Bebas Terbatas Budi Kustarto

IMG_2940

Salah satu lukisan Budi Kustarto berjudul “Dua Manusia dan Satu Gunung”/Viriya Paramita

Ada nadi Affandi dalam diri Budi. Mereka berdua adalah pelukis kenamaan beda zaman. Affandi Koesoema lahir di Cirebon pada 1907. Sementara Budi Kustarto lahir 65 tahun berselang di Banyumas. Mereka sama-sama merintis karier dari bawah dengan segala keterbatasan, serta mendapat pengakuan dengan kerja keras dan kemandirian.

Namun tak hanya itu. Dua paman Budi merupakan murid didikan Affandi. Karena itu, sejak kecil Budi telah lekat dengan dunia seni.

“Paman saya memang dulu mengurus bidang seni di sekolah. Sementara yang satunya lagi adalah pelukis baliho bioskop di Purwokerto. Selain melukis untuk bioskop, dia juga suka melukis gambar di becak-becak,” kata Budi.

Ayahnya sendiri merupakan dalang seni wayang kulit di Banyumas. Maka, wajar kala Budi fasih membuat wayang sejak duduk di bangku SMP.

Setelahnya, barulah Budi meninggalkan Banyumas ketika masuk ke Sekolah Menengah Seni Rupa di Yogyakarta. Pada 1993, ia memutuskan masuk Institut Seni Indonesia Yogyakarta, mengambil jurusan seni patung di Fakultas Seni Rupa.

“Tadinya, pada 1992 aku ingin ambil jurusan desain. Tapi karena tidak diterima, akhirnya aku menganggur saja selama setahun. Saat itulah aku gabung dengan kawan-kawan di Seniman Sanggar Merdeka. Kami suka dapat pesanan dari pemerintah untuk membuat totem atau baliho berbagai jenis acara. Sampai-sampai aku pernah bekerja dua minggu di Istana Negara untuk menyelesaikan pesanan totem dan lukisan,” tutur Budi.

Sejak itulah Budi terbiasa membiayai hidupnya sendiri. Saat tak ada pemasukan, ia pun terpaksa cuti kuliah demi mencari nafkah. Pada 1995, 1997 dan 1998 ia bahkan pernah mengambil cuti dan melancong ke Swiss selama masing-masing tiga bulan. Di sana, Budi bekerja di sebuah diskotek milik kenalannya di Yogyakarta.

“Kalau dulu, teman-teman itu cukup kompak ya. Kalau aku tidak ada uang untuk makan bisa dibayarin sama mereka atau ngutang dulu di warung. Bahkan, aku pernah jual celana jeans seharga Rp 1.500 untuk biaya makan,” kata Budi.

Sejak 1994, Budi pun mulai menyertakan lukisannya dalam berbagai pameran bersama teman-teman sepermainan. Keterbatasan dana dan keasyikan melukis kemudian membuat kuliahnya terbengkalai. Ia baru lulus pada 2003 setelah mendapat ultimatum dari pihak kampus.

“Dulu di ISI itu masih bebas, tidak ada ketentuan harus lulus dalam waktu berapa tahun. Namun pada 2003 kampus bilang yang angkatan tua harus lulus tahun itu. Kalau tidak, kami akan dikeluarkan. Akhirnya aku ngebut biar segera lulus,” kata Budi.

Syahdan, Budi mulai bekerja sama dengan beberapa galeri, seperti Galeri Soka, Galeri Biasa dan Galeri Fang. Bersama Galeri Soka, ia bahkan pernah mengadakan pameran tunggal di Beijing, Tiongkok. Sementara itu, ia pernah mengikuti pameran kelompok bersama Galeri Biasa di Italia. Perlahan, Budi pun menancapkan namanya di dunia seni internasional. Negara-negara seperti Australia, Singapura dan Taiwan pernah pula jadi lokasi pamerannya.

Budi juga ikut serta dalam pameran Melihat Indonesia di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta. Pameran ini berlangsung pada 16-31 Agustus 2014, serta jadi penanda dibukanya Museum Ciputra yang didedikasikan bagi karya-karya pelukis legendaris Hendra Gunawan.

Budi unjuk gigi melalui sebuah lukisannya berjudul “…melihat diri, (manusia), dan bumi”. Di sana, terlihat sesosok pria yang sedang berdiri menyamping ke kanan dengan wajah terbungkus peta dunia.

IMG_2871

Lukisan Budi Kustarto berjudul “…melihat diri, (manusia), dan bumi”/Viriya Paramita

“Setiap orang bertanggung jawab pada hidup dan nasibnya. Melihat Bumi ini tergantung dari perilaku manusia itu sendiri. Bila setiap orang bisa mengendalikan hatinya, itu korelasinya ya dengan menjaga kehidupan ini, termasuk Bumi itu sendiri,” kata Budi.

Selain itu, salah satu karya Budi juga terpampang di ruang pameran Galeri Fang di Ciputra Artpreneur. Judulnya “Dua Manusia dan Satu Gunung”. Terlihat dua pria di masing-masing sisi dengan sebuah tali terjulur menyambung dari kedua bibirnya. Di tengahnya, sebuah gunung meletus melontarkan lahar panas buncah ke udara.

“Gunung itu aku anggap sebagai makhluk yang kita bisa belajar darinya,” kata Budi. “Perilaku gunung adalah sebuah keniscayaan. Menurut pendapatku sendiri, gunung mengikuti perintah-Nya. Sementara manusia justru berpotensi membangkang dari perintah-Nya. Maka, gunung bisa jadi lebih mulia dari sebagian manusia,” kata Budi.

Selama kira-kira tujuh tahun terakhir, Budi memang tertarik mendalami tema soal alam dan lingkungan. Itu karena menurutnya, kemajuan teknologi dan modernisasi di berbagai bidang saat ini justru kerap membawa dampak buruk pada alam.

Bagi Budi, lukisan merupakan sarana refleksi pengalaman sehari-hari. Ia pun percaya, lukisan yang baik mampu menginspirasi penikmatnya. Semua itu lahir dari kebebasan yang terbatas.

“Semakin orang memahami batasan, semakin dia menemukan kebebasan. Semakin orang berontak dengan batasan seperti norma, budaya, etika dan lainnya, semakin dia akan terbentur dengan kebebasannya,” kata Budi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 25 Agustus 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s