Ada Bukit Instagram di Bandung

IMG_0916

Bukit Instagram/Viriya Paramita

“Begitu mudahnya orang-orang mendapatkan berbagai berita dari media sosial rasanya sungguh menakutkan,” kata Rush Limbaugh, penulis dan pembawa acara asal Amerika Serikat.

Banjir informasi adalah salah satu konsekuensi perkembangan media sosial dewasa ini. Berita mengenai apa saja dan dari mana saja kini bisa kita temukan segera secara online. Tak terkecuali soal tempat wisata.

Tengok saja Tebing Karaton di Kampung Ciharegem Puncak, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Bandung, Jawa Barat. Mulanya tebing ini bagian dari Taman Hutan Raya Djuanda seluas 590 hektare yang membentang dari Dago Pakar hingga Maribaya. Kawasan ini merupakan daerah konservasi, sehingga tak sembarang orang bisa memasukinya.

Semua berubah sejak pertengahan 2014. Menurut cerita yang beredar, kala itu seorang mahasiswa asal Yogyakarta iseng menyelundup masuk kawasan itu. Pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, ia menemukan sebuah tebing dengan bebatuan menjorok ke jurang. Warga biasa menyebut tebing itu Cadas Jontor.

“Orang Dinas Kehutanan menyebut tempat itu Patahan Lembang,” kata Agus Wiyana, 26 tahun, petugas Penjaga Aset Taman Hutan Raya Djuanda. “Disebut seperti itu karena ia membentang antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat, terbelah oleh Sungai Cikapundung.”

Sejauh mata memandang, kita bisa menyaksikan pegunungan dan deretan pohon-pohon pinus dari arah tebing. Pada pagi hari kabut menyelimuti pepohonan hingga menciptakan suasana elok nan magis. Angin gunung menjadikan udara terasa segar dan sejuk.

IMG_0944

Suasana pagi di Tebing Karaton/Viriya Paramita

IMG_0955

Pohon-pohon pinus di Tebing Karaton/Viriya Paramita

Terkesima oleh pemandangan yang terhampar, sang mahasiswa segera mengabadikan momen menakjubkan itu dan mengunggahnya ke berbagai media sosial. Segera foto-foto itu menyebar di dunia maya. Kemudian banyak orang berbondong-bondong mencari tahu dan mendatangi tebing itu. Alhasil, muncullah sebutan Bukit Instagram karena begitu banyak orang mengunggah foto di sana ke media sosial Instagram.

IMG_0922

Fajar di Tebing Karaton/Viriya Paramita

Di sisi lain, Asep Sobana, 43 tahun, dipercaya sebagai pemberi nama Tebing Karaton. Pencari rumput ini mengaku mendapat wangsit untuk sebutan itu pada tengah malam menjelang 1 Mei 2014. Ia pun berinisiatif memasang pelang penunjuk dan memperbaiki jalanan sekitar tebing. “Karaton kan sebuah kemegahan dan kemewahan alam. Di sini alamnya indah dan megah,” katanya.

Tak hanya itu, Asep juga membuka warung bandrek serta tempat parkir dan toilet umum. Selanjutnya kian ramai wisatawan yang berkunjung. Melihat besarnya animo pengunjung, pada 8 Agustus 2014 pemerintah menjadikan Tebing Karaton sebagai tempat wisata.

IMG_0940

Papan nama Tebing Karaton/Viriya Paramita

Biasanya sekitar 200 hingga 300 pengunjung datang pada hari biasa serta 400 hingga 700 pengunjung di akhir pekan. “Saat Tebing Karaton baru ngetop, bisa datang 700 sampai 800 orang per hari. Bahkan, saat akhir pekan, pernah datang 3.000 orang sekaligus ke sini,” kata Agus.

Untuk mencapai Tebing Karaton, kita mesti melalui Dago Pakar ke arah Taman Hutan Raya Djuanda, melewati jalanan yang relatif sempit, curam, dan berbatu. Karena itu, pengunjung tidak disarankan menggunakan mobil sedan.

Setelah melewati pintu gerbang taman tersebut, mesti berbelok ke kanan dan memasuki wilayah perkampungan. Selewat sekitar 3 kilometer, kita akan menemukan warung bandrek dengan baliho besar milik Asep. Kemudian jalan kembali menanjak hingga mencapai lokasi parkir umum Tebing Karaton. Tarif parkir mobil Rp 10.000 dan sepeda motor Rp 5.000. Dari tempat ini kita bisa berjalan kaki beberapa kilometer sebelum tiba di pintu masuk.

Pilihan lain adalah menggunakan jasa ojek dengan tarif sekitar Rp 15.000 sekali jalan. Wisatawan lokal dikenai tarif masuk Rp 11.000 dan turis asing Rp 76.000. Tebing Karaton dibuka untuk umum dari pukul 5 pagi hingga 6 sore.

Saat suntuk menyergap, Tebing Karaton bisa menjadi pilihan wisata ideal. Namun, jangan terlalu bersemangat berdiri di atas tebing tepi jurang dan asyik berfoto hingga lupa keselamatan.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 16 Februari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s