Menimbang Jurnalisme Bencana

diversitylane_media_for-blog1

Ilustrasi jurnalisme pernyataan/diversitylane.wordpress.com

Jatuhnya pesawat Air Asia QZ8501 di dekat Selat Karimata pada 28 Desember 2014 membawa banyak duka. Hingga kini belum ada kronologi pasti ihwal kecelakaan tersebut. Tiap hari, bahkan dari menit ke menit, puluhan media memberitakan perkembangan pencarian korban dan komentar pengamat soal ini. Banjir informasi; beberapa akurat, sisanya spekulasi. Apa yang seharusnya dilakukan media ketika meliput bencana?

Buku Blur: Bagaimana Mengetahui Kebenaran di Era Banjir Informasi karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menjelaskan delapan fungsi penting jurnalisme yang relevan dengan kondisi saat ini. Pers harus bisa menjadi otentikator, penuntun akal, investigator, penyaksi, pemberdaya, agregator cerdas, penyedia forum, dan panutan.

Karena itu, wartawan mesti memilah mana informasi yang bisa dipercaya dan beberapa bukti mendasar mengapa demikian. Jangan sampai berita yang disajikan menyesatkan pembaca.

Misalnya kasus hilangnya pesawat Adam Air pada 1 Januari 2007. Sehari berselang telah beredar kabar pesawat itu ditemukan di desa terpencil Rangoan di Kecamatan Matangga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Saat itu beberapa media online ternama berhasil mendapatkan konfirmasi kabar itu dari para pejabat terkait. Di antaranya bagian penerangan Lapangan Udara Hasanuddin Makassar, Kepala Kepolisian Sektor, dan Bupati Polewali Mandar. Para narasumber “bersepakat” menyebutkan 90 orang tewas dan 12 orang selamat dalam kecelakaan tersebut.

Setelah itu, kabar tersebut terbukti keliru. Saat tim SAR, pejabat daerah, dan para wartawan mendatangi “lokasi” kecelakaan dengan menempuh perjalanan selama sehari, ternyata warga sekitar bersaksi belum pernah melihat pesawat atau jasad korban di sana. Dalam buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, sang penulis Ahmad Arif mengecam kejadian itu.

“Hilangnya sikap skeptis wartawan dan kemalasan wartawan melakukan verifikasi, termasuk mencoba mencari informasi dari tangan pertama, misalnya dengan menghubungi kepolisian setempat, ikut menyebabkan berita tak benar ini menyebar dengan cepat,” tulis Ahmad.

Kejadian nyaris serupa terulang pada hari yang sama setelah hilangnya pesawat Air Asia QZ8501. Saat itu beredar kabar pesawat telah mendarat darurat dan selamat di Belitung Timur.

Beberapa jam kemudian ada keluarga salah satu penumpang yang mendapat kabar dari keponakannya di Australia. Si keponakan melihat di televisi Australia berita tentang banyak orang mengapung di perairan Belitung dan sudah ditangani pihak dari Jakarta.

“Kabar” itu diberitakan salah satu media online, walau sumbernya tidak spesifik. Alhasil, hanya kebingungan yang didapat para keluarga korban yang sedang berjuang mencari kepastian.

Jurnalisme pernyataan pun mendominasi. Para wartawan dengan cepat menghubungi “pengamat” penerbangan, pejabat terkait, keluarga korban, dan lain-lain untuk meminta komentar mengenai kecelakaan tersebut. Padahal, kebanyakan narasumber tak mengerti betul soal teknis penerbangan pesawat. Disinformasi pun tak terelakkan.

Senin pekan lalu pilot senior Air Asia, Dwi Harso Syah, akhirnya angkat bicara. Ia menyayangkan banyak pendapat dari pengamat penerbangan seputar kecelakaan ini yang menimbulkan paranoia terhadap dunia penerbangan. Muncul kesan, awan cumulonimbus (CB) adalah sesuatu yang menakutkan hingga jadi penyebab satu-satunya kecelakaan pesawat Air Asia QZ8501.

“Awan cumulonimbus itu sahabat kami. Ia ada dan kami juga ada. Ia bukan musuh yang seolah-olah tak bisa diatasi. Mendengar analisis para pakar itu, saya malah jadi takut sendiri sekarang. Padahal, sebagai pilot yang telah puluhan tahun bekerja, saya sudah berkali-kali terbang dan masuk ke taifun‎, tapi ya bisa teratasi dengan baik,” kata Dwi.

Pada April 2014 Kim Tong-Hyung menulis di Korea Times tentang hal yang harus dipegang teguh wartawan ketika meliput bencana. Jangan sampai reportase mengganggu usaha penyelamatan; jangan sampai tulisan tentang bencana justru menimbulkan ketakutan yang tak perlu; selalu mengevaluasi klaim yang samar untuk menghindari disinformasi.

Selain itu, jangan memaksa korban atau keluarganya untuk diwawancari; mengurangi pengambilan gambar jarak dekat; jangan menggunakan gambar atau video yang bersifat brutal atau provokatif; menahan diri untuk mengumbar detail informasi pribadi para korban yang selamat ataupun tewas.

Sayangnya, yang ideal kerap mengambang sebatas di tataran wacana.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 12 Januari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s