The Fox Exploits the Tiger’s Might: Seks Dalam Legitimasi Kekuasaan

gambar_the-fox-exploits-the-tigers-might

David dan Aseng/cinemapoetica.com

Seks adalah salah satu perangkat kuasa—siapa yang memegang kontrol atasnya, ialah yang berkuasa. Premis ini yang mendasari The Fox Exploits the Tiger’s Might, film pendek Lucky Kuswandi, yang berlatar di Indonesia pada era Orde Baru.

Kita diperkenalkan pada Aseng dan David, dua remaja laki-laki SMP yang baru berkenalan dengan birahi dan ereksi. Adegan masturbasi pun muncul berkali-kali, entah di awal film kala Aseng memuaskan diri sendiri di gudang minuman keras atau kala David terangsang melihat Aling, saudara Aseng, sedang mencuci baju dengan busana minim nan ketat.

Keduanya berasal dari latar belakang keluarga berbeda. Aseng adalah anak pedagang tembakau yang juga menjual minuman keras selundupan. Ia berambut lurus, berkulit putih, dan bermata sipit—tipikal perawakan orang-orang etnis Tionghoa. Di sisi lain, David adalah anak jenderal nan angkuh yang gemar memamerkan kekayaan ayahnya. Ia berambut keriting, berkulit sawo matang, dan bermata bulat tegas.

Tionghoa-Pribumi di Era Orde Baru

Dalam diskusi setelah pemutaran filmnya, Lucky Kuswandi mengakui The Fox Exploits the Tiger’s Might dibuat dengan latar awal 1990an. Era ini tergambar dalam film lewat uang lima puluh ribu rupiah bergambar wajah Soeharto, celana dalam merek Hings yang dikenakan pacar Aling sebelum berhubungan intim, kotak dingdong yang ada di rumah David, dan foto Eva Arnaz sebagai bahan masturbasi Aseng dan David.

Pada era yang sama pula, Orde Baru sedang jaya-jayanya—dan relasi antara pribumi dan etnis minoritas Tionghoa, antara kaum David dan kaum Aseng, sedang pelik-peliknya. Menjadi semakin kompleks apabila kita memperhitungkan status ayah David sebagai jenderal, yang secara struktur memiliki kedekatan dengan Soeharto. Itu terlihat dari plat mobil merah dan foto Soeharto sedang saling memberi hormat dengan seorang tentara di kediaman David. Bisa dikatakan, keluarga David adalah representasi kekuatan politik dan keluarga Aseng adalah representasi kekuatan ekonomi di masa itu.

Anggota militer bisa punya kekuatan besar karena sejak era Orde Baru dimulai pada 1966, muncul dwifungsi yang membagi tentara ke dalam dua tugas sekaligus. Pertama, menjaga keamanan dan ketertiban negara. Kedua, memegang kekuasaan dan mengatur negara. Karena itu, banyak perwakilan militer yang menduduki jabatan strategis dalam pemerintahan.

Pemerintah Orde Baru juga menerapkan kebijakan asimilasi bagi warga Tionghoa. Ini dibahas dalam buku Orang Indonesia Tionghoa: Mencari Identitas karangan Aimee Dawis (2010). Dijelaskan, saat itu segala bentuk kebudayaan yang berbau Tionghoa dilarang untuk ditampilkan di depan umum. Pemerintah menutup semua sekolah berbahasa Mandarin. Penggunaan bahasa itu di muka umum juga dicekal. Warga Tionghoa diimbau untuk mengubah namanya dengan nama pribumi untuk menunjukkan komitmen pada negara. Akibatnya, kebanyakan orang Tionghoa yang lahir setelah 1966 hanya berbicara, menulis dan membaca dalam aksara latin dan bahasa Indonesia. Memang ada kelompok Tionghoa totok yang masih mewariskan bahasa Mandarin pada anak-cucunya, tapi itu terbatas pada bahasa percakapan sehari-hari dan biasanya tak dilakukan di depan umum.

Maka, jadi sedikit membingungkan kala melihat adegan Aseng sedang berlatih menulis Mandarin di rumahnya. Apakah ia sedang mengerjakan tugas sekolah (yang tidak mungkin terjadi), atau mempelajari bahasa nenek moyangnya secara diam-diam? Apakah ini adalah bentuk perlawanan Lucky terhadap kesewenangan yang diterima etnis Tionghoa di masa Orde Baru? Sayangnya, tak ada bukti mendasar yang bisa menghubungkan penonton dengan konteks ini. Alhasil, adegan ini seakan jadi perkara lupa riset yang sedikit memperlemah konteks sejarah dalam film.

Walau menekan warga Tionghoa dengan kebijakan asimilasi, di sisi lain Soeharto juga memberi ruang besar bagi mereka untuk bergerak di bidang ekonomi. Aimee Dawis bahkan mencatat, warga Tionghoa setidaknya mengendalikan 70 persen sektor perekonomian, walau secara jumlah mereka hanya setara 3 persen dari total 240 juta penduduk Indonesia saat itu. Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terang-terangan, dan hak istimewa yang diberikan pada para cukong akhirnya kerap memantik amarah pribumi. Ini menimbulkan kecemburuan sosial dan perlakuan diskriminatif dari pribumi, khususnya kelas menengah-ke-bawah, pada warga Tionghoa.

Dalam film, keluarga Aseng pun mendapat keistimewaan itu. Mereka mampu menjual minuman keras selundupan asalkan memberi kompensasi yang setimpal. Ini terlihat saat David bertandang ke rumah Aseng, ia ditemani oleh ajudan ayahnya. Lalu, sang ajudan secara tak langsung melontarkan kalimat bernada intimidatif, “Xiao mei enggak mau titip salam buat Papanya David?”

Dua kali sang ajudan mengucapkannya sebagai penegasan. Setelah itu, sang perempuan tua segera mengambil segepok uang dari laci untuk diberikan sebagai “salam” pada ayah David. Belum puas, ajudan itu meminta tambahan uang untuk memperbaiki sepeda motornya. Perempuan tua itu menolak halus. Lalu tiba-tiba sang ajudan mengelus tangan perempuan itu dan berujar, “Halus benar tangannya, Enci. Kaya tangan perawan.” Ia baru berhenti kala Aseng memanggil David dan sang majikan mengajaknya pulang.

Adegan ini seakan menggambarkan kengerian yang dihadapi perempuan Tionghoa di masa itu. Bila menolak kemauan orang yang berkuasa, bisa datang ancaman pelecehan seksual. Karena itu para perempuan Tionghoa kerap masuk dalam daftar korban pelecehan dalam berbagai tragedi nasional, entah saat G30S 1965 maupun Mei 1998.

Seks dan Kuasa

Film ini terlihat meletakkan fokus lebih pada seksualitas dan kekuasaan. Menurut Sigmund Freud, seks dan agresi merupakan faktor pendorong utama yang melatarbelakangi tiap perilaku manusia. Walau begitu, masyarakat berusaha mendorongnya jauh-jauh dari kesadaran atas pertimbangan norma dan tatanan sosial. Pemikiran soal itu baru bisa diterima bila terlontar dalam keadaan tidak serius, misalnya humor.

Segala bentuk seksualitas yang ditampilkan dalam film ini pun berulang kali dibalut dengan komedi. Sebut saja kala David bermasturbasi melihat Aling sedang mencuci baju. Dalam shot yang lain, Aling terlihat sedang menatap David dengan muka datar, dan dua koyok terpasang rapi tepat di atas belahan pantatnya. Alhasil, ia justru terkesan seperti ibu kos galak yang mengidap rematik akut.

Di adegan lain, Aling bahkan terlibat ‘aksi panas’ dengan pacarnya. Kala itu, sang pacar berpura-pura jadi mafia yang sedang mengancam Aling dengan pistol untuk meningkatkan ‘tensi permainan’. Aling pun berpura-pura ketakutan dan mendekat perlahan hingga berlutut di hadapan sang pacar. Saat itulah sang pacar memasukkan ‘pistol’ ke mulut Aling hingga keduanya kian terangsang. Karena dibungkus aura komedi, Aling dan pacarnya terlihat seperti aktor amatir yang sedang mencoba peruntungan ikut audisi film porno murahan.

Di sisi lain, penggunaan pistol dalam imajinasi liar pacar Aling menunjukkan hasratnya untuk mendominasi permainan. Bisa dikatakan, pistol adalah simbol kekuasaan. David Ropeik dari Harvard University Extension School sempat membahas hal ini dalam sebuah artikel berjudul Gun Control: It’s Really About Guns As Symbols, Not Weapons. Menurutnya, pistol bisa membuat kita merasa sedang memegang kendali. Dengan begitu, muncul perasaan bahwa kita bisa menjaga diri dan mengurangi risiko kejahatan yang bisa sewaktu-waktu datang mengancam.

Lebih lanjut, pacar Aling menggunakan pistol sebagai simbol keperkasaan untuk mengeluarkan naluri seksualnya. Aseng sempat memergoki mereka saat tak sengaja mengintip lewat jendela kamar. Ia hanya bisa terdiam dan melengos begitu saja. Semua baru terkuak kala ia bertandang ke rumah David.

Di sana, Aseng dan David berfantasi bersama menjamah tubuh Eva Arnaz, ‘bom seks’ era 1980an yang jadi idola ayah David. Ironis, bahkan untuk bahan masturbasi saja keduanya ikut disetir oleh kuasa ayah David.

Lalu keduanya telentang di lantai, memejamkan mata, dan mulai ‘membagi peran’. David bersikeras jadi yang pertama untuk bersetubuh dengan sang artis. Ia bahkan menghardik Aseng kala kawannya itu ‘bermanuver’ keluar batas dan mengganggu permainan.

Aseng pun pergi menjauh. Tak sengaja, ia menemukan pistol milik ayah David dan menembakkannya ke botol minuman keras. David panik ketakutan. Aseng tak peduli. Kini kekuasaan ada di tangannya. Ia justru kian ‘panas’ dan menyuruh David berlutut di hadapannya. Aseng memasukkan pistol ke mulut David dan berkata, “Sekarang giliran gue.”

Dari sana, kita bisa mengerti gaya otoriter pemerintahan era Orde Baru yang memegang ‘pistol’ selama lebih dari tiga dekade. Namun kala ‘pistol’ itu hilang pada Mei 1998, yang kerap ditindas pun akan berbalik menindas tanpa pandang bulu. Saat itu, naluri seksual bisa terumbar begitu saja, bahkan di lantai rumah orang lain sekalipun.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di media online Cinema Poetica pada 26 April 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s