Raja Messi Dalam Sejarah Kerajaan Eropa

king messi

Raja Messi/hdwallpapers.cat

Daratan Eropa selalu jadi candu bagi para gladiator muda. Di sana, semua berlomba unjuk gigi dalam sebuah ajang tahunan yang dengan angkuhnya diberi nama Liga Para Juara. Tak ada tempat bagi pecundang. Para jagoan dari seluruh kerajaan di Eropa bergabung ke sana, berharap sejarah berbaik hati untuk mencatat nama mereka.

Selama satu dekade terakhir, pemerintahan dipegang oleh Kerajaan Barcelona asal Spanyol. Ini berawal dari kedatangan seorang raja muda asal Brasil bernama Ronaldinho pada 2003. Tak butuh waktu lama baginya untuk merebut hati rakyat Barcelona. Dengan meyakinkan, ia kerap membawa pasukan memenangi peperangan nyaris sendirian. Jangan tanya soal keahliannya bermain pedang. Tekniknya indah, sabetannya maut. Melihatnya berlaga seperti menyaksikan sebuah pertunjukan seni, yang selalu diakhiri dengan senyuman girang usai ia menaklukkan lawan-lawannya.

Puncaknya pada 2006, kala Raja Ronaldinho memimpin Barcelona memenangi Liga Para Juara. Ini bisa terjadi berkat bantuan rekan-rekannya yang penuh talenta. Ada Xavi dan Deco, yang selalu setia membuka jalan kala pasukan sedang terdesak ataupun tersesat di tengah hutan. Ada pula Samuel Eto’o, sang pembunuh berdarah dingin asal Kamerun. Mereka semua bekerja sama dengan baik di bawah arahan sang ahli strategi perang, Frank Rijkaard.

Setelahnya, Kerajaan Barcelona mulai mencoba menerapkan strategi jangka panjang untuk meneruskan kesuksesan. Rijkaard mempromosikan beberapa prajurit muda dari akademi kerajaan yang kemudian berhasil jadi tumpuan saat perang. Salah satu prajurit muda yang begitu cemerlang bakatnya adalah Lionel Messi yang didatangkan sejak usia 13 tahun dari Kerajaan Newell’s Old Boys asal Argentina. Rakyat Barcelona pun menunjuk Messi sebagai pangeran muda, sang pewaris takhta kerajaan di masa depan.

Pangeran Messi memang spesial. Tekniknya tak seindah Raja Ronaldinho, tapi efektif dan justru lebih tajam dalam urusan membunuh lawan. Mitos yang berembus mengatakan, kecepatan sang pangeran di medan perang bagaikan kilat. Bahkan pasukan lawan hanya bisa melihat bayangannya sebelum terbunuh secara mengenaskan.

Namun, Pangeran Messi selalu berada di bawah bayang-bayang Raja Ronaldinho. Kondisi baru berubah setelah kepergian sang raja dan ahli strategi perang secara bersamaan pada pertengahan 2008. Para tetua kerajaan pun menunjuk mantan prajurit setianya di era 1990an, Pep Guardiola, untuk jadi suksesor Rijkaard.

Di bawah arahan Guardiola, Messi berhasil menunjukkan potensinya dan resmi jadi raja. Ini terjadi setelah ia sukses memimpin pasukan kerajaan menaklukkan enam ajang berbeda pada 2009. Rinciannya, tiga kompetisi lokal, dua kompetisi Eropa, dan satu kompetisi internasional. Di bawah kepemimpinan Messi, Kerajaan Barcelona jadi begitu menakutkan. Bahkan, itu terus berlanjut setelah kepergian Guardiola pada pertengahan 2012.

Lihat saja rekornya. Tak terhitung sudah jumlah korban sabetan pedang Raja Messi. Pada musim perang 2011/2012 saja ia berhasil menjebol dinding kerajaan lawan sebanyak 73 kali. Terhitung sejak Raja Messi naik takhta hingga saat ini, Kerajaan Barcelona sukses memenangi Liga Para Juara sebanyak tiga kali.

Raja Messi bisa jadi begitu digdaya juga berkat bantuan rekan-rekan di sekelilingnya. Xavi dan Andres Iniesta adalah pembuka jalan andal. Sementara itu Gerard Pique dan Carles Puyol adalah batu karang di lini belakang pasukan yang akan menghajar siapa pun yang berani mendekat.

Mulanya, Raja Messi bahu membahu di lini depan pasukan bersama dua prajurit senior, Thierry Henry dan Eto’o. Beberapa kali ia mesti berganti rekan dalam peperangan, entah bersama gladiator lokal macam David Villa dan Pedro, atau prajurit asing seperti Alexis Sanchez. Namun, yang termaut adalah kala ia berpasangan dengan Neymar dan Luis Suarez sepanjang musim perang 2014/2015. Selama setahun penuh, mereka sukses menjebol dinding kerajaan lawan sebanyak 122 kali. Rumor yang berhembus mengatakan, Neymar telah didapuk jadi pangeran muda, suksesor jangka panjang Raja Messi.

Bila Kerajaan Barcelona bisa terus mempertahankan konsistensi, bukan tak mungkin dinasti mereka akan jadi yang terbaik dalam sejarah Liga Para Juara. Dahulu, Raja Alfredo Di Stefano dari Kerajaan Real Madrid asal Spanyol sukses membawa pasukannya menjuarai ajang serupa selama lima tahun beruntun, dari 1956 hingga 1960. Sementara itu, Raja Johan Cruyff dan Raja Franz Beckenbauer sama-sama membangun dinasti setelah masing-masing berhasil membawa Kerajaan Ajax asal Belanda dan Kerajaan Bayern Muenchen asal Jerman memenangi Liga Para Juara tiga kali beruntun pada era 1970an.

Jalannya masih panjang. Namun Raja Messi masih punya banyak waktu untuk mencatatkan hal serupa dalam sejarah. Usianya baru 27 tahun kala ia menaklukkan Liga Para Juara untuk ketiga kalinya pada 7 Juni 2015. Sementara di saat yang sama, saingan utamanya, Raja Cristiano Ronaldo yang sombong dari Kerajaan Real Madrid telah berusia 30 tahun. Padahal, jabatan sebagai raja biasanya terhenti di awal usia 30an.

Karena itu, rakyat Kerajaan Barcelona boleh berbangga. Di sisi lain, rakyat Kerajaan Ajax mungkin hanya bisa mengutuki pengkhianatan Raja Cruyff yang telah membeberkan rahasia kesuksesan mereka saat menjadi ahli strategi perang Barcelona pada 1988-1996.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s