Romantisme Bersepeda di Alam Terbuka

???????????????????????????????

Bersepeda di alam terbuka/Eko Probo (Humas Komunitas Sepeda JPG)

“Orang mudah jatuh cinta sama sepeda karena biasanya punya romantisme masa kecil. Semua orang pasti pernah bersepeda, maka mudah untuk mengulangi cintanya pada sepeda saat dewasa.”

Demikian pandangan Yochi Satuhati mengenai tren bersepeda yang semakin marak di Tanah Air. Pria 42 yang akrab disapa Odjie ini aktif di komunitas sepeda Jalur Pipa Gas sejak 2003. Setelah satu dekade berlalu, kecintaan pada sepeda dan komunitasnya belum mau luntur.

Jalur Pipa Gas terbentuk pada 1994 dengan nama Explorer. Saat itu para anggotanya kerap bersepeda bersama dari Bintaro, Jakarta, melintasi jalan setapak di berbagai perkampungan hingga tiba di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan.

Ketika marak lomba balap sepeda, para atlet di Explorer merasa butuh berlatih rutin dengan lintasan yang layak. Akhirnya, lintasan yang sering mereka lalui disatukan dan dimodifikasi sedemikian rupa menjadi sirkuit utuh.

Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997 membuat Explorer menghentikan kegiatan untuk sementara. Barulah tiga tahun kemudian mereka memutuskan untuk berkumpul dan bersepeda kembali.

“Saat jambore pertama pada 2000 dibentuklah komunitas JPG, karena lintasannya berada di jalur pipa gas Pertamina yang membentang dari Cirebon hingga Merak sepanjang kurang-lebih 250 kilometer. Namun, jalur yang digunakan untuk bersepeda hanya dua kilometer. Sisanya masuk ke perkampungan atau area penduduk di sekitarnya. Trek JPG baru dibuat 2004,” kata Odjie yang bergabung dalam komunitas itu sejak 2003.

Karena antusiasme masyarakat cukup besar untuk bersepeda, pada 2005 JPG membuat kembali lintasan khusus yang disebut jalur wisata. Jalur ini lebih datar sehingga nyaman dilintasi anak-anak dan keluarga.

Menurut Odjie, JPG sesungguhnya kumpulan berbagai komunitas sepeda yang melintasi jalur offroad secara bersama-sama. Beberapa komunitas bergabung atau kerap bermain bersama di JPG, seperti Villa Dago Tol, Pamulang, dan Duta Bintaro.

Kini ribuan orang bergabung dalam JPG, walau hanya 200-300 orang yang aktif bersepeda rutin pada akhir pekan atau hari libur nasional.

???????????????????????????????

Ramai-ramai bersepeda/Eko Probo (Humas Komunitas Sepeda JPG)

“Sebenarnya tak ada sistem keanggotaan di JPG. Siapa pun bisa main tanpa ada syarat khusus. Namun, saat bersepeda harus menggunakan sepeda MTB (mountain bike), bukan road bike. Juga wajib mengenakan helm, sarung tangan, dan sepatu,” ujarnya.

Menurut Odjie, idealnya anak berusia minimal delapan tahun telah layak ikut bersepeda di JPG dengan tingkat kesulitan yang ada. Rata-rata anggota JPG berusia antara 25 dan 40 tahun, walau ada pula seorang anggota yang kini berumur 80 tahun.

Biasanya para anggota mulai bersepeda pada pukul 7 pagi dan berhenti saat tengah hari. Beda halnya bila beberapa anggota melakukan touring. Mereka berkumpul sejak pukul 6 pagi dan pulang sekitar pukul 4 atau 5 sore.

“Biasanya kami ngumpul bareng di Mpok Café, Jombang. Di situ memang tempat berkumpul anak-anak sebelum pergi dan setelah pulang. Yang suka touring biasanya jalan dari Mpok Café pukul 6 pagi, entah ke Ciseeng, Bogor, Gunung Bundar, atau lokasi-lokasi lain. Ya, kurang-lebih jaraknya 30 sampai 60 kilometer pulang-pergi dari Mpok Café,” kata Odjie yang pernah jadi pengurus lintasan JPG 2009-2011.

Mpok Café memang menjadi markas besar anak-anak JPG. Bila tidak ikut bersepeda pun banyak orang kerap datang sekadar berkumpul sembari mengisi perut.

“Kami lebih senang kumpul di Mpok Café. Kuliner khasnya ketan dan nasi uduk plus sambal kacang. Walau nggak masuk trek, yang penting kumpul di situ. Biasanya ke situ dari pukul 6 pagi sebelum mulai masuk trek dan pukul 10 setelah selesai bersepeda,” ujar Muhammad Rizal. Pria 23 tahun pendiri Komunitas Sepeda Kaskus (Koskas) Tangerang pada 2011 ini juga sering bersepeda di lintasan JPG.

Selain bersepeda rutin di akhir pekan, JPG juga konsisten mengadakan lomba balap sepeda MTB yang kerap diikuti atlet nasional. Dalam setahun, lomba ini diadakan tiga kali dengan peserta mencapai 300 hingga 400 orang per lomba.

Sejak JPG berdiri, bermunculan komunitas sepeda sejenis, di antaranya Bike to Work, Bike to Campus, dan Koskas. Kebetulan Bike to Work dibentuk pada 2005 oleh Devin, salah seorang founder JPG, yang sejak lama bersepeda berangkat-pulang tempat kerja.

“Bisa dibilang JPG cikal bakal pergerakan komunitas sepeda di Indonesia. Sejak JPG berdiri hingga saat ini telah muncul sekitar 20 toko sepeda premium di BSD. Maka dari itu, BSD dan Bintaro bisa dikatakan sebagai kota sepeda saat ini,” kata Odjie.

Rizal berpendapat senada. Kemunculan JPG berhasil membuka banyak lapangan kerja baru di sekitar BSD dan Bintaro. “Biasanya habis sepedaan terus kotor sepedanya, bisa langsung cuci steem seharga 7 ribu hingga 8 ribu rupiah di tempat cuci milik warga sekitar. Ada juga lapak-lapak jual jersey, sparepart sepeda, dan lainnya. Bisa dikatakan JPG merangkul warga juga sehingga ada usaha di situ,” ujarnya.

Banyak pengalaman menarik didapat Odjie selama bersepeda di JPG. Paling sering terjadi, para pemain baru meremehkan jalur sepeda sehingga masuk ke trek tanpa persiapan matang.

“Masuk ke trek itu butuh handling, controlling, breaking, dan shifting, tapi kadang-kadang mereka langsung masuk dan akhirnya tercebur ke sawah. Tapi itu sudah biasa. Setiap orang yang tercebur itu kami sebut sudah ‘dibaptis’,” ujar Odjie.

DSC_3656

Berlumur lumpur, sudah biasa/Eko Probo (Humas Komunitas Sepeda JPG)

Banyak manfaat bisa didapat dengan bergabung dalam komunitas sepeda seperti JPG. Salah satunya, JPG berhasil membuka banyak lapangan kerja baru di sekitar BSD dan Bintaro.

“Kita nggak pernah tahu yang duduk di sebelah kita itu siapa. Ternyata banyak petinggi perusahaan atau pejabat yang duduk makan mi instan di sebelah kita. Misalnya pernah ada Pak Ariesman Widjaja (Wakil Presiden Direktur Agung Podomoro Group), Pak Haryoko mantan komisaris Bank Syariah Mandiri, atau Pak Budi (Wisakseno) Direktur BRI Syariah,” tutur Odjie yang juga event organizer acara-acara sepeda.

Pengalaman menarik juga didapat Odjie saat tidak mengenali Timur Pradopo ketika masih menjabat sebagai Kapolri sekitar dua tahun lalu. Timur pun dipuji Odjie sebagai sosok tangguh dan kerap menolak dibantu saat terjatuh. Ia memilih berdiri sendiri dan bisa mengayuh pedal sepeda hingga 4 putaran.

“Saya kan bertugas bantu orang-orang yang belum terbiasa untuk dibawa ke tempat nyaman. Saya lihat waktu itu dia celingak-celinguk saja. Lalu saya tawarkan untuk menemani masuk ke trek. Saya nggak tahu dia itu Kapolri. Di tengah jalan, barulah ada anggota rombongan yang kasih tahu saya. Dia itu kuat betul. Kalau nggak disuruh berhenti pasti nggak mau berhenti dia. Akhirnya petinggi-petinggi polisi lain pun dikompori ikut main sepeda juga,” ujar Odjie sembari setengah tertawa.

Rizal juga menunjukkan kekaguman pada lintasan JPG yang masih asri dan belum tercemar hiruk-pikuk perkotaan. “Kalo JPG sih nggak terlalu sulit treknya. Enak suasana alamnya masih asri banget. Ada sawah, ilalang, hutan-hutan bambu, dan lainnya,” ujar pegawai swasta ini.

Ia pun senang bisa mendapat banyak teman baru selama bersepeda di JPG sejak 2011. Tubuhnya juga menjadi lebih segar dan bugar sejak aktif bersepeda.

Para pencinta sepeda seperti Odjie dan Rizal kadang menganggap sepeda seperti separo nyawa. Mereka rela mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk memodifikasi sepeda agar nyaman dan aman dikendarai.

Untuk melintasi JPG, Odjie merasa sepeda seharga Rp 3 juta sudah cukup aman. Namun, ia dan teman-temannya kerap membeli lebih dari satu sepeda dengan harga yang bagi sebagian orang tidak masuk akal.

“Sekarang saya punya empat sepeda. Ibaratnya saya sudah nggak mikir lagi. Jadi psikologis saja, saya beli karena ingin, bukan karena butuh. Sebenarnya satu saja sudah cukup. Idealnya merakit sepeda itu tergantung kantong. Buat pemula sebenarnya sudah cukup pakai Shimano Deore (merk komponen penggerak sepeda) yang harganya sekitar 3 juta, tapi orang mau beli yang empat sampai lima kali lipat harganya, misalnya merek XDR,” ujarnya.

Bahkan, menurut Odjie, beberapa orang rela membeli sepeda berbahan dasar carbon atau titanium seharga lebih dari Rp 60 juta, dengan keunggulan masing-masing. Bahan carbon dikenal sebagai plastik terkuat yang ringan dan mudah dibentuk, tapi rawan tergores ketika jatuh. Sedangkan titanium besi yang kuat dan tak kalah ringan dengan model lebih klasik.

“Ada teman yang tadinya sepedanya seharga 3 jutaan, tapi setelah lihat orang lain jadi ngiler ingin beli sepeda lebih mahal. Saya bilang itu racun sepeda,” ujar Rizal.

Dengan harga setara sebuah mobil, sepeda premium memang bisa menjadi racun bagi para penggilanya. Namun, mereka tidak peduli cibiran orang. Asalkan bisa berkumpul dan bersepeda bersama, romantisme akan selalu terjaga.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times pada edisi 21 Juli 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s