Spirulina, Makanan Ideal Masa Depan

spirulina farm

Tambak spirulina/pixgood.com

Bencana Chernobyl pada April 1986 di Ukraina telah begitu banyak membawa nestapa. Kala itu sebuah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir meledak dan menewaskan 31 orang. Tak hanya itu, efek jangka panjang bagi masyarakat sekitar masih terasa hingga kini.

Ratusan ribu orang terkena efek radiasi nuklir berskala tinggi. Akibatnya, banyak bayi lahir cacat serta terjadi pelonjakan jumlah warga yang mengidap leukemia, anemia, kanker, serta degenerasi sumsum tulang dan hati.

Berbagai penelitian dilakukan untuk meminimalisasi efek bawaan radiasi itu. Salah satunya dengan menggunakan spirulina. Hasilnya, jauh melebihi ekspektasi.

Spirulina adalah ganggang hijau kebiruan berbentuk spiral yang diperkirakan telah ada sejak miliaran tahun lalu. Ia mengandung 65 persen protein dan beragam jenis asam amino yang penting bagi tubuh manusia.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ganggang spirulina/richardahlstrom.com

Selain itu, spirulina mengandung ratusan kali lebih banyak mineral besi ketimbang sayur bayam; lebih banyak beta-carotene ketimbang wortel; dan lebih banyak mineral kalsium ketimbang susu murni.

Dan, yang terpenting, spirulina ampuh menangkal efek jahat radioaktif dalam tubuh. Pada 1993 Institut Riset Penangkal Radiasi (RIRM) Belarusia mengeluarkan hasil penelitiannya. Sebelumnya mereka memberikan spirulina dengan dosis 5 gram pada seorang anak kecil yang tubuhnya terkontaminasi radiasi. Itu dilakukan terus setiap hari. Selewat tiga minggu, terlihat penurunan 50 persen kandungan radioaktif dalam urine anak itu.

Wajar bila spirulina digunakan untuk membantu korban radiasi bencana Chernobyl. Ia mampu meningkatkan daya tahan tubuh manusia. Dengan kandungan protein tinggi, spirulina juga bisa menjadi solusi ampuh pencegah malnutrisi.

Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan spirulina sebagai makanan ideal untuk konsumsi manusia. Karena itu, lumrah bila spirulina dikonsumsi sebagai makanan pokok suku Aztec dalam peradaban kuno, serta bekal bagi para astronot NASA ketika sedang berada di luar angkasa.

Cukup mudah membudidayakan spirulina. Idealnya, ia bisa tumbuh dalam air garam pada suhu 25 – 35 derajat celcius. Indonesia terletak di wilayah tropis dan 75 persen wilayah terdiri atas lautan. Karena itu, Indonesia telah memenuhi persyaratan tersebut.

Apalagi impor pangan Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada Agustus 2014 Badan Pusat Statistik melansir data soal ini. Disebutkan pada 2003 impor pangan Indonesia mencapai nilai US$ 3,34 miliar. Sepuluh tahun kemudian impor pangan melonjak lebih dari empat kali lipat menjadi senilai US$ 14,90 miliar.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka impor pangan Indonesia. Salah satunya adalah kepemilikan lahan pertanian yang terbatas dan banyak dialihfungsikan sebagai lahan nonpertanian. Hanya sekitar 0,2 persen penduduk yang menguasai 56 persen aset nasional berupa tanah. Di Pulau Jawa 49,5 persen petani bahkan tidak memiliki lahan dan di luar Pulau Jawa mencapai 18,7 persen.

Padahal, dari 28,55 juta penduduk miskin Indonesia, 62,8 persen adalah petani. Dalam 10 tahun terakhir sekitar 500 ribu keluarga tani harus keluar dari lahannya dan menjadi penyusun masyarakat miskin di perkotaaan.

Dengan begitu, akan semakin sulit bagi Indonesia untuk mewujudkan swasembada pangan bila hanya mengandalkan produksi pertanian di daratan. Opsi lain menunggu: bertani spirulina di laut.

Hanya dibutuhkan luas wilayah sepersepuluh Kota Jakarta untuk menghasilkan 8 gram spirulina kering per hari bagi 200 juta anak. Selain itu, kita dapat menghasilkan 1 kilogram spirulina dengan 2.500 liter air saja. Di sisi lain, butuh 40 kali lebih banyak air untuk menghasilkan 1 kilogram daging yang kandungan proteinnya cuma 20 persen.

Spirulina-Powder

Bubuk spirulina/spirulina.naturalnews.com

Beberapa negara di berbagai belahan dunia telah lama mengembangkan dan mengambil manfaat spirulina. Pada 1990 peneliti mikroalga Gerald Cysewski mendirikan Nutrex Hawaii untuk mengembangkan produk suplemen berbahan dasar spirulina. Lokasi pertanian spirulina mereka di pantai Kona, Hawaii.

Dalam prosesnya, mereka menghindari pemakaian bahan kimia seperti pestisida. Dengan kondisi cuaca terik dan air laut yang bersih, mereka dapat menghasilkan spirulina berkualitas tinggi tanpa mencemari lingkungan. Apalagi spirulina mampu menyerap 6,3 ton karbondioksida dan menghasilkan 16,8 ton oksigen per hektare dalam setahun. Bisa dikatakan, ia juga merupakan salah satu penangkal masalah pemanasan global.

Meski demikian, Nutrex Hawaii bergerak secara komersial. Itu berbeda dari lembaga swadaya masyarakat asal Swiss, Antenna Technologies. Mereka meneliti dan menyebarkan teknologi yang berguna bagi kebutuhan mendasar manusia, khususnya bagi kalangan akar rumput atau rakyat miskin di berbagai belahan dunia. Berbagai bidang penelitian dijalankan, di antaranya agrokultur, energi, air bersih, dan nutrisi.

Sejak 1995 mereka merambah India, tepatnya di Kota Madurai, untuk mengembangkan spirulina. Di sana mereka membantu para perempuan lokal agar bisa hidup mandiri. Caranya, dengan menawarkan spirulina berharga terjangkau untuk ditanam dan dijual kembali.

Melalui salah satu cabang di Belanda, Antenna membantu proses penjualan dan distribusi spirulina hasil panen para perempuan India itu di wilayah Eropa. Dengan begitu, diharapkan warga terbantu secara ekonomi sekaligus terjaga kesehatannya di saat yang sama.

Pada 2008 saja telah ada setidaknya 40 tangki yang berfungsi sebagai tambak spirulina di Madurai. Setiap tangki berukuran 6 x 3 meter. Belasan perempuan bertani di sana dan menghasilkan 4 kilogram spirulina kering per hari. Spirulina itu dihargai kira-kira Rs 1.000 per kilogram di pasar atau setara dengan Rp 200 ribu.

Bisa dihitung berapa keuntungan yang didapat warga lokal itu bila berhasil menjual 120 kilogram spirulina per bulan. Yang jelas, nilainya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Madurai.

5257424637_e047498554_z

Wanita di India membudidayakan spirulina/flickr.com

“Para perempuan yang membudidayakan spirulina itu mendapat bayaran yang cukup adil –kira-kira dua kali lebih banyak dibanding para petani beras di sawah– dan pekerjaannya jauh lebih ringan secara fisik. Terlebih lagi pekerjaan ini tidak tergantung pada kondisi cuaca yang bagus dan para perempuan itu tak rentan menemui risiko jadi pengangguran,” kata Amy Sheppey, analis sektor pembangunan asal Inggris, pada The Guardian, September 2014.

“Mempertimbangkan banyaknya keuntungan yang bisa didapat dari spirulina, saya mempertanyakan hingga hari ini, mengapa spirulina tidak digunakan secara lebih luas pada sektor-sektor pembangunan lainnya.”

Maka, tak berlebihan jika Indonesia memberi perhatian lebih pada spirulina. Ada total 17.449 pulau di Indonesia dengan garis pantai sepanjang 81 ribu kilometer. Potensi lautnya bernilai luar biasa.

Karena itu, sungguh tepat bila Presiden Joko Widodo berniat menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui sektor ekonomi kelautan. Mau tak mau, di sini terkait pula persoalan industri pengolahan pangan.

Dengan mengembangkan spirulina, Indonesia bisa menekan impor pangan, meningkatkan mutu kesehatan masyarakat, serta mencapai swasembada pangan dengan cara ramah lingkungan. Bertani di laut adalah wujud ideal masa depan.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 10 November 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s