Jalan Pedang Amarzan Loebis

68125_620

Ilustrasi/Tempo.co

“Jangan percaya sama Kompas!”

Itulah respon Amarzan Loebis sesaat setelah saya mengatakan bahwa Kompas mengganti penyebutan nama Republik Ceko jadi Republik Ceska.

Kata-kata tersebut memberikan sedikit gambaran akan karakter Amarzan yang sederhana dan apa adanya. Saya berkesempatan menemuinya pada pertengahan 2010. Kala itu Amarzan datang sebagai dosen tamu mata kuliah Sejarah Jurnalistik Indonesia Modern yang diampu oleh Ignatius Haryanto.

Amarzan adalah salah satu saksi sejarah dalam perkembangan jurnalisme Indonesia. Kini, ia pun masih menjabat sebagai redaktur senior majalah Tempo. Karena itu, menarik melihat pandangannya akan jurnalisme dari sisi sejarah.

Menurut Amarzan, sejarah dan jurnalisme secara indisipliner justru berseberangan. Itu karena sejarah adalah kisah masa lampau yang biasanya diciptakan oleh para pemenang. Sejarah, selalu mewakili kisah adidaya seorang penguasa. Dalam beberapa kasus, keakuratan sejarah bahkan bisa dipertanyakan karena kisah yang ada merupakan hasil konstruksi sepihak saja.

Padahal, akurasi adalah hal nomor satu dalam jurnalisme. Jurnalisme justru wajib curiga terhadap pemangku kekuasaan. Jelas, karena salah satu fungsinya adalah menjadi yang pertama berdiri di depan untuk melaporkan kepada masyarakat bila terjadi pelanggaran fungsi kekuasaan dalam pemerintahan.

Amarzan pun mengibaratkan jurnalisme sebagai jalan pedang yang penuh dengan rintangan. “Kalau mau kaya dari jurnalisme, mending kalian enggak usah jadi jurnalis,” tegasnya.

Memang, Amarzan sendiri tidak memulai kariernya sebagai wartawan dengan mudah. Awalnya ia justru lebih tertarik menekuni sastra. Saat masih duduk di kelas 1 SMA Pembaharuan, ia pun telah banyak menulis puisi. Kurangnya tenaga pengajar serta pengakuan lebih atas kemampuan Amarzan membuatnya mendapat tawaran untuk mengajar. Alhasil, di tahun pertamanya bersekolah, ia juga berperan sebagai guru Bahasa dan Sastra di kelas 2, serta guru Tata Negara di kelas 1.

Persentuhannya dengan dunia jurnalistik pun terjadi tanpa sengaja. Di antara rumah dan sekolahnya, terdapat perusahaan Percetakan Indonesia. Karena masuk sekolah siang, Amarzan sering mampir ke sana sebelum kelas berlangsung. Ia pun belajar banyak hal, salah satunya soal mengoreksi berita.

Lama berkutat di percetakan dan melihat banyak tulisan, ia jadi tahu mana berita yang baik dan buruk. Amarzan pun ditantang untuk menulis berita lebih baik daripada orang yang tulisannya kerap ia kritik. Ternyata tulisannya diterima dan ia direkrut menjadi wartawan. Sejak itu, ia rutin menulis berita pagi dengan upah sebesar 150 perak.

Pada Juni 1958, Amarzan mendapat tawaran meliput perang pasukan separatis – Pasukan Revolusioner Republik Indonesia – di Tapanuli, Sumatera Utara. Nekat, ia memalsukan tanda tangan orangtuanya hingga mendapat izin cuti dari sekolah. Pengalaman pertama meliput perang begitu berkesan bagi Amarzan, walau akhirnya tidak terjadi bentrokan sama sekali di sana.

Selepas SMA, Amarzan masuk Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Tanpa disangka, di sana ia menemui begitu banyak hafalan. Merasa muak, ia pindah haluan masuk ke Fakultas Hukum. Ternyata, plonco terhadap anak baru di sana begitu keras. Ia kembali merasa tak nyaman dan memutuskan kembali ke Jakarta.

Kali ini ia mencoba peruntungan dengan mengambil kuliah malam di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Namun, entah kenapa ia begitu sulit untuk mencerna materi kuliah saat itu. Memang, ia kerap masuk kelas tanpa makan terlebih dahulu. Ia juga terbiasa duduk di belakang kelas hingga tulisan dosen di depan sulit terbaca akibat kurangnya penerangan. Masalahnya, Amarzan segan duduk di barisan depan karena banyak mahasiswi berkumpul di sana.

“Saya takut suara perut saya yang lapar terdengar mereka,” kata Amarzan.

Singkat cerita, ia putuskan pindah ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan mengambil fakultas yang sama. Di situ Amarzan justru merasa kondisinya terlalu santai, sehingga tak mendukung atmosfer yang tepat untuk belajar. Lagi-lagi ia tak ambil pusing dan pindah ke Universitas Udayana, Denpasar, Bali.

Tidak lama di Bali, ia mendapat beasiswa untuk kuliah ke Cekoslovakia. Namun, nasib sial terus mengiringi. Sesampainya di Cekoslovakia, ternyata jurusan jurnalistik yang ia pilih belum dibuka. Pilihan yang ada untuk menampung mahasiswa asing hanyalah jurusan balet dan teater klasik.

Dengan kecewa ia memilih kembali ke Indonesia dan masuk Perguruan Tinggi Ilmu Djurnalistik. Petualangannya belum berakhir. Pada 1963, Amarzan hijrah ke Cina. Di sana, Amarzan sekolah sembari belajar banyak hal, termasuk filsafah hidup masyarakat setempat yang hemat dan beretos kerja tinggi. Menurutnya, wajar saja bila perekonomian Cina tumbuh pesat saat ini. Etos kerja yang ditanamkan sejak lama dianggap telah melalui proses panjang hingga kini berbuah hasilnya. Jadi, kesuksesan Cina tak diraih dengan instan.

Sekembalinya ke Jakarta, Amarzan diangkat jadi redaktur Harian Rakyat yang saat itu berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena itu, koran ini ikut dibredel pemerintah pada 1965 usai G 30 S meledak dan menimbulkan banyak korban jiwa sebagai konsekuensi lanjutannya.

Maka, menurut Amarzan dunia jurnalistik Indonesia berhenti fungsinya sejak 1 Oktober 1965. Media harus bertindak sesuai “arahan” pemerintah Orde Baru. Hanya tulisan bernada positif yang boleh beredar di masyarakat. Sontak, Amarzan pun merindukan era pemerintahan Soekarno. Baginya, saat itu birokrasi lebih longgar dan jurnalisme amplop belum muncul.

Sejak saat itu pula Amarzan berhenti menjadi wartawan dan banting setir ke berbagai ranah profesi lain. Ia pun pernah jadi pelatih selancar di Ancol. Pada 1968, ia bahkan membimbing tim layar nasional untuk maju ke Olimpiade Meksiko.

Namun, pada tahun yang sama Amarzan juga ditangkap dan ditahan oleh polisi. Setelah itu, ia menghabiskan masa 11 tahun di penjara tanpa pernah diadili dan dijatuhi vonis. Rinciannya, selama dua tahun ia ditahan di Jakarta, satu tahun di Nusa Kambangan, dan delapan tahun di Pulau Buru.

“Ada masa-masa tertentu di negeri tertentu, bahwa tempat terhormat adalah di penjara,” kata Amarzan Loebis mengutip kata-kata Thomas Mann.

Pada 1979, Amarzan baru bisa bernapas lega setelah bebas dan terbukti tidak memiliki hubungan apapun dengan G 30 S. Walau begitu, tak ada kompensasi apa-apa baginya yang telah masuk bui secara sepihak selama 11 tahun.

Rasanya, banyak hikmah yang bisa kita petik dari perjalanan hidup Amarzan. Berkali-kali ia menekankan untuk memegang teguh prinsip yang ada dan tak begitu saja menyerah pada topeng kemunafikan. Kita pun seakan diajak untuk membuka wawasan dan berproses lebih baik lagi setiap waktunya.

“Seorang jurnalis yang baik harus tahu segala tentang sesuatu dan sesuatu tentang segala,” kata keponakan Mochtar Loebis itu.

Selain itu, perjalanannya menuntut ilmu dari satu kampus ke kampus lain semakin menegaskan sifat Amarzan yang tak mudah menyerah dan senang bertualang. Sekali merasa tak nyaman dengan kondisi sekitar, ia akan pergi mencari suasana baru di lain tempat dan waktu.

Itu pula yang membuatnya dengan lantang berkata, “Jangan percaya sama Kompas!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s