RA Kosasih Sang Peletak Dasar

IMG_0022

Yudowati Ambiyana, putri RA Kosasih, di belakang foto almarhum ayahnya/Viriya Paramita

“Saya sudah capek bernapas.”

Kalimat itu terlontar dari mulut Raden Ahmad Kosasih kepada anaknya, Yudowati Ambiyana, tepat sehari sebelum ia dijemput ajal akibat serangan jantung pada Selasa dini hari (24/7/12). Kosasih wafat di usia 93 tahun.

Yudowati berujar, itulah kali pertama ia mendengar sang ayah mengeluh dan terkesan menyerah sepanjang hidupnya selama ini.

Komplikasi penyakit jantung dan infeksi empedu memang membuat kondisi kesehatan almarhum jatuh drastis dalam seminggu terakhir sebelum kepergiannya. Tabung oksigen dan infus telah menjadi karibnya dalam kurun waktu tersebut. Usia memang tidak bisa membohongi kondisi fisik Kosasih yang kian melemah dari waktu ke waktu. Namun secara mental dan pikiran, tiada yang melihat semangatnya pernah padam.

Karier Kosasih di dunia komik Indonesia dimulai 59 tahun lalu saat penerbit Melodie tertarik untuk merekrut dan menggunakan jasanya sebagai seorang komikus.

“Tahun 1953, penerbit Melodie sedang mencari komikus untuk menjadi karyawannya. Salah satu yang mendaftar saat itu adalah RA Kosasih, dan dia pun sukses diterima. Akhirnya terbitlah buku komik pertamanya pada 1 Januari 1954 tentang jagoan wanita bernama Sri Asih,” tutur Andi Wijaya dari penerbit Pluz+ yang dua tahun silam telah mencetak ulang komik Ramayana karya Kosasih.

“Keluarnya komik Sri Asih mendapat respon positif dari masyarakat. Hanya saja, kesan superhero saat itu dianggap banyak terpengaruh oleh budaya barat. Untuk menjawab cemoohan dan sindiran orang-orang tentang hal itu, penerbit Melodie dan Pak Kosasih berinisiatif untuk membuat komik baru yang mengadopsi dan mengadaptasi kisah wayang,” ujar Surjorimba Suroto founder situs Komikindonesia.com.

Wayang memang bukan hal asing bagi Kosasih. Sejak muda, ia senang menonton wayang kulit dan wayang golek, serta banyak membaca buku tentangnya. Karena itu, tak heran bila ia dapat menggambar komik wayang dengan begitu fasih serta detail cerita dan latar yang mengagumkan.

“Pak Kosasih, dengan segala keterbatasan yang ada di zaman dahulu, selalu sungguh-sungguh dalam membuat komik. Ia selalu melakukan riset terlebih dahulu. Versi-versi kisah wayangnya pun merupakan adaptasi yang tidak sembarangan. Imajinasinya saat itu sungguh bebas, tapi tidak pernah kehilangan lokalitas,” kata pengamat dan peneliti komik, Hikmat Darmawan.

Komik-komik karya almarhum memang selalu menjaga cita rasa lokal. Menurut Hikmat, salah satunya dapat terlihat pada dialog kebudayaan yang selalu terjadi dalam kisah-kisah komik Kosasih.

“RA Kosasih sesungguhnya adalah orang yang menggunakan medium modern untuk memunculkan warisan nilai-nilai tradisional yang kita miliki selama ini. Hal itu dapat dilihat dari dialog-dialog kebudayaan yang terjadi di komiknya,” kata Hikmat.

Selain itu, Kosasih juga mampu beradaptasi dengan permintaan pasar dan perkembangan zaman. Di samping kisah perwayangan, almarhum juga pernah menggambar komik roman, silat, fabel, dan lainnya.

“Salah satu alasan kenapa banyak orang menyebut Pak Kosasih sebagai Bapak Komik Indonesia adalah karena kemampuannya mengikuti zaman, dan di setiap genre yang ia masuki, bisa dibilang karya-karyanya bagus,” kata Andi, yang juga merupakan kolektor komik dan founder Komikindonesia.com.

Komikus angkatan tua lainnya, Ahmad Rahmad Sutalaksana, bahkan menganggap Kosasih sebagai seorang peletak dasar. “Beliau adalah peletak dasar komik modern di Indonesia. Sejak kehadirannya dan komik wayangnya di Indonesia, akhirnya banyak pula bermunculan komikus-komikus lain yang terinspirasi untuk mengikuti jejaknya,” ujar Ahmad, 65 tahun, yang terkenal dengan komik seri Terdampar di Tiongkok Kuno.

Walau bisa dikatakan telat memasuki dunia komik pada usianya yang ke-33, Kosasih dikenal luas sebagai komikus yang produktif. “Kalau mendengar cerita dari beliau, dahulu dia bisa menggambar hingga tiga halaman dalam satu hari. Sesuatu yang hingga hari ini pun komikus muda kita belum tentu bisa menyainginya. Mungkin hal itu didasari oleh kecintaannya akan menggambar yang begitu besar,” ucap Surjorimba.

IMG_0017

Surjorimba Suroto, founder situs Komikindonesia.com, membaca komik Ramayana karya RA Kosasih/Viriya Paramita

“Kosasih memang punya hasrat besar untuk ngomik yang tak pernah dia pudarkan. Dia terus bikin komik hingga secara fisik sudah tidak mampu lagi melakukannya, yaitu saat tangannya sudah gemetar dan metabolismenya sudah kacau. Totalitas seperti itu yang patut dicontoh komikus mana pun di dunia,” ujar Hikmat lagi.

Dari sekian banyak karyanya, Kosasih gemar untuk menggunakan karakter wanita sebagai seorang jagoan atau tokoh utamanya. “Ada Sri Asih, Siti Gahara, Tjempaka, Rara Inten dan lainnya yang semua merupakan wanita. Di situ, dapat kita lihat juga bahwa dia ikut mendukung emansipasi wanita di Indonesia,” ucap Andi.

Imajinasi liar Kosasih dalam menggambar komik memang berhasil membuatnya dikenal luas oleh masyarakat. Walau begitu, sesungguhnya Kosasih adalah sosok yang pemalu dan tertutup. “Pak Kosasih adalah sosok yang pemalu. Makanya dia tidak pernah menempatkan diri sebagai sosok selebritis,” kata Hikmat.

Selain itu, Hikmat menambahkan, “Dia adalah orang yang sangat santun dan rendah hati. Dia tidak pernah menyombongkan kejayaannya di masa lalu, karena dia baru akan bercerita bila ditanya. Selain itu ingatannya akan sesuatu termasuk detail. Sebetulnya hingga umur 90-an, bisa dibilang ia belum pikun karena ingatannya begitu tajam.”

Memang, banyak nilai moral yang bisa diambil para komikus muda saat ini dari sosok Kosasih yang tetap rendah hati di balik segala kebesaran nama dan karyanya. Menurut Surjorimba, salah satu hal penting yang bisa dicontoh generasi muda saat ini adalah kecintaan dan dedikasi Kosasih untuk terus berkarya. Ia juga tulus dalam menyampaikan pesan kepada para penikmat komiknya.

Dedikasi Kosasih yang luar biasa berhasil membuat karyanya abadi dan tak lekang ditelan waktu. Hal itu bisa dilihat dari judul-judul komik almarhum yang terus dicetak ulang hingga saat ini.

“Dari dulu sampai sekarang, mungkin karya Pak Kosasih telah dicetak ulang dengan oplah 50.000-100.000 buku. Mahabharata ada di posisi pertama sebagai karyanya yang paling sering dicetak ulang, sementara itu Ramayana ada di posisi kedua,” ujar Andi.

IMG_0009

Beberapa karya komik RA Kosasih/Viriya Paramita

Lalu, riset mendalam dan ketulusan dalam menyampaikan cerita membuat banyak adegan dari komik Kosasih tetap abadi dan membekas di hati pembaca. Surjorimba sendiri paling terkesan dengan adegan saat Resi Bisma jatuh terkena banyak panah di perang Baratayuda. Hal itu juga dipengaruhi kesukaannya akan tokoh Bisma yang menurutnya pantas dijadukan panutan karena prinsip yang dipegangnya dengan teguh.

Ironi muncul ketika kita mengetahui bahwa almarhum sendiri tidak lagi memiliki komik-komik hasil karyanya selama ini. “Komik-komik Bapak sudah enggak tau ke mana. Mungkin hilang saat pindah rumah dan juga banyak yang dipinjam orang-orang terus hilang begitu saja. Foto-foto pas Bapak muda juga sedang dipinjam untuk pembuatan otobiografi,” kata Yudowati.

Namun, seluruh pembaca dan penggemar komik Kosasih tentunya tak akan pernah melupakan sosok sederhana nan rendah hati almarhum yang telah menjadi identitasnya. Sosok yang telah menelurkan banyak cerita dan menginspirasi ribuan jiwa.

 

NB: Liputan ini dilakukan dalam kapasitas sebagai wartawan magang BeritaSatu.com pada Juli 2012.

Jalan Pedang Amarzan Loebis

68125_620

Ilustrasi/Tempo.co

“Jangan percaya sama Kompas!”

Itulah respon Amarzan Loebis sesaat setelah saya mengatakan bahwa Kompas mengganti penyebutan nama Republik Ceko jadi Republik Ceska.

Kata-kata tersebut memberikan sedikit gambaran akan karakter Amarzan yang sederhana dan apa adanya. Saya berkesempatan menemuinya pada pertengahan 2010. Kala itu Amarzan datang sebagai dosen tamu mata kuliah Sejarah Jurnalistik Indonesia Modern yang diampu oleh Ignatius Haryanto.

Amarzan adalah salah satu saksi sejarah dalam perkembangan jurnalisme Indonesia. Kini, ia pun masih menjabat sebagai redaktur senior majalah Tempo. Karena itu, menarik melihat pandangannya akan jurnalisme dari sisi sejarah.

Menurut Amarzan, sejarah dan jurnalisme secara indisipliner justru berseberangan. Itu karena sejarah adalah kisah masa lampau yang biasanya diciptakan oleh para pemenang. Sejarah, selalu mewakili kisah adidaya seorang penguasa. Dalam beberapa kasus, keakuratan sejarah bahkan bisa dipertanyakan karena kisah yang ada merupakan hasil konstruksi sepihak saja.

Padahal, akurasi adalah hal nomor satu dalam jurnalisme. Jurnalisme justru wajib curiga terhadap pemangku kekuasaan. Jelas, karena salah satu fungsinya adalah menjadi yang pertama berdiri di depan untuk melaporkan kepada masyarakat bila terjadi pelanggaran fungsi kekuasaan dalam pemerintahan.

Amarzan pun mengibaratkan jurnalisme sebagai jalan pedang yang penuh dengan rintangan. “Kalau mau kaya dari jurnalisme, mending kalian enggak usah jadi jurnalis,” tegasnya.

Memang, Amarzan sendiri tidak memulai kariernya sebagai wartawan dengan mudah. Awalnya ia justru lebih tertarik menekuni sastra. Saat masih duduk di kelas 1 SMA Pembaharuan, ia pun telah banyak menulis puisi. Kurangnya tenaga pengajar serta pengakuan lebih atas kemampuan Amarzan membuatnya mendapat tawaran untuk mengajar. Alhasil, di tahun pertamanya bersekolah, ia juga berperan sebagai guru Bahasa dan Sastra di kelas 2, serta guru Tata Negara di kelas 1.

Persentuhannya dengan dunia jurnalistik pun terjadi tanpa sengaja. Di antara rumah dan sekolahnya, terdapat perusahaan Percetakan Indonesia. Karena masuk sekolah siang, Amarzan sering mampir ke sana sebelum kelas berlangsung. Ia pun belajar banyak hal, salah satunya soal mengoreksi berita.

Lama berkutat di percetakan dan melihat banyak tulisan, ia jadi tahu mana berita yang baik dan buruk. Amarzan pun ditantang untuk menulis berita lebih baik daripada orang yang tulisannya kerap ia kritik. Ternyata tulisannya diterima dan ia direkrut menjadi wartawan. Sejak itu, ia rutin menulis berita pagi dengan upah sebesar 150 perak.

Pada Juni 1958, Amarzan mendapat tawaran meliput perang pasukan separatis – Pasukan Revolusioner Republik Indonesia – di Tapanuli, Sumatera Utara. Nekat, ia memalsukan tanda tangan orangtuanya hingga mendapat izin cuti dari sekolah. Pengalaman pertama meliput perang begitu berkesan bagi Amarzan, walau akhirnya tidak terjadi bentrokan sama sekali di sana.

Selepas SMA, Amarzan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Tanpa disangka, di sana ia menemui begitu banyak hafalan. Merasa muak, ia pindah haluan masuk ke Fakultas Hukum. Ternyata, plonco terhadap anak baru di sana begitu keras. Ia kembali merasa tak nyaman dan memutuskan kembali ke Jakarta.

Kali ini ia mencoba peruntungan dengan mengambil kuliah malam di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Namun, entah kenapa ia begitu sulit untuk mencerna materi kuliah saat itu. Memang, ia kerap masuk kelas tanpa makan terlebih dahulu. Ia juga terbiasa duduk di belakang kelas hingga tulisan dosen di depan sulit terbaca akibat kurangnya penerangan. Masalahnya, Amarzan segan duduk di barisan depan karena banyak mahasiswi berkumpul di sana.

“Saya takut suara perut saya yang lapar terdengar mereka,” kata Amarzan.

Singkat cerita, ia putuskan pindah ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengambil fakultas yang sama. Di situ Amarzan justru merasa kondisinya terlalu santai, sehingga tak mendukung atmosfer yang tepat untuk belajar. Lagi-lagi ia tak ambil pusing dan pindah ke Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

Tidak lama di Bali, ia mendapat beasiswa untuk kuliah ke Cekoslovakia. Namun, nasib sial terus mengiringi. Sesampainya di Cekoslovakia, ternyata jurusan jurnalistik yang ia pilih belum dibuka. Pilihan yang ada untuk menampung mahasiswa asing hanyalah jurusan balet dan teater klasik.

Dengan kecewa ia memilih kembali ke Indonesia dan masuk Perguruan Tinggi Ilmu Djurnalistik. Petualangannya belum berakhir. Pada 1963, Amarzan hijrah ke Cina. Di sana, Amarzan sekolah sembari belajar banyak hal, termasuk filsafah hidup masyarakat setempat yang hemat dan beretos kerja tinggi. Menurutnya, wajar saja bila perekonomian Cina tumbuh pesat saat ini. Etos kerja yang ditanamkan sejak lama dianggap telah melalui proses panjang hingga kini berbuah hasilnya. Jadi, kesuksesan Cina tak diraih dengan instan.

Sekembalinya ke Jakarta, Amarzan diangkat jadi redaktur Harian Rakyat yang saat itu berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena itu, koran ini ikut dibredel pemerintah pada 1965 usai G 30 S meledak dan menimbulkan banyak korban jiwa sebagai konsekuensi lanjutannya.

Maka, menurut Amarzan dunia jurnalistik Indonesia berhenti fungsinya sejak 1 Oktober 1965. Media harus bertindak sesuai “arahan” pemerintah Orde Baru. Hanya tulisan bernada positif yang boleh beredar di masyarakat. Sontak, Amarzan pun merindukan era pemerintahan Soekarno. Baginya, saat itu birokrasi lebih longgar dan jurnalisme amplop belum muncul.

Sejak saat itu pula Amarzan berhenti menjadi wartawan dan banting setir ke berbagai ranah profesi lain. Ia pun pernah jadi pelatih selancar di Ancol. Pada 1968, ia bahkan membimbing tim layar nasional untuk maju ke Olimpiade Meksiko.

Namun, pada tahun yang sama Amarzan juga ditangkap dan ditahan oleh polisi. Setelah itu, ia menghabiskan masa 11 tahun di penjara tanpa pernah diadili dan dijatuhi vonis. Rinciannya, selama dua tahun ia ditahan di Jakarta, satu tahun di Nusa Kambangan, dan delapan tahun di Pulau Buru.

“Ada masa-masa tertentu di negeri tertentu, bahwa tempat terhormat adalah di penjara,” kata Amarzan Loebis mengutip kata-kata Thomas Mann.

Pada 1979, Amarzan baru bisa bernapas lega setelah bebas dan terbukti tidak memiliki hubungan apapun dengan G 30 S. Walau begitu, tak ada kompensasi apa-apa baginya yang telah masuk bui secara sepihak selama 11 tahun.

Rasanya, banyak hikmah yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Amarzan. Berkali-kali ia menekankan untuk memegang teguh prinsip yang ada dan tak begitu saja menyerah pada topeng kemunafikan. Kita pun seakan diajak untuk membuka wawasan dan berproses lebih baik lagi setiap waktunya.

“Seorang jurnalis yang baik harus tahu segala tentang sesuatu dan sesuatu tentang segala,” kata keponakan Mochtar Loebis itu.

Selain itu, perjalanannya menuntut ilmu dari satu kampus ke kampus lain semakin menegaskan sifat Amarzan yang tak mudah menyerah dan senang bertualang. Sekali merasa tak nyaman dengan kondisi sekitar, ia akan pergi mencari suasana baru di lain tempat dan waktu.

Itu pula yang membuatnya dengan lantang berkata, “Jangan percaya sama Kompas!”

Menyoal Musim Terpenting dalam Karier Rooney

Wayne Rooney

Wayne Rooney/The Guardian

28 September 2004

Malam itu akan selalu dikenang oleh Wayne Rooney. Ia melakoni debutnya dengan gemilang untuk Manchester United di ajang Liga Champion melawan Fenerbahce. Ia membuat hattrick dan satu assist. Usia Rooney baru 18 tahun, tapi banyak orang terbelalak melihat potensi besarnya.

“Mencetak hattrick di laga pertama untuk Manchester United adalah hal yang sangat spesial,” ujar Ryan Giggs. “Itu adalah awal yang biasanya hanya bisa kita impikan. Penampilannya luar biasa, tapi ketajamannya yang paling membuat saya terkesan.”

“Manajer akan melihat ini sebagai tanggung jawabnya, untuk memastikan bahwa dalam 10 tahun ke depan Wayne tetap bermain seperti ini dan memenuhi potensinya.”

reua_121979

Wayne Rooney mencetak gol keduanya di laga debut untuk Manchester United melawan Fenerbahce/Squawka

Kini, satu dekade telah berlalu. Rooney berhasil mencetak 216 gol dan membantu tim meraih lima gelar Liga Inggris, dua Piala Liga, satu Liga Champion dan satu Piala Dunia Antarklub.

Musim 2014/2015 sendiri akan segera bergulir pada pertengahan Agustus mendatang. Kedatangan pelatih Louis van Gaal membuat semua pemain berlomba unjuk gigi. Siapa yang tidak tampil maksimal, akan didepak dari klub atau sekadar jadi penghias bangku cadangan.

Rooney sendiri adalah calon kuat kapten selanjutnya, entah di MU maupun tim nasional Inggris. Steven Gerrard baru saja pensiun dari timnas. Sementara itu, dua kapten utama MU musim lalu, Nemanja Vidic dan Patrice Evra, juga memutuskan untuk hengkang mencari peruntungan baru. Usia Rooney kini 28 tahun. Dengan pengalaman segudang di usia matang, ia diyakini jadi kandidat kuat penyandang ban kapten.

Karena itu, tiga minggu ke depan mungkin adalah masa-masa terpenting dalam karier Rooney. Banyak harapan dan beban di pundaknya kini. Namun, benarkah Rooney telah memenuhi potensinya seperti harapan Giggs 10 tahun lalu?

Di awal kariernya, Rooney terlihat seperti metamorfosis Paul “Gazza” Gascoigne dalam bentuk striker. Badannya tegap dan liat walau tak terlampau tinggi untuk ukuran pesepak bola Eropa pada umumnya. Tingginya 176 cm; tujuh cm lebih tinggi dari Lionel Messi atau sembilan cm lebih pendek dari Cristiano Ronaldo.

Larinya juga cepat. Arjen Robben sempat berlari dengan kecepatan 10,28 meter per detik saat bermain melawan Spanyol di Piala Dunia 2014 lalu. Sementara pada Piala Eropa 2004, Rooney pernah mencatat rekor 9,7 meter per detik.

Dengan badan yang tak terlampau tinggi, ia punya pusat gravitasi rendah hingga mudah berubah arah ketika berlari. Ditambah lagi dengan kecepatan tinggi dan tubuh tegap yang kuat untuk beradu fisik dengan pemain bertahan tim lawan. Tendangannya pun keras dan terarah.

Pendukung Arsenal pasti masih kesal bila mengingat laga melawan Everton pada 19 Oktober 2002. Kala itu, pada usia 17 tahun kurang lima hari ia mencetak gol perdananya di Liga Inggris. Golnya pun spesial. Tendangan jarak jauh – 27 meter dari gawang Arsenal – yang melengkung melewati hadangan Sol Campbell dan mengecoh kiper gaek David Seaman. Rekor 30 pertandingan tak terkalahkan Arsenal pun terhenti oleh Everton.

“Ingatlah namanya, Wayne Rooney!” ujar komentator pertandingan antusias usai menyaksikan gol Rooney itu.

article-1284117-0058E2FD00000258-903_468x333

Wayne Rooney di Everton/Daily Mail

Penampilan apik Rooney berlanjut di Piala Eropa 2004. Ia berhasil mencetak empat gol di fase grup dan menjadi tumpuan di lini depan Inggris bersama Michael Owen sepanjang turnamen. Sayang, cedera retak tulang metatarsal saat laga melawan Portugal di perempat final menghentikan laju Rooney.

Namun, itu tidak menghentikan MU untuk membeli Rooney dengan harga 25,6 juta pounds pada 2004. Perlahan, permainannya pun berkembang jadi lebih “dewasa” di bawah arahan Sir Alex Ferguson. Sebelumnya, Rooney gemar berlarian ke sana ke mari sejak awal laga untuk mengejar bola, melewati lawan dan mencetak gol. Namun, staminanya jadi cepat terkuras memasuki pertengahan babak kedua. Di bawah asuhan Fergie, ia pun jadi lebih pandai dalam menimbang situasi. Rooney menurunkan ego dan emosinya yang mudah meluap. Ia jadi gemar turun ke bawah, bermain di sayap dan memberi umpan pada rekan lain di depan.

Perubahan permainannya yang paling kentara terjadi pada musim 2007/2008. Saat itu MU baru saja mendatangkan Carlos Tevez dan Ronaldo pun sedang berkembang pesat jadi superstar baru. Alhasil, Rooney sering bermain melebar ke sayap kiri dan Ronaldo justru ditempatkan sebagai ujung tombak serangan. Ronaldo pun jadi protagonis utama tim. Ia mencetak gol tiap pekan, entah lewat permainan terbuka, tendangan bebas atau penalti.

Di musim itu, Ronaldo sukses mencetak 42 gol di segala ajang, Tevez 19 gol dan Rooney 18 gol. Bahu-membahu, trisula itu berhasil membawa MU jadi juara Liga Inggris dan Liga Champion. Rooney pun tak masalah dengan pengorbanannya, asal tim bisa juara. Ia bahkan pernah sesumbar bisa bermain di tiap posisi. Bila harus jadi bek kanan, ia percaya diri bisa jadi yang terbaik di dunia.

Bisa dikatakan, akhirnya kelebihan Rooney jadi kekurangannya sendiri. Ia siap menambal berbagai sisi permainan di atas lapangan. Namun, ia seakan kehilangan karakter.

Rekening gol Rooney memang sempat meningkat setelah kepergian Ronaldo ke Real Madrid pada 2009/2010. Kala itu ia lebih sering bermain sebagai penyerang utama dan sukses mencetak 34 gol di seluruh ajang. Raihan gol yang sama pun terulang kembali di musim 2011/2012. Namun, gaya mainnya telah jauh berbeda.

Dahulu ia penuh imajinasi. Banyak kejutan dalam ruang permainannya, entah lewat gol atau umpan tajam menembus pertahanan lewan. Misalnya kala ia mencetak gol lewat tendangan first time jarak jauh ke gawang Newcastle United di Liga Inggris pada 2005 atau tendangan chip ke gawang Portsmouth di Piala FA pada 2007.

Dribelnya juga maut. Lihatlah gol Ruud van Nistelrooy ke gawang Charlton Athletic pada November 2005. Dalam prosesnya, Rooney sempat mengecoh tiga pemain Charlton dengan giringan bolanya dari tengah lapangan hingga masuk kotak penalti lawan. Lalu, barulah ia memberi umpan lambung ke van Nistelrooy di tengah. Penyerang asal Belanda itu menerima dengan dada, memutar badan dan melakukan tendangan voli kencang hingga bola melesak ke dalam gawang.

Namun, perlahan Rooney berubah jadi miskin kreasi. Kini ia adalah mesin passing, pelayan bagi para pencetak gol utama, dari era Ronaldo, Dimitar Berbatov hingga Robin van Persie. Jarang sekali melihat dribel maut atau tendangan jarak jauh nan terarah Rooney muncul lagi. Ia jadi pemain tim, tidak egois tapi cenderung membosankan. Perbandingannya dengan Gazza seakan tak lagi relevan. Ia lebih mirip Dwight Yorke yang menjelang masa pensiun sebagai pemain.

Sekali-kali magis Rooney masih muncul, seperti gol tendangan saltonya ke gawang Manchester City di liga pada Februari 2011 atau tendangan melengkung jarak jauhnya ke gawang Athletic Bilbao pada Maret 2012. Namun, itu tidak hadir secara konstan sepanjang musim seperti yang dilakukan Messi di Barcelona atau Ronaldo di Real Madrid. Alhasil, itulah yang jadi pembeda ‘kelas’ antara Rooney dan Ronaldo atau Messi.

article-0-0C50BBE300000578-434_634x360

Wayne Rooney terdiam menyaksikan perayaan kemenangan Barcelona atas Manchester United di final Liga Champion 2011/Daily Mail

Kala fase transisi MU sepeninggal Fergie di musim 2013/2014, Rooney juga tak bisa berbuat banyak. Saat itu, ia jadi tumpuan utama penyerangan tim karena van Persie lebih sering masuk ruang perawatan. Di luar buruknya manajemen dan pemilihan taktik Moyes, Rooney pun gagal unjuk gigi di tengah keterpurukan MU. Ia bisa mencetak 19 gol, tapi MU harus jatuh ke peringkat ke-7 klasemen akhir Liga Inggris. Moyes pun dipecat bahkan sebelum musim usai.

Hal sama berlanjut di Piala Dunia 2014. Inggris tak lolos fase grup, Rooney kembali bermain sebagai penyerang sayap kiri dan hanya bisa mencetak satu gol – yang pertama baginya setelah bermain di tiga edisi Piala Dunia. Alhasil, kritik kencang datang dari eks rekan setimnya sendiri, Paul Scholes.

“Klimaks permainan Wayne mungkin terjadi jauh lebih cepat dari biasanya. Usia 28 atau 29 umumnya jadi puncak (performa pesepak bola). Pada diri Wayne, mungkin puncaknya terjadi saat ia mencetak 27 gol di liga pada 2011/2012 di usia 26,” ujar Scholes.

Dengan segala penurunan performa dan penampilan yang kerap jauh dari ekspektasi publik di laga krusial, benarkah Rooney pantas menyandang ban kapten selanjutnya?

Van Gaal sendiri masih menimbang segala aspek karena menurutnya, kapten tim adalah jabatan krusial. Ia bahkan sempat mempertimbangkan van Persie sebagai kapten baru MU. Rooney sendiri tak keberatan bila hal ini benar terjadi.

“Saya akan menghormati keputusannya. Robin van Persie adalah kapten di negaranya, dia juga pernah jadi kapten di Arsenal. Jika Robin menjadi kapten, saya yakin dia akan menjalankan tugasnya dengan baik,” kata Rooney.

Walau begitu, sesungguhnya kapasitas seorang pemimpin tak hanya dilihat dari penampilannya di atas lapangan. Sebagai perbandingan, perusahaan multinasional asal Amerika Serikat, Google, pernah melakukan analisis mendalam untuk mencari kriteria sejati yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin.

The New York Times pernah menuliskan soal ini dalam artikelnya pada Maret 2011 lalu. Kriteria itu adalah, punya visi dan strategi jelas untuk tim, membantu rekan setim lain mengembangkan kariernya dan “Jangan jadi pengecut; jadilah produktif dan berorientasi pada hasil akhir.”

Untuk poin pertama, Rooney jelas punya bayangan jauh ke depan soal MU. Usai memperpanjang kontraknya pada Februari 2014, ia menuturkan alasannya untuk bertahan.

“Ini karena saya tahu arah yang dituju klub ini. Jika kami tidak berhasil musim ini, maka kami akan kembali dengan lebih tangguh dan meraih jatah Liga Champion musim depan,” kata Rooney. “Ini adalah salah satu tim terbesar di dunia, dan bermain di sini pada sebagian besar waktu saya berkarier adalah sesuatu yang saya harapkan.”

Lalu soal strategi, tentu seorang pemain harus berpegang teguh pada arahan manajernya. Selama ini, kita bisa melihat kedisiplinan Rooney dalam menerapkan taktik demi kebutuhan tim, entah dengan mengorbankan posisi aslinya atau menjaga kepalanya agar tidak cepat panas dalam sebuah laga. Rooney saat ini memang berbeda jauh dengan dahulu.

Dulu Rooney bisa mendapat kartu merah karena bertepuk tangan dengan sinis di depan wajah wasit saat laga melawan Villarreal di Liga Champion 2005. Selain itu, ia juga pernah diusir dari lapangan karena tekel keras terhadap Miodrag Dzudovic pada laga melawan Montenegro. Itu adalah pertandingan terakhir di babak kualifikasi Piala Eropa 2012. Alhasil, Rooney pun dihukum tak boleh tampil dalam dua laga perdana di putaran final ajang itu.

Lalu pada poin kedua, sesungguhnya Rooney telah membantu rekan setimnya berkembang dengan bermain jauh ke belakang dan jadi lebih rajin memberi assist dibanding mencetak gol. Anda bisa tanyakan hal ini pada Ronaldo dan Tevez di musim 2007/2008 atau van Persie yang sukses mencetak 30 gol di musim 2012/2013. Kala itu, banyak umpan Rooney yang dikonversi van Persie jadi gol. Bahkan Rooney pun merelakan jatah penendang penalti utama pada van Persie.

Selain itu, sahabat Rooney di timnas Inggris, Frank Lampard, juga mengucapkan hal senada. Menurutnya, kehadiran Rooney selalu bisa mencairkan suasana dalam tim. ”Bagi Wayne, semuanya sama. Dia berbicara dengan David Beckham sama seperti dia berbicara dengan pemain baru dalam tim yang bermain bagi Stoke atau Bolton,” ujar Lampard.

“Dia adalah orang yang mudah berbaur,” kata Lampard. “Dia menyeberangi seluruh batasan dan kubu yang selalu ada dalam tim.”

Lampard pun berkesimpulan bahwa Rooney adalah orang yang “Percaya diri, sangat baik saat berbaur dan jenaka. Dan dia adalah orang yang Anda inginkan untuk jadi rekan seperjalanan bila pergi ke medan perang atau hanya sekadar ingin tertawa.”

he57_2013111410364608

Glen Johnson bercanda dengan Wayne Rooney di sesi latihan tim nasional Inggris/7msport.com

Lalu bagaimana dengan poin ketiga?

Rooney bukanlah seorang pengecut. Pada laga perempat final Piala Dunia 2006, Inggris berhadapan dengan Portugal. Saat itu Rooney diusir dari lapangan pada menit ke-62 setelah terlibat insiden dengan Ronaldo. Banyak orang mempertanyakan kelanjutan hubungan keduanya ketika kembali bermain bagi MU.

Namun, nyatanya Rooney tak mau memperpanjang masalah. Ia dan Ronaldo segera berbaikan dan bersama-sama meraih gelar juara Liga Inggris bersama MU di musim 2006/2007. Mereka bahkan kompak mencetak masing-masing 23 gol di seluruh ajang.

Tak hanya itu. Media mencatat, Rooney telah dua kali minta dijual dari MU yaitu pada 2010 dan 2013. Pertama, karena ia meragukan ambisi MU untuk mendatangkan pemain bernama besar dalam tim. Kedua, karena ia kerap dimainkan di luar posisi favoritnya sebagai penyerang tengah dan ingin mencari tantangan baru.

Walau begitu, akhirnya Rooney mengurungkan niatnya itu. Para pendukung sempat kecewa dengan sikapnya. Namun Rooney selalu menegakkan kepala, mengakui kesalahan dan membuktikan di atas lapangan. Secara tak langsung, klub pun jadi berusaha membuktikan ambisinya dengan mendatangkan van Persie pada 2012, Juan Mata semusim berselang, serta Ander Herrera dan Luke Shaw jelang musim 2014/2015 bergulir.

Soal produktivitasnya di atas lapangan, Rooney mungkin bukan predator maut seperti Ronaldo atau Messi, tapi yang ia inginkan hanyalah kemenangan. Zlatan Ibrahimovic sendiri pernah mengungkapkan rasa kagumnya pada Rooney akan hal tersebut.

“Bagi saya, Rooney bukanlah pemain yang mencetak 40 gol dalam semusim. Namun, ia adalah pemain yang menolong rekan-rekannya mencetak banyak gol karena ia bekerja untuk satu, dua atau bahkan tiga pemain lain. Rasanya ia punya mental tangguh untuk menang – seperti saya, dia tidak suka untuk kalah,” ujar Ibrahimovic.

Masih ada waktu tiga minggu lagi sebelum Liga Inggris dimulai. Sebelum itu, Rooney jelas akan menunjukkan segala yang ia bisa untuk meraih kepercayaan van Gaal. Dengan begitu, ia bisa mengunci posisi dalam tim, membuktikan kapasitas diri sebagai salah satu pemain terbaik dunia, serta menyandang ban kapten secara permanen. Ia bisa jadi pemimpin; tak hanya di MU, tapi juga di timnas Inggris.

article-2698530-1FCD485D00000578-944_638x403

Louis van Gaal dan Wayne Rooney/Daily Mail

Ini benar-benar musim terpenting dalam karier Rooney.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada Sabtu, 26 Juli 2014.