di posisi favoritnya, penyerang sayap. Di sana, ia bebas berkreasi dalam skema permainan 4-3-3. Tusukan dan umpan satu-dua yang ia lakukan sering mengecoh dan membuat bingung setiap barisan pemain belakang lawan yang dihadapi.

Bila pertahanan lawan tertutup rapat, ia bisa menyusun serangan secara perlahan dari bawah dengan raja passing semacam Xavi dan Andres Iniesta. Dengan permainan passing “tika-taka”, Messi dan Barca sukses mendikte permainan lawannya. Bisa dikatakan, Messi adalah bakat yang terjaga dengan baik di lingkungan yang tepat sehingga dapat tumbuh secara maksimal.

Hal inilah yang menjadi penyebab tumpulnya Messi saat membela negaranya di pertandingan internasional. Di tim Argentina, tidak ada Xavi-Iniesta yang akan bekerja sama melakukan umpan satu-dua atau memberikan umpan terobosan yang bisa merobek lini belakang lawan kepada Messi dengan efektif. Di tim Argentina, tidak ada pemain yang benar-benar bisa menjalankan permainan passing ala “tiki-taka” untuk secara perlahan meruntuhkan tembok pertahanan lawan.

Messi dianggap dewa dan bisa membawa timnya sendirian menuju kemenangan. Padahal, Messi tidak bisa bekerja sendirian. Ia butuh teman-teman yang tepat untuk mengangkat level permainannya. Boleh disebut, Messi membutuhkan tim, bukan tim yang membutuhkan Messi.

Di satu kesempatan, legenda sepak bola Real Madrid, Alfredo di Stefano, mengatakan, “Pemain tak bisa memenangi pertandingan sendirian. Mereka butuh rekan-rekan setim. Lionel Messi tampil hebat. Dia bermain baik dan menciptakan tontonan dengan menarik dari gol-gol yang dicetaknya. Dia memiliki kualitas dan kemampuan hebat. Namun yang terbaik dalam sepak bola adalah tim. Pemain tak mungkin menang sendirian. Sepak bola bukan tinju atau tenis ketika seorang pemain bisa menentukan kemenangannya.”

Pada Piala Dunia 2010 lalu, pelatih Argentina saat itu, Maradona, memberikan kebebasan pada Messi untuk berkreasi di lapangan. Seluruh permainan berpusat dan bergantung pada Messi. Hasilnya Messi tampil standar, bila tidak bisa dibilang buruk, yang berakibat pada jatuhnya performa tim secara keseluruhan.

Seiring kegagalan Argentina di Piala Dunia, jabatan pelatih pun berganti diserahkan kepada Sergio Batista. Sekarang, di Copa America 2011, Batista hampir saja mengulangi kesalahan sama yang dilakukan Maradona. Di dua pertandingan awal, Messi dipasangkan menjadi tridente bersama Carlos Tevez di sisi kiri dan Ezequiel Lavezzi di sisi kanan. Messi diharapkan dapat menusuk dari tengah dan menjadi dirigen penyerangan seperti yang bisa ia perlihatkan bersama Barca dengan David Villa di kiri dan Pedro di kanan.

Sayangnya, hal itu tidak berjalan lancar karena Tevez dan Lavezzi melakukan penyerangan secara sporadis dan tak terarah. Alih-alih membangun serangan dengan perlahan melalui operan-operan cantik, keduanya malah sering melakukan tusukan dan tembakan jarak jauh yang sama sekali tak efektif. Bola malah sering terebut ketika berada di kaki mereka dan menghasilkan counter-attack berbahaya bagi Argentina. Messi? Hanya dua tembakan yang bisa ia hasilkan dari dua pertandingan itu.

Setelah pertandingan pertama, Batista mengatakan, “Sangat sulit untuk bisa bermain seperti Barcelona. Benar kami bermain terlalu terburu-buru, permainan vertikal yang tidak kami inginkan. Ini harus berubah di pertandingan berikutnya.”

Di pertandingan ketiga, Batista merombak pola penyerangan timnya secara keseluruhan. Messi agak diturunkan ke tengah untuk menyusun serangan perlahan bersama Sergio Aguero di sayap kiri dan Angel di Maria yang terus bergerak. Gonzalo Higuain dijadikan targetman dan Fernando Gago masuk menggantikan tempat Ever Banega. Hasilnya, Argentina menang telak 3-0 dengan dua gol di antaranya terjadi berkat dua assist dari Messi. Siulan pun berubah menjadi pujian.

Di sini, terbukti sekali lagi bahwa Messi butuh tim dan posisi yang tepat untuk memaksimalkan potensi dalam dirinya. Kesalahan penempatan posisi atau pemilihan rekan setim niscaya dapat mengubur sinar terang Messi. Ia jelas bukan Maradona, yang bisa meraih langit hanya dengan mengandalkan dirinya sendiri. Sekali lagi, Messi butuh tim yang tepat, bukan tim yang membutuhkan Messi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Kompas.com pada Kamis, 14 Juli 2011.