Lelucon Sitok ala Freud

Penyair Sitok Srengenge/Tempo.co

Seorang aktor, penulis dan komedian asal Amerika Serikat, Steve Allen, suatu hari pernah berujar, “Tragedi ditambah waktu sama dengan komedi.”

Penjabarannya soal ini dipublikasikan oleh majalah Cosmopolitan pada Februari 1957. Menurutnya, kejadian mengerikan nan menyedihkan butuh waktu lebih untuk dikisahkan sebagai lawakan. Dalam situasi yang tepat, apa yang sebelumnya membawa duka justru bisa jadi ledak tawa.

Jauh sebelum itu, pakar psikoanalisis Sigmund Freud telah memiliki penjelasannya sendiri soal lelucon. Ia bahkan sempat menerbitkan buku soal hal ini yang terbit pada 1905 dengan judul The Joke and Its Relation to the Unconscious. Pada 1928, Freud juga menulis artikel berjudul “Humor” yang menyoal lelucon dan klasifikasinya.

Menurut Freud, masyarakat berusaha mendorong jauh-jauh naluri seksual dan agresif dari kesadaran kita. Pemikiran-pemikiran akannya, baru bisa diterima bila terlontar dalam keadaan tidak serius. Karena itu, humor kemudian jadi salah satu bentuk pemberontakan dari tuntutan tatanan sosial.

November 2013, berbagai media Tanah Air geger memberitakan kasus yang melibatkan penyair Sitok Srengenge. Seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia berinisial RW melaporkan Sitok pada polisi atas tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Diduga, Sitok telah melecehkan dan mengintimidasi hingga berujung pada hamilnya RW.

Kasus ini ramai dibicarakan, entah di media nasional maupun media sosial. Banyak pihak mencerca perilaku Sitok. Komnas Perempuan pun berdiri tegak di belakang RW.

“Penyalahgunaan kuasa untuk memperoleh layanan seksual adalah bentuk eksploitasi seksual,” kata Komisioner Komnas Perempuan, Arimbi Heroepoetri, dalam rilisnya pada media pada Desember 2013.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Pertemuan pertama RW dengan Sitok terjadi pada Desember 2012. Kala itu RW jadi panitia acara Festival Kreatif di FIB UI, sementara Sitok terlibat sebagai juri. Maret 2013, Sitok mengajak RW untuk membahas penyelenggaraan acara itu di kamar kosnya, Pejaten, Pasar Minggu. Sitok mengunci pintu, menawari vodka, merayu serta memaksa RW hingga hubungan intim terjadi. Padahal kala itu RW masih perawan.

Alhasil setelahnya mereka sempat bertemu kembali beberapa kali hingga RW kemudian hamil. Dari sana, kronologi peristiwa berubah jadi blur.

“Sitok sudah kami cari, tetapi tidak bisa ditemui. Sitok kami anggap telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan karena lari dari tanggung jawab,” kata kuasa hukum RW, Iwan Pangka.

Bahkan menurut Iwan, setiap kali dihubungi, Sitok selalu mengelak dan justru balik membentak RW. Sitok baru angkat bicara setelah kasus ini mencuat di media massa dan jadi bahan pergunjingan publik.

Lain lagi halnya dengan ujaran putri kandung Sitok, Laire Siwi Mentari. Menurutnya, Sitok telah berulang kali mencoba menemui RW dan keluarga. Namun, usaha itu tak pernah mampu membuahkan hasil. Pada akhir November 2013, istri Sitok, Farah Maulida, juga mengaku telah mengetahui hal ini dan menurutnya Sitok siap bertanggung jawab.

Kasus ini kemudian perlahan hilang dari pembahasan setelah masuk proses penyidikan. Bersamaan dengan itu, Sitok juga mengundurkan diri dari jabatan sebagai kurator di Komunitas Salihara, Pasar Minggu. Ia pun menghilang dari peredaran.

Publik baru kembali ramai membicarakannya pada awal September 2014 setelah polisi berujar akan menghentikan proses penyidikannya. Kurangnya alat bukti dan lemahnya tuduhan perkara jadi alasan utama.

“Mengapa korban melaporkan setelah hamil dan kejadian pemerkosaannya bisa berulang kali,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Heru Pranoto, pada 8 September 2014.

Penyair Saut Situmorang jadi salah satu yang paling keras mengecam aksi polisi tersebut. Melalui media sosial Twitter, ia bahkan sempat mengunggah foto acara makan bersama setelah perayaan ulang tahun Gus Mus ke-70 di Simpang Lima, Semarang. Aslinya, foto itu berasal dari akun @ulil yang diunggah pada 6 September 2014.

Dalam kumpulan orang di foto itu, terlihat sosok Sitok ikut serta dalam acara yang ada. Saut pun berujar, “#Sitok wisata kuliner! Hidup Polri!”

Setelahnya, semua terasa seperti komedi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “seni” sebagai kata benda diartikan “keahlian membuat karya yang bermutu; kesanggupan akal untuk menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi; orang yang berkesanggupan luar biasa; genius”.

Lalu apalah artinya bila seorang yang mengaku sebagai seniman sukses melecehkan perempuan, memiliki keluarga yang memberi dukungan, lantas menghilang dari peredaran hingga kasus akan dihentikan?

Sekali lagi, Freud telah menjabarkan soal lawakan sebelumnya. Dalam teorinya, besaran gelak tawa tergantung pada intensitas seksual dan agresi di dalamnya. Untuk kasus Sitok, pelecehan dan intimidasi jadi bagian tak terpisahkan terkait hubungannya dengan RW.

Situs thepsychologist.org.uk sempat merilis artikel berjudul “Freud and the language of humour” pada September 2002. Penulisnya adalah profesor Michael Billig dari Loughborough University, Inggris.

“Terbagi antara dua jenis lelucon, tendensius dan lugu, Freud kemudian menawarkan pandangan luar biasa. Menurutnya, kedua lelucon itu menggunakan cara kerja yang sama, tapi lelucon tendensius bisa menciptakan gelak tawa yang lebih besar,” ujar Billig dalam pembahasannya.

“Orang-orang, jika ditanya kenapa mereka tertawa pada sebuah lelucon, akan cenderung merujuk pada kepandaian cara kerja lelucon itu.”

Dari sana kita bisa melihat, lelucon yang dilontarkan Sitok pada akhirnya akan jadi lebih besar bila ia bersifat tendensius. Dalam arti, ia memang sengaja melakukan dan memiliki kekuatan besar di baliknya untuk memanipulasi hukum hingga jadi salah arah.

Begini kira-kira cara kerjanya. Kini banyak orang menghujat dan mencerca Sitok. Namun, selewat lima atau 10 tahun, semua akan terlupa begitu saja. Mundur perlahan dari peredaran saat ini hanyalah investasi untuk kembali lagi ke permukaan di masa jauh ke depan. Saat itu, beberapa orang mungkin sudah lupa, tak lagi peduli, atau bahkan tak tahu sama sekali.

Syahdan, ketika ada yang membahas soal perilaku seniman yang gemar mengeksploitasi perempuan, kita hanya bisa tertawa. Lelucon Sitok ala Freud pun berjalan dengan lancar. Bahkan, ia juga mengikuti saran Allen untuk memberi tragedi sejumput waktu sebelum benar-benar menasbihkannya sebagai komedi.

Bila benar begitu, sebagai seniman Sitok memang orang yang berkesanggupan luar biasa. Leluconnya, bernilai tinggi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di media online GeoTimes.co.id pada 10 September 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s