Setelah Adegan Itu

Di kala kepala penat karena pekerjaan yang menumpuk, saya kerap menonton film sebagai pelarian. Entah film baru atau lama, semua saya lahap. Khusus untuk yang telah saya tonton sebelumnya, saya punya kebiasaan untuk menonton ulang bagian-bagian terfavoritnya saja.

Saya senang menonton ulang karena beberapa adegan dari sebuah film memang bisa membuat saya begitu berkesan, bikin emosional secara instan. Misalnya saja dalam film Up. Buat saya, 12 menit pertama dalam film itu justru adalah yang terbaik dari keseluruhan cerita yang berdurasi satu setengah jam.

Di sana diceritakan latar belakang kehidupan Carl Fredricksen. Sejak kecil Carl begitu mengidolai Charles F. Muntz, seorang penjelajah yang mengaku berhasil menemukan seekor burung raksasa spesies baru di Paradise Falls. Lalu dijabarkan pula kisah pertemuannya dengan Ellie, sesama penggemar Muntz yang akhirnya menjadi istri Carl saat dewasa. Sayangnya, setelah mereka menikah barulah terungkap bahwa Ellie tak bisa memiliki anak. Untuk mengembalikan keceriaan sang istri, Carl berjanji akan membawanya ke Paradise Falls, sesuai janji masa kecilnya. Namun hingga Ellie meninggal, mimpi itu tak pernah bisa terwujud.

Kisah pembuka itu begitu manis dan pahit secara bersamaan. Sudah berulang kali saya menyaksikannya, tapi tetap saja terasa begitu getir, apalagi kala Carl pulang sendirian ke rumah usai pemakaman Ellie.

1

Carl setelah pemakaman Ellie.

Lain lagi halnya dengan Groundhog Day. Di sana diceritakan soal pengalaman Phil Connors, pembawa berita ramalan cuaca arogan asal Pittsburgh yang terjebak di hari yang sama selama puluhan tahun di Punxsutawney, Pennsylvania. Tiap harinya, ia selalu terbangun pukul 6 pagi pada tanggal 2 Februari. Ia hidup abadi di tanggal itu. Bahkan Phil telah berulang kali mencoba bunuh diri, tapi hasilnya ia kembali terbangun di ruang, waktu, dan kondisi serupa.

Bagian favorit saya muncul selewat satu jam enam menit. Selama sembilan menit setelahnya, diperlihatkan keadaan Phil yang telah jatuh dalam depresi karena terlalu lama berkutat dengan repetisi. Phil mencoba bicara dengan Rita Hanson, produsernya, dan menunjukkan betapa ia telah begitu hafal dengan “rundown acara” pada hari itu. Ia tahu latar belakang seluruh penduduk Punxsutawney dan ingat persis apa saja yang akan terjadi di kedai makan tempat mereka berbincang saat itu. Mulanya Rita tak percaya dan hanya menganggap itu semua sebagai tipuan. Namun perlahan, Rita takjub dan bersimpati pada Phil. Ia menemani Phil di hotel hingga pukul 6 pagi kembali tiba dan mengulang segalanya.

Sejak itu, pandangan Phil akan dunia pun berubah. Ia jadi ramah dan berusaha membantu siapa saja, lalu mengisi waktu dengan berbagai kegiatan produktif seperti membaca, kursus piano, dan belajar memahat es batu. Itulah titik balik yang kemudian berhasil membuatnya jadi pribadi lebih baik dan akhirnya bisa terbangun di hari berbeda, tepatnya 3 Februari.

2

Phil yang depresi karena repetisi.

Namun, yang hampir pasti bisa membuat saya meneteskan air mata secara instan adalah 12 menit adegan klimaks dalam film 3 Idiots. Adegan itu muncul selewat dua jam 18 menit. Saat itu, diperlihatkan hujan deras sedang melanda hingga Mona yang sedang hamil tua terjebak banjir dan tak bisa dibawa ke rumah sakit untuk melahirkan. Mona adalah anak Rektor Imperial College of Engineering, Viru Sahastrabuddhe atau yang kerap dipelesetkan jadi Virus. Putri bungsu Virus yang juga seorang dokter, Pia, pergi dari rumah setelah bertengkar dengan sang ayah. Karena itu, tak ada yang bisa membantu melakukan persalinan darurat bagi Mona.

Tiga sekawan, Rancho, Raju dan Farhan pun segera membawa Mona ke dalam salah satu ruangan kampus. Sembari mengikuti instruksi Pia via webcam, mereka mencoba melakukan persalinan dengan fasilitas seadanya. Di tengah jalan, petir menyambar dan listrik padam seketika. Dipimpin oleh Rancho, seluruh mahasiswa kampus bersama menggunakan aki mobil dan inverter buatan Rancho untuk menyalakan kembali listrik. Setelah itu, mereka membuat vacuum cup darurat untuk menarik jabang bayi keluar dari rahim Mona. Persalinan pun berhasil.

Virus yang sebelumnya dikenal kaku dan bertingkah selayaknya robot tanpa perasaan sontak menangis dan larut dalam emosi. Lalu Virus memanggil Rancho dan memberikannya pulpen astronot sebagai penanda bahwa Rancho adalah siswa terbaik yang pernah ditemuinya.

Kekuatan film 3 Idiots memang ada di jalinan ceritanya. Semua dibangun perlahan, membuat emosi penonton naik-turun dari awal hingga akhir. Karena itu adegan klimaks itu begitu mengena buat saya.

3

Rancho dan kawan-kawan berhasil melakukan persalinan darurat.

Berbagai cuplikan film itu bagai kumpulan kenangan dalam hidup manusia. Terkadang, saya kerap bertanya-tanya, apa bagian terbaik dalam hidup saya? Apa saja yang telah saya lakukan selama ini? Bagian mana yang paling membuat saya bangga, gembira, atau bahkan terharu?

Lalu saya sadar, 12 menit pertama dalam film Up adalah potret kenaifan masa sekolah hingga kuliah saya. Dengan semangat menggebu, saya berusaha mengejar mimpi tanpa rencana matang; asal tabrak sana dan sini. Saya ingin jadi wartawan, saya ingin jadi penulis, saya ingin jadi pemain teater. Namun ketika realita menghadang, semua bisa buyar begitu saja.

Setelah itu, semua terasa seperti sembilan menit dalam film Groundhog Day. Yang ada hanya repetisi; rutinitas semu yang melelahkan, tapi tak membawa kita ke mana-mana. Saat itu, arogansi tak lagi punya tempat dalam ruang dan waktu. Hanya sikap optimis dan pandangan positif akan hidup yang bisa membuat kita bersyukur dan melangkah lebih jauh ke depannya.

Syahdan, semua baru akan terbayar lunas bila kita mampu menunjukkan diri dan unjuk gigi di saat yang tepat, seperti 12 menit dalam adegan klimaks 3 Idiots. Kerja keras tak akan mengkhianati. Apresiasi akan datang bila kita berusaha tak kenal lelah, dan konsisten menampilkan versi terbaik dari diri kita.

Pertanyaannya, sudah sampai manakah kita melangkah saat ini?

Ah, jadi baper kan. Banyak pertanyaan. Bawa perasaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s