Euforia (Bukan) Gadungan

19

Suasana backstage GKJ saat pentas Dokter Gadungan, Maret 2014/Obscura

Jumat, 21 Maret 2014
12.30 WIB

Saya baru saja tiba. Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) memang berbeda. Saya begitu terkesima melihat backstage-nya. Langit-langitnya tinggi. Temboknya sedikit kusam pertanda telah lama gedung ini berdiri, tepatnya sejak 1821. Namun, yang menjadi magnet perhatian saya adalah berbagai poster pementasan dari masa ke masa yang terpatri rapi di dinding.

Penuh. Segala macam teater dari pelbagai daerah dan masa pernah mengadu nasib di sini. Tak hanya itu, gedung ini telah berdiri cukup lama untuk menjadi saksi sejarah bangsa. Dari Kongres Pemoeda pertama pada 1926 hingga konser band mancanegara macam Red Jumpsuit Apparatus pada 2013 pernah terselenggara di sini. Bahkan, di gedung ini pula Soekarno meresmikan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) pada 29 Agustus 1945.

Pantaslah, bila saya terdiam sesaat ketika memasuki bangunan sakral ini. GKJ, belum kehilangan magisnya.

Sabtu, 22 Maret 2014
19.35 WIB

Overture telah usai. Kania dan Jody pun masuk ke atas panggung untuk membawakan adegan pembuka saat mereka berkejaran di taman. Kini, giliran saya, Tian, Itok, Anoki, Krisma dan Kenny bersiap di pinggir. Giliran kami hampir tiba.

Saat melangkah perlahan mendekati panggung, tiba-tiba dengkul kanan saya bergeser. Sakitnya melabrak selama beberapa detik. Sial, dengkul ini memang suka kambuh penyakitnya sejak putus salah satu urat penyangganya dua tahun silam.

Saya tarik napas dalam-dalam. Semua pasti, dan harus berjalan baik-baik saja.

Sabtu, 22 Maret 2014
18.00 WIB

“Semua mata lihat ke aku. Fokus. Hari ini, sekali lagi kita telah melangkah lebih jauh. Tidak sempurna, tapi yang pasti lebih baik dari yang lalu,” ujar Kak Ivan, pelatih yang selalu sabar mendorong kami untuk melompat bersama.

“Ingat, jaga ketenangan, bukan ketegangan!” tegas Kak Mika, asisten sutradara yang selalu bisa memancing fokus saat serius, dan mengundang tawa kala waktunya bercanda.

Semuanya terdiam mendengarkan. Sesaat lagi kami akan tampil. Sesaat lagi kami akan membayar lunas perjuangan dalam proses menggapai pementasan ini.

“Kalau sampai ada kesalahan dalam pencatatan pemesanan tiket, segera minta maaf dan kasih tiket yang lebih mahal kursinya buat mereka. Tugas kita memang untuk memberi lebih pada penonton,” kata Kak Ivan lagi.

Saya tidak pernah merasa lebih bersyukur bisa bergabung dalam keluarga besar ini.

Jumat, 21 Maret 2014
15.30 WIB

Tiba-tiba saya terbangun. Bayangan beberapa orang sedang mendempul muka di depan cermin segera menyeruak masuk ke mata. Saya memang memutuskan untuk merebahkan diri sejenak di sebuah ranjang-dorong kecil di ujung ruang ganti lantai 2. Namun, saya kaget karena sebelumnya ruangan begitu sepi. Hanya ada Cindy yang sedang mengisi ulang daya handphone-nya di pojok berlawanan. Yang lain sedang salat Jumat dan mengisi perut di sekitar GKJ.

Rasanya begitu lelah. Dini harinya, saya baru saja menyambangi makam mewah San Diego Hills di Karawang Barat bersama Jody untuk menunaikan tugas liputan. Saat yang lain sedang bersiap berangkat ke GKJ dari Serpong, Tangerang, saya dan Jody justru sedang terlelap di kursi depan mobil di parkiran rest area jelang pintu keluar tol Karawang Barat.

Selalu seperti ini. Mencoba mengambil semua yang saya suka dan berujung pada ambruknya kondisi badan. Beberapa bulan terakhir, sesungguhnya saya begitu kewalahan membagi waktu. Kerja di pagi hingga sore, latihan teater pada malam harinya.

Kadang, saya begitu lemas hingga membalas canda teman saja cuma sanggup dengan tawa terpaksa. Suatu hari, saya bahkan menolak permintaan Kak Ivan untuk memimpin doa penutup latihan karena kepala terlampau pening.

Selalu begitu, hingga akhirnya percakapan klasik pun harus terulang lagi.

“Mungkin ini yang terakhir ya?” tanya Itok, rekan sesama pekerja Jakarta, saat sedang rehat latihan di suatu malam.

“Mungkin.”

“Mau ngambil dua-duanya, akhirnya keteteran dua-duanya.”

“Yakin? Kalau nanti ada audisi pemain lagi untuk pentas besar selanjutnya, yakin engga mau ikut?”

Kita berdua sontak tertawa.

Menertawakan kebodohan diri sendiri memang menyenangkan. Getirnya sungguh sedap hingga berbagai pertanyaan pun rasanya lebih baik terus menggantung tak terjawab. Begini saja, seperti ini, sudah cukup.

Minggu, 23 Maret 2014
22.00 WIB

Berengsek. Entah ada apa dengan saya hari ini. Ini pentas hari kedua. Seharusnya, apa yang tak terbayar kemarin wajib kami lunasi hari ini. Namun, penampilan saya seperti kurang gereget. Penonton masih tertawa mendengar beberapa lawakan, tapi saya sendiri seperti orang letih kebingungan. Tak ada gairah.

Bahkan, saya sampai salah mengucap dialog. Seharusnya saya berkata, “Saya hanya pedagang, bukan akademisi atau pustakawan.”

Namun, yang keluar justru, “Saya hanya akademisi, bukan. Maksudnya saya hanya pedagang, bukan akademisi.”

Memang, penonton rasanya tidak akan memperhatikan terlalu jauh. Pentas pun tak akan bubar karena salah ucap satu atau dua kata. Namun, mood saya jatuh. Pikiran saya setelahnya hanya berkutat kepada cara untuk mengembalikan semangat di atas panggung, tapi yang ada saya justru makin terbenam.

Tak diduga, dua menit sebelum saya naik panggung dan masuk ke adegan penutup, Kak Mika datang menyelinap ke pinggir panggung. Ia membawa sebuah botol bening, lalu berbisik, “Nih, minum dikit aja, Wir. Jangan dihabisin ya.”

Saya melihatnya selama beberapa saat, lalu mengambil botol tersebut tanpa pikir panjang. Setelah menenggak isinya, saya kaget. Ternyata isinya ciu.

Namun, tiba-tiba ketegangan saya hilang begitu saja. Badan terasa lebih hangat, pikiran pun tak lagi jadi beban. Semua terasa sungguh ringan.

Hasilnya luar biasa. Di penampilan terakhir tersebut, saya benar-benar bersemangat. Setiap dialog menjadi begitu lancar terlontar. Kebetulan, di adegan tersebut saya memang harus berlakon mabuk bersama para gundik.

Lelucon yang keluar pun mendapat respon luar biasa dari penonton. Kecuali saat saya mengucap “Penjara Samuel” sebagai plesetan dari Panti Asuhan Samuel di Serpong yang sebelumnya mendadak ngetop karena diduga memenjara dan menyiksa para anak asuhnya.

Namun, secara keseluruhan saya puas. Memang tidak ada yang sempurna, tapi yang pasti langkah saya sudah lebih jauh hari ini.

Sabtu 22 Maret 2014
22.45 WIB

Saya girang bukan kepalang, tenggelam dalam euforia. Usai pentas, saya melihat Bibiw, teman kampus yang datang menonton pertunjukan hari ini. Saya melompat ke bawah panggung untuk menghampirinya.

Dan ternyata dengkul saya bergeser lagi saat menjejak kaki di bawah panggung. Saya hanya bisa meringis. Ini sudah ketiga kalinya. Yang kedua bahkan tiba di adegan penutup saat saya sedang berlari sana-sini mencari polisi untuk menangkap Oksu, sang dokter gadungan di pementasan.

Namun, saya tak peduli. Sungguh. Malam ini terlampau brilian dan dengkul geser tak akan menghapus senyum di wajah saya secepat itu. Entah bagaimana dengan yang lainnya, tapi pentas hari pertama buat saya berjalan begitu lancar.

Setiap adegan terangkai dengan baik, setiap dialog pun terucap dengan pas. Di atas panggung, tak ada rasa grogi atau ragu. Bahkan tatapan penonton terasa begitu bersahabat. Mereka pun selalu terdiam dan tertawa di saat yang tepat.

Saya benar-benar tak menyangka. Ini adalah pementasan terbaik yang pernah saya rasakan di atas panggung sejak bergabung dalam Teater KataK kira-kira empat tahun lalu.

Sabtu 22 Maret 2014
19.00 WIB

Briefing baru saja usai. Semua bergegas melakukan persiapan terakhir sebelum pentas dimulai. Saya pun begitu. Saya kembali menarik napas dalam-dalam dan melihat sekeliling ruang belakang tersebut.

Kembali terlihat poster-poster itu, dan kembali terasa sentakan di dada. Tidak menakutkan, tapi begitu menghanyutkan. Sesaat lagi saya dan kawan-kawan akan menjejakkan kaki di langkah yang sama dengan berbagai tokoh dan teater besar lainnya. Benar-benar sesaat lagi, kami akan jadi bagian dari sejarah GKJ.

Lalu saya berjalan ke pinggir panggung untuk menunggu gong ditabuh dan ratusan penonton berlabuh. Namun, tiba-tiba bahu saya ditarik perlahan dari belakang. Ternyata Oksu yang memanggil dan mendadak memeluk saya sembari menangis.

Ini adalah ketiga kalinya saya menyaksikan Oksu menangis saat menjelang ataupun usai pementasan. Pertama adalah saat pertama kali ia mendapat peran besar sebagai Nebukadnezar di pentas Daniel pada 2011. Lalu kedua, ketika ia menangis usai briefing jelang pentas Perkawinan pada 2013. Kala itu ia sontak memeluk Kak Ivan dan berterima kasih banyak atas kesempatan untuk memainkan peran utama sebagai Karim di pentas tersebut.

Setelah dua kali jebol air matanya, kali ini Oksu ternyata masih merasakan getaran yang sama. Getaran yang cuma bisa dirasakan ia yang terlibat dalam sebuah produksi menjelang, pun usai sebuah pentas.

Gairah jelang pentas memang bisa jadi begitu membunuh. Ada rasa takut yang sungguh mencekam, plus kelegaan bahwa ini semua akan segera berlalu. Euforia pasca-pentas pun tak kalah memberi candu. Tepuk tangan yang menghangatkan, sekaligus perasaan bahwa ini adalah awal untuk langkah lebih jauh lagi ke depan.

Semua buncah, berkelindan jadi satu.

Saya sendiri hanya bisa membalas pelukan Oksu sembari berbisik, “Makasih ya, Su. Makasih. Ayo kita hajar.”

Saya tak tahu apa yang akan terjadi pada pentas hari ini dan esok. Namun, satu yang pasti: panggung tak pernah berbohong. Saya adalah salah seorang yang beruntung bisa mencicipi kejujuran panggung GKJ selama dua hari berturut dalam pentas Dokter Gadungan.

Apapun yang terjadi, saya akan selalu bersyukur karena pernah mengecap kerja keras di satu wadah yang sama dengan mereka, rekan-rekan Teater KataK.

Maka, mari kita bersenang-senang.

 

29/3/2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s