Meriam Bellina: TTS “Candu” yang Bermanfaat

IMG_0004

Meriam Bellina/Viriya Paramita

Ada banyak cara mengisi waktu di kala senggang, seperti membaca, memasak atau bahkan menjawab pertanyaan teka-teki silang (TTS). Meriam Bellina fasih melakukan tiga hal tersebut, tapi tak ada yang membuatnya lebih tertantang selain mengisi kotak-kotak kosong pada lembar halaman TTS. Bahkan, ia bisa marah bila kita berhasil menjawab sebuah pertanyaan lebih dahulu dibanding dirinya.

Semua berawal saat Meriam duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu, dalam setahun Meriam sempat tiga kali dirawat di rumah sakit karena terserang tifus, sakit kuning dan usus buntu. Rasa bosan yang menghinggapinya kala berada di rumah sakit ia lawan dengan banyak membaca buku dan mengisi TTS. Sejak saat itu, TTS seakan tak pernah lepas dari kehidupan Meriam.

“Kalau ada pertanyaan yang nggak bisa aku jawab, aku akan cari jawabannya bagaimanapun caranya,” tutur aktris berusia 48 tahun tersebut.

Diakui Meriam, hingga saat ini telah ribuan TTS yang dikerjakannya sendiri, dari dalam dan juga luar negeri. Teman-temannya pun telah terbiasa dengan hobi Meriam tersebut sehingga bila tanpa sengaja mereka menemukan halaman TTS di sebuah buku atau surat kabar, Meriam pasti langsung diminta untuk menyelesaikan seluruh teka-teki yang ada.

“Manfaat TTS itu selain bisa membunuh waktu, bisa bikin kita nggak pikun dan buat aku itu juga bisa menghilangkan stres,” ujar Meriam kembali.

Bahkan, tak disangka kegemaran mengisi TTS kerap bermanfaat ketika Meriam menjalani kariernya di dunia akting. Perbendaharaan katanya yang luas membuat Meriam mudah untuk berimprovisasi dan memiliki kecermatan diksi tinggi. Tak jarang bila ia kerap ditanya orang-orang soal makna dari pilihan kata yang dilontarkannya di depan lensa kamera.

Selain itu, Meriam juga rutin mengisi TTS di harian Kompas tiap Minggu pagi. Namun, menurutnya TTS yang ada saat ini kurang menantang sehingga terlalu mudah diisi jawabannya.

“Jujur saja, TTS di Kompas sudah terlalu gampang sekarang. Mungkin karena aku sudah bertahun-tahun mengisi TTS di situ dan lama-lama jadi hafalan saja. Sering banget ada pertanyaan yang diulang-ulang diberikan di TTS itu,” kata Meriam sembari tertawa ringan.

“Sekarang TTS yang aku isi itu biasanya yang bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia lagi. Soalnya sudah nggak ada yang sulit TTS kita, sementara TTS di koran-koran asing seperti New York Times atau Herald Tribune itu challenging sekali.”

Suatu hari nanti, bukan tidak mungkin Meriam akan membuat TTS-nya sendiri. Tentunya, tak akan mudah menjawab pertanyaan buatan Meriam, orang yang telah mengisi TTS selama lebih dari 2/3 hidupnya.

“Tertarik, sih. Tapi kayanya akan jadi sulit deh TTS-ku. Aku nggak bakal ngasih pertanyaan yang jawabannya gampang-gampang. Soalnya gemes kalau gampang jawabannya,” seloroh Meriam.

Kegemaran Meriam untuk mengisi TTS di kala senggang rasanya sudah sampai di tahap adiktif. Namun, hal ini sesungguhnya telah bisa diprediksi karena sedari kecil Meriam sendiri telah jatuh cinta dengan kata-kata. Ironisnya, ia mencintai kata-kata dengan begitu besar, sebesar ketidaksukaannya pada angka-angka.

“Pokoknya, dari dulu aku suka banget dengan permainan yang berhubungan dengan kata-kata, misalnya scrabble. Tapi jangan dengan angka-angka. Misalnya sudoku, aku sama sekali nggak tertarik untuk memainkannya,” tegas Meriam.

Kecintaannya akan kata-kata pun menjelaskan kegemaran Meriam membaca novel dan berakting selama ini. Dua hal tersebut memang tak jauh-jauh hubungannya dengan narasi dan dialog antartokoh yang tentu dipenuhi oleh rangkaian kata.

Meriam sendiri telah membaca banyak novel dari berbagai macam genre. Hampir seluruh genre ia sukai, kecuali untuk science fiction dan fantasy. Menurutnya, kedua genre tersebut lebih nyaman untuk dinikmati lewat medium film dibanding buku.

Selain itu, di dunia akting pun ia telah menancapkan kukunya sebagai salah satu aktris paling berpengalaman dan produktif di Indonesia. Setelah 33 tahun menekuni dunia perfilman dan serentetan penghargaan pribadi atas berbagai aksinya di layar kaca, Meriam masih bersemangat untuk terus berkarya.

“Sebenarnya aku ingin bikin autobiografi sendiri, tapi ada saatnya-lah. Masa umur segini sudah bikin autobiografi? Rasanya pengalaman aku masih akan terus bertambah nantinya,” ujar Meriam.

Rasa tak pernah puas untuk terus belajar dan berkarya tersebut telah menjadi kunci sukses Meriam hingga saat ini. Kini, teka-teki tak lagi jadi masalah buat Meriam. Karena baginya, teka-teki ada untuk diberi penyelesaian, bukan penyesalan.

 

NB: Tulisan ini dibuat untuk buku TTS Pilihan Kompas edisi 6.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s