Konser Rakyat: Ujian Awal Revolusi Mental

IMG_0249,1

Konser rakyat pasca-pelantikan Joko Widodo sebagai presiden ke-7 Republik Indonesia/Viriya Paramita

Ribuan orang berdesakan. Para pedagang berjejer rapi, dari yang menawarkan kaus Slank, miniatur Monumen Nasional, kerak telur hingga kopi. Ada pula arena bermain anak-anak. Suasananya seperti pasar malam.

Para pengunjung hilir mudik. Sebagian duduk bergerombol beralas koran. Di sekeliling mereka bungkus makanan dan puntung rokok berserakan. Dari arah panggung, pengisi acara berteriak lantang, “Mari kita jalankan revolusi mental!”

Siang pekan lalu, Joko Widodo baru saja dilantik sebagai presiden ke-7 Indonesia. Malamnya, para relawan menggelar acara yang mereka sebut konser rakyat. Museum Rekor Indonesia mencatat, Jokowi satu-satunya presiden Indonesia yang dibuatkan acara syukuran massal.

Panitia melepas beberapa lampion sebelum konser dimulai pada pukul 19.10. Band rock Free on Saturday jadi pembuka. Beberapa penyanyi ternama ikut memeriahkan acara. Ada Saykoji, Kikan Namara, Vicky Shu, Robi Navicula, Badai Kerispatih, Yovie Widianto, dan Kahitna. Seharusnya band Gigi memeriahkan acara. Namun gitaris mereka Dewa Budjana mengabarkan duka. Sang ibu meninggal dunia. Gigi pun batal tampil.

Butet Kartaredjasa naik panggung membacakan tujuh pantun bagi sang presiden ke-7. Ia mengajak para Slankers yang memenuhi barisan depan ikut serta.

“Kerbau tambun, kerbau beri-beri. Biarpun ikutan fitness nggak bakalan seksi. Koalisi sana, koalisi sini. Sama-sama bantu Jokowi tegakkan reformasi,” kata Butet membacakan salah satu pantunnya.

Tak banyak Slankers yang menyahut memenuhi ajakan Butet. Sedari awal mereka tampak sibuk sendiri. Walau ditegur berkali-kali, mereka bersikeras mengangkat bendera Slank tinggi-tinggi menutupi kamera awak media yang meliput. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah, di antarnya Brebes, Cirebon, Cikarang, Demak, Kudus, dan Sragen.

Gitaris Slank Abdee Negara sampai naik panggung sebelum waktunya untuk menenangkan mereka. “Tahu nggak, ini seluruh Indonesia lagi nonton kalian. Ribuan penonton di belakang jadi nggak bisa lihat. Ayo turunkan benderanya. Nanti saat lagu terakhir Kaka akan minta kalian semua naikin benderanya,” kata Abdee.

Semua sontak bertepuk riuh mendengar ucapan Abdee. Bendera Slank yang berkibar sejak awal acara perlahan mulai diturunkan, walau hanya sesaat.

Kondisinya serba salah. Bagian sekitar panggung dikuasai para Slankers. Para pengunjung lain yang malas berdesakan memilih mencari hiburan sampingan. Berkeliling menyambangi para pedagang atau sekadar duduk-duduk di tempat lapang. Dengan jarak ratusan meter dari panggung, penampilan para musisi hanya seperti siaran lagu di radio. Euforia tak terbangun hingga para pembawa acara jadi sibuk sendiri.

Kondisi serupa terjadi ketika band rock asal Inggris, Arkarna, naik panggung. Seperti seluruh penampil lain, Arkarna datang secara sukarela tanpa dibayar. Sayang, kendala bahasa menyulitkan vokalis Ollie Jacobs untuk berinteraksi dengan penonton. Beberapa kali ia mengajak penonton bernyanyi bersama, tapi gagal.

Penonton baru bersorak riuh kala Arkarna membawakan lagu “Kebyar-kebyar” sebagai kejutan. Dengan suara terbata-bata Ollie bernyanyi. “Indonesia, merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu.”

Para penonton kembali terdiam saat Arkarna menutup penampilannya dengan lagu “So Little Time”. Sebelum turun panggung, para personel Arkarna menunjukkan hadiah mereka untuk Jokowi: foto Jokowi bersama gitaris Matt Hart.

Setelah Arkana, Slank tampil. Atmosfer segera berubah. Bendera Slank kembali berkibar. Penonton yang didominasi para Slankers turut bernyanyi hingga serak, dari lagu “Lo Harus Grak” hingga “Kamu Harus Pulang”.

Slank sempat membawakan lagu baru yang bercerita soal revolusi mental. Kaka menyanyikan lagu berjudul “Hijrah” itu bersama Oppie Andaresta.

“Soal revolusi mental, gue coba menerjemahkannya dengan bahasa sederhana, yaitu hijrah. Jadi, dari preman ya jadi pahlawan, dari mabuk jadi sadar, dari bodoh jadi pintar,” kata Kaka.

Saat lagu itu berkumandang, para penonton kian tak terkendali. Beberapa orang memanjat tiang-tiang besi di depan panggung sembari memasang bendera Slank di puncak. Beberapa terlibat bentrok fisik. Satu-dua penonton ditandu petugas keamanan karena lemas atau pingsan.

Usai acara, Monas terlihat mengenaskan. Sampah berserak di mana-mana menyibukkan petugas kebersihan. Konser rakyat seakan jadi ajang senang-senang sesaat.

Rasanya masih banyak pekerjaan rumah untuk menjalankan konsep revolusi mental ala Jokowi. Antropolog asal Universitas Indonesia, Bachtiar Alam, pernah menjabarkan soal ini. Menurutnya, revolusi yang dimaksud adalah perubahan total mental rakyat negara bekas jajahan. Kekuatan moral jadi landasan utama. Dari sana, barulah muncul persamaan hak, pluralisme, serta kebebasan menyampaikan aspirasi.

Para relawan telah memulai perjuangan, namun jalan mewujudkannya masih panjang dan tak melulu lempang.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 27 Oktober 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s