Memangnya Gampang Jadi Pramugari?

rekrutmen pramugari garuda

Ilustrasi, rekrutmen pramugari Garuda.

2 Juni 2014
Dua perempuan muda itu sedang terburu waktu. Tubuh mereka molek; menyatu pas di kemeja batik merah ketat serta rok panjang dengan robekan tinggi di paha kiri. Jangan tanya soal raut wajahnya. Masing-masing bisa berubah dalam waktu sepersekian detik saja, dari santai, cemas, gemas, hingga tegas. Rasanya ini adalah saat yang cukup menyebalkan bagi seorang pramugari.

Sudah pukul 09.50 WITA. Mestinya pesawat Lion Air ini telah lepas landas dari Makassar menuju Jayapura. Namun beberapa penumpang masih saja asyik mengatur penempatan barang-barang bawaannya di bagasi atas kabin. Alhasil, dua pramugari ini jadi yang paling sibuk mengingatkan para penumpang agar segera menyelesaikan aktivitasnya dan duduk kembali di kursi.

Yang satu berwajah bulat dengan rambut poni rata. Wajahnya manis, mengingatkan kita akan anak kecil berwajah kemerahan karena terlalu lama bermain di bawah sengatan matahari. Sementara yang lainnya bermuka lonjong dan berbibir lancip. Mukanya kaku, tipe yang terlihat sangat tidak bersahabat di masa-masa PMS.

Permasalahan utama terhambatnya penerbangan ini adalah sebuah keluarga yang membawa barang terlalu banyak. Jatah kursi hanya empat, tapi mereka berusaha menjejalkan seluruh bawaan di areal bagasi seukuran enam penumpang. Yang tergusur haknya pun mengadu pada si poni rata.

“Barangnya ada yang ditaruh di bagasi bawah saja ya, Pak,” kata si poni rata dengan manis.

Tak berapa lama, keramahannya menguap begitu saja. Ia segera membuka bagasi atas dan mengatur ulang penempatan barang. Mukanya serius. Tangannya sigap. Tarikannya lentur menggeser apa saja, dari kardus hingga ransel gemuk kelebihan isi. Namun si bapak tetap terlihat tidak puas.

“Ada apa, Pak?” tanyanya ramah kembali.

“Yang ditaruh di bawah jangan yang itu.”

Si poni rata kembali berkutat sabar dengan permasalahan bagasi atas. Di sisi lain, si muka lonjong tak banyak bicara, tapi tak kalah perkasa. Ia mengeluarkan, memasukkan, menurunkan, menaikkan dengan cekatan.

Pramugari Lion Air memang tidak seberuntung rekan-rekan seprofesi di maskapai Garuda yang mewajibkan penumpang mengatur sendiri penempatan barangnya.

“Yang boleh dibantu cuma orang lanjut usia, ibu hamil sama yang lagi sakit,” kata seorang rekan pramugari Garuda.

Karena itu, mereka yang tak tahu atau tak mengerti kerap menyuruh pramugari Garuda seenaknya mengangkat seluruh perkakas mereka. “Ada juga ibu-ibu sok iya banget, tanpa lihat atau ngomong apa-apa, dia kasih tas gedenya sambil ngomong, ‘Nih.’”

“Iya, setahun atau dua tahun sih kuat, tapi habis itu bisa pada kena penyakit tulang punggung.”

Sang pramugari Garuda merasa wajar soal hal itu karena orang-orang kerap mengabaikan aspek kesehatan mereka. Seorang pramugari penerbangan domestik setiap harinya memang bisa naik-turun pesawat setidaknya empat kali dalam empat perjalanan. Khusus di Garuda, mereka harus melayani kira-kira 150 penumpang di kelas ekonomi, dan 12 di kelas bisnis.

“Kita harus menghidangkan makanan, bawa-bawa troli dan lain sebagainya. Belum lagi jam biologis tubuh kita yang acak-acakan. Siang jadi malam, malam jadi siang. Penyakit seperti mabuk udara atau kuping sakit itu sudah enggak berasa. Palingan pinggang dan punggung yang biasanya nyeri banget kalau sudah terbang dengan penumpang kapasitas penuh,” kata si pramugari.

Menariknya, banyak desas-desus yang mengatakan bahwa pramugari kerap “bermain belakang” dengan pilot. Sang pramugari Garuda mengatakan bahwa itu sudah jadi rahasia umum di seluruh maskapai penerbangan, walau tak semuanya seperti itu. “Mau di Garuda, Lion Air, Sriwijaya, Citilink, semua pasti ada,” katanya.

“Tapi enggak semua kaya gitu, hanya segelintir orang saja. Lebih banyak yang baik-baiknya.”

Menurutnya, yang jadi masalah justru penumpang genit yang tak bisa menahan libidonya. Ada saja kejadian-kejadian unik soal itu, entah yang meminta nomor telepon atau diam-diam memfotonya saat sedang bertugas.

“Pernah yang parah sih waktu di Hotel Banjarmasin, digangguin om-om. Dia bilang, ‘Adek lagi enggak terbang? Yuk temenin Abang makan di restoran. Adek mau terbang ke mana juga Abang terbangkan. Rumah Abang di Pondok Indah kalau yang di Jakarta,’” katanya.

Seorang pramugari yang tak bisa menahan diri mungkin akan mengikuti ajakan Om Pondok Indah itu untuk urusan perbaikan ekonomi. Namun bila satu orang mengiyakan, belum tentu semua seperti itu.

Sama halnya dengan si poni rata dan muka lonjong yang harus tabah melayani seluruh penumpang dengan bawaan yang kadang tidak masuk akal. Mungkin mereka sabar, tapi tidak semua seperti itu. Jadi, hargai juga pramugari yang sedang melayani Anda. Kalau Anda tidak bisa, untungnya tidak semua orang seperti Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s