Tren Naik Gunung: Mencandu Atap Bumi

IMG_3578

Puncak Gunung Prau/Viriya Paramita

Minggu, 31 Agustus 2014.

Pukul empat pagi. Sunyi. Hening hanya sesekali terpecah oleh gemeletuk gigi atau percikan api. Tenda terpasang rapi di sana-sini. Api unggun menyala kecil di beberapa titik. Yang masih terjaga berlomba menghangatkan diri di sekelilingnya. Sekitar 2.565 meter di atas permukaan laut, suhu di puncak Gunung Prau sedang berada pada titik terendahnya.

“Kira-kira satu derajat celcius,” kata Sofyan, salah satu pemandu Gunung Prau. “Bahkan, kemarin dulu pernah sampai minus empat derajat.”

Jelang pukul lima, langit mulai menyembulkan gurat merahnya. Fajar sedang dalam perjalanan. Kehidupan mulai menjalar perlahan. Beragam warna tenda terlihat semakin pekat di mata. Yang satu segera membangunkan yang lainnya. Aku, kami, pun menyatu jadi kita.

Kaki-kaki lunglai menapaki jalan berundak ke atas bukit di sebelah timur. Semua tak ingin ketinggalan cerita, atau foto berlatarkan fajar.

“Malam ini ada sekitar 3 ribu pendaki yang naik ke puncak, itu pun yang terdaftar saja,” kata Sofyan lagi. “Lebih dari setengahnya pendaki baru. Gunung Prau memang favorit bagi para pendaki amatir.”

Pukul setengah enam, tiba-tiba semua serentak bersorak. Tepuk tangan membahana. Yang ditunggu telah tiba. Matahari terbit buncah di langit. Lagu “Indonesia Raya” segera berkumandang lantang.

IMG_3542

Fajar di puncak Gunung Prau/Viriya Paramita

“Suasana di puncak gunung itu memang beda. Di sana saya merasa dekat dengan Tuhan. Di peta kita bisa lihat gunung itu rasanya kecil sekali. Tapi saat kita menjalani dan mendakinya sendiri, manusia rasanya jadi enggak ada apa-apanya. Kita hanya bagian kecil dari alam ini. Itu rasanya megah sekali dan membuat saya ketagihan untuk naik gunung,” kata Servulus Armando Dje, anggota mahasiswa pecinta alam dari Universitas Multimedia Nusantara.

Pria yang akrab disapa Mando ini memang mendaki gunung untuk bisa mencapai pemenuhan diri. Buatnya, yang utama adalah proses dalam perjalanan. Sementara banyak orang kerap mendaki hanya karena mendamba puncaknya.

“Justru kita akan ditempa dalam proses itu. Puncak, buat saya adalah bonusnya. Sayangnya, banyak pendaki baru yang mengabaikan hal ini. Mereka tidak mempersiapkan diri dengan matang untuk melalui prosesnya,” ujar Mando.

Asep Slamet Ponijo, Ketua Yayasan Survival Indonesia, merasa ini wajar terjadi. Banyak orang tergerak ikut naik gunung sebagai pelarian dari keseharian.

“Anak muda saat ini mungkin berusaha mencari sesuatu yang tidak ia dapatkan di kehidupannya sendiri. Entah kesetiakawanan ataupun pemandangan di atas sana. Karena itu mereka tertarik naik ke atas gunung,” kata Asep.

Menurut Asep, kini ada banyak pilihan bagi para pendaki amatir, dari Gunung Prau di Jawa Tengah, Gunung Bromo di Jawa Timur atau juga Gunung Papandayan di Jawa Barat. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Namun, tetap mampu memberi kesan mendalam di diri penikmatnya.

“Kalau tingkatannya yang agak sulit biasanya gunung yang ketinggiannya sudah lebih dari 3 ribu meter di atas permukaan laut. Misalnya saja Gunung Merapi, Gunung Slamet atau Gunung Semeru,” ujar Asep.

Walau begitu, saat ini mendaki gunung telah jadi tren tersendiri. Banyak pula orang yang melakukan pendakian pertamanya di gunung dengan tingkat kesulitan relatif lebih tinggi seperti Semeru. Apalagi semenjak meledaknya film 5 cm yang rilis pada 12 Desember 2012.

Film ini merupakan adaptasi dari novel laris berjudul serupa karangan Donny Dhirgantoro. Persahabatan dan nasionalisme jadi hidangan utama. Kisah berkisar soal lima sekawan yang telah bersama selama lebih dari 10 tahun. Mereka adalah Genta, Arial, Zafran, Riani dan Ian. Untuk menyegarkan kembali hubungan, mereka memutuskan untuk berpisah tanpa menjalin sedikitpun komunikasi selama tiga bulan.

Setelahnya, barulah mereka berkumpul kembali dan melakukan perjalanan menuju puncak Mahameru di Gunung Semeru. Adik dari Arial, Dinda, juga ikut serta dalam pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa itu. Jalannya berat. Namun mereka bahu-membahu untuk mewujudkan mimpi mengibarkan bendera merah putih di sana pada 17 Agustus.

Film ini sukses besar di pasaran, setidaknya bila melihat raihan jumlah penonton yang ada. Selewat tiga minggu saja, 5 cm telah berhasil menembus angka 2 juta penonton. Bandingkan dengan Laskar Pelangi yang sempat memegang rekor sebagai film lokal terlaris selama ini dengan angka 4,6 juta penonton.

Tak hanya itu, film ini juga memunculkan fenomena tersendiri. Sontak muncul banyak pendaki gunung dadakan. Gunung Semeru jadi padat pengunjung tiap harinya. Banyak yang tersesat. Sampah berserakan di mana-mana.

1390643_582370275168155_2120348291_n

Sampah berserakan di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru, Desember 2013/papanpelangi.wordpress.com

Sekretariat Bersama Perhimpunan Pecinta Alam Yogyakarta sampai tergerak untuk mengadakan pelatihan navigasi darat bagi para pendaki pada 6-10 Januari 2013. Lokasi yang dipilih adalah Klangon, Kalitengah, Cangkringan dan Sleman.

“Pelatihan ini berawal dari kegelisahan karena banyaknya pendaki yang tersesat karena tidak tahu medan, survival dan tidak bisa membaca peta kompas. Kita pilih lokasi di lereng Merapi karena memang cocok untuk latihan navigasi darat,” kata Samuel Gempita Nusa, konseptor pelatihan.

“Siapa pun boleh naik gunung asalkan tahu dan memiliki skill tentang kegiatan alam, seperti cara survival, baca peta kompas dan karakteristik gunung. Ada kemungkinan meningkatnya minat naik gunung karena film 5 cm, namun ini baru kemungkinan saja.”

Pada pertengahan 2013, jumlah pendaki Semeru bahkan terus membeludak. Awal Mei saja, ribuan orang datang tiap harinya untuk mendaki ke sana.

“Jumlah pendaki yang berada di jalur Ranu Kumbolo hingga Kalimati lebih dari 2 ribu orang,” kata Sucipto, Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada 10 Mei 2013.

Di sisi lain, Mando merasa bukan filmnya yang salah, tapi contoh dari film tersebut yang bisa memunculkan masalah.

“Misalnya di film itu beberapa menggunakan celana jeans saat pendakian. Padahal, itu fatal sekali. Bila hujan turun saat sedang mendaki, celana jeans akan basah dan jadi berat. Keringnya juga akan makan waktu lebih lama,” kata Mando.

A-ZC7jkCAAAFT03

Para pemeran film 5 cm/twtrland.com/saykoji

Memang, pakaian yang basah bisa menghambat pergerakan saat pendakian. Saat cuaca sedang berangin kencang dan hujan deras, tubuh juga jadi semakin kedinginan sehingga berisiko terserang hipotermia. Setelahnya terjadilah penyempitan pembuluh darah. Tubuh penderita gagal menyesuaikan panas tubuh hingga tekanan darah menurun dan pernapasan melemah. Alhasil, seseorang kerap bicara melantur atau bertingkah aneh saat terserang hipotermia.

Untuk itulah diperlukan perlengkapan yang memadai saat mendaki gunung agar mampu mencegah risiko terburuk terjadi. Baju, jaket, sarung tangan, topi kupluk hingga sepatu gunung adalah perlengkapan mendasar yang harus dipersiapkan oleh para pendaki. Tas yang dibawa juga harus bisa memuat berbagai perlengkapan lainnya, entah alat masak maupun kantong tidur.

“Di film 5 cm, Pevita Pearce misalnya (berperan sebagai Dinda), tasnya tidak mencerminkan bisa membawa alat-alat perlengkapan diri yang lengkap. Alat masak, bahan makanan dan jaket rasanya tidak cukup masuk ke situ,” kata Mando.

Karena itu, Mando khawatir para pendaki pemula hanya terpancing keseruan yang ditampilkan dalam film itu. Mereka urung mencari tahu terlebih dahulu soal kondisi medan, pemetaan, serta persiapan fisik dan mental yang tepat.

Di akhir cerita, Genta dan kawan-kawan berhasil menaklukkan Mahameru serta melaksanakan upacara bendera di sana. Setelahnya, mereka pun merayakan keberhasilan perjalanan dengan berenang bersama di danau Ranu Kumbolo.

Pada 2010, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi memang sempat mengizinkan para pendaki untuk melakukan upacara selama dua hari di Mahameru, tepatnya pada 16-17 Agustus 2010.

Namun, tahun-tahun setelahnya mereka hanya merekomendasikan pendakian hingga daerah Kalimati karena status Gunung Semeru yang masih “Waspada”. Pendaki juga biasanya diminta membuat surat pernyataan bermaterai yang menandakan mereka tahu soal larangan dan risiko ini.

Namun, mereka kerap tak mengacuhkan dan justru menganggapnya sebagai tantangan lebih dalam proses pendakian menuju Mahameru. Pendaki juga sesungguhnya dilarang untuk berenang di Ranu Kumbolo. Jadi, contoh yang diambil penonton awam dari film 5 cm sesungguhnya berimbas negatif pada proses pendakian itu sendiri.

gunung_semeru

Mahameru, Juli 2014/palingindonesia.com

“Sebenarnya ini terjadi di semua tempat. Tak hanya gunung terkenal yang ramai dikunjungi orang, gunung di wilayah Jawa Timur yang pengunjungnya hanya 10-20 orang per hari juga prinsipnya sama. Setiap orang harus mengikuti peraturan yang ada. Lalu jangan lupa bertanggung jawab akan sampah yang mereka bawa,” kata Asep.

Dalam blog online, seorang pecinta alam bernama Wira Nurmansyah sempat pula membahas hal ini. Ia pun kembali mengingatkan makna pendakian gunung dan prinsip yang harus dijaga oleh setiap pendatang.

“Jangan tinggalkan apapun kecuali jejak. Jangan ambil apapun kecuali gambar atau foto. Jangan membunuh apapun kecuali waktu,” ujar Wira.

Satu hal lagi yang kerap terlupa. Puncak adalah bagian dari tujuan, tapi turun kembali dengan selamat adalah tujuan utama.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah Geo Times edisi 22 September 2014.

Advertisements

One thought on “Tren Naik Gunung: Mencandu Atap Bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s