Sepenggal Senggi

IMG_3057

Senja di pedalaman Papua, Jalan Poros dari Arso menuju Senggi (4/6)/Felix Jody Kinarwan

Rabu, 4 Juni 2014

Gelap. Tak ada cahaya sepanjang jalan berundak menuju Dubu, kampung dalam wilayah Distrik Web, Keerom, Papua. Kiri-kanan hanya terlihat pohon atau ilalang. Di dalam mobil, hening hanya terpecah kala obrolan menyapa di antara kami bertiga: saya, Felix Jody dan Mas Amin Makmur. Tak ada sinyal radio, bahkan Mas Amin pun lupa memasukkan lagu dalam flash disk-nya. Dubu memang jauh dari mana-mana. Dari wilayah perkotaan Arso, ada jarak sedikitnya 150 kilometer membentang untuk naik menuju Dubu. Saya mencoba menikmati perjalanan sebisanya, entah dengan merokok atau sekadar melamun.

Pukul 8.30 WIT, kami tiba di Distrik Senggi. Masih tetap sepi, walau kehidupan mulai tampak dari beberapa bangunan di pinggir jalan. Tak lama, Kijang abu-abu sewaan yang kami kendarai menepi di sebuah rumah makan sebelah puskesmas. Ada dua bangunan dari kayu berpelitur mengilat: yang satu restoran sederhana, sebelahnya toko kelontong. Bila disatukan, keduanya hanya seluas setengah lapangan futsal. Pemiliknya adalah Pakde Bakuh, pendatang asal Pulau Jawa.

Pakde adalah kenalan lama Mas Amin. Badannya gemuk besar dan berkumis tipis. Lahir dan besar di Jawa Timur, pakde merantau ke Papua di usia setengah abad setelah kebun di kampung halamannya kandas terlelap banjir.

Pada akhir Oktober 2013, Mas Amin ditugaskan untuk mengajar sebuah SD di Kampung Usku, Distrik Senggi, sebagai salah satu Relawan Guru Sobat Bumi bentukan Pertamina Foundation. Maka wajar bila Mas Amin kerap singgah ke rumah makan pakde untuk mengisi perut atau sekadar menepis bosan. Sayangnya, pada Februari 2014 ia dipindahkan ke Distrik Skanto karena terjadi kericuhan akibat isu SARA antara warga dan pihak sekolah di Usku. Sejak itu, Mas Amin jarang betul berkunjung ke tempat pakde.

“Pakde sekarang kurus banget,” ujar Mas Amin pada saya. “Dulu dia jauh lebih gemuk. Stres kali ya, jarang turun ke bawah. Kalau dia turun, siapa yang jaga warungnya?”

Rumah makan pakde memang buka hingga lewat tengah malam. Tiap hari menunya beragam, dari nasi goreng, rawon, daging sapi kuah kecap dan sebagainya. Banyak orang kerap singgah dan bersantai sembari minum kopi hangat dan main kartu di sana. Entah penduduk setempat, tentara yang sedang tak bertugas, atau para pendatang. Kendaraan yang lewat juga kerap membeli bahan bakar di toko kelontongnya.

Namun, semakin terpencil sebuah daerah di Papua, semakin mahal pula harga makanan atau bahan bakar yang dijual eceran. Di SPBU resmi di Jayapura misalnya, harga solar per liter adalah Rp 6.500. Namun, di tempat pakde harganya sudah melambung jadi Rp 10.000; bahkan bisa lebih mahal di tempat lain tergantung kebijakan penjualnya.

Saya sendiri kala itu menyantap nasi, sayur buncis, telur ceplok dan daging sapi kuah kecap sebagai menu makan malam. Nikmat betul. Lapar dan lelah mendorong saya melahap seluruhnya hingga begah. Namun, saya cukup terkejut ketika mengetahui harga yang harus dibayar.

“Berapa, Bu?” tanya saya pada istri Pakde Bakuh.

“Rp 30.000, Mas,” ucapnya ramah.

Saya tak ambil pusing soal ini. Bayangan soal apa yang akan saya makan selama seminggu di Papua sebelumnya jauh lebih buruk. Jadi, makan nikmat di tempat pakde adalah kemewahan di luar ekspektasi.

Selepas makan, kami bertiga mengobrol sembari menyesap kopi dan teh bersama pakde.

“Sore tadi ada penembakan oleh OPM (Organisasi Papua Merdeka), tentara kena jadi sasaran,” kata pakde. “Mereka itu selalu begitu. Habis nembak, kabur.”

Sebelumnya, saya sendiri banyak pula berbincang tentang OPM dengan Mas Nanang, salah satu guru relawan lain yang mengajar di Kampung Kibay, Distrik Arso Timur. Konflik antara OPM dan TNI memang kerap terjadi di Papua.

Menurut Mas Nanang, situasi rawan bagi TNI adalah kala terjadi pergantian shift penugasan. Pasukan TNI memang hanya ditempatkan di sana selama kira-kira enam bulan. Bila pasukan lain baru datang, biasanya akan terjadi penembakan. OPM kemungkinan mengincar para pasukan baru itu karena belum mafhum dengan kondisi lapangan sekitar dan masih berkutat dengan proses adaptasi.

Selain itu, warga maupun pendatang juga kerap khawatir menjelang tanggal 1 Desember, hari kemerdekaan Papua versi OPM. Mas Nanang sendiri mendapat banyak peringatan dari TNI yang berjaga dekat Kibay atau kenalan lainnya untuk turun ke kota mencari aman, setidaknya seminggu sebelum 1 Desember tiba.

“Situasinya serba salah. Kalau OPM lihat baju loreng warna hijau, enggak ada kata-kata, langsung saja tembak. Sementara pihak TNI pun sama. Kalau mereka lihat gerombolan orang Papua bawa senjata, langsung tembak,” kata Mas Nanang.

Bila itu terjadi, sering kali warga tak berdosa ikut jadi korban. Nyawa pun melayang kena peluru nyasar dalam kericuhan. Maka, sebagai pendatang Pakde Bakuh pun harus memahami “aturan main” yang berlaku di sekitarnya. Kapan harus pergi, kapan harus pulang, seberapa dekat jarak yang harus dijaga dengan tentara, dan sebagainya.

Tak terasa, satu jam sudah kami bertiga singgah di rumah makan pakde. Perjalanan pun harus berlanjut. Mas Amin membeli solar dan mengisi penuh mobil sebagai bekal perjalanan. Setelahnya, saya kembali larut dalam lamunan tengah jalan. Pukul 11, kami baru tiba di Dubu. Mas Ahmad Taufik, guru relawan yang bertugas di sana, segera menyambut dengan riang di rumah dinasnya.

“Kamu bawa solar ga, Min? Biar genset-nya bisa dinyalain nih,” kata Mas Taufik.

Dubu memang nihil penerangan di malam hari. Untungnya ada genset di belakang bangunan sekolah yang bisa jadi sumber listrik sementara di kala gelap menyapa. Mas Amin telah memperhitungkan hal ini. Ia membeli tiga liter solar sebagai tenaga penggerak genset itu.

Mas Taufik pun segera mengambil senter dan pergi ke belakang sekolah. Beberapa saat kemudian, lampu di rumah Mas Taufik menyala. Selang semenit, tiba-tiba lampunya mati kembali. Begitu terus sampai tiga kali. Mas Taufik datang kembali dan berujar, “Wah, enggak bisa, Min. Kayaknya mesinnya tercampur air. Jadi enggak mau nyala.”

“Kok bisa gitu?”

“Itu apa jangan-jangan solarnya dicampur air? Kamu beli di mana?”

“Ah enggak mungkin. Aku belinya di tempat pakde, kok.”

“Ya sudah. Besok saja kita coba nyalakan lagi genset-nya.”

Syahdan, kami bermalam dalam gelap. Beberapa pertanyaan muncul dalam benak, tapi saya coba untuk abai. Namun, perkiraan jawabannya semakin jelas esok malam. Kala kami berangkat dari Dubu menuju Distrik Waris untuk mewawancara guru relawan di sana, Andri Hidayat.

Kijang abu-abu yang tadinya kuat betul melewati segala medan, tiba-tiba jadi rapuh tak bertenaga. Sedikit tanjakan saja sudah mampu melenyapkan tarikan gasnya, atau bahkan mesin pun mati begitu saja.

Mas Amin pun akhirnya berujar, “Iya, nih. Solarnya dicampur air sepertinya.”

Pakde Bakuh, mungkin telah menemukan aturan mainnya sendiri di Senggi.

Advertisements