Menjawab Pertanyaan ala Rhenald Kasali

IMG_0007

Rhenald Kasali/Viriya Paramita

Hidup Rhenald Kasali lekat dengan perubahan. Berkali-kali mesti beradaptasi dengan situasi yang tak menguntungkan, ia selalu berhasil menemukan jalan. Layaknya bermain TTS, ia menelusuri banyak pintu untuk mendapat kunci jawaban sebuah pertanyaan sulit.

“Itu melatih daya kritis kita. Saat sebuah pintu tertutup, kita buka pintu lain satu per satu. Masalahnya, orang Indonesia sering berpikir kalau satu pintu tertutup maka hidupnya akan kiamat,” kata Rhenald.

Rhenald lahir di Jakarta, 13 Agustus 1960. Meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia pada 1985, ia melanjutkan studi ke University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat, tujuh tahun berselang. Saat itulah tantangan berat datang menghadang.

Sesampainya di sana, pihak kampus mengabarkan, ada kesalahan informasi soal biaya kuliah Rhenald. Jumlahnya dua kali lebih besar dibanding yang tertera dalam surat pemberitahuan sebelumnya. Rhenald terkejut. Padahal uang yang dibawanya pas-pasan.

“Berarti kan saya harus beradaptasi lagi menghadapi situasi yang berubah itu. Saya harus mencari uang, melakukan ini-itu dan sebagainya. Persoalannya adalah kita siap atau tidak menerima kenyataan itu?” ujar Rhenald.

Namun, masalah nyatanya hanya menajamkan Rhenald untuk jadi lebih baik lagi. Tak hanya berhasil merampungkan studi masternya, ia juga memboyong keluarga dan mengambil program doktoral di kampus yang sama hingga kemudian lulus pada 1998.

Pada tahun yang sama Rhenald kembali ke Indonesia dan mulai mengembangkan konsep kewirausahaan. Ia mencoba mendorong semangat orang-orang untuk berwiraswasta, tak hanya menunggu peluang kerja. Namun setelahnya ia sadar, masalah besar justru ada di pola pikir masyarakat pada umumnya. “Persoalannya bukan ada di konsepnya, tapi di manusianya yang tidak mau berubah,” ujar Rhenald.

Lalu Rhenald menulis buku Change! pada 2005. Di situ, ia menekankan pentingnya perubahan untuk meraih kesuksesan di tengah perkembangan zaman. Butuh pengorbanan dalam prosesnya, tapi itu harus segera dilakukan saat momentum telah tiba. Ini tercermin pula pada tagline buku tersebut, “Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani, putar arah sekarang juga.”

Buku itu laris di pasaran dan kini berstatus national best seller. Sebagian karya Rhenald lainnya adalah Recode Your Change DNA, Myelin dan Cracking Zone. Yang teraktual, ia menulis Self Driving yang terbit pada September 2014. Dalam buku itu, ia mendorong kita untuk jadi “pengemudi” alih-alih “penumpang” dalam menjalani hidup. Dengan begitu, kita terbiasa mandiri mencari solusi ketika menghadapi masalah.

Sejak 2009, Rhenald resmi jadi Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Ia pernah empat kali jadi Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, dan terus bergerak sebagai praktisi manajemen. Ia bahkan mendirikan Rumah Perubahan pada 2007 untuk mengubah mental usaha dan mengangkat kesejahteraan hidup masyarakat.

Semua itu bisa terjadi karena kerja keras dan kesediaan Rhenald untuk terus belajar. Perlahan, ia selesaikan satu per satu teka-teki dalam hidupnya. Masing-masing dijalani dengan perhitungan matang. Kesalahan bisa terjadi di tengah jalan, tapi itu bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Analoginya sama seperti mengerjakan TTS; jangan gegabah mengisi kotak-kotak kosong dengan pulpen. Bila di tengah jalan jawabannya tak sesuai dengan singgungan dari pertanyaan lainnya, kita akan kesulitan untuk pindah haluan. “Makanya dulu ayah saya mengajarkan untuk mengisi TTS menggunakan pensil,” kata Rhenald.

Dengan konsep tersebut, Rhenald bahkan tertarik membuat konsep pengajaran lewat TTS untuk mengasah metakognisi individu. Singkatnya, metakognisi adalah kecerdasan untuk menggunakan kecerdasan. Ini mencakup kebajikan, keadilan, empati sosial, rasa persatuan, kekeluargaan, hubungan jangka panjang, dan berbagai pertimbangan lain dalam kehidupan manusia. Melalui metakognisi kita bisa menerapkan kecerdasan kognitif secara tepat guna.

“Kita kasih saja TTS yang mesti dikerjakan berkelompok oleh mahasiswa. Nanti diadu siapa yang paling cepat menyelesaikannya. Isinya bisa pembahasan materi perkuliahan dari bab tertentu dalam sebuah buku,” kata Rhenald.

Menurutnya, ini bisa menajamkan otak dan melatih kerja sama tim. Rhenald memang gemar menguji para anak didiknya dengan cara-cara yang tak terduga.

Misalnya kala ia meminta 30 mahasiswa di kelasnya untuk membuat paspor. Setelahnya, ia mewajibkan masing-masing pergi ke satu negara berbeda untuk menghadapi dunia di luar zona nyaman mereka. Kisah ini tertuang dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor yang terbit pada Oktober 2014.

Dari sana, Rhenald mengajarkan kita banyak hal. Tak hanya soal bisnis, tapi juga soal menjalani hidup dan menjawab beragam pertanyaan yang membentang sepanjang jalan.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di buku TTS Pilihan Kompas edisi 8.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s