Tika Bisono: Anak Perlu Belajar Mengisi TTS agar Tidak Jadi “Robot”

IMG_5228

Tika Bisono/Viriya Paramita

Sejak kecil, teka-teki silang (TTS) telah mengisi hari-hari Tika Bisono. Kedua orangtuanya berperan besar dalam hal itu. TTS seakan jadi permainan wajib di kala senggang. Dengan begitu, diharapkan ia dapat mengasah pengetahuan umum sekaligus meningkatkan kecerdasan verbal sejak dini. Tak disangka, kebiasaan mengisi TTS bertahan hingga kini, bahkan turut diwariskan pula pada anak-anaknya.

Seingat Tika, ia mesti berhadapan dengan TTS pertama kalinya di majalah Selecta pada akhir 1960an. Setelahnya, mengisi TTS jadi kebiasaan rutin. Apalagi, orangtuanya kerap menjanjikan hadiah sebagai iming-iming bila Tika mampu mengerjakan soal-soal yang ada. “Biasanya, yang sulit itu pertanyaan tentang perbendaharaan bahasa, tentang kata-kata yang jarang kita dengar. Misalnya ‘tungau’ yang ternyata itu adalah sejenis kutu,” ujar Tika.

Alhasil, tanpa disadari kebiasaan itu membawa banyak manfaat dalam jejak karier Tika. Sebagai penyanyi, psikolog, dan pekerja kantoran, ia mesti fasih berkomunikasi dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Namun dengan kemampuan kognitif yang tinggi, Tika mampu melalui itu semua tanpa masalah berarti.

Mulanya, nama Tika mencuat lebih dahulu sebagai model dan penyanyi. Pada 1978, ia menjuarai ajang Putri Remaja Indonesia. Kemudian, ia pun sempat menelurkan beberapa album musik seperti Pagi (1987) dan Ketika Senyummu Hadir (1990). “Buat aku, berada di studio untuk menyanyi itu adalah personal me time,” ujar Tika.

Tika menyelesaikan studi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) pada 1979-1985. Setelahnya, ia bekerja di beberapa perusahaan multinasional seperti Amex, Citra Lintas, Ad Asia ’95 dan Nestle. Lalu, ia mengambil program pasca-sarjana di UI pada 2001-2004. Pada 2005, ia mendirikan lembaga konsultan sumber daya manusia, Tibis Sinergi. Kala itu, Tika berusia 45 tahun.

“Jadi dulu aku punya ‘cetak biru’ buat hidupku. Setelah lulus kuliah S1 sampai umur 30, aku ingin kerja untuk belajar, cari pengalaman. Umur 30-40, aku ingin kerja untuk pemantapan brand sebagai psikolog. Umur 40 aku berhenti kerja, semua branding process sudah selesai, lalu setelahnya membuat perusahaan sendiri. Alhamdulillah itu bisa tercapai,” kata Tika.

Di Tibis Sinergi, Tika fokus pada kerja intervensi sosial. Dalam praktik psikologi, ini berbeda dengan intervensi individu yang biasa memberi terapi pada satu klien untuk kepentingan klinis. Dengan melakukan intervensi sosial, Tika mencoba memberdayakan masyarakat. Menurutnya, di sanalah ia bisa merasakan puncak karier sebagai seorang psikolog.

Misalnya kala Tika sempat menyambangi Desa Gunung Cak di Pulau Matak, Kepulauan Riau. Saat itu masyarakat setempat belum mengenal sistem buang air di kakus dalam rumah. Di sana, Tika berusaha mengedukasi agar warga terbiasa melakukannya.

“Tapi pelakunya bukan kita, melainkan mereka. Yang akan menjalani dan ketemu dengan masalah ke depannya kan mereka. Yang akan mengembangkan tempat itu juga mereka. Kita hanya berperan sebagai konsultan,” ujar Tika. “Jadi, kita mengajarkan kepada tim yang sudah baik, nanti mereka akan mengajarkan kembali kepada teman-temannya yang belum baik. Dengan begitu mereka tidak hanya tergantung pada kita sebagai konsultan.”

Lebih lanjut, menurut Tika, praktik intervensi sosial pun bisa diterapkan kepada anak-anak untuk mengakrabkan diri mereka dengan TTS. Ia khawatir, anak-anak saat ini lebih dekat dengan ponsel ataupun beragam gadget lainnya. Bila terus begitu, seorang anak bisa jadi “robot” yang terhambat nalar dan kreativitasnya.

“Jadi, bagaimana caranya agar orangtua sekarang pun bisa meminati TTS. Dari sana, merekalah yang akan mengajarkan pada anak-anaknya. Itulah intervensi sosial,” kata Tika. “Selain itu, guru bahasa Indonesia juga wajib mengajarkan TTS kepada anak. TTS itu kan bermain dengan kata-kata, ujung-ujungnya kecerdasan verbal.”

Tak kalah penting, Tika pun merasa TTS dapat melatih anak dalam hal pemecahan permasalahan. Misalnya kala kita kesulitan mencari jawaban untuk sebuah soal, kita bisa mencari petunjuk dengan memecahkan soal lain yang jawabannya kebetulan bersinggungan.

“Pada akhirnya, yang digadang-gadang oleh TTS itu adalah nilai-nilainya. Teka-teki yang ada itu akan jadi pembelajaran untuk pembaca, ia yang akan mengisi otak dan hati kita,” ujar Tika.

 

NB: Tulisan ini pertama dimuat di buku TTS Anak Kompas (2015).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s