Edo Pillu Tak Lelah Gelisah

dari blog edo pillu (4)

Sumber: edwardpilliang.wordpress.com

Karya, bukan sekadar sarana aktualisasi diri. Bagi Edo Pillu, karya adalah sebuah penanda zaman. Karena itu, Edo selalu bekerja secara maksimal. Harapannya, karyanya bisa membawa pencerahan, pun jadi aset generasi seterusnya di masa depan.

Edo memang tak pernah puas. Selama ini, ia hidup untuk mencari ruang pembelajaran. Ia gemar mencari tantangan; mengembangkan diri dengan bergerak dari satu titik ke titik lainnya. Dengan begitu, celah kreativitasnya akan selalu terjaga.

“Seniman itu bertugas melahirkan kreativitas. Karena itu, titik terendah adalah saat kreativitas macet. Saya pernah merasakan itu. Saat hidup terlalu nyaman, seniman justru mati,” kata Edo.

“Bekerja ‘kejar target’ itu membunuh. Ketika kita gelisah, tertekan dan terus mencari, itu justru kita sedang hidup. Karena, seniman harus bisa jadi katup keran untuk membuka kebosanan orang.”

Semua bermula di masa kanak Edo. Lahir di Bandung pada 5 Juni 1969, Edo kecil kerap mengamati ayahnya kala sedang melukis atau sekadar berkumpul bersama para seniman lainnya. Alhasil, darah seni dengan cepat mengalir pula dalam dirinya.

“Bahkan, saat TK saya sudah mengumpulkan tugas menggambar dengan membuat lukisan cat minyak di atas kanvas,” ujar Edo.

Pada 1990, Edo hijrah ke Yogyakarta untuk masuk ke Institut Seni Indonesia, mengambil jurusan seni patung di Fakultas Seni Rupa. Namun, kegemarannya akan melukis tak terlupa begitu saja. Sejak tahun keduanya berkuliah, ia sudah kerap memasukkan karyanya dalam berbagai pameran.

Keasyikan melukis, kuliah Edo pun tak kunjung selesai. Padahal, kala itu Edo sudah memasuki proses pengerjaan skripsi. Namun, ketika sang dosen pembimbing pergi ke Jepang, semangatnya menyelesaikan tuntutan akademis semakin pudar.

“Saya sih ringan-ringan saja. Karena, rasanya seniman itu tidak perlu ijazah. Yang penting berkarya saja semaksimal mungkin, itu sudah jadi ijazah saya. Dengan membuat karya yang bagus, lama-lama masyarakat akan menilai sendiri. Lagi pula, pengakuan sebagai seniman kan tidak datang dari diri sendiri, tapi dari orang lain,” kata Edo.

Dengan semangat tinggi, Edo terus mendalami dunia seni. Banyak fase ia lewati. Di awal kariernya, ia pun sempat menjajal berbagai medium karya, entah dua dimensi atau tiga dimensi, dari patung hingga lukisan. Edo juga mengaku pernah menggunakan tubuhnya sendiri untuk melakoni beragam seni pertunjukan.

Sebagai seniman, Edo sendiri kerap hidup seadanya. “Dunia seni ini emang tidak berkaitan dengan persoalan ekonomi. Itu hanya kegelisahan sesaat. Kita berani kere saja, yang penting bisa terus berkarya,” kata Edo.

Syahdan, ketulusannya dalam berkarya perlahan terbayar dengan sendirinya. Berbagai pengakuan kerap ia dapatkan, seperti saat jadi finalis di ajang Winsor and Newton Indonesian Art Award 1999, serta finalis ajang Phillip Morris Indonesian Art Award 2000 dan 2001. Pada 2006, Edo bahkan masuk 30 besar Sovereign Asia Art Prize di Hongkong dan jadi finalis MIAD Venado Tuerto Digital Art International di Argentina.

Banyak pameran pula yang telah Edo lakoni hingga kini, entah berskala lokal maupun internasional. Saat ini ia bahkan bekerja sama dengan Art Front Gallery dari Singapura yang kerap memamerkan karyanya ke mancanegara.

“Kira-kira beberapa tahun lalu pemilik Art Front Gallery itu punya beberapa koleksi karya saya. Lalu dia ke Jogja setahun lalu untuk cari saya dan mengajak pameran di Singapura. Kemudian, barulah dia bawa karya saya ke Taiwan, Korea, Malaysia dan kemarin juga pameran di Bazaar Art Jakarta. Ke depannya ada rencana pameran di Malaysia, Hongkong dan London,” ujar Edo.

Berbekal pengalaman segudang, Edo berhasil unjuk gigi sebagai salah satu pelukis kebanggaan Tanah Air. Berbagai tema pernah ia angkat dalam lukisannya, entah dari hasil renungan pribadi atau potret realitas sosial masyarakat sekitarnya.

dari blog edo pillu (2)

Salah satu karya Edo Pillu/edwardpilliang.wordpress.com

“Sejak kira-kira 2007, saya asyik jatuh ke tema soal kita dan Tuhan. Saya muslim, tapi saya juga gemar membaca soal ajaran Tao, Hindu, Kristen dan lainnya. Dengan begitu, saya bisa memperdalam tema yang saya cintai itu,” kata Edo.

“Dari situ, saya menemukan gaya melukis yang cukup unik. Entah apa namanya, tapi saya rasa gaya ini lebih dekat ke seni monumental dalam lukisan.”

Ini terlihat pula dalam tiga karyanya yang dipamerkan dalam Bazaar Art Jakarta 2014, pada 17-20 Juli lalu. Sekilas, kita seakan melihat sosok manusia yang tenggelam dalam berbagai corak kehidupan penuh warna. Ada ruang kontemplasi yang bisa kita temukan di sana sebagai sarana refleksi diri.

“Dari sana kita bisa melihat, jika Tuhan itu tumbuhan, maka kita adalah bunga-bunga yang muncul dari pikiran Tuhan,” jelas Edo.

Selama celah kreativitasnya belum tertutup, Edo rasanya akan terus berproses, entah sebagai seniman maupun manusia ciptaan Tuhan. Bukan tak mungkin, karyanya kelak jadi buah penanda zaman.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 11 Agustus 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s