Banyak Jalan Memaknai Imlek

article-2090516-11677D7D000005DC-71_964x642

Perayaan tahun baru Imlek di Beijing, Tiongkok, 2012/Daily Mail

Keluarga jauh saling bertukar kabar. Mereka berjanji untuk berkumpul bersama sembari memanjatkan doa untuk para leluhur. Tak hanya itu, baju baru telah dibeli dan angpau siap dibagikan. Secara umum, itulah yang dilakukan warga keturunan Tionghoa di berbagai belahan dunia menjelang tahun baru Imlek.

Namun dari tahun ke tahun, perdebatannya selalu sama. Di manakah posisi perayaan ini sebenarnya? Apakah termasuk hari raya agama atau sekadar tradisi warga keturunan Tionghoa?

Sesungguhnya perayaan tahun baru Imlek telah ada di Tiongkok sejak ribuan tahun Sebelum Masehi. Bahkan sebelum orang-orang Tionghoa mengenal agama definitif seperti Tao dan Khong Hu Cu. Mulanya Imlek muncul sebagai perayaan untuk menandai berakhirnya musim dingin dan menyambut musim semi.

“Jadi, perayaan pesta musim semi itu sudah ada sejak zaman prasejarah, sejak zaman animisme dan dinamisme. Karena musim kan sudah ada sebelum adanya dinasti itu sendiri,” kata Budiyono Tantrayoga, pengamat budaya Tionghoa yang juga Ketua Umum Dewan Klenteng Indonesia. “Sementara ajaran Tao dan Khong Hu Cu baru berkembang di Tiongkok pada masa sekitar 600-500 Sebelum Masehi pada dinasti Zhou serta Buddha pada tahun 65 Masehi pada dinasti Han.”

Di masa silam, setiap dinasti di Tiongkok memiliki kalender masing-masing. Jadi, penanggalan kerap dihitung ulang dari tahun 1 tiap kali sebuah dinasti memulai era. Misalnya pada dinasti Xia, dinasti pertama yang tercatat dalam buku sejarah Tiongkok. Kala itu masyarakatnya menggunakan kalender Xiali yang menggabungkan sistem lunar dan solar sekaligus.

Lalu pada dinasti Zhou, filsuf Khong Hu Cu mengusulkan kepada raja agar kembali menggunakan kalender Xiali. Jadi, mereka tak perlu membuat kembali penanggalan baru.

“Saat itu usulan Khong Hu Cu ditolak. Lama setelah Khong Hu Cu meninggal, tepatnya pada dinasti Han, barulah raja yang berkuasa memutuskan untuk mengikuti saran agar tak menghitung ulang terus tahun yang berjalan. Diputuskanlah untuk menggunakan penanggalan lunar yang dihitung sejak tahun kelahiran Khong Hu Cu, yaitu 551 Sebelum Masehi,” ujar Budiyono.

Karena itu, kalender lunar atau Imlek selalu berpatokan pada tanggal kelahiran Khong Hu Cu. Misalnya pada 2015 warga Tionghoa merayakan tahun baru Imlek 2566 (2015 + 551).

shanghai-confucius-temple

Patung besar Khong Hu Cu di Shanghai, Tiongkok/www.mildchina.com

Sistem penanggalan lunar pun hanya menghitung 354 hari dalam kurun waktu satu tahun. Ini berbeda dari penanggalan solar yang memiliki 11 hari lebih banyak. Itulah yang membuat penetapan tanggal tahun baru Imlek selalu bergeser tiap tahun.

Namun, dalam Imlek, selisih 11 hari akan diakumulasi setiap tiga tahun sekali menjadi “bulan bonus”. Dengan begitu, tanggal tahun baru akan selalu jatuh antara 20 Januari dan 20 Februari. Ini berbeda dari sistem lunar yang digunakan untuk menghitung waktu Idul Fitri misalnya. Di situ tak ada “bulan bonus” sehingga tanggalnya akan terus maju 11 hari setiap tahun.

Di Indonesia, perayaan tahun baru Imlek diyakini telah ada sejak setidaknya 5 ribu tahun lalu, bersamaan dengan migrasi penduduk dari wilayah selatan Tiongkok ke Asia Tenggara. Sekolah agama Khong Hu Cu pertama berdiri di Jakarta pada awal abad ke-17.

Namun sejak era Orde Baru, segala hal yang berhubungan dengan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tiongkok dilarang tampil di depan umum karena dianggap dapat menghambat proses asimilasi. Ini tertuang dalam Instruksi Presiden No. 14/1967 yang diteken Presiden Soeharto. Imbasnya, tahun baru Imlek hanya bisa diperingati secara individu di lingkungan internal keluarga.

606140423_Mbah-Harto

Presiden Soeharto sedang melakukan sambungan langsung pada Agustus 1976/Historia

Sejak itu banyak warga keturunan Tionghoa beragama Khong Hu Cu yang berpindah keyakinan untuk “bermain aman”. Barulah instruksi presiden itu dicabut setelah terbit Keputusan Presiden No. 6/2000 di era Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kemudian, Khong Hu Cu kembali diakui sebagai agama resmi di Indonesia.

Namun, perdebatan justru muncul setelah tahun baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002. Apakah itu berarti Imlek resmi menjadi hari raya umat Khong Hu Cu, selayaknya Waisak bagi umat Buddha atau Idul Fitri bagi muslim? Jika benar demikian, apakah warga keturunan Tionghoa beragama lain juga berhak merayakannya?

Menurut Budiyono, di Tiongkok ada berbagai macam agama seperti Islam ataupun Kristen, dan mereka semua juga merayakan tahun baru Imlek. Agama Buddha yang datang dari India juga mengalami akulturasi di Tiongkok dan akhirnya pengikutnya juga merayakan Imlek, sama seperti pengikut ajaran Tao dan Khong Hu Cu. “Jadi, tahun baru Imlek adalah budaya masyarakat Tionghoa yang masuk memengaruhi agama, bukan sebaliknya.”

Biksu Dutavira Mahasthavira, anggota Dewan Pengurus Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), mengutarakan hal senada. “Imlek itu sudah ada lebih dari 7 ribu tahun lalu. Itu bukan agama, melainkan budaya. Kalau Anda orang Tionghoa, Anda harus merayakannya. Karena, Imlek adalah tata cara peradaban orang Tionghoa yang diajarkan oleh seorang guru bernama Khong Hu Cu,” katanya.

Walaupun demikian, Dutavira merasa warga keturunan Tionghoa mesti tetap menjalankan tradisi perayaan tahun baru Imlek. Pertama, membersihkan rumah sebagai tanda introspeksi. Lalu berkumpul keluarga dan bersembahyang menunjukkan rasa hormat pada leluhur. Saat itulah para anggota keluarga saling memberikan angpau, yang tua kepada yang muda, suami kepada istri, juga yang kaya kepada yang miskin. Hal itu dilakukan untuk menyebarkan energi positif.

“Tidak lupa, setiap orang harus berdoa dengan agama masing-masing di bawah spiritual batinnya kepada Tuhan. Lalu, barulah Imlek ditutup dengan Cap Go Meh atau pesta lampion 15 hari setelahnya,” ujar Dutavira.

IMG_0096

Ilustrasi orang bersembahyang/Viriya Paramita

Pendiri Generasi Muda Khong Hu Cu Indonesia, Kris Tan, juga menekankan esensi perayaan tahun baru Imlek. Menurut dia, saat itu mesti bersyukur dan berintrospeksi sehingga ke depan bisa menjadi lebih baik.

Tahun baru Imlek memang hari raya yang sakral bagi umat Khong Hu Cu. Namun, Kris Tan tak melihat orang-orang beragama lain yang ikut merayakan Imlek sebagai masalah besar. Namun, ia merasa muncul fenomena unik setelah terbit Keputusan Presiden No. 6/2000. “Dulu saat Orde Baru melarang Imlek, tidak ada gereja yang mengadakan misa Imlek. Tapi sekarang setelah Inpres No. 14/1967 dicabut, baru itu terjadi,” ujarnya.

Tak hanya umat Kristen, warga keturunan Tionghoa beragama Islam di beberapa daerah juga berupaya menggelar perayaan tahun baru Imlek di masjid. Misalnya perayaan di Masjid Syuhada, Yogyakarta, pada 2003, yang menuai kontroversi. Kala itu pelaksanaannya tertunda beberapa saat karena protes keras sejumlah kalangan, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Setelah dijelaskan bahwa tahun baru Imlek tak ada hubungan dengan ritual agama tertentu, barulah acara bisa berlangsung.

Pada 2012 Masjid Lautze di Pasar Baru, Jakarta, bahkan merayakan tahun baru Imlek dengan mengadakan lomba azan, hafalan Surat Al-Fatihah, dan kuliah tujuh menit. Sekilas masjid ini terlihat seperti klenteng yang didominasi warna merah dan kuning. Mayoritas jamaah yang datang juga merupakan muslim keturunan Tionghoa.

Masjid-Lautze

Masjid Lautze/www.noormuslima.com

Masjid Lautze dibangun Yayasan Haji Karim Oei pada 1993. Pendiri yayasan ini, Abdul Karim Oei, memeluk Islam pada 1930-an dan sejak itu dikenal sebagai tokoh penyebaran agama Islam di kalangan warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Kini, anaknya, Muhammad Ali Oei, memimpin yayasan tersebut.

Menurut Ali, tahun baru Imlek harus dilihat sebagai momen persatuan serta ajang silaturahmi. Secara pribadi, ia tak lagi merayakannya. Namun, Ali tetap hadir bila mendapat undangan perayaan Imlek dari saudara ataupun kerabat.

“Kita bukan orang Tiongkok, hanya keturunan. Kita suku Tionghoa yang cinta tanah air,” kata Ali. “Masak kita sekian puluh tahun jadi warga negara Indonesia masih menganggap diri sebagai orang Tiongkok? Ini kan yang kemudian dinamakan Bhinneka Tunggal Ika. Dari berbagai suku disatukan menjadi Indonesia.”

Di sisi lain, Thung Ju Lan, peneliti dari Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, menilai wajar bila terdapat banyak perspektif dalam memaknai tahun baru Imlek.

“Ada orang Kristen yang keras memilih tidak boleh merayakan tahun baru Imlek lagi, ya sah saja. Atau warga Tionghoa Islam yang tidak merayakan karena sudah punya hari raya Lebaran. Tapi ada juga yang tetap merayakan dengan kumpul bersama keluarga. Itu cuma negosiasi-negosiasi sosial yang biasa di tengah keluarga,” kata Thung.

NB: Tulisan ini pertama dimuat di majalah The Geo Times edisi 16 Februari 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s