Tahu Gejrot Tak Sepedas Dulu

1

Tahu gejrot/defidi.wordpress.com

Sabtu 17 Januari 2015. Syaiful terlihat tergesa-gesa. Tiga remaja perempuan menyambangi gerobaknya secara bersamaan. Segera ia menyiapkan tiga gelas plastik sebagai wadah tahu gejrot.

Ia pun mulai mengulek bumbu berbahan utama bawang merah, bawang putih, dan cabai hijau di cobek. Awalnya cabai rawit ikut serta. Itu elemen penting yang membuat tahu gejrotnya begitu menggigit di lidah pelanggan. Namun, semua berubah sejak dua bulan lalu.

Syaiful telah tiga tahunan berdagang di Kota Tua, Jakarta Barat. Namun, sejak Desember 2014 ia memutuskan meninggalkan cabai rawit. Kala itu harga cabai rawit melonjak hingga Rp 100.000 per kilogram. “Makanya saya pakai cabai hijau saja, lebih murah,” katanya.

Semua bermula pada 17 November 2014 saat pemerintahan Presiden Joko Widodo mengumumkan menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi Rp 2.000. Harga premium pun menjadi Rp 8.500 dan solar Rp 7.500 per liter. Alasannya untuk mengalihkan subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dari sektor konsumtif ke sektor produktif.

“Prinsipnya, mengalihkan subsidi BBM ke usaha-usaha produktif. Misalnya pupuk petani, solar untuk kapal nelayan dan usaha mikro, kecil, dan menengah. Bukannya subsidi untuk kenikmatan,” kata Jokowi kala itu. “Memang tidak langsung kelihatan, baru kelihatan tahun depan, atau tahun depannya lagi.”

Di lapangan, masyarakat menengah ke bawah yang paling terpukul akibat kebijakan itu. Tarif angkutan umum dan harga sembilan bahan pokok pun membubung tak terkendali. Harga cabai rawit yang sebelumnya Rp 50.000 per kilogram pun naik hingga dua kali lipat. Mereka yang berdagang makanan berbahan cabai rawit akhirnya mesti beradaptasi.

061196300_1415693563-Harga-Cabai-Keriting-Naik-111114-OJT-AGR-3

Harga rawit merah meroket, warga manfaatkan cabai busuk/liputan6.com

Misalnya Paijo, penjual bakso keliling di Malang, Jawa Timur. Agar tidak kehilangan pelanggan, ia mengganti cabai dengan menambah lebih banyak saus sambal dan merica dalam tiap porsi bakso. “Kalau kuahnya sudah panas dan pedas oleh merica, biasanya sambalnya sedikit,” katanya.

Meski begitu, harga premium dan solar turun lagi menjadi Rp 7.600 dan Rp 7.250 pada awal 2015. Itu dilakukan dengan menghitung harga rata-rata minyak dunia yang terus turun beberapa waktu terakhir. Bahkan selewat pekan pertama Januari, harga minyak dunia kembali anjlok hingga kisaran US$ 50 per barel, kali pertama sejak April 2009.

Ini bisa terjadi karena Organisasi Negara-negara Anggota Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) bersikeras mempertahankan kuota produksi kolektifnya. Selain itu, menguatnya dolar Amerika Serikat dan lesunya perekonomian Tiongkok dan Eropa juga berpengaruh.

Karena itulah pemerintah kembali menurunkan harga BBM pada 19 Januari 2015. Harga premium menjadi Rp 6.600 dan solar Rp 6.400 per liter. Ini beda tipis dari harga sebelum kenaikan harga BBM bersubsidi pertama kali di era pemerintahan Jokowi pada November silam.

“Nggak (menyesal), dong. Waktu pemerintah menaikkan jadi Rp 8.500, itu harga keekonomiannya Rp 9.400. Tak ada yang tahu harga minyak turun drastis,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil.

Pemerintah memang bermaksud melepas harga premium mengikuti harga pasar minyak dunia. Perhitungan dilakukan menggunakan rata-rata harga indeks minyak dan nilai tukar dolar AS berdasarkan kurs beli Bank Indonesia. Harga rata-rata tersebut diambil selama periode tanggal 25 hingga 24 bulan sebelumnya.

“Masyarakat diajak membiasakan diri dengan dinamika harga keekonomian,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.

Dari sana, muncul tiga kategori BBM. Pertama, BBM tertentu yang masih disubsidi, yakni minyak tanah dan solar. Kedua, BBM khusus atau penugasan, yaitu premium yang didistribusikan ke luar wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Pemerintah menugaskan Pertamina untuk menyalurkan BBM ke wilayah-wilayah tersebut karena dinilai relatif lebih jauh dan sulit.

Ketiga, BBM umum, yaitu premium yang tidak disubsidi dan berlaku hanya untuk wilayah Jawa, Madura, dan Bali. Walau begitu, skema ini belum berlaku sepenuhnya. Karena masih dalam masa transisi, saat ini harga premium di seluruh wilayah masih sama rata. Nantinya, harga premium akan berbeda di tiap wilayah, tergantung tingkat kesulitan proses distribusi.

Masalahnya, penurunan harga BBM tak diiringi dengan turunnya harga kebutuhan pokok dan ongkos angkutan umum. “Di Indonesia belum cocok meliberalisasikan harga BBM, sehingga diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar,” ujar Teddy Lesmana, ekonom dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

0034584bbmsubsidi021409067259-preview780x390

Ilustrasi fluktuasi harga BBM bersubsidi/bisniskeuangan.kompas.com

Alhasil, muncul price rigidity alias kekakuan harga. Dalam teori ekonomi, ini biasa terjadi dalam pasar oligopoli karena produsen industri bermaksud terus menguasai pasar dan meraih keuntungan maksimal. Pasar oligopoli merujuk pada kondisi pasar yang berisi sedikit penjual sehingga muncul tingkat persaingan tinggi di antara penjual.

Ekonom Paul Sweezy menjabarkannya dalam konsep the kinked demand curve atau kurva permintaan patah. Jadi, ketika sebuah perusahaan menaikkan harga produknya, ia bisa kehilangan pelanggan karena pesaing lain tak akan mengikuti kebijakan itu. Di sisi lain, kala perusahaan menurunkan harga, para kompetitor akan berlomba melakukan hal serupa.

“Sekali harga meningkat karena kenaikan bahan bakar minyak, harga itu tidak akan turun ketika tarif bahan bakar minyak turun. Itu yang disebut kekakuan harga atau price rigidity,” kata I Kadek Dian Sutrisna Artha, Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia.

Karena itu, pemerintah bermaksud turun tangan menjaga stabilitas harga pasar. “Bulog akan ikut bermain di pasar sehingga akan menciptakan stabilitas harga. Sebenarnya kalau harga naik karena alasan ekonomi, itu tidak masalah. Tapi kalau naik karena permainan, itu perlu dikontrol,” ujar Sofyan. “Nanti Menteri Perhubungan akan punya kebijakan mengenai tarif angkutan.”

Beberapa hari sebelum penurunan harga BBM pada 19 Januari 2015, harga cabai rawit masih menyentuh Rp 120.000 per kilogram. Namun di hari pelaksanaan kebijakan itu, harga turun menjadi Rp 80.000.

Syaiful yang sebelumnya telah menaikkan harga seporsi tahu gejrot dari Rp 6.000 jadi Rp 7.000 pun kini mesti berpikir ulang. Apakah ia akan bertahan atau menyesuaikan dengan harga BBM baru?

Bila melihat tren belakangan, kemungkinan besar Syaiful bakal terkena sindrom kekakuan harga. Sama halnya dengan ongkos angkutan umum yang ia tumpangi untuk pergi-pulang dari atau ke rumahnya di wilayah Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Dulu, sekali jalan tarifnya hanya Rp 3.000, tapi kini kaku di angka Rp 4.000.

Kemiskinan672

Ilustrasi warga miskin/www.iyaa.com

Syaiful, perantau dari Purwokerto, Jawa Tengah, kini telah berusia 30 tahun. Punya dua anak sebagai tanggungan hidup, ia tak bisa sembarangan mematok harga barang jajaannya. Bila lebih mahal sedikit saja, ia bisa ditinggal pelanggan. Fluktuasi harga BBM dalam beberapa bulan terakhir, benar-benar mempersulit hidup Syaiful. Dan tentu saja, merusak cita rasa tahu gejrotnya.

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 26 Januari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s