Hukum Rimba Media Massa

977039_majalah

Ilustrasi majalah/indonetwork.co.id

Media cetak akan mati dalam waktu kurang lebih 10 tahun ke depan. Begitu ramalan taipan media massa Rupert Murdoch, dua tahun lalu. Menurut Murdoch, kehadiran internet dan media online perlahan mengikis peran media cetak di masyarakat dunia. Hal sama juga terjadi di Indonesia.

Pada 30 September 2014 Grup Kompas Gramedia memutuskan menutup delapan majalah dan dua unit usaha di bawah naungannya. Delapan majalah itu adalah Chic, More, InStyle, Martha Stewart Living, Fortune, Ide Bisnis, Forsel, dan Soccer. Secara resmi mereka akan berhenti beroperasi pada akhir Oktober 2014. Selain itu, sebuah game publisher dan sebuah unit pracetak juga ditutup pada saat yang sama.

Direktur Komunikasi Korporat Kompas Gramedia Widi Krastawan menyebut masalah finansial jadi alasan utama. Itu terkait beberapa faktor sekaligus, entah karena berkurangnya jumlah pengiklan dan pembeli, serta naiknya biaya produksi. Widi memberi analogi, kejadian ini ibarat penyakit kronis yang diderita manusia.

“Ini perkara hidup-mati keseluruhan keluarga grup majalah. Jadi, harus ada yang ‘diamputasi’. Kalau nggak, bisa mati semuanya. ‘Surat dokter’ yang menyuruh untuk ‘amputasi’ itu objektif. Majalah-majalah itu kena duluan karena ‘kesehatannya’ yang paling terganggu,” kata Widi.

Semua berawal dari ambisi Kompas Gramedia menguasai pasar. Mereka bermaksud mengisi ceruk bagi tiap segmen pembaca di masyarakat.

Widi menjelaskan filosofi lawas tentang “banyak anak, banyak rezeki”. Ketika itu Grup Kompas Gramedia berpikir bisa mengisi semua segmen, misalnya bagi yang suka dunia mode, mobil, atau rumah. “Secara populasi, itu benar. Tapi dalam prosesnya tak semua unit itu menggiurkan untuk pengiklan. Sekarang ternyata cukup sedikit anak saja, tapi yang penting jadi semua.”

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan Ignatius Haryanto mengatakan hal itu terjadi karena kerasnya persaingan di antara media-media sejenis.

“Misalnya majalah Fortune banyak pesaingnya, entah majalah Globe atau SWA. Majalah gaya hidup juga sangat banyak di Indonesia. Jadi, mungkin mereka tak cukup kuat untuk bertarung di pasar, makanya ditutup,” kata Haryanto.

Pemimpin Redaksi Soccer Asis Budhi Pramono juga mengakui perkembangan pesat media online dewasa ini. Banyak pembaca lebih memilih untuk membaca berita di media online dibanding membeli media cetak. Walau begitu, bukan berarti timnya tak menyiapkan strategi untuk menghadapi kondisi ini.

Soccer kan bukan cuma tabloid. Ada pula website-nya. Jadi, kami sudah mempersiapkan konten berbeda untuk cetak dan online. Di online, pembaca bisa menemukan straight news yang sekali baca habis. Namun, ada kedalaman tulisan dan kenikmatan visual yang cuma ada di versi cetaknya,” kata Asis. “Yang jelas, ada ketidaksabaran dari pihak manajemen untuk menunggu perkembangan bisnis Soccer.”

Soccer muncul ke pasar sejak Juni 2000. Setelah lebih dari 14 tahun, perjuangan mereka mesti terhenti begitu saja. Kondisi berbeda dihadapi “majalah tua” di Kompas Gramedia: Intisari. Majalah ini telah ada sejak 1963. Selewat setengah abad, mereka mampu bertahan meraih pembaca lintas generasi.

Redaktur senior Intisari Mayong Suryo Laksono menjelaskan strategi majalahnya untuk bertahan menghadapi perkembangan zaman. Kini mereka lebih memberi fokus pada tulisan yang sesuai dengan segmen pembaca, yaitu keluarga muda.

Selain itu, redaksi juga membawa unsur kebaruan dalam tiap tulisan. “Sekarang soal materi, Intisari sudah 51 tahun. Jadi, apa sih yang belum ditulis? Tapi kita tetap cari apa yang baru, atau yang sudah ditulis pun diperkaya lagi,” katanya.

Mayong tak menepis zaman sekarang ada keharusan untuk meraba kebiasaan pembaca. Kini pembaca tak bisa membaca berlama-lama. “Jadi, kita harus kasih sesuatu yang menarik agar mereka penasaran. Tema dan narasumber yang dipilih juga harus menyesuaikan perkembangan zaman.”

Tantangan besar menanti berbagai media cetak yang kini masih bertahan. Menurut Haryanto, media saat ini mesti menjalankan konvergensi. Jadi, satu liputan bisa menghasilkan berbagai produk untuk beragam medium sekaligus, cetak, online, ataupun televisi.

Dari segi bisnis, pemasukan iklan untuk media online juga belum mampu menyaingi besaran yang diraih media cetak. “Ilustrasinya, pemasukan iklan media online saat ini selama setahun besarnya sama dengan pemasukan iklan media cetak selama dua minggu saja,” kata Haryanto.

Kini yang berlaku hukum rimba. Media yang kuat akan terus bertahan. Mereka yang tersingkir tak bisa berbuat apa-apa.

“Kalau wasit bilang permainan sudah selesai, ya kita mau bilang apa,” kata Asis.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 27 Oktober 2014.

Advertisements

2 thoughts on “Hukum Rimba Media Massa

    • sejauh ini, kelihatannya revolusi digital kok malah lebih banyak bawa degradasi mental ya lup, masih banyak PR buat jurnalis agar bisa kasih konten berkualitas dan bertanggung jawab, serta PR untuk menumbuhkan kedewasaan masyarakat di era banjir informasi kaya gini ahahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s