Abdi Setiawan: Dari Padang Merebut Dunia

IMG_4970

Pameran “The Future is Here” karya Abdi Setiawan di Galeri Red Base Art, Ciputra Artpreneur, Jakarta/Felix Jody Kinarwan

Hidup Abdi Setiawan senantiasa penuh kejutan. Perkenalannya dengan dunia seni rupa dimulai dari sekadar hobi. Saat kuliah pun ia banyak bermain hingga terancam dikeluarkan. Namun, kini ia pematung bertaraf internasional. Karya-karyanya meraih apresiasi tinggi.

Abdi lahir di Sicincin, Padang Pariaman, Sumatera Barat, pada 29 Desember 1971. Meski ayahnya pemain karawitan, sejak kecil Abdi lebih suka menggambar. Ia pun masuk Sekolah Menengah Seni Rupa di Padang untuk mendalami hobinya itu. Setelah lulus, ia bimbang ke mana melanjutkan pendidikan.

“Saat itu aku tinggal dekat pasar. Di sana aku merasa pergaulannya nggak benar. Banyak orang kasar, suka minum-minum, dan sebagainya. Karena itu, aku pikir harus keluar dari sana,” kata Abdi.

Setelah berkonsultasi dengan guru SMSR, Abdi memutuskan untuk hijrah ke Yogyakarta pada 1992. Institut Seni Indonesia tujuannya. Namun ia datang tanpa banyak persiapan dan gagal tes masuk kampus itu.

Meski demikian, Abdi tak pulang kampung. Uang bekalnya terbatas. Karena itu, ia memilih tinggal di Yogyakarta sembari belajar dari para seniornya di SMSR Padang dulu. Ia mengikuti kursus bahasa Inggris, mendalami teknik dasar sketsa, dan lainnya hingga mengikuti kembali tes masuk setahun kemudian.

IMG_4816

Abdi Setiawan/Viriya Paramita

Pada 1993 Abdi resmi menjadi mahasiswa ISI. Ia mengambil jurusan seni murni, dengan fokus utama seni patung. Namun, hidup jauh dari rumah justru membuat Abdi banyak bermain dalam keseharian. Setelah tujuh tahun hidup di Yogyakarta, ia merasa belum banyak berbuat.

“Titik balik itu terjadi pada 1999. Aku lihat teman-teman ada yang sudah lulus, sudah sering pameran. Pokoknya sudah jelas hidupnya,” kata Abdi. “Mereka sudah serius berkarya, sementara aku hanya main-main saja.”

Belum lagi ia mendapat peringatan dari kampus untuk segera menyelesaikan studi. Abdi segera berefleksi. Ia mengingat kembali tujuan ke Yogyakarta. “Aku mau kuliah. Makanya, aku harus segera selesaikan kuliah.”

Abdi kemudian serius mengubah gaya hidup. Ia berhenti menenggak minuman keras. Ia segera mencari tempat kos baru dengan ingkungan yang dirasa kondusif untuk berkarya. Ia juga menepikan hobinya mengutak-atik sepeda motor. “Aku masukkan motorku ke gudang saja,” ujarnya.

Mulanya teman-temannya terkejut melihat perubahan itu. Namun mereka ikut senang dan berusaha membantu. Kala Abdi mengunjungi teman-temannya, ia sering mendapat sumbangan perkakas seadanya untuk berkarya, entah cat ataupun kayu.

Pada 2003 Abdi berhasil lulus kuliah. Setahun berselang, pada Agustus 2004 ia mengadakan pameran tunggal untuk kali pertama di Lembaga Indonesia Prancis, Yogyakarta, dengan tajuk Gairah Malam.

1353477326

Instalasi karya Abdi Setiawan berjudul “Gairah Malam”/archive.ivaa-online.org

Kala itu Abdi membuat instalasi yang menunjukkan potret kehidupan sebuah rumah bordil. Ia menggarap pameran ini dengan semangat tinggi. Ia melakukan riset lapangan dengan mendatangi beberapa lokalisasi prostitusi, baru kemudian menuangkannya dalam karya.

Ruang pameran ditutup tirai merah jambu. Saat masuk, suasana ruang tamu rumah bordil menyambut dengan sosok germo dan beberapa wanita malam. Alunan lagu dangdut dengan lirik tak senonoh mengalun. Aroma minyak wangi menyengat. Minuman keras dan majalah dewasa bertebaran memenuhi ruangan.

Pameran ini sukses mengangkat nama Abdi Setiawan. Pada 2005 karya yang sama ditampilkan dalam pameran internasional CP Biennale di Museum Bank Indonesia, Jakarta. Sejak itu Abdi melanglang buana. Ia sempat bekerja sama dengan beberapa galeri ternama dan melakukan pameran di Singapura, Australia, Hong Kong, Belanda, dan Belgia.

Yang teraktual pameran tunggalnya bertajuk The Future is Here di Galeri Red Base Art, Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pameran selama 30 Oktober hingga 30 November ini menampilkan patung-patung yang menggambarkan perilaku anak kecil yang akrab dengan kerasnya kehidupan jalanan dewasa ini. Ada anak yang membawa pisau, bahkan menodongkan pistol ke arah anggota satuan pengamanan.

IMG_4990

Pameran “The Future is Here” karya Abdi Setiawan di Galeri Red Base Art, Ciputra Artpreneur, Jakarta/Felix Jody Kinarwan

Karya Abdi menjadi unik karena sejak awal karier ia selalu melawan “aturan main” dalam seni patung pada umumnya. Dengan bahan dasar kayu jati, ia membuat patung dengan tekstur kasar serta penggunaan warna yang kaya. Biasanya pengerjaan sebuah patung diselesaikannya selama satu hingga dua bulan.

“Dulu orang bikin patung begitu-begitu saja. Warnanya monokrom dan teksturnya halus. Aku keluar jalur dan melawan semua itu,” kata Abdi.

Namun, Abdi belum merasa puas. Ia terus menggali inovasi dan berusaha memperbaiki kelemahannya selama ini. Ia berharap suatu saat namanya tercatat dalam sejarah.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 10 November 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s