Sehari Bersama Vandana Shiva

???????????????????????????????

Vandana Shiva (kanan) di Kediri/Viriya Paramita

Vandana Shiva mengunjungi Indonesia. Salah satu agendanya bertemu dengan petani di Kediri, Jawa Timur. Saya mengikuti perjalanannya ke Kediri, merekam dalam ingatan apa yang ia lakukan dan menuliskan keping-keping pikirannya yang tajam dan berpihak.

Beberapa tahun lalu Vandana Shiva terlibat debat soal masa depan pangan. Kala itu seorang ilmuwan berkata padanya, “Dr Shiva, terima saja fakta bahwa di masa depan, tak akan ada lagi makanan dan tak akan ada lagi petani. Kita semua akan memakan pil setiap harinya.”

“Makan saja sendiri pil Anda, kami akan tetap menjaga makanan kami,” balas Vandana.

Vandana memang keras bila bicara tentang kedaulatan pangan, khususnya benih dan petani. Ia telah berkeliling dunia untuk mempromosikan hal ini. Indonesia pun salah satu persinggahannya. Pada 16-23 Agustus 2014 ia menyambangi Depok, Kediri, dan Bali untuk berdiskusi dengan masyarakat setempat, dari petani hingga para pakar.

Dalam sesi diskusi di Desa Kwadungan, Kediri, Vandana dengan tegas berkata bahwa dominasi korporasi akan benih merupakan bentuk kolonialisme baru yang menjajah kehidupan petani selama ini.

“Jika dulu penjajahan dilakukan dengan mencari rempah-rempah, sekarang mereka mencari benih. Dengan menguasai benih, akan menguasai pangan. Dengan menguasai pangan, akan menguasai masyarakat,” katanya.

Saat ini 90 persen perdagangan pangan dunia dikuasai lima perusahaan transnasional: Cargill, Bunge, Archer Daniels Midland, Marubeni, dan The Noble Group. Sedangkan 99,9 persen pengelolaan benih transgenik dikuasai enam korporasi. Monsanto jadi yang paling dominan dengan memegang 90 persen di antaranya.

Produk rekayasa genetika –kerap disebut Genetically Modified Organism– mulai dikembangkan pada periode 1996-2010. GMO diciptakan dengan menyisipkan gen asing pada tanaman, misalnya bakteri Bacillus thuringensis (Bt) pada benih jagung atau kedelai. Salah satu efeknya, tanaman itu bisa tahan dari serangan hama dan meningkatkan hasil produksi petani.

Benarkah semudah itu?

Menurut Vandana, selama ini petanilah yang menemukan berbagai varietas pangan untuk ditanam. Kemudian perusahaan besar mengambil dan mematenkannya sehingga petani tak lagi bisa membudidayakan sendiri. Mereka pun menjualnya kembali pada petani dengan harga berkali lipat. Karena itu, hidup petani jadi tergantung pada benih yang dijual korporasi.

“Sekarang semakin banyak petani yang tersingkir dari lahannya dan hanya bisa menjadi buruh. Itu terjadi karena para petani selama ini ‘dihukum’. Mereka tak mendapat pembagian keuntungan yang adil atas apa yang mereka produksi. Mereka terlibat utang besar karena harus membeli benih dari perusahaan, kemudian menjual lahannya dan menjadi budak. Jadi, kedaulatan benih adalah soal martabat dan keadilan,” tuturnya.

Vandana tahu betul soal ini karena sebuah tragedi di kampung halamannya. Pada 1995 Monsanto bekerja sama dengan perusahaan lokal Mahyco memperkenalkan benih transgenik yang telah disisipkan bakteri Bt di India. Sejak itu Monsanto menancapkan kukunya di sektor pertanian India.

Benih, yang tadinya merupakan sumber daya umum para petani, berubah jadi properti mahal nan terbatas. Benih transgenik keluaran Monsanto bersifat steril sehingga tak bisa dikembangkan lagi. Tiap tahun petani harus membeli benih baru pada perusahaan karena korporasi mematenkan berbagai varietas benih.

Banyak kebun kapas terpaksa diubah jadi lahan monokultur karena menggunakan benih transgenik. Kebun tersebut jadi lebih rentan terhadap hama, penyakit, dan risiko gagal panen. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Banyak kebun kapas yang gagal panen sesuai harapan. Para petani terlibat utang besar dan sebagian memilih bunuh diri.

600_india

Petani di India/NYTimes

Menurut Vandana, setidaknya 300 ribu petani lokal bunuh diri sejak masuknya Monsanto ke India. Karena itu, ia mengecam keras monopoli Monsanto atas benih dan menyebut mereka telah melakukan genosida atau pembunuhan massal.

Vandana lalu menggagas gerakan Navdanya di India. Hingga kini Navdanya telah membangun setidaknya 111 bank benih di berbagai penjuru India sehingga petani lokal tak lagi menggantungkan hidup dengan membeli benih dari perusahaan. Mereka pun mendidik petani tentang konsep kedaulatan benih dan pangan serta sistem pertanian berkelanjutan untuk generasi selanjutnya.

“Butuh waktu sekitar empat tahun bagi kami untuk menemukan varietas asli kapas di daerah-daerah terpencil dan membangun bank benih berisi jenis kapas asli itu,” kata Vandana. “Kami juga memanen dan menenun sendiri kapas organik ini dan mewarnainya dengan pewarna alami. Kami menyebut gerakan ini sebagai kemerdekaan serat, sementara kapas transgenik adalah bentuk perbudakan serat.”

Setiap tahun Navdanya juga melakukan survei jumlah produksi kapas transgenik dibandingkan dengan kapas organik. Terbukti kapas organik dapat menghasilkan tiga hingga lima kali lebih banyak daripada kapas transgenik.

Vandana menjabarkan konsep kedaulatan benih dalam diskusi di Kediri. Namun, Sutrimo mengernyitkan dahi. Sejak awal ia memilih duduk di barisan depan dan rajin mencatat apa penjelasan Vandana. Sutrimo Ketua Gabungan Tani Maju, lembaga swadaya masyarakat bidang pertanian di wilayah Kediri.

“Masalahnya benih dari perusahaan di sini bisa produksi sampai 11 kuintal. Kalau pakai benih lokal cuma bisa 7 kuintal. Benihnya juga sering kedaluwarsa, nggak bisa ditanam lagi kalau disimpan kelamaan,” gumam Sutrimo.

Seorang kawan di sampingnya pun mengangguk setuju. Sutrimo pun yang pertama tunjuk tangan saat sesi tanya jawab. Ia menanyakan masalah tersebut.

“Benih yang baik tidak punya tanggal kedaluwarsa, asal disimpan dengan baik. Navdanya punya benih yang telah berusia 40 tahun dan masih bisa tumbuh. Bila benih punya tanggal kedaluwarsa, pasti ada yang salah di situ,” jawab Vandana.

“Ada dua kemungkinan: itu benih buatan pabrik yang telah dicampur bahan-bahan kimia atau benih itu sudah dimanipulasi jadi transgenik sehingga tidak bisa tumbuh dengan baik.”

Pengembangan benih lokal di kalangan petani jadi semakin penting dewasa ini. Butuh kerja keras untuk meminggirkan dominasi korporasi dan memerdekakan benih pangan.

Kuncoro, petani yang mengikuti diskusi sejak awal, mengerti soal ini. Warga Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kediri, ini menjadi petani sejak awal 1980-an. Pada 1985 ia tertarik belajar untuk mengembangkan benih.

“Saya mencoba sendiri dengan melihat cara PT Bisi menanam di sekitar lahan saya. Ternyata jagung lokal bisa diutak-atik gennya. Jagung itu kan ada yang warnanya merah dan kuning keemasan. Nah, bagaimana caranya agar yang merah bisa berubah jadi kuning keemasan? Ternyata caranya dengan pembungkusan bunga atau pemangkasan buah yang sesuai,” katanya.

Selama 8 tahun Kuncoro mencari metode yang tepat. Pada pertengahan 1990-an, jagung hibridanya mulai membuahkan hasil. Pada 2000 ia mengajarkannya pada para petani lokal lain. Alhasil, benih jagung Kuncoro digemari karena bisa menghemat biaya produksi dan tak perlu lagi membeli benih pabrikan.

“PT Bisi juga membuat benih hibrida. Mereka mengakui benih itu miliknya dan kami nggak boleh mengembangkannya sendiri. Pada tahun 2001-2006 ada 13 petani ditangkap polisi. Pada 2010 saya ditangkap. Kami semua dikenai pasal budi daya tanaman tanpa izin,” katanya.

Kuncoro dipenjara 7 bulan dan petani lain dihukum kurungan 1 hingga 3 bulan. Beberapa lembaga swadaya masyarakat petani melayangkan gugatan pada Mahkamah Konstitusi, September 2012. Mereka menyoal UU Nomor 12 Tahun 1992 tentang sistem budi daya tanaman yang dianggap mempersempit ruang gerak petani lokal.

“Waktu itu kami bilang, kalau begini terus semua petani Indonesia yang coba menangkar benih pasti akan dipenjarakan. Untungnya pada 2013 Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan kami,” kata Kuncoro.

???????????????????????????????

Kuncoro, petani Kediri yang pernah ditangkap polisi karena mengembangkan benih sendiri/Viriya Paramita

Vandana mengapresiasi perjuangan para petani Kediri. Menurutnya, seluruh petani memang harus bergandengan tangan dan berjuang bersama untuk meraih kemerdekaan sendiri.

Ada tiga langkah sederhana untuk memastikan kegiatan bertani tetap terjaga. Pertama, lahan pertanian harus tetap berada di genggaman petani. Benih pun harus dikuasai petani agar mereka tidak menjadi semakin miskin. Kemudian, petani harus mendapat jatah pembagian keuntungan yang adil atas hasil produksi mereka. “Jatah yang adil itu datang dari perdagangan yang adil,” kata Vandana.

Dengan menjaga keberagaman, diharapkan petani terhindar dari krisis pangan. Makanan sehat, kata Vandana, datang dari kebun sendiri, bukan dari industri yang menyediakan makanan siap saji seperti junk food. Semakin kaya tumbuhan yang dipunya, semakin banyak nutrisi yang bisa dikonsumsi anak-cucu. “Keanekaragaman hayati adalah resep utama untuk menyelesaikan masalah malnutrisi dan kelaparan,” tegasnya.

Vandana juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam menjaga keberagaman lingkungan. Menurutnya, selama ini perempuan tak mendapat porsi yang cukup untuk ambil peran karena budaya patriarki yang masih kental menyelimuti di berbagai belahan dunia. Ia mengambil contoh sederhana dengan melihat aksi pebisnis Amerika Serikat, Bill Gates, yang menjadi salah satu penyumbang dana terbesar dalam pengembangan GMO di Monsanto dan perusahaan pangan Cargill.

“Saya akan menjelaskan masalah ekofeminisme dalam satu kalimat saja. Tuan Gates bilang hanya GMO yang bisa menyediakan vitamin A dan zat besi dalam pisang yang dihasilkannya. Itulah bentuk patriarki kapitalis sesungguhnya,” kata Vandana.

“Para perusahaan itu hanya ingin melakukan apa yang sudah kalian semua lakukan selama ini. Di India, mereka ingin mengembangkan pisang berzat besi tinggi, tapi mereka sudah memilikinya terlebih dulu. Di Uganda, mereka ingin membuat pisang kuning, padahal pisang adalah makanan pokok di Uganda, seperti nasi untuk kalian di Indonesia.”

Dalam konsep marxisme kultural, Karl Marx dan Frederick Engels menganggap basis ekonomi masyarakat terdiri atas hubungan produksi ketika budaya dan ideologi terbentuk untuk membantu mengamankan dominasi kelas sosial yang berkuasa. Kini, Vandana menganggap korporasi telah bertindak terlalu jauh sebagai kelas yang berkuasa untuk menindas kelas pekerja seperti buruh.

“Sekarang ada lima perusahaan global yang menguasai makanan, air, dan produksi. Bahkan Marx pun akan terkejut melihat hal ini. Globalisasi yang dilakukan korporasi ini adalah bentuk tatanan baru,” ujarnya.

Karena itu, Vandana berharap globalisasi tidak sampai mengikis kebudayaan dan kearifan lokal di Indonesia ataupun berbagai negara lain di seluruh dunia.

“Kita tak akan membiarkan kreativitas petani dihalangi oleh kreativitas semu para perusahaan yang ingin mencuri keanekaragaman hayati dan mengklaimnya. Para perusahaan itu hanya menyuntikkan gen ke dalam pisang lalu memberantas kemerdekaan kita,” katanya.

Vandana mengingatkan kita kembali akan sejarah penemuan pisang. Ribuan tahun lalu, Alexander Yang Agung datang ke India dan melihat pisang pertama kali di sana. Kala itu disebutkan bahwa pertapa memakan banyak pisang dalam keseharian. Alexander pun kembali ke kampung halaman dan menceritakan penemuannya akan pisang.

“Itulah mengapa nama ilmiah untuk pisang dahulu adalah musa sapientum yang berarti makanan bagi orang bijak. Mari kita tetap mempertahankan maknanya seperti itu, bukan mengubahnya jadi makanan bagi orang-orang tak bertanggung jawab,” kata Vandana.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 25 Agustus 2014.

Bebas Terbatas Budi Kustarto

IMG_2940

Salah satu lukisan Budi Kustarto berjudul “Dua Manusia dan Satu Gunung”/Viriya Paramita

Ada nadi Affandi dalam diri Budi. Mereka berdua adalah pelukis kenamaan beda zaman. Affandi Koesoema lahir di Cirebon pada 1907. Sementara Budi Kustarto lahir 65 tahun berselang di Banyumas. Mereka sama-sama merintis karier dari bawah dengan segala keterbatasan, serta mendapat pengakuan dengan kerja keras dan kemandirian.

Namun tak hanya itu. Dua paman Budi merupakan murid didikan Affandi. Karena itu, sejak kecil Budi telah lekat dengan dunia seni.

“Paman saya memang dulu mengurus bidang seni di sekolah. Sementara yang satunya lagi adalah pelukis baliho bioskop di Purwokerto. Selain melukis untuk bioskop, dia juga suka melukis gambar di becak-becak,” kata Budi.

Ayahnya sendiri merupakan dalang seni wayang kulit di Banyumas. Maka, wajar kala Budi fasih membuat wayang sejak duduk di bangku SMP.

Setelahnya, barulah Budi meninggalkan Banyumas ketika masuk ke Sekolah Menengah Seni Rupa di Yogyakarta. Pada 1993, ia memutuskan masuk Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mengambil jurusan seni patung di Fakultas Seni Rupa.

“Tadinya, pada 1992 aku ingin ambil jurusan desain. Tapi karena tidak diterima, akhirnya aku menganggur saja selama setahun. Saat itulah aku gabung dengan kawan-kawan di Seniman Sanggar Merdeka. Kami suka dapat pesanan dari pemerintah untuk membuat totem atau baliho berbagai jenis acara. Sampai-sampai aku pernah bekerja dua minggu di Istana Negara untuk menyelesaikan pesanan totem dan lukisan,” tutur Budi.

Sejak itulah Budi terbiasa membiayai hidupnya sendiri. Saat tak ada pemasukan, ia pun terpaksa cuti kuliah demi mencari nafkah. Pada 1995, 1997 dan 1998 ia bahkan pernah mengambil cuti dan melancong ke Swiss selama masing-masing tiga bulan. Di sana, Budi bekerja di sebuah diskotek milik kenalannya di Yogyakarta.

“Kalau dulu, teman-teman itu cukup kompak ya. Kalau aku tidak ada uang untuk makan bisa dibayarin sama mereka atau ngutang dulu di warung. Bahkan, aku pernah jual celana jeans seharga Rp 1.500 untuk biaya makan,” kata Budi.

Sejak 1994, Budi pun mulai menyertakan lukisannya dalam berbagai pameran bersama teman-teman sepermainan. Keterbatasan dana dan keasyikan melukis kemudian membuat kuliahnya terbengkalai. Ia baru lulus pada 2003 setelah mendapat ultimatum dari pihak kampus.

“Dulu di ISI itu masih bebas, tidak ada ketentuan harus lulus dalam waktu berapa tahun. Namun pada 2003 kampus bilang yang angkatan tua harus lulus tahun itu. Kalau tidak, kami akan dikeluarkan. Akhirnya aku ngebut biar segera lulus,” kata Budi.

Syahdan, Budi mulai bekerja sama dengan beberapa galeri, seperti Galeri Soka, Galeri Biasa dan Galeri Fang. Bersama Galeri Soka, ia bahkan pernah mengadakan pameran tunggal di Beijing, Tiongkok. Sementara itu, ia pernah mengikuti pameran kelompok bersama Galeri Biasa di Italia. Perlahan, Budi pun menancapkan namanya di dunia seni internasional. Negara-negara seperti Australia, Singapura dan Taiwan pernah pula jadi lokasi pamerannya.

Budi juga ikut serta dalam pameran Melihat Indonesia di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta. Pameran ini berlangsung pada 16-31 Agustus 2014, serta jadi penanda dibukanya Museum Ciputra yang didedikasikan bagi karya-karya pelukis legendaris Hendra Gunawan.

Budi unjuk gigi melalui sebuah lukisannya berjudul “…melihat diri, (manusia), dan bumi”. Di sana, terlihat sesosok pria yang sedang berdiri menyamping ke kanan dengan wajah terbungkus peta dunia.

IMG_2871

Lukisan Budi Kustarto berjudul “…melihat diri, (manusia), dan bumi”/Viriya Paramita

“Setiap orang bertanggung jawab pada hidup dan nasibnya. Melihat Bumi ini tergantung dari perilaku manusia itu sendiri. Bila setiap orang bisa mengendalikan hatinya, itu korelasinya ya dengan menjaga kehidupan ini, termasuk Bumi itu sendiri,” kata Budi.

Selain itu, salah satu karya Budi juga terpampang di ruang pameran Galeri Fang di Ciputra Artpreneur. Judulnya “Dua Manusia dan Satu Gunung”. Terlihat dua pria di masing-masing sisi dengan sebuah tali terjulur menyambung dari kedua bibirnya. Di tengahnya, sebuah gunung meletus melontarkan lahar panas buncah ke udara.

“Gunung itu aku anggap sebagai makhluk yang kita bisa belajar darinya,” kata Budi. “Perilaku gunung adalah sebuah keniscayaan. Menurut pendapatku sendiri, gunung mengikuti perintah-Nya. Sementara manusia justru berpotensi membangkang dari perintah-Nya. Maka, gunung bisa jadi lebih mulia dari sebagian manusia,” kata Budi.

Selama kira-kira tujuh tahun terakhir, Budi memang tertarik mendalami tema soal alam dan lingkungan. Itu karena menurutnya, kemajuan teknologi dan modernisasi di berbagai bidang saat ini justru kerap membawa dampak buruk pada alam.

Bagi Budi, lukisan merupakan sarana refleksi pengalaman sehari-hari. Ia pun percaya, lukisan yang baik mampu menginspirasi penikmatnya. Semua itu lahir dari kebebasan yang terbatas.

“Semakin orang memahami batasan, semakin dia menemukan kebebasan. Semakin orang berontak dengan batasan seperti norma, budaya, etika dan lainnya, semakin dia akan terbentur dengan kebebasannya,” kata Budi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 25 Agustus 2014.

Jakarta Sepeninggal Jokowi

7229_basuki_tjahaja_purnama_ahok_menjadikan_dki_bapak_yang_baik

Basuki Tjahaja Purnama/Intisari-Online

Zhong Wan Xie lahir di Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966. Ia lahir dalam masa transisi di awal rezim Orde Baru. Kala itu kondisi serba sulit. Pemerintahan Soeharto menerapkan kebijakan asimilasi bagi seluruh warga keturunan Cina.

Sekolah berbahasa Mandarin ditutup. Seluruh kegiatan yang berhubungan dengan budaya Cina dilarang beredar di ruang publik. Rasanya sulit membayangkan anak keturunan Cina akan berkarier sebagai pejabat pemerintahan di masa depan. Sama halnya dengan Zhong Wan Xie yang kemudian lebih dikenal sebagai Basuki Tjahaja Purnama. Awal 1970-an mendiang Indra Tjahaja Purnama mengantar anaknya, Basuki, ke Bandara Hanandjoedin di Tanjung Pandan. Kepada petugas keamanan, ia berkata lantang, “Jagain anak saya, ya. Nanti kalau besar dia akan jadi bupati.”

Sontak para petugas keamanan itu tertawa. “Semua orang bilang Papa kami gila karena celetukan itu,” kata Basuri Tjahaja Purnama, adik kandung Basuki, pada tabloid Nova di awal 2013.

Tak ada yang menyangka, lebih dari tiga dekade kemudian, pada 2005 Basuki memenangi Pemilihan Kepala Daerah Belitung Timur. Kariernya gemilang. Basuki, yang kerap disapa Ahok, dekat dan berani membela hak-hak warganya.

“Ahok sudah melaksanakan program terbaik ketika memimpin Kabupaten Belitung Timur dengan membebaskan biaya kesehatan seluruh warganya,” kata mendiang Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengomentari kinerja Ahok.

Ahok pun makin dikenal ketika maju dalam Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2012 bersama Joko Widodo, yang sebelumnya juga sukses memimpin Surakarta. Ketika menang dan bersama memimpin ibu kota negara, mereka juga dengan cepat merebut hati masyarakat.

Sosok Jokowi yang kalem dan kerap blusukan, berbanding terbalik dengan gaya Ahok yang tegas dan galak dalam membenahi administrasi serta birokrasi internal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Mereka berbeda, namun saling melengkapi.

“Duet maut” itu harus terpisah kala Jokowi maju sebagai calon presiden yang diusung PDI Perjuangan pada Pemilihan Presiden 2014. Banyak yang menyayangkan, bahkan ada yang mencerca. Sebagian kelompok Islam dan komunitas masyarakat Betawi menunjukkan tak setuju jika non-muslim keturunan Cina memimpin Jakarta.

“Itu sudah sejak awal. Sejak awal titik kelemahan saya soal agama. Intinya bukan soal saya galak. Bukan. Sekelompok orang nggak bisa terima dong ‘si kafir’ jadi gubernur di ibu kota, kan. Isunya adalah orang nggak mau pilih Jokowi karena nggak rela Ahok yang ‘kafir’ jadi Gubernur DKI. Aku tegasin saja isu SARA-nya itu,” kata Ahok pada Juni lalu.

Meski demikian, Ahok tetap maju jalan. Ia bahkan telah menyiapkan berbagai rencana yang akan dilaksanakan bila nanti Jokowi resmi menjadi presiden dan ia “naik pangkat” sebagai gubernur. Salah satunya, Ahok berencana merombak penempatan para pejabat di bawahnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Manggas Rudy Siahaan menjadi sasaran utama mutasi. Penggantinya pun akan dicari dari lingkungan Dinas Pekerjaan Umum. Namun bila kinerjanya masih di bawah ekspektasi, Ahok tak segan untuk menggantinya lagi.

“Sampai pertengahan 2015 saja saya akan ambil kepala dinas dari orang PU. Tapi sampai situ saja. Saya akan lihat kinerjanya,” ujar Ahok. “Supaya jangan sampai orang nilai saya suudzon sama dinas PU. Saya nggak yakin sama kinerja orang PU. Kalau memang sampai 2015 orang PU pengganti Manggas Rudi Siahaan juga buruk, kita akan ambil dari luar.”

Endang Widjajanti, Kepala Badan Pengelola Keuangan Daerah, juga menjadi sasaran mutasi. Itu terjadi karena banyak temuan miring dari Badan Pengawas Keuangan soal aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Nama-nama lain yang disebut Ahok akan digeser jabatannya adalah Krisdianto (Wali Kota Jakarta Timur), Saefullah (Wali Kota Jakarta Pusat, yang akan menjadi Sekretaris Daerah DKI), serta Heru Budi Hartono (Wali Kota Jakarta Utara) yang akan dinaikkan jabatannya.

“Mekanisme sesuai proses saja. Panggil Sekda, tentuin gimana gesernya sesuai golongan. Ya, jalan saja. Kemudian akan kirim surat kepada Menteri Dalam Negeri,” kata Ahok.

Lelang jabatan akan dilakukan untuk mengisi kekosongan, walau kriteria peserta seleksi belum resmi dijabarkan. “Itu harus seizin Presiden. Minimal dari orang dalam saya masih kasih kesempatan tahun ini. Tapi kalau tidak bagus, saya mau silang dari orang luar,” kata Ahok.

Ahok juga akan serius mengawal pembangunan berbagai sistem transportasi umum untuk mengurai kemacetan lalu lintas. Salah satunya proyek monorel. Menurut Ahok, PT Jakarta Monorail selaku investor tidak menepati janji untuk memaparkan rancangan konstruksi monorel yang terus mengalami perubahan. Begitu juga perencanaan bisnis serta bukti perusahaan itu memiliki modal untuk membangun monorel.

Padahal, Ahok telah memberikan toleransi selama tiga bulan kepada PT Jakarta Monorail untuk menyelesaikan seluruh dokumen tersebut. Karena itu, ia memberikan tenggat hingga September–saat ia resmi menjabat gubernur–untuk menentukan nasib monorel. “September nggak bisa tunjukkan desain konstruksi dan duitnya, gua ‘sembelih’,” katanya.

Bila proyek monorel batal dijalankan, Ahok berencana menggantinya dengan light rail train atau kereta api ringan. “Udah gua kasih tahu Pak Jokowi soal itu. Ganti LRT,” katanya.

Pembangunan mass rapid transit juga masih terus berlangsung. Proyek yang dimulai sejak Agustus 2013 ini akan menghubungkan jalur timur-barat dari kawasan Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, hingga Balaraja, Tangerang, Banten. Di jalur utara-selatan, moda transportasi ini menghubungkan Kampung Bandan hingga Lebak Bulus.

Kendala justru datang dari pemerintah. Stadion Lebak Bulus akan dibongkar untuk berganti fungsi jadi stasiun MRT. Stadion tersebut akan dipindah ke kawasan Ulujami, Pesanggrahan. Namun, izin pembongkaran stadion tak kunjung keluar dari Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo. Sehari setelah pemilihan umum, Ahok pun menelepon Jokowi untuk membahas hal itu.

“Beliau juga bilang kalau menurut tafsiran undang-undang, jika itu dibongkar ataupun dijual baru kita minta izin ke Menpora. Kalau kita pindahin stadion, nggak ada pasal yang mengatur itu,” kata Ahok.

“Sebenarnya nggak perlu minta izin ke Menpora, kecuali kita bongkar seperti kasus lapangan Persija di Menteng. Ini kan mau kita pindahin dan pindahinnya lebih gede.”

Menyikapi hal itu, Ahok berseloroh kepada Jokowi, “Aku juga pesan, ‘Pak jangan diangkat jadi apa-apa lagi ya (Roy Suryo).”

Ahok memang tanpa tedeng aling-aling dalam tutur kata. Ia tak segan menohok orang-orang yang menghalangi di tengah jalan, walau caranya tetap sesuai dengan prosedur dan hukum.

Pembangunan kampung deret yang terhambat pelaksanaannya juga akan terus dilanjutkan. Bahkan, menurut dia, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga akan memberikan sertifikat kepada warga yang menduduki tanah negara selama 15 tahun sesuai peraturan.

“Kalau tanah negara yang bukan jalur hijau langsung kita kasih sertifikat malah. Kan UU mengatakan kalau kamu lebih dari 15 tahun, kamu berhak mendapatkan tanah itu kalau nggak ada yang mengklaim,” katanya.

Prinsipnya, Ahok akan melakukan segalanya untuk membawa perubahan positif di Jakarta. “Saya mau bayar berapa pun untuk Jakarta yang lebih baru. Saya tidak peduli 2017 nanti terpilih lagi atau tidak. Yang penting Jakarta berubah,” tegasnya.

Setiap pihak diharapkan mau dan mampu bekerja sama untuk mendukung hal tersebut. Dalam prosesnya, Ahok tak sendiri. Seluruh pegawai pemerintah provinsi serta perangkat daerah seperti lurah dan camat pun diminta aktif mewujudkan Jakarta yang lebih baik.

Ahok bahkan mengimbau untuk dijatuhkan sanksi tegas bagi warga yang tak tertib menjaga kebersihan. Itu bisa dilakukan dengan menahan kartu tanda penduduk warga yang membuang sampah sembarangan. Selain itu, warga yang “bandel” akan dipersulit saat mengurus dokumen kependudukan.

“Saya ingin pastikan, wali kota saya, berani nggak? Camat saya berani nggak? RT/RW gimana? Makanya untuk RT/RW, mau saya digaji saja. Biar kayak pegawai. Bukan karena ia dipilih, jadinya kayak freelance begitu,” kata Ahok.

Gaya kepemimpinan Ahok memang berbeda dari Jokowi. Ia pun mengaku tak bisa blusukan berkeliling Jakarta setiap hari seperti Jokowi.

“Pak Jokowi bisa blusukan karena ada saya di sini. Kalau sekarang jadwal saya sudah full begini. Sekarang kalau saya blusukan ya tidak bisa,” ujar Ahok. “Nanti lihat lapangan waktu libur sajalah, Sabtu atau Minggu. Atau tengah malam, sekalian pulang.”

Meski demikian, bukan berarti pembangunan Jakarta akan berhenti setelah Jokowi naik ke kursi presiden. Seberat apa pun rintangan, Ahok akan terus melangkah. Kini kita bisa menertawakannya, tapi hasilnya mungkin baru terlihat beberapa tahun, bahkan beberapa dekade, lagi. Petugas keamanan Bandara Hanandjoedin pasti mengerti soal ini.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 25 Agustus 2014.

Dave Lumenta: Antara Musik dan Perbatasan

Dave22Online

Dave Lumenta/Felix Jody Kinarwan

Dave Lumenta seorang antropolog yang menggeluti perbatasan dan menggemari musik.

“Antropolog di zaman saya, sudah semestinya mengkritik kapitalisme,” ujar Dave suatu hari.

Dave kerap geram bila ada orang yang salah mengartikan pekerjaannya. Bahkan, ia sampai hafal betul reaksi orang awam saat pertama mendengar bahwa ia adalah seorang antropolog.

“Yang gali-gali itu, ya?”

“Belajar ilmu perbintangan, ya?”

Entah bagaimana antropolog bisa tertukar dengan arkeolog ataupun astrolog. Yang pasti, Dave sudah menyadari anggapan orang tentang pekerjaannya.

“Ya memang ini adalah pekerjaan penting, tapi tidak populer,” kata Dave.

Semua awal mulanya tak pernah Dave prediksikan sebelumnya. Pada 1961, ayahnya mendapat beasiswa dari Badan Tenaga Nuklir Nasional untuk kuliah jurusan fisika nuklir di Cekoslovakia.

Tujuh tahun berselang, ia memutuskan pindah ke Belanda mengambil jurusan elektro dengan fokus utama pada aeronautika atau penerbangan. Karena itulah Dave lahir di Amsterdam pada 12 April 1971.

Setelah lulus kuliah, ayahnya langsung bekerja di sebuah laboratorium di Belanda. Hingga kemudian Tanah Air memanggilnya pulang pada 1980 untuk membantu Industri Pesawat Terbang Nusantara.

Sejak itu Dave dan keluarga tinggal di Jakarta. Mereka kerap berpindah rumah, dari Tebet, Slipi hingga Kalibata. Pada 1989, Dave masuk fakultas seni rupa dan desain Institut Teknologi Bandung.

“Dulu saya senang menggambar, tapi setelah masuk seni rupa saya justru jadi tidak senang menggambar,” kata Dave.

Di ITB, Dave justru lebih senang bermusik daripada menyelesaikan kuliahnya. Teman-teman satu band pun berdomisili di Jakarta. Selewat dua tahun, ia memutuskan pindah ke Universitas Indonesia, Depok.

“Saat itu kebetulan Bapak saya pensiun dari pekerjaannya dan kemudian pindah menetap di rumahnya di Bandung. Jadi saya pun kembali ngekos di Depok,” kata Dave.

Karena senang dengan sejarah dan geografi, Dave mengambil jurusan antropologi di UI. Selama berkuliah di sana, ia tak lupa menggeluti musik bersama beberapa karib, salah satunya Elfonda Mekel dari jurusan hukum. Mereka sering manggung dengan nama yang terus berganti, dari Dipecat Band hingga Pantai Indah Kapuk Band.

Elfonda sendiri kemudian menggeluti serius bidang musik dan mencuat namanya setelah bergabung dengan band Dewa. Ia pun lebih banyak dikenal publik dengan nama Once. Di lain sisi, Dave justru semakin tenggelam dalam dunia antropologi. Itu semua tak lepas dari kerusuhan Mei 1998 yang menumbangkan Soeharto dan rezim Orde Baru.

mei-1998-470x306

Kerusuhan Mei 1998/akumassa.org

Dave sendiri lulus kuliah pada 1997. Namun, setelahnya ia masih sering main ke kampusnya. Syahdan, ia pun ikut terlibat dalam berbagai aksi pergerakan mahasiswa yang ramai terjadi sejak pertengahan 1997 hingga 1998.

“Yang menarik dari 1997 adalah bagaimana melihat proses orang-orang biasa ikut terpolitisasi keadaan,” kata Dave. “Saat itu pertama kalinya kita lihat mahasiswa atau mahasiswi yang kita tahu anak pesta tiba-tiba ikut turun ke jalan. Semua jadi sadar bahwa kondisinya sedang tidak normal.”

Menurutnya, titik balik munculnya kesadaran umum publik kala itu adalah ketika krisis ekonomi mulai menyerang hal-hal paling mendasar dalam hidup sehari-hari. Harga makanan dan kebutuhan lainnya sontak melonjak drastis. Kekerasan pun terjadi di mana-mana secara terbuka.

“Salah satu yang paling saya ingat adalah saat 13 Mei 1998. Waktu itu di Salemba, pertama kalinya saya lihat seorang anak kecil mengamuk dan menghancurkan mobil. Anak ini umurnya mungkin baru tujuh atau delapan tahun dan dia menghancurkan mobil Kijang sendirian. Kemarahan ini datangnya dari mana untuk seorang anak kecil?” kata Dave.

Semua pun bersatu dalam pergerakan. Ibu-ibu rumah tangga dan karyawan PLN bisa tiba-tiba menyumbang bahan makanan pada mahasiswa di kampus. Bahkan sopir bus rela mengantar Dave dan kawan-kawan secara sukarela ke gedung DPR/MPR. “Waktu itu ada penumpang ibu-ibu sampai disuruh turun karena busnya berubah arah mau ke sana,” kata Dave.

Kemudian, sisanya tinggal sejarah. Orde Baru runtuh dan Indonesia pun perlahan membangun ulang kehidupan sosial ekonominya dari puing-puing yang tersisa.

Usai reformasi, Dave bergabung dengan World Food Program, sebuah badan bentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang bertugas membantu penyelesaian krisis pangan di Indonesia. Di sana ia berperan sebagai petugas analisis krisis dan pemetaan ketahanan pangan.

Pada 1998 akhir, ia ditugaskan pergi ke Ujung Pandang (kini Makassar) untuk meneliti kondisi lapangan di sana. Melalui program itu, Dave berkesempatan untuk berkeliling Indonesia, dari Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara Timur. Dari sana, ia baru menyadari bahwa krisis yang terjadi di berbagai daerah skalanya berbeda.

“Di daerah berbasis perkebunan seperti Sulawesi Selatan, masyarakatnya justru tidak merasakan krisis. Di sana bahkan banyak petani yang kaya mendadak karena harga kakao atau cengkeh yang ditanamnya tiba-tiba melonjak berkali lipat,” kata Dave.

“Lalu saat di Buton, Sulawesi Tenggara, orang-orang melaporkan terjadi rawan pangan di sana. Namun kenyataannya tidak ada. Orang lokal justru bilang, indeks konsumsi beras mereka kecil, tapi itu karena makanan utama mereka adalah jagung. Sementara indeks konsumsi jagung tidak pernah dilaporkan ke pusat. Makanya, Pulau Jawa tidak bisa selalu jadi barometer untuk melihat kondisi Indonesia secara keseluruhan.”

Saat itu, Dave pun sempat singgah di Kalimantan Timur pada 1999. Kala itulah ia mulai tertarik dengan kondisi sosial wilayah perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia. Ketika berada di Kayan Hulu, Malinau, Dave awalnya terheran-heran melihat kehidupan masyarakat sekitar. Warga setempat kerap datang dan pergi ke Serawak untuk belanja kebutuhan sehari-hari.

“Saya datang ke sana dengan perspektif Jakarta. Makanya saya bingung kok mereka pakai mata uang Malaysia dan banyak berkeluarga dengan orang Malaysia. Makanya saya tertarik untuk mulai meneliti di sana,” kata Dave.

Id-map-borneo

Perbatasan antara Kalimantan dan Malaysia/da.wikipedia.org

Lalu ia pun mencoba peruntungan dengan mendaftar program beasiswa penelitian yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama The Nippon Foundations asal Jepang. Proposalnya diterima dan Dave pun pergi ke Serawak pada 2002 untuk tinggal meneliti di sana selama setahun lamanya. Fokusnya: kekerabatan lintas batas negara.

Di tengah proses penelitian, ia juga sempat mengikuti Borneo Research Conference di Kinabalu, Malaysia Timur, pada 2003. Ia pun mempresentasikan penelitiannya dan berada dalam satu panel diskusi bersama Noboru Ishikawa, profesor asal Universitas Kyoto, Jepang, yang juga kerap membahas masalah perbatasan.

Pertemuannya dengan Noboru membawa berkah. Dave diundang datang ke Universitas Kyoto selama dua minggu pada akhir 2003 untuk menyempurnakan penelitiannya soal Malinau-Serawak. Kampus itu memang memiliki lembaga kajian Asia Tenggara tertua di wilayah Asia.

Lembaga itu berdiri sejak 1963 dan memiliki data dan referensi lengkap di perpustakaannya soal wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Menurut Dave, kelengkapan data soal kajian yang sama di sana hanya bisa disaingi oleh Universitas Cornell, Amerika Serikat, dan Universitas Leiden, Belanda.

Setelahnya, Dave kembali ke Indonesia dan jadi peneliti lepas di almamaternya dahulu, UI. Di sana ia sempat turun kembali ke Kalimantan untuk meneliti wilayah perbatasan lain, seperti Nunukan dan Sabah. Ia bahkan sempat pergi meneliti ke Sambas bersama Noboru selama seminggu.

“Sepertinya waktu itu dia mau lihat cara kerja saya sebagai antropolog bagaimana. Jadi mengetes terselubung soal cara saya bertanya, ekstrak data dan sebagainya,” ujar Dave.

Benar saja, pada awal 2004 Noboru memberi tawaran kembali pada Dave untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Kyoto. Awalnya Dave mengira itu adalah program beasiswa S2, tapi ternyata Noboru langsung mendorongnya ikut program S3.

“Dengan bahan penelitian kamu selama ini, kamu sudah tidak perlu lewat magister. Kamu sudah punya pengetahuan soal daerahnya, dari paper kamu saya tahu kamu sudah bisa menyusun kerangka teorinya. Kalau kamu mau ini ada program beasiswa untuk PhD,” ujar Dave menirukan ucapan Noboru kala itu.

Dave pun bimbang. Di saat yang sama ia juga mendapat tawaran dari profesor asal Amerika Serikat, Reed Wadley, untuk melanjutkan kuliah di Universitas Missouri. Sejak 2001, Dave memang rutin berkorespondensi dengan Reed via surat elektronik. Dave kerap memberi bahan tambahan untuk penelitian Reed soal perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak.

Namun, saat Dave menjelaskan duduk permasalahan dan kebimbangannya, Reed justru dengan senang hati mendukungnya untuk pergi ke Kyoto. Itu karena menurutnya Kyoto adalah tempat yang tepat untuk meneliti kajian Dave selama ini, perbatasan Indonesia-Malaysia.

Alhasil, Dave berangkat ke Jepang pada 2004 dan menyelesaikan studi S3 pada 2008. Saat awal belajar di sana, ada satu pesan dari Noboru yang begitu diingatnya, “Saya tidak mau kamu seperti mahasiswa doktoral Indonesia lainnya. Mereka biasanya jauh-jauh ke luar negeri untuk mengejar dan mempelajari Indonesia, padahal fokus kajiannya adalah Asia Tenggara.”

“Saya mau kamu fokusnya soal perbatasan di Serawak.”

Sepulangnya dari Jepang, Dave memutuskan bekerja sebagai peneliti lepas terlebih dahulu selama setahun. Alasannya, ia ingin rehat sejenak dari tuntutan penelitian dan penulisan yang begitu intens selama berada di Jepang. Apalagi, ia adalah mahasiswa dari program beasiswa yang wajib lulus tepat waktu.

Saat itulah Dave mulai bermusik kembali bersama kawan-kawannya. Ia sempat ikut manggung beberapa kali bersama band SimakDialog yang beranggotakan Riza Arshad, Tohpati dan lainnya. Selain itu, ia juga kerap membantu beberapa proyek musisi Anda “Bunga” Perdana bersama band Mata Jiwa.

Dave Lumenta

Dave Lumenta, antropolog yang gemar bermusik/Felix Jody Kinarwan

Lalu Dave pun bekerja sambilan untuk World Wide Fund for Nature dan International Catholic Migration Commission (ICMC). Banyak pengalaman berharga yang ia temui saat bekerja untuk ICMC.

“Pada awal 2010 saya ke Sabah untuk ICMC. Kita mewawancarai perempuan, pekerja seks, germo, buruh kelapa sawit untuk membuat sebuah panduan untuk aparat kepolisian Malaysia agar mereka jadi lebih peka dalam menangani kasus perdagangan manusia,” kata Dave.

Memang, banyak buruh atau pekerja seks komersial asal Indonesia yang diperdagangkan ke wilayah perbatasan Malaysia. Di sana, mereka bekerja tanpa kejelasan status kewarganegaraan dan kerap ditangkap oleh aparat hukum setempat.

“Jadi tujuannya agar aparat kepolisian di sana bisa melakukan pendekatan berbeda pada korban perdagangan manusia dibanding kriminal biasa. Jadi mereka harus bisa mengatasi trauma para korban juga,” kata Dave.

Ini juga berhubungan dengan masalah tenaga kerja illegal Indonesia di Malaysia. Menurutnya, itu bisa terjadi karena sistem perekrutan sejak awal. Biasanya, para pekerja itu ditipu oleh orang terdekatnya sendiri, entah keluarga atau pacar, karena balutan utang dan desakan ekonomi.

“Orang jadi ilegal di sana juga karena tidak ada fleksibilitas untuk bisa pindah kerja. Misalnya dia tidak nyaman kerja di kebun sawit dan merasa ditipu karena gajinya tidak sesuai. Mereka juga tidak bisa pergi begitu saja karena paspornya ditahan oleh majikan. Akhirnya mereka akan kabur dan bekerja di tempat lain tanpa kejelasan status,” kata Dave.

Banyak hal yang telah dilakukan Dave selama ini, terutama dalam hal penelitian wilayah perbatasan serta isu sosial di sekitarnya. Sebagai antropolog, pekerjaan ini kerap dipandang sebelah mata. Apalagi, ada beban tersendiri ketika bekerja sebagai antropolog di Indonesia.

“Indonesia itu adalah negara yang terlalu kompleks. Jangankan Indonesia, antropolog Singapura saja belum tentu bisa menjelaskan dengan rinci soal apa itu Singapura dan kebudayaannya. Makanya kalau ada yang nanya saya soal Papua, saya tidak bisa jawab dan terlihat tolol di mata mereka. Itu karena penelitian saya selama ini fokus pada wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia,” tutur Dave.

“Kasarnya, antropolog itu tugasnya membersihkan sampah yang dihasilkan para ekonom. Misalnya pemerintah mau memindahkan desa terpencil ke dekat pusat pelayanan hingga bisa menghemat biaya, sehingga ada efisiensi biaya pembangunan. Namun ketika mereka dipindahkan dan timbul persoalan sosial karena mereka tidak nyambung dengan masyarakat baru dan kesulitan menyesuaikan diri dengan mode produksi ekonomi baru, antropolog yang dipanggil untuk turun membereskannya.”

Antropologi memang bukan ilmu pasti. Ia memberikan konteks dalam ruang sosial serta opsi bagi pemerintah dalam merancang sebuah kebijakan. Sebagai peneliti, Dave pun kerap mendapat pertanyaan soal hasil nyata pekerjaannya selama ini.

“Padahal yang penting adalah bagaimana agar data yang saya punya bisa berguna bagi masyarakat yang saya teliti,” kata Dave.

Contoh mendasarnya adalah kala Dave berkunjung ke daerah Apo Kayan, Kalimantan. Salah seorang tetua adat setempat kemudian bertanya padanya, “Kamu tahu sejarah waktu kita dulu perang melawan Suku Iban? Kami mau tahu karena warga sekarang sudah tidak ada yang ingat dan para orangtua yang mengerti juga sudah meninggal.”

Kebetulan Dave pernah melakukan riset dan memiliki data mendalam soal itu. Dari sana, ia pun terdorong untuk menyusun tulisan sejarah wilayah Apo Kayan dan memberikannya pada masyarakat setempat.

“Buat saya, itu panggilan akademik yang terpenting. Kepuasan itu datang ketika data ini berguna untuk yang berkepentingan langsung. Kalau pemerintah yang menggunakan datanya rasanya biasa saja,” ujar Dave.

“Sekarang saya sedang menulis buku hasil disertasi dahulu. Karena rasanya bila tidak meneliti dan menulis buku, kita tidak layak untuk menyandang gelar sebagai seorang akademisi.”

Selama belasan tahun lamanya Dave meneliti dan mengkaji. Hasilnya memang tak muncul secara kasatmata, dan mungkin bukan diperuntukkan bagi kita. Namun, kerja kerasnya tak akan berhenti begitu saja, selama itu bisa berguna bagi sesama.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada 21 Agustus 2014.

Edo Pillu Tak Lelah Gelisah

dari blog edo pillu (4)

Sumber: edwardpilliang.wordpress.com

Karya, bukan sekadar sarana aktualisasi diri. Bagi Edo Pillu, karya adalah sebuah penanda zaman. Karena itu, Edo selalu bekerja secara maksimal. Harapannya, karyanya bisa membawa pencerahan, pun jadi aset generasi seterusnya di masa depan.

Edo memang tak pernah puas. Selama ini, ia hidup untuk mencari ruang pembelajaran. Ia gemar mencari tantangan; mengembangkan diri dengan bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Dengan begitu, celah kreativitasnya akan selalu terjaga.

“Seniman itu bertugas melahirkan kreativitas. Karena itu, titik terendah adalah saat kreativitas macet. Saya pernah merasakan itu. Saat hidup terlalu nyaman, seniman justru mati,” kata Edo.

“Bekerja ‘kejar target’ itu membunuh. Ketika kita gelisah, tertekan dan terus mencari, itu justru kita sedang hidup. Karena, seniman harus bisa jadi katup keran untuk membuka kebosanan orang.”

Semua bermula di masa kanak Edo. Lahir di Bandung pada 5 Juni 1969, Edo kecil kerap mengamati ayahnya kala sedang melukis atau sekadar berkumpul bersama para seniman lainnya. Alhasil, darah seni dengan cepat mengalir pula dalam dirinya.

“Bahkan, saat TK saya sudah mengumpulkan tugas menggambar dengan membuat lukisan cat minyak di atas kanvas,” ujar Edo.

Pada 1990, Edo hijrah ke Yogyakarta untuk masuk ke Institut Seni Indonesia, mengambil jurusan seni patung di Fakultas Seni Rupa. Namun, kegemarannya akan melukis tak terlupa begitu saja. Sejak tahun keduanya berkuliah, ia sudah kerap memasukkan karyanya dalam berbagai pameran.

Keasyikan melukis, kuliah Edo pun tak kunjung selesai. Padahal, kala itu Edo sudah memasuki proses pengerjaan skripsi. Namun, ketika sang dosen pembimbing pergi ke Jepang, semangatnya menyelesaikan tuntutan akademis semakin pudar.

“Saya sih ringan-ringan saja. Karena, rasanya seniman itu tidak perlu ijazah. Yang penting berkarya saja semaksimal mungkin, itu sudah jadi ijazah saya. Dengan membuat karya yang bagus, lama-lama masyarakat akan menilai sendiri. Lagi pula, pengakuan sebagai seniman kan tidak datang dari diri sendiri, tapi dari orang lain,” kata Edo.

Dengan semangat tinggi, Edo terus mendalami dunia seni. Banyak fase ia lewati. Di awal kariernya, ia pun sempat menjajal berbagai medium karya, entah dua dimensi atau tiga dimensi, dari patung hingga lukisan. Edo juga mengaku pernah menggunakan tubuhnya sendiri untuk melakoni beragam seni pertunjukan.

Sebagai seniman, Edo sendiri kerap hidup seadanya. “Dunia seni ini emang tidak berkaitan dengan persoalan ekonomi. Itu hanya kegelisahan sesaat. Kita berani kere saja, yang penting bisa terus berkarya,” kata Edo.

Syahdan, ketulusannya dalam berkarya perlahan terbayar dengan sendirinya. Berbagai pengakuan kerap ia dapatkan, seperti saat jadi finalis di ajang Winsor and Newton Indonesian Art Award 1999, serta finalis ajang Phillip Morris Indonesian Art Award 2000 dan 2001. Pada 2006, Edo bahkan masuk 30 besar Sovereign Asia Art Prize di Hongkong dan jadi finalis MIAD Venado Tuerto Digital Art International di Argentina.

Banyak pameran pula yang telah Edo lakoni hingga kini, entah berskala lokal maupun internasional. Saat ini ia bahkan bekerja sama dengan Art Front Gallery dari Singapura yang kerap memamerkan karyanya ke mancanegara.

“Kira-kira beberapa tahun lalu pemilik Art Front Gallery itu punya beberapa koleksi karya saya. Lalu dia ke Jogja setahun lalu untuk cari saya dan mengajak pameran di Singapura. Kemudian, barulah dia bawa karya saya ke Taiwan, Korea, Malaysia dan kemarin juga pameran di Bazaar Art Jakarta. Ke depannya ada rencana pameran di Malaysia, Hongkong dan London,” ujar Edo.

Berbekal pengalaman segudang, Edo berhasil unjuk gigi sebagai salah satu pelukis kebanggaan Tanah Air. Berbagai tema pernah ia angkat dalam lukisannya, entah dari hasil renungan pribadi atau potret realitas sosial masyarakat sekitarnya.

dari blog edo pillu (2)

Salah satu karya Edo Pillu/edwardpilliang.wordpress.com

“Sejak kira-kira 2007, saya asyik jatuh ke tema soal kita dan Tuhan. Saya muslim, tapi saya juga gemar membaca soal ajaran Tao, Hindu, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, saya bisa memperdalam tema yang saya cintai itu,” kata Edo.

“Dari situ, saya menemukan gaya melukis yang cukup unik. Entah apa namanya, tapi saya rasa gaya ini lebih dekat ke seni monumental dalam lukisan.”

Ini terlihat pula dalam tiga karyanya yang dipamerkan dalam Bazaar Art Jakarta 2014, pada 17-20 Juli lalu. Sekilas, kita seakan melihat sosok manusia yang tenggelam dalam berbagai corak kehidupan penuh warna. Ada ruang kontemplasi yang bisa kita temukan di sana sebagai sarana refleksi diri.

“Dari sana kita bisa melihat, jika Tuhan itu tumbuhan, maka kita adalah bunga-bunga yang muncul dari pikiran Tuhan,” jelas Edo.

Selama celah kreativitasnya belum tertutup, Edo rasanya akan terus berproses, entah sebagai seniman maupun manusia ciptaan Tuhan. Bukan tak mungkin, karyanya kelak jadi buah penanda zaman.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 11 Agustus 2014.

Xavi Mundur, Duka Lini Tengah Spanyol

Sudah setengah jam berlalu. Belum ada gol tercipta di antara dua kubu. Spanyol hadapi tekanan besar. Sudah 44 tahun mereka paceklik gelar. Apalagi, Jerman bukan lawan sembarangan.

Jerman memang sedang dalam fase transisi. Namun, perpaduan pemain gaek seperti Jens Lehmann, Michael Ballack dan Miroslav Klose dengan pemain muda semacam Philipp Lahm, Bastian Schweinsteiger dan Lukas Podolski cukup menjanjikan. Mereka terakhir jadi juara Eropa pada 1996. Maka, Piala Eropa 2008 bisa jadi trofi penebusan bagi keduanya.

Namun, semua berubah di menit ke-33.

“Semua dimulai dari tendangan bebas Spanyol di bagian lapangan mereka sendiri. Dan sementara kami sedang bersiap, mereka melakukan tepat seperti apa yang ingin kami cegah sebelumnya. Mereka mengirimkan operan pendek ke tengah lapangan, dan Marcos Senna yang bergerak tanpa pengawalan, mengirimkannya bola pada Xavi,” ujar Lahm.

Xavi Hernandez bergerak leluasa mencari rekan dan mengumpan adalah hal yang paling dihindari siapapun tim yang berhadapan dengan Spanyol. Itulah yang terjadi. Umpan terobosan segera dilancarkan pada Fernando Torres yang berlari di antara Lahm dan Christoph Metzelder.

“Saya masih bisa mengungguli Torres dan dia tidak lebih cepat dari saya, tapi kemudian saya melihat Jens Lehmann keluar dari gawang dan secara intuitif saya menahan diri selama sesaat,” kata Lahm.

Setelahnya, semua tinggal sejarah. Dalam kondisi 50-50, Torres berlari kencang dengan langkah panjang dan mencungkil bola di saat-saat akhir. Gol tercipta dan jadi satu-satunya dalam laga. Spanyol menang 1-0 atas Jerman di final Piala Eropa 2008.

torresgoal

Gol Fernando Torres ke gawang Jerman di final Piala Eropa 2008/www.worldsoccer.com

Empat tahun berselang, kondisinya bahkan lebih mudah. Di Polandia dan Ukraina, Spanyol berhasil kembali melaju ke laga puncak untuk bertemu Italia. Kala itu, statusnya jelas, mana yang superior dan inferior.

Spanyol adalah raja sepak bola dunia yang berhasil menjuarai Piala Eropa 2008 dan Piala Dunia 2010. Karena itu, keberhasilan mencapai babak final justru jadi lumrah.

Sementara itu, Italia adalah tim compang-camping yang sedang berusaha membangun dirinya kembali. Bagi Italia, Piala Dunia 2010 hanyalah ajang liburan bagi para pemain tua sembari sesekali bermain sepak bola. Barulah pada Piala Eropa 2012 muncul lagi gairah dengan Mario Balotelli dan Antonio Cassano di ujung arus penyerangan tim.

Tak ada kejutan berarti. Pada menit ke-14, kombinasi para gelandang maut Spanyol telah sukses melahirkan gol. Umpan-umpan pendek dari Xavi ke Andres Iniesta dan berlanjut ke Cesc Fabregas berakhir dengan gol dari David Silva.

Setelahnya, Spanyol benar-benar dominan sepanjang laga. Pada menit ke-41, rasanya bagai déjà vu. Xavi bergerak bebas di tengah bagian lapangan Italia. Lalu ia melancarkan umpan terobosan untuk Jordi Alba yang berlari di antara Leonardo Bonucci dan Andrea Barzagli. Gianluigi Buffon segera berlari keluar gawang, laju Bonucci melambat dalam sepersekian detik dan Alba sukses mencetak gol perdananya bagi Spanyol. Gol pertama, di final Piala Eropa.

Xavi bahkan kembali jadi arsitek gol Spanyol selanjutnya oleh Torres pada menit ke-84. Padahal, Torres hanya bisa mencetak 12 gol dari 67 pertandingan dalam dua musim pertama berseragam Chelsea. Berkat Xavi, ia berhasil mencetak gol di dua edisi final Piala Eropa secara beruntun.

Pertandingan malam itu pun ditutup oleh gol Juan Mata empat menit berselang. Spanyol jadi tim pertama dalam sejarah yang menjuarai tiga kompetisi besar secara beruntun: dua Piala Eropa dan satu Piala Dunia. Pencapaian yang rasanya sulit untuk terulang oleh tim manapun dalam waktu dekat.

Spain v Italy - Group C: UEFA EURO 2012

Pada pertandingan fase grup Piala Eropa 2012, Spanyol telah berhadapan dengan Italia. Xavi ditekan, hasil imbang 1-1/amfm-magazine.com

Karena itulah Xavi sempat memutuskan untuk pensiun dari tim nasional usai kemenangan di Polandia dan Ukraina. “Saya berencana pensiun setelah Piala Eropa 2012, tapi pelatih kepala Vincente del Bosque merayu saya agar bertahan dan ikut pergi ke (Piala Dunia 2014) Brasil, yang mana tentu saja jadi kekecewaan besar bagi setiap orang dan saya sendiri secara individu,” kata Xavi.

Namun, siapa yang rela mengizinkan Xavi mundur begitu saja? ESPN mencatat, setidaknya Xavi telah menghasilkan 123 assist dalam satu dekade terakhir bagi Barcelona dan Spanyol. Ia adalah maestro lapangan tengah sepak bola. Saat dibutuhkan, ia pun kerap mencuri perhatian dengan gol-golnya. Sepanjang kariernya, Xavi telah mencetak 83 gol untuk Barcelona dan 13 gol untuk Spanyol.

Sejak menembus tim utama pada musim 1998/1999 hingga kini, Xavi telah bekerja sama dengan sembilan pelatih berbeda di Barcelona, dari Louis van Gaal hingga Luis Enrique – yang sempat pula bermain bersama Xavi di awal karier sebagai pemain. Sejak pergantian milenium baru, Xavi pun lekat dengan posisi inti. Pada musim 2004/2005, ia bahkan resmi jadi wakil kapten tim.

Telah bertumpuk gelar yang Xavi raih, entah secara kolektif ataupun individu. Tujuh gelar La Liga, dua Copa del Rey dan tiga trofi Liga Champion rasanya cukup membuktikan kapabilitas Xavi. Ia pun sempat masuk peringkat ketiga pemain terbaik dunia versi FIFA pada rentang waktu 2009-2011.

Xavi memang jenius, karena bisa membangkitkan kejeniusan pemain lain. Jelang semi final Piala Dunia 2010 antara Spanyol dan Jerman, pelatih Joachim Loew sempat mengungkapkan hal senada.

Saat itu pers bertanya pada Loew, siapa pemain yang paling dikhawatirkannya dari kubu Spanyol, apakah Torres atau David Villa? Bukan. Kala itu Loew menunjuk Xavi sebagai pemain yang harus dimatikan pertama kali.

“Xavi adalah pusat dari tulang punggung permainan tim mereka yang sempurna,” kata Loew.

Villa dan Torres memang berbahaya, tapi mereka bisa dihentikan “dengan menekan Xavi sejak menit pertama.”

Ucapan Loew akhirnya terbukti dengan sendirinya. Saat itu Spanyol menang 1-0 melalui gol sundulan Carles Puyol memanfaatkan umpan tendangan sudut dari Xavi.

Akun Twitter resmi Opta Sports, OptaJoe, bahkan sempat merilis data jumlah operan yang Xavi buat bagi Spanyol di ajang yang sama.

“Xavi berhasil membuat 599 operan di Piala Dunia 2010; lebih banyak dari jumlah yang pernah dibuat pemain manapun dalam satu ajang turnamen sejak 1966. Luar biasa,” cuitnya pada 5 Agustus 2014.

Kehebatan Xavi dalam mengontrol permainan, mengatur tempo, menciptakan ruang ataupun memberikan umpan memang luar biasa. Itu telah jadi rutinitas Xavi, tak terpisahkan dalam bagian permainannya.

“Itulah yang saya lakukan, mencari ruang. Sepanjang hari, saya selalu memperhatikan sekeliling,” kata Xavi suatu hari.

800px-Xavi_spain_england

Xavi mencari ruang/vivafootballcalcio.com

Maka, wajar kala legenda Belanda dan Barcelona, Johan Cruyff, berujar, “Siapa yang mempertanyakan kemampuan Xavi adalah idiot; mereka tak tahu apa yang mereka bicarakan. Dia adalah pemikir terbaik dalam tim.”

Maka, 5 Agustus 2014 adalah waktu berduka bagi tim nasional Spanyol kala Xavi mengucapkan kata perpisahan dari dunia sepak bola internasional. Mereka telah kehilangan salah satu pilar lini tengah terbaiknya dalam lebih dari satu dekade terakhir. Perpisahannya memang berujung bencana di Piala Dunia 2014, tapi itu hanyalah setitik debu dalam mahligai karier Xavi yang bergelimang gelar.

“Realita nyatanya berjalan lebih baik daripada mimpi-mimpi saya selama ini,” kata Xavi.

Kini Torres mungkin sedang panik; siapa yang akan memberinya umpan terobosan di laga-laga penting Spanyol selanjutnya? Masih ada Iniesta atau Fabregas tentunya. Namun, itupun bila Spanyol masih tertarik memanggil Torres kembali.

 

NB: Tulisan ini pertama kali dimuat di media online GeoTimes.co.id pada Kamis, 7 Agustus 2014.

Memulai yang Telah Usai

IMG_2535

Senja/Viriya Paramita

Saya sempat keranjingan main Championship Manager (CM) saat kelas 5 SD. Dalam permainan itu, kita berperan sebagai manajer tim sepak bola dari berbagai belahan dunia. Saya selalu pilih menangani Manchester United (MU). Saat sudah bermain, tak terasa waktu terbang begitu saja.  Saya sampai harus membagi jam main yang adil dengan kakak di rumah. Bila terlewat lima menit saja, yang satu bisa ngamuk dengan yang lainnya.

Selama bertahun-tahun saya asyik bermain CM. Bahkan, saya pernah memulai permainan dari musim 2001/2002 dan berakhir di musim 2012/2013. Saat itu, rasanya seluruh nama pemain yang ada di sana sudah tak lagi bisa dikenali. Para pemain bintang asli dari dunia nyata telah pensiun, digantikan pemain muda rekaan atau hasil didikan akademi klub.

Saat SMA, barulah saya berganti haluan ke Football Manager (FM), permainan serupa hasil pecahan pengembang CM sebelumnya. Buat saya dua-duanya sama menarik, serta menyajikan detail data yang luar biasa soal kemampuan pemain dan pelatih lintas benua. Saya sampai girang betul kala menemukan profil Bambang Pamungkas di tim nasional Indonesia. Seingat saya, kemampuan sundulannya ketika itu dihargai poin tertinggi oleh CM, yaitu 20.

Para pelaku sepak bola di dunia nyata juga memberi apresiasi serupa. Pada November 2008, klub asal Inggris, Everton, bahkan meneken kontrak dengan FM agar bisa mendapat database lengkap sekitar 370 ribu pemain dari seluruh dunia. Dengan begitu, Everton bisa mengendus bakat pemain muda atau pelatih jempolan yang belum terkenal hanya dengan mengintip data dari FM itu.

Saya ingat benar, kala menangani MU saya kerap mempromosikan beberapa pemain muda dari tim junior dan memainkannya di laga-laga penting. Misalnya saja Michael Stewart, Bojan Djordjic atau Jimmy Davis. Stewart adalah gelandang tengah, sementara Djordjic main di sayap kiri dan Davis sebagai striker. Ketiganya terlihat menjanjikan karena punya beberapa angka 20 di profilnya.

Memang, pada kenyataannya tak ada satupun dari mereka yang benar-benar bisa menembus tim utama MU. Saat masuk kuliah, saya pun mulai jarang main FM hingga nama-nama itu perlahan terlupa. Kini, 12 tahun telah terlewati sejak saya pertama kali menjajal game CM. Namun, tiba-tiba saya teringat kembali akan pasukan muda saya dahulu tanpa sengaja.

Beberapa bulan lalu saya membeli autobiografi Sir Alex Ferguson versi bahasa Indonesia. Buku itu memang terbit setelah Fergie memutuskan pensiun dari sepak bola pada akhir musim 2012/2013. Walau begitu, selama ini buku itu hanya tersimpan rapi di rak dalam kamar rumah. Saya baru sempat membacanya hingga habis dua hari lalu.

Ada satu pembahasan Fergie yang menarik perhatian saya. Dalam salah satu bab, ia mengenang kembali perjalanan MU di musim 2003/2004. Kala itu, mereka hanya bisa finis di posisi ketiga klasemen akhir Liga Inggris, tapi sukses menjuarai Piala FA melalui kemenangan 3-0 atas Millwall di laga puncak. Namun, bukan itu yang menarik perhatian saya. Tiba-tiba, Fergie menyentil kenangan masa kecil saya dengan paragrafnya di akhir bab.

“Tahun itu juga diwarnai dukacita: kematian Jimmy Davis dalam kecelakaan lalu lintas. Jimmy, 21, adalah seorang yang cemerlang dan riang. Dia juga memiliki potensi. Andai masih hidup, dia bisa punya karier sepak bola yang bagus. Kami meminjamkan dia ke Watford. Dalam perjalanan menonton pertandingan yang akan dilakoni oleh sekolah sepak bola kami pada Sabtu pagi, saya mendengar bahwa pertandingan Watford yang akan dilakukan pada sorenya, ditunda. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Lalu, ketika pertandingan berlangsung saya diberi tahu mengenai kematian Jimmy dalam kecelakaan.”

“Dia anak yang ulet, sangat populer. Banyak orang dari klub hadir di pemakamannya. Dua tahun kemudian, pada satu acara resepsi pernikahan, saya merasakan deja vu. Selagi para tamu berfoto di luar, pendeta mendatangi saya dan berkata, ‘Apakah Anda mau melihat makam Jimmy?’ Saya belum menyadari bagaimana hubungannya, dan saya jadi merinding. Sedih sekali rasanya. Dia tidak akan dilupakan oleh Manchester United.”

***

Minggu lalu, pada Jumat dini hari, saya tiba-tiba ditelepon oleh Jody, rekan sekantor sekaligus karib sejak masa kuliah.

“Wir, Bapaknya Mando meninggal jam 11 malam tadi.”

Mando, adalah adik kelas saya di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang. Usianya sama, tapi telat masuk kuliah hingga Mando berbeda dua angkatan dengan saya di sana. Ia adalah anak yang periang dan mudah berbaur dengan kawan-kawan lintas jurusan ataupun angkatan. Saya pernah aktif dalam satu kelompok teater bersama Mando. Selama kira-kira dua tahun bekerja sama dengannya, saya terkesan dengan etos kerja Mando. Buat saya, dia adalah salah satu orang lapangan yang paling bisa diandalkan.

Sejak lulus kuliah dan kerja di Jakarta, saya jarang bertemu dengan Mando. Namun tiap kali tak sengaja berjumpa, kami pasti bertegur sapa dan bertukar obrolan seru. Dia senang sekali jalan-jalan, terutama naik gunung bersama perkumpulan mahasiswa pecinta alam di kampus. Mando memang tangguh, dan kerap bekerja tanpa mengeluh.

Syahdan, saya segera datang ke RS Medistra di Jalan Gatot Subroto, Kuningan. Saat bertemu Mando, saya lihat matanya sembab. Ia pun kerap menangis saat menceritakan kembali soal ayahnya pada saya. Baru kali ini saya lihat Mando menangis, dan saya jadi sungguh tak tega melihatnya.

Rasa kehilangan memang bisa meruntuhkan pertahanan terbesar dalam diri kita. Papa saya juga orang yang kuat dan tegas dalam kesehariannya. Saya hanya pernah sekali melihatnya menangis. Saat itu saya masih kelas 1 SD. Pada suatu pagi, saya terbangun mendengar keriuhan di dalam rumah. Rupanya orang rumah baru dapat kabar kalau pesawat yang ditumpangi nenek dan paman saya mengalami kecelakaan, jatuh di Palembang.

Kala itu, papa sampai menangis terisak tak kuat menerima kabar duka yang menimpa ibu dan adiknya. Sementara saya cuma bisa termangu melihat semuanya.

Buat saya, kematian adalah hal yang abstrak. Kematian selalu membawa duka; ada yang selesai dan baru saja dimulai setelahnya. Namun, apalah yang berarti dalam hidup tanpa kematian. Kita justru jadi berjuang sekuat tenaga untuk meraih yang terbaik sebelum ajal menjemput tak terduga. Tak ada yang kekal, hingga hidup jadi mahal.

Jimmy Davis meninggal di usia sangat muda. Saya memang mengenali kematiannya kira-kira satu dekade setelah kejadiannya. Namun rasa duka tetap menyeruak buncah tak terkira. Skalanya jelas beda dengan apa yang dirasakan Mando atau papa saya. Walau begitu, mereka semua adalah orang-orang yang pernah membekas dalam diri yang ditinggalkannya. Mereka tiada, tapi selalu ada dalam kenangan kita.

Suatu kali saya pernah berujar, kita bisa mengukur seberapa berharganya hidup kita dengan menghitung jumlah pelayat yang datang ke pemakaman kita. Rasanya hal ini senada dengan ujaran Albert Pike, seorang pengacara dan penulis asal Amerika Serikat.

“Apa yang telah kita lakukan untuk diri kita sendiri ikut mati dengan kita; apa yang telah kita lakukan untuk orang lain dan dunia tetap bertahan dan akan abadi selamanya.”

Trio Klenteng Tangerang

Sejak ribuan tahun lamanya, klenteng adalah tempat ibadah warga keturunan Tiongkok yang menganut kepercayaan tiga ajaran nabi besar: Buddha, Kong Hu Cu (Confucius) dan Lao Tze (yang membabarkan taoisme).

Tangerang sendiri, khususnya daerah Pasar Lama, telah memiliki klenteng sejak abad ke-17. Saat itu, tepatnya pada 1684, warga pendatang dari Tiongkok — yang umumnya merupakan pedagang — memutuskan untuk membangun Klenteng Boen Tek Bio sebagai tempat beribadah, serta pusat berkumpulnya orang-orang dari komunitas setempat. Awalnya, bangunan yang ada hanya berbentuk seperti rumah biasa. Namun pada 1844 dan 1904, dilakukan renovasi untuk memugar serta memperbesar klenteng tersebut.

Lima tahun berselang sejak didirikannya Boen Tek Bio atau pada 1689, dibangun pula Klenteng Boen San Bio. Lalu pada 1694, dibangun pula klenteng Boen Hay Bio yang melengkapi trio klenteng di Kabupaten Tangerang.

Kini, sejak kabupaten tersebut dimekarkan oleh pemerintah, ketiga klenteng itu terpisah letak kotanya secara geografis. Boen Tek Bio dan Boen San Bio berada di Kota Tangerang, sementara Boen Hay Bio berada di Kota Tangerang Selatan. Uniknya bila diperhatikan pada peta, letak ketiga klenteng tersebut berada pada satu garis lurus.

“Tek” sendiri memiliki arti kebajikan, atau juga kota. Sementara itu “San” bermakna gunung dan “Hay” bisa diartikan sebagai laut. Maka, secara etimologis ketiga klenteng ini dianggap melambangkan kebajikan yang diharapkan setinggi gunung dan seluas lautan. Sementara itu, “Boen” dan “Bio” secara berturut berarti benteng dan klenteng.

Tiap klenteng tersebut memiliki “tuan rumah” masing-masing sebagai sosok “pelindung”. Boen Tek Bio memiliki Dewi Kwan Im (Kwan Im Po Sat) yang terkenal akan welas asihnya, Boen San Bio dengan Dewa Bumi (Hok Tek Tjeng Sin) yang tersohor akan kebajikan dan jasanya bagi masyarakat, serta Boen Hay Bio dengan Dewa Perang (Kwan Kong) yang memiliki keberanian, kesetiaan dan jiwa berkorban tinggi.

Sama halnya dengan Boen Tek Bio, Boen San Bio dan Boen Hay Bio juga telah mengalami beberapa kali pemugaran. Almarhum Hans Arif Budiman dianggap sebagai sosok yang berjasa bagi Boen San Bio, setelah memimpin dan mengerjakan sendiri proses pembangunan tiga bangunan penting di sana, yaitu Ruang Dhammasala (tempat beribadah), Pendopo Peh Cun (tempat memperingati dan melakukan upacara tradisional, yang melambangkan penghormatan bagi jasad seorang tokoh berpengaruh yang tenggelam dan tewas di sebuah sungai di Tiongkok), serta makam Mbah Raden Suryakentjana.

Selain itu, Boen San Bio pun berhasil mencatat 10 rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI), untuk kategori lampion terbanyak, hio terbesar seberat 4,8 ton yang terbuat dari batu giok, memiliki 17 Kiem Sin (patung dewa-dewa) dari batu onyx, dan berhasil menegakkan 1.150 telur dalam waktu hanya beberapa menit yang dilakukan oleh 108 orang.

Ketiga klenteng ini juga menyimpan banyak prasasti dan artefak bersejarah yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Banyak dekorasi unik yang mewakili simbol atau makna tertentu, menghiasi bangunan-bangunan klenteng tersebut. Bila atap Boen Tek Bio dihiasi patung empat naga, ada sosok burung hong (phoenix) dan naga yang menghiasi atap pintu Boen San Bio. Tidak kalah uniknya, bahkan atap pintu Boen Hay Bio juga memiliki patung kepiting besar, yang seakan menyambut setiap pendatang.

Boen Tek Bio terletak di persimpangan Jalan Cilame dan Bakti (Pasar Lama), sedangkan Boen San Bio berada tidak jauh darinya, yaitu di Jalan K.S. Tubun No. 43, Pasar Baru, Kota Tangerang. Sementara itu Boen Hay Bio berlokasi di Jalan Pasar Lama Serpong, Desa Cilenggang, Kecamatan Serpong Tangerang.

Boen Tek Bio

IMG_0001

IMG_0003

IMG_0005

IMG_0010

IMG_0013

Boen San Bio

IMG_0017

IMG_0021

IMG_0022

IMG_0028

IMG_0032

IMG_0034

Boen Hay Bio

IMG_0044

IMG_0045

IMG_0046

IMG_0050

IMG_0052

IMG_0053

Kamera: Canon 1000D | Lensa: 18-55 mm

Pulau Burung: Bukan Tempat Sampah Berjemaah

Pada 1-3 Agustus 2014, saya berwisata ke wilayah Banten bersama dua kawan: Felix Jody Kinarwan dan As Safa Prasodjo. Di sana, kami mampir ke beberapa daerah, salah satunya Pulau Dua/Pulau Burung di Kecamatan Kasemen, tepatnya tiga mil laut di sebelah timur Pelabuhan Karangantu dengan luas 30 hektar.

Pulau Burung merupakan cagar alam yang jadi lokasi transit ratusan hingga ribuan burung yang biasanya bermigrasi pada April hingga Agustus. Burung itu berasal dari berbagai daerah, entah benua Asia, Australia maupun Afrika. Untuk mencapai ke pulau itu, kita bisa berjalan kaki dari daerah Sawah Luhur.

Dalam perjalanannya, kami menyusuri pinggir tambak ikan di jalan setapak sejauh kira-kira dua kilometer. Suasananya menyenangkan. Beberapa burung kerap bersembunyi di tengah alang-alang dan sontak terbang tinggi ketika ada manusia mendekati. Saat senja, cahaya jingga berkelindan di angkasa. Pantulan matahari di atas air pun mengiringi di sekeliling sudut pandang.

Sayangnya, Pulau Burung sendiri seperti pahlawan sekarat yang dibiarkan tergeletak di pinggir jalan. Lingkungan di sekitar hutannya kotor. Sampah berserakan di mana-mana, dari sepatu, sandal, botol hingga tas. Saat saya datang, burung juga sedang jarang mampir ke sana. Di pinggir pantai, nyamuk bertebaran ganas dan tak akan pergi dengan hanya sebuah tebasan tangan.

Bisa dikatakan, pulau ini cocok bagi peneliti, kunjungan ramai wisatawan penasaran atau warga lokal yang nekat pacaran. Namun untuk tempat pelarian pribadi atau kunjungan berkala mencari sepi, rasanya Pulau Burung bukan pilihan ideal. Lebih baik tak usah datang sama sekali bila cuma singgah sesaat untuk merokok dan membuang sampah.

IMG_2497

IMG_2500

IMG_2505

IMG_2515

IMG_2516

IMG_2531

IMG_2534

IMG_2538

IMG_2539

IMG_2541

IMG_2542

Kamera: iPhone 5