Surat Terbuka untuk Florentino Perez

Florentino_607670199

Florentino Perez/www.avrupagazete.com

Dear Bapak Florentino Perez yang baik.

Mohon maaf bila saya mengganggu waktu Anda yang begitu berharga di tengah berlangsungnya bursa transfer musim panas klub-klub sepak bola Eropa. Saya tahu, mengerti sekali, bahwa pembelian dan penjualan pemain pada saat ini sungguh krusial bagi perjalanan tim semusim ke depan. Khususnya Real Madrid, klub tempat Anda didapuk sebagai presiden.

Saya sendiri pernah merasakan situasi pelik seperti ini. Pada pertengahan 2002, saya berkesempatan menjadi manajer Real Madrid dan memegang kendali penuh akan siapa yang harus dibeli ataupun didepak dari klub. Walau kala itu tim memiliki dana melimpah, saya terjebak pada dua opsi: membeli satu pemain megabintang dengan harga selangit, atau mendatangkan tiga hingga empat pemain bagus berharga standar yang sesuai dengan kebutuhan tim.

Saya sadar, titik lemah utama tim pada saat itu ada di sektor pertahanan. Fernando Hierro punya banyak pengalaman, tapi ia mulai beruban. Usianya sudah 34 tahun. Ia perlu anak muda bergelora nan bertalenta yang bisa jadi pendamping sekaligus pelapisnya di pusat pertahanan tim. Dengan segala hormat, Ivan Helguera bukanlah bek kelas atas yang bisa dijadikan tumpuan sendirian saat Hierro absen. Sementara Francisco Pavon hanya cocok diturunkan di laga persahabatan.

Di sisi lain, lini serang adalah yang terbaik dalam tim kita. Ada Raul, Ronaldo, Luis Figo, dan Zinedine Zidane di sana. Melihat nama mereka saja, bek dan kiper lawan pasti segan. Bahkan bila mereka semua sedang buntu di satu pertandingan, kita masih punya Roberto Carlos yang akan melepaskan tendangan jarak jauh dan merobek jala lawan dengan begitu mudahnya. Kojiro Hyuga juga pasti ngeri melihat kekuatan tendangan Carlos.

Namun, saya justru melakukan kesalahan fatal. Sejak lama, saya bermimpi untuk memiliki Francesco Totti, legenda hidup AS Roma itu, dalam tim Real Madrid yang saya pimpin sebagai manajer. Maka ketika ada dana nyaris 100 juta euro untuk dibelanjakan saat itu, mata saya gelap seketika. Saya kucurkan nyaris seluruh dana yang ada untuk menawar Totti. Iseng-iseng berhadiah, pikir saya. Kalau mau syukur, tidak ya sudah.

Tak disangka, tawaran saya diterima. Saya girang bukan kepalang. Totti pun resmi pindah ke Real Madrid. Saya segera merancang skema 4-1-3-2 super ofensif untuk diterapkan pada musim 2002/2003. Ronaldo dan Raul di depan, sementara trio Zidane, Totti dan Figo menyokong di belakangnya. Claude Makelele jadi “tukang pukul” sendirian yang mengawal barisan pertahanan tim yang terdiri dari Carlos, Hierro, Helguera, dan Michel Salgado. Iker Casillas jadi pilihan nomor satu di bawah gawang.

Sayangnya, rencana tinggal rencana. Di tengah musim, Hierro sering absen karena cedera. Karena telah kehabisan uang untuk membeli bek baru, terpaksa saya memainkan Pavon. Tim kami kebobolan berkali-kali dengan mudahnya. Moral pemain amblas. Totti tak kunjung bersinar. Real Madrid pun nihil gelar di akhir musim.

Untung saja saya melakoni peran jadi manajer Real Madrid hanya dalam virtual game Championship Manager kira-kira 12 tahun silam. Saat itu saya baru menginjak kelas 6 SD. Namun pelajaran penting telah saya dapat saat itu. Pertama, keseimbangan tim sungguh penting. Kedua, hanya dalam game seorang pemain legendaris macam Totti sudi meninggalkan AS Roma, klub yang telah dicintainya hampir seumur hidup.

Karena itu saya begitu heran kala dalam kenyataan, Anda, Bapak Perez, melakukan kesalahan yang sama dengan yang saya lakukan dalam game komputer. Pada akhir musim 2002/2003, Real Madrid berhasil jadi juara La Liga. Namun pada saat yang sama, kapten Hierro dan pelatih Vicente del Bosque dilepas begitu saja.

Hierro memang bukan pemain asli didikan akademi Real Madrid. Namun jasanya pada tim tak terkira. Selama 14 tahun berkarier di sana, ia jadi tulang punggung pertahanan tim dan ikut menyumbang enam gelar La Liga dan tiga trofi Liga Champions. Akan jadi akhir yang manis bila sang kapten terus berada dalam tim hingga pensiun dan beralih peran jadi pelatih atau masuk jajaran direksi. Ia tak mesti terus bermain tiap akhir pekan, kehadirannya saja bisa memberi suntikan moral pada para pemain muda. Atmosfer tim terjaga, penggemar pun senang. Itulah penutup ideal yang didapatkan bek-bek tangguh nan loyal macam Paolo Maldini ataupun Carles Puyol.

Lalu kita tahu, del Bosque adalah pelatih jenius yang mampu meredam ego besar para megabintang dan memberi hasil nyata berupa gelar juara. Di era modern, ia adalah pelatih tersukses Real Madrid dengan raihan 104 kemenangan dari 186 laga. Dalam empat musim masa kepemimpinannya, 1999-2003, Real Madrid berhasil meraih dua gelar La Liga, dua Liga Champions, dan masing-masing satu Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa dan Piala Intercontinental. Untuk apa Anda melepas dan mengganti del Bosque dengan Carlos Queiroz, asisten manajer Manchester United yang menyarankan Sir Alex Ferguson untuk membeli Bebe, orang Portugal yang pura-pura bisa main sepak bola itu?

Ah, tapi siapa saya bisa mencerca segala keputusan Anda? Anda adalah Presiden Real Madrid sekaligus CEO Grup Actividades de Construcción y Servicios, perusahaan konstruksi dan manufaktur besar di Spanyol. Menurut Forbes saja, nilai kekayaan bersih Anda mencapai 1,8 miliar dollar AS. Kurangi tujuh angka 0 di sana, maka Anda bisa mendapatkan nilai hampir setara dengan Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta, tempat saya tinggal saat ini.

Anda pasti lebih tahu cara mengurus klub sepak bola sekaligus unit bisnis raksasa semacam Real Madrid. Maka itu, saya diam saja saat Anda menjual Makelele dan mendatangkan David Beckham saat bursa transfer musim panas 2003. Saya pun tak bisa berkata apa-apa kala Anda berujar, “Kami tidak akan merindukan Makelele. Tekniknya biasa saja, dia kurang cepat dan tak punya kemampuan melewati lawan, dan 90 persen distribusi bolanya adalah entah ke belakang atau ke samping lapangan.”

Di bawah tangan Anda, Real Madrid pun berkembang pesat secara finansial, terutama kala Anda mengembangkan potensi marketing di Asia. Namun di sisi lain, harga yang mesti dibayar tak kalah mahalnya. Real Madrid terpaksa nihil gelar sejak kepergian Makelele hingga Anda mundur dari jabatan presiden pada Februari 2006. Lima pelatih yang datang pasca-kepergian del Bosque nyatanya tak mampu membangun ulang kejayaan yang begitu Anda dambakan.

Karena itu saya merasa was-was kala Anda naik kembali jadi presiden pada Juni 2009. Di saat yang sama, saya sedang menjalani liburan pasca-kelulusan SMA hingga punya waktu lebih untuk memantau aktivitas transfer Real Madrid sepanjang musim panas. Saya begitu terkesima. Dalam satu bursa transfer saja, Anda bisa dua kali memecahkan rekor pembelian termahal untuk seorang pemain sepak bola. Pertama Anda membeli Kaka dari AC Milan seharga 60 juta poundsterling pada 8 Juni. Lalu Anda mendatangkan Cristiano Ronaldo dari Manchester United seharga 80 juta poundsterling tiga hari berselang.

Tepuk tangan saya untuk Anda, Bapak Perez.

Anda seakan menabuh genderang penanda datangnya Galacticos jilid 2, para pemain-pemain pilihan yang akan membawa Real Madrid semakin dekat dengan La Decima, alias trofi Liga Champions ke-10 sepanjang sejarah klub.

Ronaldo kedua yang Anda datangkan kali ini berasal dari Portugal, bukan Brasil. Namun dia tak kalah gemilangnya dibandingkan yang pertama, bahkan lebih tajam, tampan, dan bugar. Di musim pertamanya saja, Ronaldo tampan ini berhasil mencetak 33 gol dari 35 pertandingan di seluruh kompetisi. Pada saat yang sama, Raul cuma bisa mencetak tujuh gol dari 39 laga. Bandingkan pula dengan Ronaldo botak yang “hanya” sukses mencetak 30 gol dari 44 pertandingan di musim pertamanya bersama Real Madrid dahulu.

Karena itulah Anda mendepak Raul dari tim pada akhir musim 2009/2010. Saat itu saya sungguh terkesiap. Raul memang telah berusia 33 tahun, mulai rentan cedera, dan tak lagi setajam dulu. Namun biar bagaimanapun, dia adalah Raul. Sang pangeran kebanggaan supporter, pemain yang telah membela panji Real Madrid sejak berusia 15 tahun, penyerang ganas yang mencetak gol di dua dari tiga final Liga Champions yang dimenanginya.

Biar bagaimanapun… Ah, sudahlah.

Sejak itu, saya malas untuk berkomentar apa-apa lagi melihat sepak terjang Real Madrid di bawah kepemimpinan Anda. Saya hanya bisa tertawa kala Jose Mourinho dipecat walau mampu mematahkan dominasi Barcelona di liga. Saya cuma geleng-geleng kepala ketika Carlo Ancelotti dilepas setelah memberikan La Decima, sesuatu yang begitu Anda damba sebelumnya.

Lalu masuklah kita pada bursa transfer musim panas 2015. Sesungguhnya, sepanjang tahun ini saya mulai jarang mengikuti perkembangan dunia sepak bola karena beberapa kesibukan yang begitu menyita waktu. Hanya sesekali saya membuka media online dan membaca berita soal aktivitas jual-beli pemain Real Madrid.

Karena itu saat saya iseng membuka sebuah portal berita beberapa waktu lalu, mendadak saya terdiam. Iker Casillas dilepas. Kiper yang sepanjang hidupnya dihabiskan untuk membela Real Madrid, kapten tim yang begitu disegani, pahlawan nasional yang membawa Spanyol menjuarai tiga ajang internasional secara beruntun dari 2008-2012, akan pergi ke Porto musim depan.

Posisi Casillas di tim memang mulai goyah di era Mourinho, kala ia kalah bersaing dengan Diego Lopez. Setelahnya, di era Ancelotti pun Casillas harus tetap berbagi tugas dengan Lopez dan hanya mendapat kesempatan bermain di Copa del Rey dan Liga Champions. Setelah Lopez pergi, Real Madrid mendatangkan kiper muda asal Kosta Rika yang bermain cemerlang di Piala Dunia 2014, Keylor Navas.

Nyatanya, Navas hanya jadi cadangan abadi Casillas sepanjang musim 2014/2015. Di La Liga, performa Casillas masih mantap. Ia berhasil melakukan 131 penyelamatan sepanjang musim itu, yang terbanyak dibanding seluruh kiper lain di liga. Walau begitu, rumor bahwa Real Madrid sedang mengincar David de Gea saya rasa kembali membebani pikiran Casillas. Apalagi, sudah lama beredar kabar soal keretakan hubungan Anda dengannya.

Pada Oktober 2014, Casillas sempat membahas hal ini saat diwawancara oleh jurnalis Inaki Gabilondo. “Perlakuan Florentino Perez pada saya? Saya merasa terisolasi, saya merasa tidak menjadi bagian dalam tim,” kata Casillas saat itu.

Saya paham, Anda punya cara sendiri dalam memimpin. Anda punya pemain favorit dan pemain-yang-tak-ada-pun-tak-apa dalam tim. Dahulu Anda selalu membela Ronaldo botak walau ia dikabarkan kehilangan kebugaran karena terlalu banyak makan. Mungkin Anda sendiri yang membelikannya es krim setiap kali sesi latihan. Namun bila Anda sudah tidak suka, siapa saja bisa dilepas semaunya, dari Makelele, Raul, Xabi Alonso, hingga Casillas.

Saya mengerti, Casillas yang meminta agar ia menghadiri konferensi pers perpisahannya sendirian. Namun apakah Anda sungguh tega melihatnya menangis di sana tanpa kehadiran satu pun pemain dan perwakilan direksi? Apakah benar harga sebuah kejayaan adalah hilangnya rasa kemanusiaan?

Akhirnya, Anda justru mengajarkan kepada kita semua bahwa Real Madrid tak pernah punya cukup waktu untuk mengurus serpihan kenangan masa lalu, bagian dari sejarah yang justru membesarkan nama klub itu sendiri. Yang Anda kejar hanya kemenangan dan kejayaan di masa depan. Siapa yang menghalangi jalan, harus segera disingkirkan.

Anda jadi mirip Fortinbras dalam kisah Hamlet karangan William Shakespeare yang termasyhur itu. Dalam cerita, Pangeran Denmark, Hamlet, berusaha membalaskan dendam kematian ayahnya yang bernama sama. Raja Hamlet mati dibunuh saudaranya sendiri, Claudius, yang ingin merebut takhta dan memperistri janda sang raja, Gertrude. Berbagai keraguan dan konflik batin dalam diri Hamlet membuat usahanya terhambat di tengah jalan, hingga kemudian seluruh tokoh utama mati mengenaskan.

Di saat yang sama, Pangeran Norwegia, Fortinbras, juga bernasib serupa. Ayahnya yang bernama sama telah mati dibunuh Raja Hamlet. Ia pun memimpin ribuan pasukan untuk menaklukkan Polandia dan Denmark. Seluruh kisah soal Fortinbras ini hanya diketahui dari mulut ke mulut, entah dari cerita Claudius maupun Horatio, karib Hamlet. Tokoh Fortinbras pun hanya muncul dua kali secara singkat di atas panggung. Bahkan, karena durasi cerita yang panjang – sekitar empat jam – banyak teater kerap memainkan ulang naskah Hamlet dengan meringkasnya dan memotong bagian-bagian yang tak terlalu penting. Salah satunya adalah kemunculan singkat Fortinbras.

Fortinbras boleh jadi pemenang di akhir cerita. Saat seluruh anggota Kerajaan Denmark tewas, ia yang mengambil alih kekuasaan. Namun yang paling membekas justru sosok Hamlet, si peragu yang banyak tertawa, pun menyimpan setumpuk duka. Hamlet yang jadi tokoh utama. Naskah berjudul sama dengan namanya pun yang terus dimainkan ulang dari masa ke masa.

Saya rasa itu karena karakter Hamlet lebih dekat dengan kita, sosok manusia yang hidup dengan segala keterbatasannya. Ia membuat kita berpikir dan merenung di balik kematiannya yang tragis. Soal hidup yang terlalu singkat dan segala penderitaan dalam diri manusia.

Bapak Perez yang baik, Anda boleh jadi Fortinbras yang hanya mengincar kejayaan dan mengerahkan segala cara untuk mencapai tujuan. Tapi sayang, itu juga yang akan membuat Anda hilang ditelan zaman. Karena penonton sepak bola telah kehilangan kemanusiaan dalam diri Anda.

Salam hangat, dari seorang pecinta sepak bola di Jakarta.

 

NB: Tulisan ini pertama terbit di media online Pandit Football pada 15 Juli 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s