Gemala Hatta: TTS Mempertajam Diri

IMG_1024

Gemala Hatta/Viriya Paramita

Bagi Gemala Rabi’ah Hatta (62), teka-teki silang (TTS) adalah pelepas stres nan ampuh. TTS Kompas edisi Minggu pun jadi andalan untuk pelarian dari kesibukan. Bahkan, sejak lebih dari satu dekade terakhir ia punya kebiasaan menyimpan potongan TTS tersebut hingga terkumpul sebuah arsip tebal sebagai koleksi pribadi.

“Awal tahun 2000 itu saya kan lagi membuat disertasi, jadinya stres. Ya sudah saya selalu mencari Kompas Minggu, saya gunting dan simpan bagian TTS-nya. Sampai saya suka nanya ke pembantu saya, itu sudah bolong belum korannya,” kata Gemala sembari tertawa kecil.

Dengan menyimpan potongan TTS tersebut setiap pekan, Gemala bisa mengasah otaknya kapan saja ia mau dan sempat. Saat mengisi TTS, Gemala memang tidak terlampau memaksa diri. Bila tak bisa menjawab saat itu juga, ia akan meninggalkan dan kembali dengan jawaban di lain waktu.

Terkadang, pertanyaan yang ada juga kerap diulang atau pernah muncul sebelumnya. Sehingga, ia bisa mengisi kotak-kotak kosong tersebut dengan mengintip jawaban di edisi silam. “Yang pernah beberapa kali diulang itu pertanyaan soal mata uang zaman dahulu, seperti ORI, atau ketip dan kelip,” kata Gemala.

Sesungguhnya, Gemala sendiri telah akrab dengan TTS sejak masa kanak-kanak. Saat kecil, ia kerap memperhatikan sang kakek, Haji Abdul Rachim, berkutat dengan TTS dari waktu ke waktu.

“Dulu kakek saya itu rajin sekali mengisi TTS di koran bahasa Belanda. Dia kan memang pintar bahasa Belanda, kalau saya sih enggak ngerti,” ujar Gemala kembali.

Namun, tak hanya TTS. Sedari kecil, Gemala juga hobi mengoleksi prangko. Saat ayahnya, Mohammad Hatta, bepergian ke luar negeri, Gemala hampir tak pernah lupa meminta prangko sebagai oleh-oleh. Hingga kini, koleksi prangkonya di rumah telah menggunung, baik yang lokal maupun internasional.

Bagi Gemala, TTS dan prangko adalah dua hal yang saling melengkapi satu sama lain. Maka, cinta akan keduanya tak pernah bisa dipisahkan begitu saja.

“Misalnya saat sedang mengisi TTS saya enggak bisa menjawab sebuah pertanyaan tentang kota di luar negeri. Saya suka melihat koleksi prangko saya dan menemukan jawabannya di situ. Jadi, kalau untuk kata-kata saya banyak diingatkan sama TTS, sementara untuk visualnya saya dapat di prangko. Saling melengkapi,” kata Gemala.

Karena telah lama berkawan akrab dengan TTS, Gemala pun cukup mengerti soal cara dan pola membuat TTS. Bahkan, dalam beberapa tahun terakhir ia berusaha untuk membuat TTS versinya sendiri, walau tak kunjung rampung hingga saat ini.

“Saya sedang membuat TTS soal istilah-istilah medis. Cuma karena enggak ada waktu akhirnya belum selesai sampai sekarang,” kata peraih gelar doktor dalam ilmu kesehatan masyarakat Universitas Indonesia (UI) ini.

Walau usianya telah masuk kepala enam, Gemala memang tetap menyibukkan diri dengan mengajar ataupun memberi seminar. Setiap akhir pekan, ia rutin mengajar soal klasifikasi penyakit di almamaternya dahulu: UI. Selain itu, Gemala juga menjadi tenaga pengajar di sekolah pendidikan milik Kementerian Kesehatan RI di bidang ortotik dan prostetik.

Gemala mengakui, TTS merupakan salah satu kunci untuk menjaga pikirannya tetap tajam dan tidak mudah pikun. Dengan mengisi TTS, ia terus berupaya memanggil memori soal fakta-fakta yang pernah terlupa dari berbagai bidang. Alhasil, TTS telah menjadi fondasi Gemala dalam berkarya dan beraktivitas sehari-hari.

Syahdan, stres hilang, karyanya semakin menjulang.

 

NB: Tulisan ini dibuat untuk buku TTS Pilihan Kompas edisi 7.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s