Charlie and the Hatred Factory

wpid-france_newspaper_attack2-e1420689239169

Aksi unjuk rasa di Paris sebagai bentuk solidaritas atas korban penembakan kantor Charlie Hebdo pada 7 Januari 2015/traemcneely.com

Film Charlie and the Chocolate Factory bercerita soal perjalanan bocah lugu Charlie Bucket mengelilingi pabrik cokelat raksasa milik Willy Wonka. Ia terkesima melihat ragam keajaiban yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Karena itu Charlie begitu bahagia di sana.

Hal sebaliknya terjadi dengan Charlie Hebdo, majalah mingguan asal Prancis yang belakangan merebut perhatian publik. Sebuah insiden penembakan pada 7 Januari 2015 di kantor mereka di Paris menewaskan 12 orang. Semua terjadi karena kebencian yang mereka pupuk sejak lama. Bisa dikatakan, mereka adalah “pabrik kebencian” publik. Bila perjalanan majalah ini difilmkan, mungkin judul yang tepat adalah Charlie and the Hatred Factory.

“Teman-teman kami tewas karena gambar-gambar kecil, karena sebuah lelucon. Namun apa yang terjadi pada kami bukanlah lelucon. Para muslim mesti mengerti, kami di Charlie Hebdo memandang Islam sebagai agama normal, persis seperti agama lain di Prancis. Islam harus bisa menerima untuk diperlakukan sama seperti agama-agama lain di negara ini. Dan mereka juga mesti bisa menerima humor.”

Itulah yang diucapkan Zineb El Rhazoui sesaat setelah Charlie Hebdo merilis gambar sampul depan untuk terbitan terbaru, Selasa pekan lalu. Rhazoui adalah salah satu kolumnis yang selamat dari insiden penyerangan dan penembakan tersebut.

Sampul untuk edisi ini menunjukkan kartun Nabi Muhammad (lagi-lagi) berwajah muram, berlinang air mata, sedang mengangkat kertas bertulis “Je Suis Charlie” (Kami adalah Charlie). Di sebelah atas terdapat pula tulisan “Tout Est Pardonne” yang berarti “semua telah dimaafkan”.

Tragedi yang Charlie Hebdo alami memang sontak membuat nama mereka “mendunia”. Sebelumnya, majalah ini biasa menerbitkan 60 ribu kopi sekali cetak. Untuk edisi terbaru, penerbit menyiapkan setidaknya 3 juta kopi yang akan didistribusikan ke 25 negara dan diterjemahkan ke 16 bahasa. Itu dilakukan untuk memenuhi permintaan global.

Tak hanya itu, banyak pihak dari berbagai penjuru dunia seakan berlomba mengecam dan melontarkan protes terhadap pelaku, entah di jalan ataupun media sosial. Sebagai bentuk solidaritas, mereka pun dengan lantang menyerukan, “Je Suis Charlie!”

CharlieHebdo_march_640

Lebih dari sejuta orang berunjuk rasa di jalanan Paris, Prancis, sebagai bentuk solidaritas bagi para korban penembakan kantor Charlie Hebdo/blog.constitutioncenter.org

Namun, apakah benar masalahnya hanya sesederhana lelucon yang ditanggapi kelewat serius, seperti kata Rhazoui?

Islamofobia
Kini jumlah penduduk dunia diperkirakan telah melampaui 7 miliar jiwa. Dari jumlah tersebut, 2,3 miliar di antaranya umat Kristen; yang terdiri atas Katolik, Protestan, Ortodoks, dan Anglikan. Sementara 1,6 miliar adalah muslim.

Menurut data Pew Research Center pada Desember 2012, 60 persen muslim berada di Asia Pasifik, 20 persen di Timur Tengah dan Afrika Utara, serta 16 persen di wilayah Afrika Sub-Sahara. Sisanya tersebar 3 persen di Eropa serta kurang dari 1 persen di Amerika Utara, Amerika Latin, dan Karibia.

Karena itu, walau merupakan salah satu agama dengan pengikut terbanyak di dunia, Islam tetap jadi minoritas di Eropa dan Amerika. Di Prancis misalnya, hanya ada 5 juta hingga 6 juta muslim dari total 66 juta penduduk.

Yang merepotkan, sejak lama Islamofobia berkembang secara laten dan pervasif di Barat. Pada Februari 1997 lembaga kajian riset dan kebijakan sosial di Inggris, The Runnymede Trust, merilis laporan “Islamophobia: Its Features and Dangers”. Mereka mendefinisikan Islamofobia sebagai kebencian tak berdasar pada muslim, dan karena itu memunculkan rasa takut atau tak suka pada seluruh atau mayoritas muslim. Ini merujuk pada konteks muslim di Eropa pada umumnya, dan Inggris secara khusus pada saat itu.

Namun, diperkirakan konsep Islamofobia telah berkembang di Eropa setidaknya sejak awal abad ke-20. Étienne Dinet dan Sliman Ben Ibrahim sempat membahasnya dalam buku La Vie de Mohammed, Prophéte d’Allah terbitan 1918. Mereka menggambarkan Islamofobia sebagai sikap politik pemerintah Prancis yang mengorbankan tentara muslim pada Perang Dunia I demi “mengharumkan” nama bangsa dan negara.

Gejala ini pun meluas secara signifikan di Barat setelah Tragedi 11 September 2001. Kala itu 19 orang dari kelompok militan Islam, Al-Qaeda, membajak empat pesawat penumpang dan menabrakkannya ke beberapa titik di Amerika Serikat. Menara kembar World Trade Center di New York dan gedung Pentagon di Arlington, Virginia, hancur karenanya. Serangan ini menewaskan setidaknya 3 ribu orang.

go-home

Islamofobia di Amerika Serikat/promahi-nea.blogspot.com

“Permusuhan” di antara muslim dan masyarakat Barat akhirnya kian meruncing. Lembaga riset asal Amerika, Gallup, menjabarkan beberapa faktor pendorong hal tersebut dalam laporan “Islamophobia: Understanding Anti-Muslim Sentiment in the West”.

“Perbedaan kultur, agama, dan kepentingan politik bisa jadi telah meruncingkan opini publik yang terbentuk di antara kedua belah pihak. Definisi tentang Islamofobia cenderung menunjukkan rasa takut atau kebencian terhadap muslim karena sikap politik dan kultur mereka, juga terhadap Islam dan keimanan para muslim,” tertulis dalam laporan itu.

Charlie
Mulanya, Charlie Hebdo terbit dengan nama Hara-Kiri pada Februari 1969. Sejak awal kemunculannya, mereka memang rajin memantik kontroversi. Mereka pernah dibredel pemerintah pada akhir 1970 karena dianggap mencemooh kematian Charles de Gaulle, Presiden Prancis saat itu, yang lebih menghebohkan dibandingkan peristiwa kebakaran di Club Cinq-Sept yang menewaskan 146 orang, delapan hari sebelumnya.

Barulah mereka terbit kembali beberapa bulan berselang dengan nama Charlie Hebdo, terinspirasi dari Charlie Brown, salah satu tokoh komik buatan majalah ini. Sempat berhenti terbit pada 1981, mereka kembali terbit pada 1992. Sejak itu mereka membangun reputasi sebagai majalah satire yang kerap menampilkan gambar-gambar provokatif menyoal isu politik, agama, ataupun militer.

Pada 2006 Charlie Hebdo memuat ulang karikatur Nabi Muhammad yang muncul di majalah asal Denmark, Jyllands-Posten, setahun sebelumnya. Di sana, Nabi Muhammad digambarkan sedang menangis dengan tulisan “Sulit sekali dicintai oleh orang idiot”.

Protes keras terjadi di mana-mana, terutama dari umat Islam yang merasa dilecehkan. Dalam ajaran Islam, secara umum memang haram hukumnya menggambar atau memvisualkan wajah Nabi Muhammad.

Tak kapok, pada Oktober 2011 Charlie Hebdo menerbitkan edisi khusus yang menampilkan gambar Nabi Muhammad sedang tersenyum sembari berujar, “100 cambukan bila Anda tidak mati tertawa”. Tertulis pula bahwa edisi itu disunting oleh sang nabi dan untuk sementara berganti nama jadi Charia Hebdo yang bermakna “Hebdo Syariah”. Terbitan ini merupakan reaksi terhadap kemenangan Partai Islam Ennahda di Tunisia. Tak lama kemudian kantor mereka mendapat serangan bom molotov.

france-arson-charlie-hebdo-offices

Kantor Charlie Hebdo di Paris mendapat serangan bom molotov pada 2011/nydailynews.com

Tak sampai setahun berselang, kartun Nabi Muhammad muncul kembali. Bahkan digambarkan telanjang bulat dan sedang difilmkan dari belakang. Di sebelah atas terdapat tulisan “Film yang akan membuat dunia muslim membara”. Sampul ini muncul sebagai reaksi atas beredarnya “trailer” film kontroversial Innocence of Muslims di YouTube pada Juli 2012.

Pada Desember 2014, giliran umat Kristen yang mendongkol kala sampul Charlie Hebdo menampilkan karikatur Bunda Maria melahirkan Yesus berwajah mirip babi. Lalu tentu saja, beberapa menit sebelum penembakan yang menewaskan 12 orang itu terjadi, tim redaksi baru saja mengunggah di Twitter gambar pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi sedang berujar, “Berharap yang terbaik dan sehat selalu.”

Apa yang sebenarnya Charlie Hebdo lakukan dan tuju selama ini? Memancing empati terhadap 146 korban kebakaran pada 1970 jelas berbeda esensi dengan mengolok-olok Islam dan nabinya, terutama di tengah kepungan Islamofobia di Barat.

Komedi atau Bully?
Konsep humor telah diperbincangkan sejak masa sebelum Masehi. Walau begitu, filsuf besar Yunani seperti Plato dan Aristoteles, memandang humor sebagai buah kedengkian. Itu karena tawa yang tercipta dianggap datang dari hasil caci maki atau ejekan. Secara tak sadar kita merasa lebih superior dibanding orang yang kita tertawakan. Humor membuat kita cuek atas kontrol diri yang rasional.

Wacana ini dikembangkan para filsuf generasi selanjutnya seperti Thomas Hobbes dan René Descartes hingga kerap disebut sebagai teori superioritas. Dalam perkembangannya muncul pula teori kelegaan dan keganjilan.

Menyoal teori kelegaan, John Dewey mengatakan, “Itu adalah proses relaksasi mendadak dari sebuah ketegangan…Tawa adalah fenomena yang secara umum sama dengan helaan napas karena kelegaan.”

Di sisi lain, teori keganjilan dibahas banyak tokoh, di antaranya James Beattie dan Immanuel Kant. Pendekatannya kurang lebih serupa dengan teknik para stand-up comedian: membangun ekspektasi di awal, lalu menjatuhkannya kemudian dengan pukulan telak (punch line).

Tanpa disadari, kita kerap menemukan implementasi ketiga teori tersebut dalam keseharian. Bahkan, serial kartun legendaris macam The Simpsons kerap mengombinasikan berbagai model humor itu di tiap episodenya. Medium kartun memang kerap membawa absurditas nan paradoks: terasa dekat dan jauh di saat bersamaan.

The Simpsons berhasil melakukannya secara brilian, terutama ketika menyoal agama. Bukan berarti The Simpsons adalah bentuk propaganda ateis; tujuan utamanya bukanlah mempercayai Tuhan atau kekuatan supernatural, tapi menunjukkan arogansi agama-agama tertentu yang secara luar biasa bisa mengetahui secara pasti kehendak Sang Pencipta,” kata filsuf Julian Baggini pada BBC, Mei 2006.

Homer-Simpson-paradox

Homer Simpson/epicjokes.com

Misalnya dalam episode “Homer the Heretic” kala Homer menolak pergi ke gereja dan memutuskan untuk mencari Tuhan dengan caranya sendiri: bermalas-malasan di rumah. Saat itu ia berkali-kali melontarkan pembenaran diri.

“Untuk apa kita pergi ke gedung yang sama tiap Minggu, bukankah Tuhan ada di mana-mana?”

“Bagaimana jika kita telah memilih agama yang salah? Apakah setiap pekan kita hanya akan membuat Tuhan semakin dan semakin marah?”

Di sana, ada superioritas dalam diri Homer kala meragukan logika berpikir para kerabatnya yang begitu rajin ke gereja. Ada keganjilan pula dalam tiap pembenarannya. Tak lupa, ada kebenaran logis dalam kata-kata Homer yang menimbulkan kelegaan dalam diri.

Menurut Julian, humor Homer berhasil karena membuat semuanya tetap sederhana, tanpa menyederhanakan persoalan.

Beda halnya dengan Charlie Hebdo yang seakan kerap menyederhanakan. Haram hukumnya menggambar sosok Nabi Muhammad, kecuali untuk mereka. Umat Islam gusar melihat sang nabi diperolok dalam film, Charlie Hebdo justru semakin semangat menuang minyak dalam api.

Mereka bilang, mereka tak lupa menyerang agama lain agar keadilan terjaga. Namun Nabi Muhammad selalu menjadi topik terseksi. Dus, mereka melakukannya secara superior di Prancis, Eropa, tempat para muslim terimpit posisinya sebagai minoritas karena gejolak Islamofobia.

Sekilas, mereka beraksi seperti Giant kala mem-bully Nobita. Lalu ketika Doraemon datang, Giant hanya bisa lari, bersembunyi di balik ketiak ibunya yang galak. Namun ketika saatnya tiba, Giant akan selalu hadir kembali, mengulang lagi apa yang telah ditangisi.

Pembunuhan memang tak bisa dibenarkan, tapi kebebasan berpendapat pun tak berarti bisa senantiasa bebas menghajar batas.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 19 Januari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s