Inzaghi di Akhir Era Berlusconi

012515-SOCCER-Filippo-Inzaghi-LN-PI.vadapt.620.high.0

Filippo Inzaghi/www.foxsports.com

23 Mei 2007

Masa perpanjangan waktu babak pertama. Andrea Pirlo bersiap mengambil tendangan bebas beberapa meter di depan kotak penalti Liverpool. Wasit meniup peluit. Pirlo menghajar bola dengan sisi dalam kaki kanannya. Bola berbelok melewati pagar betis Liverpool, dan gol! Pepe Reina terkecoh. Ada sesuatu yang memantulkan bola di tengah jalan sehingga berbelok lebih tajam dari seharusnya.

Pirlo kegirangan. Namun ada yang lebih semringah dan berlari kesetanan seakan itu adalah golnya sendiri. Semua jadi jelas saat tayangan ulang diputar. Itu memang benar golnya. Bukan Pirlo, tapi Filippo Inzaghi. Striker gaek berusia 33 tahun yang musim itu hanya bisa mencetak dua gol di Serie A, kini membawa AC Milan unggul 1-0 atas Liverpool sebelum turun minum.

Tak sampai di situ. Pada menit ke-82, Kaka melancarkan umpan terobosan di antara Daniel Agger dan John Arne Riise. Bola dengan mulus hinggap di kaki Inzaghi. Satu sentuhan ke kanan untuk mengecoh Reina, lalu bola diceploskan ke bawah ketiak kiper Spanyol itu. Bola bergulir perlahan masuk ke dalam gawang kosong. Inzaghi berlari ke sudut dengan wajah orgasme dan merayakan dengan kedua tangan mengibas udara. AC Milan menang 2-1 atas Liverpool malam itu dan sukses meraih trofi Liga Champions ke-7 sepanjang sejarah. Semua gara-gara Inzaghi.

19 April 2015

Hampir sewindu berlalu, dan situasinya telah jauh berbeda. AC Milan berhadapan dengan Inter Milan. Derby della Madonnina. Namun, pertandingan ini bukan soal perebutan gelar juara. Ini hanyalah laga antara dua tim papan tengah, masing-masing di posisi 9 dan 10 klasemen sementara pada pekan ke-31 Serie A.

Inter Milan boleh menyesali hasil imbang 0-0 yang mereka raih malam itu. Mereka mendominasi permainan dengan penguasaan bola 55 persen serta 17 tembakan, empat di antaranya tepat mengarah ke gawang. Di sisi lain, AC Milan hanya bisa menghasilkan tujuh tembakan, tiga di antaranya tepat sasaran. Ada tiga gol yang dianulir pada laga itu, satu untuk AC Milan dan dua untuk Inter Milan.

“Tim saya sudah memberikan segalanya. Kedua tim berusaha untuk menang, dan kami tahu betapa pentingnya laga derbi ini. Kami bisa saja menang, bisa saja kalah. Jadi, pada akhirnya imbang adalah hasil tepat,” kata Inzaghi yang kini beralih peran jadi manajer AC Milan.

Bisa saja menang, bisa saja kalah. Komentar Inzaghi tersebut sesungguhnya merefleksikan perjalanan AC Milan beberapa tahun belakangan: tidak jelas. Mereka telah tersasar begitu jauh hingga bahkan saingan utama mereka dari kota Turin saat ini di klasemen sementara Serie A adalah Torino, bukan Juventus. Musim ini, mereka baru menang 10 kali, seri 13 kali, dan kalah delapan kali. Mereka jadi mirip Liverpool di Liga Inggris yang tetap besar hanya karena sejarah di belakangnya.

Bagaimana mungkin dalam waktu sewindu semua berubah begitu drastis? Lihatlah susunan pemain AC Milan di final Liga Champions 2007 melawan Liverpool. Selain Inzaghi, ada Kaka, Pirlo, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf, Alessandro Nesta dan Paolo Maldini. Nama-nama yang membuat lawan gentar, yang memastikan bahwa harga diri AC Milan sebagai sebuah tim besar akan terus terjaga.

Masalahnya, mayoritas pemain kunci tersebut telah berusia senja. Hanya Kaka, Pirlo dan Gattuso yang saat itu masih berusia di bawah 30 tahun. Masalah pun dimulai sejak kepergian sang pelatih sukses Carlo Ancelotti ke Chelsea, pensiunnya kapten Paolo Maldini, dan hijrahnya protagonis utama mereka selama beberapa tahun terakhir, Kaka, ke Real Madrid, secara bersamaan pada musim panas 2009.

Berlusconi dan Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi yang melanda Zona Euro sejak akhir 2009 berimbas pula pada keseimbangan finansial tim. Alhasil, Presiden AC Milan Silvio Berlusconi pun mesti mengencangkan ikat pinggang. “Sebagai seorang perdana menteri, saya tidak bisa mengeluarkan uang banyak seperti yang pernah saya lakukan. Mulai sekarang, pengembangan pemain muda harus dilakukan untuk menyiasati krisis ekonomi,” kata Berlusconi pada Mei 2010.

Italian Prime Minister Silvio Berlusconi

Silvio Berlusconi/www.mirror.co.uk

Karena itu, uang hasil penjualan Kaka sebesar 68,5 juta euro dan tambahan dari melego Yoann Gourcuff ke Bordeaux senilai 15 juta euro hanya bisa digunakan untuk belanja seadanya. AC Milan membeli Thiago Silva dari Fluminense seharga 10 juta euro dan Klaas-Jan Huntelaar dari Real seharga 15 juta euro. Silva perlahan bisa menancapkan kukunya di barisan pertahanan tim. Namun Huntelaar tak pernah mampu menunjukkan kelasnya dan hanya bertahan semusim di sana. Leonardo yang didapuk jadi suksesor Ancelotti juga tak bisa berbuat banyak hingga AC Milan harus nihil gelar pada musim 2009/2010.

Kondisi jadi jauh membaik setelah kedatangan Zlatan Ibrahimovic pada musim 2010/2011. Pelatih baru Massimiliano Allegri mengandalkan Ibra sepenuhnya untuk mencabik-cabik gawang lawan. Hasilnya, mereka kembali jadi juara Serie A pada musim tersebut. Namun, keputusan untuk melepas Pirlo ke Juventus pada musim panas 2011 terbukti jadi blunder besar. Pada musim 2011/2012, Pirlo justru berhasil mencetak 13 assist, terbanyak di liga, dan membawa Juventus jadi juara.

Selain kehilangan gelar juara, musim itu juga jadi pukulan berat dalam karier politik Berlusconi. Pada November 2011, ia mengundurkan diri dari posisi Perdana Menteri Italia setelah kehilangan mayoritas suara di parlemen akibat meningkatnya masalah fiskal dan krisis ekonomi yang terus membesar.

Pada akhir musim itu, Ibra dan Silva, dua tumpuan utama AC Milan di lini depan dan belakang, dijual bersamaan ke Paris Saint-Germain, masing-masing senilai 21 juta euro dan 42 juta euro. Tak hanya itu, para pemain yang telah jadi tulang punggung tim dalam waktu lama mesti dilepas tanpa pengganti nan ideal. Inzaghi dan Massimo Oddo pensiun. Selain itu, Nesta, Gattuso, Seedorf, Gianluca Zambrotta dan Mark van Bommel dilepas gratis. Pada masa transfer musim dingin, Alexandre Pato yang tak kunjung mampu memenuhi potensinya pun dilepas dengan harga 15 juta euro ke Corinthians. Mario Balotelli memang didatangkan dari Manchester City setelah kepergian Pato dengan harga 21,5 juta euro. Namun itu tak berimbas banyak. AC Milan mulai kehilangan tajinya.

Cara Lama, Hasil Beda
Sejak lama, AC Milan dikenal berani menunjuk mantan pemainnya yang minim pengalaman manajerial untuk menangani tim utama mereka. Sebut saja Cesare Maldini, Giovani Trapattoni, Fabio Capello, Ancelotti, hingga Leonardo. Tak semuanya berujung sukses. Toh beberapa berhasil membangun reputasi sebagai pelatih jempolan dan menyumbang setumpuk gelar bergengsi.

Pada kurun waktu 1991-1996, Capello dengan gaya bermain pragmatis berhasil membawa AC Milan meraih empat gelar Serie A, satu Liga Champions dan satu Piala Super Eropa. Lain halnya dengan Ancelotti yang lebih mengutamakan permainan terbuka. Selama periode 2001-2009, ia sukses membawa tim menjuarai satu gelar Serie A, satu Coppa Italia, dua Liga Champions, dua Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Antarklub.

Pada awal 2014, AC Milan memecat Allegri setelah serangkaian hasil buruk yang membuat mereka tertahan di papan tengah klasemen Serie A. Lalu mereka mengambil keputusan berani dengan menunjuk Seedorf sebagai suksesor. Padahal, kala itu Seedorf masih berstatus pemain klub asal Brasil, Botafogo. Untuk itu, Seedorf segera pensiun pada Selasa, 14 Januari 2014, dan terbang ke Milan dua hari berselang untuk menjadi pelatih baru.

Seedorf_2795973b

Clarence Seedorf ditunjuk sebagai pelatih AC Milan/www.telegraph.co.uk

Kenapa AC Milan harus menunjuk Seedorf, yang sama sekali tak punya pengalaman melatih sebelumnya untuk jadi nakhoda sebuah kapal besar yang nyaris karam? Ia memang bisa bicara enam bahasa, pernah bermain sepak bola di empat negara, dan jadi satu-satunya pemain yang pernah meraih gelar Liga Champion bersama tiga klub berbeda. Namun penunjukannya, tak pelak, adalah sebuah perjudian.

“Dia adalah pemimpin di dalam dan luar lapangan,” kata Berlusconi pada April 2011 saat Seedorf masih bermain untuk AC Milan.

“Cukup membicarakan masa lalu, sekarang kami sedang menatap masa depan,” kata Berlusconi pada Juni 2014 saat klub sedang berusaha memecat Seedorf sebagai pelatih.

Tak sampai enam bulan Seedorf bekerja sebagai pelatih AC Milan. Dalam kurun waktu itu, ia membawa tim meraih 11 kemenangan dari 19 laga Serie A, lebih baik dari Allegri yang sebelumnya hanya bisa menang lima kali dari 19 laga pertama di musim 2013/2014. Namun Berlusconi tetap tak puas, dan bermaksud mengulang kembali resep yang sama. Ia segera menunjuk Inzaghi sebagai pelatih baru.

Sebelumnya, Inzaghi pensiun sebagai pemain pada Juli 2012 dan segera beralih peran jadi pelatih kepala tim primavera AC Milan. Hanya butuh waktu dua tahun sebelum ia naik pangkat jadi pelatih tim utama. Hasilnya, tak jauh beda dengan Seedorf. AC Milan tetap jadi tim medioker tanpa pemain bermental juara.

Karena itu, penunjukan Seedorf dan Inzaghi seakan-akan dilakukan sebagai aksi panik untuk sesaat merebut hati penggemar dan menutupi masalah besar yang sesungguhnya terjadi di dalam. Kehadiran pemain legendaris di pinggir lapangan diharapkan dapat membawa semangat baru di tengah keterpurukan yang kian dalam. Mereka seakan hanya jadi bungkus cantik makanan ringan di swalayan yang sebenarnya tak banyak berisi apa-apa. Tengok saja isi tim AC Milan saat ini. Bahkan Sulley Muntari bisa ditunjuk sebagai kapten oleh Inzaghi.

Akhir Era Berlusconi
Pada Februari 2015, AC Milan mengungkapkan rencananya untuk membangun stadion baru dengan kapasitas 48 ribu penonton di wilayah urban Portello. Diperkirakan mereka mesti mengeluarkan biaya sekitar 300 juta euro untuk merampungkan pembangunan tersebut. Bila semua berjalan lancar, stadion itu akan mulai digunakan pada musim 2018/2019.

255459F400000578-0-image-a-27_1423052975199

Rancangan stadion baru AC Milan/www.dailymail.co.uk

Ambisius? Iya dan tidak.

Di satu sisi, pembangunan stadion independen kini jadi sebuah keharusan bagi tim-tim sepak bola Serie A. Selama ini, baru ada tiga klub yang memiliki stadionnya sendiri. Mereka adalah Juventus dengan Juventus Stadium, Sassuolo dengan Mapei Stadium, dan Udinese dengan Stadio Friuli. Tim-tim lainnya mesti menyewa stadion dari pemerintah kota setempat untuk melakoni laga di berbagai ajang, termasuk Serie A, Coppa Italia dan Liga Champions. AC Milan dan Inter Milan pun selama ini bersama-sama menyewa San Siro yang berkapasitas 80 ribu penonton untuk jadi kandang mereka.

Ini membuat pendapatan tim Serie A mesti terkuras untuk membayar sewa tersebut. Padahal, kualitas rumput stadion juga kerap dipertanyakan karena terlalu sering dipakai untuk hajatan di luar sepak bola, entah pertandingan rugbi atau bahkan konser musik. Kapasitas besar stadion-stadion itu juga tak sebanding dengan animo masyarakat Italia untuk menonton langsung sepak bola dewasa ini. Sebagai perbandingan, dahulu Juventus menggunakan Stadio delle Alpi dengan kapasitas 69 ribu penonton. Padahal, jarang sekali stadion itu terisi penuh saat Juventus bertanding di laga besar sekalipun. Kini, mereka menempati Juventus Stadium yang berkapasitas 41 ribu saja, tapi hampir tiap pekan selalu penuh dipadati penonton.

Di sisi lain, kondisi keuangan AC Milan yang sedang tak stabil membuat hal ini sulit terwujud. Logikanya, untuk membeli pemain baru saja mereka kesulitan, apalagi untuk membangun stadion baru?

Maka, satu-satunya jalan untuk menyelematkan AC Milan saat ini adalah dengan menjualnya ke pemilik baru. Selama ini Berlusconi memang bersikeras mempertahankan karena ia merasa begitu terikat dengan AC Milan. Pada Februari 2015 pun ia menolak tawaran sebesar 970 juta euro dari pengusaha Singapura untuk membeli tim itu. Namun, perlahan Berlusconi melunak. Pada Senin, 20 April 2015, beredar kabar bahwa pengusaha asal Thailand, Bee Taechaubol, akan segera menuntaskan pembelian AC Milan.

“Hari Minggu nanti, 26 April, saya akan berada di Milan untuk menandatangani kesepakatan jual beli itu,” ujar Bee seperti dikutip Football Italia.

Rencananya, Bee hanya akan mendapat saham 20 persen. Namun perlahan, jumlah itu akan terus meningkat hingga 65 persen pada 2016 dan membuatnya jadi pemegang saham mayoritas. Dengan begitu, bisa dikatakan ia juga akan bertanggung jawab membiayai pembangunan stadion baru AC Milan dan segala hal finansial yang berkaitan di sekitarnya.

Saat itu terjadi, AC Milan mungkin akan kembali menemukan stabilitas serta nama besarnya, dan Inzaghi, tak perlu lagi berada di pinggir lapangan.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di media online Kompas.com pada 23 April 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s