Moyes, Repetisi Sejarah, dan Tumbal Transisi

alex-ferguson

Sir Alex Ferguson saat pidato pamitan di depan suporter MU/The Telegraph

“Saya ingin mengingatkan kalian semua. Saat kami melewati masa-masa buruk di klub, semua staf mendukung saya, semua pemain juga mendukung saya. Tugas Anda saat ini adalah mendukung manajer yang baru.”

Itulah pesan terakhir yang diucapkan Sir Alex Ferguson usai melakoni pertandingan kandang terakhirnya sebagai manajer Manchester United (MU) melawan Swansea pada 12 Mei 2013. Tak mudah memang, mengucapkan selamat tinggal pada orang yang membawa begitu banyak kesuksesan selama 27 tahun karirnya melatih tim Setan Merah.

Total ada 38 trofi dari berbagai ajang yang diraih MU selama rezim Ferguson. Pria yang akrab disapa Fergie ini bahkan berhasil mematahkan rekor juara Liga Inggris terbanyak yang sebelumnya dipegang Liverpool dengan raihan 18 gelarnya. Ada 13 trofi Liga Inggris, lima Piala FA dan dua Liga Champion yang berhasil ia rengkuh selama masa jabatannya tersebut.

Transisi jelas tak mudah untuk dijalani. Bahkan Fergie pun tak bisa langsung menuai sukses di awal karirnya bersama MU. Mungkin, hal ini pula yang membuatnya merasa perlu untuk mengingatkan pada para pendukung agar senantiasa menaruh kesabaran dan kepercayaan besar pada siapapun manajer selanjutnya yang memimpin tim.

Bila kita lihat, Fergie pertama kali menjejakkan kaki sebagai pelatih MU menggantikan Ron Atkinson pada pertengahan musim 1986/1987 dan kondisinya jauh dari kata ideal. Kala itu, Fergie menerima tanggung jawab membesut tim yang sedang duduk di posisi 21 klasemen Liga Inggris. Para pemainnya lebih asyik menenggak bir dibanding mencicipi kemenangan.

Fergie datang untuk mengubah itu semua. Selama beberapa tahun pertama, ia mencoba merombak budaya yang ada. Pria asal Skotlandia itu meletakkan disiplin sebagai prinsip utama para pemain dan membeli beberapa pemain yang kelak akan menjadi tulang punggung utama tim seperti Steve Bruce dan Paul Ince. Perbaikan terjadi, tapi tidak dengan instan.

Gelar pertamanya baru datang empat tahun kemudian dengan raihan Piala FA pada musim 1989/1990. “Tanpa kemenangan di Piala FA melawan Crystal Palace empat tahun setelah kedatangan saya itu, keraguan akan kemampuan saya pada pekerjaan ini akan semakin besar,” ujar Fergie.

Bila sampai Fergie dipecat karena empat tahun hampa gelar di awal masa kepemimpinannya, MU niscaya tak akan menjejak di langkah kesuksesan yang sama bertahun-tahun setelahnya. Rentetan gelar dimulai sejak itu, dari Piala Winners pada 1990/1991, Piala Liga pada 1991/1992 dan Liga Inggris pada 1992/1993.

Kesuksesan Fergie sendiri kerap dibandingkan dengan apa yang dilakukan Sir Matt Busby, manajer legendaris MU lainnya, pada masa lalu. Busby melatih MU selama 24 tahun sejak 1945 hingga 1969. Gelar pertama juga diraih melalui Piala FA, tiga tahun setelah ia memegang jabatan di Old Trafford.

Selama 12 tahun pertamanya melatih MU, Busby berhasil meraih tiga gelar Liga Inggris dan satu Piala FA. Saat itu, Busby tersohor karena kemampuannya meracik tim berisi para pemain muda berbakat seperti Bobby Charlton, Duncan Edwards dan Bill Foulkes. Karena kesuksesannya, tim tersebut akhirnya mendapat julukan Busby Babes.

Bahkan, saat tragedi Munich terjadi pada Februari 1958, Busby bisa membangun ulang MU dan menjuarai Piala Eropa (nama terdahulu dari Liga Champion) untuk pertama kalinya pada 1968.

“Saya tak pernah mau Manchester United jadi yang kedua di bawah tim manapun. Saya hanya ingin jadi yang terbaik,” ujar Busby suatu hari.

Tekad Busby inilah yang berhasil membawa MU bangkit setelah jatuh berkali-kali. Maka, tak mudah untuk menemukan sosok penggantinya. Saat Busby pensiun, ia menunjuk Wilf McGuinness, pelatih tim cadangan saat itu yang baru berusia 31 tahun.

Wilf dianggap sebagai sosok tepat yang dapat meneruskan kejayaan klub karena ia tahu betul seluk beluk MU yang juga dibelanya ketika masih aktif menjadi pemain. Usianya yang masih muda juga dianggap dapat membawa ide revolusioner untuk membawa klub maju ke depan.

“Sudah saatnya kita memberi jalan bagi orang yang lebih muda…seorang manajer yang berada di jalur yang tepat,” ujar Busby mengomentari penunjukan McGuinness. “United kini bukan hanya sebuah klub sepak bola. Ini adalah sebuah institusi. Saya rasa tuntutannya terlalu besar untuk seorang manusia biasa.”

Namun, ternyata Busby salah. Keputusannya membuka jalan bagi McGuinness terbukti tidak berhasil. Pria asli Manchester itu hanya meraih posisi 8 di musim pertamanya melatih pada 1969/1970. Syahdan, McGuinness segera didepak klub usai serangkaian hasil buruk yang diterima MU pada awal musim keduanya.

Kondisi yang ada saat itu memang serba sulit. Saat McGuinness resmi menjabat, para pemain pilar MU sudah melewati masa-masa keemasannya, termasuk Charlton yang kala itu sudah berusia 32 tahun. Dennis Law yang setahun sebelumnya berhasil mencetak 30 gol, tiba-tiba melempem dan hanya mampu mencetak tiga gol di musim tersebut.

Suasana ruang ganti juga tidak membantu sama sekali. George Best menolak bicara dengan Charlton. Bahkan Best pernah berujar bahwa ia enggan untuk mengoper bola pada Charlton saat bermain dalam laga resmi.

Kondisi ini terpaksa mendorong Busby untuk kembali menangani MU di pertengahan musim 1970/1971, menggantikan sang suksesor yang ia pilih sendiri di masa lalu. Setelah musim usai, posisinya digantikan kembali oleh Frank O’Farrell. Kemudian, manajer lain silih berganti datang, tapi tak ada yang benar-benar bisa mengembalikan kejayaan MU selayaknya rezim Busby dahulu.

Hingga akhirnya Fergie tiba di Old Trafford pada 1986, dan kini, lingkaran setan itupun seperti kembali terulang.

Fergie menunjuk sendiri penggantinya pada diri David Moyes, pelatih yang telah menangani Everton selama 11 tahun lamanya. Fergie adalah tipikal orang Skotlandia yang keras kepala. Ketika ia mengucapkan suatu hal, ia pasti akan berusaha sekeras tenaga untuk mewujudkannya, dengan caranya sendiri.

Pada September 2002 lalu, MU sedang berusaha keras mengejar ketertinggalan enam poin dari Arsenal di puncak klasemen sementara Liga Inggris. Komentator sepak bola Alan Hansen bahkan menyebut perjuangan MU saat itu sebagai tantangan terbesar dalam karir Fergie.

Dirundung emosi, Fergie sontak gusar saat ditanya wartawan mengenai komentar Hansen. Ia membalas, “Tantangan terbesarku adalah menjatuhkan Liverpool dari takhtanya!”

Benar saja, sembilan tahun berselang, tepatnya pada Mei 2011, tendangan penalti Wayne Rooney berhasil menyeimbangkan kedudukan menjadi 1-1 dengan Blackburn Rovers. Satu poin yang diraih pun sukses mengunci gelar juara ke-19 MU di Liga Inggris saat itu, melewati perolehan 18 gelar Liverpool yang selama ini begitu dibanggakan para pendukungnya.

Maka, ketika Fergie merekomendasikan sendiri suksesornya pada para petinggi MU, dan nama yang muncul adalah Moyes – pria yang tak pernah meraih satupun gelar selama masa baktinya di Everton – tak ada yang berani menolak.

“David adalah seorang pria berintegritas tinggi dengan etos kerja yang kuat. Saya telah mengagumi cara kerjanya sejak lama, bahkan sempat menawarkan posisi sebagai asisten manajer padanya di tahun 1998,” ujar Fergie. “Tak ada keraguan, dia memiliki seluruh kualitas yang diharapkan sebagai manajer di klub ini.”

Sanjungan setinggi langit untuk Moyes, yang nyatanya bernasib lebih buruk dari McGuinness di era paska-Busby. Bila McGuinness punya waktu 18 bulan untuk membuktikan diri, Moyes bahkan telah didepak saat masa baktinya baru menginjak angka 10 bulan.

Selama lebih dari satu dekade menangani Everton, belum pernah sekalipun ia bisa mengalahkan MU. Di bawah tangannya, MU harus mengakui keunggulan Everton dua kali di liga, kandang dan tandang. Mereka tercecer terlalu dini dari persaingan menuju gelar juara liga, dan hingga kini telah menelan total 11 kekalahan – pertama kalinya terjadi sejak musim 1989/1990.

Moyes dianggap kebingungan membawa ember yang lebih besar dari pada tangannya sendiri. Taktiknya dalam bermain pun medioker dan miskin variasi, hanya mengandalkan permainan sayap dan membombardir jantung pertahanan lawan dengan puluhan umpan silang dengan hasil nihil

Yang paling disayangkan adalah hilangnya mental juara para pemain setelah berada di bawah asuhan Moyes. Contoh paling mudah adalah komentar Moyes jelang laga melawan Liverpool di Old Trafford pada 16 Maret 2014 lalu.

“Mereka datang ke sini sebagai favorit. Posisi mereka di liga menjelaskan bahwa mereka ada di atas kami,” ujar Moyes.

Hal ini langsung ditanggapi pelatih Liverpool, Brendan Rodgers, dengan nada tak percaya. Ia berkata, “Saya terkejut bila sebelum pertandingan saya mendengar bahwa kami adalah favoritnya. Saya tidak akan mengatakan hal seperti itu di Liverpool, bahkan bila saya berada di dasar klasemen.”

Berkaca dari sejarah, lingkaran setan yang sama seakan kembali terulang. McGuinness kala itu membawa MU duduk di posisi 8 klasemen akhir dengan raihan total 45 poin saja, hasil 14 kali menang, 17 kali seri dan 11 kali kalah.

Kini, Moyes bisa meraih perolehan poin lebih baik dan duduk di posisi 7 klasemen sementara dengan kompetisi masih menyisakan empat pertandingan lagi bagi MU. Mereka telah meraih 17 kemenangan, enam kali seri dan 11 kali kalah.

McGuinness dan Moyes adalah dua pelatih dari dua generasi yang berbeda. Namun, mereka bernasib sama: menjadi tumbal di masa transisi dari akhir sebuah rezim panjang.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online Geotimes.co.id pada Rabu, 23 April 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s