Kejadian-kejadian Bramantyo

IMG_0107

Bramantyo Prijosusilo/Viriya Paramita

“Seniman itu punya fungsi sebagai penjaga roh sebuah bangsa, sementara raja atau pemerintah yang menjaga badannya.”

Itulah prinsip yang dipegang teguh Bramantyo Prijosusilo. Baginya, seniman harus bisa merasakan dan mengamati persoalan sekitar. Dari sana, barulah menuangkannya dalam karya. Maka, karya itu bisa membawa pesan bermakna, entah menyoal penderitaan rakyat ataupun kritik bagi kebijakan pemerintah yang berkuasa.

Sewaktu kecil, Bram memang tumbuh di masa penuh pergolakan sosial. Ia lahir pada 9 Agustus 1965 di Solo, atau kira-kira sebulan sebelum peristiwa Gerakan 30 September.

Kala itu Partai Komunis Indonesia menjadi kambing hitam. Ribuan orang yang diduga sebagai simpatisan partai ditangkap dan dibunuh begitu saja. Tak terkecuali para seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat di bawah naungan PKI.

“Saat itu kita mengalami kematian kultural besar-besaran,” kata Bram. “Banyak seniman rakyat dibantai. Karena itu, ada ketakutan untuk mengekspresikan diri secara seni dan kebudayaan.”

Walau lahir di Solo, orang tua Bram tinggal di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur. Ia menempuh pendidikan SD hingga kelas 1 SMP di Ngawi. Setelah itu ia pindah ke Jakarta hingga lulus SMP. Kemudian Bram memutuskan masuk SMA Kolese de Britto Yogyakarta.

Lulus SMA pada 1983, Bram melanjutkan studi ke Institut Kesenian Jakarta di jurusan teater. Selang sebulan, ia merasa tak cocok dengan kondisi di sana. Ia pun memutuskan mendalami teater secara informal dengan bergabung di Bengkel Teater bentukan WS Rendra yang kala itu berbasis di Tomang, Jakarta Barat. Bram aktif di sana hingga 1987.

Dua tahun berselang Bram mulai mempelajari konsep seni kejadian dan patung sosial pada sosok seniman kontemporer Arahmaiani di Sanggar Suka Waras, Bandung.

“Seni kejadian itu memperluas kanvas atau panggung menjadi ruang dan waktu itu sendiri. Jadi, di situ seniman menghadirkan sebuah kejadian,” kata Bram.

Kemudian ia mulai mempraktikkan seni kejadian saat peralihan rezim Orde Baru ke era Reformasi. Pada awal 1999 ia melansir lukisan berjudul “Masturbasi Reformasi” yang menunjukkan manusia berkepala 10 sedang masturbasi. Lukisan itu dipajang di enam kereta kuda berisi sekumpulan anak jalanan yang ramai memainkan gamelan. Kereta kuda itu kemudian berputar mengelilingi Yogyakarta dan memancing perhatian warga.

Pada 2000 hingga 2006, Bram hijrah ke London, Inggris, dan bekerja di pasar kerajinan tangan Camden. Kala itu ia juga mengembangkan kelompok gamelan Sekar Gedogan dan sempat menggelar beberapa pentas wayang kulit di sana.

Nama Bram ramai dibicarakan media massa Indonesia pada Februari 2012. Saat itu ia membuat seni kejadian yang melibatkan anggota Majelis Mujahidin Indonesia di Bantul, Yogyakarta. Ini ia lakukan karena prihatin melihat merebaknya gejala radikalisme berbagai kelompok berlandasan agama Islam seperti MMI.

Sebelumnya Bram mengabarkan kedatangannya untuk melakukan mubahalah atau sumpah kutukan di depan markas MMI. Rencananya ia membawa kendi berisi ramuan macan kerah; ramuan bunga yang biasa digunakan untuk sesaji. Ia akan berdoa dan kemudian membanting kendi itu.

“Dengan membanting kendi itu, kita meminta keadilan dari Tuhan. Artinya cuma satu, antara aku atau kamu mati hari itu,” kata Bram memperingatkan anggota MMI.

Namun belum sempat rencana itu terlaksana, para anggota MMI mengeroyok Bram. “Mereka takut banget sama kendi itu. Saat air ramuannya tumpah, tanah yang kena air itu digali dan dibuang jauh-jauh,” ujarnya.

Aparat kepolisian mengamankan Bram dan membawanya ke Markas Polres Bantul. Meski demikian, ia puas karena berhasil menghadirkan sebuah kejadian.

Tak berhenti sampai di situ, Bram kembali menarik perhatian massa kala menikahkan seniman Ibnu Sukodok dengan Peri Rara Setyowati pada 8 Oktober 2014. Setyowati adalah danyang atau makhluk halus penjaga wilayah Sendang Marga, Ngawi.

Di sini Bram mencoba mengobati kerinduan masyarakat sekitar pada ritual adat pernikahan Kejawen. Selain itu, ia juga berusaha melakukan reinterpretasi mitos. Menurut Bram, kisah legenda di tanah Jawa selama ini kerap memunculkan sudut pandang serta nilai ajaran yang salah. Misalnya legenda Jaka Tarub yang mencuri selendang Nawang Wulan hingga sang bidadari itu tak bisa kembali ke kahyangan.

Hasilnya benar-benar di luar perkiraan dan ekspektasi. Ribuan orang datang memadati rumah Bram di Sekaralas yang menjadi tempat acara. Semua penasaran. Semua bersatu padu membentuk sebuah kejadian.

Tiap kejadian yang diangkat Bram memang kerap berada di luar jangkauan nalar. Namun, semua itu penuh dengan pesan tersirat yang datang dari kepekaan sosial tinggi. Rasanya, ia patut diapresiasi.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 10 November 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s